Daiya no Ace, ダイヤのA
Trigger Warning: chronic pain, mention of certain drugs for medication purposes
.
.
READERS DISCRETION IS ADVISED
ma.ni.fes.to /manifésto/ — pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok
.
.
.
Jika dipikir-pikir, Eijun adalah pihak yang paling sering mengalah dan berkorban dalam hubungan mereka. Eijun tidak bisa menghitung berapa kali Kazuya menolak video callnya dengan berbagai alasan, bahkan saat Eijun rela memotong cutinya untuk terbang ke Chicago, dia tidak bisa melakukan banyak hal dengan Kazuya karena Kazuya sibuk dengan urusan kuliah dan jadwal terapinya di klinik tidur.
Kazuya pernah bilang bahwa dia membutuhkan bantuan profesional untuk mengembalikan ritme tidurnya, tapi Eijun tidak tahu bahwa bantuan profesional yang dimaksud oleh Kazuya berarti Kazuya harus menginap selama beberapa malam di klinik, meninggalkan Eijun yang sudah rela menempuh penerbangan selama tiga belas jam di apartemen mungil Kazuya.
Tapi Eijun tidak mengeluh. Sebab di penghujung kunjungannya, Kazuya akan meluangkan waktu untuk Eijun dan meminta maaf di saat yang tidak terduga. Kazuya tidak perlu meminta maaf, begitulah pikir Eijun pada saat itu.
Eijun hanya menginginkan Kazuya tetap sehat dan berada di sisinya. Eijun khawatir jika dia meminta lebih dari ini, Kazuya akan menghilang di pagi hari seperti mimpi— tidak, Kazuya memang mimpinya. Kazuya adalah mimpinya yang menjadi nyata, oleh karena itu Eijun ingin menjaganya sebaik mungkin.
Ketika mereka mulai beranjak dewasa secara terpisah, mereka memiliki tujuan dan pandangan terhadap hidup masing-masing, Eijun sadar ada kerenggangan di antara mereka. Saat itu Kazuya baru saja diterima di salah satu firma arsitektur di San Fransisco, dan Eijun kembali di kontrak oleh salah satu tim baseball profesional. Eijun kesal karena ternyata Kazuya melanggar janjinya. Kazuya beberapa kali mengatakan bahwa dia akan kembali setelah urusan pendidikannya selesi, tapi nyatanya laki-laki itu menerima tawaran pekerjaan tanpa mengatakannya terlebih dahulu pada Eijun. Eijun paham bahwa dia tidak punya hak untuk melarang, tapi Eijun agaknya ingin terlibat sedikit saja di setiap Kazuya ingin mengambil keputusan. Pada akhirnya, kekesalan Eijun menguap begitu saja tanpa diketahui oleh Kazuya.
Di sisi lain, Eijun ingin menyusul Kazuya secepatnya, tapi Eijun sadar bahwa kemampuannya saat ini belum bisa bersaing di panggung dunia. Eijun tidak ingin hanya menjadi salah satu pemain Major League Baseball, tapi dia ingin menjadi pusat sorotan, dia ingin bermain dengam baik dan membawa timnya kepada kemenangan, bagaimanapun juga, World Series adalah impiannya.
"Tidak perlu terburu-buru, aku menunggumu." Kalimat singkat Kazuya mampu menguatkannya. Tampaknya berkorban banyak hal untuk Kazuya adalah hal yang setimpal dengan ketenangan hati yang didapatkan Eijun setiap kali berbicara pada laki-laki itu. Rasanya masuk akal kenapa kekesalannya selalu hilang begitu saja begitu mendengar suara Kazuya di penghujung hari.
Tahun demi tahun berlalu tanpa ada konfrontasi berarti. Eijun masih terikat kontrak dengan timnya dan Kazuya belum ada tanda-tanda akan kembali ke Jepang.
Hingga tiba hari di mana Kazuya menelponnya, untuk kesekian kalinya, Eijun harus berkorban. Seharusnya telpon malam itu hanya membahas penerbangan Eijun menuju California dalam rangka hari jadi mereka yang ke sembilan, namun di tengah-tengah obrolan mereka, Kazuya mengatakan sesuatu yang membuat Eijun terdiam untuk beberapa saat.
