Shingeki no Kyojin (c) Isayama Hajime
[ no profit gained from this fanfiction ]
WARNING : A/B/O Dynamic! AU! Probably OOC
.
.
.
.
Tidak ada 'judul' yang tepat untuk menamai hubungan mereka bertiga; cinta segitiga? Erwin kelewat enggan memakai istilah begituan.
Kondisinya seperti ini:
Erwin Smith, alfa, soulmate dari Levi Ackerman, omega. Hanji Zoe, beta.
Mereka bertiga sudah kenal sejak SMA. Lanjut menuju bangku kuliah, klasifikasi jam biologis di masa-masa kerja, hingga sekarang. Hingga Hanji menertawakan status Levi sebagai omega, gamblang menyarankan mate dengan Erwin saja.
Malamnya, heat Levi menyerang. Hanji masih tertawa, sekalian mengurus pil pereda berhubung si cebol belum ada pasangan. Sayang, Erwin tidak sabaran. Mendobrak ruang kerja Hanji yang dijadikan tempat berlindung, gelap mata membanting si kacamata keluar, dan terjadilah percintaan bumbu paksaan.
Esoknya, deklarasi bahwa salah satu ras Ackerman sudah resmi menjadi milik si alis tebal pun dilaksanakan, masih di ruang kerja Hanji yang kental aroma khas persenggamaan. Levi yang keukeuh diam, marah, belum bisa terima, pun Erwin berusaha tetap kasual meskipun sedikit menyesal.
Hanji? Ganjilnya, diam saja. Menaikkan kacamata, lalu liur menetes komikal. Selamat, kalian bangsat! ujarnya riang. Bergantian menyalami yang baru jadian, namun justru mengundang degup desir di dada si alfa.
Mereka bertiga sudah hapal masing-masing tabiat. Kelewat cocok bersama meskipun sangat kontras. Sebut saja mereka sahabat dekat, sangat dekat. Sebelum dua dari mereka menjadi sepasang, meninggalkan seorang beta sendirian. Tapi Hanji terlihat baik-baik saja. Betah menghirup kebebasan sebagai pemegang jam biologis tak ada ketentuan.
Namun Erwin lain cerita. Levi dipunya, Hanji kok sering terbayang. Binal ia mengimajikan, posisi Levi entah di atas atau di bawah, diganti dengan sosok wanita beta pemuja eksperimen tidak masuk akal.
Sampai suatu ketika Levi berkata;
"Aku sering membayangkan Hanji ada diantara kita; dia di tengah, sama seperti jam biologisnya."
Arti dari kalimat itu bisa meluas; dalam konteks seksual, atau konteks pergaulan mereka sebagai tiga sahabat. Dia di tengah; ketika mereka senggama, Erwin menggenjot Levi, lewat Hanji. Buyar imaji Erwin jika membayangkan tiga manusia di atas ranjang bersama –susah, tidak bisa. Minta dijabarkan dengan deskripsi singkat? Eksplisitnya, Levi menjadi yang paling bawah. Kaki mengakang lebar, ditindih Hanji yang berkuda di atas perut dan selangkangan, ditindih lagi oleh alfa bongsor penjebol jalan belakang. Bagaimana cara ketiganya bergerak, menyelaraskan ritme, atau mengatur kadar desah, tidak bisa dijelaskan. Terlalu riweuh.
Tidak disangka bahwa bukan Erwin seorang yang kepikian Hanji. Nampaknya Levi punya perasaan lain, meskipun sedikit dan dianggap tak terlalu penting. Relasi antara ketiganya tidak banyak berubah. Masih tetap pada masing-masing kebiasaan dan tabiat, kemahadinginan Levi tak berkurang, pun ketidakwarasan Hanji makin bertambah. Erwin ada di tengah-tengah. Sebagai pencair suasana, si alfa kasual dambaan banyak omega.
