Second Lead
.
.
Boboiboy is Own of Animonsta
Warning: School!AU beserta kegajean penulis di dalamnya
.
.
Enjoy Reading~
.
.
Dia selalu terlihat.
Tidak hanya di mata Taufan, tetapi hampir semua mata seluruh sekolah juga melihatnya. Dia adalah tipe-tipe gadis peran utama. Ying sering sekali menceritakan bagaimana seorang pemeran utama selalu mempunyai vibes yang postif, rasa optimisme yang tinggi, juga vibes untuk banyak disukai orang di sekelilingnya.
"Tapi, bukankah peran utama selalu dapat peran paling menderita? Makanya dia berjuang?"
"Ya, tapi dia bisa memberikan dampak postif ke orang lain, makanya dia disukai."
Dan ya, dari percakapannya dengan Ying saja, Yaya memang memenuhi kriteria itu. Gadis itu di mana pun akan memberikan kesan positif untuk orang di sekitarnya. Gadis itu selalu berjuang atas hak dan kewajibannya, bersuara lantang jika memang ada sesuatu yang tak sesuai dengan yang seharusnya. Dia adalah ketua osis terbaik.
Hubungannya dengan Taufan sangatlah dekat, sedekat rumah mereka yang hanya dibatasi pagar. Mereka tidak berinteraksi banyak saat di sekolah. Taufan memilih bermain dengan teman-teman cowoknya, sementara Yaya sibuk menyusun kegiatan sekolah dan bolak-balik ke ruang guru. Mungkin karena rumah mereka bersebelahan sejak lama, Taufan berpikir jika Yaya lebih leluasa mengobrol di rumah saja. Bahkan, sekadar pesan singkat pun jarang karena gadis itu memag tak terlalu suka diam untuk memandangi ponsel dalam waktu lama.
Kelas berakhir setelah jam menunjukkan bahwa matahari nyaris terbenam. Taufan mengerjap, memulihkan diri dari kondisi mengantuk akibat pelajaran bahasa inggris yang membosankan. Ia menyampirkan tas yang sudah rapih di sebelah punggung. Taufan tak pernah mengeluarkan buku apapun saat pelajaran kecuali satu buku tulis untuknya mencatat. Begitu bel pulang, ia hanya harus menyimpan buku tersebut di laci meja untuk digunakan keesokan harinya.
"Fan, hari ini futsal, nggak?"
Taufan menoleh untuk melihat Amaar yang tengah mengambil sapu di lemari, gilirannya piket kelas. Pandangan Taufan langsung melirik arloji di tangan sebelum mengibaskannya ke udara.
"Udah dibilangin kalau Malam Sabtu ,nggak." Taufan memutar mata. "Aku ikut kamis aja."
"Kenapa? Bukanya kamu jomblo? jadi harusnya Sabtu nggak ada agenda."
"Ada prioritas, bro." Taufan menepuk bahu Amaar saat lewat. "Udah ya, duluan. Yang bersih piketnya supaya nggak diceramahin Gopal lagi."
Taufan memang tidak berbohong pada Amaar. Ia memang memiliki prioritas yang harus diutamakannya sebelum Malam Sabtu menjemput. Meski ia belum punya pacar, bukan berarti ia tak punya kesibukan lain, kan?
"Kamu nggak futsal hari ini?"
Pertanyaan yang selalu ada untuk sekadar basi-basi di malam Sabtu. Setiap jumat matam, setelah makan malam, Taufan akan keluar dari rumah. Alasannya, tentu saja untuk meyapa gadis pemeran utama itu. Biasanya Taufan akan menemukannya tengah berbicara di telepon dengan seseorang, tetapi sering juga senior mereka datang lalu mengajak Yaya pergi.
"Nggak," Taufan menyakukan kedua tangannya di celana. Rumah mereka hanya dibatasi pagar dan tempat sampah bersama, jadi mudah untuk saling mengobrol tanpa harus keluar dari halaman masing-masing. "Paling males deh futsal kalau Malam Sabtu. Kamu sendiri tumben nggak keluar. Nggak ada janji?"
Senyuman manis Yaya adalah satu dari banyak hal yang Taufan sukai. Gadis itu menggeleng, seketika langsung melambungkan angan Taufan. "Nggak. Aku juga lagi males keluar sih."
