Ketika Kyouka membuka mata, semua yang ada di depannya sudah berbeda.
Bukan Taman Yamashita tempat ia dan Nakajima Atsushi bertarung melawan seorang pengguna kemampuan khusus, bukan juga pemuda berhelai putih yang biasanya selalu bersamanya, melainkan sebuah pemukiman asing yang nampak kosong. Ada pula kata-kata yang ditulis dengan huruf kanji, melayang-layang ke atas langit. Dahinya mengernyit.
Ini pasti ulah lawan mereka sebelumnya.
Kyouka masih berdiri—posisinya ketika membuka mata sama seperti sebelum ia berkedip gara-gara debu sang lawan bertiup ke arahnya. Tangannya menggenggam belati miliknya, berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
"Semua, hati-hati!"
Kyouka menoleh ketika teriakan tersebut terdengar dari belakang. Dari arah yang sama turut terdengar suara busur yang melesatkan anak panah, letupan senjata api, juga tebasan besi pada sesuatu yang kasar. Kyouka memilih untuk mendekat.
Di tengah-tengah tanah lapang di balik salah satu rumah, terlihat 4 orang dewasa bertarung dengan senjata masing-masing, melawan monster hitam mirip domba yang ukurannya kecil-kecil, namun jumlahnya banyak sekali.
Kyouka mengerjapkan matanya.
Suara dua pedang yang saling beradu mendadak terdengar dari belakang. Kyouka sontak menoleh. Yasha Shirayuki entah sejak kapan sudah berada di belakangnya, melindunginya dari tebasan pedang sosok monster aneh yang tubuhnya jangkung.
"Yasha Shirayuki!"
Dengan gerakan cepat, Yasha Shirayuki menebas monster tersebut, membuatnya lenyap dan menjatuhkan permata biru. Sosok arwah berpedang yang menjadi penjaga Kyouka belum menghilang, seolah sedang memastikan setelah ini gadis itu akan baik-baik saja.
Tatapan Kyouka berubah waspada. Mengingat apa yang terjadi padanya barusan, pasti ada banyak monster sejenis itu di sekitar sini. Ia masih menggenggam belatinya dengan erat, hingga ...
"Eh, ada orang?"
Suara asing dari belakang membuat Kyouka sontak menoleh. Kewaspadaannya membuat Yasha Shirayuki bergerak maju ke depan Kyouka dan menodong sang pemilik suara dengan pedangnya.
"U-uwah?!"
"Tunggu, Yasha Shirayuki," Kyouka menghalaunya. Pemilik suara tadi—seorang pemuda berhoddie merah dengan wajah secerah matahari—masih menodong pistolnya, refleks gara-gara ditodong pedang.
"Takuboku!"
"Hoi, kalian, coba ke sini!"
Tiga pemuda yang lainnya turut mendekat. Yasha Shirayuki menurunkan pedangnya ketika Kyouka berkata tidak apa-apa, begitu juga dengan si pemuda berhoddie merah ketika kawan-kawannya datang.
"... Manusia?" Pria berhelai cokelat yang membawa cambuk mengerjapkan matanya.
"Wih, anak-anak!" Pemuda berkepang di dekatnya mendekati Kyouka dengan wajah ceria. "Siapa namamu, hmm?"
"Odasaku-san, tunggu-" Kala mata si helai hitam yang membawa busur bertemu dengan sepasang iris langit malam milik Kyouka, mulutnya mendadak bungkam. "Izumi ... Kyouka?"
Mereka bertemu lagi.
~o~
Take Her Back
[#bunalember2020 day 16: crossover]
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango
[note: satu timeline dengan tiga dari sekian chapter fic 31 Hari di Bulan Oktober]
Happy reading!
~o~
"Kau mengenalnya, Shuusei-san?"
"Kok bisa?"
"Kok namanya mirip sama namanya Kyouka-san?"
