"Hei, ajari aku ciuman."

Jyuto nyaris menjatuhkan sebatang rokok yang terapit di belah bibirnya. Ia menoleh ke kiri. Lalu, ke kanan. Lalu, kembali pada Jiro di hadapannya. Kemudian, tangan Jyuto terangkat menunjuk dirinya, dengan raut muka yang seolah memastikan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

"Tentu saja kau. Memangnya ada siapa lagi di sini selain kita berdua?"

Jyuto berkedip tiga kali. Kemudian, spontan menarik batang rokok dari mulut serta menginjaknya ke tanah dan dengan langkah lebar berjalan lurus ke arah Jiro yang terperanjat dengan gerak cepat si polisi.

Tembok di belakang Jiro menghentikan langkah mundurnya. Telapak tangannya terbuka di depan dada menjadi bentuk pertahanan diri. Dalam sekejab mata jarak di antara mereka semakin menipis, nyaris tiada. Jyuto menghentikan langkah ketika dada mereka telah berhimpitan dan menempatkan tangannya di samping kepala Jiro pada tembok.

"Serius, nih?"

"Tung– umm–" Mulut Jiro bergerak-gerak namun tak ada kalimat jelas yang keluar.

"Aku mulai, ya?"

Manik heterokrom Jiro melebar dan berkilat panik seiring Jyuto semakin mengeksekusi jarak wajah mereka.

"Tunggu dulu!"

Telapak tangan Jiro terangkat di antara kepala mereka, menghentikan dan mendorong wajah Jyuto. Sedang Jyuto, setelah menarik kepala dan membetulkan posisi kacamata, hanya menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan sambil mempertahankan senyumnya meski sebuah urat mencuat di pelipisnya.

"Iya, kenapa?"

"Ja-jangan di sini."

"Apa maksudmu jangan di sini?"

"Ini tempat publik, bodoh."

"Tapi, aku tak melihat siapapun di sini selain kau."

Jiro menoleh ke kanan. Lalu, ke kiri. Hanya ada keheningan dan selembar karton yang terbang tertiup angin.

"Jiro, bukankah kau sengaja memilih tempat ini?"

"A-apa maksudmu?"

"Kau pikir aku tidak tahu? Ketika kau membuntutiku, kemudian memilih menampakkan diri ketika aku berbelok di gang sepi ini."

"Jadi, kau sengaja membawaku kemari?!"

"Kau yang membuatku melakukan itu."

"Jika sudah tahu, kenapa tidak bilang dari tadi?!"

"Kau harus lihat betapa lucunya dirimu mengendap-endap di belakangku."

"Ha?! Apa maksudmu?!"

Jyuto membawa sebelah tangannya yang terkepal ke depan mulut untuk mengeluarkan satu deheman.

"Tadinya, kupikir si anjing penjaga Bukuro ini akan menantangku battle rap. Makanya, kubawa diriku kemari karena aku tidak ingin menimbulkan keributan di depan umum karena Yamada Jiro yang kukenal itu sangat berisik. Tapi, lihat. Dia bukannya mengajukan tantangan, malah mengajukan minta diajari ciuman."

"Argh... Diam!"

Jiro menahan tangannya untuk tidak melayangkan tinju ke wajah yang sedang tersenyum menyeringai itu. Ia bisa merasakan wajahnya yang memanas.

"Baiklah. Satu pertanyaan serius."

Perubahan raut yang mendadak oleh Jyuto merenggangkan tangan Jiro yang terkepal menahan emosi. Sebelah alis Jiro terangkat, membuat mimik yang jelas menyiratkan kata tanya.

"Di antara banyaknya orang, warga Ikebukuro minimal, kenapa aku yang dipilih?"

Jiro tercekat. Lupa mencari jawaban jika ditanya demikian.

"Emm– itu–"

Seringai Jyuto kembali terbit. Jiro meringis dalam hati.

"Ja-jadi kau mau mengajariku atau tidak?"

