Halloween Night


Seminggu sejak pertemuannya dengan Rachel –yang secara tidak terduga ternyata berakhir dengan mereka yang berkomplot, Chanyeol masih belum mengatakan apapun pada Baekhyun tentang itu. Bukannya ia tak mau, hanya saja pria itu terlalu bingung bagaimana untuk menyampaikannya. Lagipula, bukan seperti rencana ini akan terjadi sungguhan. Chanyeol berharap ia bisa menghentikannya bahkan sebelum perjodohan konyol itu terjadi. Dan setelahnya, ia berjanji akan mengatakannya pada Baekhyun.

Hanya sekali ini saja, sekali ini saja ia akan menunda untuk bercerita pada Baekhyun.

"Kau bertingkah aneh."

Chanyeol yang kala itu tengah hendak menyalakan pemantik, berhenti sejenak saat Baekhyun mengatakan kalimat barusan.

"Huh?" si pria yang lebih tua bertanya bingung.

"Kubilang kau bertingkah aneh." Baekhyun mengulang kalimatnya dengan sabar.

"A-aku?"

"Yes. You."

Tunggu. Apa Baekhyun sadar jika dirinya sedang menyimpan sesuatu dalam benaknya? Gawat. Secepatnya, Chanyeol harus memutar otak dan mencari topik lain untuk dibicarakan. Mungkin obrolan tentang cuaca terdengar menarik. Apa hari ini akan hujan? Apa cucian mereka perlu dijemur? Atau—

"Rokokmu terbalik."

"Oh."

Bukan itu ternyata.

Chanyeol diam-diam merasa lega. Dengan canggung, ia pun membalik rokoknya yang hendak ia nyalakan dan kali ini ia pastikan benda itu tidak terbalik. Huh, hampir saja. Lagipula setelah ia pikir-pikir lagi, obrolan tentang cuaca terdengar norak. Seperti mereka baru saja pergi berkencan atau semacamnya.

Di depan, Baekhyun menggeleng heran. Ia tak banyak berkata lagi dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya yakni memilah sampah. Hari ini adalah hari bersih-bersih, dan semua penghuni rumah mendapat bagiannya masing-masing. Baekhyun tentu saja berpasangan dengan Chanyeol karena apa itu bersih-bersih jika tidak sambil berpacaran?

"Apa kulkas sudah bersih?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol yang mendapat bagian untuk menguras kulkas, mengangguk pasti. "Ya. Makanan yang basi sudah kubuang dan kupisahkan di kantung itu."

Baekhyun melirik kantong pelastik hitam yang ditunjuk Chanyeol dengan mata memicing. "Bagaimana dengan pizza dua hari yang lalu."

"Kupikir itu masih bisa dimakan?"

"Buang, Chanyeol!"

"Babeeeee…"

"Dan jangan hembuskan asap rokokmu padaku!"

"Maaf maaf…"

Chanyeol yang semula berjongkok kini bangkit guna mendekati kulkas. Ia buka benda persegi panjang itu dan menatap sisa pizza yang ia beli sekitar dua hari yang lalu. Padahal Chanyeol berniat untuk memakannya nanti-nanti. Masalah masih aman atau tidak, ia bisa meminta salah satu diantara Sehun atau Jongin untuk mencicipi (Setidaknya kalau terjadi apa-apa, mereka yang akan mati duluan).

"Kau betul-betul aneh." Baekhyun kembali dengan kalimatnya yang itu. "Jangan-jangan kau berselingkuh."

"Babe?" Chanyeol langsung melirik Baekhyun dengan tatapan tak percaya. "Kau pikir aku berani melakukannya? Kepadamu?"

Itu cukup masuk akal bagi Baekhyun –dan juga dramatis. Lagipula jika Chanyeol memiliki waktu untuk berselingkuh, setidaknya ia akan tahu. Mereka secara teknis tinggal bersama dan Baekhyun juga tahu aktivitas pria itu setiap harinya.

"Kau benar. Kalau kau berselingkuh, aku pasti sudah memotong kelaminmu saat itu juga."

"HEY!" Jongin yang kebetulan sedang lewat sembari menenteng tongkat pel, hanya bisa berkata dengan nada terkejut. Satu tangannya berada di area selangkangan –entah kenapa. "Tolong jangan mengatakan hal seperti itu dengan santai!" Lanjutnya.

Baekhyun mencibir. "Pergi sana! Ini urusan orang dewasa."

Ketika Jongin sudah berlalu (disertai sebuh gerutuan), Baekhyun kembali beralih pada Chanyeol.

"Dan kenapa kau memegang selangkanganmu?!"

Chanyeol melirik Baekhyun dengan tatapan memelas. "Jongin benar. Tolong jangan mengatakan hal itu dengan santai. Aku jadi ngilu."

Baekhyun hanya tersenyum sinis mendengarnya. "Makanya, jangan sampai aku melakukannya."

Lalu tiba-tiba seseorang datang ke dapur. Dia adalah Suho, dengan wajah kesal luar biasa, ia meletakkan sebuah box yang dibawanya ke lantai.

"Kurasa aku akan mencari penyewa baru untuk kamar yang di atas." Ujar si workaholic.

"Kamarku?" Tanya Baekhyun.

"Bukan."

"Kalau begitu kamarku?" Tanya Chanyeol.

"Yeobo, kau tidak bisa menyewakan kamarku begitu saja." Muncul suara lain yang datang dari arah belakang mereka semua. Siapa lagi sialan di rumah ini yang memanggil Suho dengan sebutan yeobo kalau bukan Kris Park seorang?

"LALU KENAPA SAMPAHMU SEBANYAK INI, HAH?" Suho menyalak garang pada kekasihnya tersebut.

"Bukankah itu sampahmu juga?" elak Kris.

Baekhyun, sambil memasang wajah bingung, mengangkat tangannya. "Maaf, aku sedikit bingung. Kalian berbagi sampah?"

"Yeah. Basically." Kris menjawab enteng.

Penasaran tentang apa yang diperdebatkan, Chanyeol lantas mendekat pada box misterius yang dibawa Suho dan mengintip ke dalamnya dengan hati-hati. Begitu mendapati isi di dalamnya, ia sontak memasang wajah ingin muntah.

"Disgusting!" ujar Chanyeol.

Baekhyun yang masih bingung, memutuskan untuk bertanya kembali. "What's that?"

Dan kali ini, Kris menjawabnya dengan sukarela. "A Condom."

"A lot of condoms." Chanyeol mengoreksinya. "—dan bekas pakai."

"Ewww…" Baekhyun tidak bisa menyembunyikan ekspresi jijiknya.

"So what?" Kris membuka kedua tangannya, tak terima. "We're not ready for a baby, okay?" seakan itu adalah alasan paling masuk akal atas sampah-sampah yang ada di dalam box.

