oOo

Naruto © Masashi Kishimoto

Definitely Mine

© Nadeshiko Hime-chan

Rated : T

Pairing : SasuSaku

AU, Typo(s), OOC, etc.

Supernatural/Romance/Fantasy

oOo

.

.

.

CHAPTER 5

"Sasuke-kun!"

Merasa namanya dipanggil, Sasuke yang sedang duduk di bangku taman dekat perpustakaan menoleh ke arah sumber suara. Manik kelamnya mendapati gadis bersurai merah muda yang sedari tadi ia tunggu.

"Ternyata disini. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Sakura tidak enak hati.

"Hn. Tidak masalah. Dia sudah pulang?" Sasuke sangat enggan untuk menyebut nama si pria bersurai merah yang tadi bersama Sakura.

"Iya. Setelah aku selesai mengantarnya berkeliling senpai langsung pamit pulang."

"Hn. Begitu."

"Umm... Jadi Sasuke-kun ingin bicara apa denganku?"

"Apa kau tahu toko buku yang menjual buku-buku lama di sekitar sini? Aku ingin mencari novel lama pesanan kakakku. Aku sudah mencarinya di toko online, tapi tidak ku temukan sama sekali."

"Hmm... Buku-buku lama ya...," Sakura terlihat berpikir sejenak, kemudian mengambil ponselnya dari kantong depan tasnya. Membuka browser dan mengetik sesuatu.

"Setahuku yang menjual buku-buku lama itu Akane Hon-ya, tapi agak jauh dari sini," Sakura menunjukkan ponselnya yang memuat situs web toko buku tersebut pada Sasuke.

"Kira-kira dari sini butuh waktu empat puluh lima menit dengan dua kali transit jika naik kereta dan satu jam jika naik mobil," tambah Sakura.

"Begitu ya. Apa akhir pekan ini kau ada acara?"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."

"Kalau begitu apa kau mau menemaniku?"

Tanpa berpikir dua kali gadis bermanik emerald itu mengangguk dan tersenyum, "Boleh saja."

"Baiklah. Aku akan menjemputmu akhir pekan nanti," Sasuke tersenyum tipis, membuat kedua pipi Sakura sedikit memanas.

"U-un. Oh ya, bagaimana kalau kita bertukar kontak agar lebih mudah memberi kabar?"

Sasuke segera mengambil ponselnya yang berwarna senada dengan iris matanya dari saku celana. Kemudian menyodorkannya pada Sakura setelah mengetikkan password.

"Ketik nomormu."

Sakura mengambil alih ponsel milik pria di hadapannya yang mempunyai kesan dingin itu. Dengan cekatan, ia mengetikkan nomor ponsel miliknya dan mengembalikan ponsel hitam legam itu pada pemiliknya.

"Hn. Arigatou. Kalau begitu aku pergi, masih ada kelas sore. Sampai bertemu akhir pekan nanti."

"Iya," ucap Sakura sambil menganggukkan kepalanya.

Sasuke pun berjalan menjauh. Meninggalkan Sakura yang sepertinya terhanyut dalam pikirannya sendiri sambil menatap punggung tegap pria yang kian menjauh itu. Sampai akhirnya ia tersadar dan melupakan sesuatu.

"Ah! Aku lupa meminta nomornya. Bodoh sekali kau, Sakura!" ucap gadis itu pada dirinya sendiri.

Namun, apa boleh buat. Sasuke sudah terlanjur pergi saat itu. Akhirnya Sakura memutuskan untuk pulang ke rumah dan berinisiatif meminta nomor pria bermanik kelam itu jika besok bertemu.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Sakura segera menuju kamarnya. Gadis bermanik emerald itu membaringkan tubuhnya sejenak di kasur empuknya. Beberapa detik kemudian ia mengambil ponselnya, melihat layar ponselnya sekilas dan menaruhnya asal.

Gadis bermarga Haruno itu pun bangkit dari kasurnya. Ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Suara gemericik air pun terdengar. Setelah dua puluh menit, Sakura keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di bagian kepalanya. Dirinya langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di kasurnya.

Ketika melihat layar ponselnya, manik emeraldnya menangkap ada satu pesan baru dari nomor tak dikenal. Langsung saja ia membuka pesan baru itu.

From: Unknown Number

Simpan nomorku.

-Sasuke

Membaca pesan dari pria yang sore tadi membuat janji dengannya di akhir pekan itu membuat Sakura terkejut sekaligus senang. Dirinya tak segera membalas pesan itu, melainkan menyimpan nomor pria itu dengan nama Sasuke. Setelah itu baru membalasnya.

