Halo!
Sebenarnya aku sudah lama sekali bergabung disini. Tapi baru sempat aktif kembali. Dan ini adalah salah satu fic persembahanku. Jujur aku masih belum terbiasa menulis. Jadi mohon bantuannya ya, teman-teman ^^
Mind to RnR?
Enjoy!
.
.
.
Sebuah ruangan nan megah yang bernuansa gothic, dimana terdapat seorang pria yang sedang berdiri di depan sebuah altar. Menanti sang putri yang sedang menuju ke arahnya. Terus berjalan dengan tudung kepala yang menutupi wajahnya, sang putri menundukkan kepalanya. Tudung kepala yang juga bernuansa gothic tersebut menjuntai ke lantai dan terseret bersamaan dengan langkah maju sang putri. Kemudian, sang putri pun menaiki undakan tangga dan disambut oleh uluran tangan sang pria. Sang putri segera mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan sang pria yang akan menjadi pemiliknya.
Berdiri berhadapan, sang pria pun meraih tangan kiri sang putri. Dengan tenang, sang pria mulai memasangkan sebuah cincin yang berhiaskan permata ruby di jari manis sang putri. "Mulai detik ini, akulah pangeranmu. Dan kau adalah milikku," kalimat tersebut terucap dari kedua bibir sang pria yang kini telah resmi menjadi pemilik bagi sang putri.
.
.
.
oOo
Naruto Masashi Kishimoto
Definitely Mine
Nadeshiko Hime-chan
Rated : T
Pairing : SasuSaku
AU, Typo(s), OOC, etc.
Romance/Fantasy/Supernatural
oOo
.
.
.
CHAPTER 1
Terlihat seorang gadis cantik berambut merah muda sedang duduk sambil membaca sebuah novel yang ditemani oleh secangkir ocha panas. Sesekali ia menyeruput ocha panasnya yang kini telah menjadi hangat. Gadis tersebut bernama Sakura Haruno, seorang mahasiswi jurusan kedokteran di Konoha University. Ia sangat menyukai novel fantasi dan juga sangat suka untuk mengoleksinya. Salah satunya adalah novel yang sekarang ini sedang dibacanya.
Sedang asyiknya membaca, tiba-tiba terdengar alunan musik yang berasal dari ponselnya. Menandakan bahwa ada panggilan masuk. Setelah menandai bagian yang sudah ia baca pada novelnya, Sakura bergegas menyentuh kata 'answer' pada layar ponselnya.
"Moshi-moshi," ucap Sakura setelah menerima panggilan tersebut.
Sayup-sayup terdengar suara dari seberang sana yang menjawab salam Sakura.
"Ada perlu apa, Ino?" tanya Sakura kepada sahabat terdekatnya yang juga kuliah di Konoha University dan mengambil jurusan yang sama dengannya.
"Ha'i ha'i. Aku akan segera ke sana," setelah mengucapkan kalimat itu, Sakura memutuskan sambungan telpon dan berdiri dari tempat duduknya. Bergegas untuk menuju rumah sahabatnya yang memang dekat dengan rumahnya.
Sakura membuka lemari pakaian yang terletak di sudut kamarnya. Mengganti hotpants yang sedang ia kenakan dengan celana jeans panjang. Kemudian ia mengambil jaket merah muda favoritnya dan keluar kamar. Tak lupa membawa ponsel kesayangannya.
Sakura menuruni tangga rumahnya dengan cepat. Sebelum meninggalkan rumah, ia mematikan lampu ruangan bawah rumahnya. Setelahnya ia segera keluar rumah dan menguncinya.
Malam yang dingin membuat Sakura mengeratkan jaketnya. Dalam perjalanan, ia selalu merutuki Ino yang seenak jidat menyuruhnya datang ke rumahnya. Walaupun rumah Ino hanya beberapa blok dari rumahnya, tetap saja berjalan di malam yang dingin ini bukanlah sesuatu yang baik. Apalagi jika sendirian seperti yang dialami Sakura saat ini.
.
.
.
.
"Hei Ino, dimana Sakura-chan? Sudah lewat sepuluh menit tapi belum datang juga," celetuk seorang pria berambut kuning jabrik dengan iris sapphire kepada si empunya rumah yang tak lain adalah Ino Yamanaka. Di sebelahnya ada seorang pria berambut hitam mencuat dengan iris onyx yang sangat menawan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Cerewet kau Naruto! Sebentar lagi juga datang. Apa kau tidak bisa tenang seperti Sasuke?" balas Ino sebal. Yang dimarahi pun hanya cengengesan saja.
