The Legend of Sakura

.

.

Gaara x Sakura

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Naruto

.

Story' by KiRei Apple


Sinar ke emasan mulai terlihat dari timur. Suara air yang mengalir, kicauan burung terdengar menjadi irama alam yang menyejukkan menyambut pagi.

Di pinggiran sungai, tepat didekat salah satu pohon terdapat dua orang yang berbeda. Satu tertidur sedangkan satu orang lagi duduk menjaganya. Entah berapa lama pria berambut pirang itu terjaga karena hingga pagi menjelang pun ia masih duduk meskipun dengan mata terpejam.

Erangan terdengar dari pria yang tertidur membuat pria di sebelahnya langsung bereaksi, membantu pria itu untuk bangun perlahan.

"Deidara." Pria itu meringis saat rasa sakit terasa di punggungnya. Ia meraba dan tubuhnya yang terluka nyatanya sudah terlilit dengan kain.

"Terimakasih."

Jika di istana mungkin kata itu tidak akan pernah ia keluarkan untuk para tetua. Tapi saat di luar, bersama orang lain sosok dirinya yang sebenarnya akan terlihat. Kenyatannya jika Raja yang selalu disebut arogan itu sangat penuh dengan kebaikan.

"Bukan aku yang menolongmu Yang mulia." Deidara mengambi botol yang sudah ia isi air lalu memberikannya pada sang Raja.

Sang Raja muda meraihnya lalu meminumnya perlahan. Pikirannya mulai mengingat kejadian semalam. Bagaimana kejadian-kejadian yang membuatnya mendapat luka ini, dan bagaimana saat terakhir yang ia ingat adalah menolong gadis itu. Tapi sejak terbangun, hingga sekarang ia tidak melihat keberadaan gadis itu. Kemana gadis itu?

"Gadis itu?"

Deidara tau siapa yang dicari Raja muda ini. Gadis yang juga menjadi perhatiannya. Bukan tanpa alasan kenapa ia harus mengawasi gadis asing itu. Karena itu memang tanggungjawabnya yang harus memastikan keselamatan sang Raja. Tapi sepertinya sang Raja memiliki ketertarikan kepada gadis asing itu, dan alasan itulah membuatnya hanya bisa mengawasi dalam kejauhan.

"Aku tidak tau. Saat mencarimu dan menemukanmu di sini hanya ada seorang lelaki yang sedang menjagamu." Tidak ada lagi panggilan yang membedakan saat ini karena Deidara merasa ia harus berhati-hati. Dan lagi saat mereka berdua memang selalu memanggil dengan panggilan mereka sejak kecil dulu.

"Lelaki?"pria itu ingin memastikan. Deidara sudah mengetahui pria kecil yang ditolongnya adalah seorang gadis yang menyamar jadi kemungkinan yang dimaksud Deidara adalah orang lain.

"Hm." Deidara mengingat bagaimana ia menemukan sang Raja yang sudah tertidur dengan mendapat luka dari panah beracun. Saat ia menyusul pada tempat yang dimana mereka janjikan untuk bertemu nyatanya keberadaannya tidak ada. Dan setelah mencari ia menemukan nya tidak jauh dari tempat mereka berencana bertemu. Tapi bukan dengan gadis itu melainkan pria asing yang baru dilihatnya. Ia ingat pria itu pun mengatakan, "Tuannya telah memberikanmu penawar dan jangan khawatir karena itu akan segera pulih."

Sejujurnya pria merah itu tidak peduli itu karena pikirannya sejak tadi penuh dengan gadis itu. Rasa cemas menderanya dengan pikiran yang tidak-tidak. Dan karena itulah ia segera mengambil pedangnya dan ingin pergi memastikan namun Deidara menahannya.

"Aku sudah memeriksanya," Deidara menatap meyakinkan karena memang benar adanya. Saat ia mencoba mencari keberadaan gadis itu tidak ada sama sekali selain para bandit yang sudah tidak bernyawa. "Dia tidak ada di sana."

Dahi Raja muda itu mengkerut mencoba berfikir kembali kemungkinan-kemungkinan yang terjadi namun Deidara membuatnya menariknya pada kenyataan. "Mungkin dia sudah pergi dan kita tidak memiliki banyak waktu lagi yang Mulia."

Perkataan Deidara mau tak mau harus menurutinya. Kenyatannya memang benar jika mereka sekarang memiliki tujuan dan tentang gadis itu, ia hanya berharap dia baik-baik saja.

