The Legend of Sakura

.

.

Gaara x Sakura

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Naruto

.

story' by KiRei


"Maafkan aku Bibi Nam," pria kecil itu membungkuk meminta maaf karena kelalaiannya hampir saja kehilangan Gin. Ya, walaupun sebenernya jika tidak ditolong mungkin ia pun kehilangan nyawanya sendiri. Tapi berkat bantuan pria berambut merah itu ia bisa mengembalikan Gin dengan selamat.

Bibi Nam menggeleng pelan dan tersenyum melihat pria kecil yang mungkin seusia anaknya --jika masih hidup-- itu terlihat sedih. Sebenarnya ia ingin melepaskan Gin, karena berada di kandang saja pun kasihan melihatnya.

"Tidak apa-apa nak, jika mau kau bisa membawa dan merawatnya." Bibi Nam berujar lembut dengan tangannya yang menepuk pundak pria kecil itu.

Mendengar ucapan Bibi Nam membuat pria itu mengangkat wajahnya, menampilkan wajah ketidak percayaan.

"Bolehkah?"tanyanya antusias. Namun setelahnya raut wajahnya murung mengingat ia belum bisa menunggangi kuda dengan baik. Maka dengan berat hati ia menolak, "tidak Bibi saat ini aku belum bisa merawatnya dengan baik." Ujarnya penuh sesal. Seharusnya ia terus berlatih.

Melihat kesedihan yang nampak jelas didepan matanya membuat bibi Nam terenyuh. Jelas sekali terlihat saat melihat Gin betapa bahagianya anak lelaki ini. Tapi setelah membawa Gin sepertinya sesuatu terjadi hingga membuatnya terlihat kecewa seperti ini.

"Belajar dengan baik lagi dan datang kembali jika kau rasa bisa merawat Gin."

Pria kecil itu mengangguk dan tersenyum menyetujui ucapan Bibi Nam.

"Terimakasih Bibi aku akan belajar dengan bersungguh-sungguh dan aku harus pergi sekarang." Pria itu membungkuk dan berpamit pergi. Namun sebelum ia melangkah, bibi Nam memberikannya beberapa apel yang dibungkus pada kain.

"Ini bawalah dan sering-sering lah datang kesini lagi."bibi Nam menepuk pundak anak lelaki itu dengan senyumannya. Entah kenapa ia menjadi sedih melihatnya dan kembali teringat mendiang anaknya yang sudah tiada.

"Terimakasih Bibi dan aku janji akan kembali berkunjung nanti." Pria ah, atau gadis yang menyamarkan diri menjadi pria itu menerima pemberian bibi Nam kemudian berbalik pergi meninggalkan rumah bibi Nam. Sebenarnya ia ingin berlama-lama disini tapi karena sesuatu alasan ia harus segera pergi melanjutkan perjalanannya.


Hari mulai menampakan semburat jingga di ufuk barat. Suara koakan burung seakan mempertegas kan jika sebentar lagi hari akan berganti.

"Sepertinya aku harus bermalam di sini." Gadis yang berpakaian seperti pria sejak tadi berjalan menelusuri jalan setapak hutan perlintasan untuk keluar desa memutuskan untuk berhenti dan berbelok kala pendengarannya menangkap suara gemericik air.

Sungai kecil namun jernih terlihat, membuatnya memutuskan untuk beristirahat atau bermalam disini. Hari akan berganti karena warna jingga sudah semakin menjadi gelap. Ia buru-buru mencari kayu untuk membuat api unggun. Tentu saja untuk menemaninya bermalam karena tidak mungkin ia tertidur dalam kegelapan hutan kan?

Setelah selesai ia menyalakan kayu bakar kemudian duduk di dekatnya.

Bunyi serangga malam mulai terdengar dipadukan suara gemericik aliran sungai membuat suasana terasa tentram. Gadis itu menghela napas berat karena ia merasa bosan. Biasanya ia seperti ini baik-baik saja dan tidak masalah. Tapi entah kenapa saat ini ia benar-benar bosan.

Meraih pedangnya, ia memutuskan untuk mengasah bela dirinya dengan pedang miliknya.

Ia mengayunkan pedangnya dengan gerakan seirama. Mundur, maju, melompat dengan tangan terus mengayun dan tatapan terfokus dengan arah pedang. Ia melompat dan berputar beberapa kali dan terkahir ia melemparkan pedangnya pada salah satu pohon dan menancap disana.

Bukan tanpa alasan ia melempar pedangnya ke sana karena sejak tadi seseorang terus memperhatikannya dengan bersandar pada pohon itu.

