Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
[ no profit gained from this fanfiction ]
WARNING : explicit mature content! bahasa kasar, yaoi, crackpair, probably OOC
.
.
[ lust ]
Fukui Kensuke x Izuki Shun
.
.
.
Apakah logikanya bekerja saat ini? –Fukui menurunkan celana Izuki, melebarkan kaki-kaki kering itu di samping badannya, menemukan gundukan berisi batang para adam, kemudian mengecupnya buru-buru.
Jika logikanya bekerja, maka ia tidak akan seburu-buru ini, sebinatang ini, hanya karena sebuah tubuh ringkih milik seorang laki-laki sebaya, yang ia paksa-paksa telentang setelah sebelumnya hanya meringkuk ketakutan dengan desah; ah, ngh, mmh, jangan. Apa yang menarik dari tubuh ringkih ini? Tidak ada gundukan kembar-kenyal-lembut yang jadi idaman para adam, tidak ada palung basah yang merekah diantara dua kaki, yang ada malah gundukan batang keras persis seperti miliknya. Logikanya akan menyimpulkan : untuk apa bernafsu pada tubuh lelaki. Ia straight. Jadi hanya bernafsu pada perempuan.
Tapi, Fukui paham ia menemukan tubuh ringkih dengan kulit pucat itu begitu lezat, menggugah. Karena logikanya menangkap demikian, maka Fukui jadi buru-buru, jadi manusia berkebinatangan, karena logikanya memproses fenomena Izuki yang demikian sebagai sesuatu yang bisa membuatnya begitu nafsu ingin segera merasa puas. Jadi yang mana yang benar? Logikanya bekerja atau tidak?
Apakah hasratnya begitu menggebu sampai-sampai lelaki ringkih ini bisa membuatnya horny? Tidak, Fukui tidak sebinatang itu. Buktinya jika menjumpai perempuan seksi ia biasa-biasa saja, sekadar bersiul dan berkomentar tubuhnya bagus kemudian berlalu. Ataupun ketika menjumpai lelaki ringkih lain, seperti Himuro, ia sama sekali tidak bereaksi. Jadi, hasrat Fukui masih pada batas wajar. Nafsu tidak bisa disalahkan dari kejadian ini.
Namun kenapa Izuki Shun begitu membuatnya tidak keruan begini? Hasratnya mendadak tumpah, jiwa binatangnya memberontak hebat, sampai-sampai Fukui tega menunggangi lelaki itu dan membuatnya mendesah hebat.
Jadi ini salah siapa? Sisi setan Fukui menyemangati untuk terus menggenjot, dalam hati menyalahkan Izuki. Benar. Salah siapa punya tubuh ringkih pucat seperti ini, wajah manis yang kepayahan, basah keringat, menangis, salah siapa punya suara yang begitu cocok dipakai mendesah, salah siapa? Salah Izuki. Jika saja Izuki tidak punya itu semua, maka Fukui tidak akan seperti ini.
Apakah rasanya nikmat? Fukui akui tidak. Maksudnya, bagaimana bisa lubang yang difungsikan untuk buang hajat malah ia jadikan tempat senggama. Yang ada ia malah diremas hebat, ngilu, sensasinya kering, ia kesusahan bergerak dan butuh tenaga besar untuk tetap bisa menggenjot. Izuki sepertinya sama tidak nikmat, lebih menderita malah. Fukui temukan lelaki itu terisak-isak, desahnya tersendat, kepala sudah terkulai pasrah di atas bantal.
Isak dan desah yang gemetar itu justru membuat Fukui makin bersemangat, makin bertenaga. Ia genjot lelaki itu lebih dalam, lebih intens. Ia turunkan badannya agar mendekat, mengirimkan bisikan-bisikan penenang, penuh kata cinta dan kasih sayang, hingga jemari-jemari kurus Izuki naik untuk meremat helai rambutnya gemas. Ah! Ngh!, lelaki itu mengerang, nadanya mendayu, tanda nikmat, dan Fukui makin hilang arah.
Ranjang tempat Fukui memperkosa itu berdecit bising. Bunyi becek mulai terdengar, Fukui ludahi wilayah senggamanya, kembali bergerak, lalu mencium bibir basah yang daritadi terbuka setengah. Bunyinya makin becek setelah dua lidah bergulat hebat, liur merembes kemana-mana. Tangan Fukui aktif menjamah, meremas bongkah bokong yang tidak kenyal, mencubit dua kancing kemerah-merahan di dada, sesekali naik untuk mengelus surai jelaga yang sudah lepek karena basah.
Cumbunya berpindah, bukan karena bosan, tapi karena masih ada tempat lain yang bisa ia jajah. Pertama, mari kulum kuping yang panas dan merah itu. Wow, Izuki justru meringkuk, badannya gemetar, dan palung senggamanya mengetat. Sensitif ya? Fukui menyeringai kesetanan. Ia perkosa kuping itu dengan lidah keluar masuk, sesekali gigi menyatu, menggigit, dan batang adam Izuki yang semula layu kini mulai bangkit kembali.
Fukui makin tidak sabar. Mari turun ke leher. Ia hisap kulit pucat itu kuat-kuat, sampai ketika ia lepas warnanya berubah jadi merah, kebiruan, dan Fukui terlampau puas. Sejenak ia istirahatkan pompa pinggangnya, memberi ruang bagi Izuki untuk bernapas, dan dua lelaki itu saling bertatapan.
Izuki dengan tampang payah, basah, merah.
Fukui dengan tampang semangat, mengeras, merah.
Sambil bertatapan, Fukui kembali bergerak. Pelan-pelan masuk, menghentak, ia tarik perlahan pula, kemudian masuk lagi. Terus seperti itu karena ia sangat suka melihat perubahan ekspresi Izuki, meskipun hanya berupa alis mengeryit, sebelah mata tertutup, bibir mengatup, pejaman mata, dan hela napas yang kesusahan. Desahnya malu-malu keluar, seperti empunya yang malu ditonton ekstra. Izuki membuka mata, berkaca-kaca, alis menukik tidak suka.
"kenapa?" akhirnya ada kata yang terlontar setelah sekian menit bunyi porno bersahutan. Fukui menyeringai dan mengecup kelopak mata yang basah. "kau tidak suka aku bergerak lamban?"
"ahh, anjing." Izuki mendesah sekaligus misuh. Jemari meremat lengan Fukui ketika penggagahnya sengaja menghentak sekuat tenaga lalu diam, membiarkan batang keras itu terbenam. "rasanya aneh, seperti mau bab."
"hahaha." tawa murni Fukui hadiahkan, "jangan, dong."
"mmmh." Izuki mengerang, punggung menggeliat ketika kupingnya lagi-lagi dijajah. "kenapa kau melakukan ini –ngh,"
"tidak tahu." Ekspresi cuek yang biasa bertengger akhirnya keluar. "kau sangat menggoda, dan aku ingin, jadi, ya, begini."
"bajingan –"
"sudah, sudah."
Bibir itu dikecup, pemiliknya memberenggut. Fukui tersenyum, dijilatnya dagu serta ujung hidung.
"panggil namaku, Shun."
[]
.
.
.
.
OK WTF ME
Tbh mikir ginian udah dari jauh hari, baru terealisasi di fanfic ini. (ini udah dibikin lama, baru di publish hari ini) lol
Mohon maaf apabila pembaca tidak berkenan atas karya saya yang –ah, isinya cuma wikwik
Tapi saya ga nyesel bikin ini. Jadi, selamat menikmati bagi yang menikmati!
Vielen Dank,
Ore