Tetapi sesuatu yang beda pasti terasa. Kecanggungan justru terjadi antara si sepasang, yang sama-sama tidak bisa mengenyahkan Hanji dalam hubungan mereka. Seolah beta itu memang ada untuk melengkapi keduanya, sebagai sesuatu yang sukar dijelaskan.
Erwin paham betul bahwa tidak semudah itu ia akan dimabuk hal tabu bernama 'cinta'. Tidak pernah ada kata-kata asing perihal romansa dan afeksi, hanya sikap awas dan perhatian satu sama lain. Meskipun sederhana, seperti Levi yang memasak sarapan atau ia yang telaten membantu omega itu membersihkan diri seusai senggama, rasanya sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka adalah sepasang, yang berusaha merasa lengkap.
Hanji tidak benar-benar menunjukkan diri sejati. Tentang mau bagaimana wanita itu ke depannya, tidak ada kejelasan. Ketika gamblang Erwin bertanya; "kau tidak ada rencana mencari pria?", muka Hanji kaget sesaat. Lalu wanita beta itu menghela napas dalam, menurunkan kacamata, mengedik bahu santai. "tidak, cukup kalian." Jawabnya.
Kalimat ambigu macam apa lagi ini?
Cukup kalian; pertama, bisa diartikan bahwa yang berpasangan cukup Levi dan Erwin, sementara Hanji akan meneruskan hidupnya seoang diri.
Cukup kalian; kedua, bisa diartikan bahwa Hanji tidak butuh pria lain, karena sudah ada dua pria yang ia punya, yakni kalian; sahabat dekatnya, Levi dan Erwin.
Erwin tidak merespon lebih jauh. Justru menyarankan Mike, kawan mereka yang lain, sebagai kandidat pria pendamping. Hanji menolak mentah; Nanaba mau dikemanakan? Oh, Erwin mengusap jidat, lupa. Levi datang tidak lama kemudian, wajahnya masam seperti biasa. Bau omega itu sudah hampir tidak ada, digantikan bau Erwin sepenuhnya. Sisi alfa si pirang ngakak bangga. Maksudnya, kita sedang membahas Levi Ackerman, manusia yang tiada duanya, mungkin minus status omeganya yang dalam perspektif beberapa orang dipandang sebagai status budak, mesin penghasil anak (atau yang Levi sebut dengan tuyul-tuyul nakal), namun Erwin tidak pernah memandang Levi demikian.
Levi adalah pria terhormat, dengan prinsip dan tabiat yang kuat. Ia menghormati Levi, memandang pria itu setara, meskipun pada beberapa momen senggama, Erwin merasa lebih tinggi ketika tubuh kecil itu dimainkannya bagai boneka; menggeliat, gemetar, mendesah tertahan.
Erwin mengusap wajahnya sendiri ketika membayangkan hal tidak pantas; dasar binatang.
Sambil duduk dengan kaki menyilang dan tangan mengangkat cangkir kasual, Levi berujar datar. "Kenapa tidak Moblit saja? Kalian sama-sama bodohnya."
Moblit.
Erwin dan Hanji menunjukkan reaksi yang serupa; menaikkan sebelah alis, keheranan.
Moblit adalah salah satu rekan kerja mereka, dan seorang beta. Sosoknya tidak begitu menonjol, ia adalah pekerja biasa. Mungkin sedikit tidak biasa karena pria itu cukup tahan dengan tabiat aneh Hanji; terlihat berusaha menempel terus pada si kacamata, tidak banyak pendekatan namun keduanya memang sudah 'dipandang' dekat. Erwin langsung mengerti mengapa Levi menyinggung Moblit. Spontan si pirang melirik beta di seberang, yang, wajahnya tidak terbaca, datar dan menaikkan bahu sekilas.
Levi menyeruput tehnya tanpa berkomentar lebih. Erwin masih melirik si beta, yang beberapa saat kemudian nyengir dengan wajah bersemburat. "Kalian tidak ada rencana kawin dan punya anak?"
