"Sasuke-sama, onegai..."

Dua orang yang merupakan suami istri duduk bersimpuh di hadapan sebuah singgasana bernuansa gothic. Dimana di singgasana tersebut duduklah iblis yang dijuluki sebagai iblis terkuat. Pasangan suami istri tersebut sedang memohon kepada sang iblis.

"Tolonglah putri semata wayang kami, Sasuke-sama!" ucap sang istri dengan suara lirihnya sambil memeluk erat seorang balita yang merupakan putri semata wayang mereka.

Tubuh balita perempuan yang tertutupi oleh jubah bertudung itu terbujur kaku di pelukan sang ibu. Baik sang ibu maupun sang ayah dari balita itu tak henti-hentinya memohon kepada iblis di hadapannya sambil berderai air mata. Sasuke yang duduk di singgasananya hanya menatap ketiga manusia di hadapannya itu dengan tatapan datar, sama sekali tidak merespons.

"Bagaimana Tuan? Apakah saya harus mengeluarkan mereka secara paksa?" sosok setengah manusia berkepala tulang hewan yang mendampingi Sasuke bersiap untuk mengurus keluarga kecil menyedihkan itu.

"Kami akan membayarnya dengan apapun! Onegai, Sasuke-sama!" ucap sang suami, ayah dari balita malang itu. Terlihat jelas keputusasaan dari nada bicaranya.

Mendengar ucapan ayah dari balita itu Sasuke mengangkat tangannya, membuat gesture memerintahkan untuk berhenti kepada pendamping setianya yang sudah ingin berjalan menuju keluarga malang itu.

"Apapun, eh?" respons Sasuke pada akhirnya. Masih dengan tatapan datar.

"Ya! Apapun! Apapun akan kami lakukan asalkan Sasuke-sama bersedia menyelamatkan putri kami!"

"Sasuke-sama, onegai!"

Sasuke tertawa mengejek.

"Apapun?" ia mengulang pertanyaannya dengan nada dan mimik wajah yang mengejek.

Sasuke bangkit dari singgasananya dan berjalan perlahan menuju sepasang suami istri yang sedari tadi bersimpuh dan terus memohon kepadanya.

"Apapun itu?" tanya Sasuke lagi setelah ia tepat berdiri di hadapan sang suami yang masih tetap dengan posisi bersimpuhnya itu.

Sepasang mata kelam milik sang iblis menatap tajam ke arah sepasang suami istri, serta balita yang terbungkus oleh jubah bertudung itu bergantian.

"Ya, Sasuke-sama! Tolonglah putri kami...," ucap sang suami berusaha meyakinkan sang iblis.

Kedua tangan pria yang merupakan ayah balita malang itu berusaha meraih kaki sang iblis sambil memohon. Namun, kaki milik sang iblis menepis tangan pria malang itu. Yang terjadi selanjutnya, tangan Sasuke meraih leher pria itu dengan cara mencengkeramnya. Kemudian menariknya agar pria malang itu berdiri sejajar dengannya. Tanpa melepaskan cengkeramannya Sasuke berkata pada pria itu.

"Apa yang bisa kau berikan padaku? Kau tadi bilang apapun, eh?"

"Y-ya, Sa-Sasuke-sama. A-apapun i-itu," jawab pria itu terbata-bata karena cengkeraman tangan Sasuke pada lehernya.

Tiba-tiba tangan Sasuke melepaskan cengkeramannya sambil mendorong tubuh pria itu dengan keras, membuat tubuh tak berdaya itu terhuyung dan terjembab ke lantai. Sang istri yang masih setia mendekap putri semata wayangnya itu pun histeris melihat suaminya yang terjatuh dan terbatuk-batuk karena perlakuan kasar sang iblis. Wanita itu semakin erat mendekap tubuh putrinya.

"Asal kalian tahu, aku sangat membenci makhluk seperti kalian," ucap sang iblis dengan tatapan yang merendahkan.

"Makhluk rendahan seperti kalian ingin meminta bantuan padaku dengan imbalan apapun, eh? Sombong sekali. Bahkan dengan nyawa kalian pun, tak sanggup membayarku."

"Mo-mohon ampun, Sas-Sasuke-sama!"