Ting tong...
"Nah itu pasti Sakura. Aku membuka pintu dulu," ucap Ino sambil menuju pintu rumahnya.
Dengan cepat Ino membuka pintu dan tampaklah Sakura yang meperlihatkan ekspresi sebalnya pada sang sahabat tercinta.
"Akhirnya kau datang juga!" ucap Ino senang sambil memeluk Sakura.
"Sebenarnya kenapa kau memanggilku malam-malam begini?" tanya Sakura sambil menekankan kata malam – malam.
"Kau tahu 'kan kalau kita jarang berkumpul bersama sejak lulus SMA? Kebetulan aku mengadakan acara kecil-kecilan untuk berkumpul bersama," jawab Ino dengan santai.
"Tapi kenapa mendadak sekali?"
"Sudahlah. Ayo cepat masuk," Ino menggandeng tangan Sakura dan menuju ruang tengah.
Di ruangan tengah Sakura melihat Naruto beserta cengiran khasnya yang langsung meyapanya. Namun seseorang tak dikenal yang berada di sebelah Naruto membuatnya bertanya-bertanya.
"Oh ya, Sakura-chan perkenalkan. Ini temanku Uchiha Sasuke, sebelumnya dia tinggal di Amerika dan baru pindah ke sini awal tahun ini. Sasuke perkenalkan, dia Sakura-chan," ucap Naruto memperkenalkan keduanya. Keduanya pun berjabat tangan.
"Aku Haruno Sakura, salam kenal Uchiha-san."
"Hn. Sasuke saja," balas Sasuke kalem.
"Ku harap kalian bisa akur ya hehehe," ucap Naruto sambil menampakan cengiran khasnya.
"Oh ya, Sasuke kuliah di Konoha University juga 'kan?" tanya Ino sang tuan rumah.
"Hn."
Mereka pun terlibat percakapan ringan sampai bel pintu si tuan rumah berbunyi kembali. Terpaksa mereka menyudahi percakapan dan membiarkan sang tuan rumah membuka pintu. Ketiga manusia yang berada dalam satu ruangan itu pun hanya menunggu sang tuan rumah beserta tamunya dalam keheningan. Biasanya Naruto menjadi satu – satunya yang tidak bisa diam, namun kali ini pria beriris sapphire tersebut lebih memilih untuk berkutat dengan ponselnya. Situasi ini membuat Sakura canggung, karena ia belum begitu mengenal Sasuke.
"Hei semua, lama tak jumpa," sapa pemuda berkulit putih pucat yang baru saja tiba diikuti dengan sang tuan rumah di belakangnya.
"Ooh Sai! Lama tak jumpa juga. Bagaimana kabarmu?" sambut Naruto dengan semangat.
Kedatangan Sai telah merubah situasi canggung yang dirasakan Sakura beberapa menit lalu. Naruto kembali heboh dan memperkenalkan Sasuke kepada pemuda berkulit putih pucat tersebut. Ino pun ikut menghebohkan suasana dengan bercengkrama dan sedikit bercanda bersama semua manusia yang berada di ruangan tengah rumahnya. Di sela-sela perbincangan tersebut, Sakura seringkali mendapati Sasuke memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun gadis bersurai merah muda tersebut memilih untuk tidak ambil pusing dengan hal itu.
Tak terasa pertemuan kecil tersebut sudah lebih dari satu setengah jam. Rasanya sudah waktunya untuk kembali ke rumah masing-masing. Keempat manusia termasuk Sakura berpamitan kepada Ino si tuan rumah.
"Kapan-kapan kita berkumpul lagi ya. Sampai jumpa," ucap Ino sebagai kalimat perpisahan mereka.
"Ya. Sampai jumpa."
.
.
.
"Oh ya, Sasuke. Rumah Sakura-chan satu arah denganmu. Kau sekalian antar Sakura-chan ya," ucap Naruto pada Sasuke.
"Hn."
"Eh jadi Sasuke tinggal di perumahan ini juga?"
"Hn," jawab si pemuda beriris onyx tersebut.
Err... Pemuda yang irit bicara sekali. Pikir Sakura. Pasti akan sangat terasa canggung ketika mereka harus berjalan berduaan saja. Sama seperti saat di rumah Ino tadi.
"Yasudah aku duluan ya. Sasuke, titip Sakura-chan, bye-bye!" suara Naruto menyadarkan Sakura dari pikirannya tentang berduaan bersama Sasuke.
"Aa."