"Tidak tidak tidak." Suho menyilangkan kedua tangannya. "Jangan pembicaraan tentang bayi lagi."

"Kupikir bukan itu maksud Suho hyung, Chris—"

"It's Ke-ri-seu."

"Fuck it." Baekhyun merotasi bola matanya karena ia memang tidak peduli. "Aku tidak berpikir bahwa menggunakan kondom adalah ide buruk tapi yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa bekas kondom di kamarmu bisa sebanyak itu?"

"Karena aku jarang membersihkan kamarku." Kris menjawab dengan santai.

"EXACTLY!" Suho menunjuknya tepat di hidung. "Karena kau terlalu malas untuk membersihkan sampahmu, maka kukira akan lebih baik untuk menyewakannya pada orang lain yang lebih bertanggung jawab."

"Lantas di mana aku akan tinggal?" Tanya Kris.

"Terserah. Kau orang kaya, apartemenmu ada di mana-mana. Pakai saja salah satunya."

Kris melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku menolak untuk diusir dengan cara seperti ini. Aku ingin ada pemungutan suara."

Suho mengangguk semangat, pertanda ia menyetujui. Pria itu lantas menepuk-nepuk meja makan, bermaksud untuk memulai sebuah pengumuman.

"SEMUANYA BERKUMPUL! KITA AKAN MELAKUKAN PEMUNGUTAN SUARA!"

Baekhyun dan Chanyeol mendekat pada sepasang kekasih yang tengah berseteru tersebut. Disusul dengan Jongin dan Sehun yang masing-masing tengah menenteng tongkat pel dan kemoceng. Mereka semua hadir untuk melakukan pemungutan suara.

"Siapa yang setuju Kris pindah dari rumah ini, angkat tanganmu!" Suho memulai dan ia pula yang yang paling bersemangat untuk mengangkat tangan.

Baekhyun turut serta. Diikuti Chanyeol, Sehun, dan Jongin yang mengangkat tangan mereka tanpa ragu.

Kris sama sekali tidak merasa terintimidasi. Ia hanya menatap Chanyeol dengan pandangan seolah terkhianati. "Brother, kupikir kita bersaudara."

"Siapa kau?" Tanya Chanyeol.

"Oh, padahal tadinya aku akan memberikan mobilku—"

Chanyeol kali ini mengedarkan pandangannya pada semua orang seraya menurunkan tangannya. "Setelah kupikir-pikir, Kris lebih baik tinggal di sini saja. Aku takut dia akan melukai orang lain jika ia dilepas di alam liar."

Baekhyun mendelik padanya. "Kau sungguh tidak memiliki pendirian."

Kemudian Kris beralih pada dua termuda diantara mereka. "Dan kukira kalian masih ingin melakukan Halloween Party di rumah ini."

"Tentu saja."

"Kalau begitu, turunkan tangan kalian."

Keduanya diam-diam menurut.

"Kim Jongin, aku ini kakakmu." Suho berusaha untuk membuat sang adik berada di pihaknya.

"Dan Kris adalah boss-ku." Ujar Jongin.

"Sekarang," Kris menepuk tangannya untuk membuat pemungutan suara ulang. "Siapa yang setuju aku tetap tinggal, silakan mengangkat tangan."

Chanyeol, diikuti Sehun dan Jongin mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi. Dan Kris, tentu saja pria itu melakukan hal yang sama.

"Kenapa kau ikut-ikutan mengangkat tangan?" Tanya Baekhyun.

"Aku juga berhak untuk memberikan suara untuk diriku sendiri." Jawab Kris.

Suho menggeleng pasrah. Ketika Kris mengeluarkan senyum menyebalkannya, ia tahu dirinya sudah kalah.

"Empat melawan dua, kalian kalah. Itu artinya aku tetap tinggal di sini."

"Seharusnya aku sudah tahu." Suho berkacak pinggang dengan wajah putus asa.

Baekhyun hanya bisa tersenyum miris. Memangnya apa yang bisa ia harapkan? Dari awal, pemungutan suara ini sudah terdengar konyol namun ia mau tidak mau tetap mengikuti alur kebodohan.

"I love democracy." Kris berkata dengan penuh kebanggan. "Terimakasih atas waktunya. Silakan lanjutkan kembali kegiatan kalian."

Dan seperti semut yang telah kehabisan makanan untuk dikerumuni, keenam penghuni rumah tersebut lalu membubarkan diri. Melanjutkan kembali kegiatan bersih-bersih yang sempat tertunda sejenak.

Serta melupakan tindakan bodoh nan sia-sia yang baru saja mereka lakukan.

.

.

.

Menjelang sore, acara bersih-bersih telah selesai, dan Baekhyun berniat untuk menghabiskan sisa off day-nya dengan bermalas-malasan bersama sang kekasih. Contohnya seperti sekarang ini, dimana ia tengah berbaring di atas perut Chanyeol dengan nyamannya. Keduanya asyik dengan dunianya masing-masing. Baekhyun yang sibuk dengan ponselnya, dan Chanyeol yang sibuk menonton series di tv.

"Menurutmu, siapa yang membunuh Bryce?"

Chanyeol tiba-tiba bertanya. Memecahkan senyap yang sejak tadi menggerogoti ia dan Baekhyun.

Baekhyun menghentikan sejenak kegiatannya guna melirik ke arah tv. Di mana saat itu drama series 13 Reason Why tengah ditonton kekasihnya. "Kupikir kau sudah menonton season tiga?"

"Belum." Chanyeol membetulkan bantal sofa di belakang kepalanya dengan mata yang belum lepas dari televisi.

"Kau sudah?" kali ini matanya beralih pada Baekhyun.

"Ya. Jadi, yang membunuh Bryce adalah—"

"Tidak. Jangan spoiler!"

"Kukira tadi kau bertanya." Baekhyun menatap datar pada kekasihnya.

"Kukira kau belum menontonnya juga."

"Aku bahkan sudah menonton sampai season empat."

Chanyeol mengangguk-angguk. "Demi kebaikan kita berdua, aku ingin kau tidak bercerita tentang apapun sampai aku selesai menonton season empat."

"Oh, baiklah." Baekhyun justru merasa tertantang. "Jadi, yang membunuh Bryce adalah—mmpph!"

Ada banyak hal yang Chanyeol pelajari setelah hidup bersama dengan Baekhyun dalam waktu yang lama. Yakni, satu-satunya cara untuk membungkam mulut kekasihnya adalah dengan menciumnya.

"HEY!" Protes Baekhyun setelah Chanyeol melepaskan bibirnya.

"Apa?"

"Aku belum siap, ayo ulangi!"

Dan kata siapa Baekhyun tidak menikmatinya?

Sehun yang kebetulan lewat sehabis buang air besar, hanya mampu menggelengkan kepala ketika melihat sepasang pemuda yang tengah asyik beradu bibir di atas sofa.

