Daiya no Ace, ダイヤのA


Disclaimer:

-Fibromyalgia biasanya terjadi pada perempuan tapi dalam populasi gen selalu ada probabilitas

-Jumlah innings dan strike out Eijun based on Kenta Maeda saat Twins vs Brewers

-Profil eijun based on Dennis Serfate, highest paid NPB pitcher, play for SoftBank Hawks

This ff contain of panic attack, and chronic pain. Reader discreation is advised


ap.ri.o.ri — beranggapan sebelum mengetahui keadaan sebenarnya

.

.

Eijun meletakkan gelas birnya dengan kasar, berharap kekesalannya bisa hilang, namun nyatanya tidak. Harusnya malam ini dia bersenang-senang sebab hari ini adalah kemenangan timnya yang ketujuh secara berturut-turut, memimpin musim ini dengan total tiga puluh sembilan kemenangan dari enam puluh satu pertandingan. Ditambah lagi Eijun bermain delapan inning, hanya mengizinkan dua runner berada di base dan mendapatkan dua belas strike out. Hari ini Eijun membara, hari ini adalah hari terbaiknya.

Seharusnya dia merayakan hari ini bersama Kazuya, menikmati makan malam di restoran yang sudah dia pesan sejak dua bulan lalu, bertukar cerita sebab sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu karena Eijun tidak ingin ritme permainannya terganggu hanya karena bertemu Kazuya. Tapi malam ini adalah pengecualian, dia bisa bertemu dengan Kazuya karena dia akan diistirahatkan untuk tiga pertandingan mendatang. Eijun butuh Kazuya menemaninya selama seminggu untuk mengembalikan energinya.

Tapi lagi-lagi Kazuya membatalkan janji mereka. Eijun bahkan tidak tahu sudah berapa kali tahun ini Kazuya membatalkan janji mereka, Eijun lelah menghitung dan Kazuya akan terus membatalkan janji mereka dengan berbagai alasan.

Awalnya Kazuya hanya membatalkan janjinya untuk menonton pertandingan Eijun, terlalu banyak orang, kata Kazuya tadi ketika Eijun menanyakan alasannya. Eijun sempat berdecak kesal, tapi baiklah dia menerimanya, tanpa banyak protes, toh ingin protespun tidak akan membuat Kazuya berubah pikiran dan mendatangi Tokyo Dome. Namun begitu Kazuya juga membatalkan janji mereka untuk makan malam, Eijun tidak bisa lagi menahan rasa kesal dan marahnya. Dia lelah dan ingin bertemu dengan Kazuya sekarang juga, tapi Kazuya dengan mudahnya memutuskan panggilan begitu Eijun mengeluarkan protesnya.

Eijun menghela napas, pada akhirnya merasa sia-sia mendatangi bar hanya untuk segelas bir dingin untuk melampiaskan rasa kesal. Setelah gelasnya kosong, Eijun memutuskan untuk tidak berlama-lama di sana, lagi pula saat ini masih di tengah-tengah musim dan ahli nutrisinya sudah memperingatkan Eijun untuk tidak mabuk.

Eijun menolak dengan halus ketika bartender yang juga pemilik bar memintanya untuk berfoto bersama begitu menyadari bahwa Sawamura Eijunlah yang datang berkunjung. Dia memberikan tanda tangan berukuran besar untuk di pajang sebagai gantinya dan beberapa pujian mengenai bar ini.

"Silakan datang kembali." Pemilik bar itu bahkan bersedia untuk mengantarkan Eijun masuk ke dalam taksi dengan senyum lebar. Eijun hanya mengangguk pelan, terbiasa dengan ini semua.

Perjalanannya malam itu terasa sangat panjang. Eijun hanya ingin diam tanpa ada obrolan tapi sepertinya supir taksi yang ditumpanginya tidak berpikir demikian. Laki-laki paruh baya itu terus mengajukan pertanyaan entah itu mengenai apakah timnya mampu memenangkan Japan Series tahun ini hingga bagaimana bisa Eijun menpadapatkan kontrak senilai nyaris sembilan belas juta dollar untuk bermain selama tiga tahun di timnya sementara ada banyak pemain-pemain muda yang sedang naik daun. Eijun hanya menjawab singkat namun tetap sopan, setidaknya Eijun menerapkan apa yg diajarkan oleh pihak Public Relation padanya.

Eijun memberikan senyum komersil yang biasa dia berikan pada wartawan begitu membayar tagihan taksinya, dia pergi begitu saja, tidak memberikan kesempatan bagi laki-laki paruh baya itu untuk kembali bertanya. Dengan langkah besar, Eijun memasuki bangunan apartemen dan langsung menuju lift, dia mengenakan topinya dan menundukkan kepala agar tidak dikenali oleh siapapun meski tampaknya sia-sia karena jelas masih ada orang-orang yang mengenalinya.

