The Legend of Sakura

.

.

Gaara x Sakura

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Naruto

.

story' by KiRei Apple


Sinar matahari sudah nampak dari ufuk timur menandakan jika hari sudah berganti. Semilir angin masih melanda Suna hari ini meskipun tidak sekencang saat malam hari. Para penduduk sudah mulai untuk menjalani aktivitas mereka di pagi hari begitupun sang pemimpin mereka, Raja muda yang kini sudah terlihat siap dengan baju sederhana tanpa jubah kebesarannya.

Para pasukan sudah bersiap mengiringi perjalanan sang Raja untuk memenuhi undangan dari Negara pengendali yang berkuasa atas kerajaan sekitarnya. Dengan kereta kuda kerajaan dan puluhan pasukan berkuda yang akan memastikan keamanan sang Raja.

"Semoga apa yang menjadi tujuan anda dapat terkabul Raja."

Suara Azuma yang tak lain sang paman membuat Raja muda itu mendengus pelan dengan sudut bibirnya yang terangkat mendengar perkataannya itu. Tujuan? Bukankah mereka yang sebenarnya memiliki tujuan?

"Hn." Sang Raja hanya menjawab dengan gumamannya. Meskipun sang paman berdiri di sampingnya, itu tak merubah apapun baginya apalagi untuk melunak pada pamannya ini.

Netra jadenya melirik saat salah satu pengawalnya berlutut di depannya dan berujar, " kereta sudah siap Baginda Raja."

Sang Raja mengangguk dan berjalan menuju kereta kuda lalu naik kemudian.

Kereta bergerak dan perlahan berjalan meninggalkan istana megah kerajaan Suna yang kini hanya ada para tetua yang serakah itu. Tapi kepergiannya pun tidak semerta tanpa orang kepercayaannya karena ia memberi tugas dan kekuasaan sementara itu kepada salah satu Mentrinya.


Langit sudah menampakan diri yang kini berada di ufuk barat, menandakan jika sebentar lagi malam akan tiba. Mereka sudah memasuki sebuah desa di perbatasan dan kini terhenti pada satu tempat penginapan yang biasanya disinggahi jika ada perjalanan keluar kerajaan.

Sang pengawal pribadi Raja mengetuk pintu kereta dan berujar;

"Baginda Raja kita sudah tiba di desa dan tempat peristirahatan."

Pintu kereta terbuka dan sang Raja muda itu turun dari kereta.

Tubuh tegapnya tertutupi jubah yang menutupi kepala dan topeng yang menutupi hampir setengah wajahnya membuat siapa saja yang melihat akan segan. Apalagi aura yang di pancarkan hanya dengan tatapan matanya saja membuat siapapun pasti langsung merasa terintimidasi.

Tanpa mengatakan apapun sang Raja muda itu masuk ke dalam penginapan di ikuti sang pengawal pribadi dan beberapa pengawal yang masuk untuk menjaga dan sisanya mereka berjaga di luar penginapan.

"Selamat datang Baginda Raja." Sang pemilik penginapan menyambutnya, seperti biasa. Di sampingnya sudah berjejer para pelayan yang akan melayaninya dan para pengawalnya.

"Hn."

"Tempat seperti biasa dan mari Baginda Raja." Sang pemilik membungkuk dan berjalan terlebih dahulu menuntun untuk menunjukkan kamar sang Raja. Meskipun sudah beberapa kali ke sini tapi sebagai pelayan tentu harus melakukan pekerjaannya apalagi ini adalah tamu kehormatannya.

"Arigatō gozaimashita."

Dan yang berbeda dari sang Raja muda adalah ia sangat ramah kepada rakyat biasa dibandingkan harus menghormati para tetuanya.

Langkah Raja muda itu terhenti dan berbalik untuk mengatakan sesuatu kepada pengawal pribadi kepercayaannya, "tidak perlu membawaku makanan, aku akan beristirahat. Berikan makanan yang enak untuk para pengawalku." Ucapnya kemudian masuk dan pintu ditutup oleh pengawalnya.

