Daiya no Ace, ダイヤのA
Trigger Warning: chronic pain, mention of certain drugs for medication purposes
.
.
READERS DISCRETION IS ADVISED
klan.des.tin — secara rahasia; secara gelap; secara diam-diam
.
.
.
Kazuya tahu bahwa ada yang salah dengan dirinya sejak dulu. Setidaknya dia paham bahwa dia tidak baik-baik saja setidaknya saat dia sudah menginjak tahun pertamanya bermain di Liga Senior.
Awalnya Kazuya tidak ingin memberi tahu ayahnya, bagaimanapun juga ayahnya adalah orangtua tunggal yang bekerja dan saat itu Kazuya merasa bahwa ayahnya tidak butuh beban lain lagi. Meski pada akhirnya Kazuya tidak lagi bisa menyembunyikan rasa sakitnya.
Malam itu, ayahnya yang baru saja pulang bekerja masuk ke kamarnya dan mendapati Kazuya yang masih belum tertidur. Kazuya mengatakan bahwa kepala dan lehernya sakit, ayahnya berniat membawanya ke klinik dua puluh empat jam saat itu juga tapi Kazuya menolak, beralasan bahwa itu hanya sakit biasa. Ayahnya tidak berkata apapun, hanya menghela napas pelan dan keluar dari kamarnya.
Tapi keesokan paginya, saat Kazuya sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, ayahnya yang tidak pernah terlihat di pagi hari tiba-tiba sudah menunggunya.
"Jangan makan sarapanmu, kita ke rumah sakit sekarang." Begitu kata ayahnya. Suaranya yang tenang tanpa emosi terdengar sebagai perintah di telinga Kazuya.
Kazuya tidak berniat untuk melawan, dia ingin membuat semuannya menjadi lebih mudah. Maka dari itu, dia tidak bersuara ketika ayahnya membawanya ke rumah sakit dan meminta pemeriksaan menyeluruh. Proses yang panjang dan lama justru membuat Kazuya sesak, dia ingin cepat selesai dan beristirahat di rumah karena tidak mungkin lagi ke sekolah.
"Semuanya normal dan sehat, Kazuya-kun pasti berolahraga dan makan yang teratur." Ujar dokter paruh baya ketika membaca semua hasil tesnya.
"Lalu bagaimana dengan sakitnya?" Pertanyaan ayahnya membuat Kazuya sedikit khawatir.
"Growing pains, rasa sakit yang sering kali muncul pada anak-anak di masa pubertas, bukan hal yang membahayakan."
Kazuya menghela napas lega. Setidaknya dia tahu bahwa dia tidak sakit. Meski ayahnya tampak tidak puas, ayahnya menerima semua hasil tanpa protes.
"Katakan pada Ayah jika kau merasa sakit lagi." Ujar ayahnya setelah mengantar Kazuya kembali ke rumah. "Beristirahatlah." Suara ayahnya terdengar kaku, namun Kazuya tahu bahwa ayahnya memang khawatir.
Karena tahu bahwa rasa sakit yang dia alami adalah karena pubertas, Kazuya tidak lagi banyak memikirkan rasa sakitnya yang selalu datang tiba-tiba bahkan ketika dia sedang bertanding. Kazuya dipaksa untuk menahan sakit dan tetap fokus. Dipaksa untuk menjaga alur permainan sementara pinggang dan bahunya sakit luar biasa jika dia bergerak sedikit saja.
Meski menyakitkan—secara harfiah—Kazuya bisa beradaptasi seiring berjalannya waktu. Dia bisa bermain di Liga SMA tanpa masalah berarti. Bahkan ketika cedera yang dialaminya di semi final turnamen musim gugur, tidak menghalanginya untuk bermain dengan baik.
Namun saat memasuki tahun terakhirnya di SMA, Kazuya merasa bahwa sakit yang dia rasakan semakin parah dan semakin sering muncul. Ditambah lagi dia mulai sering migrain, kepanasan tanpa sebab, kakinya selalu bengkak di pagi hari dan tidurnya mulai terganggu.
"Asal kau tahu saja, dengkuranmu itu mengganggu." Kazuya yang sedang membersihkan mittnya dikagetkan dengan pernyataan Koushuu yang mendadak. Dia melirik ke arah Kimura meminta konfirmasi, namun adik kelasnya itu menggeleng. "Aku selalu tidur lebih dulu."
Kazuya tertawa kecil, "sori, harusnya kau bangunkan saja aku." Kazuya kembali tertawa, berusaha menutupi kegugupannya. Sebenarnyapun dia sudah merasakan bahwa tidurnya tidak berkualitas. Dia selalu mengantuk di kelas padahal sebelumnya dia tidak pernah sama sekali, juga akhir-akhir ini dia selalu terbangun saat tengah malam dan terbatuk seolah-olah dia tidur dalam keadaan tercekik.
Mulai diselimuti kekhawatiran, Kazuya mengunjungi dokter Higuchi tanpa sepengetahuan para pelatih. Sama seperti pemeriksaannya lima tahun lalu, Dokter Higuchi mengatakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Beliau mengatakan mungkin alasan tidur Kazuya yang tidak berkualitas adalah karena stress dan panik akan babak kualifikasi yang sudah di depan mata. Dokter Higuchi menyarankannya untuk mengendalikan stress dan tidur menyamping agar jalur pernapasannya tetap terbuka.