Sebelah tangan Jyuto kembali di bawa ke samping kepala Jiro, menekan tembok.

"Jika aku menolak, aku tak akan berdiri sedekat ini."

"O-oke..."

Jyuto tertawa kecil. "Jadi, apa lagi yang kau tunggu?"

"..."

"..."

"... T-tolong pelan-pelan."

Kedua alis Jyuto terangkat tinggi. "Memangnya kau perawan yang hendak minta disetubuhi?"

"Berisik!"

"Oh, astaga," Jyuto memejamkan mata. Kemudian menunduk dalam, menyembunyikan ekspresinya. Dan ia mendongak kembali. "Baiklah, satu pertanyaan lagi."

"Apa itu?"

"Kenapa tidak memintanya pada teman perempuanmu? Aku yakin kau anak yang populer di sekolah."

Jiro menyeret tatapannya pergi dari mata zamrud Jyuto. Memandang ke balik bahu bersetelan gelap, terus bergerak ke balik lengan si polisi. Kemudian, membawa bola mata hijau-kuningnya kembali pada sepasang hijau di balik bingkai kacamata.

"Aku tak tertarik pada perempuan."

Bola mata Jyuto sedikit melebar. "Maksudmu kau tertarik padaku?"

Jiro hanya mengeluarkan erangan tertahan. Kemudian, memutuskan tatapan mereka lagi dan melengos.

Jyuto membawa bola mata beda warna itu kembali pada tatapannya dengan melepas topi yang bertengger di kepala si tengah Yamada. Topi di tangan dijatuhkan begitu saja di samping kaki mereka tanpa melepas kontak mata. Dan Jiro mendapati dirinya kembali diperangkap di antara tembok dengan kedua tangan Jyuto di samping kepalanya.

"Baiklah, jadi... kau ingin diajari berciuman? Ada banyak jenis ciuman yang kuketahui. Beberapa diantaranya bisa kucontohkan secara langsung."

"Dan... beberapa lainnya?"

Jyuto mendengus geli. "Aku hanya berpikir ini bukan tempat yang cocok untuk melakukannya."

"Oke." Jiro manggut-manggut. "Beritahu aku."

Kedua pasang bola mata saling mengunci.

Beberapa detik yang berlalu bagai sehari entah kenapa sama sekali tak mengganggu Jiro. Bola mata hijau beraksen magenta yang perlahan mendekat itu seolah menghipnotisnya, memakunya di tempat dan membuat Jiro tak bisa bergerak. Ketika kelopak mata Jyuto tertutup menyembunyikan permatanya, Jiro merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Jiro bukan penggemar sentuhan yang bukan dari organ tubuhnya sendiri. Tetapi, sesuatu asing yang kini menyalurkan kehangatan dan sedikit aroma tembakau di bibirnya, Jiro tak bisa membencinya. Jiro bisa saja memberikan tekanan pada kedua telapak tangannya untuk mendorong dan menjauhkan benda asing yang menempel di bagian tubuhnya.

Tapi, itu hanya berlaku jika orang tersebut bukan Jyuto.

Jiro turut memejamkam mata, fokus pada sentuhan di bibir dan sekujur tubuhnya. Ia memajukan lehernya tanpa sadar. Reflek tubuhnya meminta lebih. Hingga kemudian lehernya terdorong ke belakang oleh lawannya yang lebih mendominasi, membuat belakang kepalanya terantuk dinding.

"Oke..." Jyuto menarik kepalanya, mencipta jarak di antara sepasang bibir, tanpa memisahkan dua tubuh yang masih berbagi kehangatan. Jyuto biarkan Jiro mengambil nafas di jeda yang ia berikan. "Lingering Kiss. Hanya sentuhan bibir yang berlangsung lama. Ciuman paling mendasar dan paling umum. Aku yakin yang ini kau sudah mengerti."

"Dan aku yakin kau bisa lebih dari ini."

Seringai Jyuto spontan terkembang. "Kau menantangku?"

