Anime : Haikyuu & Naruto

Rated : T

Language : Indonesia

Genre : Humor, drama, and romance

Pair : Hyuga Hinata x Miya Atsumu

Haikyuu Disclaimer : Furudate Haruchi

Naruto Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning : BANYAK!

DON'T LIKE

.

DON'T READ

.

.

" 'Tsumu sialan, kau makan pudingku lagi yah."

"Aku nggak makan pudingmu." Osamu memamndang kakaknya yang dengan jelas sedang memegang pudingnya dan juga sendok. " Geh, ngapain masih coba berbohong. Dasar bedebah cepat ganti pudingku!" Dengan pandangan yang tidak mau kalah Atsumu melotot kepada adiknya dan menunjuknya dengan sendok, dasar kakak yang tidak sopan.

"Dasar adik durhaka, cuman satu puding aja pelit banget."

"satu dari Hongkong, ini sudah yang keduapuluh satu kalinya dasar tidak berotak."

"Oho kau berani ya ..." dan terjadilah jambak-jambakan antara Miya kembar. Suara klontang akibat dari barang-barang yang berjatuhan bisa terdengar hingga beberapa rumah. Tetangga tak lagi aneh dengan hal tersebut.

Suna Rintarou teman dari Miya kembar sudah berdiri diambang pintu dengan handphone yang menyiarkan siaran langsung pergulatan Miya kembar. Emang Miya kembar ini punya temen sama kampretnya.

Ginjima juga tak jauh berbeda dia dengan heboh bertepuk tangan mendukung Osamu yang kini menjambak rambut Atsumu dan menggigit telinganya.

"aduduh 'Samu kampret telinga ku bisa putus." Ginjima dan Suna tergelak melihat Atsumu yang sudah kalah telak oleh adik kembarnya.

Dengan samangat Suna mengompori Osamu "Putusin aja toh telinganya gak suka dipake." Atsumu mendelik garang," Suna Kampret!"raungnya," Okay 'Samu aku ganti pudingnya sekarang, lepasin." Dengan wajah penuh kemenangan Osamu melepaskan gigitanya.

Bekas gigitan terlihat jelas pada telinga kiri Atsumu dia bergidik geli sekaligus ngeri. Osamu itu atlet kunyah nasional, untung telingaku gak putus.

"Enyah sana! Sekalian beli camilan."

Dengan menggerutu, "dasar adik durhaka" sepanjang jalan terus meluncur dari mulut Atsumu. Walaupun kali ini memang kesalahannya sih tapi biasanya Osamu selalu jadi pihak yang mengalah, " 'Samu sialan. Aduh kepalaku."

Dengan rambut yang berantakan Atsumu memasuki minimarket yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sambil menjingjing keranjang Atsumu melihat lihat dirak bagian makanan ringan, Atsumu membeli banyak keripik kentang dan camilan lain yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit tak lupa juga membeli beberapa puding yang memang selalu Osamu beli dari minimarket ini. Saat ingin membeli beberapa minuman bersoda Atsumu melihat seorang gadis bisa dikatakan mungil -jika pendek terlalu kasar- mencoba mengambil sekotak sereal namun tidak terjangkau oleh tangannya.

" Butuh bantuan manis?"

Atsumu melihat gadis mungil itu bergidik dan dengan patah-patah menoleh kearahnya yang akhirnya hanya bisa melihat dada Atsumu jika saja dia tidak mendongak karena ukuran tinggi badan nya yang berbeda.

Si gadis mungil menatap Atsumu tanpa berkedip. Bukanya narsis tapi Miya kembar itu memang dianugerahi wajah yang rupawan dan badan yang aduhai. Saat pertandingan volly, bahkan Atsumu bisa jadi idol dadakan. Si gadis mungil merona Atsumu makin girang dalam hati udah misuh misuh cewek ini imut banget reaksinya lucu Atsumu jadi kepengen nyulik. Walaupun wajahnya rupawan sayang sekali sikap Atsumu ini memang agak urakan.