"Mohon ampuni kami, Sasuke-sama! Kami tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa," kini giliran sang istri yang berbicara.

"Lucu sekali. Makhluk seperti kalian harusnya musnah saja."

Sesaat setelah mengatakan kalimat barusan, Sasuke langsung menggerakkan tangannya untuk menyerang keluarga kecil nan malang itu.

"Kyaaaaa!" sang wanita berteriak sambil memejamkan matanya.

Secara refleks tubuh wanita itu bergerak mundur yang menyebabkan tudung yang menutupi wajah putri semata wayangnya itu terjatuh dan memperlihatkan surai merah muda, wajah pucat serta bibir yang membiru milik balita itu. Seketika mata kelam milik sang iblis melebar begitu melihat sosok balita yang terbujur kaku itu secara jelas dan menghentikan aksinya. Sasuke terdiam cukup lama, membuat sepasang suami istri yang tadinya sangat ketakutan itu memberanikan diri membuka matanya.

"Ada apa Tuan?" tanya si pendamping setia kepada sang iblis karena merasa aneh dengan tingkah tuannya itu.

Sasuke masih terdiam, tidak merespons. Sepasang mata kelamnya masih terpaku kepada sosok balita mungil yang terbujur kaku di pelukan ibunya. Entah mengapa ia merasakan seperti ada magnet dalam diri balita itu yang menarik dirinya.

"Tuan?"

Sasuke tetap tidak merespons. Namun, ia melangkahkan kakinya perlahan ke arah dimana sang balita itu berada. Sang ibu yang waspada berusaha melindungi putri semata wayangnya itu dengan memeluknya lebih erat meski tubuhnya gemetar. Sang ayah yang sudah tak berdaya pun berusaha mendekat untuk melindungi istri dan anak satu-satunya.

Ketika tangan Sasuke berusaha meraih sosok balita itu, sang ibu memundurkan tubuhnya berusaha untuk menjauhkan anak satu-satunya itu dari sang iblis. Melihat hal itu, Sasuke mengurungkan niatnya. Mata kelamnya menatap sang ibu yang tubuhnya masih gemetar namun tetap berusaha melindungi putrinya.

"Aku akan menolongnya."

Sang pendamping setia terkejut dengan keputusan tuannya yang mendadak berubah. Begitu pula dengan sang ayah dan ibu dari balita itu juga tak kalah terkejutnya.

"Tapi Tuan-"

"Aku bilang aku akan menolongnya."

"Benarkah? Benarkah Sasuke-sama?" tanya sang ibu memastikan.

"Tapi dengan satu syarat."

"A-apapun itu akan kami lakukan. Terima kasih, Sasuke-sama!"

Sepasang suami istri itu membungkuk dalam duduknya sedalam-dalamnya sambil mengucapkan terima kasih kepada sang iblis.

"Ketika anak itu sudah berusia 18 tahun, aku ingin menjadikannya sebagai mempelaiku."

Sepasang suami istri yang tadinya terus-menerus mengucapkan terima kasih itu berhenti seketika mendengar ucapan sang iblis. Mereka berdua serempak melihat ke arah masing-masing, kemudian memberanikan diri untuk menatap sang iblis.

"Y-ya, Sasuke-sama. Menjadikan anak kami sebagai mempelai Tuan?" tanya sang ayah takut-takut.

"Bagaimana? Hanya itu imbalan yang aku mau untuk menyelamatkan anak kalian. Bukankah kalian bilang akan melakukan apapun?"

Sepasang suami istri itu menelan ludah secara bersamaan. Mereka kembali bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya merespons perkataan sang iblis.

"B-baik, Sasuke-sama. Kami setuju dengan perjanjian itu."

"Pada saatnya tiba, aku akan berkunjung ke istana kalian dan menjemput calon mempelaiku."

oOo

Naruto © Masashi Kishimoto

Definitely Mine

© Nadeshiko Hime-chan

Rated : T

Pairing : SasuSaku

AU, Typo(s), OOC, etc.

Supernatural/Romance/Fantasy

oOo

CHAPTER 6

"Bagaimana dengan novelnya?"