Meski lega karena ternyata dia baik-baik saja, Kazuya tetap tidak puas, namun dia tidak punya waktu memikirkan hal ini. Dua hari kedepan Seidou sudah memasuki babak kualifikasi dan lagi-lagi Kazuya dituntut untuk tetap fokus dan mengutamakan kepentingan timnya diatas kepentingan pribadi.
Sama seperti musim panas sebelumnya, bukan Seidou namanya jika tidak ada anggota tim inti yang cedera selama pertandingan. Seolah kekhawatiran akan rasa sakit yang bisa saja datang tiba-tiba saat pertandingan belum cukup, kini Kazuya harus memikirkan bagaimana tim bisa tetap stabil setelah Norifumi harus absen karena cedera tepat sehari sebelum semi final.
"Aku tidak sepertimu!" Norifumi terdengar emosi karena Kazuya memintanya untuk tidak memaksakan diri dan beristirahat. "Aku tidak berniat melanjutkan baseball, aku ingin mengerahkan semua yang kumiliki saat ini meski itu akan menghancurkan tubuhku."
Kazuya mendadak kaku setelah mendengar pernyataan Norifumi, bahkan untuk pertama kalinya, dia tidak bisa membantah.
Malam itu Kazuya tidur lebih larut daripada biasanya, memikirkan kalimat dari Norifumi. Apakah Kazuya ingin melanjutkan baseball hingga tim profesional? Sudah pasti. Bayangkan saja tim bergengsi seperti Yomiuri Giants, Softbank Hawks, Nippon-Ham Fighters, dan Eagles Rakuten sudah menemui Pelatih Kataoka untuk berbicara dengan Kazuya agar dia bisa mempertimbangkan untuk menerima salah satu tim. Rei bahkan menggodanya bahwa ada satu tim yang bersedia membayarnya tiga sampai empat kali lipat lebih tinggi daripada bayaran rookie pada umumnya agar Kazuya menerima tawarannya. Mereka bilang Kazuya adalah aset, berlian yang sudah terpoles sempurna, sponsor akan datang tanpa perlu proposal jika Kazuya masuk salah satu tim tersebut.
Bohong besar jika Kazuya bilang bahwa dia tidak menikmati semua sorotan ini. Faktanya, dia menyukainya. Walau tidak pernah diperlihatkan secara gamblang, Kazuya selalu tersenyum kecil ketika Pelatih Kataoka harus memberi batas pada awak media yang ingin mewawancarainya, Kazuya suka semua sorotan yang ditujukan padanya. Maka dari itu, menerima tawaran salah satu tim terdengar menggiurkan.
Tapi apakah Kazuya bersedia mengerahkan segalanya demi baseball? Jawabannya adalah tidak. Kazuya menyukai baseball, tapi bukan berarti dia bersedia menghancurkan tubuhnya untuk baseball. Dia bermain baseball karena dia menyukainya, dan beruntungnya Kazuya cukup bagus dalam hal itu.
Malam berlalu begitu saja, Kazuya bahkan tidak tahu apakah dia tidur atau tidak. Kepalanya sibuk memikirkan semua kemungkinan hingga lehernya terasa kaku lagi ketika mereka sudah berada di bus menuju Jingu Stadium.
"Wajahmu pucat." Kazuya sempat berhenti memasang protectornya sejenak lalu tertawa kecil. "Kau mengkhawatirkanku?" Koushuu berdecak kesal, lupa bahwa Miyuki Kazuya adalah orang brengsek.
"Tidak perlu khawatir oke." Kazuya kembali tertawa sambil menepuk pundak Koushuu, anak itu langsung menepisnya kemudian tertegun karena tangan Kazuya sangat panas namun tidak terlihat ada keringat di wajahnya.
Kazuya hanya tersenyum kecil, memasang masknya lalu keluar dari dugout sebelum Koushuu memberi prasangka lebih jauh lagi. Ada hal yang lebih penting dari pada kondisinya saat ini.
Mengutamakan kepentingan di atas kepentingan pribadi adalah hal yang Kazuya bisikkan padanya secara repetitif setiap kali pikiran untuk minta digantikan muncul di kepalanya. Kadang ada saatnya dimana rasa sakit yang muncul terlalu hebat dan Kazuya ingin menyerah dan ingin beristirahat di dugout, namun dia mengeraskan hati.
Koushuu dan Kaoru berbakat, Kazuya yakin bahwa mereka berdua lebih dari cukup untuk menggantikannya, tapi bayangan akan dua adik kelasnya yang membawa tim menuju Koshien membakar hatinya, menyakiti egonya.
Ah, apakah ini yang di rasakan oleh Nori? Pikir Kazuya ketika pinggangnya lagi-lagi berdenyut namun dia tetap bersikeras untuk berada di home plate. Sama seperti Eijun dan Satoru yang enggan memberikan mound, Kazuya pun sama. Dia enggan memberikan home plate pada siapapun.
Berkat egonya, Kazuya berhasil mengantarkan timnya menuju Koshien, tangis haru pecah, akhirnya Seidou bisa kembali merasakan musim panas di Koshien setelah tujuh tahun tidak.