"Sebaiknya kalian makan dan beristirahat." Ujarnya pada beberapa pengawal.

"Jika begitu saya undur diri Tuan," sang pemilik penginapan membungkuk hormat dan kembali menegakkan tubuhnya.

Pengawal yang menjaga di depan pintu kamar dimana sang Raja beristirahat mengangguk untuk menjawab, "hm."

"Jika ada sesuatu lagi segera hubungi saya atau pelayan tuan."

"Ya, terimakasih paman." Sang pemilik penginapan pun undur diri dan berbalik pergi menuruni tangga meninggalkan sang Raja dan pengawalnya.

Penginapan ini sudah di kosongkan sejak kemarin karena pihak kerajaan Suna sudah memberitahukan jika sang Raja akan kembali singgah. Bukan untuk pertama kalinya memang dan oleh karena itu ia sudah paham apa selalu sang Raja ingin kan.

Sang pengawal menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan pedang ditangannya. Ia bersandar pada dinding samping pintu dan perlahan memejamkan matanya.


Disudut desa, tepatnya disalah satu kedai terlihat ramai oleh pengunjung. Lebih banyak dari pemuda desa ini karena malam ini merupakan malam yang menjadi salah satu tradisi yang ada di desa ini.

Gokon.

Tempat pencarian jodoh, bisa dibilang begitu. Lihat saja sudah beberapa meja penuh dengan pasangan muda mudi yang sepertinya menemukan incaran mereka dan juga ada beberapa pasangan yang pergi meninggalkan tempat ini karena sudah berhasil, mungkin.

Di salah satu meja sudut ruangan terdapat seseorang yang dengan tenang meminum sake dan camilan yang dipesannya sejak sepuluh menit yang lalu. Beberapa kali ia menolak ajakan para gadis dengan dalih menunggu seseorang. Tapi sejak tadi ia sendiri dan tidak ada tanda-tanda seseorang datang menemuinya.

Sosok itu memakai pakaian seperti pemuda biasa sedangkan kepalanya ia bungkus dengan kain menutupinya. Terlihat sederhana tapi jika dibandingkan dengan penduduk desa orang ini bukan penduduk biasa.

Netra hijaunya melihat sekeliling dengan tawa kecilnya sedangkan sesekali ia menyesap sake miliknya.

"Akan sangat lucu jika Nii-chan melakukan seperti itu." Ia berujar pelan membayangkan sang kakak melakukan acara seperti ini. Mungkin ia akan mentertawakannya tiada henti.

Ekor matanya menangkap seseorang yang baru saja masuk. Dia pria dengan helaian merah gelap yang digulung menjadi satu. Pakaian sederhana namun tidak terlihat seperti penduduk sini. Tatapan mereka bertemu sesaat. Ia membuang pandangannya dan memilih untuk kembali menuangkan botol sake pada cawan, kembali meminumnya perlahan.

"Sepertinya kau belum mendapatkan gadis incaranmu?"

Seseorang duduk begitu saja di meja tempatnya duduk. Dia memesan seperti yang ia pesan dan kini menatapnya dengan tatapan datar.

"Ya seperti itulah." Jawabnya pelan, tidak berminat.

Pria berambut merah dengan beberapa helai membingkai wajahnya itu menatapnya sesaat sebelum Terinterupsi pesannya yang datang dan diletakan didepannya.

"Silahkan dinikmati Tuan." Sang pelayan tersipu melihat rupa tamunya yang memang sangat tampan dan dia pun berlalu pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Hal itu tidak lepas dari penglihatan sosok didepannya yang mendengus dan kembali meminum sakenya perlahan. Ia memang tidak berniat minum hingga mabuk karena itu bukan tujuannya datang ke tempat ini. Ia datang hanya menikmati waktu dan bersenang-senang? Mungkin.

Tidak sadar akan apa yang dilakukannya, ia terus memperhatikan setiap gerakan pria di depannya.