To: Sasuke

Sudah ku simpan. Arigatou ^^

Maaf tadi aku lupa meminta nomor Sasuke-kun.

Lima menit kemudian, nama Sasuke muncul lagi di layar ponselnya. Jari Sakura otomatis menyentuh kata 'read' pada ponselnya dengan cepat.

From: Sasuke

Hn.

Membaca pesan yang amat sangat singkat itu, membuat Sakura terkikik kecil. Ternyata dalam pesan teks pun Sasuke tetaplah irit bicara. Ketika jemarinya ingin mengetik sesuatu, ada satu pesan baru yang masuk, dari Sasuke. Membuatnya mengurungkan niat untuk membalas pesan sebelumnya dan memilih untuk membaca pesan baru dari pria itu.

From: Sasuke

Aku akan menjemputmu pukul 10 di akhir pekan nanti. Sampai bertemu. Oyasumi.

Kalau sebelumnya Sakura terkikik kecil, kini gadis penyuka cerita fantasi itu tersenyum membaca pesan dari pria irit bicara itu. Setelah mengetik balasan untuk Sasuke, dirinya tenggelam dalam novel fantasinya sampai jatuh tertidur.

Dalam tidurnya, alam bawah sadar Sakura masuk ke dalam alam mimpi. Dirinya melihat sebuah ruangan. Sebuah kamar tidur yang sangat luas sekali. Kamar tidur itu di desain dengan sangat cantik. Sepertinya kamar tidur itu milik seseorang yang mempunyai gelar bangsawan.

Di depan meja rias -tepatnya di bangku kecil yang terletak di depan meja itu, tampak seorang gadis berpakaian bak seorang putri sedang duduk. Gadis itu memiliki surai panjang yang berwarna merah muda, sama seperti Sakura. Di belakangnya ada seorang maid yang sedang menyisir surai panjang milik gadis itu. Posisi keduanya seakan membelakangi Sakura. Sehingga indra penglihatan milik Sakura tidak mampu melihat wajah mereka.

"Anda cantik sekali malam ini, Yang Mulia."

Sakura mendengar sang maid memuji sang gadis. Rupanya sang gadis merupakan seorang putri sungguhan. Terlihat dari bagaimana cara sang maid memanggilnya dengan sebutan 'Yang Mulia'.

"Saya yakin semua lelaki akan terpesona begitu melihat Yang Mulia, tak terkecuali pangeran," tambah sang maid sambil terus menyisir surai milik sang putri.

Entah mengapa walaupun tidak dapat melihatnya, Sakura dapat merasakan kalau sang maid tersenyum ketika mengucapkan kalimat barusan. Setelah itu, sang gadis yang merupakan sang putri menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap sang maid. Namun, sebelum Sakura dapat melihat wajah sang putri pandangannya telah mengabur dan semuanya menjadi gelap gulita.

Sakura terbangun dengan novel yang terbuka menutupi wajahnya. Tangannya mengambil novel itu, menutupnya lalu menaruhnya di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.

Mimpi yang aneh. Itulah yang terlintas di pikiran Sakura ketika terbangun mendadak. Ia berusaha mengambil ponselnya dengan mencari-cari dengan tangan. Setelah dapat, ia mengetuk layar ponselnya dua kali dan melihat jam. Ternyata masih pukul dua dini hari.

Gadis bermanik emerald itu pun menghela nafas sejenak. Kemudian membetulkan posisi tidurnya, menarik selimut sampai menutupi lehernya dan memejamkan mata. Dalam hati Sakura berdoa agar ia tidak bermimpi aneh seperti tadi atau sebelum-sebelumnya.

.

.

.

Tak terasa tibalah hari dimana Sakura dan Sasuke membuat janji. Di kamarnya, Sakura sedang berdiri di depan cermin sambil memoleskan lip tint berwarna nude pink pada bibir mungilnya.

"Sempurna," ucapnya pada dirinya sendiri sambil tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.

Ia mengambil ponsel miliknya dan membuka layarnya untuk melihat jam. Masih ada waktu 15 menit sebelum Sasuke menjemput. Gadis itu pun memutar tubuhnya di depan cermin untuk memastikan apakah penampilannya sudah rapi.

Hari ini Sakura memadukan blouse berwarna hijau pastel dan mini skirt berwarna putih. Rambutnya ia biarkan tergerai, namun membuatnya sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Setelah merasa penampilannya sudah sempurna, Sakura mengambil tasnya yang diletakkan di tempat tidur. Sebelum keluar kamar, ia kembali mengecek ponselnya dan kebetulan ada pesan baru dari Sasuke.

