Di sudut ruangan gedung perpustakaan milik Konoha University, tepatnya di barisan rak kumpulan novel, Sasuke berdiri sambil bersandar pada salah satu rak. Satu tangannya terlihat memegang sebuah novel yang sedang dibacanya. Seketika, manik kelam yang tadinya fokus membaca itu beralih sebentar ketika ia mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya dari kejauhan.
Sepersekian detik, sudut bibir pria bermanik kelam itu terangkat membentuk sebuah seringai di balik novel yang sedang dibacanya. Ia tahu betul siapa yang sedang menuju ke arahnya —lebih tepatnya sebuah rak yang sedang disandarinya. Siapa lagi kalau bukan si gadis bersurai merah muda, yang tak lain dan tak bukan adalah Sakura. Gadis yang memang sedang dinantikannya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan rak dimana Sasuke sedang bersandar. Sasuke menutup novel yang belum selesai dibacanya dan menatap seseorang yang sudah diketahuinya itu. Ia melihat manik emerald milik gadis itu sedikit melebar tanda terkejut.
"Sakura ka?"
"Sasuke-kun..." ucap gadis itu setengah berbisik.
.
.
.
oOo
Naruto © Masashi Kishimoto
Definitely Mine
© Nadeshiko Hime-chan
Rated : T
Pairing : SasuSaku
AU, Typo(s), OOC, etc.
Romance/Fantasy/Supernatural
oOo
.
.
.
CHAPTER 3
Kini, Sasuke dan Sakura berada di taman universitas. Duduk berdampingan di sebuah kursi yang berada tepat di bawah sebuah pohon besar. Keduanya sama-sama memegang satu buah novel yang baru saja mereka pinjam dari perpustakaan.
"Kau suka membaca novel?"
Sebenarnya, pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Sasuke itu hanyalah basa-basi saja. Pria bermanik kelam itu sudah tahu kalau Sakura suka membaca novel. Jangan tanyakan bagaimana ia bisa mengetahuinya.
Sakura mengangguk kecil. "Ya, aku suka sekali. Apalagi kalau novel itu adalah novel fantasi. Selain itu, aku juga suka mengoleksinya," jawab gadis yang warna surainya senada dengan bunga kebanggaan Jepang itu panjang lebar.
"Begitu. Pantas saja aku sering melihatmu di perpustakaan, duduk di dekat barisan rak kumpulan novel."
"Eh?" Sakura menoleh, menatap Sasuke yang juga sedang menoleh ke arahnya. "Jadi Sasuke-kun juga sering datang ke perpustakaan?"
"Hn."
"Sasuke-kun suka membaca novel juga?"
"Tidak juga. Aku membaca novel ketika sedang bosan saja, biasanya aku lebih memilih bacaan yang berbau bisnis atau semacamnya."
"Ah benar juga. Sasuke-kun kan mahasiswa jurusan bisnis ya."
"Tapi aku sedang tertarik dengan novel ini," Sasuke sedikit mengangkat tangannya yang memegang sebuah novel, menunjukkan novel itu pada Sakura.
"Baru saja kubaca tadi, ternyata menarik juga. Jadi kuputuskan untuk meminjamnya," tambahnya lagi.
"Wah salah satu novel favoritku. Aku sudah membacanya berulang kali hehe. Kau tidak akan kecewa ketika membacanya, kujamin itu!" ucap Sakura menggebu-gebu. Gadis musim semi itu memang selalu bersemangat jika berhubungan dengan novel yang jadi kesukaannya.
Sasuke tersenyum tipis. "Oh ya? Kalau begitu kupegang ucapanmu."
"Silakan. Aku yakin kau tidak akan kecewa," ucap Sakura mantap sambil memperlihatkan senyuman di wajahnya.
Sasuke melirik jam tangan pada pergelangan tangan kirinya. Pukul dua belas siang. Tandanya sudah memasuki waktu makan siang.
"Sakura."
Sakura menoleh. "Ya?"
"Setelah ini kau ada kuliah?" Rupanya sang Uchiha sedang berbasa-basi. Entah mengapa bila di depan gadis di sebelahnya, ia bisa melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukannya. Basa-basi misalnya.
