Narutoo disclaimer Masashi Kishimoto
Date a Live/デート・ア・ライブdisclaimer Tachibana Kōshi
Genre: Romance, School Life, Slice of Life
Peringatan : Ooc, tidak suka tidak usah di baca
Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lainnya atau kekurangan lain, karena yang namanya manusia tidak lepas dari kesalahan
Naruto POV
Hari ini adalah hari rabu, tanggal 17 Februari.
Pada pagi hari ini, aku dibangunkan lagi oleh jam weker yang bunyinya benar-benar berisik. Dengan perasan sedikit kesal, aku lalu menekan tombol jam weker itu untuk menghentikan deringannya.
Saat aku menoleh arah jam, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Itu sengaja aku lakukan agar aku tidak perlu di teriaki oleh ibu dan juga kakak perempuanku. Aku kemudian turun kelantai pertama dengan wajah mengantuk dan rambut yang berantakan.
Saat baru menginjakkan kaki di lantai satu, aku di sambut oleh seseorang yang baru saja keluar dari ruangan yang berbeda.
"Oh, sudah bangun toh"
Orang di hadapanku saat ini memiliki perawakan tubuh yang langsing, ukuran payudaranya tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Rambut pirangnya yang di ikat twintal dan mata biru miliknya sering membuat orang lain berpikir kalau dia adalah orang eropa.
Dialah kakak perempuan yang aku maksud
"Um ... ohayou"
Sapaku yang masih setengah bangun. Kakakku sempat terdiam sebentar saat melihatku sebelum kemudian dia berkata.
"Ohayou"
Ucapnya membalas sapaanku dengan singkat sebelum kemudian pergi.
Aku pun langsung ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan juga berganti baju.
Setelahnya aku selesai menyiapkan semua keperluan sekolahku, aku kemudian pergi ke ruang makan. Aku lihat, semuanya telah ada di sana saat aku sampai, mulai dari ayah, ibu, dan juga kakak perempuanku yang juga sudah memakai seragam SMA-nya.
"Ohayou!" sapaku
"Ohayou" sapa ayah dan ibu disaat ayah bersamaan.
Sementara kakakku tidak membalasnya, karena dia memang sudah melakukannya tadi.
Kami kemudian memulai sarapan kami di pagi yang cerah dan dingin ini. Dan saat kami sedang makan, ibu kemudian bertanya padaku.
"Naruto, apa kau sudah yakin akan masuk SMA Raizen?"
"Um" jawabku
"Dan... apa kau yakin untuk mulai hidup mandiri"
"Ya ... lagi pula aku tidak mau terus-terusan merepotkan ayah dan ibu"
Kataku mencoba meyakinkan ibu, tapi ekspresinya nampak masih menyisakan rasa khawatir. Hingga kemudian ayah berkata.
"Kushina, kenapa tidak turuti saja kemauannya, dengan begitu dia bisa belajar tentang dunia luar dan juga beratnya hidup seorang diri"
Meski ayah yang mengatakan itu, ibu sepertinya masih ragu-ragu. Namun akhirnya dia menghela nafas panjang dan berkata.
"Haah, baiklah ... tapi ingat, sering-seringlah memberi kabar pada kami supaya kami tidak khawatir"
"Iya, aku tahu"
Setelah menyelesaikan sarapan, aku kemudian segera membereskan brangku dan berangkat menuju kesekolah. Oh iya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Uzumaki Naruto, anak kedua dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, serta adik dari Namikaze Naruko. Usiaku sekitar 15 tahun, dan saat ini adalah minggu-minggu terakhirku di masa SMP.
Naruto POV end
Sambil berjalan melewati setiap ruang kelas yang ia lewati. Naruto berjalan santai dengan kedua tangan memakai sarung tangan sepanjang siku dan sambil di masukkan kedalam saku celana, berjalan melalui siswa dan siswi disekitarnya. Tatapannya yang menatap datar kearah depan, rambut kuning dengan jambang yang dibiarkan memanjang, ditambah lagi dengan tiga tanda wisker dipipinya membuatnya terlihat keren.