Seidou berhasil mengalahkan Inashiro setelah kalah dua musim panas berturut-turut. Di inning ke sembilang bawah, Inashiro gagal mencetak angka dengan Eijun yang mendapatkan tiga strike out dengan tiga belas kali lemparan. Kazuya berlari secepat yang dia bisa menuju mound dan memeluk Eijun erat-erat. Final pertama mereka sebagai pasangan battery utama.
Ketika euforia surut, dan akal sehat kembali didapatkan, Kazuya akhirnya disadarkan bahwa dia harus bermain setidaknya enam pertandingan lagi. Koushuu dan Kaoru tidak bisa ikut bertanding karena nomor punggung mereka, Hiroshi tidak bisa menggantikannya karena cederanya dan sibuk mengurusi pitcher untuk pemanasan di bullpen.
Kazuya sendirian.
Kazuya mendapati tangannya bergetar halus ketika menyadari bahwa dia sendiri yang harus menopang tim. Keringatnya mulai muncul, dadanya terasa berat dan napasnya sesak.
"Kau oke?" Youichi mendekati Kazuya yang sedang duduk di ujung kasur. "Besok pertandingan pertama kita, kau harus tidur—" Youichi gagal menyeledaikan kalimatnya begitu melihat Kazuya yang pucat pasi, dengan tangan bergetar, keringat bercucuran dan napas pendek. "Kupanggil Co—" harusnya cengkraman lemah Kazuya di lengannya membuat Youichi ragu untuk memanggil pelatih karena dia tahu bahwa Kazuya masih memiliki tenaga untuk melawan, tapi dia merasakan tangan Kazuya dingin seperti baru saja menggenggam es.
Pelatih Kataoka datang tak lama kemudian bersama Rei.
"Aku baik-baik saja," Kazuya masih mencoba mengatur pernapasannya. "Hanya sedikit—" Kataoka langsung menangkap Kazuya yang nyaris terjatuh.
Youichi terdiam melihat kondisi Kazuya, tidak mampu berkata apa-apa ketika melihat Pelatih Kataoka membantu Kazuya untuk bersandar.
"Miyuki, lihat aku." Kazuya tanpak tidak fokus. Pelatih Kataoka menyeka keringatnya dan menahan kepala Kazuya agar mata mereka bertemu. "Kau tahu di mana kita?"
"Amagasaki..., Central?" Kazuya mencoba untuk mengingat nama hotel mereka. Pelatih Kataoka masih belum melepaskannya, sesekali kembali menyeka keringatnya lagi.
"Tarik napasmu," Kazuya menuruti perintah pelatihnya. "Hembuskan lewat mulut seperti kau sedang bersiul."
Pelatih Kataoka menginstruksikannya hingga beberapa kali, namun napas Kazuya masih pendek dan keringatnya masih bercucuran.
"Bisa tolong sebutkan lima benda yang bisa kau lihat?" Kazuya menggeleng, dia hanya ingin menjauh dan bernapas dengan benar. "Aku ingin membantumu, Miyuki. Lima benda, _please?_"
Kazuya memejamkan matanya, mendadak lupa bagaimana cara berbicara. "Lemari..., kasur, pendingin ruangan, meja, kursi."
"Oke selanjutnya, apa kau bisa sentuh empat objek disekitarmu?"
Kazuya mendadak berpikir, memikirkan apa yang harus dia sentuh. Dia menyentuh teko elektrik, lampu tidur, bantal yang ada di sampingnya lalu tangan Pelatih Kataoka yang tidak lagi menahan kepalanya. Ketika tangan Kazuya merasakan telapak tangan pelatihnya yang penuh dengan kalus dan kasar, rasa berat di dadanya perlahan menghilang dan rasionalitas kembali masuk ke dalam otaknya.
Kazuya memejamkan erat matany, mulai merasa malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Maaf, Coach."
Baik, Pelatih Kataoka, Rei dan Youichi, mereka semua menghela napas lega.
"Kupikir kau akan mati di kamar ini." Gurau Youichi ketika tidak ada lagi suasana tegang.
"Aku bahkan sampai tidak bisa melakukan apapun." Rei yang juga ikut tegang kini sudah bisa tertawa kecil bersama Youichi.
"Kudengar dari Dokter Higuchi, kau punya masalah tidur." Pelatih Kataoka memberikan segelas air pada Kazuya setelah Kazuya sudah bisa diajak bicara. "Letakkan bantal di sisi kiri dan kananmu secara berdempetan, ini caraku dulu untuk membiasakan tubuhku untuk tidak tidur terlentang."
Kazuya meneguk airnya hingga tandas lalu mengangguk dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Pelatih Kataoka mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya kembali di atas meja. "Apa yang membuatmu takut, Miyuki?"
"Mengacau." Jawabnya. "Aku takut aku akan mengacau."
"Kau punya banyak kekurangan, tapi mengacau bukan salah satunya. Setidaknya itu yang kuketahui tiga tahun ini." Youichi dam Rei tahu bahwa tidak ada kebohongan di dalam kalimat Pelatih Kataoka, Kazuya memang tidak pernah mengacau.