"Tidak. Memang kenapa, Sasuke-kun?"
"Mau makan siang bersama?" Sesuatu yang bahkan hampir tidak pernah dilakukan oleh Sasuke. Mengajak seseorang. Biasanya ia lebih suka memerintah seseorang untuk ikut bersamanya daripada mengajak, seperti yang dilakukannya pada Naruto untuk menemaninya ke pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu.
Sakura terdiam sepersekian detik, mencerna apa yang dikatakan oleh pria bermanik kelam yang duduk di sebelahnya itu. Hatinya berbunga-bunga, terlalu senang. Ingin sekali ia menjawab 'tentu saja', namun diurungkannya. Gadis bermanik emerald itu pun mengontrol emosinya sebelum menjawab.
"Ah iya, boleh. Kita akan makan siang dimana, Sasuke-kun?"
"Kau punya rekomendasi?"
"Di dekat sini ada restoran terkenal di kalangan mahasiswa. Mau makan disana?"
"Boleh."
Sasuke beranjak dari posisi duduknya, diikuti oleh Sakura. Gadis bermanik emerald itu sempat bingung ketika mendapati langkah kaki Sasuke yang menuju tempat parkir. Namun, ia tak lagi bingung saat Sasuke berhenti di depan sebuah mobil sport hitam metalik dan menyalakannya. Rupanya hari ini Sasuke mengendarai mobil.
Sasuke membukakan pintu penumpang dan menyuruh Sakura untuk masuk. "Masuklah."
"Arigatou."
Setelah Sasuke menutup pintu, Sakura membetulkan posisi duduknya dan rok di bawah lutut yang ia kenakan. Ia melihat Sasuke berjalan memutar menuju kursi kemudi, dan beberapa detik kemudian pria bermanik kelam itu sudah duduk di sebelahnya. Mobil milik Sasuke pun melaju, meninggalkan parkiran Konoha University.
.
.
.
Suasana restoran agak ramai ketika mereka tiba. Tentu saja, karena saat ini adalah waktunya makan siang. Sasuke memilih tempat duduk tersisa yang dekat dengan jendela. Pria irit bicara itu membuat gesture yang mempersilakan Sakura untuk duduk terlebih dulu. Setelah gadis itu duduk, barulah dirinya duduk di hadapan Sakura.
Keduanya berkutat pada buku menu, belum ada yang membuka obrolan. Sampai dimana Sakura menutup buku menu dan membuka suara.
"Sudah kau putuskan mau memesan apa, Sasuke-kun?"
"Hn."
Kemudian Sasuke menekan tombol di meja yang tersedia untuk memanggil pelayan. Semenit kemudian, seorang pelayan wanita datang membawa kertas beserta bolpoin untuk mencatat pesanan. Sasuke mempersilakan Sakura untuk mengatakan pesanannya terlebih dulu.
"Hmm... Aku pesan satu omurice dan satu jus jeruk," Sakura menoleh kepada Sasuke. "Sasuke-kun?"
"Satu yakimeshi ekstra tomat dan satu jus tomat."
Mendengar Sasuke mengatakan pesanannya, Sakura sedikit tertawa. Sasuke yang melihat Sakura tertawa menaikkan alisnya bingung. Setelah pelayan wanita itu pergi, Sasuke membuka suara.
"Ada yang salah dengan pesananku?"
Sakura tersenyum lalu menggeleng. "Tidak. Hanya saja aku berpikir kalau Sasuke-kun sangat menyukai tomat hehe."
"Waktu itu, saat makan siang bersama Ino dan Naruto, kau juga memesan jus tomat 'kan?" ucap Sakura lagi, sambil mengingat kejadian saat itu.
"Hn. Rupanya kau memperhatikanku," ucap Sasuke sambil menunjukkan seringai jahil, menggoda Sakura.
Sakura sedikit gelagapan, salah tingkah. Entah sudah keberapa kalinya gadis yang identik dengan musim itu salah tingkah di hadapan Sasuke.
"E-eh...itu karena...um...Sasuke-kun unik sekali," entah apa yang merasuki Sakura sampai-sampai ia menjadi terserang penyakit gagap.