Sekembalinya dari buku Konjiki Yasha milik Ozaki Kouyou, Shuusei langsung diburui pertanyaan oleh rekan-rekan satu timnya dalam ruang transmisi. Agak bingung juga bagaimana harus menjelaskannya, karena ia sendiri juga tidak paham dengan apa yang sekarang terjadi.
Di dekat mereka, Kyouka berdiri sambil memerhatikan pembicaraan empat pemuda itu. Ada seekor kucing berbulu cokelat di dekat mereka—entah sejak kapan, namun ketika Kyouka ingin bicara perihal kucing itu, si kucing menyuruhnya diam.
"Sudah selesai bertanyanya?"
"Eh, Neko?!" Ini Ishikawa Takuboku dan Oda Sakunosuke yang berteriak. Kikuchi Kan dan Tokuda Shuusei tetap tenang meski sejujurnya juga terkejut.
"Lagian Shuusei-san juga nggak ngejelasin apa-apa, padahal kayaknya dia kenal sama anak ini." Odasaku menunjuk Kyouka. "Etto ... Izumi-chan, ya?"
Kyouka tidak membalas dengan lisan—hanya mengangguk. Binar waspada ketika berada dalam buku milik Ozaki Kouyou lenyap setelah ia melihat Shuusei.
Shuusei menghela napas. Akan panjang ceritanya kalau ia bilang ia pernah bertemu Kyouka, makanya ia diam saja. Lagipula ia tahu gadis kecil yang sekarang bersama mereka ini betulan manusia, bukan taint apalagi manusia setengah arwah seperti kebanyakan penghuni perpustakaan.
"Aku tidak peduli kalau semisal salah satu dari kalian punya hubungan dengan anak ini, sebenarnya." Si Neko menginterupsi. Tatapan matanya beralih pada Kyouka. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kau bisa tiba-tiba berada di sana."
Kyouka mengerjap-ngerjap.
"Aku rasa ... gara-gara lawan kami sebelumnya."
"Lawan?"
"Kami?" Odasaku ikutan bertanya ketika Neko membeo.
Kyouka menceritakan apa yang ia lewati dengan Atsushi sebelumnya. Tentang pertarungan di Taman Yamashita, tentang lawan mereka yang kemampuannya ternyata di luar dugaan, hingga ia yang tiba-tiba berpindah tempat. Sejujurnya Kyouka takut orang-orang di depannya ini bakalan tidak percaya. Namun, melihat mereka ternyata hanya mangut-mangut saja, ia jadi agak lega.
"Taman Yamashita ... Yokohama?" gumam Kikuchi. Ia menatap Kyouka. "Nak, kamu dari Yokohama?"
Kyouka mengangguk.
"Agak jauh dari sini ..." Odasaku ikut menggumam. "Udah siang. Izumi-chan udah makan siang?"
Kali ini gadis itu menggeleng.
"Yosha, ayo makan dulu!" Odasaku langsung mengamit lengan Kyouka dan merangkulnya seolah mereka teman lama. "Menunya hari ini enak, lho! Nanti habis makan, Shuusei-san yang anterin kamu pulang!"
Shuusei tersentak, sontak menunjuk dirinya sendiri. "Aku?!"
"Shuusei-san dan Izumi-chan saling kenal, kan? Jadi Shuusei-san saja yang antar," ujar Odasaku ringan. "Dia masih kecil nih, kalo nyasar bahaya."
"Aku setuju." Kikuchi menyahut. Takuboku dan Neko mengangguk, mengiyakan dari belakang tanpa kata.
"..." Shuusei terdiam. Tak lama, ia menghela napas. "Iya, deh ..."
~o~
Stasiun siang itu tidak terlalu ramai.
Sehabis makan siang, Shuusei langsung membawa Kyouka ke stasiun terdekat. Niatnya hanya mengantarnya pulang—paling-paling sampai di depan tempat ia tinggal, kalau perlu sampai gadis yang sekarang bersamanya ini bertemu dengan orang yang dikenalnya. Tiket sudah di tangan, keduanya memilih duduk di salah satu kursi tunggu sembari menunggu kereta yang akan membawa mereka menuju Yokohama datang.