"Tidak sopan, ck ck ck..." Gumamnya seraya berlalu.

Kembali pada sepasang kekasih yang masih asyik mengadu lidah. Setelah puas saling bertikai, mereka akhirnya melepaskan pagutan.

"I love you."

Chanyeol membisikkannya (lagi), di hadapan Baekhyun sembari menatapi kekasihnya lekat-lekat. Ia pegangi kedua pipi Baekhyun dengan gemas, dan mengulangi kalimatnya.

"I love you."

"Tidakkah kau bosan mengatakannya?" Tanya Baekhyun dengan kepala yang ia miringkan.

Chanyeol menggeleng. Ia punya alasan tersendiri untuk itu.

"Orang-orang bilang, jika kita mengucapkan kalimat terlalu sering, maka kalimat itu perlahan akan kehilangan makna. Tapi lihat aku di sini, semakin kuucapkan, justru perasaaannya semakin bertambah besar."

Gemas dengan jawaban dari kekasihnya, maka kali ini, giliran Baekhyun yang memegangi wajah Chanyeol dan menggelengkannya ke kanan dan kiri. "ILOVEYOU, ILOVEYOU, ILOVEYOU."

"Hahahahaha…"

"Uhuk! Disgusting."

"HOLY MOTHERFU—"

Baekhyun dan Chanyeol sontak menoleh kaget ke arah kiri mereka. Dimana terdapat seseorang yang baru saja berbicara dan kini tengah asyik duduk dengan kaki terangkat di atas meja. Orang itu adalah Jongin. Entah sejak kapan ia berada di sana, dan nampaknya ia pun tidak begitu peduli dengan sepasang kekasih yang terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba.

"Sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Chanyeol.

Jongin menoleh dengan santai. "Sejak kelas tiga SMA. Kau lupa, hyung?"

"Aku tidak bertanya sejak kapan kau tinggal di sini, tapi sejak kapan kau duduk di sofa itu?"

"Oh." Jongin kembali memfokuskan matanya pada layar televisi. "Sejak kau mengucapkan I love you yang pertama."

Baekhyun yang kesal telah dikagetkan, lalu melempar sebuah bantal sofa pada pemuda itu. "Sialan kau. Mengagetkan saja!"

"OW!" Jongin mengerang. "Aku hanya di sini untuk bertanya tentang pesta!"

Chanyeol dan Baekhyun akhirnya mengubah posisi menjadi duduk. Dan tentang apa yang dibicarakan Jongin sebelumnya, Baekhyun cukup penasaran juga.

"Pesta apa?"

"Pesta kostum. Kalau tidak jadi, aku dan Sehun akan pergi ke Hongdae." Jongin menjawab. Daerah Hongdae dan Itaewon memang terkenal dengan klub malamnya, dan pastinya banyak pesta Halloween di sana. Jadi, jika rumah ini tidak menyediakan pesta seperti yang mereka harapkan, maka kedua tempat itu bisa menjadi pilihan. (Oh, mereka sangat suka pesta!)

Sehabis mendengar penuturan Jongin, Baekhyun kemudian melemparkan pandangannya pada Chanyeol. "Oh, kalian sering mengadakan pesta di rumah?"

"Hanya makan malam dan mabuk-mabuk dengan kostum konyol. Itu saja." Kata Chanyeol. "Kau sudah ada rencana akhir bulan ini?"

Baekhyun menggeleng pasti. Tahun lalu, ia hanya ikut dengan Rose ke pesta salah satu temannya –dengan kostum drakula yang ia pinjam dari salah satu temannya di klub teater. Namun nampaknya untuk Halloween tahun ini, yang mana itu tiga hari lagi, Baekhyun sama sekali belum mendapatkan undangan pesta.

"Kita akan mengadakan pesta di rumah." Chanyeol meraih pucuk kepala Baekhyun dan mengusaknya. "Ajak dua temanmu juga."

"Apa aku boleh mengajak teman-temanku juga?" Tanya Jongin antusias.

"Kalau kau mengajak teman-temanmu, kupikir tragedi Suho hyung yang mengamuk akan terjadi lagi."

"Jadi?"

"Tidak."

Jongin memajukan bibirnya dan bersidekap dengan kesal. "Tidak pernah ada yang memihakku di rumah ini." –ujarnya, menirukan Kris.

Tapi itu setidaknya lebih baik daripada berkeliaran tidak jelas di jalanan.

"Sekarang hanya tinggal satu lagi, yaitu memikirkan tentang kostum yang akan kita pakai." Ujar Baekhyun, setengah bertanya pada Chanyeol.

Pria yang lebih tua terlihat menggosok-gosok dagu dengan penuh pertimbangan. Sambil menatapi tubuh Baekhyun yang duduk di sofa, ia membayangkan kiranya kostum apa yang cocok untuk kekasihnya yang satu ini. Harus sesuatu yang liar, sesuatu yang nakal, mencolok, dan menggairahkan sebab ia tahu bahwa mereka tidak akan bisa menahan diri di malam tanggal tiga puluh satu nanti.

"Ah… kurasa aku punya ide."

.

.

.

3 hari kemudian…

"Kau suka ini?"

Baekhyun berputar di depan Chanyeol. Memamerkan hasil karyanya setelah satu jam ke belakang menata riasan di depan cermin.

Chanyeol yang baru saja membuka pintu kamar Baekhyun untuk mengecek kekasihnya, hanya mampu terpana untuk sekian detik. Bibirnya terbuka namun ada beberapa jeda sebelum akhirnya ia berucap kagum.

"Oke pertama-tama: Aku sangat menyukaimu, Babe." Ujarnya, terdengar tenang. Tapi astaga, lihat pinggul Baekhyun yang indah itu! Bagaimana ia bisa berfokus jika belum memegang pinggul itu. "Kedua, bisakah kita lewatkan saja pestanya dan langsung ke bagian… uhh, kau tahu…"

"Hahahahah!" Gelak tawa terdengar dari mulut Baekhyun. Ia tahu akan mengarah kemana pembicaraan itu. "Kendalikan dirimu, sayang. Pestanya bahkan belum dimulai."

"Okay…"

Malam ini, Baekhyun mengenakan kostum dan riasan Harley Quinn, (Ya, kau membacanya dengan benar, Harley fucking Quinn). Yang tentu saja membuat Park Chanyeol kalang kabut karena –ASTAGA DIA SEKSI SEKALI. Wajahnya yang pucat, bibirnya yang dihias dengan lipstick warna crimson menggoda, serta rambutnya yang dicat merah dan biru di kedua sisi, semuanya seakan bersekongkol untuk memancing sisi liar Chanyeol agar segera keluar.