Menyerahkan sekotak sereal yang coba diraih, si cewek berambut indigo menerimanya dengan malu-malu, " Arigatou." Bisiknya pelan, suaranya lembut sekali. Beruntunglah Atsumu yang telinganya tidak jadi putus digigit Osamu hingga akhirnya dia bisa mendengar suara selembut sutra gadis cebol ini.

Gadis pendek itu mengambil jarak dari Atsumu membungkuk sopan yang sejurus kemudian dia berlari dengan cepat menuju meja kasir dan keluar dari minimarket tersebut. Atsumu berkedip sekali, dua kali lalu terkekeh, " Hehehe lucu banget deh." Terus lanjut belanja.

Sesampainya dirumah Atsumu melihat Ginjima dan Osamu yang sedang bermain game di ruang keluarga sementara Suna duduk diatas sofa sambil bermain handphone. Mereka berempat memang selalu main dikala hari libur kadang juga menginap yang entah sejaka kapan menjadi kegiatan rutin mereka, terkadang mereka menginap dirumah Ginjima atau Suna.

Atsumu menghempaskan dirinya disamping Suna, mengambil bola volly yang entah darimana lalu memaikannya. Ginjima dan Osamu masih anteng main game saat tiba-tiba Suna teriak.

"KYAAAAAAA..."

PRAKK ...

Hening ...

" Woii 'Tsumu lampunya jadi pecah tuh, kalau mau main volly diluar kan bisa." Osamu langsung ngegas, "aduuhh aku kan gak sengaja lagian Suna kenapa sih teriak teriak kayak anak gadis yang mau diapa-apain." Kalau Osamu ngegas Atsumu udah kesetanan, kasihanilah telingaku, batin Atsumu merana. Udah kena gigit sekarang kena teriakan Suna yang mebahana.

Suna melotot," salahin nih story nya Kita-senpai." Dilain tempat kapten tim bola volly Inarizaki bersin dengan imutnya.

"lah apa hubungan nya?" Ginjima yang dari tadi adem ayem buka suara.

Suna mengarahkan layar handphone kepada tiga makhluk lain yang ada disana dan memutar ulang story yang di upload oleh Kita Shinsuke. Dalam hati Suna hitung mundur

Tiga...

Dua ..

Sa-

"GYAAAAA..."

Osamu dan Ginjima pelukan dengan wajah horror, semantara Atsumu loncat dari sofa dan-" Aaarrrgggghhhhh..." teriak lagi.

"Atsumu alay banget sih pake teriak dua kali." Suna gak sadar diri teriakannya tadi bahkan lebih alay. Atsumu dengan wajah pucat mengangkat kaki kanannya.

Darah menetes dari telapak kaki Atsumu yang menginjak pecahan lampu kaca yang tadi dengan tidak sengaja dipecahkannya.

Suna dan Ginjima pias begitu juga Atsumu, " 'Tsumu jangan mati!" dan terjadilah kehebohan dirumah Miya kembar sore itu.

Bunda dari Miya kembar nyaris murka melihat keadaan rumah berantakan untung saja sang kepala keluarga yang baru pulang kerja menahannya. Kasihan juga melihat Atsumu dengan telinga yang memerah, mata berkaca-kaca dan telapak kaki yang berdarah. Untunglah ayahnya Miya kembar adalah seorang dokter. Namun, mencabut pecahan kaca pada telapak kaki Atsumu yang jadi perkara. Nahan Atsumu itu gak cukup satu orang tenaganya kayak banteng ngamuk.

Setelah diobati dan ruangan sudah rapih kembali Atsumu berbaring di kasurnya sambil meratapi nasibnya yang cukup sial hari ini, walaupun itu salahnya sendiri sih.

" 'Samu."

"Iya bunda?" Osamu keluar dari kamar, menyisakan Atsumu yang memanyunkan bibirnya melihat Suna, Ginjima yang sedang menahan tawa.

"Kamu beli lampu ke minimarket didepan, bunda mau nnyiapin makan malam dulu." Okelah, sekarang Osamu mau jadi adik yang berbakti dulu walaupun Atsumu yang memcahkan lampu, kan kasian juga kalau nyuruh Atsumu yang beli lampu dengan luka dikakinya.

