Daiya no Ace, ダイヤのA
Trigger Warning: chronic pain, mention of certain drugs for medication purposes
.
.
READERS DISCRETION IS ADVISED
apos.te.ri.o.ri /apostériori/ — setelah diketahui keadaan yang sebenarnya
.
.
.
Kazuya mengira bahwa dia mampu beradaptasi bermain di liga kampus. Kazuya tahu bahwa liga kampus tidak sesulit liga major, dan Kazuya yakin tubuhnya bisa mengikuti menu latihan yang ada.
Tapi nyatanya tidak.
Latihannya memang tidak seekstrim itu, hanya saja tubuhnya yang tidak mampu mengikuti semuanya.
Bermula dari lelah dan kakinya yang selalu bengkak di pagi hari, hingga akhirnya Kazuya merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dulu dia rasakan.
Mungkin pada awalnya Kazuya bisa meminta izin untuk tidak datang latihan, tapi lama-kelamaan Kazuya sadar bahwa dia egois dan ada banyak pemain lain yang bisa menggantikannya kapanpun.
Maka dari itu, keputusannya untuk berhenti dari baseball seutuhnya saat menginjak tahun ke dua sangat masuk akal. Bukan hanya itu, Kazuya pun juga memutuskan untuk keluar dari kampus.
Tentu hal ini sudah melalui proses diskusi panjang bersama ayahnya. Ayahnya memberikan banyak opsi selain surat pengunduran diri Kazuya dari kampus, tapi keputusannya sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Kazuya ingin benar-benar berhenti dari baseball dan memulai semuanya dari awal tanpa perlu disangkut pautkan dengan baseball.
Mungkin rasanya terdengar sangat menyakitkan. Dia telah bermain baseball lebih dari sepuluh tahun, Kazuya bermain karena dia memang menyukainya tanpa ada paksaan dari pihak manapun, terlebih dia menyukai posisinya sebagai catcher hingga dia menolak bertukar posisi menjadi pitcher entah sekeras apapun pelatihnya dulu membujuknya. Rasanya keluar dari hal yang dia sukai sama seperti kehilangan kesehariannya. Baseball adalah kesehariannya.
Tapi setelah Kazuya jalani, dia merasa cukup nyaman. Memang pada awalnya Kazuya merasa kebingungan. Dia terbangun di pagi hari, merasa harus terburu-buru untuk bersiap-siap, namun setelah beberapa saat dia baru menyadari bahwa dia bukan hanya berhenti baseball, tapi juga kuliah.
Minggu pertama Kazuya habiskan untuk menyendiri. Bahkan Eijun yang saat itu bermain untuk tim di Miyagi mengunjungi rumahnya untuk melihat keadaan Kazuya sebab Kazuya menghilang begitu saja. Namun yang dilakukan Kazuya adalah meminta Eijun untuk pergi. Suara Eijun yang terisak memohon bahkan tidak melembutkan kerasnya hati Kazuya saat itu.
Saat itu Kazuya tidak ingin ditanya apapun. Bahkan Kazuya tidak memberitahu tentang keputusannya pada Eijun, entah darinmana Eijun mengetahuinya, pada saat itu Kazuya tidak peduli.
Lalu di minggu ke dua, ketika Kazuya mulai mendapatkan kewarasan beserta rasionalitas dan mampu menata isi kepala, Kazuya pergi ke Miyagi dengan diantar ayahnya. Ayahnya tidak mengizinkan Kazuya untuk pergi jauh tanpa pengawasan, dan Kazuya tidak keberatan sama sekali. Kazuya hanya minta semalam untuk menginap di apartemen Eijun, setelah itu mereka bisa kembali ke Tokyo.
Kazuya sudah bersiap jika saat itu Eijun akan meninjunya, bersiap jika Eijun memaki dan mengumpatinya, toh dia memang pantas untuk itu. Tapi begitu dia berdiri di depan pintu, yang didapatkannya adalah sebuah pelukan.
Kazuya merasa sesak dengan pelukan Eijun, tapi tidak tega meminta Eijun untuk berhenti sebab Eijun menangis tanpa suara. Kazuya hanya bisa mendorong pelan tubuh Eijun agar mereka bisa masuk ke dalam apartemen, di tengah-tengah napasnya yang sesak karena Eijun, Kazuya masih bisa memikirkan bahwa reputasi Eijun dipertaruhkan jika ada yang melihat mereka berdua berpelukan.
Kazuya hanya bisa mengelus punggung Eijun, tidak mampu mengucapkan apapun. Diam-diam dia merasa bahwa Eijun sudah lebih berisi dan berotot sejak terakhir kali mereka bertemu.
Ketika di rasa Eijun mulai tenang, Kazuya menyeka semua air mata Eijun. Perasaan bersalah mulai menyelimutinya, entah sudah berapa kali dia membuat Eijun menangis dan Eijun masih bertahan di sisinya ketika Kazuya memang pantas untuk dicampakkan.