Dia menghentikan langkahnya saat menyadari ada seorang siswi yang datang dari arah lain dan hampir saja dia tabrak. Siswi tersebut kelihatan juga sedikit terkejut. Saat memandang siswi tersebut, Naruto meminta maaf sambil tersenyum lembut dan sedikit menundukan kepalanya.
"Maaf, aku tidak melihatmu datang" ucap Naruto
"Um, tidak kok, aku juga minta maaf karena hampir menabrakmu" ucap siswi tersebut
Wajah sisiwi tersebut terlihat sedikit merona saat melihat senyuman Naruto.
Sementara pemuda pirang tersebut kemudian melanjutkan kembali perjalanannya, siswi tersebut masih terdiam di tempatnya.
Sesampainya di kelas, Naruto di sambut oleh berbagai obrolan dari para siswa dan siswi yang ada didalam kelasnya itu. Tapi dia tidak terlalu menengarkan mereka dan berjalan dengan santai menuju kearah bangku tempat dia duduk.
Selang beberapa detik setelah mendudukkan dirinya diatas kursinya, datanglah salah seorang sahabatnya. Orang itu memiliki ciri-ciri seorang pemuda dengan kulit putih, rambut hitam dan sebuah jambul diatas kepalanya. Yah dia bernama Tonomachi.
"Yo, ohayou"
"Um, ohayou, Tonomachi!" balas Naruto dengan nada datar
Saat dia menoleh kearah Tonomachi, dia baru menyadari kalau ada satu temannya yang sepertinya belum datang.
"Oi, dimana Shidou?"
"Emm ... hari ini sepertinya dia tidak akan datang kesekolah"
"Kenapa?" tanya Naruto lagi
"Dia bilang kalau hari ini tidak bisa masuk sekolah karena sedang demam"
"Oh, jadi begitu ya" ucap Naruto
"Ngomong-ngomong, setelah kita lulus, kau mau ke SMA mana?"
"Ah, aku mau ke SMA Raizen" jawab Naruto "Kau sendiri bagaimana?" tanya Naruto
"Sama denganmu, aku lebih memilih yang dekat-dekat saja, dan tidak Cuma aku ... si Shidou itu juga sepertinya akan masuk ke SMA Raizen"
"Eh?! Bukankah dia ingin masuk ke salah satu SMA di Tokyo?" tanya Naruto lagi
"Aku tidak tahu, sepertinya karena keluarganya tidak punya cukup biaya, dia jadi tidak bisa memilih SMA yang dia inginkan"
"Oh, begitu ya"
Obrolan merekapun berlanjut dengan diringi canda dan tawa sampai guru yang mengajar tiba untuk melakukan tugasnya. Merekapun kembali kemejanya masing-masing.
Naruto hanya memandang keluar jendela, sama sekali tidak ada niatan untuk memperhatikan pelajaran yang sedang diberikan oleh gurunya.
Tak terasa jam pelajaran dari Tamae-sensei sudah usai. Dan selanjutnya adalah pelajaran dari Jiraiya-sensei, guru mesum dan tukang terlambat yang mengajar sejarah. Bagaimana tidak mesum, Ia dengan santainya membaca Icha-Icha Paradise, yang sudah dinobatkan sebagai buku termesum sepanjang masa di depan umum.
Dan jangan lupakan sifat telat waktunya itu yang tidak tanggung-tanggung. Dua jam setelah bel masuk pelajarannya, dia baru akan masuk kekelas, dan alasannya terlambat juga selalu tidak logis, seperti 'Aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan'atau 'Maaf tadi ada kucing hitam yang menghalangi jalanku jadi aku harus memutar untuk menghindari kesialan'. Dirinya heran, mengapa guru berambut uban jabrik itu masih berada disekolah ini, dan dirinya juga bepikir kenapa Jiraiya sensei tidak pernah mendapat surat peringatan atau bahkan dipecat. Dan seperti yang diduga, guru itu telat selama 2 jam dan pada akhirnya murid-murid sibuk dengan urusannya sendiri termasuk dirinya yang kembali merenung sembari menerawang keluar jendela.