"Unik?"
"M-maksudku tidak biasanya ada orang yang sangat menyukai tomat sepertimu."
"Sou ka."
Sasuke tersenyum tipis dan memperhatikan gadis yang duduk di hadapannya yang masih salah tingkah. Lucu sekali.
"Sakura."
"Hm?" gadis itu menghentikan sikap salah tingkahnya dan menoleh pada Sasuke.
"Sejak kapan kau mulai menyukai novel?"
"Sejak sekolah dasar. Waktu itu aku mendapat hadiah ulang tahun dari ayahku. Sebuah novel fantasi yang mengisahkan tentang dunia peri. Aku sangat menyukainya sampai kubaca berulang-ulang. Sejak itu aku jadi tergila-gila pada novel."
"Kau hanya menyukai novel fantasi saja?"
"Tidak juga. Aku juga suka novel romansa. Lebih suka lagi kalau kedua genre itu dijadikan satu dalam novel hehe."
"Mungkin seperti kisah seorang manusia yang jatuh cinta pada vampir?"
Manik emerald milik Sakura langsung berbinar ketika mendengarnya. "Ya, benar. Aku sangat menyukai kisah semacam itu. Cinta terlarang antara dua mahluk berbeda dengan unsur supranatural. Menurutku itu sangat menarik."
"Eh tunggu. Jadi Sasuke-kun juga tahu kalau ada novel seperti itu?"
"Hn. Aku tahu karena kakak laki-lakiku juga sama sepertimu. Aku sempat membaca beberapa koleksi novelnya dan ada yang mengisahkan tentang seorang manusia yang jatuh cinta pada vampir," jelas Sasuke.
"Eh benarkah? Jadi Sasuke-kun punya kakak laki-laki yang juga gemar membaca novel?"
"Hn."
Seketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah semua pesanan sudah diletakkan di atas meja, keduanya menggumamkan terima kasih pada pelayan itu dan mulai menyantap makanan masing-masing.
Setelah kegiatan santap menyantap itu selesai, Sasuke menanyakan suatu hal yang menurut Sakura agak aneh.
"Sakura."
Sakura yang sedang mengelap sudut bibirnya dengan tisu pun menoleh.
"Ya?"
Manik sekelam malam milik Sasuke menatap lurus manik emerald milik gadis itu.
"Apa kau percaya bahwa mahluk supranatural semacam vampir itu ada?"
"Eh?" Sakura merespons pertanyaan pria di hadapannya dengan tatapan bingung.
"Hn. Lupakan. Sudah selesai?"
Sakura mengangguk. "Sudah."
Namun gadis bersurai merah muda itu masih bingung memikirkan pertanyaan Sasuke barusan. Aneh.
Sasuke beranjak dari duduknya. Kemudian menoleh ke arah Sakura, menunggu gadis itu berdiri. Setelahnya pria bermanik kelam itu melangkahkan kakinya menuju kasir sambil membawa struk pesanan yang tadi diberikan ketika pelayan mengantarkan pesanan.
"Chotto matte, Sasuke-kun."
"Hn?"
Sakura terlihat merogoh-rogoh tasnya, berusaha mengambil dompetnya. "Etto...aku ingin melihat tagihan yang harus kubay—"
"Tidak perlu," potong Sasuke cepat.
Setelahnya, pria itu mengeluarkan kartu dari dalam dompet yang baru diambilnya dari saku celananya. Sasuke langsung menyerahkan struk pesanan pada kasir dan membayarnya. Mereka berdua pun keluar dari restoran.
"Ne, Sasuke-kun. Berapa tagihanku tadi?"
"Kubilang tidak perlu."
"Aku merasa tidak enak padamu, Sasuke-kun," rupanya Sakura masih bersikeras ingin membayar biaya makan siangnya.
Sasuke tertawa kecil. "Anggap saja itu bayaranmu karena sudah mau makan siang bersamaku."
"Sungguh tidak apa?" raut wajah Sakura terlihat cemas karena merasa tidak enak pada Sasuke.
"Hn."