"Aku akan kembali. Sudah ada firma yang akan menerimaku di sana."
Eijun tercekat, seharusnya dia sudah terbiasa dengan kabar mendadak seperti ini. Biasanya Kazuya selalu memberitahunya di saat-saat terakhir, atau bahkan tidak sama sekali, tapi kali ini rasanya sulit sekali bagi Eijun untuk bersikap seperti biasanya.
"Kau oke?" Pertanyaan Kazuya membuat Eijun kembali menginjak realita. Eijun menghela napas pelan kemudian tersenyum meski Kazuya tidak bisa melihatnya. "Aku merindukanmu." Hanya itu yang bisa Eijun katakan, kepalanya masih sibuk berpikir. Bertahun-tahun bersama Kazuya membuat Eijun mampu berpikir tenang di saat yang paling rumit sekalipun.
Hal yang Eijun sadari setelah dia beranjak dewasa adalah, dia menjadi lebih banyak berpikir. Dulu hidupnya jauh lebih mudah dan sederhana. Dulu dia hanya perlu bangun, lalu berlatih dan bercanda bersama teman-temannya, tertawa seolah tidak ada hari esok, tapi sekarang, beban dipundaknya bertambah seiring bertambahnya usianya.
Setelah telepon malam itu, hal pertama yang dilakukan Eijun adalah kembali ke Nagano untuk menemui keluarganya. Dia butuh pandangan berbeda dan cara berpikir yang sama sekali baru sebab dia pun kebingungan.
Orang tuanya memberikan semua keputusan pada Eijun, dengan tambahan apakah Eijun yakin dengan pilihannya sebab kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, dan Eijun mengangguk penuh keyakinan.
Puas dengan jawaban orang tuanya, Eijun kembali ke Tokyo dan mendatangi akuntannya. Perempuan paruh baya itu jelas menolak keputusan Eijun meski dengan kalimat yang halus. Namun setelah melihat tekad Eijun, akuntannya memberikan berbagai macam kalkulasi dan hasilnya, Eijun akan terus hidup berkecukupan bahkan jika dia memilih untuk menetap di organisasinya saat ini.
Maka dari itu, sepuluh hari kemudian dia terbang menuju California dengan hati tenang dan yakin. Sebelas jam terasa singkat. Eijun belum pernah seyakin ini sebelumnya, biasanya dia selalu diikuti oleh banyak penyesalan dan kecewa, tapi kali ini tidak. Dia siap menghadapi Kazuya dengan senyuman terbaik dan pelukan hangat.
Biasanya, mereka merayakan hari jadi di apartemen Kazuya dengan sederhana namun intim. Bukan lagi di apartemen kecil di sudut kota Chicago, melainkan sebuah penthouse di pusat San Francisco. Biasanya Kazuya akan memasak dan Eijun yang menatanya di atas meja makan. Tapi kali ini berbeda, Kazuya bilang ingin mengganti suasana sekaligus merayakan kepulangannya. Eijun tidak punya apapun untuk protes, dia menyukainya.
Semuanya tampak sempurna malam itu. Makanannya terasa enak, terlebih Kazuya terlihat memukau dan elegan dengan setelan jasnya yang kasual. Wajahnya tampak segar, rambutnya disisir rapi ke belakang dengan tambahan gel rambut, Kazuya juga melepaskan kacamatanya dan menggantinya dengan lensa kontak yang jarang sekali digunakannya. Terlihat jelas bahwa Kazuya sangat memperhatikan tampilannya malam ini, dan Eijun menyukainya. Bukan berarti Eijun tidak menyukai Kazuya dengan kantung mata dan wajah kusut karena pekerjaannya yang menyita waktu dan tenaga, hanya saja melihat Kazuya yang rela memberikan usaha untuk tampil memukau mampu membuat rasa lelah Eijun menghilang begitu saja.