Tapi Chanyeol tahu diri untuk tidak berteriak atau langsung mendorong Baekhyun ke tempat tidur. Selain karena telah diperingatkan oleh kekasihnya, ia diam-diam belajar mengenal yang namanya self control (Meski itu sangatlah sulit karena demi Tuhan, ini adalah Byun Baekhyun yang sedang ia bicarakan).

Tapi sekali lagi, ia akan terus mencoba mengendalikan diri.

"Permisi, bisakah kau berhenti menatapku seakan kau ingin memakanku saat ini juga?" Tanya Baekhyun karena kekasihnya sejak tadi hanya diam saja sambil memerhatikan Baekhyun dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Di sisi lain, Chanyeol sendiri tentu saja mengambil peran sebagai Joker. Karena, siapalah itu Harley Quinn jika tanpa seorang Joker di sampingnya?

"Okay, I'll behave." Ujar Chanyeol, mencoba menjadi anak yang baik. "Tapi aku tidak bisa menjanjikan sampai kapan jangka waktunya berakhir. Karena bisa saja itu berakhir di sepuluh menit ke depan atau mungkin… sekarang. Tidak ada yang tahu—"

"—Lanjutkan dan aku akan memukulmu."

Chanyeol mengangkat kedua tangannya di udara.

"Baiklah. Apa kau sudah siap untuk turun ke bawah? Pestanya sudah mau dimulai."

"Tentu."

Baekhyun mengambil tongkat baseball yang ia pinjam dari Jongin, menentengnya di pundak, sambil berjalan ke arah Chanyeol.

"Let's go, Daddy!"

Yang lebih muda lantas berjalan memimpin di depan. Tanpa tahu bahwa sebenarnya ia tengah menyiksa Chanyeol yang saat ini mengikutinya di belakang sambil terus menatapi bokong kekasihnya itu tiada henti. Oh, atau mungkin Baekhyun memang sadar akan hal itu dan ia melakukannya dengan sengaja? Entahlah.

"Byun Baekhyun…"Bisik Chanyeol dengan mata yang belum lepas dari bokong itu. "… you're gonna be the death of me."

.

.

.

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa di malam Halloween ini. Mereka hanya berkostum konyol, berfoto untuk diunggah ke media sosial, lalu bersenang-senang setelahnya. Dan yang dimaksud dengan bersenang-senang hanyalah mabuk-mabukan sampai pagi. Tapi ya, itu semua setidaknya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan mabuk sembarangan di pinggir jalan dan terbangun di depan pekarangan rumah orang lain.

Malam itu, para penghuni rumah termasuk ketiga tamu (Rose, Kyungsoo, dan Jongdae –ya memang siapa lagi?) sedang berkaraoke di ruang tengah. Saat itu, Baekhyun dan Rose baru selesai menyanyikan lagu Roly Poly milik girlband T-ara sebelum tiba-tiba, Jongin dengan kostum John Lennon-nya, muncul dengan membawa sebuah kotak kecil di tangan.

"Semuanya! Ayo kita bermain Truth or Drink!" ia mengumumkan.

"Bukankah itu hanya untuk dua orang?" Tanya Baekhyun.

"Tidak tidak, kita akan mengaturnya supaya semua orang bisa bermain."

"Huh? Kedengarannya menarik." Kata Chanyeol. "Aku ikut."

"Kemari, kita harus duduk melingkar."

Dan karena tak ingin pesta ini berjalan membosankan, mereka yang hadir pun turut serta dengan sukarela. Semuanya duduk melingkar dengan botol minuman yang ditaruh di tengah-tengah. Urutan lingkaran itu terdiri dari Baekhyun, Chanyeol, Kris, Suho, Jongdae, Sehun, Jongin, Kyungsoo, dan Rose.

"Baiklah, begini aturan mainnya." Jongin sebagai penggagas, menjelaskan dengan bersemangat. "Hampir sama dengan Truth or Dare, yaitu kita akan mengundinya dengan putaran botol. Yang berbeda adalah, jika tutup botol itu mengarah padamu, maka seseorang akan mengambil kartu dan membacakan pertanyaan yang ada di sana."

Pemuda itupun mengeluarkan setumpuk kartu berisi pertanyaan yang ia bawa dan meletakkannya di tengah. "Dan kau hanya punya dua pilihan setelahnya, menjawab dengan jujur atau meminum segelas penuh bir yang ada di sana."

"Satu gelas penuh?" Tanya Jongdae –yang kala itu tengah memakai kostum vampire, ia terdengar keberatan.

Jongin memasang wajah garang sambil berkacak pinggang. "Yeah, Do you have a problem with that?"

"No, Sir. Please continue." Jongdae menciut seketika.

Chanyeol yang turut menyaksikan itu hanya berkomentar remeh. "Heh. Coward."

"Baiklah, mari kita mulai!"

"Siapa yang akan memutar botolnya lebih dulu?" Tanya Baekhyun.

"Karena aku yang paling tampan di sini," Kris, alias si Deadpool akhirnya buka suara. "Maka aku yang akan pertama memutarnya untuk kalian."

"Aku tidak suka alasanmu, tapi baiklah." Jongin akhirnya menyerahkan botol kosong pada si paling tua.

Botol itupun diputar. Agak lama sebelum akhirnya, ujung botol mengarah pada Kim Jongdae yang langsung memasang wajah kesal. "Oh sial, kenapa ini selalu terjadi padaku?"

"Baiklah, aku akan membacakan pertanyaannya." Kris mengumumkan. "What's the dirtiest picture you've ever sent?"

"PERTANYAAN MACAM APA ITU?" Jongdae merebut kartu tersebut dan mencoba untuk membacanya sendiri. Dan ternyata memang benar, pertanyaan yang Kris bacakan adalah apa yang ditulis di kartu.

"Ahh, aku tahu ini hahahaha…" Jongin tak kuasa menahan tawa. "Kau mau jujur, atau aku yang mengatakannya pada orang lain?"

"Hyung! Itu pelanggaran!"

"Tidak, selama tidak ada kekerasan di dalamnya."

"Oh, sial!" Jongdae lagi-lagi menggerutu. Dan daripada ia mabuk di awal permainan, mungkin lebih baik menjawabnya saja. Sambil melirik malu pada satu-satunya perempuan yang ada di sana –Rose, ia pun menjawab pelan. "My dick."

"Whoaaa hahahaha!" Chanyeol adalah yang tertawa paling keras sambil bertepuk tangan. Permainan ini sungguh menarik, pikirnya.

"Bagaimana kau tahu?" Tanya Baekhyun pada Jongin.

"Dia salah mengirimkan fotonya padaku." Jawab Jongin enteng. Menyisakan Baekhyun yang menutup wajahnya dengan prihatin. Bisa-bisanya anak sialan itu.

Dan di seberang sana, terdapat perempuan berkostum Ratu Elsa dari Arendelle yakni Rose, yang tengah menghakimi Jongdae dengan terang-terangan. "Dasar anak mesum." Begitulah arti dari tatapannya.