"Lagi pula memangnya kenapa kalau kau mengacau?" Kazua tersentak, tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini. "Kau punya Kuramochi, Shirasu, Zono, dan seluruh anggota tim. Tidak ada salahnya jika kau mengacau karena anggotamu akan membereskannya."
Kazuya menatap Youichi dan dibalas oleh anggukan konformasi oleh Youichi.
"Apa karena ini Koshien?" Pelatih Kataoka bertanya lagi namun Kazuya merasa tidak perlu menjawabnya. "Lalu kenapa jika ini adalah Koshien? Koshien memang hebat, tapi aku tidak ingin kau bermain seolah-olah kau akan mati jika kau kalah."
Meski kalimat itu ditujukan untuk Kazuya, Youichi yang sejak tadi menyimak juga merasa bahwa kalimat itu juga berlaku untuknya.
"Kau memang tidak ke Koshien untuk bersenang-senang, tapi apa gunanya jika kau tidak menikmati setiap pertandingan?"
Kazuya meremas bantal yang ada di sebelahnya. Setelah dia pikir-pikir, sebelum ini dia bermain persis seperti apa yang dikatakan oleh pelatihnya. Kazuya bermain seolah-olah akan mati jika dia kalah.
"Maaf, Coach." Hanya itu yang bisa Kazuya ucapkan.
Pelatih Kataoka mengelus lengannya pelan lalu beranjak dari kasur. "Nikmati setiap pertandingan yang kau hadapi, Miyuki. Ini musim panas terakhirmu, mari kita bersenang-senang."
Kazuya dan Youichi bertukar pandang ketika Pelatih Kataoka da Rei keluar dari kamar mereka. Youichi yang pertama kali memutuskan kontak mata mereka, dia naik ke atas kasurnya dan masuk ke dalam selimut memunggungi Kazuya yang masih bersandar.
"Tidurlah, pertandingan pertama adalah pertandingan yang paling penting."
Kazuya tersenyum kecil, diam-diam merasa lega karena dia tidak perlu mengatakan pada Youichu untuk tutup mulut sebab Youichi akan melakukannya tanpa perlu diminta.
Paginya Youichi bersikap bahwa Kazuya tadi malam tidak pernah ada. Saat di bus, membicarakan tim yang akan mereka hadapi hari ini dengan santai. Kejadian malam itu benar-benar hanya diketahui oleh Youichi, Pelatih Kataoka dan Rei.
Semuanya berjalan tanpa ada kesulitan berarti. Mereka memenangkan pertandingan demi pertandingan, dan Kazuya menikmati semua pertandingannya, bahkan dia mencetak home run dan RBI yang cukup mengagetkan.
Tapi meskipun Kazuya menikmati pertandingannya, bukan berarti sakit yang dia rasakan hilang begitu saja. Kazuya tetap merasakan sakit mendadak di tengah pertandingan, bahkan semakin memburuk. Setiap dia bangun, dia selalu mendapati kakinya bengkak dan sendi-sendinya kaku. Beruntung Kazuya bisa menutupi hal ini dengan kaus kaki dan sendal.
Kazuya mengeraskan hatinya. Dia masih bisa bersenang-senang meskipun semua sendinya sakit. Dia masih bisa mengkap bola Eijun dan Satoru meski ototnya kaku. Dia masih bisa melakukannya. Sebab jika bukan dia, siapa lagi? Perlahan Kazuya menyadari bahwa ini bukan lagi sekedar egonya sebagai catcher, tapi juga tanggung jawabnya sebagai kapten.
Lalu hari itu tiba, hari yang paling mendebarkan. Mereka berhasil bertahan hingga final. Satu pertandingan lagi dan Kazuya bisa beristirahat. Satu pertandingan lagi, apapun hasilnya, Kazuya akan kembali memerikasakan diri ke rumah sakit.
Seperti melengkapi euforia final mereka di Koshien, Kazuya sudah merasakan otot pahanya nyeri sejak inning satu atas. Keringatnya bercucuran tidak masuk akal, memaksa Kazuya untuk tidak pernah lupa minum setiap kali kembali ke dugout. Rasanya kemungkinan dia tumbang karena dehidrasi lebih tinggi daripada karena sakit ototnya.
Di pertengahan _inning, Kazuya sudah merasa bahwa rasa sakitnya mulai mempengaruhi kualitas permainannya. Kazuya tidak mampu mengangkat mittnya yang menggenggam bola Eijun untuk masuk ke dalam zona strike, ini pertama kalinya Kazuya gagal dalam framming sepanjang turnamen ini.
Lalu kesalahan keduanya adalah dia terlambat menginstruksikan Eijun untuk melempar bola ke base pertama, sementara mereka sudah tertinggal satu angka. Tidak ada yang menyalahkannya memang, bahkan Kazuya ragu ada yang menyadari kesalahannya ini, tapi tetap saja dia mulai merasa bersalah pada Eijun.
Di inning delapan bawah, mereka bisa menyamakan kedudukan karena Shinji. Tapi Kazuya tetap tidak bisa tenang karena mereka masih belum bisa memimpin.