From: Sasuke

Aku sudah sampai. Apa kau sudah siap?

Sakura tak langsung membalas pesan dari pria itu. Ia kembali mengecek jam pada ponselnya. Masih kurang 5 menit dari waktu janjian. Rupanya Sasuke datang lebih cepat. Ia buru-buru mengetikkan balasan untuk Sasuke dan bergegas untuk menemui pria itu di depan rumahnya. Kaki jenjangnya sedikit berlari kecil ketika menuruni tangga. Dengan cekatan Sakura mematikan seluruh lampu pada ruangan bawah rumahnya dan keluar rumah.

Di luar, manik emeraldnya menangkap sosok Sasuke yang tengah bersandar pada mobilnya. Pria bermanik kelam itu mengenakan pakaian berwarna hitam yang simple dan lebih santai dari biasanya. Namun tetap memancarkan pesona yang dimilikinya seperti biasa. Pandangan pria itu sedang fokus pada ponselnya yang sedang ia genggam. Sedetik kemudian, pandangannya tertuju pada Sakura yang berada beberapa meter di depannya.

"Ohayou, Sasuke-kun. Maaf membuatmu menunggu," ucap Sakura sambil menghampiri Sasuke.

"Ohayou. Tidak, aku yang datang lebih cepat," ucap Sasuke sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Pandangan Sasuke kemudian terpaku pada gadis merah muda yang berdiri di hadapannya. Membuat yang ditatap menjadi salah tingkah dan tersipu.

"Umm... Ada apa?" tanya Sakura sedikit malu-malu pada pria yang masih menatapnya itu.

"Kau terlihat berbeda."

"Apa aku terlihat aneh?" tanya gadis itu lagi dengan raut wajah khawatir.

"Tidak. Kau terlihat lebih cantik."

Perkataan Sasuke barusan sukses membuat Sakura semakin tersipu malu. Jantung gadis merah muda itu berdegup tak karuan, sampai rasanya jantungnya itu ingin melompat keluar.

"Ah... S-sou ka. Arigatou," secara refleks jemari Sakura menyelipkan sebagian anak rambutnya ke belakang telinga.

Sasuke menanggapinya dengan senyuman tipisnya yang khas.

"Hn. Ayo kita berangkat," ucap pria yang baru saja membuat Sakura tersipu malu itu.

"Iya."

Sasuke membukakan pintu penumpang untuk Sakura dan mempersilakan gadis itu untuk masuk. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis yang tadi sangat tersipu malu itu masuk ke dalam mobil. Setelah duduk, ia memasang sabuk pengaman. Sasuke pun sudah duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.

"Tidak ada yang tertinggal?" tanyanya pada gadis yang duduk di sebelahnya.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."

"Hn," Sasuke pun melajukan mobilnya.

.

.

.

Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit, akhirnya mereka tiba di toko buku yang merupakan tempat tujuan mereka, yaitu Akane Hon-ya. Terima kasih pada Sakura yang mengetahui jalan pintas untuk lebih cepat sampai ke tempat tujuan mereka itu.

"Jadi ini toko bukunya?" tanya Sasuke sambil menatap bangunan di hadapannya yang bergaya vintage, membuat toko buku itu terkesan antik.

"Iya, disini banyak sekali kumpulan buku-buku lama yang susah dicari. Ayo kita masuk, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil melangkahkan kaki jenjangnya, memasuki toko itu.

Sasuke pun mengikuti langkah Sakura, memasuki toko antik itu. Ketika masuk, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang berpenampilan ala vintage seperti gaya bangunan toko itu.

"Irasshaimase," ucap wanita itu menyambut kedatangan mereka.

"Ara, sepertinya kita kedatangan tamu istimewa. Silakan dilihat-lihat," tambahnya lagi dengan senyuman yang aneh sambil membuat gesture mempersilakan.

Sakura menanggapi penjaga toko itu dengan senyuman seramah mungkin. Setelah itu mengajak Sasuke untuk menelusuri bagian dalam toko itu. Di dalam toko itu sangat sepi. Hanya ada dirinya, Sasuke, serta penjaga toko itu.

"Penjaga toko ini memang sedikit aneh, tapi dia baik," bisik Sakura pada Sasuke yang berada di sebelahnya.

"Sepertinya kau tahu banyak tentang toko ini," balas Sasuke.

"Tidak juga. Aku hanya pernah ke sini sekali sebelumnya," ucap Sakura dengan suara normal.

"Sou ka."

