Dalam kehidupan ini, Ino bertemu Neji lagi ketika dia sedang berjalan menyusuri hutan bagian dalam.
Jubah putih yang dulu biasa dikenakan pria itu kini dipenuhi warna merah, rambutnya berantakan, dan kepalanya menunduk. Dengan ogah-ogahan, Ino bergerak ke arah Neji dan memberinya dua tendangan keras yang menyebabkan tubuh pria itu terjatuh ke tanah, menampakkan wajah putihnya yang terlihat mengerikan.
Pria itu sepertinya sudah mati.
"Jadi ini juga terjadi padamu," ucap Ino mengejek.
Dengan menoleh, Ino melanjutkan kegiatannya mencari tanaman obat dan meninggalkan Neji begitu saja. Baru pada malam hari ketika akan pulang ke rumah, Ino melihat Neji masih terduduk di bawah pohon. Darah di wajahnya telah lama menggumpal menjadi bercak dan badannya dikelilingi oleh segala jenis lalat. Sejak kapan seorang Hyuuga Neji, yang memiliki kedudukan tinggi, berada dalam posisi yang begitu menyedihkan seperti ini?
Ino berdiri di samping Neji dan berpikir sejenak. Tersembunyi di balik rambut panjang yang menutupi wajahnya, Ino menyadari masih ada sedikit senyuman di wajahnya, membuat pria itu seolah-olah mati dalam semangat.
Dan membayangkan Neji sekarat dengan nyaman membuat Ino mual.
Dengan perlakukan seperti yang diberikan untuk bangkai hewan, Ino meraih kerah baju Neji dan menyeret pria itu sekasar yang dia bisa.
Yang bisa Ino pikirkan hanyalah betapa tidak pantasnya orang seperti itu mati dengan nyaman.
Pria itu pantas...mati dengan cara yang lebih keras. Lebih sadis.
Kematian yang tidak manusiawi.
Itulah tujuan Ino saat ini.
Hari yang Berlalu Perlahan
WARNING:
Kinda OOC. Probably a lot of typos.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi K.
Genre: Hurt/Comfort, Angst
#INOcentDYE20
Neji terbangun akibat suara kicauan burung yang menyenangkan dan aroma makanan yang menggugah selera. Menyipitkan matanya, dari pintu yang terbuka Neji melihat seseorang sedang membelakanginya.
Tidak pernah sekalipun Neji mengira bahwa dia akan memiliki kesempatan untuk bertemu Ino lagi dalam hidup ini. Apakah dia sedang bermimpi atau apakah ini ilusi yang diberikan neraka kepadanya? Tapi, bagaimana bisa neraka memiliki sinar matahari dan selimut yang begitu nyaman?
Benar. Dia mungkin sedang bermimpi.
Dalam suasana hati yang baik, Ino menyenandungkan lagu sambil menikmati makanannya. Matahari sore menyinari gadis itu dengan lembut, membuatnya tampak sangat berkilauan dan menenangkan. Neji tidak bisa menahan diri untuk tidak melongo melihat pemandangan seperti itu.
Senang rasanya bisa mengalami mimpi indah seperti ini.
Namun Ino mungkin merasakan seseorang sedang menatapnya karena dengan cepat, Ino berbalik dan tatapan mereka bertemu. Keduanya terkejut tapi Ino dengan cepat tersadar dan mencibir. "Kau cukup beruntung."
Neji tercengang cukup lama setelah mendengar suara Ino. Mengolok dirinya sendiri, dia tanpa sadar mengepalkan tinjunya di bawah selimut dan tertawa kecil.
Jadi ini bukan mimpi.
Ino mengambil mangkuk kosong dan mengisinya dengan nasi dan beberapa potong sayuran. Dia kemudian menusuk sumpit itu secara vertikal ke dalam nasi dan memberikannya kepada Neji. "Makan jika kau sudah terbangun."
Ino meletakkan mangkuk itu di samping tempat tidur dan bersiap untuk pergi ketika tiba-tiba Neji memanggil namanya.
"Ino."
Cara Neji memanggil namanya, selalu menghantui Ino dan memaksanya terbangun di tengah malam. Dalam mimpi buruknya, Neji selalu mengucapkan hal yang sama, "Ino, aku telah menyakitimu. Maafkan aku." Bahkan sampai sekarang, rasa sakit dan dingin itu selalu menyakitinya.
Dengan sinis, Ino berkata, "Tampaknya Tuan muda Hyuuga masih mengingat nama orang rendah seperti saya, sungguh suatu kehormatan."
Neji menyeringai kecil. "Satu-satunya hal yang tidak boleh dan tidak berani aku lupakan dalam hidup ini adalah kamu."
"Oh." Ino berbalik, menyilangkan lengannya dan memelototi Neji yang sedang duduk pinggiran kasur.
"Sudah tiga tahun, tapi mulut Tuan muda masih sangat buruk. Berani-beraninya kau…" kali ini Ino menahan tangannya untuk tidak menyambar kepala pria di depannya. "Berbicara seperti itu, apakah anda tidak memikirkan perasaan istri anda?"
"Dia sudah meninggal." Neji menjawab dengan acuh tak acuh.
"Bagaimana dengan klan dan pasukanmu?"
"Mereka semua juga sudah mati."
Ino menatap Neji sebentar. Dia tidak ingin melanjutkan masalah atau mengajukan pertanyaan apa pun lagi pada pria itu. Informasi yang dikatakan pria itu cukup membuat Ino sangat bahagia sehingga dia tersenyum. "Berita yang sangat bagus. Aku tidak bisa berhenti tersenyum."
Ino menyipitkan matanya ketika melihat Neji tersenyum. Meskipun tidak jelas apakah senyum pria itu karena dia juga sedang senang atau justru mengejek dirinya sendiri, tapi Ino tidak ingin melihat segala bentuk kebahagiaan pada wajah Neji.
"Neji, kau masih bisa tersenyum?"
"Kau masih hidup. Aku menemukanmu. Bukankah sudah seharusnya aku tersenyum?" Neji menjawab dengan tenang, seolah-olah pria itu sedang berbicara dengan Ino dari tiga tahun yang lalu. Ino yang bodoh dan selalu melompat mendekati Neji setiap kali ada kesempatan.
Seolah-olah kejadian Neji mendorongnya dari tebing tidak pernah terjadi.
Seolah-olah kaki dan tangannya yang terluka, hari-hari diantara hidup dan mati ketika mencoba memanjat dari jurang tebing, tidak pernah terjadi dalam hidup Ino.