Sakura membuka suara sambil menatap pria yang duduk di seberangnya sambil menunggu pesanan mereka tiba. Mereka berada di restoran yang sama ketika pertama kali makan siang bersama.

"Hn. Aku baru mengirimnya tadi pagi."

"Hmm begitu. Ternyata kakakmu suka novel klasik Jepang ya hehe."

"Hn, begitulah. Dia selalu minta padaku untuk mencarikannya. Merepotkan saja."

Sakura tertawa mendengar bagaimana Sasuke membicarakan kakak laki-lakinya itu.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Sakura sambil menatap wajah rupawan milik pria di hadapannya itu.

"Hn?"

"Kakak laki-lakimu itu orang yang seperti apa?"

"Kurang lebih sama sepertiku. Tapi dia cerewet dan sangat menyebalkan."

"Souka. Aku iri sekali padamu, bisa memiliki seorang kakak. Pasti kakakmu juga tampan seperti Sasuke-kun ya, hehe."

Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Sakura merutuki dirinya sendiri karena keceplosan. Dan dirinya bisa melihat seringai jahil di wajah Sasuke akibat ucapannya.

"Jadi aku tampan?" Sasuke melontarkan pernyataan untuk menggoda Sakura, masih lengkap dengan seringai jahilnya.

"Umm... Menurut kebanyakan wanita Sasuke-kun itu tampan jadi aku-"

"Jadi menurutmu aku tidak tampan?"

"Bu-bukan begitu! Umm... Ya, menurutku Sasuke-kun tampan," Sakura menjawab pertanyaan Sasuke dengan wajah yang sedikit memerah dan tidak berani menatap pria yang menggodanya itu.

"Ano... Bagaimana dengan orang tua Sasuke-kun? Apa mereka sekarang tinggal di Amerika bersama kakakmu?" Sakura buru-buru melontarkan pertanyaan lain untuk menghindari situasi tadi.

"Kedua orang tuaku sudah tiada."

Kali ini Sakura merasa sangat menyesal menanyakan keadaan orang tua Sasuke yang ternyata sudah tiada.

"Gomen ne, Sasuke-kun," ucap Sakura. Terlihat penyesalan di raut wajahnya ketika mengucapkan kata maaf.

"Hn, tak apa. Itu sudah lama sekali. Bagaimana dengan orang tuamu? Kudengar dari Naruto kau tinggal sendiri?" kini Sasuke balik bertanya.

Sakura mengangguk.

"Iya, benar. Orang tuaku tinggal di Oto karena pekerjaan mereka yang tak bisa ditinggal dan karena aku anak tunggal jadilah aku tinggal seorang diri."

"Hn, begitu. Kau tidak kesepian atau merasa ketakutan?"

Untuk kesekian kalinya, Sakura merasa aneh dengan pertanyaan dari pria bermanik kelam di hadapannya. Namun, ia berusaha untuk tidak memikirkannya.

"Hmm... Aku tidak takut. Tapi terkadang aku merasa kesepian."

"Begitukah?" raut wajah Sasuke menunjukkan kekhawatiran.

"Ah tapi senang saja, ibuku selalu menghubungiku entah itu melalui telepon atau pesan singkat kalau sedang tidak sibuk. Dan juga, ada Ino yang rumahnya dekat denganku," Sakura mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.

"Baguslah kalau seperti itu. Sejak kapan kau tinggal sendiri?"

"Hmm... Sejak kelas 3 SMA. Oh iya, kalau dipikir-pikir kita ini sama-sama tinggal sendiri ya hehehe."

"Hn, sou da na. Kalau kau butuh bantuan atau sesuatu, kau bisa hubungi aku. Toh rumah kita berdekatan."

Mendengar tawaran baik dari pria yang mempunyai sepasang mata kelam itu membuat hati Sakura menghangat dan ia pun tersenyum.

"Un, arigatou. Sasuke-kun juga, kalau butuh apa-apa boleh hubungi aku kapan saja."

Tidak lama setelah itu, pesanan mereka tiba dan mereka pun menyantap makan siang sambil berbincang-bincang ringan sampai makakan mereka habis tak tersisa.