SKIP TIME
KRIIIIIINNNGGG
Bel berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran telah usai. Para murid disekolah ini kemudian keluar dari kelasnya masing-masing sambil membawa tas mereka. Naruto pun juga sudah bersiap untuk pulang, tapi Tonomachi kemudian mendatanginya dan bertanya.
"Hei, Naruto, aku dan anak-anak yang lain mau pergi ke karaoke, apa kau mau ikut?"
"Tidak kalian pergi saja, aku mau ke ruang klub dulu"
"Ruang klub, tapi bukankah kau sudah memutuskan untuk keluar dua minggu yang lalu"
"Ya, aku tahu, aku cuma ingin mampir sebentar sebelum aku lulus"
"Sokka, baiklah kalau begitu, aku duluan ya!"
"Ah"
Setelah itu, Tonomachi pun pergi bersama dengan teman-teman yang lain menuju ke karaoke. Setelah memastikan Tonomachi dan yang lainnya pergi duluan, Naruto kemudian segera membereskan buku-bukunya dan berjalan keluar.
Melewati lorong-lorong sekolah dan ruang-ruang kelas yang sudah mulai kosong, Naruto berjalan menuju ruang klub K-ON.
Dan tanpa dia sadari, dari salah satu ruang kelas yang baru saja dia lewati, seorang siswi perempuan yang baru saja menyelesaikan tugas piketnya. Gadis itu memiliki perawakan yang agak ramping, kulit putihnya yang seperti susu dan juga mulus, serta rambut oanjangnya yang di kepang dua. Nama dari siswi tersebut adalah, Tokisaki Kurumi.
"Ara? Bukankah dia itu anak yang tadi pagi? Mau kemana dia?" gumam Kurumi
Tokisaki Kurumi, merupakan seorang siswi SMP yang cukup terkenal disekolah ini sebagai seorang siswi teladan yang selalu mendapatkan nilai bagus di bidang akademis maupun olahraga.
Tidak cuma cantik, dia juga dikenal karena sifatnya yang ramah kepada semua orang. Hanya saja, dia adalah anak yang sedikit tertutup soal kehidupan pribadinya.
Kurumi kemudian menengok kearah jam dinding yang kini menunjukkan pukul empat sore.
"Padahal sudah sore begini ..." gumam Kurumi
Dia kemudian menengok lagi kearah Naruto yang sudah berjalan semakin jauh ke ujung ruangan.
CHANGE SCENE
Saat ini, Naruto tengah berada di depan ruang Klub K-ON.
Pemuda pirang itu memberikan tatapan datar kearah pintu ruangan yang tertutup itu sebelum kemudian dia menghela nafas panjang.
"Haah"
Dia kemudian mengulurkan tangannya dan mencob untuk membuka pintu.
Akan tetapi, pintu itu tidak bisa dibuka. Dan saat itulah, dia mengingat sesuatu.
"Oh, benar juga, aku lupa kalau semua kegiatan klub ditiadakan sampai ujian berakhir"
Yah, jika seperti itu alasannya maka wajar saja kalau pintu ruang klub ini terkunci.
Naruto kemudian merogoh sakunya dan mengambil sebuah kunci. Itu adalah duplikat dari kunci ruang klub K-ON yang diduplikasi olehnya hanya untuk berjaga-jaga jika kunci aslinya hilang.
CKREK*
Naruto pun memasukkan kunci tersebut ke lubang kunci dan membuka pintu ruangan.
Tepat disaat itu, cahaya matahari senja yang terpantul lewat jendela memasuki ruangan itu dan menerangi seisi ruangan.
Naruto kemudian melangkahkan kakinya memasuki ruangan.
Mengedarkan pandangan kearea sekitar dimana sebagian besar alat musik yang ada tertutupi oleh sebuah kain khusus.
"?!"
Pandangan Naruto kemudian tertuju kepada sebuah tas besar yang berada di ujung ruangan. Naruto kemudian berjalan mendekati tersebut.