Ino menahan senyumnya, menundukkan badannya, meletakknya tangannya di bahu Neji yang terluka, dan dengan kuat menekannya sampai darah keluar dari kain dan tercetak di tangannya. .
Wajah Neji memucat, tapi pria itu terus tersenyum kecil dan menatap Ino.
"Sepertinya kau salah paham,Neji. Kau berada di sini, di rumahku, hanya karena aku ingin melihatmu menderita dan menangis memohon."
Neji menatap Ino dengan tenang untuk beberapa saat. "Aku akan mencoba yang terbaik untuk memuaskanmu."
Neji tidak bisa menangis. Ino tahu lebih dari siapapun, tentang sejauh mana hati dingin dan kekejian pria itu. Pemimpin kedua klan Hyuuga, menantu dari pemimpin utama sekaligus pamannya, Hyuuga Hiashi saat itu; dia mengendalikan seluruh kekuatan Hyuuga.
Tapi tidak peduli seberapa parah luka yang dialami Neji, kondisi pria itu dengan cepat tampak membaik. Luka-luka di badannya beberapa sudah menutup. Mendecih pelan, Ino berbalik ke arah kotak putih di sudut ruangan, mengambil satu pil hitam, dan dengan paksa memasukkan pil itu pada mulut Neji.
"Rasanya tidak enak."
"Tentu saja. Ini pil untuk menghilangkan aliran energi seseorang. Apa yang kau harapkan."
Bahkan setelah mendengar penjelasan Ino, Neji tidak melakukan apapun; dengan patuh dia menelan pilitu, duduk, dan memusatkan pandangannya pada Ino, seperti takut kalau Ino akan menghilang jika dia mengalihkan pandangannya sejenak.
Tak lama kemudian, pembuluh darah Neji mulai tampak menonjol keluar, napasnya menjadi tidak menentu seolah-olah dia kesakitan. Neji menutup mata dan mengeratkan giginya dengan erat.
Ino menatap Neji sekilas, mengepalkan tinjunya dan berjalan keluar ruangan.
Bahkan setelah pintu ditutup, suara nafas yang tidak menentu masih bisa terdengar. Ino hanya menatap tangannya tanpa ekspresi dan terdiam.
Tanpa aliran energi, Neji tidak dapat mengatur chakra dan membuat proses penyembuhan lukanya jauh lebih sulit. Namun Ino sama sekali tidak kasihan.
Besoknya Ino membangunkan Neji pagi-pagi, menyuruh pria itu membawa keranjang bambunya ketika dia mencari tanaman obat di pegunungan, menyuruhnya menebang pohon untuk kayu bakar, menyuruhnya mencuci piring, dll.
Cedera Neji memburuk setelah seharian bekerja.
Ino dengan sengaja menyiksanya.
Setelah mengumpulkan kayu bakar, dengan bersimbah peluh, Neji duduk di meja makan tepat di seberang Ino. Dengan senyum kecil di wajahnya, Neji mengambil sesumpit nasi dan mulai makan. Pria itu jelas kelaparan.
Ino tidak tahu kenapa, tapi luapan amarah meliputi hatinya. Dia menarik sumpit Neji dan menatap dingin pria yang terlihat bingung itu.
"Kau sepertinya benar-benar menikmati siksaan seperti ini."
Neji terdiam beberapa saat. Memahami jalan pikir Ino, dia tertawa pelan.
"Kau masih naif seperti dulu. Jika kau sebut ini penyiksaan, lakukanlah terus." Neji berhenti dan menyeringai pada Ino. "Ini hanya membuatku merasa seperti kita adalah pasangan yang normal—"
"Tuan muda Hyuuga terlalu murah hati. Bagaimana mungkin pelayan rendahan seperti saya bisa dibandingkan dengan Nona muda Hinata? " Ino memotong perkataan Neji sambil menekankan nama istri pria itu.
Nej menatap Ino dalam-dalam untuk beberapa saat sebelum menjawab dengan tegas, "Kau lebih baik."
Jika memang begitu, mengapa kau melakukan itu padaku tiga tahun yang lalu?
… adalah apa yang ingin Ino katakan tetapi akal sehatnya dengan cepat kembali. Ino tidak ingin mengungkapkan pikirannya, karena mengatakannya dengan lantang seperti itu seolah menunjukkan dia masih peduli dengan kejadian itu.
Dia akan kembali menjadi gadis yang tersesat.
"Pasangan yang normal?" Mengubah topik, Ino melontarkan kata-katanya dengan nada mengejek. "Pernahkah kau melihat istri yang memperlakukan suaminya seperti itu?"
Neji menghela nafas, merendahkan dirinya untuk mengambil sumpit yang ditampar Ino darinya dan menjawab dengan nada menyedihkan, "Kalu begitu kau harus memperlakukanku lebih baik, Ino."
"Oh," Ino mencibir. "Apakah kau ingin lebih dipermalukan?"
"Aku lebih menginkanmu. Itu sudah cukup."
Mendengar jawaban Neji hanya membuat wajah Ino menjadi gelap. Dengan keras, Ino mendorong kursinya dan berlalu menuju kamar sambil menatap Neji dingin. "Kata-katamu terdengar seperti penghinaan, Neji."
oOo
Air yang dingin dan menusuk di bulan September, cukup membuat seseorang putus asa. Di tengah arus sungai yang mengamuk, Ino berjuang mati-matian antara mengapung dan tenggelam. Dagingnya yang robek akibat bebatuan di tebing, semakin menganga terbuka ketika bersentuhan dengan batu tajam di sungai. Hidung dan mulutnya terisi air, membuatnya tak bisa bernapas atau terengah-engah. Semakin dia mencoba bernapas, semakin cepat air mengalir masuk ke perutnya.
Neji… Neji…
Neji yang selalu dia andalkan. Neji yang selalu dia pikirkan setiap saat, seperti tarikan nafas…pria itu jugalah yang merampas haknya untuk bernafas.
Ino tercekik.
Tolong. Siapapun tolong ak—
"Ino?"
Suara Neji terdengar di sampingnya dan membuat Ino tiba-tiba terbangun. Dengan nafas putus-putus, Ino melirik Neji yang sudah duduk di sampingnya dengan kening mengerut karena khawatir. Suara pria itu pelan, seperti takut membuat Ino lebih sulit bernafas.
"Mimpi buruk?"
Tidak dapat membedakan antara mimpi dan kenyataan, Ino duduk dengan panik dan mendorong Neji menjauh dengan kuat. Menutup matanya, Ino meringkuk ke sudut dinding. Dengan suara yang pecah dan bergetar, dia berteriak ketakutan karena putus asa.