"Apa kau benar-benar ingin menyentuhku dengan pedangmu ini?" Pria menyebalkan itu menarik pedang miliknya yang menancap di pohon dan membawanya mendekati gadis yang masih menatapnya dengan tatapan datar.

Pria berambut merah yang entah siapa namanya itu berjalan dengan memainkan pedang milik gadis itu, mengayunkan seperti yang tadi gadis itu lakukan.

Netra zamrud sang gadis terus mengawasi tingkah pria aneh yang kini sudah berdiri menjulang didepannya dan seketika ia melompat karena pria brengsek itu mengayunkan pedang miliknya.

"Apa yang kau inginkan?" Gadis itu masih berujar datar menatap malas pria menyebalkan yang bertindak semaunya.

"Aku?" Pria itu menyeringai dan kembali mengayunkan pedang gadis itu pada sang pemilik.

Jadenya menatap takjub saat ia dengan sengaja terus menggerakkan pedang, mengayunkan pada tubuh gadis itu, menyerangnya. Melihat gerakannya sangat indah apalagi rambut merah muda yang bergerak seirama dengan lompatannya, membuatnya berkibar indah dalam penglihatannya.

Sekali lagi, saat gadis itu berputar ia menggunakan kesempatan dengan menarik tangannya hingga tubuh kecil itu berputar berbalik arah kepadanya.

Tatapan mereka bertemu saat pria itu mengunci pergerakan sang gadis dengan tangannya.

"Apa maumu!" Gadis itu mendesis dan mencoba melepaskan diri dari kuncian pria ini tapi entah kenapa tenaganya tidak sebanding dengannya.

Sang Jade terus menatap lautan hijau yang membuatnya ingin terus menyelaminya.

"Indah." Ia berujar pelan mengagumi mata indah itu dengan senyuman.

Gadis itu terdiam. Ia pun melihat bagaimana Jade itu seolah semakin menariknya untuk masuk menyelaminya. Jantungnya berdetak tidak karuan dengan posisi mereka saat ini dan entah kenapa bibirnya yang tadinya sudah penuh dengan kata sumpah serapah yang akan ia keluarkan seolah hilang begitu saja, apalagi saat jemari pria itu terangkat menyentuh sisi wajahnya. Ia merasakan bagaimana darahnya seolah berdesir dengan jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya.

"Bisa lepaskan aku?" Suara lirih sang gadis membuat pria yang entah sedang berada di mana pikirannya itu akhirnya sadar dan langsung melepaskan kunciannya begitu saja.

"Hn."

Gadis itu mendengus dan mengambil pedang miliknya yang tertancap di tanah karena ulah pria aneh itu dan membawanya kembali bersamanya. Ia mendudukan diri di dekat api unggun yang masih menyala kemudian menambahkan kayu agar api terus bersambung dan tidak padam.

"Kau itu seorang gadis, apa tidak takut berada di luar?" Pria itu mendudukan diri tepat di depan gadis itu. Mereka duduk dengan api unggun berada di tengah-tengah mereka.

"Aku tidak punya rumah dan tujuan." Gadis itu bergumam. Ia memainkan kayu dengan kayu lainnya agar bercapur dan menyala menjadi api.

"Hn."

Gadis itu mendengus kala melihat pria itu terkejut mendengar penuturannya tadi, meskipun dengan cepat ekspresi nya kembali pada wajah datarnya.

"Dan kau, apa tujuanmu datang kesini benar-benar untuk mencari pasangan?"gadis itu bertanya penasaran karena mengingat saat mereka berada di acara gokon. Pria itu datang saat hari spesial dan tentu sudah banyak di ketahui seluruh penjuru kerajaan jika di hari atau bulan-bulan tertentu desa itu akan banyak kedatangan tamu. Entah ikut mencari jodoh atau sekedar datang berkunjung.

Pria itu tertawa pelan mendapat pertanyaan seperti itu. Mungkin karena itulah ia semakin penasaran pada sosok mungil ini.

"Sayangnya aku tidak tertarik." Pria itu berujar dengan dengusan kecil.

Gadis itu mengangkat wajahnya hingga tatapan mereka kembali bertemu. Meskipun berada api yang menjadi penghalang tidak membuat kedua pasang mata itu terhalang. Mereka saling diam seolah terhipnotis untuk menyelami tatapan masing-masing. Namun gadis itu tersadar kemudian dan mengalihkannya dengan membuka kain pemberian Bibi Nam dan mengambil dua apel.