Begitu lift berhenti di lantai tujuh belas, Eijun langsung menuju satu-satunya pintu yang ada di sana dan memasukkan password. Sunyi langsung menyambutnya, Eijun nyaris bisa mendengar suara napasnya sendiri karena ruangan besar ini terlalu sunyi.

Dengan langkah sedikit tergesa Eijun menuju kamar utama, ketika dia membuka pintu, hal pertama yang dilihat Eijun langsung meruntuhkan seluruh kesal, amarah dan egonya; Kazuya tertidur dengan CPAP mask.

Eijun meletakkan tasnya dengan asal dan mendekati Kazuya perlahan, khawatir setiap langkahnya akan membangunkan Kazuya kapanpun.

Rasa bersalah perlahan menyelimutinya, menyesal karena sudah membentak Kazuya ditelpon tadi. Eijun tidak pernah tahu bahwa Kazuya sedang kambuh, laki-laki itu tidak pernah memberitahunya. Bahkan setelah sekian tahun bersama, Kazuya tidak akan pernah mengatakan langsung padanya jika penyakitnya sedang kambuh kecuali jika Eijun bertanya.

"Eijun..?" Suara Kazuya nyaris terdengar seperti bisikan. Eijun mendekat dengan cepat, memberi tanda bahwa dia bisa melakukan apapun jika Kazuya yang meminta.

"Bantalku, please...," Tanpa menjawab, Eijun langsung menyelipkan tangannya di balik leher Kazuya dan merasakan bahwa leher dan bahu kekasihnya kaku. "Maaf jika sedikit tidak nyaman." Ujar Eijun pelan dan membenarkan letak bantal serta kepala Kazuya.

Eijun menghela napasnya pelan begitu Kazuya kembali tertidur. Lagi-lagi merasa bersalah begitu memikirkan sudah berapa lama Kazuya menahan rasa tidak nyaman karena bantalnya. Harusnya Eijun langsung pulang saja, tidak perlu mampir ke bar. Eijun juga baru menyadari ada obat anti inflamasi dan obat syaraf di meja nakas, tampaknya penyakit Kazuya sudah beberapa hari kebelakangan ini kambuh sehingga dia harus minum obat untuk mengurangi rasa sakitnya.

Eijun mengusap wajahnya kasar, besok pagi dia harus minta maaf dengan benar.

Setelah selesai membersihkan diri, Eijun memutuskan untuk beristirahat, meski awalnya sempat ragu, Eijun memutuskan untuk tetap tidur di samping Kazuya karena khawatir Kazuya terbangun di tengah malam dan membutuhkan bantuannya. Eijun berbaring dengan sangat pelan, khawatir setiap gerakan kecilnya akan mengganggu karena di saat seperti ini tidur adalah hal mewah bagi Kazuya dan Eijun mana mungkin sampai hati mengganggu.

Hingga bermenit-menit kemudian, Eijun masih belum bisa terlelap. Malam belum terlalu larut, namun tubuhnya lelah, berteriak minta diistirahatkan tapi matanya menolak untuk terpejam. Eijun mengubah posisinya, menatap Kazuya lekat-lekat, memperhatikan bagaimana dada Kazuya masih naik dan turun dengan ritme yang teratur.

Pikirannya melayang, memikirkan bagaimana Kazuya bisa seperti sekarang. Apa sejak awal Kazuya memang sudah sakit hanya saja tidak terdiagnosa dengan benar? Namun entah sejak kapanpun itu, Eijun sudah pasti tidak akan pernah melupakan kejadian nyaris dua puluh tahun yang lalu.

Final Summer Koshien pertama dan terakhir mereka sebagai pasangan battery, home run dari Kazuya di inning ke sembilan bawah berhasil mengantarkan Seidou menjadi juara. Seidou yang awalnya seri akhirnya berhasil memimpin dua angka karena home run sang kapten. Seluruh anggota tim bersuka cita, berhamburan dari dugout menuju home plate, memeluk Kazuya erat-erat, menangis tersedu-sedu. Namun hal itu segera digantikan oleh suara-suara panik. Pelatih Kataoka yang awalnya ikut meneteskan air mata bersama anak didiknya mendadak meminta seluruh anggotanya menjauh dari Kazuya dengan suara keras nyaris memekakkan telinga karena Kazuya terjatuh, kaki kanannya tegang bukan main, tremor luar biasa.

Dibantu oleh Pelatih Ochiai, Pelatih Kataoka memapah Kazuya langsung menuju ruang perawatan. Pemain lain termasuk Eijun diselimuti rasa kebingungan. Terlalu banyak emosi yang datang tanpa jeda yang cukup hingga mereka tidak tahu harus bagaimana, akhirnya petugas stadium meminta mereka untuk betistirahat sejenak sebelum penyerahan medali dan upacara penutupan.