"Hn."

Deidara mengangguk dengan senyumannya. Ia sangat tahu jika sang Raja sebenarnya ingin mencari gadis itu, tapi jika mereka melakukan itu maka tujuan dalam perjalanan mereka akan terlambat.

"Aku akan menangkap ikan untuk kita makan sebelum kembali meneruskan perjalanan." Deidara bangkit dan membawa pedangnya menuju sungai yang tidak jauh dari tempat mereka beristirahat. Keadaan seperti ini sering mereka alami dan kali ini entah siapa yang lengah membuat sang Raja muda itu terluka, tidak seperti biasanya.

Netra jadenya menatap Deidara yang kini sudah menjauh dari pandangannya. Ia bangkit mengikuti arah Deidara, ke sungai dengan tujuan yang berbeda tentunya. Deidara yang ingin menangkap ikan sedang dirinya ingin membasuh wajahnya agar lebih terasa segar setelah semalaman penuh dengan pertarungan.

Saat ia akan berjongkok mengambil air pada telapak tangannya, jadenya menangkap sesuatu yang menggantung di lehernya. Untuk melihat benda yang terasa asing baginya, ia pun merunduk, memastikan.

Benar saja jika benda asing yang terasa janggal itu adalah kalung dengan liontin kristal semerah darah. Benda itu terlihat cantik dan seperti memiliki energi, itulah yang ia rasakan.

Tapi, seingatnya ia pun mempunyai kalung. Namun kalungnya bukan ini dan kenapa bisa berubah?

"Ada apa?"

Deidara berhasil membawa dua ekor ikan tangkapannya dan kini bersiap untuk membakarnya setelah membersihkannya terlebih dahulu. Tatapan tanya ia berikan pada Sang Raja yang terdiam dan terus mengamati kalung berbandul Rubi itu.

"Apa itu baru?" Tanyanya yang juga penasaran.

Raja muda itu menggeleng dan tersadar jika kalung miliknya telah hilang dan berubah atau digantikan dengan kalung ini.

Kepulan asap dari api yang membakar kayu membuat sang Raja menoleh menatap Deidara heran.

"Kau yakin jika yang menolongku seorang pria asli?"

Pria pirang itu mengangguk disela kegiatannya yang membolak-balikkan ikan di atas bara api. Namun saat ingat pesan dari seseorang ia segera merogoh sesuatu dari balik bajunya.

"Pria itu menitipkan ini." Ia menyerahkan selembar kertas pada sang Raja.

Satu alis Raja muda itu tertarik keatas saat Deidara menyodorkan secarik kertas untuknya. Biasanya ia akan mendapatkan surat dengan gulungan resmi bukan secarik kertas yang terlihat lusuh seperti itu.

Namun tetap saja karena rasa penasarannya ia menerima dan membaca setiap barisan kalimat yang tertulis pada lembaran kertas itu.

Kedua sudut bibirnya terangkat menarik garis lengkungan membuat senyumannya nampak. Kekehan ringan terdengar dari belahan bibirnya membuat Deidara menatapnya heran. Tidak biasanya Raja sekaligus teman masa kecilnya itu terlihat seperti saat ini. Bagaimana dia terlihat senang hanya dengan selembaran kertas itu.

"Sepertinya sangat menarik?" Entah pertanyaan atau sindiran yang Deidara berikan, namun tidak membuat sang Raja marah karena ketidak sopanan ya. Justru sang Raja merasa nyaman saat seperti ini, karena ia merasa ada seseorang yang bisa berbicara seperti tanpa ada penghalang --status.

Kertas itu dilipatnya kembali dan dimasukan di dalam jubahnya. Ia merentangkan kedua tangannya dengan wajah menengadah menghirup udara pagi yang menyejukkan jiwa. Perasaannya sangat menyenangkan meskipun luka yang didapatnya saat ini. Sungguh bayangan gadis itu tidak pernah hilang dari pikirannya sedikitpun saat ini.

"Deidara..."

Pria kuning itu tersenyum lebar saat ikannya sudah matang. Ia menyodorkan satu ikan untuk sang Raja dan satu lagi untuk dirinya sendiri.

"Ya?"

Raja muda duduk di bebatuan tidak jauh dari api sisa pembakaran masih menyala -meskipun kecil. Ia tatap ikan panggang hasil Deidara dengan pandangan menerawang.