Selanjutnya, Jongdae pun mendapat kehormatan untuk memutar botol. Dan ia nampak tidak sabar untuk mengetahui siapa target selanjutnya.

Tiba-tiba botol berhenti tepat di depan Oh Sehun yang kala itu tengah memakai kostum Raja Arab (Tidak ada yang tahu mengapa ia memilih kostum itu).

"AHA!" Jongdae berteriak penuh kegirangan. Ia pun mengambil kartu dan membacakan pertanyaan untuk Sehun. "Top or Bottom?"

Lagi-lagi pertanyaan kurang ajar yang mengundang gelak tawa. Sehun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ini belum apa-apa, tapi ia sudah stres di awal permainan.

"Aku akan minum." Ujarnya sebelum kemudian menenggak segelas bir yang tersedia di depannya.

"Tapi kau sangat suka saat aku ada di atasmu." Goda Jongin. Yang mana langsung mendapat tepukan keras di bahu oleh Sehun, sebagai hadiah akan mulutnya yang bocor.

"Damn you!"

"Lanjut!"

Botol diputar, kartu demi kartu dibuka. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang kian kemari kian kurang ajar –kata Kyungsoo. Tapi pada dasarnya, mereka memang hanya punya dua pilihan malam itu. Yakni mabuk atau jujur, yang mana itu sama saja; mempermalukan diri di depan umum.

"What's your favorite position?" kali ini giliran Rose si pemutar botol, membacakan pertanyaan untuk Baekhyun.

Baekhyun sedikit bingung. Apakah maksudnya posisi dalam melakukan hubungan badan? Ia hanya ingin memastikan supaya tidak ada kesahpahaman. "Tunggu, apa kita berbicara tentang posisi itu?"

"YA!"

Semuanya mengangguk bersamaan. Dan Baekhyun hanya menggeleng tak percaya dengan senyuman yang sulit diartikan. Pikirannya langsung melayang ke momen-momen di mana ia dan Chanyeol melakukan itu. Sejujurnya, bagaimanapun posisinya, Baekhyun sih enak-enak saja selagi ia dan pasangannya melakukan itu tanpa paksaan.

"Aku bertaruh dia sedang membayangkannya sekarang." Kyungsoo –si Alien— menebak yang mana itu merupakan hal yang benar.

"Shut up." Baekhyun mengatakannya sambil tertawa kecil. Tadinya ia ingin memilih untuk minum saja, tapi saat melirik wajah Chanyeol yang kelihatan penasaran, Baekhyun pikir tidak ada salahnya untuk menjawab.

"Ya, uhh… jadi, saat aku melakukannya dengan pacarku… aku sangat suka ketika kakiku terangkat dan berada di pundak ekhem… Chanyeol, dan Chanyeol akan menaikkan kecepatannya, dan aku akan mencengkeram rambutnya atau mencakar punggungnya dan kami—"

"—Too much information." Rose memotong kalimatnya seraya menatap sahabatnya dengan wajah datar. Membuat Baekhyun mundur diiringi kata "oops" dengan kedua alis terangkat.

Sementara itu, para pria lain yang ada di sana justru sedang berdebat tentang nama dari posisi seks yang Baekhyun maksud.

"It's called 'Morning Delight'." - Kris.

"No, it's called 'Deep impact'." - Chanyeol.

"I thought it was 'Side by Side'?" - Jongin.

"Wait, there's a name for that position?!" - Jongdae.

Pertanyaan terakhir membuat Chanyeol memutar bola matanya. "Inilah sebabnya kita tidak boleh mengundang anak di bawah umur untuk pergi ke pesta."

"Aku hanya bertanya!" protes si anak yang dimaksud.

Baekhyun hanya menghela napas ketika menyaksikan perdebatan tak bermutu yang tersaji di depannya. "Astaga. Terserah apapun itu namanya, yang penting aku sudah menjawab. Sekarang ayo lanjutkan permainanya."

Mendengar itu, para peserta debat pun memilih untuk tidak memperpanjang urusan agar permainan kembali dilanjutkan. Botol kembali diputar guna menemukan target selanjutnya. Dan tak lama kemudian, mereka bersorak ketika mendapati Chanyeol yang menjadi korban.

Baekhyun tentu saja yang membacakan pertanyaan. Namun ketika melihat apa yang tertulis di kartu, ia rasa pertanyaan ini cukup enteng bagi Chanyeol.

"The question is: What do you like to be called in bed?"

Dan Chanyeol tidak memerlukan waktu yang banyak guna menjawab. Sambil tersenyum menyeringai, ia menatap Baekhyun yang sepertinya sudah sangat hafal dengan jawabannya.

"Daddy."

"Ewhhh…the Daddy kink…" Semuanya terlihat memasang ekspresi jijik, kecuali Chanyeol dan Baekhyun, tentu saja.

Jika yang lain berpikir ini lucu, entah kenapa bagi mereka berdua, pertanyaan demi pertanyaan justu membuat ketegangan seksual diantara keduanya semakin meningkat. Jadi barangkali, ketika permainan ini telah resmi berakhir, mereka adalah orang yang pertama kali akan melompat ke atas ranjang guna memuaskan nafsu yang kini tengah sekuat tenaga ditahan.

"NEXT!"

Permainan kembali berlanjut. Kali ini, botol mengarah pada Kris Park. Chanyeol yang mendapat kesempatan untuk membacakan pertanyaan pun dibuat menepuk kening, karena sepertinya, ini adalah pertanyaan aneh yang justru akan disukai oleh kakaknya tersebut.

"Astaga, kau akan suka pertanyaan ini." Yang mana tentu saja memicu rasa penasaran tinggi dari para hadirin yang ada di sana. Jadi, Chanyeol pun tidak membuang waktu untuk membacakannya. "How many sex toys do you own?"

"WAHAHAHAHA!"

Ditanya seperti itu, Kris justru merasa senang. Karena pada dasarnya, ia amat sangat menyukai pamer itu sendiri. "Well well well…"

"Bisakah kau langsung minum saja bir-nya?" Suho tidak lagi bisa menyembunyikan ekspresi malu. Ia baru sadar bahwa memainkan permainan ini bersama pacarnya adalah merupakan sebuah ide buruk. Karena jika itu merupakan pertanyaan tentang seks, maka ia pasti akan terseret ke dalamnya.

Namun Kris tetap akan menjadi Kris. Lain dengan Suho yang menutupi wajah dengan satu tangan, ia justru menjawabnya dengan penuh kebanggan. "Aku punya banyak mainan, karena yeobo-ku sangat suka itu. Terkadang kami memesannya secara online, atau terkadang aku membelinya sebagai hadiah."

"Whoaaaa…" Terdengar suara takjub dari beberapa penyimak.