Caranya menuang sake, wajahnya yang bersih dan pakaiannya sudah jelas membuktikan jika dia bukan dari rakyat biasa.

"Apa anda seorang pejabat?" Ia bertanya spontan namun tidak menyesali perbuatannya, ia tidak peduli.

Pria yang sedang meminum sakenya meliriknya. "Apa kau mata-mata?"

Orang itu mendengus dan memakan rebung rebusnya kembali. "Aku hanya menebak karena kau berbeda."ujarnya tenang dan kembali mengangkat pandangannya pada pria yang ternyata sedang menatapnya.

Jade dan zamrud bertemu pandang. Mereka terdiam dengan saling menatap dan berakhir saat Jade itu membuang pandangannya dan kembali menuang sake pada cawan.

"Aku hanya mampir."

Orang itu mengangguk mengerti karena sebenarnya di desa perbatasan ini banyak orang sepertinya yang datang. Entah mereka hanya singgah atau memang datang disaat ada perayaan tertentu yang memang sering ada di desa ini.

"Apa sekalian dengan mencari jodoh?" Orang itu bertanya spontan namun terdengar mengejek bagi pria di depannya.

Pria merah itu mendengus mendapat pertanyaan itu. "Sebenarnya tidak terpikirkan tapi sepertinya itu ide yang bagus."ujarnya enteng dan kembali meminum minumannya.

Orang itu mendengus dan memanggil pelayan kemudian membayar pesanannya tadi kemudian bangkit bersiap pergi.

"Kau belum mendapatkan gadis, mau pergi?" Pria merah itu menaikan alisnya heran melihat teman sebangkunya itu akan pergi.

"Aku tidak tertarik dan semoga kau beruntung mendapat gadis incaranmu." Dan orang itu keluar dengan pedang ditangannya meninggalkan pria merah yang tenang dengan minumannya.

Orang itu berjalan menyusuri jalanan besar desa dimana masih ada beberapa penduduk yang berlaku lalang. Malam sudah larut dan mungkin karena ada hari tertentu jadi malam ini masih ramai.

Ia terus berjalan dan melihat-lihat sekeliling dan langkahnya terhenti saat ada seorang pemuda yang memaksa perempuan yang terus menolak di salah satu gang. Perempuan itu menjerit dan meminta tolong untuk dilepaskan tapi pria itu malah menamparnya dengan keras membuat perempuan itu menangis.

Tidak tahan melihatnya, orang itu menghampiri mereka dan menendang pria itu hingga terhuyung kebelakang.

"Dia bilang tidak mau jangan memaksa!" Ia berujar kesal dan menarik perempuan itu dan menyuruhnya segera pergi.

Perempuan itu mengangguk dan berlari seperti perintahnya.

Tentu saja hal itu membuat pria yang sudah merayunya sejak tadi di acara gokon murka dan menatap marah orang yang berdiri pongah namun terlihat lebih kecil darinya.

"Kau..." Pria itu maju dan melayangkan pukulan namun dapat ditangkis orang itu dan ia kembali jatuh tersungkur.

"Ada apa ini!"

Beberapa orang datang dan menolong pria itu. Mereka menatap marah sosok kecil itu dan bersiap menyerang tapi...

"Tunggu... Tunggu!"

Mereka berhenti serempak bertanya karena teriakan orang itu.

"AP --KEJAR DIA!"

Nyatanya hal tadi digunakan sosok itu untuk melarikan diri.

"Cih." Dia melarikan diri dan mendorong siapa saja yang menghalangi jalannya. Tidak mungkin ia melawan mereka yang berjumlah mungkin sepuluh orang itu. Dan lagi desa ini tidak boleh berbuat keributan atau masalah akan menghampirinya.

"ITU DIA! KEJAR!" Suara itu terdengar membuatnya semakin berlari kencang.

"Hei ada ap--." Perkataan pria yang melihat orang tadi berlari terhenti karena ia yang tiba-tiba ditariknya dan dengan spontan ia pun ikut berlari dengannya.