"Kalau begitu terima kasih banyak, Sasuke-kun. Aku sudah sering merepotkanmu, bahkan saat pertama kali kita bertemu."
"Sama sekali tidak merepotkanku, Sakura."
"Tetap saja. Aku selalu ingin berterima kasih padamu. Terima kasih, Sasuke-kun," senyum Sakura mengembang saat mengatakan itu.
Melihat gadis itu tersenyum, mau tak mau membuat Sasuke juga tersenyum tipis. Tiba-tiba ada suara yang memanggil Sakura. Suara laki-laki.
"Are? Sakura?"
Mendengar namanya dipanggil, Sakura menoleh ke sumber suara di belakangnya. Iris emeraldnya membulat ketika mendapati sosok laki-laki bersurai merah dengan sepasang iris hazelnut yang baru saja memanggil namanya.
"Sasori-senpai?"
Wajah baby face laki-laki itu menampilkan senyuman pada Sakura sambil melambaikan tangannya.
"Hai. Hisashiburi, Sakura. Bagaimana kabarmu?"
"Hisashiburi, senpai. Aku baik, bagaimana dengan senpai?"
"Yokatta. Ya, sama baiknya denganmu," jawab pria bersurai merah itu masih dengan senyuman di wajahnya.
Kemudian senyuman itu menghilang bersamaan dengan manik hazelnutnya yang menatap Sakura dan pria bermanik hitam di sebelah Sakura bergantian. Sakura yang mengerti situasi langsung mengambil alih dengan memperkenalkan keduanya.
"Senpai, perkenalkan. Ini teman kampusku, Sasuke. Sasuke, perkenalkan. Ini seniorku di SMA, Sasori-senpai."
Sasori, si pria bermanik hazelnut itu mengulurkan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan dengan Sasuke.
"Akasuna Sasori," ucap Sasori memperkenalkan diri.
Sasuke menggerakkan tangannya, menjabat tangan Sasori.
"Hn. Uchiha Sasuke."
Ketika sedang berjabat tangan itulah, kedua pasang manik itu bertemu. Saling menatap dingin. Mungkin jika diberi efek, akan ada sengatan listrik yang mengalir dari kedua pasang manik yang saling menatap dingin itu.
Sasuke lebih dulu melepaskan tangannya. Manik hitamnya masih menatap dingin pada sosok bersurai merah itu. Sasori mengalihkan pandangannya pada Sakura, tersenyum.
"Sakura, aku duluan ya. Sampai bertemu lagi. Jaa na," Sasori melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke.
"Un. Jaa ne, senpai."
Sakura menoleh pada Sasuke dan mendapati pria itu sedang berdiri mematung sambil menatap ke arah Sasori pergi.
"Sasuke-kun?"
Mendengar suara Sakura membuat Sasuke tersadar dan menoleh.
"Hn. Ayo, kuantar pulang."
.
.
.
Sasuke mengemudi dalam diam. Sama halnya dengan Sakura. Keheningan itu masih berlanjut sampai mereka sebentar lagi tiba di kediaman Sakura.
Sasuke menghentikan mobilnya ketika tiba di depan rumah Sakura. Si gadis bersurai merah muda itu melepas sabuk pengaman.
"Tadi itu senpaimu?" Tiba-tiba suara Sasuke memecah keheningan. Dan entah mengapa pertanyaan pria bermanik kelam itu terasa tak masuk akal, padahal Sakura sudah menjelaskan saat perkenalan tadi. Ia seakan meminta penjelasan lebih.
"Un. Sasori-senpai seniorku di klub seni saat SMA. Karena itu aku bisa kenal dekat dengannya."
"Sou ka."
"Memangnya ada apa Sasuke-kun?"
Sasuke menoleh menatap Sakura.
"Bukan apa-apa."
Pada saat itu Sakura dapat melihat manik kelam milik Sasuke telah berubah warna menjadi merah. Manik emeraldnya membulat lebar, sangat terkejut. Ia merasa pernah melihat warna mata itu. Gadis itu sangat yakin Sasuke tidak memakai lensa kontak. Ia sama sekali tidak melihat Sasuke memakai lensa kontak, karena sedari tadi pria itu fokus menyetir. Bagaimana bisa Sasuke memakai lensa kontak saat menyetir?