Dia lalu membukanya dan melihat sebuah gitar akustik berwarna coklat.
"Hft"
Naruto menghela nafas pendek sambil tersenyum kecil saat jari-jarinya menyentuh senar gitar.
"Tiga tahun telah berlalu ... tapi rasanya seperti baru kemarin aku bergabung dengan klub ini"
Gumam Naruto sambil tersenyum pahit.
Dia kemudian mulai teringat kembali masa-masa menyenangkan yang telah dia habiskan di Klub ini selama tiga tahun penuh.
Naruto yang awalnya hanya seolah anak pemalu dan pendiam mulai berubah saat dia masuk klub K-ON. Di tempat ini jugalah dia pertama kali bertemu dengan Shidou dan Tonomachi.
Dengan Tonomachi sebagai Drummer, Shidou sebagai keyboardis, Naruto sebagai gitaris, dan juga seorang kakak kelas mereka yang seorang Bassis serta vokalis. Mereka berempat bersama-sama menjalankan kegiatan klub dan menjadi band yang cukup digemari oleh anak-anak diseluruh sekolah.
Mereka bahkan sudah punya beberapa lagu ciptaan sendiri. Namun dari semuanya, ada satu yang cukup berkesan. Dan itu adalah lagu yang diciptakan oleh Naruto sendiri.
Itu terjadi saat festival budaya tahun lalu, dimana mereka berpikir untuk menciptakan sebuah lagu baru. Tapi lagu itu tidak kunjung selesai hingga waktu yang tersisa semakin mepet.
Hingga akhirnya Naruto berhasil menciptakan sebuah lagu yang paling berkesan dari lagu-lagu yang lainnya dimana lagu itu dinyanyikan oleh mereka berempat. Dan untungnya semua berjalan lancar sampai festival budaya berakhir.
Itu juga adalah konser terakhir Naruto, Shidou dan Tonomachi bersama dengan vokalis mereka yang harus segera menjalankan ujian kelulusan.
Dan sekarang, adalah giliran Naruto yang akan segera lulus.
"Yah, mungkin tidak ada salahnya memainkan gitar ini untuk yang terakhir kalinya" gumam Naruto
Naruto kemudian meletakkan tasnya dan mengambil gitar akustik itu dan juga duduk disebuah kursi yang ada di ruangan itu.
Dan kemudian Naruto pun mulai menyanyikan sebuah lagu originalnya itu.
-Yume wo oikakete
-Tsubete ga Kawaru
Dia lalu mulai memetik senar gitar dengan lembut, dan menghasilkan suara nada yang indah di tengah senja.
Sementara Kurumi yang berjalan di lorong sekolah mendengar lantunan lagu itu yang sedikit menggema.
"Lagu ini ... bukankah ..." gumammnya
Sambil mengikuti asal suara, dia kemudian mengintip Naruto yang sedang bermain gitar sambil bermandikan cahaya matahari senja.
-Why, naze darou
-Dareka wo sukueru hazuno chikara de
-Daremo ga mata arasou
-Yes, hountou wa hitotsu no sekai ni umarete kita to
-Wakariaete iru noni
-Can you do it? Nando demo
-Can you Carry out? Hajimayou
-Atarashi more tenderly
-Ashita wo more kindly
Melihat Naruto yang menyanyikan sebuah lagu sambil bermain gitar, Kurumi sepertinya takjub saat mendengar suaranya.
'S-sugoi' batin Kurumi yang takjub sampai-sampai terhipnotis oleh suara Naruto
-Yume wo oikakete
-Subete ga kawaru
-Itsudatte kimi wo
-Kokoro wo miteiru
-Ai wa dokoni aru
-Sono Kotae kara
-Kimi dake no Yuuki
-Kanarazu sagashidase rusa
Mendengar lagu itu di akhiri dengan petikan senar gitar yang sangat indah, Kurumi yang hanya terdiam sambil mengintip kedalam ruangan merasakan perasaan nostalgia yang sangat kuat pada lagu itu.