Mereka berbelok dan masuk ke salah satu penginapan kecil dipertigaan jalan. Masuk kesalah satu bilik kamar yang sepertinya tempat menginap orang itu.

Seruan terdengar dari luar dan menyuruh mereka mencari. Bebrapa dari mereka berpencar dan ada juga yang masuk ke penginapan dan memeriksanya.

Orang itu mengintip dan menutup pintu kemudian membuka bajunya dengan gerakan cepat. Ia menarik salah satu pakainnya yang ada di sudut kamar kemudian memakainya. Sepertinya ia lupa jika sejak tadi seseorang berada dalam kamarnya dan mematung disudut ruangan melihat apa yang terjadi didepan matanya.

Orang yang ia kira seorang laki-laki ternyata perempuan dan kali ini ia melihat bagaimana penutup kepala itu dilepas membuat rambut merah muda panjang itu jatuh dengan perlahan.

Indah.

Itulah yang ia ucapkan dalam hatinya.

Ketukan pada pintu membuat gadis itu menoleh dan kedua matanya membulat sempurna saat sadar jika ada sosok lain didalam kamarnya.

"Ka--"

Pria itu menyuruhnya diam dengan mengisyaratkan jari telunjuknya yang berada di bibirnya karena ketukan pada pintu semakin keras dan teriakan dari luar semakin terdengar jelas.

Pria itu melepaskan ikatan pada hakamanya lalu melepaskan gulungan rambutnya hingga terlepas dan menjuntai bebas. Penampilannya membuat gadis itu kembali tercengang dengan apa yang dilakukan pria itu. Perut yang terlihat jelas dan rambut merah itu membuatnya terlihat menakjubkan. Namun ingat sesuatu, ia kembali tersadar saat pria itu membuka pintu dan terlihat sekiranya delapan orang sudah berjejer siap mendobrak.

"Ada apa?" Suaranya menusuk dan penuh penekanan membuat mereka menciut. Pria itu membuka sedikit pintu tanpa niat membuka lebar. Tapi karena mereka sedang mencari seseorang maka dengan memaksa mereka ingin masuk. Namun pria itu menolak tanpa sedikitpun bergeser dari tempatnya.

"Kalian sangat menggangu."ujarnya dengan datar dan wajah yang terlihat mengintimidasi.

"Maaf tuan tap--"

"Sayang siapa itu?" Suara perempuan terdengar dari dalam membuat mereka mengerti dan merasa bersalah karena sudah mengganggu.

"M-maafkan kami tuan, kami permisi."

Mereka berlalu pergi dan memutuskan untuk keluar penginapan dan mencari incaran mereka ditempat lain.

Pria itu menutup pintu dan bersandar pada pintu. Menatap gadis yang ternyata menyamarkan diri yang kini sudah duduk berbalik menghadapnya.

Wajah bersih dan cantik, rambut merah muda panjang yang terjuntai indah membuatnya terus menatapnya dalam diam.

"Untuk apa kau mengikutiku? Aku bukan mata-mata." Gadis itu duduk bersila di futon dengan menyilangkan kedua tangannya menatap datar pria merah yang ia temui di kedai tadi.

Pria itu menaikan alisnya mendapat tuduhan dari gadis yang jelas-jelas menariknya sambil berlari tadi.

"Kau yang menarikku nona." Pria itu mendengus geli. Walaupun kesal entah kenapa melihat raut wajah gadis itu membuatnya terhibur.

"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. Sejak kapan? Seingatnya ia berlari dari kejaran pria jahat dan--"ah ya maafkan aku." Ia ingat saat dijalan seseorang berada didepannya dan ingin berbicara. Dan gilanya ia tidak sadar menarik tangannya dan berakhir dengan atensinya yang kini bersamanya.

Pria itu menyeringai, "kau ingat? Sepertinya itu memang sifatmu yang langsung menggoda eh?" Ucapnya terdengar mengejek dan hal itu tentu membuat gadis itu mendelik tak suka.