"Yeah, aku ingat itu. Seseorang pernah menukarnya dengan barang milikku." Chanyeol menyilangkan kedua tangannya di dada. Pikirannya kembali bertolak pada insiden di mana benda-benda ajaib milik Kris tertukar dengan kado yang hendak ia hadiahkan pada Baekhyun di pesta ulang tahun.

"Sudah kubilang aku tak sengaja." Kris mengatakannya tanpa rasa bersalah. "Oh ya, Apakah aku harus menyebutkan benda itu satu persatu?" Tanya Kris.

"Tidak, tidak. Kau sudah cukup menjawab pertanyaan. Sekarang putar lagi botolnya." Suho mengakhirinya sebelum pria itu berbicara lebih jauh.

Tanpa terasa, malam kian larut. Pertanyaan demi pertanyaan pun terus dibacakan. Malam itu, meski hanya diisi oleh sembilan orang, namun pestanya sama sekali tidak kurang menyenangkan. Dan mungkin diam-diam mereka harus berterimakasih sebab karena Jongin, malam Halloween yang seharusnya menyeramkan justru berubah menjadi malam yang menyenangkan (dan ya, sedikit memalukan juga).

Tapi siapa peduli? Yang penting semua orang menikmatinya dengan baik.

.

.

.

"Oh tidak, kepalaku sangat pusing." Rose, menepuk-nepuk kepalanya sambil berjalan dan meraba-raba sofa. Saat botol berkali-kali mengarah padanya, ia memilih untuk minum daripada menjawab jujur pertanyaan-pertanyaan di kartu. "Kurasa aku akan berbaring sebentar."

Seperti halnya Rose, nampaknya satu persatu dari mereka yang tersisa pun mulai tumbang karena mabuk. Tak terkecuali dengan Baekhyun, yang kini dengan terang-terangan telah duduk di pangkuan Chanyeol sembari menggesek-gesekkan pantatnya.

"Do you like that, Daddy?" wajahnya yang bersemu kemerahan semakin menambah daya tarik Baekhyun di mata Chanyeol.

Chanyeol yang kala itu belum terlalu mabuk, membelai rambut Baekhyun yang berwarna-warni, dan menjawab pelan. "Yes, Lil Monster."

Mereka berdua masih menguasai setengah kesadaran yang ada. Namun Baekhyun nampaknya terlalu asyik menggoda Chanyeol dan menciuminya tanpa peduli tempat –toh, yang lain juga tidak terlihat peduli. Hingga akhirnya ia baru sadar bahwa Chanyeol tengah mengangkat tubuhnya. Membawanya ke tempat yang lebih baik untuk melakukan hal selain berciuman.

Chanyeol melepas pagutannya sesaat untuk bertanya pada Baekhyun. "Yours or mine?"

Baekhyun paham bahwa kekasihnya sedang bertanya mengenai kamar siapa yang hendak meraka pilih. Kadang itu membuat Baekhyun senang ketika Chanyeol memperhatikan hal-hal seperti ini. Padahal pria itu bisa saja memilih semaunya tapi lihat betapa ia sangat menghargai Baekhyun atas pendapatnya.

"Di mana saja, asal denganmu." Baekhyun berkata sembari mengalungkan tangannya dan mencuri satu kecupan di pipi Chanyeol.

"Okay, mine then."

Lalu, tahu-tahu saja Baekhyun telah dibuat berbaring di atas ranjang milik Chanyeol. Si dominan sendiri masih berdiri di samping tempat tidur. Satu tangannya menarik dasi untuk dilepas, dan satu tangan lain menyisir rambut ke belakang. Baekhyun yang menyaksikan itu hanya menggigit bibir bawahnya karena sungguh, Chanyeol dan Joker merupakan ide paling brilian yang pernah ada!

"Apa kau sadar bahwa kau sangat hot saat ini?" Tanya Baekhyun, memastikan.

"Yeah, I'm aware." Chanyeol menaikkan satu alisnya dan menyeringai. Tangannya lalu meraih ponsel milik Baekhyun, membuat si empunya mengajukan pertanyaan karena penasaran.

"What are you doing?"

"Kupikir lagu dan seks merupakan sebuah perpaduan yang menarik." Chanyeol menjawab terlewat santai. Selesai dengan pilihannya dan menekan tombol repeat, ia pun melempar ponsel Baekhyun ke atas tempat tidur. Membiarkan sang lagu untuk menemani aktivitas seks mereka malam itu.

Baekhyun sendiri hanya tertawa jenaka. Chanyeol dengan tingkahnya memang tidak pernah membosankan untuk diikuti.

Beriringan dengan lagu yang berputar, si tinggi lantas mendekat pada Baekhyun yang asyik berbaring. Kedua tangannya menumpu pada tempat tidur, seakan mengunci tubuh kekasihnya untuk tetap diam di bawah sana. Pelan-pelan, ia pun memangkas jarak. Mendekat ke telinga Baekhyun dan menjilatnya dengan penuh nafsu.

"Ahh…hahahahaha!" Baekhyun tertawa seperti orang gila. Yah, tidak akan ada yang menyalahkannya malam ini sebab ia memang sedang menjelma menjadi seorang Harley Quinn itu sendiri.

"…You make it look like it's magic

'Cause I see nobody, nobody but you..."

Alunan musik pelan itu seakan menyemangati Chanyeol untuk terus menggoda Baekhyun.

Jilatan-jilatan di telinga itu amat menggelikan dan juga membuat sensasi aneh di perut Baekhyun kembali menyeruak. Sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang selalu hadir kala Chanyeol dan dirinya melakukan kontak fisik di area tertentu. Juga, sesuatu yang pada akhirnya menguras habis kewarasannya yang seakan ingin menyerahkan seluruh tubuhnya pada Chanyeol untuk dihujami dengan sentuhan-sentuhan cinta.

Puas dengan apa yang dilakukan barusan, Chanyeol kini menarik kepalanya. Ditatapinya wajah Baekhyun yang penuh riasan –biar totalitas, katanya— dan ia pandangi lekat-lekat mata sipit yang membuatnya jatuh di pertama kali mereka bertemu.

"Aku ingin anak kita mewarisi mata sepertimu." Ujar Chanyeol, out of nowhere.

"Pfft, kenapa tiba-tiba?" Tanya Baekhyun. Aneh-aneh saja pemikiran kekasihnya ini, pikirnya.

"Entahlah." Chanyeol mengendikkan bahu. "Matamu adalah yang terbaik."

"Apa kita akan berakhir membicarakan tentang mataku sampai pagi, Mr. J?" goda Baekhyun.

"Oho, seseorang sudah tidak tahan rupanya."

"Katakan itu pada seseorang yang terlihat sangat ingin menelanjangiku di permainan Truth or Drink."