Sasuke dan Sakura keluar dari restoran setelah melakukan pembayaran di kasir. Keduanya berjalan menuju mobil Sasuke. Tetapi, Sasuke tiba-tiba memanggil nama Sakura membuat gadis bermarga Haruno itu menghentikan langkahnya.

"Sakura."

"Ada apa, Sasuke-kun?" Sakura menoleh pada Sasuke dan melihat pria itu sedang memegang ponsel, kemudian memasukkannya ke saku celana sebelum merespons.

"Bisa kau tunggu sebentar disini? Aku ingin ke konbini sebentar," ucap pria bermanik kelam itu sambil menunjuk minimarket yang letaknya di seberang jalan.

"Ah iya, aku akan menunggu disini."

"Aku tidak akan lama."

Sakura mengangguk, "Un."

Sasuke pun berjalan dan menyeberangi jalan, menuju tempat dimana minimarket itu berada.

Ketika sedang menunggu, ponsel milik gadis bersurai merah muda yang sedang dalam keadaan silent mode itu bergetar menandakan adanya telepon masuk. Sakura buru-buru mengambil ponselnya yang ia letakkan di kantong depan tasnya. Ternyata yang meneleponnya adalah sahabat pirangnya. Dengan segera ia menekan tombol 'answer' untuk menjawab panggilan dari Ino.

"Moshi-moshi. Ada apa, Pig?"

Di seberang telepon, sahabat pirangnya itu merespons.

"Forehead, Naruto meminta kita berkumpul di rumahnya sekarang. Katanya ada yang ingin dibicarakan."

"Pig, aku sedang bersama Sasuke," ucap Sakura nyaris berbisik. Padahal tidak ada orang lain di sekitarnya saat ini.

"Ah benar juga, kau sedang deeto dengan Sasuke ya. Kalau begitu ajak saja Sasuke, sepertinya Naruto juga mengajak Sasuke. Aku akan menunggu kalian di rumah Naruto. Bye!" ucap si gadis pirang itu tanpa jeda dan menutup panggilan telepon seenaknya.

"Pig!" Sakura merasa kesal dengan sahabatnya yang berkata dan menutup telepon dengan seenaknya.

Sakura menatap layar ponselnya kesal. Gadis bermanik emerald itu kemudian membuka aplikasi chatting dan mulai mengetik pesan untuk sahabat yang baru saja membuatnya kesal itu.

To: Ino Pig

Aku tidak tahu bisa ke rumah Naruto sekarang atau ti-

Belum selesai mengetik, suara Sasuke yang menandakan pria itu sudah kembali terdengar di telinganya.

"Maaf membuatmu menunggu."

Sakura buru-buru menutup aplikasi chatting tanpa menyelesaikan pesan yang tadinya akan ia kirim pada sahabat pirangnya. Gadis bermanik emerald itu membalikkan tubuhnya dan melihat Sasuke menenteng sekantung plastik yang sepertinya berisi minuman. Kemudian ia merespons Sasuke.

"Daijyoubu yo, Sasuke-kun."

Mata kelam milik Sasuke melihat Sakura yang masih memegang ponselnya, kemudian berkata.

"Kau dapat pesan dari Naruto juga?"

Sakura menggeleng.

"Tidak. Tapi barusan Ino menghubungiku kalau Naruto memintaku untuk ke rumahnya. Apa Sasuke-kun juga diminta untuk datang ke rumah Naruto?"

"Hn, tadi Naruto menghubungiku. Kalau begitu sekarang kita segera ke sana saja," ucap Sasuke yang langsung berjalan ke arah mobilnya setelah Sakura mengangguk dan membuka pintu penumpang untuk Sakura.

.

.

.

Sasuke dan Sakura telah berada di depan pintu rumah Naruto setelah Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman rumah milik pria bersurai kuning jabrik itu. Sasuke menekan bel beberapa kali sebelum si empunya rumah membukakan pintu untuk mereka. Naruto menyapa mereka berdua dengan cengiran lebar khas miliknya sambil melambaikan tangan.

"Yo! Teme, Sakura-chan! Gomen gomen, tadi aku tidak dengar bunyi bel hehehe," ucap Naruto dengan tawa tanpa dosa di akhir kalimatnya.

"Hn," respons Sasuke singkat dan tidak jelas seperti biasa.