Mereka pun berpencar sebentar. Sasuke mencari novel pesanan kakaknya dan Sakura berkeliling melihat-lihat, siapa tahu ada buku yang membuatnya tertarik. Ketika sedang membaca sekilas sebuah buku, Sasuke datang menghampirinya.

"Sudah ketemu, Sasuke-kun?" Sakura menutup buku yang tadi dibacanya sekilas.

Sasuke menunjukkan buku yang dipegangnya, "Hn. Bagaimana denganmu? Apa ada buku yang membuatmu tertarik?"

Sakura tersenyum kecil dan mengangguk, "Ada. Kurasa aku juga akan membeli buku, hehe."

"Kalau begitu ayo kita ke kasir."

Mereka berdua pun membawa buku yang akan mereka beli dan berjalan ke arah kasir. Sasuke membayar terlebih dahulu. Ketika itu, penjaga toko itu memperhatikan Sasuke dengan seksama sambil tersenyum.

Masih dengan senyuman anehnya, penjaga toko itu berkata, "Ternyata anda memang tamu yang sangat istimewa ya."

Sasuke hanya diam tak menanggapi. Setelah selesai membungkus buku yang dibeli oleh Sasuke, penjaga toko itu pun menyerahkannya pada pria bermanik kelam itu.

"Doumo arigatou gozaimashita. Mata okoshi kudasaimase."

"Hn. Sakura, aku tunggu di luar ya."

"Iya."

Kini giliran Sakura yang harus membayar. Ketika gadis itu menyerahkan uang, penjaga toko itu menolak.

"Pemuda tadi sudah membayarnya sekalian," ucap penjaga toko itu sambil mengambil buku yang Sakura letakkan di meja kasir untuk dibungkus.

Tentu saja Sakura terkejut, ia sama sekali tidak sadar kalau Sasuke membayar untuknya juga, untuk yang kedua kalinya. Mau tak mau ia menaruh kembali uangnya ke dalam dompetnya. Nanti aku akan membayarnya pada Sasuke. Pikirnya karena merasa tidak enak hati.

Di sela-sela membungkus bukunya, penjaga toko itu berkata. Wanita paruh baya itu mengatakan suatu hal yang sangat aneh bagi Sakura.

"Rupanya anda bukan manusia biasa ya. Ki wo tsukete ne," ucap penjaga toko itu dengan senyuman anehnya.

Sakura yang merasa bingung dan penasaran dengan maksud ucapan si penjaga toko itu pun bertanya kepada wanita paruh baya itu.

"Ano... Apa maksud anda?"

Penjaga toko itu tersenyum, kali ini senyumnya terlihat misterius.

"Banyak yang tertarik padamu. Kelak, kau akan menghadapi pilihan yang sulit. Douzo. Doumo arigatou gozaimashita. Mata okoshi kudasaimase," penjaga toko itu menyerahkan buku yang telah dibungkus pada Sakura.

Sebenarnya Sakura masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh wanita paruh baya itu. Namun, ia memilih untuk pergi setelah membungkuk dan tersenyum pada penjaga toko itu.

Di depan toko, Sasuke sudah menunggunya. Sakura segera menghampiri pria itu. Gadis bermanik emerald itu mengambil selembar uang dari dalam dompetnya.

"Sasuke-kun, arigatou. Tadi kau membayarkannya untukku 'kan? Ini, aku ingin mengembalikannya padamu," ucap Sakura sambil menyodorkan selembar uang pada Sasuke.

Sasuke tersenyum tipis, "Tidak perlu. Anggap saja balas budi karena telah menemaniku hari ini."

"Tapi-"

"Aku bersikeras menolaknya," potong Sasuke cepat.

"Kalau begitu terima kasih banyak, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil membungkukkan tubuhnya.

"Hn. Ayo cepat masuk ke dalam mobil," ucap pria yang terkesan dingin namun mempesona itu. Ia sudah membukakan pintu penumpang untuk Sakura.

Setelah masuk ke dalam mobil, Sasuke pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Keesokan harinya, di dalam salah satu ruang kelas fakultas kedokteran Konoha University.

"Ohayou, Forehead!" Ino menyapa Sakura dengan suara lantang sembari duduk di sebelah sahabat merah mudanya.

"Ohayou, Ino," balas Sakura dengan senyuman.

"Wah sepertinya moodmu sedang bagus sekali. Apa terjadi sesuatu yang baik, eh?" Sahabat pirangnya itu memang peka sekali kalau berkaitan tentang dirinya.

"Ya begitulah hehe," respons Sakura sambil tertawa kecil.

"Hmm... Pasti berhubungan dengan Sasuke 'kan?" goda Ino.