"Aku belum yakin," sang Raja muda meniup ikan yang masih panas itu perlahan. Meskipun Deidara tidak bersuara ia yakin Deidara mengerti maksud dari ucapannya. Maka ia pun melanjutkannya.

"Kurasa aku menemukannya."

Satu kalimat yang membuat Deidara membulatkan matanya dan langsung mengingat pembicaraan mereka sebelum melakukan perjalan ini. Ia terkejut dan juga merasa bahagia jika dugaan sang Raja itu adalah kebenaran.

"Sungguh?"

"Hn." Sang Raja muda kembali menerawang, melihat langit biru di perbatasan. Ada perasaan aneh dalam dirinya setelah bertemu gadis itu. Tapi ia tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan dugaannya yang belum tentu benar adanya.

Deidara mengerti hanya melihat mata itu. Tumbuh bersama sejak kecil membuatnya mengerti tentang sahabatnya itu. Ya, semoga saja apa yang diharapkannya menjadi kenyataan.

"Semoga ...benar."


"Selamat datang di Konohagakure."

Sambutan hangat didapat saat Raja muda dari Sunagakure akhirnya tiba di Konohagakure, kerajaan yang dipimpin oleh seseorang yang juga dekat dengannya.

"Hn."

Raja muda itu sudah berganti pakaian dengan pakaian jubah kerajaan dan juga topeng menutupi sebagian wajahnya. Memang sejak di desa itu ia hanya memakai pakaian sederhana tapi Deidara yang sudah biasa membawanya tanpa diminta. Sebagai sahabat dan juga pengawal pribadi ia sudah paham kelakuan sang Raja jika keluar dengan penyamarannya.

Raja dari Konohagakure, Uzumaki Naruto menyambutnya di istana kebesarannya. Ia memberikan jamuan dengan beberapa penari terbaik saat ini, seperti biasa yang ia lakukan jika ada tamu kehormatan yang berkunjung.

"Aku pikir kau akan mati dalam buruan mereka." Naruto menyesap sake perlahan dan mengatakan tentang keadaan yang sudah ia ketahui, sejak dulu. Meskipun mereka berbeda tempat tinggal tapi bukan berarti ia tidak mengetahui tentang sahabatnya ini.

Raja muda Sunagakure itu mengangkat cawannya dan meminumnya. Merasakan cairan yang terasa sedikit pahit di tenggorokannya membuatnya kembali mengingat gadis itu. Ia terus terpikirkan akan keselamatan gadis itu hingga saat ini. Namun untuk saat ini ia hanya bisa berharap dia baik-baik saja dan semoga suatu saat akan dipertemukan lagi dengannya.

Tapi saat mendengar penuturan temannya ini membuatnya kesal. Ya kesal karena dia sangat tahu apa yang terjadi kepadanya.

"Dan sayangnya aku masih hidup." Raja muda itu berujar pelan, menyindir ejekan temannya itu. Meskipun mereka sama-sama Raja yang memimpin di kerajaan berbeda tidak membuat mereka bersitegang dalam situasi yang memuakan. Meskipun mereka yakin ketakutan mereka pasti akan terjadi, tapi sekuat tenaga mereka akan mencoba hubungan kedua kerajaan baik-baik saja.

Raja Konohagakure tertawa pelan melihat sikap kaku sahabatnya itu. Netra birunya bergulir pada wanita-wanita yang menari di depan mereka dengan musik yang menyenangkan. Lalu kembali pandangannya jatuh pada pria tenang itu. Percayalah hingga saat ini ia belum pernah melihatnya dalam sikap berbeda selain ketenangannya dalam keadaan apapun.

"Besok malam akan ada festival musim panas."

Mereka saling melempar pandang satu sama lain.

Tentang musim panas mengingatkan mereka pada kisah masa lalu. Masa yang hingga saat ini masih melekat pada kenangan yang tidak mungkin mereka lupakan. Ada kebahagiaan saat mengingat itu namun sekejap kesedihan langsung terlihat jelas dari netra jelaga mereka yang mencoba menyelami ingatan mereka tentang masa itu.

"Kau akan menikmatinya sebagai tamu kerajaan atau menikmatinya sesuka hatimu?" Sang Raja Konohagakure bertanya demikian bukan tanpa alasan. Ia sangat tau tabiat sahabatnya ini dan ia hanya mencoba memberinya penawaran. Memang sangat bosan jika sepertinya yang hanya akan melihat festival dari istana, tidak menikmatinya langsung dengan para penduduk yang merayakannya. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan istana di saat Ratunya sedang mengandung saat ini.