"Sa-Sasuke-kun...matamu...," Sakura tergagap karena takut.
Sasuke pun sama terkejutnya dengan Sakura. Ia merasa telah kelepasan. Pria itu menutup sepasang matanya dengan satu tangan sambil mendesah kesal. Namun, masih dengan mata merah menyala, Sasuke kembali menatap Sakura. Menatap manik emerald milik gadis itu.
Sakura merasakan tubuhnya melemas dan kesadarannya menghilang. Gadis itu pun terkulai, masih dalam mobil milik Sasuke.
"Maaf, Sakura. Belum saatnya," ucap Sasuke sambil memegang dahi Sakura dengan telapak tangan kanannya, menghapus ingatan Sakura selama perjalanan menuju rumahnya.
Selang beberapa menit kemudian, Sakura tersadar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu tampak terkejut. Ia menoleh ke arah kursi kemudi. Sasuke tengah memperhatikannya, sambil tersenyum tipis.
"Sudah bangun?"
Sakura merasakan pipinya memanas, ia malu. Bagaimana bisa ia tertidur saat diantar pulang oleh Sasuke?
"Gomen ne, Sasuke-kun! Maafkan aku," Sakura menundukkan kepalanya sambil menangkupkan kedua tangannya membentuk gesture memohon maaf ke arah Sasuke.
Sasuke hanya tertawa kecil.
"Tak apa. Masuklah."
"Terima kasih banyak sudah mengantarku. Ingin mampir?"
"Tidak. Lain kali saja," tolak Sasuke halus.
Sakura pun membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Ia berjalan sampai di depan pagar rumahnya dan menatap Sasuke yang berada dalam mobil.
"Hati-hati, Sasuke-kun," ucap gadis itu sambil melambaikan tangannya.
Sasuke mengangguk. "Hn. Sekarang kau masuk."
Seakan menuruti perintah Sasuke, Sakura masuk ke dalam rumahnya setelah mengambil kunci rumah dari dalam tasnya dan sekali lagi melambai ke arah pria bermanik kelam itu.
Setelah menutup pintu rumahnya, Sakura merasakan pipinya memanas lagi. Tertidur ketika diantar ke rumah. Memalukan sekali. Pikirnya. Tapi setelah menghabiskan waktu bersama Sasuke tadi, Sakura merasa kalau pria irit bicara itu tidak sedingin saat pertama kali bertemu. Bahkan sangat hangat baginya, sampai-sampai hangatnya menular pada pipinya.
.
.
.
Di luar, Sasuke belum beranjak dari kediaman Sakura. Pria itu masih berkutat dengan pikirannya, sampai ia merasakan kehadiran sesosok mahluk di kursi yang tadi ditumpangi oleh Sakura. Manik hitam kelamnya melirik pada sosok itu, sesosok mahluk setengah manusia yang kepalanya berbentuk tulang hewan dengan tanduk panjang di kedua sisinya. Sosok itu agak membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.
"Ada apa, Tuan? Bukankah ini waktu yang tepat?" tanya sosok itu pada Sasuke.
"Tidak. Masih terlalu cepat. Lagipula ada yang harus kulakukan terlebih dulu."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu hamba mohon undur diri," bersamaan dengan kalimat itu, sosok itu menghilang bagaikan debu yang terbawa angin.
Sasuke menyalakan mesin mobilnya dan memutar balik, kemudian melaju menuju kediamannya yang tak jauh dari rumah Sakura.
.
.
.
Hari sudah malam, Sakura sedang duduk santai di tempat tidur sambil memegang ponselnya di telinga. Rupanya ia sedang menelpon. Gadis itu terlihat asyik mengobrol dengan lawan bicara yang merupakan sahabatnya, Ino.
"Hei, Pig. Kau tahu? Tadi siang ketika selesai makan siang dengan Sasuke, aku bertemu dengan Sasori-senpai."
Di seberang, Ino merespons Sakura.
"Oh ya? Senpai yang satu klub denganmu itu 'kan?"