Mendengar Ino yang berkata dengan suara agak keras membuat Sakura gelagapan, "Sssttt... Pelan-pelan, Pig!"

Gadis bersurai blonde itu tertawa.

"Haha gomen... Sepertinya kau dan Sasuke berjalan lancar ya, hehe. Ganbatte ne, Sakura."

Beberapa detik kemudian, seorang pria berambut abu-abu yang diikat ke belakang dan menggunakan kacamata bulat memasuki ruangan itu.

"Kabuto-sensei sudah datang," ucap salah satu mahasiswa dalam ruangan itu.

Ruangan yang tadinya ramai pun menjadi tenang. Para mahasiswa yang tadinya duduk di sembarang tempat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sakura dan Ino yang duduk berdampingan menyiapkan peralatan tulis mereka.

Pria berkacamata yang diketahui sebagai seorang dosen itu meletakkan tas dan barang bawaannya di atas meja khusus pengajar. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk sebelum menyapa seluruh mahasiswa dalam ruangan itu.

"Ohayou, mina-san," begitu pria itu menyapa para anak didiknya.

Seluruh mahasiswa pun membalas, "Ohayou gozaimasu."

"Jya, mari kita mulai pelajaran hari ini."

.

.

.

Sasuke sedang berjalan di kawasan kampus. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ia mengambil arah menuju fakultas kedokteran. Untuk sampai di fakultas kedokteran harus melewati kawasan fakultas seni. Padahal ia paling anti untuk sekedar melewati fakultas itu.

Kawasan fakultas seni saat itu sedang ramai. Setiap Sasuke lewat, seluruh pandangan gadis-gadis selalu tertuju padanya. Bahkan sampai ada yang tersipu ketika melihat dirinya yang dianugerahi paras rupawan bak seorang pangeran. Sungguh mempesona.

Ketika sedang santai berjalan, ia bertemu seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya. Seseorang itu persis berada di depannya, menunjukkan senyum ramah padanya. Padahal pria bermanik kelam itu sangat tahu kalau senyuman itu hanyalah senyum palsu.

"Konnichiwa, Uchiha-san. Tumben sekali kau datang ke wilayah fakultas seni," begitu orang itu menyapa Sasuke.

"Bukan urusanmu," ucap Sasuke acuh tak acuh.

Sasuke terus berjalan untuk melewati pria bersurai merah yang sangat tidak disukainya itu. Namun, ketika mereka tepat berpapasan. Pemilik wajah baby face itu membuka mulutnya kembali.

"Sombong sekali. Sepertinya kau terlalu menganggapku remeh," ucap Sasori dengan nada mengejeknya.

"Tunjukkan wujud aslimu jika kau memang ingin menantangku. Aku tak punya waktu untuk meladeni pengecut sepertimu," ucap Sasuke pada pria bersurai merah itu sebelum melengos pergi.

Sasori masih diam di tempatnya berdiri sambil melihat punggung Sasuke menjauh. Sekilas terlihat senyuman licik di wajahnya.

.

.

.

Bertemu dengan si kepala merah membuat mood Sasuke menjadi kurang bagus. Padahal niatnya siang ini adalah bertemu dengan Sakura. Mereka telah berjanji untuk makan siang bersama hari ini.

Kini ia sudah memasuki kawasan fakultas kedokteran dan mempercepat langkahnya. Ketika tiba di depan sebuah lorong, indra penglihatannya menangkap dua orang gadis yang sedang berjalan berdampingan berlawanan arah dengannya. Mereka terlihat sedang bercanda tawa.

Salah satu dari kedua gadis itu yang bersurai pirang menyadari kehadirannya. Gadis pirang itu kemudian menyikut gadis bersurai merah muda di sebelahnya. Si gadis bersurai merah muda pun menoleh padanya.

"Sakura, aku duluan ya," ucap si gadis pirang sambil berjalan meninggalkan si gadis merah muda.

Ketika berpapasan dengannya, Ino si gadis pirang menyapanya sambil tersenyum. Sasuke membalasnya dengan anggukan dan gumaman khasnya.

Sasuke menghampiri Sakura.

"Konnichiwa, Sasuke-kun."

"Hn. Konnichiwa."

"Jya, ayo kita pergi," ucap Sakura sambil tersenyum.

"Hn."

Melihat senyum gadis bermanik emerald itu membuat mood Sasuke menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua pun pergi untuk makan siang bersama di restoran terdekat.

To be Continued

Vocabulary:

Hon-ya: Toko buku

Mata okoshi kudasaimase: Silakan datang lagi

Ki wo tsukete ne: Hati-hati ya