"Maaf," Kazuya tidak tahu harus mengatakan apapun, dan Eijun tidak menuntut lebih. Bagi Eijun, Kazuya yang ada di hadapannya saat ini lebih dari cukup.
"Cium aku." Ujar Eijun di sela rengekannya. Kazuya tertawa kecil, tidak bisa menolak permintaan Eijun sebab Kazuya juga rindu.
Ciuman mereka tergesa-gesa, berantakan dan asin karena air mata. Kazuya berulang kali mencengkram bahu Eijun, berusaha mengingatkan Eijun untuk tetap santai karena Kazuya tidak akan pergi kemana-mana. Tapi Eijun menolak untuk mengerti. Bagi Eijun, ini adalah kompensasi atas sikap Kazuya.
Kazuya benar-benar harus menarik diri ketika tangan Eijun masuk ke dalam kausnya. Tatapan Eijun tampak sedih dan siap untuk menangis lagi karena merasa ditolak oleh Kazuya untuk yang kesekian kalinya.
Kazuya menghembuskan napasnya pelan, lalu mengecup dahi Eijun lembut. Setelah sekian lama bersama, dia paham bahwa mencoba untuk membuat Eijun mengerti adalah hal yang cukup sulit.
"Aku sedang tidak berada dikondisi yang cukup baik untuk ini," Kazuya kembali menahan tangan Eijun yang mencoba menyentuhnya di dalam kausnya.
"Jadi benar-benar tidak bisa?" Eijun merengut tapi masih menolak untuk menarik tangannya. Dia sudah rindu setengah mampus dan Kazuya harus tahu.
"Bukan begitu," Kazuya kembali menghela napas, ini mulai melelahkan. "Aku hanya khawatir," Kazuya menelan ludahnya, tidak yakin dengan dirinya sendiri. "Aku khawatir tidak bisa memperlakukanmu dengan benar."
Dahi Eijun tampak berkerut, kemudian dia menjauhkan diri dan membuka kausnya. Kazuya tergelak, kadangpun Kazuya masih belum terbiasa dengan sikap spontan Eijun yang sering kali sulit dimengerti.
"Aku tidak selemah itu," Eijun kembali mendekat, meletakkan telapak tangan Kazuya di salah satu dadanya. "Aku tidak keberatan sama sekali." Suara Eijun terdengar putus asa. Dia kemudian memeluk Kazuya erat, berusaha membuat Kazuya merubah pikiranya. "Aku merindukanmu, tolong jangan tolak aku lagi."
Kazuya kalah, dia pun sama rindunya dan Eijun sudah paham dengan konsekuensinya.
Hari itu, tidak ada lagi Sawamura Eijun si monster rookie dan Miyuki Kazuya si mantan pemain baseball, yang ada hanya dua manusia yang saling merindukan. Napas bertemu napas, kulit bertemu kulit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berdua bisa jujur atas apa yang mereka rasakan.
Eijun ingin mengingat semuanya. Bagaimana Kazuya menyentuhnya, mengecupnya dengan lembut, dan ucapannya yang masih terdengar manis. Eijun ingin mengingat bagaimana Kazuya masih memperlakukannya dengan hati-hati.
"Aku akan kembali kuliah September nanti." Ujar Kazuya setelah percintaan mereka yang intim. Eijun hanya bergumam, masih sibuk memainkan jarinya di atas dada Kazuya yang basah karena keringat. "Aku akan kuliah di Chicago, ayahku mengizinkannya."
Jari-jari Eijun terhenti, dahinya berkerut. "Chicago itu..., Amerika?" Anggukan dari Kazuya membuat Eijun reflek menjauhkan tubuhnya dan terududuk. "Kenapa tiba-tiba?"
Kazuya ikut duduk dan bersandar. "Aku ingin lingkungan baru."
Eijun terdiam, mendadak bingung dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Kazuya pun tidak berinisiatif untuk kembali menjelaskan. Sebab Kazuya juga merasa bahwa Eijun sudah mengerti atas situasi ini, bagaimanapun juga Eijun bukan lagi anak kecil yang harus diberi penjelasan eksplisit.
Lama terdiam, akhirnya Eijun memberanikan diri untuk memecahkan keheningan di antara mereka. "Lalu bagaimana dengan kita..., denganku...," Eijun tercekat oleh tenggorokannya, takut akan jawaban Kazuya.
"Tergantung," jawab Kazuya kemudian. "Apakah aku cukup pantas untukmu hingga kau bersedia untuk menunggu, atau tidak sama sekali."
Eijun diam lagi, butuh waktu beberapa saat hingga dia mengerti kalimat itu dan menghambur kedalam pelukan Kazuya. Dia mengangguk cepat, menunggu bukan masalah baginya. Lima tahun, sepuluh tahun, Eijun bisa menunggu bahkan lebih lama lagi.
Sebab yang terpenting adalah Kazuya ada untuknya.
.
.
.
to be continued