Naruto yang bernyanyi dengan sepenuh hati itu juga sepertinya tidak menyadari jika dirinya sedang di lihat oleh orang, sampai kemudian-
"Hm?"
Naruto sedikit terkejut ketika dia mengarahkan pandangannya kearah pintu masuk klub yang terbuka dan mendapati Kurumi yang masih terdiam sambil melihatnya.
"S-sejak kapan kau disana?"
"Heh?!"
Pertanyaan Naruto yang tiba-tiba langsung membuyarkan lamunan Kurumi.
Gadis muda berambut hitam itu langsung kalang kabut, dia kebingungan harus berkata apa. Disaat yang sama, Naruto mengangkat sebelah alisnya.
"Tunggu dulu ... bukannya kau itu gadis yang tadi pagi"
"Heh!? Oh, u-umu..."
Ucap Kurumi sambil mengangguk.
"Sokka, oh ya, soal yang tadi pagi ... aku minta maaf karena hampir menabrakmu"
"Tidak apa, lagi pula aku yang harusnya minta maaf karena tidak melihatmu"
Kurumi mengucapkannya sambil sedikit membungkukkan badannya. Naruto lalu bertanya lagi.
"Lalu ... ada perlu apa kau datang kesini?"
"Eh! Ti-tidak ada, aku Cuma kebetulan lewat saja, tapi karena mendengar nyanyianmu, aku jadi penasaran"
"Oh, jadi begitu ya" ucap Naruto
"Lalu , naru- Namikaze-san sendiri bagaimana? Maksudku apa yang kau lakukan disini?"
"Soal itu ..."
Naruto menggaruk kepalanya sebentar sebelum kemudian dia lanjut berkata.
"Yah, kau tahu, karena sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah ini, jadi aku berpikir untuk mengunjungi tempat ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku lulus"
Melihat ekspresi dan jawaban Naruto, tanpa sadar Kurumi memperlihatkan senyuman yang lembut dan berkata.
"Ruangan ini ... pasti menyimpan banyak kenangan, kan?"
"Kau benar, tempat ini punya banyak sekali kenangan yang berharga untukku disekolah ini, dan juga disinilah aku pertama kali bertemu dengan sahabat-sahabatku."
Saat itu, rona merah tipis tercipta di wajah Kurumi saat dia memandangi wajah si pemuda pirang tersebut.
Gadis rambut hitam itu sempat meneguk ludah sebelum kemudian dengan gugup dia berkata.
"A-ano ..."
"Hm? Ada apa?" tanya Naruto sambil menoleh kearah Kurumi
"A-apa kita boleh kenalan?" tanya Kurumi
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali sebelum kemudian dia menjawab.
"Oh, boleh saja"
Pemuda pirang itu pun mulai memperkenalkan dirinya.
"Namaku Naruto ... Uzumaki Naruto"
"A-aku Tokisaki Kurumi, salam kenal"
Keduanya pun menyambut uluran tangan masing-masing dan berjabat tangan.
Saat Kurumi melihat Naruto lebih dekat, dia baru menyadari kalau Naruto lebih pendek darinya. Mungkin hanya terpaut enam atau delapan senti.
Dan di waktu yang sama.
"Apa yang kalian lakukan diluar sini?" tanya seseorang
Naruto dan Kurumi tersentak kaget ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria paruh baya berambut nanas dengan luka di bagian hidung.
"Eh! Iruka-sensei!" pekik Naruto." sejak kapan kau ada disitu?" tanya Naruto
"Aku baru saja sampai" ucap Iruka-sensei
"Eh! Aku tidak menyadarinya" ucap Naruto
"Aku juga!" ucap Kurumi
"Itu tidak penting, ngomong-ngomong, kalian belum menjawab pertanyaanku yang tadi" ucap Kakashi-sensei
Saat Naruto hendak menjawab pertanyaan Iruka-sensei, Kurumi lalu memberikan kode seolah dia berkata "biar aku saja yang menceritakannya".