"Bukankah itu yang kau inginkan? Tunggu, apa namanya tadi?"

"Lingering Kiss."

Jiro melupakan namanya lagi. Ia terlalu sibuk menikmati suara yang melafalkan bahasa asing dengan fasih.

Hingga kemudian Jyuto kembali membuka mulut, meraup bibir yang masih basah di hadapannya.

Jiro biarkan bibirnya dikulum. Ada senyuman yang dapat ia rasakan tersungging dari bibir lawannya. Kemudian, bibir bawah Jiro digigit kecil, dihisap, digigit, dan dihisap lagi. Menciptakan sensasi geli yang membuat alis Jiro sedikit berkedut.

Ketika Jyuto menghentikan hisapannya dan kembali melepas tautan kedua bibir, ada bunyi 'plop' kecil yang dapat Jiro dengar.

"Kau pernah membuat sandwich?" Adalah pertanyaan yang pertama Jyuto lontar setelah ciuman berbumbu hisapan tadi.

Jiro dapat merasakan nafas hangat Jyuto menerpa wajahnya. "Pernah."

"Single Lip Kiss. Seperti membuat sandwich, bibirku adalah roti, dan bibir bawahmu adalah isinya. Kemudian tambahkan hisapan kecil, gigitan juga boleh, untuk menambah sensasi yang menyenangkan."

Satu senyuman kecil dari Jyuto. Yang kemudian masuk dalam daftar hal-hal yang adiktif untuk Jiro. Bukankah itu juga sesuatu yang menyenangkan untuk diamati?

"Sebaiknya hisapannya tidak terlalu kencang atau kau akan membuat bibir lawanmu membengkak."

Pesan tambahan Jyuto membuyarkan lamunan Jiro. Ia mengangguk, sedikit terpatah-patah. "O-oke."

Kali ini, Jyuto tidak langsung menyambung cumbuannya. Polisi itu menangkap sepercik kegugupan dari gerak-gerik Jiro yang tengah menelan ludahnya.

"Merasa tidak sabar dengan selanjutnya?" Jyuto tak tahan untuk tidak menggoda remaja di depannya.

"Ha? Perasaanmu saja."

Selain sebuah senyuman, Jiro yakin tawa kecil yang tengah dibebaskan Jyuto saat ini akan merasuk dalam ingatan bawah sadarnya.

"Yang selanjutnya adalah ciuman paling terkenal. Dianggap jenis ciuman yang paling romantis."

"Sepertinya aku bisa menebaknya."

"Pernah melihatnya?"

"Ya... di film."

"Siap mencobanya secara langsung?"

"Kapanpun."

Ketika kedua pasang bibir kembali bertemu, Jiro mendapati ada jilatan lembut yang merayapi bibirnya. Ia tak mengerti apa yang coba disampaikan Jyuto. Namun, tampaknya tubuh Jiro sendiri sudah memiliki reflek yang bekerja secara alamiah. Mulut Jiro yang masih dikulum si polisi Yokohama itu terbuka sebelum Jiro sadari. Memberikan pintu masuk untuk lidah Jyuto menginvasi.

Jiro mencoba menahan lenguhan yang mendesak untuk keluar dari tenggorokan. Sulit untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Lidah Jyuto di dalam mulutnya, mengeksplorasi, sesekali mengabsen deretan gigi. Daging kenyal itu mengajak lidah Jiro untuk berdansa dengan gerak perlahan, seolah memberi waktu untuk Jiro terbiasa dengannya. Jiro dibuat terlena.

Dengan gerik khas pemula, Jiro mencoba membalas ciuman Jyuto. Ia ikut menggerakkan lidahnya mengikuti irama Jyuto, berdansa, bergulat, hingga tanpa sadar keduanya telah memiringkan kepala dan memperdalam cumbuan.

Pertarungan lidah itu berlangsung entah selama beberapa waktu yang tidak sempat Jiro hitung. Suara decakan menggema memecah keheningan yang memeluk mereka. Jyuto mengakhiri pagutan lidah dan bibir mereka ketika Jiro tengah meneguk ludah entah milik siapa.