"Jangan sentuh aku!"
Neji membeku mendengar teriakan Ino. Pencahayaan dari lilin di sekitar ruangan itu memang redup, tapi itu cukup untuk memperlihatkan bekas luka Ino yang tercetak dari telapak kaki dan melebar sampai bawah lutut. Hati Neji sangat sakit, seolah-olah seseorang sedang menggunakan pisau untuk menusuk-nusuk dagingnya.
Neji tahu bagaimana bekas luka seperti ini terbentuk; luka seperti itu hanya dapat terjadi akibat goresan dari alat yang tajam dan bergerigi. Bahkan, Neji mungkin juga bisa mengetahui kapan bekas luka di kaki Ino terbentuk.
Tiga tahun yang lalu…
Neji menunduk dan mengepalkan tinjunya dalam diam.
Hanya setelah beberapa saat, ketika keadaan sudah cukup sepi untuk suara serangga terdengar, Ino akhirnya berbicara. "Pergi."
Dengan patuh, Neji berbalik, mengambil dua langkah ke arah pintu, sebelum terhenti.
"Ino. Maafkan aku."
"…"
Mengira tidak ada jawaban, Neji hendak menutup pintu sebelum dengan tegas Ino menjawab, "Bukankah menjijikkan mengatakan itu sekarang?"
Keesokan paginya, Ino bangun seperti biasa, membuat sarapan dan mengambil ramuan keringnya sebelum bersiap untuk pergi.
Neji berdiri dengan tenang di hadapannya dan bertanya dengan lembut, "Kemana kamu akan pergi?"
Ino menjawab dengan tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam. "Ke pasar, jadi kau perlu membantuku mengumpulkan lebih banyak tumbuhan di pegunungan, menebang pohon untuk kayu bakar dan mencuci pakaian. Jika aku tidak dapat menyiapkan makan malam, siapkan juga makan malam. Aku tidak akan kembali pada siang hari. "
"Aku akan mengikutimu."
"Tidak." Ino menolak dengan tegas. "Aku tidak ingin melihatmu hari ini."
Neji terdiam. Hanya ketika Ino selesai memakai sepatu dan bergerak ke pintu, barulah Neji tersenyum, "Aku tiba-tiba merasa seperti aku adalah istrinya."
Ino memutar matanya dan menatap Neji sengit. "Sayang sekali aku tidak berminat menjadi suamimu."
Ino pergi ke pasar setiap bulan. Dalam perjalanan ke sana, dia selalu mengunjungi kuil tua terlebih dahulu. Kuil itu adalah rumah bagi orang miskin yang tidak mampu membayar uang untuk membeli obat atau menemui dokter. Ino dengan rutin merawat orang-orang itu setiap bulan. Kemudian, dengan menggunakan tanaman obat yang dia kumpulkan dari pegunungan, dia akan berdagang dengan apoteker di kota untuk mendapatkan uang lalu dalam perjalanan pulang, dia membeli beberapa kebutuhan sekaligus obat-obatan untuk orang-orang di kuil.
Namun, karena perubahan cuaca yang tiba-tiba, ada banyak pasien yang membutuhkan perhatian Ino. Ketika dia selesai merawat pasien, matahari sudah lama terbenam dan gerbang kota sudah ditutup untuk hari itu. Ino tidak punya pilihan selain tinggal di kota untuk satu malam.
Keesokan paginya, dia bergegas pulang dan terkejut ketika melihat makanan yang terlihat dingin di atas meja. Sepertinya makanan itu disiapkan kemarin. Neji benar-benar menyiapkan makan malam untuknya? Dengan tidak percaya, Ino melihat ke matahari untuk memeriksa apakah matahari terbit dari barat hari ini.
Orang brengsek itu?
Meskipun sebenarnya, Ino mengakui Neji menjadi lebih baik daripada di masa lalu. Perbedaannya terlalu besar.
Tapi, dimana pria itu?
Ino mencari-cari di sekeliling rumah namun nihil, Neji tidak terlihat dimanapun. Ino bertanya-tanya apakah pria itu pergi ke pegunungan untuk mengumpulkan lebih banyak tumbuhan ketika tiba-tiba dia melihat Neji di halaman, tertutup lumpur, wajah dibubuhi debu, rambut berantakan dan janggut samar di dagunya.
"Kemana kau pergi?"/ "Kemana kamu pergi?"
Keduanya bertanya secara bersamaan, tetapi dengan perbedaan yang jelas. Pertanyaan Ino bernada terkejut, tetapi pertanyaan Neji bernada kecemasan dan ketakutan yang tertahan. Pria itu khawatir sepanjang malam, khawatir sesuatu mungkin terjadi pada Ino, khawatir dia tidak akan kembali, khawatir dia akan meninggalkannya selamanya.
Bagaimanapun, kebencian Ino terhadap Neji adalah sesuatu yang sudah pria itu ketahui, apalagi ketika Ino bahkan tidak repot-repot untuk menyembunyikannya
Ino tidak menyangka Neji akan terdengar marah dan sedikit membeku sebelum menjawab, "Aku tinggal di kota untuk satu malam."
"Jika kamu sudah mengatakan bahwa kamu akan kembali terlambat, mengapa kamu tidak kembali? Jika kamu tidak akan kembali ke rumah, mengapa kamu tidak mengirim seseorang untuk memberi tahuku?"
Tampak marah, Neji menutup jarak antara dirinya dan Ino dalam beberapa langkah, meraih pundak Ino dan memaksa gadis itu untuk memandangnya. "Kamu sepertinya telah belajar bagaimana cara menghancurkan kepercayaan orang dan masih tetap acuh tak acuh hanya dalam beberapa tahun ini!"
Ino merasa sangat tidak masuk akal untuk menerima kemarahan Neji, tapi setelah mendengar kalimat terakhir pria itu, Ino tertawa dingin. "Tapi apakah Tuan muda Hyuuga adalah pria yang dapat memegang janjinya?"
Ino melepaskan tangan Neji dari pundaknya, "Saya bukanlah sosok penting dalam hal apapun. Saya tidak mampu mengirim seseorang untuk memberi tahu Anda tentang masalah sepele seperti itu. Juga, tolong hentikan penggunaan nada ini untuk berbicara dengan saya, saya tidak ingin salah mengira niat Anda, berpikir bahwa anda mengkhawatirkan saya."
"Aku mengkhawatirkanmu." Neji menjawab dengan terus terang.
