Daiya no Ace, ダイヤのA

Trigger Warning: chronic pain, mention of certain drugs for medication purposes

.

.

READERS DISCRETION IS ADVISED


bo.na.fi.de /bonafidé/ — dapat dipercaya dengan baik

.

.

.

Ketika Eijun terbangun, bantal milik Kazuya sudah dingin dan CPAP Mask yang dipakai oleh Kazuya sudah tersimpan rapi ke tempatnya semula. Kazuya sudah bangun sejak tadi, dan Eijun tidak sadar sama sekali, padahal biasanya Eijun mudah sekali tetbangun karena Kazuya lumayan berisik ketika merapikan peralatan tidurnya.

Ketika keluar dari kamar, Eijun sedikit terkejut melihat tumpukan paper bag berisi makanan di atas meja, namun kemudian bibirnya membentuk senyuman tipis. Kazuya bisa menjadi orang paling menyebalkan, tapi keesokan harinya, Kazuya akan menjadi orang paling manis dan menyenangkan. Kazuya mungkin membatalkan acara makan malam mereka, tapi bukan berarti Kazuya membatalkannya karena Kazuya tidak menginginkannya sama sekali.

Sesuai dugaan Eijun, Kazuya mendekam di ruang kerjanya. Sketsa kasar berserakan di mana-mana, komputernya menampilkan AutoCAD yang tidak dimengerti Eijun sementara Kazuya sibuk dengan cetak biru sambil menelpon.

Senyum Eijun semakin lebar, dia melipat kedua tangannya lalu bersandar pada pintu yang terbuka lebar. Melihat Kazuya tenggelam dalam pekerjaannya adalah salah satu hal yang disukai oleh Eijun. Dari teleponnya, Eijun bisa menangkap pembicaraan bahwa Kazuya sedang sibuk dengan rancangan awal gedung kedutaan besar Swiss dan juga tiga gedung apartement yang rencana pembangunannya akan dilaksanakan awal tahun depan.

"Kenapa tidak memanggilku?" Ujar Kazuya ketika panggilannya berakhir. Dia memutar kursinya dan mendapati Eijun yang berada di ruang kerjanya entah sejak kapan.

Eijun menggeleng, "aku tidak mau mengganggu." Jawabnya. "Makan siang sekarang?" Kazuya mengangguk, dia hendak berdiri namun di tahan oleh Eijun. "Aku yang akan menyiapkannya. Nanti kupanggil."

Eijun keluar dari ruangan itu tanpa menunggu respon Kazuya. Dia memindahkan makanan yang sepertinya sudah lumayan lama dibeli oleh Kazuya ke dalam piring lalu memasukkan satu per satu ke dalam microwave sebelum akhirnya menatanya di meja. Dia tersenyum puas, rasanya tidak ada bedanya makan di rumah ataupun di restoran. Dia menyukainya.

Setelah merasa semuanya sudah sempurna, Eijun kembali masuk ke dalam ruang kerja Kazuya dan mendapati laki-laki itu sedang terduduk kaku tanpa melakukan apapun. Jika ini adalah lima belas tahun yang lalu, Eijun pasti akan panik dan kepanikannya akan membuat sakit Kazuya semakin parah.

Namun kini Eijun sudah terbiasa dan bisa menanganinya berkat pengalaman dan kegigihannya yang selalu minta ikut jika Kazuya sedang melakukan kunjungan fisioterapi.

Eijun sempat keluar lagi dari ruangan itu kemudian kembali dengan Tiger Balm di tangannya. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Kazuya. Dengan perlahan Eijun meletakkan kaki Kazuya yang kram ke atas pangkuannya dan mulai memijat sesuai dengan instruksi yang diajarkan oleh terapis Kazuya dulu.

Kazuya sempat meringis kesakitan bahkan nyaris meminta Eijun untuk berhenti saat Eijun baru saja mulai memijat, tapi setelahnya dia bisa kembali menguasai dirinya. Perlahan kram di kakinya hilang, namun Eijun masih memijat kakinya.

"Kau bisa berhenti sekarang." Kazuya hendak menarik kaki, namun Eijun menahannya. "Biarkan saja." Ujar Eijun pelan. Dia memijat telapak kaki Kazuya sambil tersenyum kecil, rasanya sudah lama sekali sejak mereka berduaan seperti ini karena kesibukan keduanya.

