"Kami membutuhkan keturunan segera darimu Sasuke!"

Ayah berteriak. Aku benci permasalahan ini. Saat dimana kedua orang tua suamiku menuntut keturunan dari kami. Tiga tahun kami menikah dan belum ada seorang anak pun yang hadir diantara kami.

Aku menundukan kepala dalam-dalam. Ibu mertua merangkulku, berusaha menenangkan. Tapi itu tidak berpengaruh apa-apa. Suamiku, Uchiha Sasuke juga terdiam. Mendengarkan ayah yang terus berteriak.

"Kukatakan padamu untuk tidak menikahinya! Tapi kau tetap keras kepala, dan sekarang lihat, dirinya belum memberikan seorang anak!" Ayah berteriak di depan Sasuke. Ia menunjukku. Dia menuntutku.

"Ini bukan salah Sakura, ayah!" Sasuke tiba-tiba berdiri dan berteriak. Membuatku dan ibu tersentak. Tidak menyangka bahwa Sasuke akan berkata keras pada ayah, karena aku. Ya, karena diriku.

"Sasuke-kun ..."

Suara lirihku membuatnya menoleh. Disaat seperti ini, tidak seharusnya ia emosi seperti itu. Sasuke diam, ia hanya memberikan tatapan menenangkan padaku. Tahu bahwa aku juga saat ini terguncang.

"Lalu apa? Tiga tahun kalian menikah. Tiga tahun, Sasuke! Kita membutuhkan seorang pewaris. Hanya kau satu-satunya harapan kami dan sampai sekarang tidak ada hasilnya. Sudah kubilang berkali-kali padamu untuk menikahi putri Hyuuga, tapi kau justru menikah dengannya."

"Ya, dan sudah berkali-kali juga aku bilang padamu bahwa aku-tidak-akan-pernah-menikahi-wanita-itu," Sasuke membalas dengan penuh penekanan disetiap katanya. Mendengar itu membuat ayah semakin murka.

"Memangnya apa yang kau dapat dari perempuan mandul itu, huh?"

Ayah, itu menyakitiku.

Sasuke tersentak mendengarnya. Kulihat ia menundukan kepala dalam, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Sasuke mengangkat kepalanya, menatap ayah dengan tatapan tajam. Ia marah, aku tahu. Dan amarah itu muncul karenaku.

"Keterlaluan," desis Sasuke. Ia berbalik menatapku kemudian menarik tanganku. Melepasku dari rangkulan ibu.

Sasuke menarikku pergi. Menjauhi rumah besar itu. Membiarkan teriakan ayah yang memanggil kami berdua. Lengannya memegang pergelangan tanganku kencang. Ini sedikit menyakitkan.

Kami mengendarai mobil menuju rumah. Aku menangis setelah sekitar lima menit berkendara. "Hei, tenanglah, sayang. Ini bukan salahmu," Suamiku tahu bahwa aku menangis karena hal itu. Ia menepikan mobil kami kemudian menangkup kedua pipiku. Menghapus air mata yang terus mengalir. "Shh, berhenti menangis. Kau terlihat jelek jika menangis," ia tersenyum menenangkan. Aku tahu dirinya. Sasuke yang kucintai.

Aku membalas senyum lembut itu. Ia memelukku. Memberikan usapan menenangkan sementara tangisku mulai berhenti. Hanya sengukkan kecil dan hembusan nafas yang bergetar.

"Maafkan aku," lirihku.

"Tidak-tidak! Ini bukan salahmu, Sakura," dapat kurasakan Sasuke menggeleng di leherku. Lengannya masih terus mengusap punggungku. Nafas hangatnya berhembus tepat dileher.

Aku tersenyum, meski aku tahu bahwa Sasuke tidak melihatnya.

Lima menit kami terus dalam posisi ini dan akhirnya pelukan itu terlepas, "Aku tidak pedulu apa pun yang akan terjadi. Istriku hanya dirimu, Sakura. Hanya kau," ia menggenggam tanganku erat. Aku tersenyum, "Ya, aku tahu itu."

Kami sampai di rumah dua puluh menit kemudian. Rasa kantuk menghampiriku karena menangis tadi. Karena sekarang juga baru pukul dua belas, jadi kuputuskan untuk segera pergi ke kamar.

"Kau akan langsung ke kantor, Sasuke-kun?" tanyaku saat melihat suamiku sudah membawa beberapa pekerjaannya. Ia menghampiriku dan mengecup kening ini. "Ya, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."

Aku mengangguk, "Baiklah."

Ia pun ikut mengangguk, aku mengantarnya hingga pintu depan dan Sasuke kembali mengecup keningku, "Berhati-hatilah, sayang."

Ia tersenyum. "Tentu," kemudian pergi menuju mobilnya.

Aku melambaikan tanganku setelah klakson mobilnya berbunyi dua kali. Memutuskan untuk tidur saja. Asisten rumah tanggaku—Emi—mungkin sedang berbelanja membeli kebutuhan dapur. Gadis, kupanggil begitu karena umurnya juga masih muda, sembilan belas tahun. Ia datang sebagai asisten rumah tangga disini tepat di hari pernikahanku.

.

.

.

tbc.