Kazuya nyaris kehilangan fokus di inning sembilan atas karena otot pahanya semakin sakit dan kini menjalar ke punggung sehingga melakukan squat membuatnya meneteskan air mata. Kazuya berteriak dalam hati setiap kali menangkap bola Eijun karena pergelangan tangannya juga mendadak sakit. Kazuya benar-benar menangis ketika dia harus melempar bola menuju base ke dua, utungnya air matanya disembunyikan oleh keringatnya.
Kazuya beruntung mereka tidak kecolongan angka di inning ini, dan dia bertekad untuk menyelesaikan semuanya di inning sembilan bawah. Dia tidak ingin ada inning tambahan, dia ingin semua pertandingan ini selesai sekarang juga.
Kazuya memaksakan dirinya, ketika dia berjalan menuju batter box, kalimat Norifumi terngiang-ngiang di telinganya. Bahwa dia akan mengerahkan semuanya untuk saat ini, tidak peduli jika tubuhnya hancur. Kalimat Norifumi terus terputar seperti kaset rusak, Kazuya bahkan tidak mendengar teriakan Kenjirou dan Haruichi yang sudah lebih dulu ada di base. Dia mengincar lemparan awal, tidak peduli itu ball atau strike, Kazuya akan tetap mengayun.
Tepat dilemparan pertama, Kazuya mengayunkan batnya sekuat tenaga, dan bola melambung jauh hingga bola menabrak monitor yang ada di Stadium Koshien.
Home run.
Kazuya menjatuhkan batnya, berlari menuju base dengan sakit yang bahkan Kazuya sendiri sudah tidak tahu lagi dari mana asal sakitnya. Apakah itu otot pahanya? Atau mungkin pinggangnya? Ah, entahlah, Kazuya tidak tahu.
Yang Kazuya tahu adalah ketika dia menginjak home plate, teman-temannya menghampirinya, namun Kazuya sudah lelah. Dia lelah karena memaksakan diri untuk tetap waras selama sembilan inning menahan sakit.
Kazuya yakin bahwa dia pingsan, tapi jujur saja, yang bisa dia ingat hanya ketika dia sudah berada di ruang medis ditemani Pelatih Kataoka, Rei dan bahkan Pelatih Ochiai. Mereka semua tampak panik, dan Kazuya yakin dia telah mengacau.
"Kita menang..., iya kan?" Kazuya membutuhkan konformasi sebab dia tidak yakin. Agaknya Kazuya khawatir bahwa home run tadi hanya halusinasinya karena sudah menahan sakit terlalu lama.
Namun ketimbang jawaban, yang didapatkannya adalah sebuah pelukan erat dari Pelatih Kataoka.
"Terima kasih," Pelatih Kataoka mengusap bahunya kuat, "maaf telah membebanimu."
Kazuya tersenyum singkat, dan tertawa kecil. Dia berusaha agar tidak terlalu larut dalam situasi.
Tak lama kemudian, tim medis kembali masuk dan berbicara dengan Pelatih Kataoka. Setelah mendengarkan penjelasan tim medis mengenai kondisinya, Kazuya merasa tidak punya alasan untuk menetap di ruang kesehatan.
Dia cukup sehat untuk ikut merayakan upacara penutupan Koshien dan pemberian medali. Kazuya tampak sangat sehat sehingga dia bisa ikut dalam acara makan malam di hotel tempat mereka menginap. Youichi bahkan menendangnya lagi, namun Kazuya tidak merasakan sakit yang berlebihan.
Di dalam riuh rendah acara malam itu, Kazuya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Apa kau baik-baik saja?" Eijun yang entah dari mana datangnya kini duduk di sebelahnya tanpa izin. Kazuya hanya tergelak. "Aku sangat sehat, tapi aku tidak keberatan jika diberi satu atau dua ciuman sebagai hadiah kemenangan."
Wajah Eijun merah seketika lalu dengan reflek menendang tulang kering Kazuya. "Jangan bercanda!"
"Aku minta cium bukan tendang!" Protes Kazuya sambil mengelus bekas tendangan Eijun yang lumayan menyakitkan. Dia terlalu banyak dapat tendangan hari ini.
"Oh ya, splittermu hari ini tidak terkontrol. Kau harus memperbaikinya, bagaimanapun juga turnamen musim gugur sebentar lagi, kuharap kau tidak puas dengan pencapaianmu hari ini." Eijun berhasil bermain sembilan inning dengan stabil tapi tetap saja ada beberapa masalah kecil yang untungnya bisa ditutupi oleh Kazuya. Oleh karena itu Kazuya tidak bisa meminta terlalu banyak splitter hari ini, membayangkan betapa gilanya kontrol Eijun untuk splitter, membuat Kazuya merinding.
"Tentu saja tidak!!"
"Tidak perlu berteriak, aku di sampingmu." Ternyata meski sudah lebih dari dua tahun mengenal Eijun, Kazuya masih sering kali belum terbiasa dengan teriakan Eijun yang tiba-tiba, tapi bukan berarti Kazuya tidak menyukainya. Malah hal itu yang membuat Kazuya betah berlama-lama bersama Eijun.
Kazuya tertegun ketika mendapati Eijun menggenggam tangannya di bawah meja. Dia kembali tertawa kecil.