Osamu dengan amat sangat terpaksa -sebenarnya- berjalan melewati tiap rumah. Matahari juga nyaris tenggelam.

Saat di persimpangan jalan," kyaaa tolong!" nah, kalo yang tereak cewekkan gak ambigu gak kaya teriakannya Suna, batin Osamu.

Brukkk ... sesuatu yang hangat menimpa tubuhnya Osamu, mengerjapkan mata dan melihat benda apa yang menimpanya. Seorang gadis berambut indigo kulit wajahnya yang putih bersih merona dengan mata berkaca-kaca mirip kucing yang minta dipungut, "to-long hiks.. a-aku di kejar orang gila." Muka Osamu pias dan seperti terpanggil seorang wanita dengan rambut yang tidak beraturan juga pakain yang berantakan berlari kearah mereka.

"Heyyy anak ku sayang rambutmu belum dirapihkan." Dalam hati Osamu beseru, katankan itu pada dirimu sendiri. Yang membuat Osamu makin horror adalah wanita itu tidak membawa sisir melaikan pisau. Osamu mengambil ancang-ancang kemudian berlari sekuat tenaga sambil menggendong gadis berambut indogo tadi ala pengatin baru?

Aksi kejar-kejaran itu tidak berlangsung lama karena petugas dari rumah sakit jiwa berhasil menangkap orang gila tadi.

Osamu terengaah-engah untuk beberapa saat sebelum dia sadar pundaknya terasa basah dan suara isakan yang terdengar samar jangan lupa kedua tangan yang terasa halus memeluk lehernya dengan erat. Osamu gak masalah sih dipeluk gadis cantik seerat itu, tapi mereka udah jadi bahan tontonan.

"Hey, kamu baik-baik saja?"

Seakan tersadar sigadis berusaha turun dari gendongan pemuda yang sudah menolognya dan dengan cerobonya si perempuan berambut indigo lupa bahwa tanganya masih memeluk leher pemuda bersurai abu-abu itu. Kejadiannya sangat cepat pokoknya yang Osamu rasakan adalah lembut dan manis dibibirnya dan yang dilihatnya kemudian adalah gadis yang berada dipelukanya pingsan dengan muka merah padam. Osamu cuman nyengir kayak orang idiot walaupun dalam hati dia mengucapkan banyak terimakasih pada Tuhan diata sana .

Osamu mengganti posisi gendonganya. Osamu harus menahan dirinya mati-matian saat dada siperempuan asing ini menyentuh punggungnya. Walau bagaimapun Osamu cowok normal sedikit lebih normal daripada kakaknya yang, yah begitulah. Dengan secepat kilat Osamu membeli apa yang menjadi tunjuan utamanya dan karena bingung mau dibawa kemana perempuan pingsan yang ada di punggungnya akhirnya dengan senang dan berat hati -karena takut dikira yang enggak-enggak- membawa perempuan berambut indigo ini kerumahnya.

Dan benar saja saat Osamu melangkah masuk kedalam rumah langsung disambut jeritan histeris ibunya. Mahluk-mahluk lain yang ada di rumah itu kecuali Atsumu langsung berdatangan dan secara serempak mereka berteriak.

"OSAMU KAMU APAIN ANAK GADIS ORANG!"

Saking hebohnya Atsumu menyusul dengan jalan terpincang-pincang dan wajah masam, "apa sih heboh amat." Lalu matanya melihat Osamu yang sedang menggendong seoranggadis yang terasa familiar dan, " 'Samu kamu apain kelinci kecilku?!" Osamu melotot, " kelinci kecilku, emangnya kamu kenal dia sok akrab banget sih 'Tsumu."

Atsumu Cuma mingkem, kadang Osamu itu kayak bisa baca fikiran nya Atsumu. Iya kan, mereka kembar.

Setelah membaringkan gadis itu Osamu menjelaskan semuanya, kecuali adegan sebelum gadis itu pingsan ya, yang itu harus disensor, pikir Osamu sambil senyum-senyum gak jelas.

