Hai, aku sudah update chapter 2. Sebelumnya terima kasih banyak untuk yang sudah mereview, follow dan bahkan memfavoritkan fanfic ini ^^

Selamat membaca^^

Enjoy!

.

.

.


oOo

Naruto © Masashi Kishimoto

Definitely Mine

© Nadeshiko Hime-chan

Rated : T

Pairing : SasuSaku

AU, Typo(s), OOC, etc.

Romance/Supernatural/Fantasy

oOo


.

.

.

CHAPTER 2

Sakura sedang duduk termenung di depan meja makan. Di atas meja makan itu terdapat sepiring omelette yang sejak tadi dibuatnya untuk sarapan. Entah sudah berapa menit gadis bersurai merah muda itu termenung sehingga omelettenya sudah tak hangat lagi.

'Kemarilah... sebentar lagi kau akan menjadi milikku.'

Kalimat yang berasal dari mimpinya semalam masih terngiang-ngiang di kepalanya. Seakan ia benar-benar mendengarnya secara langsung, bukan dari mimpinya. Entah mengapa hal itu sangat mengganggunya. Lamunan Sakura buyar ketika ponsel yang diletakkan di sebelah menu sarapannya berdering menandakan pesan masuk.

From: Ino Pig

Ohayou, Forehead. Kuharap kau tak lupa akan janjimu untuk menemaniku belanja. Kutunggu jam 10 di depan rumahku ya. See ya!

Ah, benar juga. Hari ini hari Minggu dan ia berjanji untuk menemani sahabat pirangnya belanja bulanan yang rutin dilakukan oleh para wanita penggila fashion. Setelah membalas pesan dari Ino, ia melihat jam pada layar ponselnya yang menunjukkan kalau sekarang pukul sembilan lebih dua puluh lima menit. Kemudian dengan cepat ia melahap omelettenya, membereskan piring bekas sarapannya dan bergegas menuju kediaman sahabat pirangnya itu.

.

.

.

Ketika tiba di tempat janjian mereka —lebih tepatnya tempat bertemu yang diputuskan sepihak oleh si gadis Yamanaka, Sakura sudah mendapatkan sahabat pirangnya itu lengkap dengan full face make-upnya berdiri di depan rumah sambil berkutat dengan ponselnya yang beberapa detik kemudian menoleh karena menyadari kehadirannya. Gadis yang memiliki sepasang mata aquamarine itu pun memasukan ponselnya asal ke dalam tas jinjing birunya sebelum menyapa Sakura.

"Hai, pagi Forehead."

"Pagi, Pig," balas Sakura dengan raut wajah yang datar dan kosong.

"Hei, kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu," ucap Ino sambil memperhatikan raut wajah sahabat merah mudanya itu. Sakura sedikit tersentak sebelum raut wajahnya kembali seperti biasanya.

"Ah, tidak Pig. Bukan apa-apa."

"Hontou?" pandangan Ino masih menyelidik.

"Iya, sungguh."

Sambil mendesah pelan, si gadis pirang itu melipat kedua tangannya di depan dada. "Hei, kau pikir kita baru saja kenal, eh? Ayolah, Sakura. Aku tahu kau berbohong."

Berbohong di depan sahabat pirangnya itu memang suatu hal yang sia-sia. Ino bisa dengan mudah mengetahui kalau ia sedang berbohong, seperti saat ini. Sakura merutuki dirinya sendiri yang tidak pandai menutupi ekspresi wajahnya. Hmm mungkin memang dirinya yang mudah sekali terbaca, eh? Entahlah. Sebelum Ino menginterogasinya lebih jauh, ia membuka suara untuk mengajak sahabatnya itu ke tempat tujuan mereka hari ini. Sengaja untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.

"Pig, lebih baik kita berangkat sekarang. Kau tidak melupakan tujuanmu hari ini 'kan?"

"Okay, Sakura. Tapi ingat nanti harus cerita padaku, lho." Setelah mengatakan itu, Ino memutar tubuhnya dan berjalan menuju garasi mobil yang terletak di samping rumahnya. Sakura yang mendengar respon sahabatnya itu hanya meringis dan mengikuti Ino dari belakang. Andai saja gadis bermarga Yamanaka itu tahu kalau apa yang sedang mengganggu pikirannya tidak begitu penting. Namun, mengapa hal itu sangat mengganggumu, Sakura?