Raja muda dari Kerajaan Sunagakure itu menghela nafasnya. Mengingat festival musim panas membuat emosinya kembali membuncah. Ingatan tentang masa lalu yang menyenangkan dan juga menyedihkan membuatnya mengingat secara bersamaan.

"Kau tau aku Naruto." Ujarnya tenang namun kilatan emosi tidak luput dari tatapan Naruto yang sangat mengerti apa yang ia rasakan.

"Deidara ada selalu bersamamu apa itu cukup?" Naruto, Raja dari kerajaan Konohagakure memberinya tawaran untuk menjaganya. Tidak mungkin ia membiarkan sahabatnya tanpa pengawalan saat menikmati festival dengan rakyat biasa yang pastinya akan berkumpul dengan jumlah yang banyak. Jika terjadi sesuatu kepadanya maka kerajaannya pun akan di anggap melakukan kejahatan.

"Kau tau siapa Deidara Naruto, itu cukup." Raja muda itu menolak, tentu saja. Karena ia lebih senang bebas berkeliaran daripada harus dibuntuti oleh para pengawal yang membuatnya merasa tidak bebas.

Naruto mendengus dan mengangguk menyetujuinya. "Baiklah tapi aku akan menempatkan beberapa kepercayaanku di antara penduduk."ucapnya dan berharap sahabatnya itu tidak keberatan.

"Hn."

Senyuman Naruto terbit kala sahabatnya itu menyetujui usulannya.

"Selamat bersenang-senang kalau begitu Sabaku no Gaara."

*

*

Hari dimana festival telah tiba. Setiap rumah berhiaskan lampion dan jalan utama desa penuh sesak dengan para penduduk yang ingin merayakan perayaan musim panas ini. Di setiap sisi jalanan terdapat para pedagang yang menjajakan dagangannya. Banyak macam barang yang di jual mereka. Mulai dari makanan, perhiasan, perabot rumah dan lainnya.

Dan di sinilah Sabaku no Gaara berada dengan Deidara berjalan di sampingnya. Ia berbaur dengan penduduk Konohagakure tanpa topeng dan jubah kebesarannya.

Ia menikmatinya.

Lampu-lampu yang berhias cantik disepanjang jalan membuatnya seolah sedang dituntun pada banyangan-bayangan masa lalunya. Kejadian masa kecilnya yang tidak akan pernah ia lupakan.

Ia ingat saat itu...

Gaara menghentikan langkahnya melihat sekeliling. Bagaimana orang-orang yang terlihat bahagia, seperti saat itu. Bagaimana ia merasa takjub dengan lampion yang sekarang mulai berterbangan, seperti saat itu. Dan bagaimana tubuhnya tertabrak oleh seseorang, seperti saat itu.

Gaara merasa Dejavu.

Ia terpaku saat kejadian-kejadian dulu seperti terulang lagi.

Seseorang yang menabraknya tadi terlihat terkejut saat bertemu pandang. Tapi orang itu berlari saat beberapa orang berlarian, seperti sedang mengejarnya.

Mata itu...

Meskipun wajahnya tertutup dan hanya menyisakan setengah wajahnya, Gaara sangat mengenalinya.

"Deidara ikut aku!" Gaara memerintahkan Deidara mengikutinya dan langsung berlari ke arah dimana orang-orang tadi berlarian. Dan tanpa berkata Deidara pun mengikuti perintah Rajanya, berlari mengikutinya.

*

*

"Kemana dia?"

Sekumpulan orang yang mengejar seseorang yang sudah mereka incar sejak kemarin nyatanya kini kehilangan jejaknya. Mereka sampai memasuki hutan dan kini kehilangan jejak buruannya.

"Apa yang kalian cari?"

Suara seseorang membuat mereka menoleh dan menatap sengit.

"Bukan urusanmu!" Desis salah satu dari mereka pada pria kuning itu. Mereka merasa terganggu!

Deidara tersenyum miring melihat gelagat orang-orang didepannya.

"Satu, dua, tiga... Lima belas.. wah kalian sepertinya mendapat bayaran yang menggiurkan eh?"

Perkataan Deidara tak pelak membuat salah satu dari mereka, yang sepertinya ketuanya terlihat murka.