Sakura yang telah tersadar dari pikirannya pun merespon salam Naruto dan melambaikan tangan. "Hati-hati, Naruto!"
Hening. Situasi yang canggung pun dimulai. Jujur, Sakura sangat membenci situasi seperti ini. Berduaan bersama seorang pria yang bahkan belum dikenalnya selama dua puluh empat jam. Dan lagi, pria tersebut sangat irit bicara. Ya. Sakura akui Sasuke sangat tampan, bahkan termasuk dalam kategori pria idamannya. Namun kalau terasa canggung seperti ini tetap saja.
Baiklah, aku akan mencoba mencairkan suasana. Pikir Sakura. "Err...anu..." Belum sempat melanjutkan bicara, suara baritone Sasuke terdengar.
"Mari kita pulang."
"Ah... I-iya," respon Sakura kikuk. Baru saja ia ingin mencoba mencairkan suasana, tapi Sasuke membuat upayanya itu sia-sia. Sakura pun mengikuti Sasuke yang sudah berjalan beberapa langkah lebih dulu.
Tap.
Tap.
Tap.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar tanpa ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Padahal posisi mereka saat ini adalah bersebelahan. Tibanya di sebuah persimpangan Sakura merasakan langkah Sasuke terhenti. Refleks Sakura ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa, anu...Sasuke?"
"Dimana rumahmu?"
"Ah iya, rumahku masih lurus, persimpangan berikutnya baru belok kiri."
"Hn."
Sasuke kembali melangkah lalu diikuti Sakura. "Rumahku dari persimpangan tadi belok kanan. Tapi aku akan mengantarmu dulu." Ah, akhirnya Sakura bisa mendengar Sasuke melontarkan kalimat yang agak panjang.
"Tidak usah repot-repot, Sasuke. Dari sini aku bisa sendiri," ucap Sakura tak enak hati.
Namun Sasuke merespon dengan cepat, "Tak apa-apa. Seorang gadis tidak baik berjalan sendirian malam-malam." Biarpun irit bicara dan terkesan arogan, Sasuke tetaplah seorang pria yang gentle.
Akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Sakura. "Sudah sampai. Arigatou ne,Sasuke." Sakura berterimakasih kepada Sasuke dengan senyuman yang entah mengapa membuat perasaan Sasuke bergejolak. "Apa kau tidak ingin mampir sebentar?"
"Tidak. Lagipula ini sudah malam."
"Ah iya. Benar juga hehe. Kalau begitu, hati-hati ya di jalan. Sampai bertemu lagi," entah mengapa Sakura merasa ia akan bertemu lagi dengan Sasuke.
"Aa."
Baik Sasuke dan Sakura masih tetap bergeming. Sampai-sampai Sasuke kembali membuka suara. "Kau tidak masuk?" dengan tatapan datarnya.
"A-ah iya, aku akan masuk," respon Sakura sedikit salah tingkah. Padahal ia berniat untuk menunggu Sasuke sampai meninggalkan tempat itu. Namun ia tak menyangka, ternyata Sasuke pun menunggunya sampai masuk ke dalam rumah. Sakura pun membuka pintu rumahnya lalu melambai ke arah Sasuke sebagai tanda berpisah.
Setelah menutup pintu, Sakura menyandarkan dirinya pada pintu sejenak. Ada sedikit rona merah di wajahnya. Sasuke, seorang pria irit bicara yang baru saja ia kenal beberapa saat lalu telah membuat hatinya berdebar. Sungguh pesona Uchiha.
.
.
.
.
Sakura berjalan melewati lorong fakultas kedokteran. Hari ini ia mengenakan setelan simpel yang dibalut dengan jas putih khas yang menandakan bahwa ia adalah mahasiswi kedokteran. Tak lupa dengan sneakers putihnya yang selalu membuatnya nyaman. Surai panjangnya ia ikat dengan gaya ponytail karena hari ini adalah jadwal praktek.
"Hei, Sakura! Ohayou!" terdengar teriakan sahabat pirangnya yang tak lain adalah Ino.
"Ohayou, Ino." Jawabnya singkat.
"Ne, Sakura. Kau berhutang cerita padaku, hmm?"
"Cerita apa maksudmu?" mendengar respon Sakura, Ino terkekeh pelan. "Kudengar setelah acara di rumahku, kau diantar pulang oleh Sasuke, hmm?" lanjut Ino dengan tawa dan ekspresi jahil.
Pasti Naruto. Pikir Sakura. Tidak salah sagi. Sangat tidak mungkin bila Ino mengetahuinya dari Sasuke yang notabene sangat irit bicara. Sekarang merasa mengenal Sasuke, hmm Sakura?