"Males keluar atau karena emang nggak ada yang ngajak?" Taufan menaikkan sebelah alisnya.
"Dua-duanya." Yaya mengangguk. "Karena aku lagi males keluar jadinya emang nggak ada yang ngajak."
"Oh begitu?"
Apa Taufan harus mengajaknya keluar sesekali?
"Kamu nggak keluar bareng Hali sama Gempa?"
"Hali punya jadwal khusus sebelum weekend, dan saudara bukan termasuk di dalamnya." Taufan menggeleng-geleng dramatis.
Yaya justru tertawa. "Oh iya, dia rutin banget kencan tiap akhir minggu, ya sekarang?"
"Namanya juga bucin." Taufan balas terkekeh.
"Kalau Gempa?"
"Gempa …" Taufan melirik Yaya sejenak. "Gempa ada kok di dalem, tapi dia lagi sibuk sama urusan OSIS, jadi males mau keluar katanya."
"Oh iya, kita emang lagi sibuk nyiapin pensi, sih." Yaya mengangguk. "Kamu jadi mau tampil nanti?"
"Yah, kalau lolos audisi sih boleh, aja." Bahu terangkat. "Lagian aku, Gopal, sama Fang udah latihan maksimal, pasti bakal nyesel kalau nggak nampilin kita."
Yaya kembali tertawa. "Pede banget. Kan ada banyak kandidat lain."
"Tapi yang unik, kan cuma kita."
"Iya, sih." Yaya mengangguk setuju. "Fans kamu bakal tambah banyak, dong nanti."
"Fans musiman mah, iya. Kalau udah tau asli aku kayak gimana juga mereka bakal mundur."
Keduanya tertawa. Jumat, malam sabtu mereka akan berlangsung seperti ini jika tidak ada yang mengganggu. Keduanya akan lepas mengobrol dan tertawa seolah tak pernah ada hal yang membatasi mereka seperti di sekolah.
"Terus rencana kamu malam ini, apa?"
Yaya mengerling pada bulan yang berpendar di atas mereka. "Ya, kamu taulah."
"Nonton drama?"
"Nggak ada yang lebih seru dari itu." Yaya tertawa.
"Kamu juga sama bucinnya." Kedua safir Taufan berputar. "Dramanya tentang apa?"
"Tentang dunia bisnis," Yaya menghela napas. "Tapi aku kayaknya bakal agak kecewa deh sama endingnya nanti meski rating ceritanya bagus."
"Second lead, lagi?"
Yaya meringis seraya mengangguk. "Nggak tau kenapa peran second lead itu lebih banyak narik simpati penonton, ya? Padahal yang harusnya di-highlight itu pemeran utamanya."
Second lead.
Ying bilang, second lead ditujukan untuk seseorang yang berperan penting dalam cerita namun tak akan menjadi konklusi bagi setiap permasalah utama si pemeran utama. Sudah hukum alam bahwa untuk menyelesaikan permasalahan, pemeran utama pria dan pemeran utama wanita harus bersatu, Sementara di akhir cerita, second lead akan terlupakan begitu saja, atau mungkin akan terpaksa bahagia dan berlapang dada dengan alternatif kebahagiaan yang lain.
Miris.
"Kalau kamu tuh cocoknya jadi second lead. Udah naksir Yaya dari dulu tapi nggak pernah dinotis, Kasihan banget!"
"Kamu juga sama ngenesnya. Padahal udah jelas-jelas ngasih kode ke Hali, tapi dianya nggak peka."
Sepertinya memang hanya dirinya yang punya jiwa second lead. Pasalnya saudara kembarnya itu ternyata sudah sejak lama menyukai Ying, hanya saja gengsi untuk mengakui. Jika bukan karena inisiatif Taufan, malam ini Halilintar pasti masih uring-uringan di kamar, dan menyusun strategi yang selalu gagal dijalankan untuk mendekati Ying. Dan sekarang, dengan bantuannya pula, mereka menjadi sepasang kekasih yang juga sibuk di akhir minggu.
"…Nggak?"
"Eh, apa?" Taufan ingin sekali menubrukkan kepalanya di bak sampah. Bodoh sekali ia tak mendengar apa yang yang Yaya katakan. "Kenapa, Ya?"
Yaya menghela napas, tampak tak suka mengulang pertanyaannya untuk kali kedua. "Aku tadi tanya, kamu mau nggak nemenin aku?"