"Pinggangku sakit sekali," begitu ujar Kazuya setelah ditangani oleh pihak medis, suaranya terdengar jenaka dan menyebalkan seperti biasa. Dia masih bisa bercanda bersama Youichi dan Kenta, namun saat itu Eijun tahu bahwa rasa sakit yang dialami Kazuya adalah serius.

Semuanya terlihat lancar-lancar saja, Kazuya tidak pernah pernah membahas rasa sakitnya. Hingga akhirnya Eijun mulai menyadari Kazuya berubah.

Tidak lama setelah pertandingan perpisahan, Kazuya mulai terlihat jarang latihan. Padahal sebelumnya dia masih rutin membantu Eijun menyempurnakan numbernya, membantu Satoru meningkatkan kontrol, bahkan turut membantu Youhei dan Hirofumi yang baru masuk ke dalam tim inti. Eijun juga sering kali mendapati Kazuya yang berlari diatas jam dua pagi dan mengeluh kepanasan padahal sudah bulan November.

Hingga di suatu pagi, hari dimana mereka semua berencana memberikan kejutan ulang tahun Kazuya yang ke delapan belas, mereka semua dikejutkan dengan wajah pucat Koushuu yang berlari seperti kerasukan menuju ruangan pelatih. Tidak ada yang berani bertanya apalagi menginterupsi, tapi mereka semua tahu bahwa ada yang tidak beres karena Pelatih Kataoka keluar dari ruangan pelatih dengan wajah yang tidak kalah pucat seperti Koushuu dan berlari tidak kalah gila menuju asrama. Eijun juga ingat Pak Ota langsung menelpon ambulans, dan Pelatih Kataoka keluar dari kamar dua ratus tiga dengan Kazuya di dalam gendongannya.

Mereka semua tercekat, Koushuu bahkan sampai terduduk. "Badannya dingin sekali, dia bilang semuanya terasa sakit dan dia belum tidur sama sekali." Begitu penjelasannya meski tidak ada satupun dari mereka yang bertanya, masih terlalu terkejut.

Latihan pagi mereka dibatalkan, Pelatih Ochiai yang diminta mengawasi anak-anakpun tidak sampai hati untuk menyuruh mereka latihan setelah kejadian itu.

"Aku menemaninya saat mengunjungi dokter Higuchi tidak lama setelah kita kembali," Ujar Youichi yang saat itu membantu Pelatih Ochiai. Latihan sore mereka tentu tidak kondusif, apalagi Pelatih Kataoka belum memberikan kabar apapun. "Dokter Higuchi bilang itu kram otot biasa, tidak ada pembengkakan, tidak ada cedera."

Lidah Eijun kelu, dia yang biasanya ribut mendadak tidak mampu mengucapkan apapun.

Setelah latihan dan makan malam, tidak ada satupun dari mereka yang meninggalkan ruang makan, semuanya menunggu kedatangan Kazuya dan Pelatih Kataoka.

"Apa-apaan, ternyata kau sehat-sehat saja." Youichi menendang pelan pinggang Kazuya, sementara Kazuya hanya tertawa seolah kejadian tadi pagi adalah kebohongan belaka.

"Semuanya, tolong dengarkan Miyuki, ada yang harus dia sampaikan." Ucapaan Pelatih Kataoka langsung membuat semua anak-anak yang awalnya bersorak kembali diam dan hening.

"Coach, kurasa tidak—" Kazuya tidak bisa menuntaskan kalimatnya, sudah lebih dulu terintimidasi oleh tatapan tajam pelatihnya. "Jadi intinya aku sakit—"

"Sakit apa? Parah? Kapan bisa sembuh?" Kenta langsung berdiri, memotong penjelasan Kazuya. Meski tindakannya bodoh, namun dari suaranya terdengar rasa khawatir yang tulus. Dia baru kembali duduk setelah Pelatih Kataoka juga menatapnya dengan tajam.

Kazuya tersenyum kecil, diam-diam merasa agak tersentuh. "Fibromyalgia." Ujarnya singkat, dan dibalas tatapan kebingungan seluruh anggota timnya. "Kalian ini sungguh merepotkan."

"Miyuki," tegur Pelatih Kataoka karena sejak tadi Kazuya sama sekali tidak menjelaskan dengan benar.

"Semua tulang dan ototku bermasalah. Aku tidak bisa bermain baseball seperti biasanya, setidaknya untuk saat ini."

Ruangan itu kembali terdengar gaduh, semuanya tampak penasaran namun tidak ada yang berani bertanya hingga Eijun mengangkat tangannya. "Apa bisa sembuh?" Tanyanya setelah Kazuya mempersilahkan.