"Itu hanya kebetulan, karena rumahnya Sasuke searah dengan rumahku," jelas Sakura. Jujur. Walaupun hanya kebetulan, Sakura merasa senang dan berharap bisa bertemu dengan Sasuke lagi. Oh, tidak. Pikiran macam apa itu Sakura. Mulai jatuh cinta, hmm?
"Oh ya? Oh begitu, ii na..." ledek Ino. Sakura pun merespon seadanya dan mengajak sahabatnya itu untuk masuk ke laboratorium karena praktek akan segera dimulai.
.
.
.
.
"Huuaaah... Akhirnya kelas praktek selesai juga," ucap Sakura sembari meregangkan kedua tangannya ke atas. Sambil merapikan isi tasnya gadis bersurai merah muda itu berkata,"Ino, aku ingin pergi ke perputakaan. Kau mau kemana?"
"Aku ada janji dengan Sai."
"Akhir-akhir ini kalian jadi dekat ya, hmm?" kali ini giliran Sakura yang menggodanya jahil.
"Oh ayolah Sakura. Sekarang ini adalah masa-masa dimana kau butuh seorang pendamping, benar begitu?" respon Ino. Kemudian sahabat pirangnya itu mengambil sebuah cermin dan melakukan touch up agar make-upnya tetap terkesan flawless.
Sakura hanya melihat sahabatnya yang sedang sibuk membenahkan diri itu sebentar lalu berkata, "Baiklah. Bye. Sampaikan salamku untuk Sai."
"Okay. Bye!"
Sakura berjalan menelusuri lorong fakultas kedokteran. Lalu ia melewati taman sambil menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya, membuat ponytailnya bergoyang ke sana kemari. Ia sangat menyukai suasana ini. Suasana sore hari yang sungguh menenangkan baginya. Ia memutuskan duduk sebentar di sebuah bangku yang berada tepat di bawah pohon. Sambil memejamkan matanya, gadis yang identik dengan warna merah muda tersebut kembali menikmati hembusan angin. Sekelebat ia merasakan seperti ada yang memperhatikannya. Segera ia membuka mata hijau emeraldnya, namun tak ada siapa-siapa disana kecuali dirinya.
"Mungkin... hanya perasaanku saja."
Sakura beranjak dari bangku taman yang sebelumnya ia duduki dan kembali berjalan menuju tempat tujuan awalnya, yaitu perpustakaan. Tak menyadari bahwa sedari tadi, ketika ia duduk di bangku taman tersebut memang benar-benar ada yang memperhatikannya. Ketika Sakura sudah berjalan beberapa meter dari taman itu, sang tersangka pun menampakkan diri dari balik pohon. Menampilkan sepasang iris onyx yang sekelam malam. Ya. Orang itu adalah Uchiha Sasuke.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Sunyi. Itulah satu kata yang dapat menggambarkan sebuah ruang baca yang dipenuhi oleh buku-buku. Hanya suara jam dinding yang terus menggema dalam ruangan seluas itu. Sakura masih asyik membaca novel fantasi yang menjadi favoritnya. Srek. Entah sudah berapa kali ia telah membalik lembaran novel yang sedang dibacanya. Sampai akhirnya ia mencapai lembaran terakhir. Ditutuplah novel tersebut pertanda bahwa ia sudah selesai membacanya.
"Hmm... waktunya pulang," bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari tempat duduk dan berniat mengembalikan novel yang telah dibacanya itu pada raknya. Sambil berjalan membawa novel, tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Sambil tetap berjalan, ia membuka kunci layar ponselnya mengecek pesan yang baru saja masuk. Jadi posisi saat ini adalah Sakura berjalan sambil menatap layar ponselnya tanpa menatap ke depan. Gadis merah muda tersebut tak menyadari bahwa ada seseorang sedang berdiri di depannya dengan tubuh yang menghadap ke samping sehingga—
Bruk.
—Sakura menabrak orang tersebut.
"Ah! Sumimasen..." ucap gadis berambut gulali itu sambil membungkuk meminta maaf.
"Hn."
Eh. Suara dan gumaman yang khas ini. Sakura langsung mendongakan kepalanya dan, "Sa-Sasuke?" raut wajahnya nampak sedikit terkejut. "Maaf..." ucap Sakura sekali lagi. Walaupun sedikit memalukan, tapi ia merasa senang bisa bertemu dengan Sasuke sampai-sampai merasakan perutnya seperti tergelitik oleh sesuatu.