.

.

.

Setibanya di pusat perbelanjaan, dua sahabat yang sudah seperti saudara kandung itu langsung menuju sebuah toko busana yang terlihat menarik —lebih tepatnya menarik bagi si gadis berambut pirang. "Oh tidak! Sakura, lihat! Mereka mengeluarkan busana model terbaru lagi!" Ino berseru kegirangan pada Sakura yang berada di sebelahnya. Sakura yang tidak begitu tertarik dengan fashion hanya merespon sekenanya saja, lalu berjalan mengikuti sahabatnya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam toko yang dimaksud.

"Aduh, kalau begini rasanya aku ingin membeli semuanya saja," ucap Ino sambil melihat-lihat busana yang terpajang di toko tersebut, sesekali mencocokannya di depan tubuhnya untuk menerka apakah busana tersebut pantas dipakai olehnya.

Sakura yang mendengar ucapan sahabat penggila fashion-nya itu pun memutar bola matanya, "Sekalian saja kau beli tokonya, Pig." Sahabatnya yang bermarga Yamanaka itu hanya terkekeh pelan menanggapi gurauannya. Karena tidak ada hal yang dilakukan selain menemani sahabatnya itu, mau tidak mau Sakura juga ikut melihat-lihat busana yang ada di toko tersebut.

"Hei, Sakura," mendengar namanya dipanggil, Sakura segera menoleh pada si gadis Yamanaka yang sedari tadi sibuk memilih busana. Ia melihat Ino menenteng dua mini dress yang berbeda model namun berwarna sama, kemudian gadis pirang itu lanjut berkata, "Menurutmu mana yang lebih cocok untukku? Yang kanan atau yang kiri?"

"Hmm..." Sakura berpikir sejenak kemudian berkata, "Menurutku kau lebih cocok yang kanan."

Ino menyeringai puas. "Walaupun tidak begitu tertarik dengan fashion kuakui seleramu sangat bagus, Sakura," gadis bersurai pirang itu mengembalikan salah satu mini dress yang tidak jadi dipilihnya ke tempat semula. "Inilah mengapa aku senang belanja bersamamu," tambahnya lagi dengan senyum terkembang.

"Ya, benar. Aku yang kesulitan harus menemanimu setiap bulan," ucap Sakura setengah bercanda.

"Ahaha jangan berkata seperti itu, Forehead. Kuharap suatu saat kau juga akan jatuh cinta pada fashion," setelah mengatakan itu, si gadis Yamanaka pergi berjalan menuju kasir.

Hmm... Jika kecintaan sahabat pirangnya itu adalah fashion, maka kecintaan Sakura adalah novel-novel fantasi, tentu saja. Sambil menunggu Ino, gadis bersurai merah muda itu melanjutkan aktivitas sebelumnya, yaitu melihat-lihat busana yang tersedia tanpa berniat untuk membeli. Tidak seperti sahabatnya, Sakura hanya akan membeli pakaian jika memang ia sangat membutuhkannya.

Di sisi lain, masih dalam gedung yang sama, dua orang pria yang memiliki perbedaan sangat kontras berjalan berdampingan. Salah satunya yang berkulit tan dan memiliki surai kuning jabrik menyilangan kedua tangannya di belakang kepala sambil sesekali melihat keadaan sekelilingnya yang ramai. Lalu sedetik kemudian ia membuka suara pada pria yang berjalan di sebelahnya, "Oi, Teme. Tidak biasanya kau memintaku menemanimu ke tempat ramai seperti ini."

"Hn."

Urat yang membentuk perempatan muncul di sudut dahi si pria yang berkulit tan itu. "Hei, Sasuke! Kau ini! Aku sampai bersedia merubah jadwal kencanku dengan Hinata-chan untuk menemanimu, tahu! Apa sih yang ingin kau cari disini?" ucap Naruto kesal setelah mendapatkan respon andalan teman super irit bicaranya itu yang entah mengapa menyebalkan baginya. Ia sudah membatalkan jadwal kencannya hari ini demi menemani pria beriris onyx tersebut, namun ketika ia mengajak bicara si empunya onyx di sebelahnya ini malah meresponnya dengan gumaman khasnya yang tidak jelas artinya.