Kurang lebih satu jam kemudian gadis itu baru sadar dan dengan panik langsung melirik sekitarnya, "ugh" rasanya pengen nangis lagi, batin gadis itu merana. Osamu datang dari arah dapur sambil membawa segelas air.

" kamu sudah sadar ya. Apa kamu baik-baik saja?" Suna yang mendengar Osamu berkata sedemikian perhatian nyaris menyemburkan tawanya.

Osamu memberikan gelas berisi air yang dibawanya yang dengan rakus diminum olehh gadis itu. " oh iya, aku belum tahu siapa namamu?"

" nama saya Hinata Hyuuga, umh sebelumnya saya ingin minta maaf karena sudah merepotkan anda."

" Oh,kamu sudah bangun." Atsumu dengan jalan pincangnya berjalan kearah ruang keluarga dan duduk disofa lain yang ada disana. Saat semua orang yang ada disana semua barulah Hinata menceritakan kejadian versi Hinata yang kurang lebih sama seperti yang diceritakan Osamu.

Hinata bercerita bahwa dia adalah orang baru di daerah sini, dia ingin membeli beberapa makan di daerah sana, lalu saat dia sudah selesai belanja dia lupa jalan kerumah barunya dan dengan cerobanya pula Hinata lupa membawa handphone jadi sesore itu Hinata habiskan dengan mengelilingi rumah-rumah yang masih asing itu. Double sialnya dia malah ketemu orang gila yang bawa-bawa pisau. Kalau kejadian yang buat Hinata pingsan sih itu di lewat sama Hinata dan dimodifikasi sedemikian rupa dengan kata "terlalu shock". Oh dan sekedar informasi kalau lagi panik Hinata itu bisa linglung setara bocah baru bangun tidur.

Hening ... sejujurnya Suna dan Ginjima plus Atsumu pengen ketawa mendengar cerita versi Hinata tapi mereka menahanya sebisa mungkin saat melihat wajah nelangsa Hinata.

"uhhh kasiannya kochi-kochi, come to 'Tsumu" Atsumu merentangkan tangannya bersiap memeluk Hinata yang dengan polosnya menuruti perkataan Atsumu yang untungnya dihentikan oleh bundanya sendiri.

Osamu menendang kaki kakak kembarnya," ouch ! 'Samu apaan sih kakiku ini kan lagi sakit maen tendang aja."

" sebel sih, punya kakak kok genit amat sih." Atsumu manyun.

"itu bukan genit tapi perhatian." Dan berlanjutlah percakpan yang mungkin bakal berakhir dengan jambak-jambakan.

"Maafkan saya sudah merepotkan."

"oh tidak apa-apa sayang." Bunda Miya mengusap surai indigo Hianata dengan lembut, maklum soalnya bunda Miya kepengen punya anak yang imut-imut kalau dulu sih Miya kembar emang imut banget tapi udah gede dan sikapnya makin gak karuan, yah begitulah.

Setelah itu, dengan baik hati –tidak biasanya- Suna meminjamkan handphonenya kepada Hinata untuk menghubungi kakaknya. Sambil menunggu kakaknya datang Osamu memperkenalkan dirinya, " oh iya, namaku Miya Osamu dan yang mukanya nyebelin itu kakak kembarku Miya Atsumu." Atsumu hendak protes namun ditahannya.

"kita sempat bertemu diminimarket kan." Atsumu tersenyum seksi, wajah Hinata pucat pasi "belanjaanku?" bibir Hinata bergetar matanya berkaca-kaca lagi,"pasti terjatuh saat dikejar orang gila. Ugh!" Hinata jadi kesal sendiri.

TING TONG... Suna beranjak untuk membukakan pintu, entah kenapa hari ini Suna jadi kaya ibu peri, baik banget. Padahal bisasanya dia orangnya ogah-ogahan banget.

Di bukalah pintu tersebut dan apa yang Suna lihat membuat dia merona, seorang yang mirip dengan Hinata namun lebih tinggi dan lebih dewasa berdiri bersama seorang yang mirip dengannya namnun dengan versi yang lebih muda.