"Dodgers menundangku untuk bermain." Eijun mengucapkannya dengan santai, sama seperti Kazuya yang selalu mengucapkan hal-hal penting dengan nada santai nyaris terdengar tidak peduli. Mungkin Eijun terdengar jahat, tapi kali ini entah kenapa dia ingin membalas semua sikap Kazuya selama ini yang selalu menjadikan Eijun orang terakhir yang mengetahui hal-hal penting dari Kazuya. "Kontraknya lumayan, mereka bilang aku punya prospek yang bagus."
Kazuya terbatuk kecil, "sejak kapan?"
"Tawarannya datang?" Eijun bertanya seolah Kazuya sama sekali tidak kaget. Setelah melihat Kazuya mengangguk, dia menaikkan pundaknya, berusaha keras agar terlihat tidak peduli. "Entahlah...," Eijun mencoba mengingat kontrak itu datang padanya. "Awal tahun ini mungkin?"
"Dan kau baru mengatakannya sekarang?"
Eijun mengangguk kecil lalu memasukkan potongan mousse ke dalam mulutnya seolah dia tidak sadar Kazuya sedikit tersinggung akan sikapnya, dia diam-diam mengomentari rasa mousse yang di makannya tidak beda jauh dengan mousse yang biasa dia beli di toko kue pinggir jalan.
Eijun berharap Kazuya akan marah dan berteriak, marah karena Eijun tidak mengatakan hal ini sejak awal, tapi ternyata Kazuya hanya menghela napas, kemudian tersenyum kecil. Eijun kalah telak.
"Selamat," Kazuya menggenggam hangat tangan Eijun, senyumnya terlihat sangat tulus hingga Eijun benar-benar merasa jahat karena telah sengaja bersikap seperti ini. "Aku sudah tanda tangan kontrak dengan firma di Tokyo, kurasa berpisah beberapa tahun lagi bukan masalah."
Eijun mengerutkan dahi, dia benar-benar lupa bahwa Kazuya dan irasionalitas tidak bisa disatukan dalam satu kalimat. Baik dulu maupun sekarang, Kazuya selalu menggunakan kepalanya ketimbang emosi. Bertahun-tahun bersama dan Kazuya tidak pernah berubah, meski sering kali hal itu justru membuat Eijun kesal.
Eijun membalas genggaman tangan Kazuya lalu membalas tatapan Kazuya. "Tapi aku menolaknya."
Kazuya tampak lebih terkejut dan tersinggung karena kalimat Eijun barusan daripada sebelumnya. "Dengar Eijun, jangan gegabah." Eikun terkekeh, tawanya nyaris meledak namun Kazuya dengan cepat menahannya, meminta Eijun mendengarkannya hingga akhir.
"Ini adalah tahun kedelapan Dodgers memenangkan divisi, dan mereka solid secara tim. Bukan hanya prospekmu yang bagus, tapi juga tim ini. Kenapa kau menolaknya?"
Eijun kembali menggeleng lalu mengelus punggung tangan Kazuya dengan ibu jarinya. "Aku hanya tidak ingin."
Kazuya semakin tidak mengerti. "Eijun, kau ditawari untuk bermain di panggung dunia. World Series adalah imipianmu."
"World Series adalah mimpiku saat masih dua puluhan awal," Eijun terkekeh kecil, diikuti oleh Kazuya kemudian.
"Hei, itu berlebihan. Kau tidak setua itu, oke?" Kazuya berhasil menahan tawanya dan kembali serius. "Ichiro bermain hingga empat puluh enam tahun, secara teknis itu artinya kau masih punya waktu sembilan belas tahun lagi sebelum pensiun. Jangan cepat puas dengan apa yang kau miliki saat ini, Eijun."
Eijun diam saja, sementara Kazuya sibuk mengubah pikiran Eijun yang jelas-jelas tidak bisa diubah.
"Apa kau malu debut di umurmu sekarang? Dengar, Ryu juga seumuranmu ketika dia debut bersama Dodgers."
Eijun masih tidak bersuara, namun Kazuya belum menyerah. "Kali ini aku yang akan mengunjungimu, mungkin bisa tiga kali dalam setahun."
Dengan cepat Eijun menggeleng, "aku tidak mau bertemu denganmu tiga kali dalam setahun."
"Kau bukan anak kecil lagi. Jangan biarkan emosi sesaat membuatmu menyesal seumur hidup."