"Kau mau?" Gadis itu melempar satu apelnya dan ditangkap baik oleh pria merah itu.

"Kau sedang bermurah hati atau menyogokku nona?" Ia memandang apel itu dengan tatapan takjub kemudian memakannya mengikuti apa yang gadis itu lakukan.

"Anggap saja ucap terimakasih ku padamu."ucap sang gadis.

Netra jadenya terus melirik gadis yang melamun namun mulutnya terus memakan apel itu. Entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya merasa sepi tidak mendengar suara galaknya itu.

"Kau mau kemana?"

Pertanyaan gadis itu membuat pria berambut merah yang sudah bangkit berdiri seketika menghentikan langkahnya.

"Kenapa? Kau mau ku temani?" Pria itu menampilkan seringainya yang menyebalkan membuat gadis itu memutar matanya jengah.

"Baguslah sana pergi!" Membuang pandangannya, gadis itu menyudahi makan apelnya dan kembali menambah kayu pada bara api.

Pria itu tersenyum kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendirian.


.Fakta dibalik alasan pria merah meninggalkan gadis itu sendirian adalah karena sebuah bunyi menyerupai suara burung namun itu adalah sebuah panggilan atau kode dari pengawal pribadinya.

"Ada apa Deidara?"

"Mereka sudah melumpuhkan para pengawal dan kita harus segera pergi." Sang pengawal tidak lagi memanggil Raja dikarenakan situasi saat ini. Jika sang Raja memanggil namanya itu berarti dia pun harus menghilangkan status Rajanya demi keamanan. Ia menyerahkan pedang milik sang Raja sedangkan jubah dan topeng milik sang Raja sudah berada dalam gendongannya.

Terlihat dua ekor kuda di dekat pohon yang Deidara bawa untuk mereka.

"Baiklah ayo kit --tunggu sebentar." Sang Raja muda itu tiba-tiba berbalik berjalan menembus pepohonan meninggalkan Deidara -sang pengawalnya yang menatapnya heran.

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu. Sang Raja muda itu telah kembali dan membawa gadis itu dalam gendongannya.

Gadis itu terus memukul punggung pria aneh ini dan berteriak untuk di turunkan. Namun sayangnya pria itu tidak menurutinya. Ia terus berjalan menuju kuda dan menempatkan gadis itu bersamanya pada salah satu kuda.

"Heii ini penculikan!" Gadis itu siap turun namun tubuhnya tertahan karena satu tangan pria itu mengunci pergerakannya dengan memeluk perutnya.

"Jika kau disini mereka akan menemukanmu."

Keryitan tercetak jelas pada wajah gadis itu. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan pria aneh ini. Tiba-tiba datang, kemudian berujar dengan nada perintah dan tanpa persetujuan pula langsung membawa dirinya dalam gendongannya.

"Siapa? Aku bukan siapa-siapa!" Gadis itu bersikeras dengan perkataannya. Lagipula ia bukan siapa-siap dan untuk apa orang mencarinya?

Pria berambut kuning yang sejak tadi diam mengawasi mendekat, "kita harus segera pergi." Ujarnya dengan mata awasnya dan menoleh ke arah timur dimana samar-samar suara teriakan terdengar.

Pria merah itu mengangguk dan memacu kudanya dengan kencang membuat gadis itu memekik dan reflek memegang tali dimana tangan pria itu berada.

"Mereka bandit yang tersembunyi."

Satu kalimat dan gadis itu langsung memahami nya. Ia tau desas-desus jika sebenarnya di perbatasan desa ada sekelompok orang atau bisa dibilang penjahat bersembunyi di hutan. Tapi ia tidak tau hutan mana yang dimaksud. Tapi sekarang ia tau ternyata hutan yang menjadi tempat singgah untuk bermalam nya lah mereka berada.

Pria itu menarik bibirnya hingga tercetak lengkungan tipis saat gadis itu semakin kuat memegang tali pengendali kuda tanpa banyak berbicara lagi. Selama hidupnya ia belum pernah atau tidak peduli pada orang asing kecuali rakyatnya. Tapi memikirkan gadis itu sendirian membuatnya entah kenapa tidak bisa meninggalkannya sendirian.

Namun keberuntungan sepertinya tidak berpihak pada mereka saat ini. Bagaimana para bandit --yang ternyata sangat banyak-- itu berhasil mengejar mereka.

"Aku akan menahan mereka silahkan masuk jalur Utara dan kita akan bertemu di5 luar hutan!" Pria kuning itu berseru dan melempar bawaannya dan ditangkap baik oleh pria merah itu.