"Maafkan saya, saya kesini ingin menjemput adik saya." Suna mingkem, kok suranya berat gitu.

"eh, silahkan masuk dulu."

Mereka masuk kedalam dan dengan berkaca-kaca Hinata menatap kedatangan kakak dan adiknya.

"Nii-san ..." "Hinata."

Semua cowok yang ada disana kecuali Suna membatin ,yang suaranya kayak cowok cantik banget, begitulah kurang lebih. Hinata berjalan kearah kakaknya hendak memeluknya namun-

"Dasar imoutou ceroboh kalau mau kemana-mana tuh bawa hp kenapa coba udah tahu kamu itu buta arah." Dan serentetan omelan lainnya kalau saja gadis yang lebih muda disebelahnya tidak menyikut perutnya.

"aduh, apaan sih Hanabi?" semprot Neji

" Neji-nii udahan dong ngomelnya nanti aja malu tuh dilihatin." Neji terdiam kemudian langsung pasang senyum sejuta bisnis? Dan menatap penghuni rumah tersebut.

"Maafkan atas ketidak sopanan kami, saya Neji Hyuuga dan ini adik saya Hanabi Hyuuga. Sebelumnya saya minta maaf jika Hinata merepotkan anda dan teimakasih karena sudah mau menolong Hinata." Neji mengakhiri ucapannya dengan senyum yang menyilaukan. FYI Neji itu cowok tulen tapi wajah dan rambutnya bikin salah paham, Suna aja sempat khilaf.

"ah tidak merepotkan sama sekali kok." Ayah dari kembar Miya tersenyum sopan.

"sekali lagi terimakasih banyak." Neji membungkuk kemudian menyelipkan anak rambutnya ketelinga dengan gerakan yang anggun.

"Cantik banget!"

Suna mengelus dada dan berbisik kepada dirinya sendiri, dia itu cowok.

" Kalau begitu kami pamit pulang. Sekali lagi terimakasih karena sudah menolong Hinata." Hinata membungkuk lebih dalam, saat matanya bertemu pandang dengan kembar Miya dia memberikan senyum terbaiknya sebagai ucapan terimakasih tak tersirat. Untuk sesaat Hinata bertemu pandang dengan Osamu yang membuatnya langsung merona seketika. Lantas mereka bertigapun pergi dari kediaman keluarga Miya.

" Kakaknya itu beneran cowokkan?" semua mata memandang Ginjima kecuali orang tua kembar Miya yang sudah ke kamarnya karena ingin istirahat.

"Dia cantik banget."

"Setuju. Tapi adik-adiknya juga gak kalah cantik apalagi Hanabi." Ginjima memandang kesatu titik imajiner seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

"Enggak, yang paling cantik itu Hinata." Kalau ini Atsumu yang gak mau kalah di ikuti anggukkan setuju dari adik kembarnya.

" Alah gak usah nyangkal deh kalian semua pasti mengakui kalau kakaknya emang cantik." Ucapan Suna bikin semua yang ada disana pada diam, Neji memang cantik sih covernya cucok sangat tapi kalau udah ngomong suaranya bikin merinding.

.

.

.

Krrriiiinggggg !

Atsumu terbangunn dengan panik dia langsung turun dari ranjang-" Gahhhhhh..."-nya. Suara gedebuk yang keras itu membuat nyonya dirumah Miya masuk kekamar anaknya tanpa mengetuk pintu. " 'Tsumu ada apa? Kenapa teriak-teriak."

"Bunda, sakit." Atsumu dengan mata berlinang air mata buaya? Merengek kayak bocah yang gak dibolehin jajan. Membantu mendudukan anaknya diranjang dan memeriksa keadaan kaki anaknya," udah tahu kakimu lagi luka juga" dan mengomeli Atsumu.

" Bunda kan 'Tsumu lagi sakit kok diomelin sih." Bunda Miya menatap gemas anak sulungnya itu. " Oh iya 'Samu kemana? Kok aku gak denger suranya daritadi."

" 'Samu udah berangkat sekolah."