"Justru karena aku bukan anak kecil—" Eijun menghentikan kalimatnya setelah sadar dia mulai dikuasai emosi. Dia menarik napasnya pelan dan diam sebentar untuk menyusun kalimat karena Eijun tahu bahwa air mata tidak akan mempan pada Kazuya. "Justru karena aku bukan anak kecil makanya aku tahu apa yang aku inginkan."
"Dan yang kau inginkan adalah?" Itu pertanyaan retoris tapi terdengar seperti tantangan di telinga Eijun.
"Bersama denganmu."
Kazuya melepaskan genggaman tangan mereka, "omong kosong."
"Wow," Eijun tertegun, meski sudah terbiasa dengan sikap Kazuya tapi tetap saja terkadang dia bisa benar-benar tersinggung. "Aku tidak mengharapkan kau mengatakan omong kosong setelah mengetahui apa yang kulakukan agar kita tetap bersama."
Kazuya terdiam sesaat, lama hening diantara mereka, dia baru dilanda penyesalan setelah menyadari bahwa kalimatnya tadi sedikit kelewatan. "Kita tetap bersama, sudah kubilang aku akan mengunjungimu."
"Aku juga sudah bilang kalau aku tidak mau hanya tiga kali dalam setahun."
Kazuya menahan semua kalimat yang akan keluar dari mulutnya, menolak untuk memulai konfrontasi sebab seharusnya malam ini adalah malam yang menyenangkan. Kazuya begitu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya migrainnya muncul dan lehernya mulai kaku.
Kazuya tidak pernah suka memperlihatkan rasa sakitnya, terlebih di hadapan Eijun. Maka dari itu saat kakinya mulai kram, Kazuya mengumpat dalam diam sambil menahan sakitnya. Ketika rasa sakitnya mulai menjalar menuju tulang belakangnya, Kazuya menyerah, dia tidak bisa melanjutkan kencan yang sudah dia rencanakan dengan sedemikian rupa.
"Eijun," Kazuya gagal menyelesaikan kalimatnya dengan cepat karena migrainnya semakin parah. "Bisa kita pulang sekarang? Aku ingin istirahat."
Eijun mengangguk setuju, mereka sedang berada di kondisi yang menyesakkan dan melanjutkan kencan tidak akan memperbaiki keadaan. Setidaknya begitulah yang ada di pikiran Eijun, tapi begitu melihat Kazuya yang berusah untuk berjalan dengan benar menuju parkiran dengan kaki kram dan tremor halus membuat Eijun sadar bahwa bukan hanya suasana di antara mereka yang kacau, tapi juga untuk yang kesekian kalinya, Eijun menjadi alasan kenapa rasa sakit Kazuya datang tiba-tiba.
Eijun tidak perlu bertanya kenapa Kazuya memanggil supir untuk mengantar mereka pulang, dia bisa melihat dengan jelas keringat yang keluar dari dahi Kazuya, tanda bahwa laki-laki itu sedang menahan sakitnya.
Mereka tidak bersuara sama sekali. Kazuya berusaha menenangkan pikirannya, berharap setidaknya migrainnya hilang, sementara Eijun tidak mau membuat kondisi Kazuya semakin parah.
"Mandilah," ujar Kazuya ketika mereka sampai di apartemen milik Kazuya. Laki-laki itu mengambil _cool strip, Tiger Balm dan obat anti kejangnya dengan cepat, sementara Eijun hanya memerhatikan tanpa mengeluarkan protes. "Pakai saja apa yang ada di lemari seperti biasa. Aku tidur di kamar sebelah. Maaf." Kazuya mengecup sekilas pipi Eijun lalu keluar dari kamarnya. Tubuhnya sudah meronta untuk istirahat, dan Kazuya tidak punya pilihan apapun selain menurutinya.
Eijun tidak menjawab, dia diam saja ketika Kazuya keluar dan menutup pintu. Dia menatap pintu itu beberapa saat seolah-olah Kazuya akan kembali dan tidur bersamanya.