"Tidak," Kazuya menggelemg kecil, "tidak ada obatnya." Ruangan kembali sepi tanpa suara, Kazuya bisa menangkap tatapan tidak percaya, kebingungan dan iba dari teman-temannya. "Tidak bisa sembuh memang, tapi ada kemungkinan aku bisa kembali bermain baseball, aku hanya perlu berlatih. Kemampuanku untuk menggenggam menurun drastis."

Eijun tertegun, itu sebabnya dia beberapa kali melihat mitt Kazuya bergeser tiap kali Satoru melemparkan fastballnya, itu sebabnya Eijun sering kali melihat Kazuya berlatih dengan hand grip di waktu senggang.

Sisa waktu malam itu dihabiskan Kazuya untuk menjelaskan lebih detil tentang penyakitnya. Kazuya mengatakan akan ada saat di mana dia merasa kelelahan tanpa sebab, sakit otot ataupun sendi secara tiba-tiba tanpa petingatan, kondisinya saat ini sangat jauh dari ideal untuk bermain sebagai catcher yang mengharuskannya untuk berada di posisi squat selama sembilan inning. Kazuya juga mengatakan bahwa sebelumnya dia sudah memeriksakan diri ke rumah sakit tanpa sepengetahuan pelatih, namun hasilnya belum jelas dan baru tadi sore Kazuya resmi didiagnosa dengan fibromyalgia. Malam itu juga Eijun belajar bahwa Kazuya adalah seorang penyandang bukan seorang penderita sebab penyakit yang dimiliki Kazuya akan terus bersama Kazuya selamanya.

Dari sudut matanya, Eijun bisa merasakan para manajer tampak gelisah. Mereka sudah membuat dua loyang kue super besar untuk merayakan ulang tahun Kazuya bersama seluruh anggota tim, namun tampaknya kue itu tidak akan bisa dimakan malam ini, atau lebih parahnya, tidak bisa dimakan sama sekali karena seluruh anggota tim terlalu kalut.

Setelah menyelesaikan penjelasan dan menjawab semua pertanyaan, Kazuya menghampiri para manajer lalu menepuk bahu Sachiko pelan. "Terima kasih," suaranya terdengar pelan namun Sachiko bisa mendengarnya dengan jelas. "Tapi aku lelah sekali, rayakan tanpa aku, oke?"

Kazuya pergi begitu saja dan tidak ada yang sanggup menghentikannya. Malam itu, mereka merayakan ulang tahun Kazuya yang ke delapan belas tanpa Kazuya.

Setelah malam itu, tidak ada keributan apapun. Mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, namun yang Eijun sadari adalah frekuensi Kazuya membantu para pitcher berlatih perlahan berkurang hingga nyaris tidak sama sekali.

Dalam sekejap mata Januari tiba dan media gempar dengan keputusan Kazuya yang lebih memilih bermain di liga kampus ketimbang bermain di liga major meski ada banyak tim profesional yang jelas-jelas menginginkan Kazuya sebagai catcher di tim mereka. Miyuki Kazuya adalah pemain yang paling diinginkan dan fakta bahwa dia menolak semua tim yang merekrutnya jelas merupakan berita besar dan membawa kekecewaan luar biasa bagi para penggemar baseball dan sponsor. Dengan bantuan para pelatih, Kazuya bisa lolos dari serangan bertubi-tubi awak media, pernyataan resmi dari pihak Seidou adalah Kazuya ingin bermain dan kuliah di saat yang sama meski Eijun tahu alasan sebenarnya adalah Kazuya sudah tidak mampu lagi untuk bermain sebagus biasanya.

"Jangan terlalu banyak menolak sign, Okumura punya sense yang bagus, jangan meremehkannya." Ujar Kazuya di hari kelulusannya ketika mereka mendapatkan waktu untuk bicara berdua saja tanpa gangguan siapapun. "Kau mengacau di Senbatsu pertamamu, jadi jangan ulang kejadian konyol itu lagi."

"Kazuya...,"

Kazuya mengabaikan panggilan Eijun, memilih untuk terus berbicara. "Bantu Asada dan Kuki, mereka cukup menjanjikan. Kalau bisa, tolong ajarkan mereka two-seamer dan curveball milikmu, sepertinya mereka tertarik."

"Kazuya!!"

"Aku di sampingmu, tidak perlu berteriak." Balas Kazuya santai.

Tanpa izin, Eijun langsung memeluk bahu Kazuya dan menumpahkan semua air mata yang sudah dia tahan sejak tiga bulan terakhir ini. Kazuya tidak menolak pelukan itu, namun juga tidak membalasnya. Dia sibuk menatap langit cerah di atas mereka, enggan ikut meneteskan air mata bersama Eijun.

.

.

.

to be continued