"Kenapa? Tidak boleh?" Gumam Eijun, menolak menatap Kazuya karena malu.
"Boleh juga," sahut Kazuya. Dia melepaskan genggaman tangan mereka lalu kembali menautkan setiap jari, menggenggam tangan Eijun lebih erat dari sebelumnya.
Untuk saat ini, bergenggaman tangan sudah cukup. Mereka tidak bisa berbuat banyak, mereka berdua sudah sepakat untuk menutupi semuanya setidaknya sampai Eijun lulus, meski besar kemungkinan mereka akan terus menutupinya setelah Eijun lulus. Kazuya sendiripun tidak merasa perlu untuk mengumumkan hubungan mereka, karena pada dasarnya yang menjalani ini semua adalah dia dan Eijun, interupsi pihak luar tidak diperlukan. Dan kagetnya, Eijun menyetujuinya tanpa banyak protes. Sama seperti Kazuya, yang Eijun inginkan adalah mereka bisa bersama.
Malam itu, saat anak-anak lain memutuskan untuk tetap terjaga hingga larut malam, mereka memisahkan diri dari keramaian, duduk santai di taman hotel agar setidaknya mereka bisa menikmati malam terakhir mereka di Hyogo hanya berdua saja sebelum besok harus kembali lagi ke Tokyo.
"Sudah menentukan tim mana yang akan kau tuju?" Eijun merapatkan tubuhnya, ingin lebih dekat lagi dengan Kazuya.
Kazuya menggeleng. "Tidak perlu terburu-buru, masih ada banyak waktu." Kazuya menatap lurus jauh ke depan, menatap gelapnya taman di malam hari. Tanpa Eijun ketahui, diam-diam Kazuya mulai menyusun apa saja yang harus dia lakukan setelah sampai di Tokyo besok.
"Akun ingin bermain di tim yang sama denganmu."
Kazuya tidak langsung meresponnya, masih memikirkan kalimat yang tepat agar Eijun bisa mengerti tanpa ada perdebatan yang tidak penting. "Kau pasti bisa masuk tim profesional dengan mudah. Tim mana yang tidak menginginkan _pitcher_ yang bisa bermain selama sembilan _inning?_"
Eijun bergumam sebentar, "benar juga." Jawabnya. "Aku memang hebat."
Kazuya hanya tertawa kecil, tidak mau memperpanjang obrolan ini. Maka dari itu dia membungkam Eijun dengan sebuah dekapan yang erat. Eijun menikmatinya, begitu pula Kazuya. Karena saat itu satu-satunya kesempatan mereka untuk berdua, Kazuya memeluk Eijun lebih lama dari pada biasanya, sebab besok mereka akan kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Semua berjalan seperti yang sudah diperkirakan Kazuya. Setelah beristirahat pasca turnamen lalu, Kazuya harus merekomendasikan siapa kapten selanjutnya, dan pilihan Kazuya jatuh pada Haruichi. Kazuya merasa Haruichilah yang paling pantas, bukan hanya karena bakat baseballnya yang luar biasa, tapi juga banyak anggota tim yang juga sangat mempercayakan anak itu.
"Tidak ikut berlatih lagi hari ini?" Youichi menatap Kazuya aneh. Sudah dua hari ini Kazuya bolos latihan, bahkan Kazuya tidak mengganti pakaiannya. Tapi Kazuya tetap memperhatikan anak-anak yang berlatih dari jauh.
Kazuya hanya mengangkat bahu, berlagak tidak peduli dan meninggal Youichi. Ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan ketimbang menjawab pertanyaan Youichi. Kazuya ingin mengunjungi dokter Higuchi lagi. Rasanya tidak mungkin bahwa dirinya baik-baik saja. Jelas ada yang salah. Kazuya tidak mungkin lupa rasa sakit yang dia alami di turnamen lalu.
"Kau mau kemana?" Namun dengan cepat Youichi mencengkram lengan Kazuya, menghentikan langkahnya, memaksa Kazuya untuk menjawab pertanyaan.
Kazuya tampak terkejut sesaat, namun dengan cepat dia menguasai diri. "Astaga, apakah Youichi-kun tidak bisa ditinggal sebentar saja?"
Namun reaksi Youichi tidak seperti yang diharapkan Kazuya. Youichi tidak melepaskan cengkramannya di lengan Kazuya dan di tampak tegang, siap meledak kapanpun jika Kazuya tidak bisa diajak bekerja sama kali ini.
"Aku ingin mengunjungi Dokter Hi—"
"Aku ikut."
Tanpa menunggu jawaban Kazuya, Youichi berlari dengan cepat kembali menuju asrama untuk mengganti jerseynya dengan kaus olahraga biasa.
Tidak ada obrolan di antara mereka ketika bus yang mereka naiki mulai melaju. Kazuya membatasi dirinya dengan membaca buku, memberi tanda bahwa dia sedang tidak ingin berbicara. Sementara Youichi sibuk dengan pikirannya sendiri. Ingatan tentang Kazuya yang terjatuh di pertandingan lalu masih melekat erat di ingatannya.
Ketika sampai, Youichi juga ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan tanpa permisi. Dia harus memastikan semuanya dengan mata dan kepalanya sendiri sebab Kazuya jelas tidak akan memberitahu yang sebenarnya.