"Aku hanya ingin mencari buku referensi untuk tugas kuliahku," akhirnya Sasuke merespon pertanyaan Naruto dengan benar.

Naruto mendengus tanpa menghilangkan raut wajah kesalnya. "Harusnya kau bilang dari tadi, Sasuke," raut wajah Naruto kembali normal. "Ya sudah. Ayo kita cari toko buku," ujarnya lagi sambil mengedarkan pandangannya berharap tidak jauh dari tempatnya dan Sasuke berdiri ada toko buku. Namun bukannya menemukan toko buku, pria beriris sapphire itu malah melihat dua orang gadis yang sangat dikenalnya sedang berdiri di depan sebuah toko. Yang berambut pirang tampak menenteng sebuah paper bag yang sudah pasti isinya adalah barang belanjaan yang baru saja dibeli. Sedangkan yang berambut merah muda sedang mengutak-atik ponselnya.

"Bukankah itu Ino dan Sakura-chan?" setelah mengucapkan itu, Naruto berjalan menuju tempat dimana kedua gadis itu berdiri meninggalkan Sasuke yang terdiam di belakang. Tanpa ada yang menyadari, sekilas pria yang mempunyai manik sekelam malam itu menyunggingkan sebuah seyuman —tidak, lebih tepatnya seringai tipis lalu berjalan menyusul Naruto.

"Dari siapa sih? Oh... Apakah sekarang kau sudah punya kekasih?" Ino menggoda sahabat merah mudanya itu begitu ia melihat Sakura yang tampaknya sedang mengetik untuk membalas pesan entah dari siapa. Sakura langsung mendelik tajam pada sahabatnya itu.

"Bukan. Ini dari ibuku. Lagipula sejak kapan aku punya keka—" belum sempat gadis bersurai merah muda itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara cempreng seorang pria yang menyapa mereka berdua.

"Oi Ino! Sakura-chan!" Naruto menghampiri mereka sambil melambaikan tangannya.

"Eh? Naruto?" Sakura dan Ino sama-sama menoleh ke sumber suara dan mendapati pria bersurai kuning itu berdiri di hadapan mereka dengan cengiran khasnya.

"Wah kalian sedang belanja ya?"

"Aku hanya menemani Ino saja. Kau sedang apa disini, Naruto?"

"Aku sedang menemani Sasuke untuk mencari sesuatu," jawab pria yang khas dengan cengirannya itu. Tidak lama setelah Naruto mengucapkan kalimat itu, pria yang dimaksud muncul dan kini berdiri tepat di sebelah si pria yang memiliki sepasang mata sebiru lautan itu. Tanpa mengeluarkan suara, Sasuke melambaikan satu tangannya bermaksud untuk menyapa kedua gadis di hadapannya.

"Wah Sasuke! Konnichiwa," Ino segera menyapa balik si pria yang terkenal dengan keiritannya dalam bicara itu.

"Hn."

Arah pandangan Sasuke segera tertuju pada seorang gadis bersurai merah muda yang juga ada di hadapannya. Sakura yang sedari tadi hanya diam segera membuka suara untuk menyapa balik pria itu.

"Konnichwa, Sasuke-kun," senyuman menghiasi wajah Sakura saat gadis musim semi itu mengucapkan kalimatnya.

"Aa."

Sasuke masih belum mengalihkan pandangannya dari Sakura yang menyebabkan mereka harus beradu pandang dalam diam, sementara Ino terlibat percakapan ringan dengan Naruto. Karena tak kuat memandang manik sekelam malam milik Sasuke, gadis bersurai merah muda itu mencoba mengalihkan manik hijau emeraldnya dengan cara sedikit melirik ke samping. Mungkin aksinya itu terlihat seperti seseorang yang sedang salah tingkah. Dan memang benar, ia sedang salah tingkah saat ini.

Sahabat pirangnya masih asyik berbincang dengan si pria berambut kuning. Sementara Sakura mati-matian bertahan dari situasi canggung antara dirinya dengan Sasuke. Mereka sama-sama tak ada yang membuka suara sedikit pun. Namun masih seperti sebelumnya, pria beriris onyx itu terus memandangi Sakura yang sudah salah tingkah dengan wajah datarnya. Karena tidak tahan, Sakura segera menatap dan menggeser-geser layar ponselnya yang sedari tadi ia pegang, mengecek apakah ibunya sudah membalas pesan darinya. Namun nihil, tak ada pesan masuk dari ibunya.