"Khawatir? Pada level apa saya dan Tuan Muda sebanding? Siapa yang peduli dengan kehidupan pelayan rendahan seperti saya? " Ino mencibir dan berbalik untuk kembali ke rumah.
Meskipun Neji biasanya tidak terpengaruh oleh komentar sinis Ino, pernyataan terakhir gadis itu membuatnya mengerutkan kening dalam-dalam. "Aku peduli meski kamu tidak."
Ino berhenti sebentar, menatap Neji dan tanpa sedikitpun nada humor, menjawab. "Neji, kehidupan pelayan rendah yang kau pedulikan ini telah lama kau bunuh tiga tahun lalu."
Wajah Neji memucat dan merasa seolah-olah seseorang telah menamparnya dengan sekuat tenaga. Meskipun sebelumnya sangat marah, Neji hanya bisa merasakan penyesalan dan rasa hampa, rasa sakit yang tak terlukiskan mengalir di dadanya sekarang.
"Maafkan aku."
Neji telah meminta maaf berkali-kali dalam mimpinya selama tiga tahun terakhir, tetapi setiap kali dia bangun, hanya ada rasa kesepian yang begitu tak tertahankan sehingga terasa sangat dingin. Neji sudah begitu muak, sehingga ketika Ino tidak kembali semalam, dia panik. Itu sebabnya Neji tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Dia… takut.
Ino tidak peduli dengan ucapan pria itu. Dia memasuki kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Neji
Neji berdiri diam di halaman, sebelum memasuki rumah untuk membersihkan piring yang ditinggalkannya kemarin malam.
Ino tidak tahu kalau makanan ini disiapkan segera setelah gadis itu pergi. Neji yang sepanjang hidupnya diperlakukan istimewa, tanpa tahu meraba-raba kompor kecil di dapur sepanjang hari sebelum akhirnya berhasil membuat makanan yang benar-benar terlihat rapi. Dengan hati-hati, dia memperlakukan makanan itu seperti emas, memastikan bahwa makanan itu disajikan dengan rapi sebelum duduk menunggu Ino. Dia menunggu dan menunggu, sampai makanan menjadi dingin, tapi tetap tidak ada tanda-tanda Ino akan kembali.
Tangan Neji berhenti membersihkan dan matanya menyengat perih.
Jadi beginilah rasanya ketika ketulusanmu direndahkan oleh orang lain.
Ini mungkin karma baginya.
oOo
Bahu Neji belum sembuh dan malah memburuk setelah sepanjang malam mencari Ino, menyebabkan dia tidak bisa mengangkat lengan kirinya. Rasa sakit itu hanya meningkat setelah dia bangun di pagi hari, jadi dia membiarkan rambutnya tidak diikat dan bangun untuk sarapan.
Ino melihat sekilas penampilan Neji dari samping. "Pergi dan ikat rambutmu. Kau tidak bisa mengumpulkan tanaman jika rambutmu tidak diikat. "
Neji tersenyum tak berdaya. "Bahuku sakit, aku tidak bisa mengangkatnya." Dia kemudian berhenti sebentar, dan menyarankan dengan antisipasi yang samar, "Bisakah kamu membantuku mengikat rambutku? Seperti dulu. "
Ino meletakkan sumpitnya, menatap lurus ke arah Neji, berharap pria itu akan memahami peringatan matanya dan mulai lebih sadar diri. Namun, Ino jelas meremehkan tekad dari pria itu.
Neji berjalan ke ruang tamu, duduk di depan cermin rias dan dengan lembut memanggil Ino. "Bisakah kamu membantu mengikat rambutku seperti dulu? Aku sepertinya tidak bisa melakukannya sebaikmu. "
Dengan berharap cemas, Neji mengepalkan tangannya ketika tidak ada jawaban. Ino mungkin tidak akan datang, bagaimanapun, masa lalu adalah sesuatu yang ingin gadis itu lupakan.
Namun, Ino datang menghampirinya. Dia mengambil sisir dari meja rias dan menyisir rambut Neji dengan cara yang kasar, sepertinya bertekad untuk merobek rambut pria itu dari kulit kepalanya.
Dengan pelan, Neji tertawa. "Tidak benar membalas dendam saat ada kesempatan."
"Apa kau tidak tahu? Aku bukan orang yang peka." Meskipun kata-katanya terdengar kasar, tapi gerakan tangan Ino menjadi lebih lembut. Menyisir rambut Neji, membawanya kembali ke masa lalu, ketika pria itu masih menjadi calon pemimpin utama klan yang dingin namun ramah dan dirinya hanyalah seorang pelayan yang pria itu pungut dari jalan serta satu-satunya orang yang diizinkan berada di sampingnya.
Ino berkedip dan kembali dari kebingungannya. Ino melihat beberapa garis rambut putih tersembunyi di antara helai rambut hitam yang sedang dia sisir.
Pria itu mungkin… tidak hidup dengan baik selama beberapa tahun terakhir ini
Ino menyingkirkan pikiran dan sentimennya, dengan asal menata rambut Neji sebelum menggunakan ikat rambut acak untuk mengikat rambutnya.
Neji sedikit kecewa. "Ini tidak seperti dulu."
"Kau selalu bisa menata ulang rambutmu sendiri." Ino menjawab dengan kesal. "Jika sudah selesai, ikuti aku ke pegunungan."
Ino berbalik untuk pergi tapi tangannya ditahan oleh Neji. "Rambutmu lebih longgar hari ini, biarkan aku membalas budi dan membantumu mengikat rambutmu juga."
Ino ingin menolak pria itu, tapi setelah melihat ekspresinya, dia tidak tahu kenapa tapi dia tidak tahan untuk bersikap dingin. Wajah pria itu terlihat lelah. Karena itu Ino terpaksa mengalah dan duduk sambil melepas ikatan rambutnya.
Ini adalah pertama kalinya Ino duduk di depan sementara Neji berdiri di belakangnya. Ino tenggelam dalam bayangan mereka sebagai pasangan, mengulangi hari-hari setelah hari-hari yang normal, sementara hari berlalu dengan tenang.
"Rambutmu tidak terlalu mudah disisir." Neji mengerutkan keningnya. "Ini terlalu pucat dan kering, apa kamu tidak cukup makan?"
Tentu saja rambut saya tidak sebanding dengan Tuan muda Hyuuga—
Kalimat itu berhenti di pikirannya. Menimbang jika pikirannya tadi terlalu kasar, Ino menelan kata-katanya. "Mengapa aku membutuhkan rambut halus? Bisakah rambut dijadikan makanan sehari-hari?"