Apakah pilihannya tidak tepat? Eijun terduduk di sisi tempat tidur. Kemana semua kepercayaan dirinya kemarin? Eijun ragu. Jika keadaan memburuk, Eijun akan kembali menelpon kuasa hukumnya untuk mengontak pihak major untuk menilai ulang dan dia akan menerima kontraknya. Eijun tidak mau hal ini membuat Kazuya kecewa padanya, dan mengakhiri semuanya.
Sawamura Eijun, dua puluh tujuh tahun, laki-laki dewasa dan mapan, namun tidak mampu mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri.
Kazuya tidak pernah merasa sekecewa ini sebelumnya. Jika Eijun menolak tawaran itu memang karena keinginannya pribadi, Kazuya akan mendukungnya. Tapi telinga Kazuya berdengung ketika mendengar penjelasan Eijun yang menolak tawaran itu dengan alasan hubungan mereka.
Kazuya ingin Eijun hanya memikirkan dirinya dan masa depannya sendiri tanpa perlu memikirkan Kazuya. Sebab Kazuya juga melakukan hal yang sama.
Ketika Kazuya memutuskan untuk kuliah dan menerima pekerjaan jauh dari Tokyo, Kazuya tidak memikirkan bagaimana Eijun. Kazuya meletakkan kepentingan dirinya di atas segalanya, dan jika Eijun keberatan dengan hal itu, Eijun bisa pergi kapanpun dan Kazuya tidak akan menghentikannya.
Lagi pula mereka sudah dewasa, mereka sama-sama paham bahwa cinta dan afeksi tidak akan pernah cukup untuk menghidupi mereka. Sebab masing-masing mereka memiliki cita-cita, dan Kazuya ingin mereka dapat mewujudkannya tanpa perlu memikirkan banyak hal, juga bukan berarti Kazuya akan mengakhiri hubungannya dengan Eijun hanya karena Eijun menerima tawaran itu. Kazuya egois dalam mengambil keputusan, dan dia mengharapkan hal yang sama pada Eijun. Dia ingin Eijun egois dan meletakkan kepentingan atas dirinya sendiri tanpa perlu memikirkan Kazuya.
Sebab Kazuya selalu mengingat bagaimana binar mata Eijun ketika membicarakan World Series, dan sekarang kesempatan itu ada di depan mata, Kazuya ingin Eijun mengambilnya tanpa perlu memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.
Kazuya juga tidak akan membatalkan kontraknya dengan firma di Tokyo. Dia sudah memiliki rencana. Rencana yang akan tetap akan dia jalankan dengan atau tanpa Eijun. Tentu dia ingin Eijun ada di sampingnya, tapi jika keadaan tidak memungkinkan, Kazuya tidak akan memaksa.
Love shall set you free, setidaknya begitulah yang Kazuya baca di salah satu novel romansa yang bahkan sudah terlupakan judulnya. Sebut dia kolot atau apapun itu, tapi Kazuya memercayainya, itu sebabnya dia tidak pernah mengekang apa lagi memaksa. Kazuya ingin mereka bisa menjalani hubungan ini dengan mudah dan sederhana, tapi kenapa Eijun malah membuat ini menjadi rumit?
Kazuya beruntung bisa tertidur tanpa perlu menenggak sleeping pillsnya. Dia selalu mendadak menjadi lebih sensitif jika harus menenggaknya, tentu itu akan membuat kondisi mereka menjadi lebih rumit daripada semestinya.
Kazuya mendapati Eijun yang sudah duduk di pantry saat dia bangun. Kazuya menghela napas lega diam-diam, setidaknya Eijun mendapatkan tidur yang cukup tadi malam.
Mata mereka bertemu untuk beberapa saat dan Kazuya menjadi pihak yang memutuskan kontak, dia menghela napas pelan. "Sarapan?" Tanyanya sambil membuka pintu kulkas. Tanpa melihat jawaban Eijun pun, Kazuya akan tetap membuatkannya meski tidak banyak yang bisa Kazuya suguhkan karena dia selalu melewatkan sarapannya, tapi Kazuya tahu bahwa Eijun tidak akan memulai harinya dengan baik tanpa sarapan. Dia hanya membuatkan toast, tak lupa buah-buahan segar serta segelas susu pada Eijun.
Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara selama Eijun masih menyantap sarapannya. Kazuya menyibukkan dirinya dengan membaca berita lewat ponselnya. Tak ada email pekerjaan yang masuk hari ini karena Kazuya sudah memberikan peringatan pada asistennya bahwa dia tidak oleh dihubungi dalam bentuk apapun selama lima hari kedepan sebab dia mengambil cuti tahunannya untuk merayakan hari jadi mereka.
Sementara Eijun sibuk berpikir apa yang harus dia katakan pada Kazuya tanpa perlu memulai konfrontasi yang tidak perlu. Setelah mendapatkan tidur cukup, Eijun semakin yakin dengan pilihan yang sudah dia tetapkan sebelumnya. Eijun tidak akan gentar dengan apapun yang akan Kazuya katakan nantinya.
Mata mereka bertemu lagi selama beberapa detik setelah Eijun menyelesaikan sarapannya. Kazuya menggeser piring yang berisi remah-remah itu, lalu menggenggam tangan Eijun. Eijun sempat tersentak pelan ketika dia merasakan tangan Kazuya yang dingin seperti baru saja menggenggam es, tapi kemudian dia teringat bahwa tangan Kazuya akan terus dingin setidaknya untuk beberapa jam kedepan.
"Tidak nyaman?" Tanya Kazuya ketika menyadari Eijun yang sedikit terkejut, karena tangannya yang dingin, namun gelengan kuat dari Eijun memberikan konfirmasi pada Kazuya.
"Apa kau sungguh-sungguh yakin dengan keputusanmu?"
Mulut Eijun sudah terbuka, tapi suaranya gagal keluar. Eijun paham bahwa jawaban spontan tanpa alasan yang kuat tidak akan memuaskan Kazuya. Maka dari itu Eijun mengambil waktu sedikit untuk menyusun kalimat di kepalanya.
Eijun menjelaskan semuanya dengan rapi dan tertata, mengucapkannya dengan lugas dan tepat sasaran, sementara Kazuya mendengarkannya dengan seksama. Bagaimana Eijun menjelaskan tentang keinginannya dalam sepuluh hingga lima belas tahun kedepan, perencanaan keuangannya dan pandangan-pandangan yang mungkin akan berubah nantinya namun Eijun akan menerima konsekuensinya dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Dari semua penjelasan Eijun, Kazuya tidak bisa meyakinkan laki-laki itu untuk tetap menerima tawaran untuk bermain di panggung yang lebih besar lagi meski kesempatan terbuka lebar. Meski jauh dalam dirinya Kazuya masih merasa Eijun sangat tidak masuk akal dan gegabah, Kazuya tetap tersenyum dan mencoba melihat dari sudut pandang yang baru. Bagaimana pun juga, Eijunlah yang akan menjalani semua ini.
Kazuya menggenggam kedua tangan Eijun, tangannya masih dingin namun dia dapat merasakan bahwa hangat dari tangan Eijun mulai mengikis rasa dingin yang ada. "Kita pulang bersama?"
Eijun kembali mengangguk, beban di pundaknya terasa terangkat begitu saja. Kazuya memang tidak mengatakannya dengan eksplisit, tapi Eijun tahu bahwa penjelasannya tadi mampu membuat Kazuya mengerti.
Eijun tersenyum kecil ketika bibir mereka bertemu. Kontras dengan tangannya yang sedingin es, bibir Kazuya justru terasa hangat dengan napas beraroma pasta gigi yang sangat familiar bagi Eijun.
"Maaf untuk tadi malam," ujar Kazuya terdengar tulus dan dibalas oleh anggukan pelan Eijun. Kazuya tidak mengatakan apapun lagi, dia mendempetkan dahi mereka berdua, saling menggoda dengan ciuman kecil lalu tertawa singkat sebelum akhirnya kembali saling memberi ciuman manis untuk memulai hari.
Bayangan di masa depan di mana dia akan menghabiskan waktu bersama Kazuya menggelitik perut Eijun. Eijun tidak sabar dengan perjalanan mereka, tapi tentu tidak perlu terburu-buru.
Sebab mereka punya waktu selamanya untuk melakukan dan menemukan hal-hal baru bersama.
.
.
.
to be continued