Mendapat tatapan seperti itu membuat pria itu merasa senang, entah karena apa. Sejatinya mereka baru bertemu namun melihat reaksi gadis ini sangat berbeda dengan yang pernah ia temui.

"Sebenernya kau mengikutiku berpura-pura untuk mendekat--"

Jleb!!

Perkataan pria itu terhenti karena sebuah pedang melesat menuju wajahnya dan berakhir tepat di samping kepalanya.

"Akan kubunuh jika kau banyak bicara!" Gadis itu bangkit dan berjalan menghampiri pria yang sejak tadi hanya terdiam. Ia mengambil pedang yang tertancap di dinding kayu itu dan maju mendekat dan terhenti saat bibirnya Samapi pada telinga pria merah itu. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Bisiknya mengancam.

Namun, saat hendak berbalik tubuhnya kembali terputar karena tarikan seseorang ditangannya.

Pria dengan rambut merah yang menjuntai itu menyeringai saat berhasil menyudutkan gadis itu didinding. Ia pun bertindak seperti yang gadis itu lakukan tadi. Menekan tubuhnya pada tubuh gadis itu dan berbisik tepat di telinganya.

"Akan sangat menyenangkan bisa merasakan pedangmu itu, aku tunggu." Ia berbisik pelan dan perlahan memundurkan kepalanya dan berakhir mendaratkan bibirnya pada sudut bibir gadis itu. "Sampai jumpa kembali." Ucapnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan gadis yang mematung karena terlalu terkejut atas apa yang terjadi.

Bukan ucapan pria itu yang dengan senang hati ia akan menghunuskan pedangnya tapi...

"Dasar bajingan!"

Bibirnya yang dengan seenaknya disentuh tanpa ijin.


Pagi menjelang dan suasana dipenginapan sang Raja muda itu terlihat sibuk. Para pelayan sedang menyiapkan sarapan untuk sang Raja sedangkan para pengawal bersiap dengan bawaan mereka karena selepas sarapan mereka harus kembali berangkat.

"Sumimasen," suara atau teriakan dari luar terdengar membuat sang Raja yang kini berjalan menuruni tangga menoleh pada sumber suara.

Tepat di pintu masuk seseorang pria berperawakan kecil membawa dua keranjang dan diletakkannya di meja. Sang pelayan menghampirinya dan menyuruhnya untuk mengikutinya.

"Ah, ini kiriman apel dan jeruk dari kebun bibi Nam kan?" Sang pemilik membuka barang bawaan pria itu dan mengeceknya.

Pria itu mengangguk, "saya membantunya karena beliau tidak bisa mengantarnya." Ujarnya dengan sopan.

"Apa dia sedang banyak pesanan?"

Pria kecil itu menggeleng pelan. "Tidak paman, bibi Nam tadi terjatuh dan kakinya terkilir."

Mendengar itu membuat pemilik penginapan mendesah pelan, merasa kasian. Bibi Nam memang hidup sendirian dan semenjak suaminya meninggal ia sibuk mengurus semuanya seorang diri.

"Ah, tunggu sebentar aku ambilkan bayarannya." Sang pemilik masuk ke salah satu ruangan untuk mengambil uang guna membayar pesanannya.

Pria kecil itu bergumam dan memandang sekeliling.

"Apa aku bisa makan apel itu?" Suara dari belakang membuat pria itu refleks menoleh dan mengeryit saat melihat pria aneh bertopeng berdiri di belakangnya.

"Minta saja kepada pelayan Tuan." Pria kecil itu mengendikan bahu dan kembali menghadap depan melihat-lihat isi penginapan.

"Ini untuk bay--ASTAGA BAGINDA RAJA maafkan jika makanannya belum siap." Sang pemilik berlutut meminta pengampunan sedangkan pria kecil itu terdiam dan kembali menoleh melihat persensi pria aneh yang disebut raja itu.

Apa katanya tadi?

Raja?

Astaga!