" HAAAHHH? Kok 'Samu tega sih ninggalin aku." Mulai deh dasar drama king.

" Kan kamu lagi sakit jadi bunda suruh Osamu berangkat duluan."

"Luka segini sih gak masalah." Ujar Atsumu dengan wajah pongah," terus tadi teriak kenapa?" nah kah," eheheh, tapi 'Tsumu pengen sekolah bunda bosen kalo dirumah terus." Rengeknya.

Bunda Miya menghela nafas si sulung Miya emang agak keras kepala , "bisa jalan?" tanya bunda Miya skeptis, "Tentu saja."

"oke, nanti berangkatnya bareng ayah aja sekalian kerja, sekarang kamu siap-siap."

"Yakin gak mau ayah anter sampe kelas?" Ayahnya Miya kembar emang perhatian banget.

"gak usah yah, makasih udah nganter 'Tsumu."

Emang agak susah sih jalan dengan pincang, masalahnya Atsumu tuh bukan orang penyabar jalan dengan kaki pincang membuat jarak dari gerbang ke kelas nya terasa lebih jauh berkali-kali lipat. Dan untuk beberapa minggu kedepan dia gak bisa ikut latihan volly. Dalam perjalanan menuju kelasnya yang melewati gymnasium. Terdengar suara riuh pasti beberapa teman setim klubnya masih ada yang latihan ternyata. Melongok kepalanya Atsumu melihat Ginjima yang sedang latihan spike bersama Osamu sebagai setternya.

"Atsumu, kupikir kamu tidak akan masuk hari ini." Seperti hantu kapten tim volly Inarizaki Kita Shinsuke sedang memegang bola Volly yang baru selesai dilapnya tiba-tiba ada di hadapan Atsumu.

" 'Tsumu kesepian kalo dirumah terus, kangen juga sama Kita-senpai."

Kapten Kita cuma bisa ngelus dada sudah terlalu terbiasa dengan tingkah laku yang agak kecentilan dari Atsumu.

"lho 'Tsumu kenapa ada disini?"

"Bagus ya, kakaknya lagi sakit malah di tinggalin dasar adik durhaka"

"lah kan bunda yang nyuruh bangsat kok aku yang dimarahin sih."

Atsumu gak bisa ngebalas omongan nya Osamu karena memang seperti itu kenyataanya.

"oh iya, Kita-senpai untuk beberapa hari kedepan aku nggak bisa ikut latihan."

"Ya udah sih toh gak ada lo juga sama aja." Nah kalau ini Suna dengan mulut ultra julidnya yang ngomong. Atsumu melotot ke arah Suna yang sudah mengganti pakaiannya dengan baju seragam.

"Ya sudah enggak papa", Kita Shinsuke itu kadang kayak bundanya tim bola volly Inarizaki," lain kali kalau main bola volly jangan di dalam rumah." Osamu, Ginjima, dan Suna yang mendengar omongan Kita langsung merinding, kapten tahu dari mana Atsumu main bola volly dalam rumah perasaan tadi Osamu cuma bilang bahwa Atsumu gak bisa ikut latihan karena kakinya sedang terluka. Dilain sisi Kita emang nyeremin soalnya dia bisa tahu apa aja, kaya paramal.

Anak-anak kelas 2 sudah berganti bajunya dengan seragam begitu juga dengan Osamu yang kini membantu memapah Atsumu menuju kelasnya.

Atsumu terharu,"Samu' aku janji gak akan makan pudingmu lagi." Osamu hanya memeberikan tatapan sangsi, gak yakin sih Atsumu bakal benar-benar melakukanya.

"lagian kenapa sih ayah gak ngasih kruk aja gitu buat bantu kamu jalan."

"dasar adik durhaka! Ayah tuh gak ngasih aku kruk supaya kamu bisa berbakti sama kakakmu." Nah yang ini tentu akal-akalanya Atsumu sih. Ayahnya tadi sebeleum berangkat udah nawarin tapi entah kenapa Atsumu menolak. Gak tahu lah yah cuman Tuhan dan Atsumu yang tahu.