Ada kios penjual jajanan manis di dekat mereka duduk. Ketika Shuusei melirik Kyouka, ia mendapati gadis itu—yang mana, meski tatapannya masih datar—memerhatikan kios tersebut.
"Hei."
Kyouka menoleh ketika Shuusei menegurnya.
"Kau mau?" Pertanyaan dari si pemuda membuat kedua iris sebiru malam itu sedikit berbinar. Anggukan diberikan, dan Shuusei tersenyum tipis. "Baik, kau ingin apa?"
"Crepes."
"Tunggu di sini kalau begitu."
Shuusei tidak masalah untuk mentraktir gadis di sebelahnya ini satu atau dua jajanan—lagian ini bakal lama, Yokohama tidak sedekat yang dipikirkan, soalnya. Lima belas menit setelah pergi, pemuda itu kembali dengan satu buah crepes di tangan. Ia memberikannya pada Kyouka yang menerima dengan raut antusias.
Atsushi di Agensi selalu mengajarkan Kyouka untuk mengucapkan terima kasih apabila seseorang melakukan hal baik padanya. Maka gadis itu menoleh pada Shuusei yang sudah kembali terfokus pada peron di depan mereka, lalu menarik lengan pakaiannya sedikit.
"Ng?"
"Terima kasih ..." Kyouka mengucapkan itu dengan pelan. Shuusei mengerjap. Tak lama, pemuda itu kembali menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ya."
Kereta tujuan Yokohama datang. Shuusei mengajak Kyouka berdiri, kemudian bergabung dengan beberapa orang yang turut masuk ke dalam gerbongnya.
~o~
Ponsel yang terkalung di leher Kyouka berdering beberapa menit setelah kereta melaju.
Kyouka melirik, lantas mengambil ponselnya. Nama 'Atsushi' tertera dalam ID callernya. Sejenak, Kyouka melirik Shuusei, lalu menghentikan dering ponselnya seraya mendekatkan ke telinga.
"Halo?"
"AH! KYOUKA-CHAN! AKHIRNYA! Aku meneleponmu berkali-kali dan akhirnya kamu mengangkatnya ..."
"Berkali-kali?" Kyouka mengerutkan dahi. Rasanya baru sekarang ia menerima panggilan, sementara ponselnya tidak pernah ia letakan dalam mode silent.
"Ah, lupakan." Nada Nakajima Atsushi di seberang sana kedengaran lega sekali. "Kamu di mana, Kyouka-chan? Akan kujemput sekarang!"
"Di kereta," jawab Kyouka pelan. "Aku dengan Tokuda-san—dia mengantarku."
"Tokuda-san?"
"Yang di perpustakaan kemarin. Ingat, kan?"
"... EH?!"
"Ng?"
"... B-beritahu aku kalau kamu sudah sampai, oke? Akan kutunggu di stasiun ..."
"Uhm."
Setelahnya, telepon ditutup.
Tak lupa Kyouka mengecek log panggilannya untuk memastikan bahwa Atsushi tidak berbohong sebelumnya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati belasan panggilan tak terjawab, semuanya dari Atsushi.
"... Bagaimana ..."
Shuusei melirik. "Izumi-san?"
Kyouka menoleh.
"Kau kenapa?"
"... Tidak ada."
Shuusei mengerjap. Merasa bingung, namun ia mangut-mangut saja.
Masih ada sekitar tiga jam sebelum mereka sampai ke Yokohama. Shuusei yakin ia akan sampai di kota itu begitu hari sudah sore, lantas sampai di perpustakaan begitu matahari mulai terbenam. Ia sudah biasa pulang malam kalau diajak Kouyou menemaninya berbelanja dengan Kyouka, jadinya ia tidak begitu mempermasalahkannya.
"Tokuda-san."
