Tersayang

.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Fanfiction "Tersayang" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

AU. Elemental Siblings. Batita!HaliTauGem. Businessman!Amato.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Jarum pendek jam dinding di ruang kerja itu sudah menunjukkan angka 11. Sementara, di luar sana bintang-bintang telah memenuhi langit, tanpa rembulan yang menemani. Sudah waktunya bagi makhluk hidup untuk mengistirahatkan setiap sel tubuh.

Namun, tidak bagi Amato yang masih berkutat dengan pekerjaan yang dibawanya dari kantor. Bawahannya telah membuat kesalahan perhitungan keuangan yang cukup fatal, dan kini dia yang harus mengaudit semuanya. Sungguh, kepalanya sudah berdenyut nyeri sejak tadi, tetapi semua kekacauan ini belum juga selesai.

"Ayah!"

Tiga pasang kaki mungil berlari-lari kecil mendekat. Amato terkejut, tak menyangka ketiga putra kembarnya akan mendatanginya selarut ini.

"Kalian ... kenapa belum tidur?" sang ayah bertanya.

"Balu bangun."

"Mau main!"

"Main cama Aya?"

Ketiga bocah yang belum genap berusia tiga tahun itu—masing-masing memakai piyama berwarna dominan merah tua, biru, dan cokelat—menyahut bergantian. Amato menghela napas. Terkadang ketiga putranya yang aktif ini memang tertidur lebih awal karena lelah bermain. Lantas terbangun di jam-jam yang tidak wajar.

Masalahnya, sekarang istrinya tidak ada di rumah. Ia sedang berada di luar kota karena pekerjaannya sebagai aktris.

"Kalian tidur lagi, ya? Ini sudah malam. Ayah masih banyak pekerjaan."

"Ta' mau."

"Ayo main, Yah!"

"Mau main cama Aya~"

Putranya yang berbaju biru mulai menarik-narik tangan Amato. Sang ayah masih berusaha membujuk. Namun, ketiga anak itu tampaknya sangat terlalu segar dan butuh menyalurkan energi yang terkumpul sehabis tidur.

"Sudah, ya? Kalian tidur, oke?"

Bocah-bocah kecil itu terus merengek-rengek. Amato merasa kepalanya makin sakit.

"HALILINTAR! TAUFAN! GEMPA! AYAH SIBUK, NGERTI NGGAK, SIH?!"

Tanpa sadar, Amato membiarkan suaranya meninggi. Ketiga anak itu tersentak kaget. Gempa, si bungsu yang berpiyama cokelat, sontak berkaca-kaca. Taufan, sang kakak berpiyama biru yang berdiri di sebelahnya, juga bereaksi sama. Namun, ketika mendapati adiknya mulai terisak, anak itu segera memeluk Gempa, tidak jadi menangis walau matanya masih berkaca-kaca.

Berbeda dengan kedua adiknya, Halilintar, si sulung yang berpiyama merah, tampak jauh lebih tegar. Daripada ingin menangis, dia malah tampak marah. Sorot matanya berubah tajam, sementara ia langsung menempatkan diri di depan adik-adiknya. Ditatapnya sang ayah dengan penuh ancaman.

Sementara itu, Amato pun tersentak. Dia langsung mengusap wajah dengan sebelah tangan. Ditariknya napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ketika menatap anak-anaknya kembali, sorot matanya sudah kembali lembut. Perasaan menyesal pun segera menyelinap ke dalam hatinya.

"Anak-anak ... Ayah ... Ayah minta maaf," Amato berkata selembut mungkin. "Ayah tidak bermaksud membentak kalian."

Gempa masih terisak di pelukan Taufan. Namun, keduanya mulai berani mencuri pandang ke arah sang ayah. Sedangkan Halilintar masih mendesis marah dengan sikap melindungi kedua adiknya.

"Maafkan Ayah ... ya?"

Amato tersenyum, lantas mengulurkan tangan. Dielusnya kepala si sulung dengan lembut. Halilintar yang tadinya seperti sudah siap menggigit, perlahan mulai jinak kembali.

"Taufan, Ayah minta maaf, ya? Gempa juga ... Udah, jangan nangis lagi ..."

Bergantian, Amato mengusap kepala mereka. Lantas dihapusnya air mata yang membasahi pipi Gempa.

"Sini, sini, Ayah peluk."

Amato bangkit dari kursinya, kemudian berlutut di depan anak-anaknya. Ia lalu merentangkan kedua lengan untuk memeluk ketiganya sekaligus. Pelukan hangat itu pun perlahan menenangkan si kembar tiga, sebagaimana menenangkan hati Amato sendiri.

"Ayah ... malah?" tanya Taufan, masih takut-takut.

Amato menggeleng. "Enggak, Sayang. Ayah nggak marah, kok."

Gempa masih terisak sedikit, tetapi air matanya sudah berhenti mengalir.

"Mau main," katanya lirih, "cama Aya ..."

"Iya, Sayang," sahut Amato. "Habis ini kita main."

"Aciiik~" Taufan tertawa, memancing adiknya ikut tersenyum.

Sementara, Halilintar sejak tadi sudah membalas pelukan ayahnya sambil tersenyum tipis.

"Ayah sayang kalian." Amato melepaskan pelukannya. "Nah, sekarang ... Hali, Taufan, sama Gempa ... balik ke kamar duluan, ya? Ayah beres-beres sebentar, habis itu Ayah langsung susul kalian. Oke?"

"Okeee~"

Taufan dan Gempa menyahut ceria. Sedangkan Halilintar hanya mengangguk. Detik selanjutnya. Gempa bersama Taufan sudah berlari pergi. Halilintar pun mengikuti mereka. Namun, baru berjalan tiga langkah, anak itu kembali lagi.

"Hali?" Amato mengangkat alis ketika Halilintar hanya berdiri diam sambil menatapnya. "Ada apa?"

Anak itu tiba-tiba mengulurkan tangan. Ternyata ia membawa sebungkus permen susu mahal favoritnya.

"Buat Ayah?" bertanya Amato, yang dijawab dengan anggukan.

Amato tersenyum, mau tak mau matanya berkaca-kaca haru. Diambilnya permen itu, yang disambut Halilintar dengan satu senyum sekilas.

"Ayah," akhirnya anak itu mau bicara lagi. "Cemangat."

Halilintar berbalik, kemudian berlari menyusul adik-adiknya. Amato tertegun beberapa saat, baru kemudian membuka bungkus permen pemberian si sulung. Matanya masih berkaca-kaca ketika kemudian memakan isinya.

"Manis."

Amato membuang bungkus permen itu ke tempat sampah terdekat. Sakit kepalanya entah sejak kapan telah hilang. Segera dibereskannya laptop di atas meja. Lantas bergegas meninggalkan ruang kerja.

Biarlah, pekerjaan masih bisa dilanjutkannya besok pagi. Untuk sekarang, Amato hanya ingin bercengkrama bersama tiga permata hatinya tersayang.

.

.

.

TAMAT

.

.

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii~

Noir kembali dengan fic singkat Papamato bersama para dedek~ ( ´ ▽ ` )ノ

Lagi suka bikin mereka jadi balita/batita, nih. Original trio siblings is the best~ 😆💕 /b-u-c-i-n overload

Sebenarnya, ini hasil event #Drabbletober beberapa waktu lalu. Sayang kalau cuma posting di fesbuk, makanya kupindahin kemari. Mungkin nanti aku akan publish juga beberapa drabble lain, setelah diedit dan dipanjangin dikit, ehehehe ...

.

Regards,

kurohimeNoir

15.11.2020