Neji tersenyum, benar-benar membungkukkan dirinya dan dengan lembut mencium ujung rambut Ino. "Lalu bisakah aku mendapatkan rambutmu?"
Apakah pria ini menggodanya? Dia pasti sedang bercanda… 'kan?
Telinga Ino memerah karena malu. Dia berdiri dengan cepat dan menjambak rambutnya ke belakang dalam satu gerakan besar sebelum memelototi Neji dari cermin. Tanpa malu-malu, Neji tesenyum kecil melihat pipi Ino yang memerah dan menggembung kesal. Tapi sebelum senyuman itu tumbuh lebih besar, Neji melihat tengkuk Ino.
Sebuah bekas luka coklat yang jelek terletak di tengkuknya dan meluas ke punggungnya.
Neji tertegun dan tanpa sadar menyentuhnya. Ino tiba-tiba berbalik, segera menutupi tengkuknya dengan tangan dan menatap dingin pria itu.
Neji merasa tenggorokannya mengering. "Apa yang terjadi disana?"
Ino tidak menjawab tapi mencoba untuk mengambil sisir di tangan Neji. "Aku bisa melakukannya sendiri, tidak perlu merepotkanmu."
"Bagaimana bekas luka itu bisa terjadi?"
"Kemarikan sisirnya."
"Bagaimana kamu bisa terluka?"
Keduanya berdiri diam, sama-sama tidak mau mundur dari kebuntuan yang mereka buat. Setelah beberapa saat, Ino tersenyum, nampak kesakitan namun tampak mengejek. "Bagaimana aku bisa terluka, apa kau tidak tahu?"
Ekspresi Neji turun dan wajahnya memucat dalam sekejap.
Menutup matanya, Ino menenangkan dirinya dalam kegelapan sebelum menceritakan serangkaian kejadian di masa lalu.
"Tiga tahun lalu, kau mengikuti keinginan Nona Hinata dan secara pribadi mendorongku dari tebing." Dengan tenang, Ino menatap bayangannya di cermin, seolah-olah orang yang dia bicarakan bukanlah dirinya sendiri, "Aku terhanyut oleh arus, dan bebatuan yang tersebar di sungai mulai merobek tubuhku, sampai aku mengalir ke ujung sungai dan sekelompok petani menyelamatkanku. "
Neji mengepalkan tinjunya dengan erat, tidak bisa berkata-kata.
"Tulang di pahaku patah, dokter desa tidak dapat menyembuhkannya, jadi aku mematahkan ligamennya sebelum memasangnya kembali. Luka? Dokter tidak mau menggunakan obat karena perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan dan menyuruh istri petani untuk melakukannya. Tapi mereka tidak mau, jadi aku harus melepas perban bersama dengan daging dan ototku hanya untuk mengoleskan obat pada luka. Selama setahun penuh, aku menderita selama aku hidup. "
Ino menatap mata Neji di cermin dan dengan tegas berkata, "Neji, Aku tidak berjuang untuk hidup hanya agar kau bisa kembali dan memperlakukanku seperti sampah."
Jadi, tolong berhenti menggodanya. Dia tidak memiliki kekebalan terhadap hal-hal yang bernama Neji.
Keadaan menjadi sunyi. Neji meraih tengkuk Ino lagi, tetapi kali ini Ino tidak menghindar. Mengeluskan jempolnya di antara bekas luka Ino, Neji bertanya, "Apakah sangat menyakitkan?"
Ino hanya diam dan menatap Neji dari cermin. Pria itu hanya diam beberapa saat sebelum kembali menyisir rambutnya.
Setelah Neji selesai mengikat rambutnya, pria itu lalu meminta maaf.
"Maafkan aku."
Tidak ada yang perlu pria itu jelaskan, karena faktanya memang demikian.
"Tidak ada gunanya meminta maaf sekarang." Ino berdiri, berjalan keluar rumah dengan keranjang bambunya dan pergi ke pegunungan. Dia tidak membutuhkan permintaan maaf atau rasa bersalah Neji karena tidak ada yang bisa pria itu lakukan untuk menebusnya atas apa yang dia alami. Dia berpikir bahwa dia ingin melihat Neji menderita, melihat pria itu sangat menyesal telah mendorongnya, tetapi tampaknya dia tidak terlalu peduli untuk melihat ekspresi seperti itu pada Neji.
Apa sebenarnya yang dia coba capai dengan menjaga dan melihat Neji setiap hari?
Bahkan mungkin Ino sendiri tidak tahu.
oOo
Waktu perlahan berlalu, dan saat tumbuhan di pegunungan tumbuh lebih baik di musim panas, Ino mendapati dirinya lebih menyukai tumbuhan langka yang tumbuh di bagian terpencil di ujung timur pegunungan. Neji hanya mengikuti dengan patuh di belakang Ino.
Perlahan, Ino menyadari bahwa makanan mereka menjadi jauh lebih nikmat karena semakin banyak hewan liar muncul di sekitar mereka.
"Bahkan ketika chakra mu hilang, orang masih tidak bisa melepaskan kewaspadaannya di sekitarmu." Ino menyimpulkan setelah melihat Neji membuat kelinci liar pingsan hanya dengan satu hentakan kaki.
Menanggapi ejekan Ino, Neji menyeringai tipis. "Kau boleh melepaskan kewaspadaanmu di sekitarku."
Jika Ino mendengar ini tiga tahun lalu, sudah pasti dia akan sangat senang. Tapi sekarang, pria ini mungkin orang paling berbahaya yang dia kenal. Dan mengendurkan kewaspadaannya sama dengan kebodohan. Lagi pula, kata pepatah, sekali digigit, dua kali malu.
Ino tidak mau repot-repot menjawab. Dengan menoleh, dia melihat jamur langka kesukannya dan dengan senang hati bergerak menuruni lereng untuk mengambilnya.
Neji tetap berada di belakangnya untuk menonton ketika tiba-tiba dia melihat kaki Ino menginjak gumpalan tanah basah. Sebelum kata-kata 'hati-hati' keluar dari mulutnya, Ino tersentak kaget, seluruh tubuhnya jatuh dari lereng. Neji bergegas maju dengan bodoh, dan dengan cepat membawa Ino ke pelukannya saat mereka berdua berguling dengan keras menuruni lereng.
Beruntung bagi mereka, tanaman dan pepohonan tumbuh dengan baik di musim panas, melindungi mereka dari kerasnya tanah. Hanya setelah punggung Neji menabrak semak-semak, mereka akhirnya berhenti berguling.