"Hei, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Ino seakan menyelamatkan Sakura dari situasi canggungnya dengan Sasuke. Sakura pun segera menoleh ke arah sahabatnya itu namun tidak mengucapkan apa pun. Karena ajakan Ino lebih ditujukan kepada dua pria di hadapan mereka.

"Boleh saja sih, tapi Sasuke—"

"Boleh," ucapan Naruto terpotong oleh satu kata yang dilontarkan pria irit bicara di sebelahnya.

Naruto langsung menatap Sasuke. "Oi Sasuke, bukannya tadi kau ingin mencari sesuatu?"

"Nanti saja. Kebetulan aku sudah lapar dan sekarang sudah memasuki jam makan siang."

Naruto masih menatap Sasuke. Namun kali ini dengan pandangan bingung sekaligus heran. Pasalnya teman irit bicaranya itu tidak suka menunda-nunda sesuatu. Dan yang paling penting, Sasuke tidak terlalu suka dengan keramaian. Apakah teman irit bicaranya itu sudah mulai berubah?

"Kalau begitu ayo kita cari restoran," Ino mengucapkan kalimat itu dengan wajah sumringah, lalu melangkahkan kaki jenjangnya. Sakura yang mau tak mau harus ikut dengan rencana dadakan sahabatnya itu pun mengikuti langkah kaki Ino bersama Sasuke dan tentu saja Naruto yang masih keheranan.

.

.

.

Pilihan mereka jatuh pada restoran pasta yang masih berada dalam gedung tempat mereka bertemu tadi. Sebenarnya Sakuralah yang merekomendasikan restoran ini karena makanannya yang lezat namun tidak terlalu mahal bagi mahasiswa seperti dirinya. Tempatnya pun nyaman untuk muda-mudi yang gemar berkumpul sambil berbincang. Ketiga orang yang bersamanya hanya mengiyakan saja ketika ia merekomendasikan restoran ini, karena mereka sendiri tidak memiliki restoran untuk direkomendasikan.

"Wow rekomendasimu bagus juga, Sakura-chan," Naruto memuji Sakura ketika mereka sudah duduk di tempat yang ditunjukkan oleh pelayan restoran. Posisi mereka saat ini adalah Naruto yang duduk bersebelahan dengan Sasuke, lalu Ino duduk di hadapan Naruto, dan Sakura duduk di sebelah Ino yang membuat gadis merah muda itu berhadapan dengan Sasuke. Entah mengapa posisinya seperti itu, membuat Sakura kembali canggung karena harus berhadapan dengan Sasuke.

"Ya walaupun begini, aku tahu restoran maupun kafe yang recommended," ucap Sakura merespons pujian yang dilontarkan oleh Naruto.

"Tidak hanya itu. Selera Sakura juga bagus dalam urusan fashion," Ino menimpali. "Tapi entah mengapa sampai saat ini sahabat merah mudaku belum juga mendapatkan kekasih," tambah Ino dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat. Langsung saja Sakura mendelik tajam kepada sahabat pirangnya itu. Tanpa menghiraukan tatapan tajam dari sahabat merah mudanya, Ino melanjutkan, "Padahal tidak sedikit juga pria yang tertarik dengan Sakura."

"Eh jadi Sakura-chan belum punya kekasih? Sama seperti Sasuke dong," Naruto sedikit melirik pria beriris onyx di sebelahnya, kemudian menambahkan, "Dari dulu Sasuke terkenal dingin terhadap wanita. Sampai-sampai dia tidak pernah menjalin hubungan satu kali pun."

"Diam, Dobe," Sasuke yang sedari tadi hanya diam membisu, kini membuka suaranya ketika teman bersurai kuningnya itu membicarakan tentang dirinya di depan orang lain secara gamblang. Naruto hanya cengengesan saja setelah ditegur oleh Sasuke.

Mendengar hal itu, Sakura dan Ino memasang raut wajah terkejut. Bagaimana mungkin seorang pria tampan yang melebihi batas semacam Sasuke belum pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun? Terlebih lagi mengenai fakta bahwa sebelumnya pria itu tinggal di Amerika dimana di sana pasti banyak wanita bule berparas cantik yang menggoda untuk dikencani.