Atensi Erwin berpindah karena Levi terbatuk-batuk, cukup berat. Hanji tertawa, menghampiri kawan cebolnya itu kemudian menepuk punggungnya, menenangkan. "kenapa kau kaget begitu, Levi?"
"damare, megane." Levi menepis tangan Hanji dari punggungnya. "uh, aku mengotori pakaianku."
"benar."
Tanpa aba-aba, Erwin angkat bicara. Dua manusia lain langsung menatapnya. Biru berlian memaku pekat jelaga yang mulai mengecil pupilnya. Mau tidak mau si alpha ikut kepikiran; menikah? Memiliki anak campur darah Ackerman? Levi Smith?
"tidakkah kau mau menikah denganku, Levi?"
Seperti dugaannya, pekat jelaga itu mengecil sempurna. Levi tercengang. Hanji tidak kalah tercengang.
Dengusan dikeluarkan, Levi memicingkan mata. "jangan terbawa suasana, sialan. Kita mated karena paksaan."
Erwin mengeryit tidak suka. "paksaan?"
Menyadari suasana mulai tidak menyenangkan, Hanji berusaha menyela. "oke, oke. Sepertinya aku bertanya hal yang salah." Si beta memandang dua sobatnya bergantian. "haha, tidak usah sampai out of character begitu."
Setelahnya, hening menyerang. Selama bertahun-tahun bersama, tiga manusia itu tidak pernah merasakan atmosfer awkward, kecuali sekarang. Si alpha terlihat sedikit panas, mungkin marah, tidak suka atas apa yang Levi utarakan. Levi sendiri masih tenang dan masam seperti biasa, cangkirnya sudah berada di atas meja, tangannya sibuk mengelap kemeja yang basah. Hanji? Wanita itu sempat terlihat bingung, masih menatap dua kawannya bergantian, kemudian berdiri dan tertawa keras.
"aku hanya bertanya, bertanya!" wanita itu berteriak. Suaranya menggema. Menarik perhatian. Namun dua manusia selain dirinya tidak memerhatikan.
Lima detik kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Hanji heboh sendiri, berseru hai hai sambil berlalu membuka pintu.
"Hanji." suara datar Levi menyela, menghentikan langkah Hanji yang segera menoleh lalu diam. Levi menengok ke belakang, pada wanita beta yang balas menatap, ekspresi keduanya tidak terbaca.
Hanji angkat bicara; "tidak, Levi. Jangan –"
"si brengsek ini suka padamu."
Satu kalimat yang sangat sakral akhirnya diutarakan. Satu kalimat yang menjadi titik terang dari berkabutnya hubungan alpha-omega itu, dari penyebab kenapa si beta tidak bisa lepas dari dinamik itu, penyebab kenapa Erwin tidak dapat menemukan judul yang tepat untuk hubungan mereka bertiga, dari penyebab kenapa Hanji senantiasa hadir di imaji Erwin. Disaat yang bersamaan, ketiganya merasakan bahwa dunia mereka runtuh seketika. Titel "sahabat, teman, sobat" tiba-tiba terasa ambigu, maknanya memudar, terasa sangat tidak jelas, terasa sangat tidak tepat. Belakang leher Levi terasa berdenyut, sedikit nyeri. Tanpa sadar alphanya itu berniat membatalkan "janji", di bawah impresi.
Sebelum ada yang bersuara, pintu ruangan keburu dibuka.
Levi mendengus kasar. Daridulu, ia tidak pernah berniat menjadi pemain. Ujung bibirnya berkedut.
"H-Hanji-san apa aku mengganggu?"
Ketika melihat tiga manusia di ruangan itu, Moblit merasa bahwa ia datang di waktu yang amat salah. []
.
Lanjut di part 2, kalau ada yang mau baca.
Vielen Dank,
ore