Yang merasa punya nama menoleh begitu dipanggil. "Ya?"
"Di perpustakaan tadi ... aku masih bingung." Ucapan Kyouka terdengar nyaris seperti gumaman. Butuh beberapa waktu untuk Shuusei buat mengerti apa maksudnya, hingga akhirnya ia paham.
"Soal namamu yang mirip dengan kenalanku?"
"Semuanya."
Di aula makan perpustakaan tadi memang rasanya heboh sekali. Selain karena mereka mendapati tamu asing yang merupakan seorang perempuan—Tayama Katai sampai heboh sendiri, gara-gara sudah lama tidak melihat perempuan kalau tidak keluar perpustakaan—namanya juga sama persis dengan salah seorang dari murid Ozaki Kouyou. Namun pertanyaan dalam benak Kyouka lebih dari semua itu. Bukan sekadar nama penghuninya yang mirip dengan beberapa rekannya di Agensi ataupun orang-orang dari Port Mafia. Dimensi asing, monster hitam yang bisa menyerang, ruang transmisi, kucing yang bisa bicara, semuanya.
"Kau—kalian, sebenarnya siapa?"
Pertanyaan Kyouka lamat-lamat membuat gerbong terasa hening. Tidak—orang-orang yang satu gerbong dengan mereka masih mengobrol seperti biasa. Namun Shuusei merasa semuanya jadi sunyi. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
"Tokuda-san?"
Kesadaran Shuusei kembali ditarik dari lamunan.
Kyouka masih menunggunya. Shuusei diam sejenak. Agak lama, sebelum ia mengembuskan napas.
"Izumi-san, percayakah kau kalau kubilang kami melindungi literatur?"
"Literatur?"
Shuusei menceritakan apa yang mereka lakukan sehari-hari di perpustakaan. Tentang buku-buku yang dirasuki oleh noda, tentang mereka yang masuk ke dalam buku demi melindungi literatur dari kehancuran, bahkan tentang kucing menyebalkan tanpa nama yang biasanya bertugas menyampaikan pesan sekaligus mengawasi mereka. Satu-satunya yang tidak Shuusei ceritakan adalah, mereka sebetulnya sudah pernah mati, dan yang mereka sebagian besarnya adalah karya mereka. Shuusei tidak mengakui bahwa ia adalah seorang penulis.
"Jadi ... monster hitam itu, mereka yang jadi lawan kalian?" Sepertinya yang mereka hadapi berbeda dengan apa yang biasa Kyouka dan yang lainnya hadapi di Yokohama. Shuusei mengangguk sebagai jawaban.
"Begitulah."
Kyouka mangut-mangut.
"Kalau begitu, boleh aku balas bertanya?" Anggukan diberikan sebagai jawaban. Kyouka menanti apa saja yang akan Shuusei tanyakan padanya.
"Kemampuanmu ... Yasha Shirayuki, kan?" Shuusei pernah dengar ini dari Atsushi, pada pertemuan mereka di perpustakaan sebelumnya.
Kyouka mengangguk. "Ya?"
"Benar ternyata." Iris hitamnya melirik jendela. "Aku selalu teringat temanku tiap mengingat itu."
"Itu ... Izumi-san?" Yang Kyouka maksud adalah rekan Shuusei. Yang balas ditanyai hanya mengangguk.
"Dia itu menyebalkan," kekeh Shuusei kecil. "Ketika pertama kali tahu namamu dan dia sama persis, kukira sifat kalian sama—nyatanya tidak, meski kalian berdua sama-sama suka kelinci. Jujur saja aku bersyukur sekali, soalnya kau nggak menyebalkan seperti dia."
Omong-omong Shuusei mengetahui Kyouka menyukai kelinci dari gantungan ponsel yang dibawa Kyouka. Gantungan boneka kelinci yang membuat mata Izumi rekannya sempat berbinar karena menemukan teman sesama penyuka kelinci, kala di aula makan tadi. Bahkan Izumi menanyai alamat gadis itu supaya mereka bisa saling berkirim surat—atau jalan-jalan bareng, kalau Izumi ada waktu buat pergi ke luar.