Jiro pikir ia akan merindukan ketika bagaimana sebuah benang saliva menggantung menghubungkan bibirnya dengan bibir Jyuto, hingga penghubung itu jatuh tertarik gravitasi dan akhirnya terputus.

Beberapa jeda waktu tak ada yang bersuara. Keduanya masih sibuk mengisi ulang paru-paru dengan udara.

"French Kiss... benar?" terka Jiro.

"Benar." Jyuto membetulkan bingkai kacamatanya yang sedikit bergeser. "Untuk seorang pemula, kau tidak buruk juga."

Entah bagaimana, Jiro merasa bangga. "Hei, aku tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu. Itu... air... seperti benang..."

Jyuto mendengus geli. "Biasanya itu terjadi pada cumbuan yang sangat intens."

Jiro terpaku. Mulutnya membola membentuk huruf 'o' kecil. Bola matanya bergerak-gerak tak tentu arah, salah tingkah.

"Aku tidak sabar melihat perkembangan saat kau sudah menguasainya nanti."

Jiro berkedip beberapa kali. Kemudian meneguk satu ludah untuk menelan kegugupan. "Tergantung seberapa sering kau mau menemaniku berlatih."

Mata Jyuto membola. "Kau serius?"

"Aku seorang pria. Aku tak akan menarik kata-kataku."

"Tidak– itu– kau– aku–" Tangan Jyuto bergerak-gerak liar, sulit mencari kata-kata yang tepat.

"Jyuto." Jiro memegang tangan Jyuto yang berputar di udara. "Aku tahu. Aku juga tak bisa mengatakan perasaanku dengan jelas. Tapi, bukankah kau bisa menangkapnya? Begitu juga denganku. Aku sendiri juga tak mengerti bagaimana aku bisa membawa diriku sampai di tahap ini. Tapi, aku tidak ingin berhenti. Aku tidak akan mundur."

Jyuto diam. Ia menelusup ke dalam bola mata hijau-kuning Jiro untuk mendapati itu bukanlah kata-kata yang diujar tanpa kemantapan.

"Baiklah." Jyuto mengambil satu nafas dalam untuk mengembalikan kendali dirinya. Tak lupa meletakkan tangannya kembali di samping kepala Jiro. "Kita bisa sudahi acara ciuman antar bibir ini."

Alis Jiro berkerut. "Sudah?"

Dan alis Jyuto terangkat sebelah dengan senyum nakal yang masih membuat Jiro ingin mencakarnya. "Kecewa?"

"Tidak."

"Ingin lebih?"

"Tidak– tunggu, kau mengujiku?"

Jyuto mengendikkan bahu. "Mungkin. Aku bilang kita sudahi ciuman antar bibir. Bukan ciuman antar yang lain."

Jyuto bisa menangkap raut Jiro yang menegang. Namun, ada rasa penasaran yang terpancar dari bola mata si Yamada.

"Apa itu?"

Jiro siap memejamkan mata ketika wajah Jyuto kembali mendekat. Namun, bibir mereka tak bertemu. Sebagai gantinya, Jiro merasakan nafas hangat yang tadinya menerpa wajahnya kini berhembus tepat di depan telinganya.

Jyuto sengaja menghembus satu nafas kecil untuk menggoda daun telinga Jiro sebelum mengecup daerah cuping indra pendengaran tersebut. Polisi itu bisa merasakan tangan Jiro yang mencengkeram bagian samping jasnya bergerak-gerak gelisah. Tanpa ragu Jyuto mulai melibatkan lidahnya, mengecap telinga yang dirambati beberapa helai rambut, menelusupi lubang yang biasanya menangkap gelombang akustik. Tak lupa menggigit kecil sebelum memisahkan mulutnya dengan telinga Jiro.

"Earlobe Kiss." Jyuto sengaja memelankan suaranya, nyaris berbisik. "Kau bisa jelaskan?"