"Eh benarkah, Sasuke?" Ino masih dengan ekspresi terkejutnya mencoba memastikan secara langsung kepada yang bersangkutan seakan mewakili Sakura.

"Tch!" Sasuke berdecak kesal sambil menatap tajam Naruto yang masih cengengesan seperti tanpa dosa. Kemudian ia memejamkan matanya sejenak untuk meredam rasa kesalnya. Tak lama, pria irit bicara itu membuka mata. Tatapannya lurus ke depan membuat iris onyxnya beradu pandang untuk yang kedua kalinya dengan iris emerald di hadapannya yang seakan juga menantikan responsnya. Pemilik iris onyx itu pun akhirnya merespons, "Hn. Dulu aku tidak tertarik untuk menjalani hubungan dengan wanita."

Belum selesai, Sasuke kembali menambahkan, "Tapi sepertinya kali ini tidak begitu." Tatapannya masih lurus memandang hijaunya emerald milik gadis di hadapannya.

Semua orang yang berada dalam satu meja bersama Sasuke terperangah mendengar ucapan pria beriris onyx itu barusan, tak terkecuali Sakura. Tatapan gadis merah muda itu seakan terkunci oleh tatapan tajam namun memikat dari pria di hadapannya. Baik Ino maupun Naruto menatap Sasuke dan Sakura yang masih saling beradu pandang bergantian, lalu saling menatap satu sama lain. Menyadari bahwa sepertinya ada sesuatu yang telah mereka lewatkan.

"Ehem...," deheman Naruto menyadarkan kedua insan yang tadinya masih terhanyut akan tatapan masing-masing.

Sakura yang tersadar segera memalingkan wajahnya sambil menahan malu. Begitu pula dengan Sasuke yang langsung melirik ke arah Naruto, namun ekspresinya datar seperti biasanya. Di sebelah Sakura, Ino berpura-pura sibuk melihat buku menu yang tersedia di meja mereka.

Naruto kembali bersuara, "Lebih baik kita segera memesan makanan, kalian pasti tidak lupa tujuan kita kemari 'kan?"

"Ahaha tentu saja. Baiklah, aku pesan apa ya?" ujar Sakura.

Ia pun menjulurkan tangannya berniat mengambil buku menu yang lainnya. Ketika itu, jari tangannya bersentuhan dengan jari milik Sasuke yang juga berniat untuk mengambil buku menu. Refleks ia menarik tangannya seketika membiarkan Sasuke mengambil buku itu terlebih dahulu. Namun yang terjadi setelahnya adalah Sasuke mengambil dua buku menu. Yang satu diserahkannya pada Sakura dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Sakura menggumamkan terima kasih dan dibalas dengan anggukan kecil oleh pria bermanik kelam di hadapannya.

Naruto berusaha untuk tidak ambil pusing dengan situasi yang menurutnya aneh itu dan segera berkutat dengan buku menu. Dan mereka berempat pun menyantap makan siang bersama sambil berbincang ringan setelah pelayan restoran mengantarkan menu yang telah mereka pesan sebelumnya.

.

.

.

Di perjalanan pulang, Ino yang duduk di kursi kemudi mengemudikan mobil biru kesayangannya dalam diam. Di sebelah kursi kemudi, Sakura lagi-lagi sedang melamun. Entah memikirkan mimpi aneh yang mengganggunya atau kejadian saat makan siang bersama tadi.

"Ne, Sakura," Ino melirik sahabat merah mudanya sekilas kemudian kembali fokus ke depan.

"Apa, Pig?" Sakura berhenti melamun dan langsung merespons ketika sahabat pirangnya memanggil namanya.

"Err... ada yang ingin kutanyakan," ujar Ino sambil tetap fokus menatap jalan di depan mereka.

Sakura menoleh, kemudian mengangkat alisnya heran. Tidak biasanya sahabat pirangnya itu memakai basa-basi untuk menanyakan suatu hal padanya.

"Mau tanya apa, Pig? Biasanya kau langsung menanyakannya padaku tanpa basa-basi."