Neji butuh beberapa saat untuk memaksa kata-kata keluar dari mulutnya. "Apakah kamu terluka?"
Ino terlindungi terlalu baik oleh Neji; dia tidak menderita luka sama sekali. Dia dengan cepat bergeser ke samping dan mengamati Neji. Seluruh tubuh pria itu berlumuran tanah, wajahnya tergores oleh banyak tanaman, lengannya masih berdarah, dan pergelangan tangannya terkulai; tanda pasti bahwa lengannya patah.
Dada Ino menyempit, terasa seolah-olah seseorang telah menusuknya, dan bahkan sebelum dia bisa berbicara, Neji mengejek dirinya sendiri. "Seperti yang kamu katakan, aku sungguh beruntung."
Tenggorokan Ino tercekat ketika dia mendengar Neji berbicara lagi. "Tapi aku melindungimu, dan itu bagus."
Ino menatap pria itu tidak percaya. "Neji, apakah kau mencoba untuk menebus sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin melindungimu dengan baik."
Ino tidak tega bersikap kasar saat berurusan dengan pria ini. Dia membantu Neji memasang kembali pergelangan tangannya yang patah, dan kemudian membantunya berdiri. Ino menegang saat melihat punggung Neji yang penuh luka dan darah, karena dia tahu, betapa sakitnya luka-luka itu. Neji hanya berbalik menghadap Ino dan menegur, "Jadi, apakah kamu masih berani memetik tumbuhan seperti itu lagi?"
Ino membeku sesaat sebelum menjawab, "Ya, aku akan mengambilnya lagi besok untuk makanan kita."
Setelah merawat luka Neji, Ino menyadari bahwa kebutuhan di rumahnya secara bertahap berkurang. Dia menghitung hari dan terkejut setelah menyadari bahwa sudah kira-kira sebulan sejak dia terakhir pergi ke pasar. Kebersamaannya dengan Neji membuat perputaran waktu tidak terasa.
"Aku akan pergi ke pasar selama sehari, aku tidak akan kembali pada malam hari, aku akan kembali besok pagi."
Tanpa memperdulikan luka-lukanya, Neji segera duduk tegak. "Lagi? Haruskah kamu pergi? Aku akan mengikutimu kalu begitu. "
Neji sudah menemaninya ke pasar beberapa kali, mengatakan bahwa dia tidak mengizinkannya pergi sendiri setelah yang pertama kali dulu.
Ino telah memperkirakan reaksi ini. Dia melirik Neji dan menjawab, "Kau harus istirahat. Aku bisa pergi sendiri. "
Neji ingin membalas, tetapi Ino memotongnya cepat. "Aku tidak akan tersesat jika pergi sendiri."
Mengatakan itu, Ino membawa ramuan keringnya dan pergi ke pasar.
Seperti biasa, dia mengunjungi kuil terlebih dahulu, melanjutkan berdagang jamu untuk obat dan uang sebelum akhirnya mengantarkan obat ke kuil. Pada saat dia selesai, gerbang kota sudah ditutup. Dia kemudian pergi mencari hotel untuk beristirahat malam itu. Saat dia bersiap untuk tidur, dia mendengar serangkaian ketukan pintu.
Pandangan Ino disambut oleh Neji yang dibalut perban sambil menyeringai padanya ketika dia membuka pintu.
"Aku menemukanmu."
Ino menatap Neji sebentar, lalu mendengar pria itu berkata, "Aku tahu kamu baik-baik saja. Tapi, aku khawatir tentang diriku sendiri." Pria itu menurunkan pandangannya, dan seperti seorang anak kecil, berkata, "Aku khawatir akan takut di malam hari."
Ino tidak tahu bagaimana harus marah dengan Neji. Kedua orang itu berdiri dengan bodoh di pintu untuk waktu yang lama, saling menatap. Kehangatan yang dipancarkan oleh lilin di ruangan itu begitu nyaman sehingga membuat tatapan Ino tampak lebih lembut, yang memberi Neji ilusi bahwa gadis di depannya tetaplah Ino yang dulu, Ino yang akan tersenyum padanya.
Tergoda, Neji mengangkat tangannya dan dengan lembut membelai pipi Ino. "Bisakah aku memelukmu?"
Tanpa menunggu jawaban, Neji membawa Ino ke pelukannya. Bersatu kembali dengan hartanya yang pernah hilang dan kemudian dia temukan, Neji tidak berani memeluk Ino dengan erat, tetapi juga tidak ingin melepaskannya.
Waktu sepertinya lupa berputar dan Ino baru menyadari apa yang mereka lakukan setelah beberapa saat. Dia mendorong Neji dan dengan canggung batuk beberapa kali. "Masuklah dulu."
Sesudah menutup pinru, Ino merapikan tempat tidurnya dan bertanya, "Bagaimana kau bisa memasuki kota ketika gerbangnya sudah ditutup?"
"Aku sudah berada di kota sebelum gerbang ditutup, hanya saja aku mencarimu."
Neji tidak tahu di hotel mana Ino berada, jadi di kota yang penuh dengan hotel, pria itu mungkin pergi ke setiap hotel secara pribadi untuk bertanya. Ino secara tidak sadar menghentikan kegiatannya merapikan tempat tidur dan menoleh ke arah Neji. Mungkin kehangatan yang diberikan oleh lilin membuatnya terlalu nyaman, tapi itu mendorong Ino untuk menanyakan pertanyaan itu lagi.
"Kenapa kau memperlakukanku begini sekarang? Lalu kenapa…" kau mendorongku dari tebing tanpa ragu-ragu tiga tahun lalu?
Ino bertanya dengan ambigu, tetapi Neji memahaminya.
Tiga tahun lalu, dalam upaya mengumpulkan kekuatan yang lebih besar untuk mencapai ambisinya, Neji menikahi sepupunya, sekaligus putri pemimpin utama klan Hyuuga, Hinata Hyuuga. Tapi entah mengapa, sepupunya yang lemah lembut itu, tidak menyukai Ino dan memaksanya untuk mendorong Ino ke jurang. Dia saat itu, Neji tidak dapat melepaskan keinginan dan ambisinya dan berpikir untuk menyerahkan Ino semudah membuang pion belaka. Tetapi siapa yang tahu bahwa pionnya ini akan menghantuinya setiap malam dalam tidurnya dan memaksanya untuk bangun tiba-tiba di tengah malam dalam kesakitan?