"Nemenin ngapain?" Taufan mengernyit.
"Nonton drama. Sama Totoitoy juga. Aku udah tanyain Ibu sih, katanya kalau kamu nggak apa-apa. Mungkin aja Toto juga mau main game sama kamu, kan?"
Nonton drama?
Permintaan macam apa ini?
Taufan memang sengaja tidak ikut futsal bersama teman-temannya untuk menemani Yaya jika kehadirannya dibutuhkan. Tapi apa yang akan mereka bilang kalau tahu ternyata Taufan justru menonton drama yang sangat dibenci kebanyakan pria? Bisa habis ia diolok-olok nanti.
"Kalau nggak mau ya nggak apa-apa. Aku bisa nonton sendiri aja nanti."
"Siapa bilang nggak mau?" Taufan langsung menyahut cepat. "Mau, kok."
"Habis kamu kayak keberatan gitu, sih." Yaya memberengut.
"Aku mau, Ya. Tadi aku cuma mikir mau bawa jajanan apa ke rumah kamu."
Celetukkan Taufan lagi-lagi membuat Yaya tertawa. "Kamu kayak sama siapa aja. Di rumah udah ada banyaka makanan, kok. Kamu tenang aja."
"Oh iya." Taufan nyengir, menggaruk pipinya salah tingkah. "Mau kapan nontonnya? Sekarang?"
"Boleh. Yuk, masuk."
Tanpa pikir panjang, Taufan langsung beranjak keluar pagar. Ia tak berhenti mengulas senyum saat berjalan memutar untuk meraih Yaya yang menantinya di balik pagar. Yaya balas tersenyum begitu Taufan tiba dan mengisayratkan Taufan untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Ya."
"Hm." Yaya yang berjalan di depannya menyahut. "Kamu masih second lead syndrome?"
Yaya terkekeh. "Masih lah. Walau ending-nya harus nahan sakit, tapi kasihan juga di kenyataan nggak didukung, kan?"
"Jadi kamu second lead syndrome karena kasihan?" Taufan mengangkat alis.
"Nggak juga sih. Tapi rata-rata peran second lead itu tipe aku." Lugas, tanpa ragu atau gagap.
Taufan mengerjap. Yaya menuntunnya ke dapur untuk bersalaman dengan sang ibu. Kemudian ia dibawa ke lantai dua, ke balkon di mana Taufan sering melihat Yaya membaca atau sibuk dengan tugasnya.
Ia dituntun duduk di bean bag milik sang gadis. Laptop dan botol berisi air mineral telah disiapkan di sudut meja.
"Kamu tunggu di sini, biar aku siapin makanannya dan panggil Toto."
Yaya beranjak lagi. Pintu dibuka bersamaan dengan Taufan yang kembali memanggilnya.
"Kenapa? Kamu mau request minuman?" Tanya Yaya.
"Aku mau jus jeruk."
Yaya tersenyum. "Itu sih aku udah tau. Ada lagi?"
"Um," Taufan melirik laptop di hadapannya sejenak sebelum kembali menoleh pada Yaya. "Nggak deh."
"Oke."
"Eh, tapi, Ya…."
Yaya lagi-lagi melongok dari pintu. Ekspresinya tak sabar. "Kenapa lagi?"
Taufan nyengir. "Semoga kamu juga second lead syndrome di dunia nyata, ya?"
Pintu langsung terbanting menutup, namun senyum Taufan tak luntur, justru mengulas senyum semakin lebar. Ingatannya tak berhenti memutar pernyataan Yaya terkait bahwa sebenarnya rata-rata second lead adalah tipe idealnya. Itu artinya Taufan memang tipe ideal Yaya, kan?
Hei, optimis apa salahnya?
FIN
A/N : Padahal udah jadi tadi, tinggal diedit beberapa bagian. Ini buat Kak Ra yang emang lagi butuh asupan TauYa. Nggak tau ini fluffnya dapet atau nggak sih wkwkwk.
Btw rumah Yaya sama Taufan aku bikin kayak Rumah Peter Parker sama MJ yang cuma dibatasin bak sampah bersama. Jadi ngobrolnya tuh enak, nggak harus keluar pager.
Semoga bisa memenuhi ekspektasi, ya? Maaf kalau nggak sesuai :'(
Terimakasih juga yang udah mampir baca!