Gadis muda berambut hitam itu pun mulai menceritakan semua kejadiannya. Mulai dari dirinya mendapatkan tugas piket sampai Naruto yang mengatakan bahwa dia mampir keruang klub untuk bernostalgia sebentar sebelum lulus.
"Hmm, jadi begitu rupanya" gumam Iruka
"Aku minta maaf karena masuk keruang klub tanpa meminta ijin lebih dulu" ucap Naruto sambil membungkuk
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan, lagi pula aku tadinya berpikir untuk kerumahmu" ucap Iruka
"Heh? Kerumahku?"
Naruto mengangkat kedua alisnya saat mendengar ucapan Iruka barusan, Naruto lalu kembali bertanya.
"Memangnya ada perlu apa?"
"Untuk memberikan gitar akustik itu padamu!"
"Heh? Me-memangnya kenapa?"
"Yah, kau tahu, semenjak kau dan teman-temanmu keluar dari klub, gitar akustiknya tidak pernah lagi dimainkan dan adik kelas yang menggantikan kalian lebih memilih bermain dengan gitar elektrik yang lebih cocok untuk gaya bermain mereka, jadi aku berpikir untuk menyerahkan gitar itu padamu saja" jelas Iruka-sensei.
"S-sokka, terima kasih banyak, Iruka-sensei!"
"Sudah, tidak perlu berterima kasih, sekarang cepat ambil gitarnya dan cepat pulang sebelum hari semakin larut
"Ha'i!"
Sesuai dengan perintah Iruka-sensei, Naruto kemudian segera mengambil gitarnya dan berjalan menuju gerbang sekolah bersama Kurumi
CHANGE SCENE
Hari sudah semakin sore, jam menunjukan pukul 16:30. Didepan gerbang sekolah, terlihat dua orang pelajar yang berjalan menuju gerbang.
Yang pertama adalah Tokisaki Kurumi, gadis berambut hitam yang dikepang dua dan memiliki poni yang menutupi mata kirinya. Serta memiliki kulit putih mulus dan mata merah yang seperti berlian
Dan yang satunya lagi adalah Uzumaki Naruto, pemuda bersurai pirang dengan jambang yang dibiarkan memanjang, matanya berwarna biru sebiru batu safir. Dan juga tiga tanda wisker di kedua sisi pipinya membuat keunikan tersendiri pada wajahnya.
"Ano, Uzumaki-kun, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hm? Soal apa?"
"... apa, tanda wisker di wajahmu itu asli?"
"Tentu saja ini asli" jawab Naruto "Memangnya kenapa kau bertanya begitu?"
"Soalnya, untuk beberapa saat sebelumnya aku kira kalau itu Cuma make up saja"
"Ahahaha, jadi begitu rupanya ... yah, beberapa orang yang bertemu denganku kebanyakn mengira kalau tanda di wajahku ini adalah hasil make up, padahal ini asli tanda lahirku"
Mendengar ucapan barusan, Kurumi sepertinya sedikit malu karena salah mengira bahwa tanda diwajah Naruto adalah make up.
Di satu sisi, Naruto kemudian bertanya.
"Ngomong-ngomong, Tokisaki-san, rumahmu dimana? Apa perlu aku antar?"
"Ti-tidak usah repot-repot kok, aku bisa pulang sendiri, lagi pula rumahku juga hanya berjarak dua blok dari sini"
"Oh, jadi begitu ya"
Setelah beberapa obrolan pendek, mereka berdua pun akhirnya sampai di depan gerbang sekolah.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan" ucap Naruto
"Um, kau juga, Uzumaki-kun"
Setelah itu, Naruto kemudian membalikkan badannya dan berjalan pulang menuju kerumahnya sendiri. Sementara Kurumi terus memandangi Naruto sampai dia menghilang dari pandangannya. Kurumi terus menatap datar kearah Naruto pergi tadi. Sebelum dia membalikan badannya dan berjalan menuju kerumah
"Uzumaki Naruto, kuharap kita masih bisa bertemu setelah lulus nanti"
Kurumi pun berjalan pulangnya sendiri.