Baru kemudian Neji mengetahui apa itu 'cinta'. Dia mengirim orang untuk mencari tubuh Ino, tetapi tidak ada yang berhasil menemukannya. Dia membenci dirinya sendiri, membenci hatinya yang dingin dan pikirannya yang penuh ambisi, dan benci karena dia tidak dapat membalikkan waktu untuk membunuh dirinya yang dulu.
Tetapi waktu yang berlalu adalah konstan, fakta yang tetap tidak berubah. Neji menyesal melakukannya, dan hanya bisa terus menyesali perbuatannya.
Dan sekarang, seolah-olah para Dewa tiba-tiba merasa kasihan padanya dan menjadi baik hati, dia diizinkan untuk bertemu Ino lagi.
"Apakah kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu dan menemukannya kembali?"
Ino mengalihkan pandangannya setelah melihat Neji dalam keadaan ini. Tidak ada gunanya pria itu menanyakan apapun; jawabannya selalu sesuatu yang tidak Ino mengerti saat itu, tapi kemudian dia mengerti sesudahnya. Apa lagi yang bisa dijelaskan tentang Kehidupan? Hidup memang seperti itu; sama seperti bagaimana Ino tidak tahu apa yang dia tuju dengan kembali hidup bersama Neji sekarang.
oOo
Keesokan paginya, keduanya pergi bersama untuk membeli beberapa kebutuhan. Setelah mereka meninggalkan pasar dan bersiap untuk kembali, Neji tiba-tiba memanggil dan menghentikan Ino.
"Rambutmu longgar." Neji berbalik sedikit, dan mengangkat tangannya untuk merapikan rambut Ino.
Sesaat, Ino merasakan rambutnya terurai. Neji telah melepaskan jepit rambut kayu Ino dan melemparnya dengan kuat dari belakang punggunggnya. Ino mendengar teriakan dan kemudian seorang pria berpakaian gelap yang bersembunyi di pepohonan jatuh ke tanah. Ino tersentak, berbalik, dan melihat bahwa jepit rambut yang Neji lepas sebelumnya, terjepit dengan kuat di antara alis pria berbaju gelap yang sudah mati itu.
Ino berbalik menghadap Neji dan hanya melihat pria itu tersenyum kecil. "Jangan takut, Ino. Itu hanya pembunuh." Dia menyentuh rambut Ino dan berbicara lagi. "Aku akan mengukir jepit rambut lagi untukmu setelah ini."
Neji masihlah seorang pemimpin kedua Klan Hyuuga yang ganas itu, seseorang yang membunuh tanpa ragu-ragu saat dibutuhkan. Sisi Neji ini membuat Ino ketakutan dan sedikit gemetar.
"K-kapan kau memulihkan aliran chakra mu?"
"Itu tidak pernah hilang," ucap Neji menyeringai kecil.
Tangan Ino menegang dan dia kemudian bertanya, "Mengapa ada pembunuh yang mengerjarmu?"
Kali ini Neji membeku dan terdiam beberapa saat. "Bukankah sudah kubilang, Hinata meninggal. Aku membunuhnya."
Ino mengangkat kepalanya dan menatap Neji tak percaya. Jika memang begitu ... para pembunuh hanya bisa mengikuti perintah dari pemimpin utama Hyuuga. Tapi kenapa? Neji menikah dengan Hinata, putri dari pemimpin utama Hyuuga, membawa kejayaan dan memperkuat klan. Dia jelas hanya selangkah lagi dari berada di puncak klan, jadi mengapa?
Mengapa dia membunuh istrinya?
Neji tidak mengatakan apa-apa, hanya menggelengkan kepalanya saat dia memegang tangan Ino. "Ayo kembali."
Hari-harinya bersama Ino dipertukarkan dengan keberuntungan dari kehidupan berikutnya dan Neji tidak ingin menyia-nyiakannya untuk hal lain.
Mengapa Neji membunuh Hinata, bahkan mungkin Neji sendiri tidak tahu. Sebelum dia bertemu Ino lagi, dia hidup seperti pasien sakit; terus-menerus dalam keadaan tidak nyaman, sulit tidur, dan hanya bisa menonton saat dia semakin sekarat, semangatnya semakin rendah dari hari ke hari.
oOo
Setelah kejadian usaha pembunuhan hari itu, Ino enggan berbicara dengan Neji, dan Neji sendiri tidak memaksanya. Setelah tiga hari, Ino akhirnya angkat bicara saat makan. "Kau harus pergi."
Neji dan dirinya bagaimanapun juga orang-orang dari dunia yang berbeda.
"Kau menyelamatkanku di masa lalu, dan membawaku ke klan Hyuuga. Aku telah membalas budi dengan menyelamatkanmu. Kita berdua tidak lagi berhutang satu sama lain. "
"Aku tidak pergi." Neji dengan tenang menjawab.
Ino berpikir dan tahu dia tidak akan menang dalam perdebatan melawan Neji. Ino hanya merengut kecil dan kembali makan. "Neji, kau akan menjadi kematianku suatu hari nanti."
Neji tersenyum. "Sebelum itu terjadi, aku akan menyelamatkanmu."
Kemudian, seolah-olah diatur untuk memenuhi janji yang diucapkan Neji, sekitar setengah bulan kemudian, para pembunuh datang, tapi kali ini dipimpin oleh tidak lain pemimpin utama Hyuuga, Hyuuga Hiashi, seorang manusia yang kejam dan licik. Baginya untuk secara pribadi memimpin sekelompok pembunuh, sepertinya dia sangat yakin bisa membunuh Neji.
Kelompok pembunuh yang terdiri dari sepuluh orang itu menyerbu gubuk mereka, menjatuhkan semua obat, dan merusak seluruh perabotan rumah.
Neji membawa Ino bersembunyi di balik tumpukan semak-semak tinggi.
Pria itu menepuk punggung Ino dan berbicara tiba-tiba. "Ino, aku belum ingin mati." Senyumannya samar, mirip dengan yang pria itu kenakan saat mendorongnya dari tebing tiga tahun lalu. Tidak ada emosi di matanya.
"Target mereka adalah aku. Ino, bisakah kamu membantuku mengalihkan perhatian mereka? Meski setengahnya, akan lebih mudah bagiku untuk mengatasinya. "
Dengan maksud lain: Ino, jadilah umpan bagiku.
Ino diam-diam menatap Neji dan tersenyum tak berdaya. "Apa yang aku katakan terakhir kali? Kau akan menjadi kematianku suatu hari nanti. " Dia mengeraskan tatapannya, tenggorokannya tercekat, "Neji, bertemu denganmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku."