"Sepertinya kau tidak menyayangi hidupmu, habisi dia!" Seruan dari sang ketua langsung dilakukan. Mereka langsung berlari dengan mengayunkan pedangnya kepada sosok pria asing yang menggangu pekerjaan mereka.

Kawan mereka bertambah banyak, membuat Deidara mendengus di sela tarian pedangnya yang sudah menumbangkan beberapa dari mereka.

Sial!

'jika begini akan membutuhkan waktu lama' Ujarnya dalam hati.

Bruk!

Sret!!

Satu orang terpental akibat tendangan dan juga sabetan di bahunya itu muncul dari arah belakangnya. Deidara menoleh dan mengeryit saat pria yang pernah bertemu itu berdiri dengan pedang ditangannya sudah berlumuran darah.

"Mari kita selesaikan ini dengan cepat!" Pria itu berujar tenang dan langsung berlari cepat menebas beberapa dari mereka.

Melihat itu membuat Deidara berdecak dan langsung mengikutinya, menebas dengan keahliannya. Ayolah ia memiliki julukan dan akan sangat memalukan jika ia dikalahkan oleh bandit-bandit ini kan?

Sosok yang sejak di festival tadi berlari menghindari kejaran orang-orang yang membuntutinya terlihat terengah-engah. Ia kini bersandar pada salah satu pohon besar yang ada di hutan.

"Apa mereka tertinggal jauh?" Gadis itu mengintip dari balik pohon, memastikan. Orang-orang itu sudah tidak terlihat lagi.

"Hah...hah... Siapa mereka." Ia mencoba menetralkan degup jantungnya dan napasnya yang terengah-engah. Sejak ia memasuki kerajaan ini memang sudah merasakan jika beberapa orang terus memperhatikannya. Oleh karena itu ia memakai jubah untuk menutupi kepalanya dan juga kain penutup wajahnya yang biasanya ia pakai. Namun entah apa yang mereka inginkan darinya yang hanya seorang penjelajah ini.

"Aku akan kemb--"

Sret!!

Perkataannya terhenti saat sebuah pedang datang arah belakang dan langsung terarah pada lehernya.

Napasnya terhenti dengan jantungnya yang berdegup kencang karena rasa keterkejutannya.

Apa itu mereka?

Apa ia tertangkap?

Perlahan sosok yang memegang pedang yang mengunci pergerakannya itu muncul.

Netra zamrud itu membulat saat sosok itu sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang masih mengarahkan pedangnya pada lehernya.

Sial! Ia tidak bisa bergerak karena pedang miliknya tertinggal di penginapan.

Pria aneh yang dikenalnya itu memiringkan kepalanya dengan sudut bibirnya yang terangkat, menciptakan seringaian yang menyebalkan. Tapi saat ini ia harus waspada.

Mungkin dia orang yang menyuruh mereka?

"Pikiranmu jelek sekali." Pria itu mendengus geli seolah tau apa yang dipikirkan orang yang sedang berhadapan dengannya ini. Pedang yang tadi berada tepat di leher -tidak menyentuh kulit- itu naik perlahan, menyentuh kulit dan masuk disela kain yang menutupi wajah orang didepannya ini.

Kain itu terlepas saat pedang milik pria itu memotongnya. Kini tatapan mereka bertemu. Ada kilatan aneh dalam mata mereka. Sesuatu yang tidak bisa mereka katakan namun membuat jantung mereka semakin berdetak kencang.

"Kau--"

Belum sempat orang itu mencoba menetralkan detak jantungnya, pria itu semakin membuat jantungnya berdetak menggila dengan apa yang ia lakukan kini.

Ya, pria aneh itu menciumnya dan sialnya ia tidak mengerti kenapa tubuhnya pun merespo tindakannya. Memejamkan mata, terhanyut dengan sentuhan yang membuatnya gila.

Pria aneh itu perlahan melepaskan tautan bibirnya. Ia menempelkan dahinya dengan dahi orang yang berhari-hari selalu menghiasi pikirannya. Netra jade-nya menatap sang zamrud, berusaha menyelami kebenaran di sana. Hatinya bergetar saat banyangan-bayangan festival itu muncul dari lautan zamrud yang menenangkan itu.

Lalu pandanganya jatuh pada benda yang tersemat di leher gadis itu. Kalung miliknya yang memang ditukar olehnya.

"Kenapa..."

"Aku merindukanmu."


To be continued