Sakura mengangguk walaupun lawan bicaranya itu tidak bisa melihatnya.
"Un. Dan aku mengenalkannya pada Sasuke. Tapi entah kenapa aku merasakan hawa yang tidak enak setelah itu. Seperti ada perang dingin."
"Setahuku sih, Sasori-senpai memang menaruh rasa padamu ketika SMA. Tak kusangka akan berlanjut sampai sekarang."
Tak heran jika Ino berkata demikian. Karena sejak SMA, sahabat pirangnya itu memang yang paling up to date kalau berhubungan dengan gosip. Sebenarnya Sakura juga tahu desas-desus tentang seniornya itu yang menaruh hati padanya, tapi gadis itu tidak pernah ambil pusing soal itu dan hanya fokus pada urusan sekolahnya.
"Oh tidak, aku jadi membayangkan kau diperebutkan oleh Sasuke dan Sasori-senpai, kyaaaa!" lanjut Ino dengan jeritan melengkingnya di akhir kalimat, membuat Sakura harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Pig! Jangan berpikiran macam-macam. Lagipula tadi itu hanya kebetulan saja. Tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi."
"Who knows, Sakura."
"Tokorode, tadi juga ada kejadian memalukan saat Sasuke mengantarku pulang. Aku tertidur di mobilnya. Bodoh sekali. Aku sangat malu sekali," wajah Sakura memerah saat mengatakannya, karena mengingat kejadian yang sangat memalukan baginya.
"Serius?" setelahnya sahabat pirangnya itu tertawa, membuat urat yang membentuk perempatan siku-siku muncul di ujung dahi Sakura.
"Jangan tertawa, Pig!"
"Ahahaha gomen, gomen..."
"Tapi ada suatu hal yang mengganjal, tadi Sasuke menanyakan hal aneh padaku."
Seketika tawa Ino berhenti. "Aneh? Pertanyaan apa itu?"
"Ah tidak, lupakan saja. Hei, bagaimana kencanmu dengan Sai kemarin? Kau belum cerita padaku," entah mengapa Sakura memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Dan obrolan kedua sahabat itu pun berlanjut dengan Ino yang bercerita panjang lebar.
.
.
.
Di sebuah atap bangunan yang menjulang tinggi, Sasuke tampak sedang berdiam diri sambil memejamkan mata. Menikmati hembusan angin malam yang menjadi favoritnya. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kanannya. Ia pun membuka matanya, melirik pada sosok yang mengganggu ketenangannya itu.
"Halo, Sasuke," ucap sosok itu menyapa Sasuke dengan senyuman.
Sasuke menatap sosok itu sinis. "Apa maumu?"
"Tak kusangka bisa bertemu dengan mahluk sebangsaku disini, khukhukhu."
Sasuke mulai kesal. "Kubilang apa maumu, Red Devil?"
Sosok itu tertawa keras. "Apa mauku, hm? Sepertinya keinginanku sama denganmu."
Iris hitam sekelam malam milik Sasuke seketika berubah menjadi merah ketika mendengar perkataan sosok itu.
"Kuperingatkan kau. Jangan mendekatinya," ucap Sasuke penuh penekanan.
"Huh? Lucu sekali. Aku yang lebih dulu bertemu dengannya. Harusnya aku yang berkata demikian bukan?" rupanya sosok itu menantang Sasuke.
Sasuke menatap tajam sosok itu dengan mata merahnya.
"Dengar. Kau tidak ada tandingannya denganku. Jangan coba-coba mengusikku. Dan jangan coba-coba mengambil apa yang menjadi milikku."
Setelah mengatakan itu Sasuke menghilang, pergi meninggalkan tempat itu.
"Jangan coba-coba mengambil apa yang menjadi miliknya, eh?"
Sosok itu mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi, membentuk seringai lebar menyeramkan. Sangat tidak cocok dengan wajah baby face yang dimilikinya.
"Kita lihat saja, Uchiha Sasuke."
To be Continued
Author's Place:
Bagi yang udah baca, gimana pendapatnya tentang chap ini?
Sampai sini ngebosenin gak?
See you on the next chapter ^^
