Disclaimer
Sekotengs (c) Lifina
Warning
Contains smoking
"Whoa ..." gumam Vino kecil saat melihat ayah dan ibunya bersiap berangkat kerja.
"Pipin, kenapa ngeliat Mama dan Bapak sampai segitunya?" tanya Ibu Vino sambil mengelus kepala Vino.
"Mama dan Bapak keren!" jawab Vino dengan semangat.
Ayah Vino terkekeh pelan, "kalau sudah besar, Pipin mau jadi kayak Bapak?"
"Bapak keren, sih, tapi Pipin mau jadi Power Rangers aja."
Ayah Vino tertawa pelan. Lalu dia berlutut di hadapan Vino agar tinggi badan mereka setara, "kenapa Pipin mau jadi Power Rangers?"
"Um... karena Power Rangers suka menolong orang," jawab Vino.
"Bapak dan Mama juga suka menolong orang, lho," ujar Ayah Vino, "Bapak dan Mama menolong orang-orang yang sakit supaya bisa sembuh. Itu keren juga 'kan?"
Vino mengangguk.
"Kalau begitu, Pipin mau jadi kayak Bapak dan Mama?"
"Iya. Kalau gitu, Pipin akan jadi dokter di siang hari dan jadi Power Rangers di malam hari ya," kata Vino dengan polosnya.
"Bapak, ayo kita berangkat. Pipin 'kan juga harus sekolah," tiba-tiba Ibu Vino memotong pembicaraan.
Ayah Vino pun berdiri dan menepuk kepala Vino, "Bapak berangkat kerja dulu ya, Pin. Bapak mau menolong banyak orang."
Vino pun mengangguk pelan. Dia kemudian mendekati Dhika, kakak laki-lakinya. Dhika mengantarkan Vino ke TK yang berada di dekat rumah mereka, sebelum pergi ke SMP-nya.
Waktu sudah berlalu, sekarang, Vino sudah masuk SD. Di hari pertama Vino masuk SD, mereka belum mulai belajar, melainkan masih dalam tahap perkenalan.
"Anak-anak, kalian cita-citanya mau jadi apa?" tanya guru Vino.
"Polisi!"
"Pemadam kebakaran!"
"Penyanyi!"
Semua anak menjawab dengan semangat, tak terkecuali Vino yang sudah mengangkat tangannya.
Ibu guru pun melihat Vino, "wah, Vino, pasti Vino mau jadi dokter seperti ayah dan ibunya Vino ya?"
"Eh ... i-iya ..." jawab Vino dengan agak ragu
'Padahal, Pipin 'kan mau jadi pengusaha kerupuk'
Sekarang, Vino sudah masuk SMP. Dia mengikuti ekskul badminton di sekolahnya karena sangat menyukai bermain badminton. Vino sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan badminton dan sering menang, tetapi tak ada satu pun keluarganya yang pernah menonton kejuaraannya.
'Gue pengen banget jadi atlet badminton, tapi kayaknya ga mungkin. Bapak sama Mama maunya gue jadi dokter.'
Sudah beberapa kali Vino memamerkan piala dan piagam yang ia dapatkan. Namun, orang tuanya menganggap itu adalah hal yang biasa. Hingga, akhirnya Vino menguburkan keinginannya menjadi atlet badminton.
Saat ini, Vino sudah SMA. Sekarang Vino berada di kelas 10 semester 2. Semua siswa harus menentukan jurusan yang mereka pilih, termasuk Vino.
Terlihat Vino dan teman sepermainannya nongkrong di belakang sekolah sambil merokok.
"Eh, lo pada milih jurusan IPS 'kan?" tanya seorang teman Vino.
"Yoi lah, mana mungkin gue masuk IPA," jawab yang lain.
"Gue juga pasti masuk IPS lah. Nilai IPA gue pada ga ada yang bener," jawab teman Vino yang ketiga.
Vino pun menghisap rokoknya kemudian menghembuskannya.
"Gue masuk IPA," jawab Vino.
Hening.
"HAH? Lo masuk IPA?" ucap ketiga teman Vino bersamaan.
"Kaga usah bercanda lo, Vin!"
"Iya, nilai fisika lo aja do-re-mi."
"Gue serius! Bapak maunya gue masuk IPA. Makanya Bapak ngomong ke guru kita biar gue dapet tugas tambahan buat benerin nilai gue," jelas Vino.
"Emang lo bisa tahan masuk IPA? Udah pelajarannya susah, anak-anaknya juga pada cupu!"
"Iya, apalagi si Dean tuh yang kaga bisa diajak bercanda dikit."
Vino kembali menghisap rokoknya dan menghembuskannya, "yah, pokoknya, gue mesti tahan-tahanin biar gue ga disembelih Bapak sama Mama."
Bahkan, saat memilih jurusan kuliah pun Vino tidak ada pilihan apa-apa. Kedua orang tuanya mendaftarkan Vino ke Fakultas Kedokteran Universitas Paraduta. Vino merasa muak, tetapi tidak ada pilihan lain selain menjalani kuliahnya sampai wisuda, kemudian koas. Setelah selesai koas, rasanya dia mau membuka warung saja.
Sekarang, Vino sudah berumur 26 tahun. Setahun lalu, dia sudah menyelesaikan internship-nya. Setelah itu, dia bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit tempat ayahnya bekerja. Dirinya sudah menjadi dokter sesuai dengan keinginan ayahnya. Walaupun Vino awalnya benci dengan pekerjaan ini, Vino masih menjalaninya karena ingin menolong orang, seperti cita-citanya saat masih TK.
Hari ini, Vino sudah mantap untuk bicara ke ayahnya kalau dia ingin mengambil spesialisasi bedah anak, walaupun Bapaknya mau Vino mengambil spesialisasi bedah saraf, seperti abangnya.
Tok. Tok. Tok.
Vino mengetuk ruangan ayahnya.
"Masuk," kata ayah Vino dari dalam.
Kriet.
"Vino, sedang apa di sini?" tanya ayah Vino.
"Pak, Vino mau ambil spesialis," jawab Vino.
"Oh, mau ambil bedah saraf kayak Bang Dhika? Kalau begitu, Bapak ..."
"Enggak, Pak. Vino maunya ambil spesialis bedah anak," potong Vino.
"Terserah Bapak mau bantu bayarin Vino kuliah lagi apa enggak. Vino cuma mau bilang Vino ga mau ambil spesialis bedah saraf sesuai keinginan Bapak. Kali ini, biar Vino yang memutuskan sendiri," katanya sebelum ke luar dari ruangan ayahnya.
Setelah Vino keluar, Ayah Vino tersenyum kecil setelah mendengar keputusan Vino.
END