"Tak apa-apa. Kau sudah mengatakan itu tadi."
"Ah iya haha," ucap Sakura sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Entah mengapa jika berhadapan dengan pria yang irit bicara ini, Sakura merasa kikuk dan salah tingkah.
"Senang bertemu lagi denganmu, Sasuke-kun." Ara. Sekarang dengan seenak jidat Sakura menambahkan suffix '-kun' pada nama Sasuke. Tetapi dilihat dari wajah datar sang empunya nama, sepertinya ia tidak keberatan.
"Aa." Masih irit bicara. Pikir Sakura.
"Kau tidak pulang?" suara baritone itu terdengar lagi.
"Iya. Baru saja aku kan pulang hehe. Bagaimana dengan Sasuke-kun?"
"Aku juga akan pulang."
Sakura pun merespon cepat, "Bagaimana kalau kita pulang bersama?" Loh. Sakura merutuki dirinya sendiri yang melontarkan ajakan tersebut tanpa pikir panjang. Bodohnya kau, Sakura! Pikirnya.
"Boleh," satu kata dari pria bermanik hitam itu yang membuat seorang Haruno Sakura kegirangan dalam hati.
.
.
.
.
Sama seperti saat pertama kali mereka pulang bersama. Malam hari dan hening. Sesekali Sakura melontarkan pertanyaan kepada Sasuke untuk memecah suasana, yang tentu saja dijawab singkat oleh si pemilik iris onyx tersebut. Keheningan kembali tercipta, namun Sakura merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia bisa merasakan kalau pria di sebelahnya itu menatapnya, memperhatikannya dalam diam. Sakura yang peka, menjadi salah tingkah. Bayangkan saja! Ditatap seperti itu oleh seorang pria yang tampan, apa kau tidak akan salah tingkah?
Err...apa ada yang aneh pada wajahku? Pikirnya. Sedikit rona merah pun menghiasi wajah cantiknya yang membuatnya menjadi terlihat imut. Karena sudah tak tahan, Sakura pun melirik ke arah Sasuke dan memang benar. Ia medapati Sasuke tengah menatapnya dengan stoic facenya. Gadis bersurai merah muda itu pun memberanikan diri untuk bertanya, "N-ne, Sasuke-kun. A-apa ada yang aneh di wajahku?"
"Tidak," jawab pria itu singkat dan datar.
"La-lalu kenapa kau memperhatikanku seperti itu?" ucap Sakura dengan wajahnya yang masih memerah dan malu-malu.
"Hn. Hanya ingin."
Apa? Apa Sakura tidak salah dengar? Ia tidak tahu harus merasa senang atau err... sedikit takut mungkin?
"Aha-ahahahaha...oh begitu," Sakura tertawa hambar.
Sasuke menghentikan langkahnya. "Sudah sampai."
"Eh..." Sakura menatap Sasuke bingung.
"Rumahmu," ujar Sasuke memperjelas.
"Ah-oh iya hehehe. Ano... Terima kasih, Sasuke-kun." Sumpah. Sakura merasa dirinya adalah gadis kikuk sedunia jika berhadapan dengan si pria yang irit bicara namun misterius itu.
"Hati-hati, Sasuke-kun. Sampai jumpa," ucapnya sembari melambaikan tangannya ke arah Sasuke.
"Aa."
Sasuke membalas lambaian tangan Sakura sambil menunggu gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia tersenyum tipis. Sekejap. Sakura dapat melihat senyuman itu dan wajahnya pun kembali memerah. Ia tak menyadari bahwa pertemuan keduanya dengan Sasuke adalah awal dari segalanya.
.
.
.
.
.
Terlihat Sakura yang sedang terlelap. Namun, tubuhnya banjir akan peluh seakan ia sedang mengalami mimpi buruk.
"Nggh..."
Dalam mimpinya, Sakura melihat dirinya. Ia melihat dirinya sendiri berbalut pakaian pengantin dengan tudung kepala bernuansa gothic. Berjalan menuju altar yang sudah terdapat seorang pria yang mengenakan tuxedo yang juga bernuansa gothic. Semacam seperti ritual pernikahan. Ia melihat dirinya semakin mendekat kepada pria itu. Kemudian ia mendengar sang pria berkata.
"Kemarilah... Sebentar lagi kau akan menjadi milikku."
To Be Continued
Author's Place:
Akhirnya selesai satu chapter :D
Akhir kata, boleh minta reviewnya? Aku akan sangat berterima kasih kalau teman-teman berniat untuk membaca dan mereview ^^
See you on the next chapter ^^