Pria kecil itu ikut berlutut seperti paman pemilik penginapan dan berujar penuh sesal. "Maafkan saya Baginda Raja." Ia merutuki kebodohannya karena berkata kasar tadi. Bisa-bisa ia dihukum pancung karena bersikap kurang ajar terhadap Raja.

Sang Raja mendengus, "bangunlah tidak apa." Ia menyuruh mereka untuk kembali berdiri.

Pemilik penginapan dan pria kecil itu mematuhinya namun masih dengan kepala mereka yang tertunduk takut.

Sang Raja pergi melangkahkan kakinya pada meja dimana seorang pria berdiri menunggunya. Kepergiannya membuat keduanya bernapas lega. Tatapan dan auranya sangat tidak enak, itulah yang mereka rasakan. Padahal Raja itu sangat ramah tidak seperti bangsawan lain yang bersikap semaunya.

"Ini nak bayarannya." Sang paman menyerahkan beberapa uang koin dengan kain yang membungkusnya untuk bayaran buah-buahan tadi dan diterima oleh pria itu dengan anggukan.

"Terimakasih paman, aku akan memberikannya pada bibi Nam sekarang." Pria itu memasukan uang itu pada baju bagian dalamnya dan berpamitan, "kalau begitu saya pergi paman."

"Ya hati-hati dijalan nak."

Mendapat ucapan seperti membuat pria itu tersenyum dan mengangguk lagi. Ia suka menolong orang apalagi melihat mereka yang bahagia, ia pun ikut berbahagia.


"Hei siapa namamu?" Pria kecil itu kini berada di kandang kuda milik bibi Nam. Setelah menyerahkan uangnya ia memutuskan untuk berkeliling sekitar kebun dan tertarik saat melihat kandang kuda yang berada di kebun.

Keinginannya sejak dulu adalah bisa menaiki kuda namun selalu dilarang dengan alasan menyebalkan. Dan entah kenapa ia sangat tertarik dengan kuda. Mereka terlihat sangat gagah apalagi jika ia melihat sang kakak yang berlatih membuatnya semakin ingin mencobanya.

"Hey, bisakah kau bersahabat denganku?" Pria kecil itu mengelus kuda putih dengan rasa takjub. Ia terus mengelus dengan mata berbinar.

"Kau ingin mencobanya nak?"

Pria itu menoleh saat suara yang dikenalinya berujar tenang.

Bibi Nam tersenyum melihat pria kecil itu yang terlihat sangat menyukai Gin -kuda milih mendiang suaminya itu. Lagipula ia tidak bisa menungganginya dan hanya merawatnya saja selama ini.

"Bolehkah?" Tanya pria kecil itu antusias dan penuh harap.

Bini Nam terkekeh dan mengangguk. "Tentu kau boleh menaiki Gin dan aku akan ke kebun sebelah Utara untuk memetik apel lagi. Jika ada sesuatu aku disana ne?"

"Tapi bi, apa kaki anda baik-baik saja?" pertanyaan penuh kekhawatiran dari anak lelaki itu membuat Bibi Nam tersenyum. meskipun masih sedikit terasa sakit ia tidak bisa berdiam saja karena pekerjaannya masih banyak atau membiarkan apel-apel itu terbuang sia-sia.

"Sudah lebih baik Nak dan terimakasih sudah menolongku."

pria kecil itu hanya mengangguk kemudian menatap Bibi Nam dengan senyuman lebarnya.

Bibi Nam pergi begitu saja tanpa bertanya lebih. Karena yang ia tahu setiap pria pasti bisa menunggangi kuda, tanpa terkecuali.

Pria kecil itu melepaskan ikatan Gin dan menariknya keluar kandang. Ia berjalan ke arah batu yang ada disana dan menaikinya untuk pijakan. Merasa pas, ia naik ke punggung Gin dan berhasil.

Senyumannya merekah. Ia mengelus leher Gin dan berujar, "Gin kita jalan pelan-pelan ya." Kemudian ia menggunakan kakinya menyentuh tubuh Gin agar berjalan.