Chanyeol tertawa mendengarnya, karena ucapan Baekhyun terlampau benar. Bahkan jauh sebelum itu, saat pertama ia melihat Baekhyun menjelma menjadi Harley, Chanyeol sudah sangat ingin menelanjangi pemuda manis tersebut.

Namun tawa itu tidak berlangsung lama sebab Baekhyun yang tiba-tiba menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka. Gerakan tanpa aba-aba itu sama sekali tidak membuat lidah Chanyeol kelu untuk menggeliat. Seakan memang sudah menjadi insting natural baginya untuk membalas ciuman Baekhyun dan berbagi kenikmatan untuk keduanya.

Tak lama, keduanya pun menarik wajah masing-masing. Chanyeol bisa melihat jelas sisa kekacauan akibat ciumannya. Dimana lipstick merah crimson yang yang menghias bibir Baekhyun kini berantakan melewati garis bibirnya. Aneh. Bukannya terlihat konyol, Baekhyun justru terlihat lebih menggoda dari sebelumnya.

Dia membuat Chanyeol ingin terus menerus menghujaminya dengan ciuman. Lagi dan lagi, hingga egonya puas terpenuhi. Dan nyatanya, Chanyeol betul-betul melakukan itu. Pria itu mendorong tubuh Baekhyun hingga si mungil terpojok di kepala ranjang. Seakan melupakan jeda untuk bernapas, Chanyeol lupa diri dengan terus mengecupi leher Baekhyun yang memang ditakdirkan hanya untuk dirinya seorang.

"... We live with no lies~

Hey, hey~

And you're my favourite kind of night..."

Alunan musik berjalan lembut. Kontras dengan adegan kecup-mengecup brutal yang terus Chanyeol lakukan di tubuh Baekhyun-nya. Menyisakan bekas merah sempurna yang tentu masih akan ada setidaknya hingga esok menjelang.

"Omo-"

Baekhyun sedikit terkejut karena saat ini, Chanyeol tidak hanya menggunakan bibirnya untuk menyalurkan nafsu. Melainkan tangannya pun kini bergerak masuk, meraba ke dalam t-shirt ketat yang tengah ia kenakan, dan memainkan benda di dalam sana dengan pelan namun juga sukses membuat dirinya kewalahan.

"Geli, a-ahhh…" Baekhyun tak kuasa menahan lenguhannya.

Tangan nakal Chanyeol tidak berhenti sampai disitu. Dengan gerakan pelan, jemarinya ia seret semakin ke bawah. Melewati perut, pusar, lalu sampai di kancing celana Baekhyun yang masih mengunci. Dengan terburu, ia pun membukanya dan menarik risleting hingga ke bawah. Setelahnya, tentu saja tangannya bermain kian nakal dengan menyelinap masuk ke dalam celana Baekhyun.

Kepala Baekhyun yang menengadah menjadi pertanda bahwa tangan Chanyeol di bawah sana telah melakukan aksinya dengan baik. Si pria yang lebih tua tersenyum menyeringai. Tak puas dengan hanya menggoda, maka ia paksa Baekhyun untuk menanggalkan celananya.

Kemudian setelah tak ada lagi halangan yang menutupi, Chanyeol membuka kaki Baekhyun lebar-lebar. Tawa kecil tak sengaja keluar ketika ia mendapati Baekhyun yang nampaknya tengah mengalihkan wajahnya ke arah lain.

"Masih saja malu-malu." Ujarnya. Padahal mereka lumayan sering melakukan ini. Dan Baekhyun pun tergolong berani dalam hal mendesah. Tapi lihat betapa si mungil itu masih saja malu ketika Chanyeol membuka akses guna kejantanannya bisa masuk ke dalam sana.

"Oh, shut up." Ujar Baekhyun.

Chanyeol melakukannya. Ia tak lagi membuang kata, dan memilih untuk melakukan pekerjaannya. Melihat si kecil milik Baekhyun yang masih terkulai, Chanyeol pikir ia perlu melakukan sesuatu untuk itu.

Awalnya hanya usapan pelan, namun lama-lama Chanyeol seperti dibisiki setan untuk memainkannya sesuka hati. Temponya pun tak beraturan. Kadang bisa sangat cepat, kadang bisa sangat lamban. Dan gerak itu sama sekali tidak mengurangi merdunya desah yang dikeluarkan Baekhyun malam itu. Bagus. Artinya memang tangan Chanyeol telah bekerja dengan terampil.

Ya, terampil untuk menggoda.

Di depan Chanyeol, Baekhyun nyaris gila. Pejaman mata dan remasan di bantal setidaknya menjadi pertanda betapa bagusnya Chanyeol dalam memberi kenikmatan. Kadang Baekhyun ingin memarahi dirinya sendiri, karena demi apapun, ini baru tangan! Tangan Park Chanyeol. Kejantanannya saja belum dimasukkan dan Baekhyun sudah keenakan.

"Chanyeol…" panggil Baekhyun setelah agak lama miliknya dimanjakan oleh Chanyeol. Ia merasa sesuatu di ujung sana akan segera menembak.

"Try again." Chanyeol, lagi-lagi dengan suaranya yang seolah tengah memberikan perintah, membuat Baekhyun justru kian menggila.

"Okay, uhh… Daddy…"

Melihat mata sayu milik Baekhyun yang menatapnya langsung, Chanyeol seakan mengerti. "Jangan menahannya."

Kemudian bibirnya kembali bekerja. Menjelajah ke area tulang selangka milik Baekhyun dan memberi bekas di sana. Tak lama setelah itu, tangan Chanyeol yang berada di bawah sana pun merasakan basah.

Satu tangan Chanyeol yang bebas dari lengket, terangkat ke atas. Ia membelai wajah Baekhyun, mengusap rambut warna warni kekasihnya itu dan membiarkan ibu jarinya bermain di pipi.

Baekhyun tidak diam. Jemari Chanyeol ia tarik ke dalam bibirnya dan ia goda dengan lidah yang menari. Kini kedua tangan milik Chanyeol telah basah. Satu dengan saliva, satu lagi dengan cairan dari benda milik Baekhyun di bawah sana.

"Kau benar-benar penggoda ulung." Puji Chanyeol.

Maka setelah itu, ia pun tak kuasa untuk terus menahan diri. Dilucutinya setelan jas yang dari tadi ia kenakan demi Halloween konyol. Karena persetan dengan itu, sekarang adalah waktu mereka untuk bercinta.

"Kondomnya habis, bagaimana?" Tanya Chanyeol ketika ia menarik laci meja miliknya. Ia hanya menjumpai lube yang untungnya masih terisi penuh, pengaman yang dimaksud nihil ditemukan.

"Aku tidak tahu." Baekhyun terlalu pening untuk sekedar berpikir. Chanyeol memang mahir membuatnya saeakan berada di puncak kenikmatan dan secara langsung juga seperti mematikan fungsi otaknya. "Can you just do it, right now?"