Ino tidak tahan untuk menyerah, namun juga tidak tahan untuk menjauhkan diri sepenuhnya. Sepanjang hidupnya, Ino terluka berkali-kali, tapi selalu dan selalu, dia berlari ke arah pria itu seperti orang bodoh.
Ino berdiri dan berlari menuruni jalur gunung yang sudah dikenalnya, tidak pernah sekalipun berbalik untuk melihat pria itu. Neji tersenyum dan melihat punggung Ino yang mulai menghilang ke pegunungan.
Bertemu Ino adalah berkah terbesar dalam hidupnya. Neji bertemu dengannya ketika dia berusia 16 tahun dan membawanya pulang, kemudian bertemu dengannya lagi ketika Neji berusia 26 tetapi kali ini, gadis itu yang membawanya pulang.
Hanya saja, nasib pertemuan dan reuni mereka tidak terlalu bagus.
Suara Ino yang menyapu semak menarik perhatian para pembunuh.
"Dia ada di sana!"
"Tangkap dia!"
Dua pembunuh hendak mengejar Ino, ketika entah dari mana, lutut mereka lumpuh seketika.
Neji berdiri dan keluar dari semak-semak, senyumnya samar, tapi matanya tanpa emosi dan dingin.
Ino masih terlalu bodoh, naif, dan baik hati. Gadis itu bukanlah orang yang memperhitungkan kebaikan. Neji menyelamatkannya sekali, dan membunuhnya sekali. Ino menyelamatkannya sekali dan seharusnya membunuhnya juga, tapi Neji tahu, betapa lembutnya hati Ino. Gadis itu tidak tega membunuh, jadi dia mengambil inisiatif bunuh diri untuk Ino. Hanya dengan begitu, mereka berdua tidak lagi berutang apapun kepada satu sama lain di kehidupan ini.
Melihat Neji, Hiashi mengamuk, "Kau bajingan!"
Neji melirik sekilas ke arah Ino yang berlari. Hingga yakin gadis itu hilang dari pandangannya, dia berbalik dan kemudian lari ke arah yang berlawanan. Para pasukan pembunuh mengejar ke arahnya, melupakan suara semak-semak dari arah Ino berlari.
Akan sulit bagi Neji untuk mempertahankan hidupnya hari ini, jadi pria itu membuat Ino membencinya dan mematahkan kerinduan gadis itu padanya. Karena tanpa kerinduan, tidak akan ada rasa sakit.
Tunggu aku. Kehidupan selanjutnya, aku akan mencarimu.
A.N
Sebenarnya, hingga saat inipun aku ingin kau terus berada di sisiku, tapi aku tidak akan menahanmu.
Meski nanti akan sepi tanpamu disini, suatu saat ayo kita bertemu kembali.
Aku sangat menyukaimu, kau tahu itu 'kan?
Aku tak pernah menyesal dengan pertemuan ini.
Terima kasih untuk semua yang berlalu,
Love you, I say goodbye My dearest.
AKB48 -Jiwaru Days.
Owari
Ketika Ino kembali ke rumah keesokan paginya, rumahnya kosong, dan hanya kekacauan yang tertinggal yang mengingatkannya pada apa yang terjadi kemarin. Kemana Neji pergi? Pria itu lebih baik mati. Tanpa ekspresi, Ino mulai membersihkan rumah; menata ulang perabotan dan mengelompokkan obat-obatan.
Dia bekerja keras dan hanya berhasil mengembalikan rumah seperti semula di malam hari.
Di malam hari, Ino ingin mandi yang benar. Dia menyiapkan air, dan melepas pakaiannya ketika tiba-tiba, jepit rambut kayu jatuh ke lantai. Dia mengambil jepit rambut dengan desain sederhana itu, tetapi pada ekornya, empat huruf yang rumit dan indah terukir.
Ne Ji I No
Agar detail seperti itu bisa muncul dengan ukiran yang kecil, berapa banyak pemikiran dan upaya yang harus dilakukan pria itu untuk hal remeh seperti jepit rambut?
Ino membeku, pikirannya kosong, dan tiba-tiba semuanya menjadi masuk akal. Dia tiba-tiba mengerti. Neji tidak akan pernah kembali dan ini adalah kado perpisahan untuknya.
Pada hari kedua, sesuai rutinitas, Ino pergi untuk mengumpulkan tumbuhan, menebang pohon untuk kayu bakar, menyiapkan makan malam, dan karena kebiasaan, menyiapkan dua mangkuk nasi dan menaruhnya di atas meja. Dia duduk dengan dua pasang sumpit, satu untuk dia, dan kemudian memberikan sepasang sumpit lainnya, tetapi sepasang sumpit itu tidak pernah diambil.
Ino menatap kosong ke langit-langit untuk waktu yang sangat lama. Ketika dia menggerakan kepalanya, di antara aliran cahaya lembut yang mengalir ke rumahnya, sepertinya ada siluet seseorang yang duduk dan tersenyum lembut padanya, tetapi ketika Ino berkedip, siluet itu menghilang.
Seperti batu nisan yang tegak, Ino menancapkan sumpit secara vertikal ke dalam mangkuk nasi. Dia menunduk dan makan, tapi merasakan pahitnya air mata yang mengalir dari matanya. Rasa asam akhirnya mengalahkan kepahitan.
Ino membenci pria itu. Dia sangat membencinya.
Tapi kebencian Ino terhadap Neji tidak seperti sebelumnya. Bahkan ketika pria itu secara pribadi mendorongnya ke bawah tebing, apakah Ino membencinya seperti ini?
Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja seperti itu?
Pria itu hanya memiliki kemampuan untuk meninggalkan jejak dirinya di mana pun dia tinggal; baik hal-hal sederhana seperti makan, menyisir rambut, mengumpulkan tanaman, pergi ke pasar, tidak ada apa pun di rumah ini yang Ino lakukan tanpa Neji. Mengapa mereka harus bertemu? Mengapa dia harus meninggalkan kenangan di rumah ini?
Hembusan angin dingin bertiup di luar halaman rumahnya, dan berputar-putar di dalam gubuk kecilnya yang suram sebelum melewati kulitnya.
Tanpa disadari, hari sudah memasuki musim gugur. Ino mengangkat kepalanya, diam-diam mendengarkan gemerisik gunung dan pepohonan yang sepi. Sama seperti hari-hari kemarin yang telah berlalu, tidak akan ada yang bisa dinantikan di masa depan.
End.