Osamu telah sampai di kelasnya Atsumu dan setelah mengantarkan Atsumu dengan selamat sampai kekelasnya Osamu pergi begitu saja bahkan sebelum Atsumu ngucapin terima kasih. Tumben?

Beberapa temannya mengerubunginya dan bertanya ada apa dengan kaki kanan Atsumu yang di jawab oleh Atsumu dengan sedikit bumbu dramatis disana-sini.

...

"Aduh Neji-nii, Hinata jadi telatkan kesekolahnya." Hinata menggerutu lucu dengan bibir yang mengerucut.

"Iya iya maaf deh." Neji berkata dengan tidak meyakinkan.

"huh!" Hinata ngambek. Ya jelaslah di hari pertama masuk sekolah yang baru harusnya dia datang tepat waktu tapi Neji yang kekeuh ingin mengantar Hinata kesekolah barunya malah sibuk mencatok rambut baca koran dan sarapan dengan tenang padahal jam sudah menunjukan jam delapan kurang lima belas menit.

" Sudahlah ayo Nii-san antar menemui kepla sekolah disini."

Hinata cuman bisa nurut walau bagaimanapun dia sekarang menjadi tanggung jawab Neji.

Setelah Neji berbicara dengan kepala sekolah mengenai ini dan itu dan pamit. Hinata diantarkan oleh salah seorang sensei menjuju kelas barunya. Sensei yang mengantarnya berhenti dikelas 1-3 dan mengetuk pintu dengan sopan berbicara kepada sensei lain yang sedang mengajar bahwa kelasnya kedatangan murid baru. Sensei yang mengantar Hinata berbalik, menyuruhnya masuk dan mengatakan semoga betah sekolah disini kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih pada sensei yang sedang mengajar itu.

"Nah Hyuga-san" Hinata mengangguk kecil " Nama Sensei, Kuroogane, kamu bisa panggil Kuroo-sensei sama seperti yang lainnya. Sensei mengajar pelajaran matematika. Sekarang silahkan perkenalkan dirimu." Hinata mengangguk kecil." Ha'i, Kuroo-sensei."

Hianata mengedarkan matanya keseluruh penjuru kelas menatap satu persatu calon teman sekelasnya. " Hinata Hyuga desu. Saya dari Tokyo. Disini saya tinggal bersama Nii-san. Saya tidak tahu banyak tentang Hyogo, jadi mohon kerjasamanya." Dan diakhiri dengann senyuman manis dari Hinata. "kalau ada pertanyaa silahkan tanyakan nanti saat istirahat. Hyuga-san silahkan duduk." Hinata duduk di bangku paling pojok dekat jendela yang mengarah langsung pada lapang olahraga. Saat melewati deret bangku ketiga Hinata bertemu pandang dengan Atsumu yang juga menatapnya. Hinata tersenyum polos kearah Atsumu yang kini sedang senyum-senyum gak jelas.

Saat jam istirahat banyak teman sekelas yang mengerubuni Hinata dan mengajak ke kantin bersama. Namun, dengan halus ditolaknya karena Hinata membawa bekal dari rumah.

Saat sebagian siswa dikelas itu keluar untuk mengisis perut ke kantin atau sekedar mencari udara segar diluar ruangan kini tinggallah Hinata dan Atsumu juga dua orang lainnya yang sedang bersiap pergi juga sepertinya. Hinata mendekati Atsumu,"Miya-san?" panggilnya.

Atsumu mendongak dan melihat Hinata suadah berada dihadapannya, duduk dikursi tepat di depan Atsumu"aku sungguh berterimakasih atas pertolongan kemarin. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian tidak menolongku."

"Oh, bukan maalah besar. Aku juga tidal bisa membiarkan gadis manis sepertimu kesusahan." Hinata merona

"Miya-san tidak pergi ke kantin?"

"tidak, kakiku terluka jadi aku menunggu makanannya datang."

Hinata yang kurang paham mengedip-ngedip mata lucu.

