Sudah lewat sepekan Baekhyun tidak pernah bertemu Chanyeol. Baekhyun menjalani rutinitas semestinya. Tidak tau dengan Chanyeol. Makin pura-pura sibuk dengan buku di perpustakaan. Tidak tau apa yang dilakukan Chanyeol. Dia masih sering memikirkan Chanyeol. Dan Baekhyun makin tersenyum kecut dengan fakta itu.

Dia memang tidak mengurung diri lalu menangis tersedu-sedu layaknya serial romansa yang masih kental dipelototi ibunya. Namun Baekhyun masih saja kesulitan membiasakan diri tanpa pria itu. Matanya seringkali menemukan pesan teks telah diketik untuk siap dikirim namun selalu berakhir di draft ponselnya.

Baekhyun menapaki tangga terakhir menuju apartemennya. Tentu saja gedung pencakar langit selalu dilengkapi fasilitas lift, Baekhyun hanya menghabiskan waktu di hari terakhirnya berada di kota. Karena besok, dia tidak menghirup udara dari tempat yang sama lagi dengan Chanyeol. Hah, Baekhyun harus benar-benar berlatih tidak menghubungan segala sesuatunya dengan lelaki itu.

Baekhyun menahan kakinya tidak terpaku dengan pandangan memancang pada pintu lainnya tepat di hadapan pintu miliknya. Sebab, demi celana dalam pink Luhan, itu adalah kebiasaan baru baginya selama berhari-hari belakangan.

Setelah bunyi klik tanda pintu kembali terkunci, Baekhyun melepas sepatu sebelum sesuatu bergetar-getar di kantung bajunya.

Panggilan dari Luhan.

"Halo, Luhan hyung?" sapanya terlebih dahulu dengan suara ceria.

"Baekhyun-ah~" Telinga Baekhyun merinding mendengar sautan manja dari seberang.

"Hm?"

"Kau benar-benar akan pergi?" Bahkan Baekhyun bisa membayangkan wajah Luhan yang memelas, persis suaranya sekarang.

"Tentu saja, hyung."

"Aku pasti akan sangat merindukanmu, adikku."

"Ya ampun, hyung. Aku hanya pergi dua minggu dan kau terlalu berlebihan. Kita bahkan pernah tak bertemu lebih lama dari dua minggu." Baekhyun mendengus malas.

"Jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa oleh-oleh untukku." Tadi siapa yang seolah-olah tidak rela dirinya pergi, sih?

Setelah percakapan berakhir, telepon genggam ditaruh asal-asalan, kakinya bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidur lebih awal adalah pilihan bijak sebelum menempuh perjalanan jauh.

Ketika mimpi baru saja menyergapnya, gedoran pintu apartemennya terpaksa membuatnya kembali terjaga. Dengan mata separuh terbuka dan gerutuan kesal, tangannya bergegas membuka pintu depan. Tepat ketika kunci diputar, pintunya langsung menjeblak dan tubuhnya diterjang sampai hampir limbung ke belakang. Seseorang memeluknya.

Rasa kantuknya langsung terjun sampai titik terendah. Matanya membelalak. Tubuh jangkung dan parfum yang familiar, Baekhyun tau orang ini. Sosok yang selalu berputar-putar di otaknya belakangan, sosok yang pernah menoreh kebahagiaan sekaligus luka hati. Namun, sebelum mulutnya sempat melontarkan kata, perkataan sosok tersebut membuatnya bungkam.

"Baekhyun, maafkan aku. Jangan pergi kemanapun." Suaranya bergetar. Entah karena cuaca dingin di tengah malam begini atau hal lain. Dekapannya sangat erat sampai hampir membuat Baekhyun sesak tapi tak sanggup mengutarakan. Tangannya terangkat mengelus punggung tegap tersebut.

"Chanyeol, ada apa?" Ya, orang itu adalah Chanyeol. Dengan tubuh dingin dan suara bergetar di tengah malam.

"Jangan pergi jauh dariku, Baekhyun. Aku merindukanmu. Aku tidak menyukainya, kami hanya sahabat. Aku bersumpah." Chanyeol berujar terburu-buru. Padahal Baekhyun tidak kemana-mana.

"Apa maksudmu?"

Chanyeol melepas rengkuhannya, memegang kedua bahu Baekhyun dan menatapnya tepat di mata, "Aku menyukaimu, jangan menjauhiku. Aku tidak ingin kau pindah."

Kening Baekhyun mengkerut kebingungan, "Pindah?"

"Luhan bilang padaku kau akan pindah, Baekhyun!"

Baekhyun makin bingung, Luhan jelas-jelas tau kemana dan apa alasannya pergi. "Kurasa dia berbohong. Aku hanya berlibur Chanyeol." Baekhyun tersenyum geli melihat telinga Chanyeol perlahan memerah.

Tepat ketika kalimatnya selesai, ponsel Baekhyun di atas meja kamarnya bergetar. Ada pesan dari Luhan. Baekhyun mungkin tidak mendengar atau membacanya. Belum.

"Baekhyun, maafkan aku. Aku tidak tau. Jangan salah paham, Chanyeol hanya temanku dan aku tidak menyukainya. Berbahagialah dengannya."

-end

ini sequel sebenernya udah separo dibuat bertahun-tahun lalu hehe. nggatau sih masih ada yang nunggu apa engga, tulisan aku juga kayanha beda karena udah gapeenah nulis lagi sekarang. aku lanjutin sequel ini garagara baca review seseorang di bulan Juni wkwkw, baru baca aku. ganyangka masih ada yg nemu ff ini.

anyway, makasih buat semua yang udah bacaaa hehehe. ini happy ending kan ya? iyalah ya.

sampai sini, good bye! hv a nice day!