"Kecupan... di daerah telinga?"

Jyuto tersenyum puas. Tanpa melihat ekspresi anak dalam kungkungannya ini Jyuto bisa menebak Jiro menikmatinya. Nafas yang sedikit memburu diantara jawaban yang diberikan Jiro seolah menjadi penanda untuk sebuah pencapaian bagi Jyuto.

"Good boy."

Jiro bersumpah bahasa asing yang diucap pria itu bagai sebuah mantra yang mampu merangsang bulu kuduknya.

Jiro masih dalam proses mencerna perkataan Jyuto ketika si polisi itu melanjutkan ke tahap selanjutnya. Sebelah tangan Jyuto yang masih menekan tembok dipindahkan ke belakang kepala Jiro, menelengkannya, membuka sebuah wilayah yang siap dilahap Jyuto.

"Kau sudah bisa menebak apa yang selanjutnya."

Jiro tak sempat menjawab ketika salah satu titik sensitifnya diinvasi. Sebuah jilatan, hisapan, selanjutnya Jiro tak lagi bisa mengabsen apa saja yang dilakukan Jyuto di bawah dagunya. Kedua tangannya mencengkeram jas Jyuto semakin erat. Lenguhan yang sedari tadi ditahan tak dapat dielak lagi. Dan suara desah kenikmatan itu seolah menjadi bensin yang menyiram api gairah Jyuto.

Jiro yang ditenggelamkan dalam sensasi memabukkan butuh beberapa waktu untuk menyadari tubuhnya telah bergetar entah sejak kapan. Mengumpulkan kesadaran, Jiro membawa kedua tangannya melingkar ke belakang punggung Jyuto. Membuat dirinya makin terhimpit oleh dinding dan tubuh si polisi.

Sebelah tangan yang tadi melingkar di belakang kepala Jiro diturunkan, ditelusupkan ke balik kaus kelabu, menjalarkan sensasi panas yang menggelitik tulang belakang si anak Yamada. Dan tangan Jyuto yang lain dibawa pada bongkahan daging kenyal yang tertutup garmen bermotif kotak hitam putih.

"Aw." Jiro spontan mengendikkan bahu, namun tak menghentikan kegiatan Jyuto yang masih menikmati lehernya. "Apa kau baru saja meremas pantatku? Hentikan, aku tidak menyukainya."

Namun, Jyuto justru melakukan yang sebaliknya. Membuat sebuah lenguhan spontan kembali mengudara dari mulut Jiro.

"Tubuhmu tidak berkata begitu."

Jiro hanya mengerang protes. Namun, benar-benar tidak menghentikan kegiatan tangan Jyuto yang kembali meremas di bawah sana.

"Tidak begitu berisi seperti yang kubayangkan."

Jiro menoleh cepat, namun terhalang surai kecoklatan Jyuto. "Apa maksud–mmh."

Satu gigitan kecil di antara hisapan Jyuto pada leher Jiro membungkam mulut yang belum tuntas berucap. Membuat empunya mendongak menyalurkan nikmat yang belum pernah dirasa.

"Tapi, tidak buruk. Segala yang ada pada dirimu selalu membuatku tertarik."

Tak ada jawaban dari Jiro. Entah sedang memproses atau bahkan tidak bisa mencerna.

"Neck Kiss," Jyuto menyudahi kegiatannya, mulai menjauhkan kepalanya dari leher Jiro. "Ciuman di leher. Biasanya dapat memberikan–"

Jyuto tak dapat menyelesaikan kalimatnya begitu mendongak dan mengamati rupa remaja di hadapannya.

Bentuk alis Jiro memang tidak tegas seperti kakaknya. Tapi, alis yang sedang menukik turun itu jelas bukan bentuknya yang biasa. Dengan muka merah merona dan bibir yang mengkilap basah, dan jangan lupakan pandangan mata sayu dan sedikit menggelap itu, tanpa sadar Jiro telah menciptakan pemandangan yang bisa mengundang seekor serigala yang tertidur.