"Hai, Naruto," Sakura menyapa si empunya rumah dengan senyuman.

"Hehehe, ah iya. Maaf menganggu waktu kalian. Ternyata kalian sedang bersama saat kuhubungi Teme tadi ya."

"Ah tidak. Kita hanya makan siang bersama saja," ucap Sakura sedikit malu-malu.

"Hn."

"Oh begitu, hehehe. Ayo silakan masuk."

Naruto menggeser posisinya agar Sasuke dan Sakura bisa masuk. Sakura masuk terlebih dahulu, lalu disusul oleh Sasuke. Ketika sudah melewati pintu, Sasuke menyodorkan sekantung plastik berisi minuman yang tadi ia beli di minimarket pada Naruto.

"Titipanmu."

"Whoaaa! Sankyuu Teme, hehehe," Naruto mengambil sekantung minuman itu dari tangan Sasuke.

"Oh ya, kau tidak marah padaku 'kan, Teme?"

"Hn."

"Ughh... Gomen sudah mengganggu kalian. Ada hal penting yang ingin kusampaikan saat ini juga."

"Paling-paling itu hanya alasanmu saja supaya bisa berkumpul."

"Err... Bukan begitu, Teme. Ya memang sih, itu salah satu tujuannya. Tapi aku tidak punya banyak waktu lagi untuk menyampaikan ini secara langsung pada kalian," jelas Naruto dengan raut wajah tidak enak pada Sasuke.

"Hn. Lagipula acara makan siangku dengan Sakura sudah selesai."

"Ughhh... Sial kau Teme! Kukira kau betul-betul marah padaku karena mengganggu waktu kencanmu," ucap Naruto kesal karena merasa tertipu oleh Sasuke.

Sasuke hanya merespons pria bersurai kuning jabrik itu dengan seringai mengejek. Membuat urat yang membentuk siku-siku muncul di kepala Naruto.

"Ya sudah kau duluan bergabung saja, ada Hinata-chan dan Sai juga. Aku menyiapkan ini dulu," ucap Naruto pada Sasuke sambil mengangkat plastik berisi minuman itu dan berjalan menuju ke arah dapur.

Sasuke pun berjalan menuju ruang tengah dimana di sana ada Sakura, Ino, Sai, dan Hinata, kekasih Naruto yang juga merupakan teman Sakura, Ino dan Sai ketika SMA. Mereka sedang asyik bercengkerama. Sakura yang lebih dulu melihat Sasuke yang baru tiba di ruang tengah, memberi isyarat untuk bergabung. Semua orang di ruang tengah kecuali Sakura, menyapa Sasuke lebih dulu.

"Konnichiwa, Sasuke-kun," sapa Hinata dengan suara lembutnya.

"Konnichiwa, Sasuke," sapa Ino.

"Konnichiwa. Hisashiburi, Sasuke," ucap Sai dengan senyuman khasnya.

Sasuke pun melambaikan tangan dan membalas sapaan mereka.

"Hn. Konnichiwa."

Sasuke pun mengambil tempat duduk di sebelah Sakura. Deretan posisi duduk mereka saat ini adalah Sai, Ino, Hinata, Sakura, dan Sasuke.

"Kau baru saja datang, Sasuke?" tanya Sai pada pria bermanik kelam yang sekilas mirip seperti dirinya itu.

"Tadi kita datang bersama," ucap Sakura mewakili Sasuke.

"Hn. Tadi aku berbicara dengan Naruto sebentar di depan," Sasuke memberi penjelasan.

"Oh begitu," respons Sai sambil mengangguk-angguk.

"Akhir-akhir ini kalian semakin dekat ya," Ino mulai menggoda mereka, khususnya sahabat merah mudanya itu.

"Sepertinya begitu," Sai menimpali.

"Kalian ini bisanya menggoda saja. Lalu bagaimana dengan kalian yang pasangan baru?"

Sakura tidak mau kalah dengan pasangan yang belum lama ini menjadi pasangan itu.

"Eh? Ino-chan dan Sai-kun sekarang berpacaran?" tanya Hinata yang ketinggalan berita.

"Astaga. Naruto belum memberitahumu, Hinata? Biasanya Naruto yang paling suka menyebarkan berita panas," ucap Sakura pada gadis beriris lavender itu.

