Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot drabble.
.
.
Manual menghadapi Bokuto
by Fei Mei
.
.
Akaashi menatap para kakak kelasnya ditambah Pelatih dengan agak bingung. Ia paham apa yang mereka cemaskan, tapi tidakkah ini berlebihan?
"Saya hanya akan pergi selama sepuluh hari," ujar Akaashi dengan maksud menenangkan.
Sarukui menggeleng. "Itu bukan 'hanya'. Bahkan kalau kau meninggalkan kami sehari saja, itu juga bukan 'hanya'."
"Aduuuh, kalian ini manja banget, Akaashi cuman bakal enggak di Tokyo selama semingguan, lho!" sahut Bokuto, satu-satunya orang di gym yang tampak tidak cemas.
JUSTRU KAMI CEMAS KARENA AKAASHI AKAN PERGI MENINGGALKANMU PADA KAMI!
Pelatih tim voli putra SMA Fukurodani pun menghela. Ia tidak berhak melarang Akaashi pergi karena memang Setter-nya ini layak mendapat kesempatan untuk pergi selama sepuluh hari, tapi tetap saja … aduhhh.
"Erm, apa memang sebaiknya saya minta tukar dengan murid lain saja?" tanya Akaashi ragu pada Pelatih Yamiji.
"Tidak, jangan." Si Pelatih menggeleng. "Kamu layak mendapat kesempatan untuk ikut program itu. Tidak apa, pergilah."
Program yang menjadi permasalahan ini adalah kegiatan yang dibuka oleh salah satu universitas terkemuka di Jepang dimana mereka akan mengundang beberapa murid teladan kelas 2 SMA di penjuru negeri untuk diberi pengalaman menjadi mahasiswa disana. Akaashi yang menjadi Setter utama timnya, serta menjadi wakil kapten padahal masih ada anggota reguler lain yang merupakan anak kelas tiga, ternyata masih mampu memiliki nilai yang baik dalam setiap pelajaran. Jelaslah wajar jika Akaashi Keiji diundang untuk mengikuti kegiatan ini.
Tetapi, sekali lagi, sepuluh hari, lho. Hanya seminggu lebih, tidak sampai dua minggu. Tapi tetap saja … MANA MAMPU MEREKA MELEWATKAN SEPULUH HARI DENGAN BOKUTO TANPA ADANYA AKAASHI!?
Konoha mencengkeram pundak Akaashi. Karena ia tidak mau terlalu menyakiti si Setter dengan tangannya, ia pun mencoba menatap serius adik kelasnya itu. "Akaashi, kamu paham, kan, apa yang membuat kami cemas kalau kamu pergi?"
Dengan ragu, Akaashi mengangguk. Ia sadar bahwa selama ini sejak dia datang, dirinyalah yang paling tahu trik untuk mengurus bayi besar bernama Bokuto Kotaro.
Washio merampas pundak Akaashi dari Konoha, tidak mau kalah. "Kalau kamu pergi selama sepuluh hari, kami tidak yakin dia akan dalam kondisi baik ketika kau kembali."
Ikutan, sekarang giliran Komi. "Kami mohon dengan sangat, Yang Mulia Akaashi, bimbingan anda, tolong."
Akaashi sweatdrop parah. Ia melepaskan diri dari para kakak kelasnya sejenak untuk mengambil sesuatu dalam tasnya sebelum kembali lagi pada mereka. Konoha, Sarukui, Washio, Komi, dan bahkan Pelatih Yamiji serta kedua manager mereka dibuat kaget dengan apa yang Setter mereka perlihatkan.
Adalah buku tulis biasa sebenarnya, tetapi di sampul depan tertulis label dengan tulisan 'BUKU MANUAL MENGHADAPI BOKUTO-SAN' dengan huruf kapital semua. Dengan segera Konoha meraih buku itu, mulai membolak-balik dari halaman pertama dengan cepat.
"A-Akaashi …" Suzumeda sang manager tampak takjub. "Kamu hebat banget."
"Kupikir, suatu saat itu akan berguna," tutur Akaashi. "Awalnya aku hanya berusaha untuk mengingat hal penting tentang Bokuto-san, tapi semakin lama jadi makin banyak sehingga kupikir aku harus mencatatnya agar tidak lupa."
Pelatih mereka menepuk bahunya dengan semangat dan bangga. "Bagus, bagus!"
"Oh, oh, lihat ini, kelemahan Bokuto nomor duabelas, 'harus dijawab sesuai keinginan hatinya'. Bayi banget," ujar Komi.
"Kalau enggak gitu, langsung emo mode, kan?" tanya Washio. "Justru yang lebih kita khawatirin itu ketika dia masuk emo mode, bukan masalah kelemahannya."
Akaashi mengangguk. "Itu ada di bab selanjutnya."
Buru-buru Sarukui mencari bab berikutnya. "Oh, lihat, ini dia! 'Jurus pemungkas menghadapi emo mode Bokuto-san'! Hmm, yang pertama, 'turuti saja, seaneh apa pun'. Yaelah, bayi bener."
"Terus, 'ingatkan pencapaian yang sebelumnya dengan nada serius dan tanpa mengucapkan kata negatif', aku gak yakin bisa melakukan ini tanpa sambil menghajar kepalanya," dengus Konoha.
"Ampun, di bab selanjutnya ada daftar makanan dan minuman untuk menaklukan Bokuto!?" Komi takjub luar biasa.
Akaashi mengangguk. "Aku sudah menulis selengkap yang aku bisa disana."
Shirofuku membalas anggukan itu. "Dengan begini, kami bisa melepasmu lebih tenang."
Pelatih Yamiji setuju. "Setidaknya kami jadi punya panduan, terimakasih."
"Kami tidak yakin bisa melakukannya sebaik dirimu, tapi kami akan berjuang agar ketika kau kembali nanti Bokuto masih dalam kondisi yang sama seperti saat kau pergi," sahut Washio.
…
…
Nah lho, sekarang malah Akaashi yang mencemaskan bayinya.
.
.
Selesai
.
.
A/N: Jadi Fei kelihat dialog tentang Bokuto yang melulu kangen Akaashi padahal cuman ditinggal sebentar untuk pergi belanja. Awalnya Fei mau bikin versi narasi, cuman kok jadi niru banget. Lalu Fei pikir mungkin bisa bikin versi Akaashi yang ninggalin Bokuto, jadi kayak kebalikannya. Tapi mikir lagi kok rasanya Akaashi bakal OOC, makanya Fei jadi bikinnya kayak gini.
Review?