"Dapat... memberikan apa...?"

Pertanyaan Jiro membuyarkan fantasi Jyuto. Seteguk ludah ditelan dan Jyuto baru menyadari seberapa kering mulut dan kerongkongannya.

"Memberikan rangsangan sensual," Jyuto menjawab sebelum ia sempat menyadarinya.

Jiro mendadak merasa kikuk. Baru menyadari kemungkinan bahwa ekspresi yang dibuatnyalah yang membuat Jyuto tengah memakannya hanya dengan tatapan mata. "O-oke..."

"Baiklah." Jyuto melangkah mundur menjauhkan tubuhnya dari Jiro. Melepas si remaja Bukuro dari penjara tangannya. Memisahkan kedua dada yang tadinya saling menghimpit.

"Kali ini benar-benar menyudahi pelajaran hari ini?" Jiro menyahut sebelum Jyuto menyambung ucap.

"Kau sungguh berpikir ini pelajaran?"

Jiro mengendikkan bahu. "Karena aku meminta diajari, dan kau mengajari."

Jyuto memutar bola matanya. "Baiklah, terserah. Meski aku lebih senang menyebutnya pengalaman."

"Umm... Terima kasih... Kurasa?"

"'Kurasa'?" ulang Jyuto sambil melepas satu dengusan. "Kau belum puas?"

"Ha? Aku tidak berkata begitu!"

"Ya, ya. Mau kuantar pulang?"

"Aku bukan anak kecil. Aku bisa pulang sendiri."

"Baiklah, tuan anjing penjaga."

Jyuto kembali maju dan mendekat dengan cepat, mengecup pipi Jiro secara singkat. Membuat Jiro membeku dalam kejadian yang berlangsung dalam sekejab.

"Cheek Kiss. Sebagai salam dan terima kasih kembali dariku."

Tangan Jiro terangkat perlahan. Menyentuh pipi yang sebelumnya tak pernah menjadi pendaratan sebuah kecupan. "Boleh kuanggap itu sebagai 'sampai jumpa'?"

"Tentu."

Jiro masih bergeming. Jyuto juga masih menikmati tatapan mata heterokrom yang langka dan indah milik Jiro.

"Aku tahu yang terakhir ini kurang memuaskan. Tapi, tahanlah dirimu, kita bisa melakukannya lain kali. Sebanyak yang kau minta."

Jiro terang-terangan mendengus keras. Kemudian, ia membungkuk untuk mengambil topinya yang masih tergeletak di tanah. "Kau harus mengucapkan itu untuk dirimu sendiri."

"...kurasa kau benar."

Ketika Jiro kembali mendongak, ia kembali dibekukan oleh momen ketika Jyuto mencuri satu kecupan singkat dari bibirnya.

"Quickie Kiss. Dan kali ini benar-benar sampai jumpa."

Jyuto berbalik, mendahului Jiro untuk beranjak dari gang sepi itu. Sebelum kemudian ia tersentak kecil dan menoleh lagi pada Jiro.

"Kurasa kau harus membeli perekat luka atau apapun untuk menutupi lehermu."

"Ha? Apa maksudmu?"

Jyuto tak menjawab. Ia hanya berbalik sambil mengangkat sebelah tangannya.

Jiro menyentuh leher yang dimaksud Jyuto. Dan, ia bisa merasakan ada panas yang tertinggal dari bagian yang tadi dihisap dan digigit Jyuto. Jiro lekas mengeluarkan ponselnya, mencari tombol kamera dan mengarahkan ke lehernya. Selanjutnya, Jiro hanya mengerang melihat pantulan di layar ponselnya.

Sepertinya Jiro memang harus membeli sesuatu untuk menutupi tanda merah yang terpampang jelas di lehernya. Serta kali ini ia harus benar-benar mencari alasan untuk pertanyaan Ichiro dan Saburo yang akan disodorkan di rumah nanti.