"umhh etto- sebenernya aku membawa bento lebih kalau Miya-san tidak keberatan mau mecoba bento buatan saya-"

"Tentu tidak." Dalam hati Atsumu berharap adiknya tidak datang ke kelasnya.

Hinata menatap sumpitnya yang hanya ada satu pasang, karena kejadian ini tidak direncanakan sebelumnya.

"Miya-san anoo sumpitnya ada satu etoo.." Hinata jadi bingung sendiri mana dari tadi ditatap dengan intens oleh Atsumu.

"aku gak masalah kok satu sumpit berdua. Oh dan jangan panggil aku Miya-san, panggil saja Atsumu. Panggil sayang atau babe juga boleh." Goda Atsumu.

"silahkan Atsumu-san." Setelah membuka kotak bekal yang isinya memang terlalu banyak untuk porsi Hinata sih. Hinata hendak memberikan sumpitnya kepada Atsumu.

"lho enggak sekalian di suapin?" goda Atsumu,bagian dua.

Namun, Hinata ini emang polosnya kebangetan kadang, "oke." Dan Atsumu makin kegirangan,cewek in manis sekali boleh aku culik gak. Atsumu sudah senyum-senyum gak jelas setelah menerima suapan pertama dari Hinata

" 'Tsumu!" Osamu masuk kedalam kelasnya Atsumu bersama Suna dan Ginjima yang mengekor di belakangnya.

"Lho Hinata?" ujar mereka bersamaan.
"ah, Miya-san yang lain." Gumam Hinata pelan sambil mengangguk pelan. Osamu dan yang lainya mendekat kearah Atsumu dan Hinata.

"Atsumu-san aaa..." Atsumu menerima suapan dari Hinata dengan senang hati tidak seperti ketiga orang yang melotot ke arahnya.

"Hoi 'Tsumu aku udah bawain makannan buatmu, kamu malah dengan seanaknya disuapin sama Hinata ya. Dasar-"

"Miya-san juga mau?" Osamu langsung berbinar-binar dan mengangguk penuh semngat seperti anak anjing yang hendak diberi makan. Suna dan Ginjima hanya mendengus.

"etto-" Hinat melihat kearah Suna dan Ginjima "aku tidak membawa porsi lebih anoo-"

"kalo enggak bawa lebih harusnya jangan nawarin Osamu."

"tidak apa-apa Hinata, kami sudah beli makanan dari kantin."

"ah baiklah. Tapi besok aku akan bawakan bekal untukk kalian semua sebagai ucapan terima kasih ku." Ujar Hinata penuh senyum, reaksi Ginjima kurang lebih sama seperti reaksi Osamu sementara Suna hanya tersenyum tipis saja.

"aku kan sangat menantikanya."

Hinata kini menyuapi Osamu," Wah ini kamu yang masak sendiri?" Osamu, "uhm "

"enak banget."

"Terimakasih." Hinata hendak menyuapi Atsumu namunn dengan sangat cepat Osamu mengarahkan tangan Hinta yang hendak menyuapi Atsumu kemulutnya.

"umh enwak swekawi"

Atsumu menggeram," 'Samu paan sih kan harusnya giliran aku."

"lah kan kamu dari tadi udah disupin Hinata sekarang giliranku dong."

"Ho dasar... sudah untung aku mau berbabgi makannanku dengan mu dasar gembul."

"Ap- emangnya itu punya kamu apa lagipula Hinata yang nawarin."

Atsumu menarik kerah seragam Osamu dan karena tak mau kalah Osamu juga menarik kerah seragam Atsumu.

Hinata terbengong-bengong

Suna and Ginjima, "Ini gak akan berakhir cepat."

The End

Actually, aku bikin fict ini cuman sekedar berbagi khayalan yang ada di kepalaku sih hahah karena aku suka HQ dan aku suka Hinata jadi yah begitulah xD

Ini kali pertama aku bikin fict genre humor yah walau pun humor nya amat samat garing

Sebenernya aku masih mikir-mikir buat bikin sequel-nya atau enggak sih yah gimana nanti aja yah.

Yang berkenan silahkan review

Saya menerima saran dan juga kritik (asal jangan kayak netizen) ;D