Bagi Chanyeol, itu terdengar seperti sebuah rengekan. Lagipula mereka juga sering melakukan seks tanpa si karet. Yah, itu memang bukan hal yang aman tapi mau bagaimana lagi, bukan secara sengaja juga mereka lupa untuk menyetok kondom di rumah.

"Tahan sebentar, baby." Chanyeol akhirnya kembali ke ranjang.

Satu tangannya ia basahi dengan pelumas. Satunya lagi sengaja ia gunakan untuk menahan kaki Baekhyun supaya terbuka. Walau sebenarnya tanpa di tahan pun, Baekhyun akan tetap melakukannya. Karena Byun Baekhyun yang sedang melakukan seks akan berubah menjadi si penurut dengan Chanyeol yang sibuk melakukan ini itu.

"Beritahu aku—Ahhh…"

Tubuh Baekhyun membungkuk ke depan karena jari Chanyeol masuk tanpa aba-aba. Senyuman jahil muncul di bibir prianya itu. Bagian menyenangkan dari membuka jalan masuk di bawah sana adalah melakukannya dengan kejutan.

"Sialan." Umpat Baekhyun. Meringis dan pelan.

Tak butuh lama untuk Chanyeol segera melumuri miliknya di bawah sana dan menatap Baekhyun yang matanya setengah terpejam. Tangannya kemudian bergerak untuk memindahkan kaki Baekhyun ke pundaknya. Samar-samar ingatan tentang permainan tadi pun terlewat di benaknya. Membuatnya kembali menyunggingkan senyum karena ia tahu, ini adalah posisi paling diminati Baekhyun.

"Aku akan masuk." Bisik Chanyeol. Yang mana langsung mendapat anggukan persetujuan dari Baekhyun.

Momen ini tak pernah bosan untuk Chanyeol saksikan dan ia kenang di waktu-waktu tertentu. Ketika Baekhyun menggigit bibir –dengan mata sayu serta wajah memohon, saat itulah ia akan masuk.

"Akhhh…"

Kembali, desahan merdu nan menggiurkan itu terdengar. Membuat Chanyeol kian bersemangat. Miliknya yang masih setengah masuk, kini terus ia dorong demi menyentuh titik tertentu yang akan membuat Baekhyun mendesah kian nyaring.

"Daddy…" panggil Baekhyun, terdengar tak berdaya di telinga kekasihnya.

Milik Chanyeol telah masuk dengan sepenuhnya, dilahap si lubang dengan sukarela. Dan barangkali, panggilan Baekhyun adalah permintaan agar dirinya bergerak sedikit lebih cepat.

"Faster?"

Sebuah anggukan yakin Baekhyun perlihatkan. Chanyeol paham, dengan sigap ia lakukan pinta kekasihnya itu. Tempo permainan yang awalnya lamban, kini perlahan melaju seiring dengan desahan patah-patah yang Baekhyun keluarkan tanpa malu.

"A-hhhh.. ahhh… "

Padahal ini bukan yang pertama. Padahal mereka tergolong sering melakukannya. Tapi nyatanya, sampai detik ini, nikmatnya tak pernah berkurang. Chanyeol selalu saja bisa meraup paksa kewarasan Baekhyun. Membawanya ke titik tertinggi dengan hujaman-hujaman cinta yang tak terbendung.

"...You're always worth it~

And you deserve it ..."

Di malam Halloween itu, di mana yang lain tengah sibuk menjelajah dalam lelap, si Joker dan Harley Quinn-nya justru sibuk mengejar nikmat. Musik yang mengalun merdu seakan kalah dengan jerit Baekhyun yang terdengar bagai candu di telinga Chanyeol. Semakin pekikan terdengar, semakin terbakar pula semangat Park Chanyeol untuk menghentak kian kencang.

"Te-terusss…"

Chanyeol menekan kian dalam. Apabila Baekhyun yang meminta, sudah sepatutnya ia kabulkan. Geraknya pun semakin menggila. Dengan wajah Baekhyun yang terlihat kepayahan di depannya, ia terus menghujam seakan tidak ada hari esok untuk mereka.

"Ohh myy, Chanyeolhh … aku akan… akan…"

Baekhyun bahkan tidak sanggup melepaskan kalimat terakhirnya karena napas yang memburu bercampur dengan kenikmatan di ujung sana. Sedikit rasa sakit karena tubuhnya seakan telah terbelah, terlupakan begitu saja ketika pada akhirnya, ia dan Chanyeol menjemput putih bersama-sama.

"My baby doll, I love you."

Itu cukup tulus, namun sejatinya memiliki penafsiran lain. Dan penafsiran lain tersebut hanya Baekhyun yang bisa membacanya.

"Baiklah, baiklah… kita lakukan lagi sampai kau puas."

.

.

.

Esok harinya…

Chanyeol terbangun di entah jam berapa. Sinar matahari yang mencoba menembus tirai jendela menjadi penanda bahwa hari telah berganti. Di sampingnya, Baekhyun masih terlelap dengan nyaman. Menggunakan lengan lelakinya sebagai guling untuk mengarungi mimpi, pemuda itu terlihat sangat manis dengan mata terpejam.

Si pria yang lebih tua tak berniat untuk membangunkan, sebab semalam memang cukup melelahkan dan memuaskan. Jadi ia pikir, Baekhyun setidaknya berhak untuk mendapat jatah istirahat lebih banyak.

Tangannya pun terjulur untuk meraba nakas. Mencari benda persegi guna mengecek apabila terdapat pesan masuk, atau sekedar untuk melirik jam. Begitu benda itu di dapat, mata Chanyeol menyipit otomatis saat melihat layar yang terlalu terang.

Namun sipitnya tak bertahan lama, sebab setelahnya matanya justru membelalak sempurna. Ia memindai kembali pesan yang diterima, dan berusaha membuat otaknya mencerna dengan baik. Itu dari Rachel, dan isi pesannya kurang lebih hanyalah:

"See you next week."

Saat itu Chanyeol tahu, bahwa bendera merah yang ia waspadai ternyata telah mulai berkibar.


.

.

.

Tbc

.

.

.


(Ngomong-ngomong, ada yang bisa nebak judul lagu di atas? hehe)

Beberapa bulan didiemin, jadi agak lupa sama ceritanya. Hehe. Sebenernya yang bikin lama bukan di ngetiknya, tapi ngumpulin lagi pedenya, kadang tiap mau update chapter baru itu mikirnya harus berhari-hari. Takut ini takut itu. Terus aja sampe akhirnya beneran up.

Maaf kalo alurnya ngebosenin dan kebanyakan filler. Also, pls let me know kalau ada typo, atau kritik soal cerita, atau mungkin saran, biar ke depannya cerita ini bisa lebih baik lagi. Oke, segitu aja ah notes-nya, ntar kebanyakan.

Sampai jumpa lagi (gak tahu kapan)