"petrichor"

A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

Warning(s) : Alternate Universe, teen!chara, highschool!AU, Halilintar x Ying.


Untuk barter asupan dengan Fureene Anderson.


Hari itu sebuah hari Sabtu kelabu.

Halilintar baru saja menginjakkan kaki di halte bus, saat rintik hujan pertama menampakkan diri. Hanya butuh beberapa detik sebelum hujan mulai mengguyur dengan deras, seolah langit tengah menertawakan orang-orang yang tengah bersiap-siap menghabiskan malam Minggu dengan bersenang-senang.

Halte bus yang didominasi warna biru itu sepi. Hanya ada seorang wanita tua yang tampaknya terlelap di kursi. Kepalanya yang didominasi helaian rambut putih, bersandar di dinding yang ditempeli banyak brosur kusam.

Halilintar mengambil tempat duduk di ujung berlawanan. Ia meletakkan tas sekolah di samping kakinya. Sepasang iris delima memandang tirai hujan yang menutupi jalan.

Sayang sekali, ia tidak membawa payung. Jarak rumahnya dan halte terpaut beberapa ratus meter. Bisa dipastikan, jika hujan tidak juga berhenti, Halilintar terpaksa harus berlari pulang dan mengambil resiko seragam, sepatu, serta tasnya basah. Tidak masalah juga, lagipula besok hari Minggu, sekolah libur. Halilintar bisa mencuci dan menjemur pakaian, serta sepatu dan tasnya besok.

Atau, lebih baik ia menelepon salah satu saudaranya untuk menjemput? Gempa mungkin sudah sampai di rumah sejak tadi. Taufan bisa saja masih berkeliaran entah di mana bersama teman-temannya. Awas saja, kalau Taufan sampai pulang larut lagi seperti beberapa waktu belakangan, Halilintar benar-benar akan mengadukannya pada ibu mereka.

Derap langkah bergegas membuat atensi Halilintar tertarik untuk menoleh. seorang gadis menapakkan sepatu yang dilumuri becek di lantai halte. Ia menggerutu pelan, rambut yang terkuncir dua tampak terkulai basah di kedua pundaknya. Ia terlihat seperti anak anjing yang baru saja tercebur di kolam. Tubuh basah kuyup, pipi bulat yang menggembung jengkel, dan sepasang safir yang tengah menatap lurus pada Halilintar.

Halilintar mengerjap, kemudian buru-buru memalingkan pandangan karena ketahuan menatap terlalu lama. Apa ia dianggap tukang kuntit yang tidak sopan?

"Kak Halilintar, 'kan?"

"Eh?"

Halilintar mendongak, mendapati gadis itu tengah mengawasinya sambil menilai.

"Ah, benar. ternyata memang Kak Halilintar!" senyum riang terulas di wajah yang sebelumnya tampak kusut. Tanpa permisi, ia mendudukkan diri di samping Halilintar. "Namaku Ying, anak kelas satu. Kakak ingat, 'kan?"

Halilintar harus memutar keras otaknya untuk mengingat. Oh, benar. pantas saja gadis ini sejak tadi terlihat familiar. Ternyata dia junior Halilintar di klub atletik.

"Kenapa Kak Halilintar di sini?" tanya Ying. Ia bahkan tidak menunggu konfirmasi apakah Halilintar mengenalinya atau tidak. Mata birunya mengerjap-ngerjap di balik lensa yang dipenuhi tetesan air. "Biasanya kakak pulang naik motor, 'kan?"

"Motorku rusak," sahut Halilintar. Ia berdeham, kenapa suaranya mendadak sulit keluar?

"Oh, begitu," Ying mengangguk-angguk. "Berarti sekarang kakak sedang menunggu bus? Kalau boleh tahu, di mana rumah Kak Halilintar?"

Halilintar mulai berpikir bahwa gadis inilah yang seorang penguntit. "Di Jalan Merak."

"Oh!" Ying mengerjap antusias. "Kalau begitu kita searah!"

Halilintar memilih tidak menanggapi. Ia menggeser tubuhnya sedikit, tak ingin tetesan air dari pakaian Ying yang menggenangi kursi dan lantai ikut membasahi seragamnya.

"Apa Kak Halilintar bawa payung?" tanya Ying.

"Tidak."

"Ah, sayang sekali," desah Ying. Ia melepas kunciran, membuat rambutnya yang basah tergerai di punggungnya.

Halilintar berusaha untuk tidak memandangi rambut hitam itu terlalu lama. Aroma sampo yang menguar entah kenapa membuat wajahnya sedikit merona.

Derai hujan kembali mengetuk telinga setelah celotehan Ying berhenti. Halilintar mendapati dirinya berulang kali mencuri pandang pada gadis mungil yang tengah termenung di sebelahnya. Apa yang tengah ada di pikirannya?

Halilintar menggeleng, kembali mengalihkan atensi. Apa yang sedang dilakukannya? Ia bahkan tidak mengenal gadis ini selain sebagai juniornya. Mereka hanya sesekali berpapasan di ruang klub. Halilintar bahkan tidak menaruh perhatian padanya dari sekian banyak murid baru yang masuk ke klub atletik.

Sejak memenangkan banyak piagam penghargaan di turnamen tahun lalu, klub mereka memang menarik lebih banyak peminat. Halilintar tidak begitu peduli, ia memilih ekstrakurikuler ini hanya karena hobi berlarinya. Halilintar tidak begitu tertarik mengejar penghargaan, apalagi popularitas. Karena itu sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak terlalu menonjol. Meski diam-diam, Halilintar selalu berlatih lebih lama dari yang lain, bahkan setelah kegiatan klub berakhir dan semua anggota sudah pulang ke rumah masing-masing.

"Kak Halilintar suka berlari, ya?" Suara Ying kembali menginterupsi nyanyian hujan.

"Ya, begitulah," Halilintar mengedikkan bahu.

"Aku selalu memperhatikan kakak, lho," Ying tersenyum. Saat itu, bus yang akan ditumpangi Halilintar berhenti di halte. Decit remnya menimbulkan bunyi cukup riuh yang meredam kata-kata Ying berikutnya. "Aku suka melihat kakak berlari. Sama seperti aku suka melihat kakak di sini."

Bau asap dari knalpot bus bercampur dengan aroma petrikor dari hujan. Halilintar mengerjap, memandang Ying yang bangkit dan berlari menaiki bus. Gadis itu berbalik, senyumnya jenaka dan metanya mengerling penuh arti.

"Kak Halilintar tidak ikut naik?"

Halilintar tersadar ia sudah bergeming terlalu lama. Bus hendak bersiap-siap kembali berangkat, dan Halilintar bergegas menyusul Ying ke dalam bus. Ia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi mungkin hujan kali ini telah membawa sesuatu bersama aroma petrikor yang memabukkan.

Siapa yang tahu apa yang akan dibawa hujan berikutnya, 'kan?

.

.

.

Fin


A/N :

Nggak tau ini nulis apaan. Pengennya nulis oneshot full, tapi jadinya cuma drabble. Maafkan aku, fur :""

Susah banget nulis emang ya kalau udah kelamaan hiatus, haha. Idenya ada, tapi mampet aja gitu nggak bisa dipaksa keluar. Huft.

Makasih yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di kesempatan berikutnya~