Eijun pikir dengan Kazuya yang kembali ke Tokyo akan membuat laki-laki itu memiliki waktu luang lebih banyak. Namun nyatanya tidak.

Saat setelah bekerja di Tokyo, Kazuya melanggar kontrak kerja lima tahunnya dan keluar sebelum genap bekerja dua tahun sebab tujuan awal Kazuya adalah memerhatikan bagaimana industri arsitektur dan material di Jepang, dan ternyata tidak butuh waktu lama untuk memahaminya. Kazuya tidak keberatan sama sekali ketika dia harus membayar uang penalti dalam jumlah besar, dia bahkan berhasil meyakinkan dua arsitek terbaik di perusahaan itu untuk ikut mengundurkan diri dan membuka firma sendiri bersama Kazuya.

Perjalanannya memang tidak selalu mulus, tapi Kazuya mampu mengatasinya hingga Kazuya berhasil mendapatkan proyek-proyek besar dan klien dari luar Jepang. Proyek berskala besar pertama Kazuya di Jepang adalah apartemen yang mereka tempati hingga sekarang. Saat itu Eijun senang luar biasa karena proyek Kazuya berjalan lancar, Eijun bahkan memesan satu unit bahkan sebelum pembangunan gedung rampung.

"Aku akan mengajakmu liburan jika pertandingan musim ini berakhir." Ujar Kazuya seolah mengetahui isi kepala Eijun.

Senyuman Eijun semakin melebar, namun dia tetap tidak mau terlihat terlalu senang. "Dan kau akan membatalkannya di detik-detik terakhir." Ujar Eijun dengan nada menyindir sambil menahan senyumnya yang nyaris merekah.

Kazuya membuat tanda silang di dada kiri dengan telunjuknya, "kali ini aku akan menepatinya dengan sungguh-sungguh." Kazuya menarik kakinya dari pangkuan Eijun lalu mendekat. "Namibia terdengar menyenangkan. Melihat gajah di Etosha, singa di Mudumu, bagaimana?"

Eijun mencoba menjauh ketika mendengar tawaran Kazuya, namun dengan cepat Kazuya menahannya dan memaksa mata mereka untuk bertemu. Eijun bisa menangkap pancaran jahil dari mata Kazuya yang sengaja membuat Eijun malu.

Sebab Namibia adalah destinasi wisata yang disebutkan oleh Eijun berbulan-bulan lalu setelah percintaan mereka yang melelahkan. Eijun yakin Kazuya tidak mendengarnya karena laki-laki itu sudah setengah tidur dan hanya bergumam tidak jelas ketika Eijun mengatakan keinginannya. Siapa sangka Kazuya masih mengingatnya setelah sekian bulan berlalu?

"Bagaimana?" Tanya Kazuya lagi. Eijun mengangguk, menolak untuk kalah dari Kazuya yang masih berusaha menggodanya. "Jangan batalkan lagi kali ini."

"Aku yang akan mengurusnya kali ini, kau fokus saja dengan pertandingan." Kazuya menggenggam tangan Eijun dengan erat, "apa aku bisa mendapatkan ciumanku sekarang?" Eijun kembali tersenyum, tidak keberatan sama sekali sebab Kazuya memang pantas mendapatkan ciuman manis setelah mau repot-repot untuk merencanakan liburan mereka.

"Maaf untuk tadi malam." Ujar Kazuya di tengah-tengah ciuman. Eijun hanya mengangguk, dia bahkan tidak lagi merasa kesal, tapi Kazuya memang seperti itu. Sebanyak apapun janji yang sering diingkarinya, akan selalu ada terselip kata maaf untuk Eijun.

Siang itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eijun merasa makanan terasa lebih enak dari pada minggu-minggu sebelumnya. Di hadapannya ada Miyuki Kazuya, laki-laki yang sama yang selalu menemaninya di masa remaja, dua puluhan, dan tiga puluh—Kazuya masih bersamanya.

Eijun tidak sabar menunggu lebih banyak tahun yang akan dia habiskan bersama Kazuya, entah itu senang atau sedih, Eijun tidak keberatan karena Kazuya bersamanya.

Sebab kisah mereka tidak berhenti di sini.

.

.

.

end