Kazuya lagi-lagi menceritakan keluhan yang sama seperti kunjungannya beberapa bulan yang lalu, dan jawaban Dokter Higuchi masih sama. Tidak ada cedera, ototnya tegang karena stress. Selama Dokter Higuchi memberikannya ceramah untuk mengontrol stressnya, Kazuya mengumpat diam-diam.
"Kau tampak tidak senang." Youichi akhirnya bertanya ketika mereka sedang berada di jalan pulang menuju asrama. Kazuya tidak lagi membaca bukunya, namun wajahnya terlihat tidak ramah. Tidak ada senyuman licik yang biasanya menghiasi wajah Kazuya.
"Aku memang tidak senang, Youichi-kun."
Youichi berdecak kesal, namun dia tahu bahwa kali ini dia tidak bisa memaksa. Kazuya bukan tipikal orang yang mau memperlihatkan emosinya, tapi kali ini Youichi bisa merasakannya dengan jelas bahwa Kazuya tidak bergurau dengan kalimatnya tadi.
"Hei, apa ada yang bisa kubantu?" Youichi bertanya lagi, kali ini dia benar-benar ingin membantu Kazuya jika anak itu memang memerlukan bantuannya.
"Oh, tentu saja," Kazuya membuka pintu kamarnya lalu masuk, "tolong bantu _Coach_ melatih anak-anak untuk fielding. Besok aku tidak ikut latihan." Lalu Kazuya langsung menutup pintunya, tidak lagi memberi kesempatan Youichi untuk mengetahui masalahnya lebih dari ini.
Kazuya memang tidak puas dengan pernyataan Dokter Higuchi, tapi bukan berarti dia bisa dengan mudah mengunjungi rumah sakit. Dia memang sudah lepas dari tanggung jawab sebagai kapten dan tidak ada yang mengharuskan Kazuya untuk membantu anak-anak lain latihan, tapi tentu Kazuya tidak bisa lepas tangan begitu saja. Turnamen musim gugur sudah dekat, baik Eijun dan Satoru sedang dalam masa transisi penggantian catcher, ada banyak hal yang harus diperhatikan agar mereka semua bermain dengan baik di turnamen nanti.
Kazuya mungkin bisa bolos latihan beberapa kali, tapi yang jelas dia tidak bisa bolos seminggu penuh. Hari bolosnya habis dipakai untuk beristirahat, tidak ada waktu untuk mengunjungi rumah sakit.
"Cap! Kau tidak bermain dengan serius ya!!" Suara Eijun menggelegar di bullpen seperti biasa. Kazuya hanya tertawa, berusaha menutupi kegugupannya. Jelas tadi dia sudah menangkap dengan sungguh-sungguh, namun entah kenapa rasanya tangannya tidak seperti biasa. Kazuya tidak bisa menghentikan perputaran bola dan menyebabkan bola yang dilempar oleh Eijun terlepas dari cengkramannya.
"Hei aku belum selesai latihan Miyuki Kazuya!!" Suara Eijun kembali terdengar ketika Kazuya menjauh dari plate dan melepaskan protectornya. "Ada yang harus kuurus. Latihan dengan Okumura, oke?"
Kazuya meninggalkan bullpen tanpa memedulikan protes Eijun, dia ingin berbaring sekarang juga. Bahkan sekarang Kazuya bisa merasakan tangan kirinya sedikit bergetar entah karena apa.
"Miyuki-kun," Kazuya mengumpat dalam hati karena panggilan dari Rei menghentikan langkahnya. "Giants dan Fighters kembali menghubungiku. Mereka ingin secepatnya bertemu denganmu."
Kazuya menghela napasnya, tiba-tiba merasa lelah. Dia benar-benar lupa bahwa masih banyak hal yang harus diurusnya. "Aku masih belum memikirkannya, lagi pula aku masih banyak waktu."
"Mereka hanya ingin bertemu agar mereka bisa meyakinkanmu."
"Aku akan memberikan jawabannya jika aku sudah memikirkannya dengan baik."
Pada kenyataannya, Kazuya sama sekali tidak memikirkannya. Dia masih sibuk menolak tawaran wawancara media yang masih penasaran dengan tim yang ditujunya dan membantu Koushuu serta Kaoru untuk lebih mengerti jenis lemparan Eijun dan Satoru.
Beruntung Seidou tidak perlu mengikuti penyisihan blok karena mereka akan langsung bermain di putaran ke tiga. Tapi itu tidak membuat Kazuya bisa lengah. Tiap malam ada saja pertanyaan dari Koushuu dan Kazuya harus menjawabnya dengan benar karena jika tidak, Koushuu tidak akan puas.
Ketika akhirnya Seidou benar-benar bermain di turnamen musim gugur, Kazuya sempat menolak ajakan teman-temannya untuk menonton. Kesempatan itu dia pakai untuk mengunjungi rumah sakit, dia kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh, namun lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan karena dari hasil tesnya, Kazuya sangat sehat.
Kazuya menyerah, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia memilih untuk tidak terlalu memedulikannya meski hal ini tidak membuat Kazuya bisa datang latihan secara rutin.
