Haikyuu! (c) Furudate Haruichi
[ no profit gained from this fanfiction ]
oneshot; MatsuHana; angst
.
.
[ day ]
Berpetualang dan mesra-mesra di jalan?
Ah, tahi kucing.
.
Serpihan rasa kecewa berakumulasi dalam benak Matsukawa Issei. Ditontonnya pemilik surai sewarna bunga sakura yang berajojing di tengah para tamu undangan. Barangkali urat malu sahabatnya itu sudah putus semenjak Aoba Johsai kalah dalam turnamen voli tahun-tahun silam. Sempat diliriknya sosok Iwaizumi Hajime yang duduk di sebelah seorang pria perlente . Matsukawa berharap bahwa objek lirikannya itu dapat menghentikan aksi ajojing yang membikin malu tiap raga yang mengenalnya. Termasuk Matsukawa. Berikut Iwaizumi. Dan si perlente, Oikawa.
Hanamaki Takahiro kelewat senang hari itu. Mukanya tidak terpolesi warna merah atau semu jingga efek mabuk-mabukan. Dua netranya tak nampak sayu apalagi mengantuk, terbuka segar dan memelototi tiap pasang mata yang menyaksikannya disana. Hanamaki Takahiro tentu dalam kondisi normal. Tidak ada tanda mabuk, keracunan, atau overdosis obat.
"Selamat atas pernikahanmu, Mattsun! Sialan, kau mendahului kami semuaaa!"
Ekspresi senang itu nampak benar-benar asli. Tulus dan begitu naif. Jauh dalam lubuk hati, Matsukawa ingin Hanamaki depresi. Atau sedikit menampilkan tanda-tanda kondisi buruk secara psikis meskipun hanya berupa shock kecil. Dari gerakan-gerakan ajojing yang Hanamaki tarikan, Matsukawa paham bahwa keinginannya sia-sia. Banyak dari tamu undangan mulai mengikuti Hanamaki dan tertawa bersama. Pesta pernikahan Matsukawa Issei berlangsung meriah.
"Apa dia temanmu, Matsu-kun?"
Mempelai wanita bertanya, lengan jas putih Matsukawa ditarik pelan.
"Benar. Dia Hanamaki. Sahabat baikku."
Tarian ajojing mulai berubah varian. Menjadi gerak asal-asalan diiringi siul dan tepuk tangan. Semua tamu merasa ikut senang. Dilihatnya Iwaizumi yang terpaksa bergabung setelah diseret Oikawa. Dua pria itu berdansa, saling berdekatan dengan muka sarat warna merah. Matsukawa tersenyum bengis. Lengan jasnya ditarik lagi.
"Matsu-kun, bukankah dua laki-laki yang dansa disana terlihat agak a –"
"Kita harus ikut. Kemarilah."
Pengantin baru turun dari singgasana, disambut hebat oleh tamu undangan. Hanamaki datang menjadi yang paling ribut, berteriak dan melompat-lompat lupa usia. Tamu lain gelak tertawa. Matsukawa mulai mengayun-ayunkan tubuh pengantinnya dengan netra tak lepas dari si surai merah muda. Yang lain menyelaraskan gerak dansa, Oikawa melirik Hanamaki dengan mata berkaca-kaca.
Jelas tidak beres. Si Hanamaki itu.
Makin lama gerakan dansa manusia-manusia itu makin senang tak terkendali. Siulan Hanamaki sudah bergoyang tanda serak, Matsukawa menarik napas keras dan melepaskan genggaman pengantinnya. Mempelai perempuan kaget lalu hendak bertanya, namun calon kepala rumah tangga itu sibuk berdesak-desakan kemudian tenggelam diantara tamu undangan.
"Kemari kau, sialan."
Matsukawa berharap Hanamaki depresi, karena ia juga depresi. Lengan Hanamaki ditarik paksa ke pusat kerumunan lantai dansa. Tubuh yang kurang siap itu direngkuh secepat satu embus napas, lelaki dengan nama panggilan Mattsun itu meringkukkan Hanamaki dalam pelukannya. Banyak dari tamu undangan yang berhenti dan diam menonton. Cukup heran untuk membedakan apakah aksi mempelai pria itu merupakan candaan, atau kelainan.
"wohoa, kau kenapa Mattsun?"
Matsukawa tidak perlu membalas. Tidak perlu. Dekapan sepihak itu ia uji akan bertahan berapa lama. Sisi baiknya, barangkali Hanamaki peka akan detak jantungnya yang sudah seperti gedoran ibu-ibu penagih utang. Sisi buruknya, ini adalah kali terakhir Matsukawa bisa mendekap tubuh manusia terkasihnya.
"Kau bajingan."
Matsukawa kaget bukan main ketika Hanamaki memegangi wajahnya kasar, kemudian membenturkan kepala cukup keras. Detik selanjutnya, benda kenyal yang sedikit kering menempel di bibirnya. Beberapa orang memekik, tertawa, bahkan bertepuk tangan. Lebih baik begitu, anggap ini semua candaan.
Maka Matsukawa tidak perlu menahan diri, segera memiringkan kepala dan menerobos mulut Hanamaki sedalam yang ia bisa. Iwaizumi dan Oikawa mematung. Dua manusia itu paham, bahwa dalam acara ini, baik Hanamaki maupun Matsukawa, sama-sama menjadi yang paling berduka. Oikawa hampir-hampir menangis jika saja kekasihnya tidak memerintah untuk mendekat pada mempelai wanita, menjelaskan kebingungan yang mendera.
"Santai saja, mereka hanya bercanda." seru Oikawa, diiringi senyum perlentenya.
Di lain pihak, Hanamaki rasanya ingin bunuh diri saja. Hari ini pernyataan cinta lalu besoknya undangan pernikahan, cuma Matsukawa yang berbuat sebajingan itu kepadanya. Namun lelaki bermimik malas itu memampirkan bibir di telinga, mengatakan sesuatu yang sebenarnya Hanamaki sudah duga;
"Tunggu beberapa bulan. Kita akan kabur bersama." , katanya.
Hanamaki melepaskan ciuman. Ekspresinya bilang : ah, tahi. Paling beberapa bulan yang Matsukawa sebutkan itu adalah waktu bagi benih-benih dari biji si keriting tumbuh di rahim istri. Jika saat itu memang tiba, maka Matsukawa sudah menemui penjara. Penjara bernama ayah yang wajib mengayomi anak istri, bukan menemani Makki untuk berkelana ke penjuru dunia seperti janji mereka saat jaman SMA. Masa muda itu ya, ampun naif, tidak tertolong. Siapa sangka Hanamaki benar-benar percaya bahwa mereka akan berpetualang dan bermesraan di jalan?
"tidak usah."
Tubuh bongsor itu didorongnya menjauh. Hanamaki tersenyum simpul.
"selamat atas pernikahanmu, Matsukawa."
Hanamaki meninggalkan tempat kejadian perkara. []
.
Aight. Jujur saya krisis nulis. Sekalinya nulis, pairing ini mulu. Kenapa. Ke-na-pa. Dan selalu kepikiran angst. Ditinggal nikah. Selingkuh. Netorare. Something wrong with me, huhu *sobs
Vielen Dank,
ore