Perkataan tegas dari Pria berambut kuning mendapat anggukan dari pria merah yang langsung memacu lebih kencang sedangkan pria kuning itu berbalik dan memacu kudanya menghadang para bandit yang memang sudah mereka prediksi.

Gadis itu menoleh kebelakang dimana pria kuning itu semakin tidak terlihat. Ia semakin mengeratkan pegangannya dengan perasaan yang tidak karuan.

"Kenapa dia tidak ikut? Apa dia akan baik-baik saja?"

"Hn." Pria itu masih memfokuskan kendalinya pada kuda agar mereka tidak terjatuh karena kini mereka memasuki hutan yang penuh dengan pepohonan.

Namun gadis itu ragu apalagi dari suara langkah kuda yang berlari, teriakan-teriakan itu jelas membuktikan jika jumlah mereka tidak sedikit.

"Dia akan baik-baik saja karena dia salah satu petarung yang melegenda." Pria itu berujar seolah tau apa yang sedang gadis itu pikirkan. Walaupun kenyataannya memanglah tepat dan benar.

"Ya semoga dia baik-baik saja."

Tiba-tiba, anak panah melesat dari depan membuat pria itu merunduk dengan memeluk kepala gadis didepannya. Anak panah itu melesat tepat di atas kepalanya dan kini menyusul dengan beberapa anak panah, semakin banyak.

Bisa menghindar dengan baik tapi tidak bisa menangkisnya saat anak panah mengenai kaki kuda hingga mereka terjatuh.

"Kau baik-baik saja?" Pria merah itu menjauhkan tubuhnya, memastikan keadaan gadis yang sejak tadi dipeluknya.

Gadis itu mengangguk, "aku tidak apa-apa." Ia bangun dan mengambil pedangnya dengan segara.

"Jangan jauh dari jangkauanku!" Pria itu bersiap siaga dengan pedang miliknya sedangkan netra jadenya mencari mereka yang bersembunyi dibalik pepohonan.

Satu, dua ah sekitar dua puluh orang mengepung mereka.

"Apa yang kalian inginkan?" Pria merah itu menggeram dengan tatapan nyalangnya. Ia menarik gadis itu mendekat dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

Sang gadis pun bersiap dengan sikap siaga dan waspada. Pedangnya sudah terlepas dari sarungnya dan ia berdiri dibalik punggung pria ini -saling memunggungi.

"Harta," salah satu dari mereka berseru dan tatapannya menyipit saat melihat gadis cantik bersama incaran mereka.

"Serahkan harta dan gadis itu dan kami akan membebaskanmu bagaimana?"

Mereka tertawa dan langsung menyerang.

Gadis itu nyatanya bukan gadis lemah yang hanya akan berdiam dibawah perlindungan. Ia bekerja sama dengan pria merah itu untuk melawan mereka.

Jumlah mereka sangat banyak.

Dan saat tangannya di tarik, gadis itu mengerti jika pria itu ingin menggunakannya melumpuhkan musuh yang berada dibelakang.

"Ternyata kau sangat menakjubkan." Entah pujian atau apa yang pria itu ucapkan. Tapi gadis itu tidak menghiraukannya karena mereka masih berfokus pada musuh yang harus segera ditumbangkan.

"Sial!" beberapa dari mereka kini memakai anak panas. Penyerangan dari jarak jauh yang menyusahkan.

Pria itu menangkis dengan ayunan pedangnya dan tentu itu berhasil karena ia sudah biasa. Tapi saat beberapa anak panah datang dari arah belakang gadis itu, pria itu berlari dan memeluk gadis itu dengan cepat.

Tidak bisa menghindar.

"Ugh." Satu anak panah tepat mengenai punggungnya.

Kedua mata gadis itu membulat saat tau jika pria yang tiba-tiba datang memeluknya adalah untuk melindunginya. Ia berbalik dan menahan tubuh pria merah sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk melemparkan pedang miliknya pada orang yang sudah berada dibelakang pria itu dan siap menghunuskan pedangnya.

Bandit itu menyemburkan darah dari mulutnya seketika dan ambruk setelah pedangnya berhasil menancap tepat dibagian dadanya.

Tubuh pria merah itu ambruk dalam pelukannya, membuat gadis itu merasa cemas karena beberapa dari mereka masih berdiri dengan wajah bengis siap membunuh.

Namun saat mereka berlari kearahnya seseorang melompat dan menghabisi mereka dengan sekali tebasan.

"Maafkan atas keterlambatan saya nona."


To be continued