Hingga bulan Oktober berakhir, Seidou memenangkan turnamen dan berhak untuk kembali menginjak Stadium Koshien di bulan Maret nanti. Kazuya diselimuti berbagai macam emosi. Dia senang dan bangga karena ternyata _battery_ Eijun bersama Koushuu berjalan dengan lancar, namun di sisi lain, egonya sedikit terusik.
Meski pada akhirnya Kazuya memutuskan untuk membuang jauh-jauh egonya dan ikut dalam euforia kemenangan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tim akan latihan seperti biasa sebelum akhirnya menjalani latihan musim dingin pada bulan Desember. Kazuya lagi-lagi mendapati dirinya tidak bisa banyak membantu, dan jujur saja itu sedikit membuatnya frustasi meski tidak ada yang protes kecuali Satoru dan Eijun.
Rasa sakitnya sering kali datang dan pergi hingga dititik Kazuya tidak tahu lagi apa yang bisa menyebabkan rasa sakitnya muncul. Dia sudah tidak latihan berat lagi, dia juga sudah mengontrol stressnya sebaik mungkin. Tapi sakitnya tetap datang, bahkan memburuk.
Lalu hari itu tiba. Hari di mana Kazuya sama sekali tidak bisa tidur, badannya dingin luar biasa padahal dia sudah mengenakan sweater dan selimut. Malam itu adalah malam terpanjang bagi Kazuya. Setiap detiknya Kazuya berharap Koushuu atau Kimura terbangun agar bisa menelpon ambulans atau setidaknya Pelatih Kataoka. Kazuya tidak bisa bergerak, tidak juga bisa bersuara cukup keras karena lehernya sakit sekali. Tapi kenyataannya Kazuya harus menunggu hingga pagi datang.
Dan pagi itu adalah pagi yang akan menentukan pilihannya sebab setelah rasa sakitnya perlahan menghilang karena obat dari dokter serta tidur di rumah sakit ditemani oleh Pelatih Kataoka, Kazuya tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.
Kazuya akan menolak semua tim profesional, dan menerima satu kampus di Tokyo.
Tentu saja keputusannya ini didukung oleh diagnosis dari dokter. Fibromyalgia katanya. Alasan kenapa sulit sekali mendeteksinya adalah karena penyakitnya tidak bisa dideteksi lewat tes darah ataupun CT scans, setidaknya itu yang diucapkan dokter spesialis reumatologi yang menangani Kazuya. Kazuya tidak tahu itu penyakit apa tapi yang dia tahu pasti adalah dia tidak akan bertahan untuk bermain di liga major dengan kondisi seperti ini.
Apa yang terjadi setelahnya pun sudah bisa ditebak oleh Kazuya. Teman-temannya terkejut dengan hasil pemeriksaannya, tim profesional yang hendak merekrutnya kecewa berat karena Kazuya menolak mengatakan kebenaram dibalik penolakannya, dan mengatakan bahwa Kazuya tidak menghargai usaha para scouts dari berbagai tim yang sudah mengejarnya bahkan jauh sebelum turnamen terakhirnya.
Tapi Kazuya mencoba menutup telinga dan matanya. Tidak peduli seberapa banyak pemberitaan baik di televisi ataupun koran, Kazuya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Beruntung Pelatih Kataoka dan Pelatih Ochiai mendukungnya dengan sungguh-sungguh. Bahkan pelatih Ochiai bersedia berbicara dengan para awak media yang memaksa ingin bertemu dengan Kazuya.
Ayahnyapun begitu. Ayahnya mendukung semua keputusan Kazuya. Mungkin lelaki paruh baya itu tidak pernah menunjukkannya secara gamblang, tapi sudah pasti bahwa Kazuya selalu menjadi prioritas utamanya.
Kazuya tidak membutuhkan validasi dari orang asing. Maka dari itu ketika pemberitaan tentang dirinya semakin menjadi-jadi, Eijun justru menjadi orang yang paling marah.
"Kau tidak perlu marah untuk orang asing." Begitu ujar Kazuya di hari kelulusannya.
"Kau bukan orang asing, dasar brengsek!" Eijun menyeka air matanya yang tumpah karena baru saja menangis di bahu Kazuya. Eijun sendiri tidak tahu kenapa dia menangis. Entah karena Kazuya lulus, atau karena dia tidak bisa lagi bermain di liga yang sama seperti Kazuya, atau karena pemberitaan yang berlebihan, atau mungkin gabungan antara ketiganya.
Pemberitahuan tentang Kazuya yang lebih memilih liga kampus ketimbang liga major sudah ada sejak Januari lalu, tapi hingga Maret pemberitaan tidak kunjung reda, dan jujur saja itu membuat Eijun kesal sebab Eijun tahu bahwa Kazuya tidak seperti yang diberitakan.
Eijun tentu mendukung keputusan Kazuya sepenuhnya, lagi pula hanya itu yang bisa dia lakukan sebab yang menjalaninya adalah Kazuya sendiri. Eijun memang sedih karena mengetahui bahwa dia dan Kazuya tidak akan bertemu di pertandingan lagi, tapi setidaknya Kazuya masih bermain baseball.
Keadaan Kazuya tidak akan lebih buruk dari pada ini kan?
.
.
.
to be continued