"Pintar." Ia terus memuji Gin karena menuruti perkataannya untuk berjalan pelan.

Ia tidak sadar jika menaiki Gin sudah keluar dari area perkebunan dan kini menuju jalanan desa.

Ia terus berdecak kagum melihat aktivitas penduduk desa yang ia lewati bersama Gin. Tapi saat ada segerombolan orang yang dikenalinya membuatnya membulatkan mata dan reflek ia menghentakkan kakinya pada tubuh Gin membuat kuda yang ia tunggangi berlari.

Astaga!

Ia mencoba menarik tali berharap Gin terhenti tapi kuda itu tidak sama sekali berhenti.

Pada akhirnya ia pun berteriak...

"TOLONG!"


Rombongan yang membawa sang Raja kini sedang beristirahat di hutan perbatasan desa. Mereka beristirahat karena hari terik dan memutuskan untuk rehat di tepian sungai.

Sang Raja memutuskan keluar dari kereta dan berjalan disekitaran sungai. Namun teriakan seseroang membuat pengawal dan ia pun menoleh pada sumber suara.

Pria sedang menunggangi kuda putih yang berlari kencang terlihat melintas .

"Kasihan sekali dia tidak bisa menaikinya sepertinya." Para pengawal merasa kasihan namun disisi lain mereka tidak bisa menolong karena tugas utama mereka adalah mengawal sang Raja.

"Kalian tunggu disini!" Sang Raja berujar dan melompat menaiki kuda yang ada dan langsung berlari kencang mengikuti arah pria yang baru saja melintas dan menjerit meminta tolong.

"Kalian disini." Sang pengawal pribadi Raja ikut melompat pada kudanya dan langsung berlari mengikuti kemana Rajanya tadi menghilang dengan kuda yang ditungganginya.


"Nii-chan tolong aku." Pria kecil itu memejamkan matanya takut. Entah kemana Gin membawanya saat ini. Yang ia tau hanyalah pepohonan lebat dan sungai yang terlihat.

"PEGANG TANGANKU!" Teriakan seseorang membuat pria kecil itu membuka matanya sedikit dan melirik.

Tangan yang entah siapa pemiliknya itu menyodorkan dan memintanya untuk meraihnya. Tapi ia tidak menoleh karena terlalu takut.

"PEGANG TANGANKU!" Sekali lagi pria itu berteriak membuatnya perlahan menggapai tangan itu dan menggenggamnya.

Waktu seakan terhenti saat dengan keras tangannya ditarik membuat tubuhnya melayang dan terlepas dari kuda. Penutup kepalanya terlepas membuat helaian rambut merah mudanya tergerai.

Pria kecil ah atau gadis itu berpikir ini akhir hidupnya. Tapi saat tarikan itu kembali dan sekali lagi pinggangnya yang ditarik hingga kini duduk saling berhadapan di atas kuda membuatnya refleks mencengkeram hakama yang dipakai pria penolongnya. Matanya terpejam karena takut saat bayangannya yang tidak-tidak jika saja tidak ada yang menolongnya.

"Kejar kuda itu dan bawa ketempat kita." Pria itu memerintahkan entah kepada siapa. Gadis itu masih mencengkram kuat dengan mata yang terpejam.

Saat dirasa laju kuda terhenti, gadis itu pun akhirnya membuka matanya perlahan.

"Arigatō gozaimas."ia berujar pelan masih menetralkan perasaanya yang dilanda ketakutan tadi.

"Aku pikir kau putus asa karena tidak mendapatkanku."

Gadis itu membulatkan matanya saat suara yang sangat dikenalinya menyeruak. Dan benar saja saat ia mendongak untuk memastikan, wajah pria brengsek itu yang ada di depannya.

"Kau..."

"Kau tidak boleh mati karena pedangmu belum menyentuhku nona."

Dan gadis itu berteriak pada takdir yang seolah mempermainkan saat ini.


To be continued

wyd, Ckrg 8 nov 2020