"Eh tumben sekali Naruto belum menyebarkannya," ucap Ino yang juga merasa heran.

"Mungkin dia lupa," ucap Sai.

"Wah, parah sekali dia lupa memberitahu kekasihnya sendiri," ucap Ino.

"Mungkin benar kata Sai-kun. Karena akhir-akhir ini Naruto-kun sedang sibuk sekali," Hinata membela kekasihnya.

"Bisa jadi begitu. Dia sedang menyiapkan untuk acara kampus akhir-akhir ini," kata Sai yang satu kampus dengan Naruto.

"Omatase, minna!" Naruto tiba di ruang tengah, kedua tangannya memegang nampan besar yang di atasnya tersedia minuman dan snack yang jumlahnya tidak sedikit.

Pria beriris sapphire itu meletakkan nampan besar itu di meja dan ikut bergabung. Naruto mengambil posisi di antara kekasihnya dan Sakura.

"Silakan dinikmati suguhannya, hehe," ucapnya pada kelima orang yang berada di ruang tengah.

"Jadi kau mengundang kita semua ke sini untuk membicarakan apa?" tanya Sasuke yang sedari tadi tidak begitu banyak bicara langsung pada intinya.

"Ah soal itu. Ehm... Dengarkan ya, teman-teman. Minggu depan aku akan mengadakan pesta pertunanganku dengan Hinata-chan," ucap Naruto dengan lantang dan sumringah.

"EH? TUNANGAN?" Ino yang sangat terkejut berteriak dengan tidak santainya.

Ketiga orang lainnya, Sasuke, Sakura, dan Sai hanya menampilkan ekspresi terkejut bukan main. Sedangkan, Hinata memasang ekspresi malu-malunya.

"Hehehe, doakan aku dan Hinata-chan ya, teman-teman. Karena seminggu ke depan aku akan sangat sibuk, jadi aku memberitahukannya pada kalian sekarang ini. Hanya kalian yang kuberitahu dengan cara khusus ini hehehe. Oh ya nanti aku bagikan undangannya," ucap Naruto dengan cengiran lebar sambil merangkul kekasihnya yang masih memasang ekspresi malu-malu.

Mereka pun berbincang-bincang ria. Sesekali, Sakura dan Ino menggoda Hinata yang lebih dulu bertunangan dari mereka berdua. Sai pun ikut andil bersama gadis pirang yang belum lama ini telah resmi menjadi kekasihnya.

Sasuke dan Naruto kini sedang berada di beranda belakang rumah yang mengekspos taman belakang rumah milik pria beriris sapphire itu. Mereka memegang sekaleng minuman masing-masing.

"Aku tidak tahu. Ternyata gadis yang kau maksud selama ini adalah Sakura-chan?"

"Hn. Ku kira kau sudah tahu ketika kau menyuruhku mengantarnya pulang saat aku baru pertama kali bertemu dengannya."

"Ayolah, Sasuke. Terlahir sebagai manusia biasa membuat kekuatanku hilang seutuhnya. Aku baru menyadarinya saat aku, kau, Sakura-chan dan Ino makan siang bersama waktu itu."

"Tapi sepertinya kau lebih menikmati hidupmu sebagai manusia biasa," ucap Sasuke dengan senyuman angkuh di wajahnya.

"Ya, memang benar sih. Aku bisa bertemu Hinata-chan dan sebentar lagi akan bertunangan. Hmm... Kalau dipikir-pikir, sepertinya takdir berpihak padamu kali ini. Sakura-chan menjadi sahabatku di kehidupan ini. Membuat rencanamu lebih mudah bukan?"

"Hn. Tapi tetap saja, pengganggu itu tetap menggangguku," ketika mengucapkan kalimat tersebut, rahang milik Sasuke mengeras.

"Apa? Maksudmu dia? Siapa orangnya di kehidupan ini?"

"Hn. Dia sangat dekat dengaku dan Sakura, bahkan dengan sengaja menantangku. Aku akan segera mengurusnya, ketika kekuatanku sudah kembali seutuhnya."

To be Continued

Vocabulary:

Konbini: Minimarket

Deeto: Kencan