Kyouka mangut-mangut. Berikutnya hanya ada obrolan kecil di antara mereka guna membunuh waktu. Tentang kehidupan masing-masing, teman, semuanya.
~o~
Akhirnya kereta berhenti di peron stasiun kota Yokohama.
Shuusei melirik Kyouka. Gadis 14 tahun itu tertidur di bahunya sekitar setengah jam sebelum mereka sampai. Dengan lembut Shuusei mengguncang bahu gadis di sebelahnya.
"Izumi-san, kita sudah sampai."
Kedua mata Kyouka lamat-lamat terbuka. Kyouka menegakkan posisinya. Ah, benar, sudah di Yokohama rupanya. Langit di luar nyaris menjadi jingga.
"Ayo."
Kyouka turut beranjak kala Shuusei berdiri. Keduanya keluar dari gerbong dengan orang-orang yang sama pula. Mata Kyouka mencari-cari Atsushi yang katanya akan menjemputnya.
"Kyouka-chan!"
Dan tepat sekali, ada yang memanggilnya. Kyouka menoleh. Nakajima Atsushi dari arah timur berlari seraya melambai ke arahnya.
"Kyouka-chan!" Atsushi langsung berlutut sambil memegangi kedua pundak Kyouka begitu ia sampai. Dari ujung kepala hingga ujung kaki ia perhatikan gadis itu. "Kamu baik-baik saja, kan? Ada yang terluka?"
"Aku baik-baik saja, kok." Kyouka menggeleng guna menjawab pertanyaan terakhir. Ia menoleh pada Shuusei. "Tokuda-san yang mengantarku sampai sini."
"Ah?" Seolah melupakan apa yang ia lihat beberapa minggu lalu, Atsushi berdiri, kemudian membungkuk 90 derajat di hadapan si helai hitam. "Terima kasih sudah menjaga Kyouka-chan, Tokuda-san!"
"B-bukan masalah ..." Shuusei mengangguk pelan. Atsushi masih menatapnya.
"Mau makan malam di tempat kami? Sebagai ucapan terima kasih," tawar pemuda berhelai keperakan itu pada Shuusei.
Shuusei menggeleng kecil. "Aku harus cepat kembali, maaf," tolaknya halus.
"Oh ..." Atsushi mangut-mangut. Tak lama, ia tersenyum. "Kalau begitu hati-hati, Tokuda-san!"
"Iya."
Keduanya—Kyouka hanya memerhatikan—terlibat obrolan kecil setelah Shuusei membeli tiket baru buat pulang. Hingga kereta yang akan membawa Shuusei kembali datang, mereka berpisah di sana.
"Hati-hati! Titip salam buat yang lain!"
"Kalian juga." Shuusei mengangguk dan tersenyum, sebelum masuk ke dalam gerbong.
Gerbong ditutup, kereta mulai melaju yang berarti mereka berpisah lagi. Entah kapan Shuusei bisa bertemu dengan mereka berdua lagi, entahlah, ia tidak tahu.
-end-
Sejujurnya aku ga nyangka ini bisa nyampe 2k lebih (udah nyangka bakalan panjang berhubung idenya kayak gini, tapi ga nyangka bisa dapet 2k :'D)
Btw soal tim di awal-awal itu (kalo ada yg inget), itu tim yang sering kupake kalo main :') (Odasaku leadernya, anggotanya Shuusei, Takuboku, sama Kikuchi. Terbentuk gegara mau ngalahin taint di buku entah punya siapa, yg minta tiap kudu ada masing-masing satu pengguna tiap senjata dalam timnya.)
Aku ga janji selanjut-selanjutnya bakalan panjang juga (jangankan itu, nyampe 1k aja aku ga yakin :'D). Jadi ... ya gitu.