Ino terdiam beberapa saat sampai bertemu lampu merah di depannya, setelah menghentikan mobil ia menatap Sakura lalu berbicara —lebih tepatnya bertanya, "Kau... ada hubungan apa dengan Sasuke?"

Sakura sedikit terperanjat dengan pertanyaan Ino yang secara tiba-tiba menanyakan hubungannya dengan Sasuke. Jujur, Sakura memang tertarik dengan pria yang memiliki manik sekelam malam itu. Namun sampai saat ini mereka hanyalah sebatas kenalan saja. Apakah perasaannya terlalu terlihat jelas sampai-sampai sahabat pirangnya bertanya seperti itu padanya?

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Pig?"

Ino mendengus pelan, "Kurasa baik aku maupun Naruto akan menanyakan hal yang sama ketika melihatmu dan Sasuke saat makan siang tadi."

"Hah, maksudmu? Oh ayolah, Ino. Aku dan Sasuke hanya sebatas kenalan saja, tidak ada yang spesial. Kau ingat 'kan kalau kita baru bertemu Sasuke saat kau mengadakan acara kumpul mendadak itu?"

Sebenarnya Sakura sedikit ragu dengan ucapannya yang mengatakan bahwa ia dan Sasuke hanya sebatas kenalan tanpa ada embel-embel spesial. Bodoh jika ia tidak menyadari maksud ucapan maupun tatapan Sasuke saat makan siang tadi yang membuat mereka berempat masuk ke dalam situasi yang aneh.

"Sakura, aku tahu kau pasti mengerti maksud ucapan dan tatapan Sasuke tadi 'kan? Baiklah, biar kuperjelas. Sasuke tertarik padamu, Sakura. Dan tadi dia menunjukannya padamu —ah tidak, pada kita semua. Sebetulnya aku juga tahu bagaimana perasaanmu padanya. Jelas sekali."

Sakura terdiam tidak merespons ucapan Ino. Lampu merah telah berubah warna menjadi hijau, Ino kembali melajukan mobilnya. Ia sedikit melirik ke arah Sakura.

"Forehead. Aku mendukungmu kok, kalau kau ingin menjalin hubungan dengan Sasuke."

Sakura menoleh pada sahabat pirangnya itu kemudian kembali menatap ke arah depan. "Hmm... entahlah, Pig. Biar waktu yang menjawabnya."

Dalam hati, Sakura hanya bisa bergumam, 'Mungkinkah?'

.

.

.

Lagi-lagi Sakura mengalami mimpi yang aneh malam ini. Matanya terpejam namun dahinya berkerut. Mimpi yang sama pada malam sebelumnya kembali terulang. Namun sepertinya mimpi yang sedang dialaminya merupakan kelanjutan dari mimpi yang sebelumnya.

Masih di sebuah altar dengan nuansa gothic, kini Sakura yang berbalut gaun pengantin berhadapan dengan si pria. Ia tidak bisa melihat jelas wajah sang pria di hadapannya itu karena kondisi ruangan itu sangat gelap. Namun ia bisa melihat sepasang mata merah menyala milik sang pria yang menatapnya tajam.

.

.

.

Di sebuah ruangan tanpa penerangan terdengar alunan melodi Toccata in D minor yang dimainkan oleh seorang pria. Jemari pria itu menari dengan lincah di atas tuts hitam putih. Matanya terpejam seakan menikmati melodi kelam yang sedang dimainkannya. Perlahan melodi yang dimainkannya itu berubah menjadi Fugue in D minor yang membuat suasana menjadi terasa lebih kelam. Tarian jemarinya menjadi lebih liar dari sebelumnya seakan menunjukkan emosi terpendamnya.

Permainan pianonya terhenti seketika ketika ia sedikit tersentak merasakan sesuatu sedang terjadi. Ia perlahan membuka matanya, menampilkan sepasang iris onyx yang sekelam malam. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai. Pria itu kembali memejamkan matanya beberapa detik sebelum membukanya kembali, memperlihatkan sepasang iris matanya yang kini telah berubah warna menjadi semerah darah. Masih dengan seringai di wajahnya, pria itu berkata.

"Sudah dimulai rupanya."

To Be Continued

Author's Place:

Err... bagaimana tanggapan tentang chapter ini?

Kuharap ada review dari kalian, karena review dari para pembaca adalah motivasi buatku ^^

See you on the next chapter ^^