Plis jangan bosen liat username ku update fic baru terus, I have too much free time
Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
One
l
Cahaya pagi menerobos melalui sela-sela tirai yang tidak tertutup rapat, memaksa masuk seakan membangunkan perempuan yang sudah setengah tersadar. Ia masih nyaman dipeluk kasur sebelum kembali harus memulai harinya yang sibuk. Samar-samar terdengar suara tangis dari monitor bayi yang ditaruh di nakas, ingin rasanya mengabaikan tangis itu dan kembali jatuh ke alam mimpi. Tapi hanya ibu durhaka yang akan melakukan itu.
Ah, here we go again.
Hermione mergangkan otot-ototnya sebelum beranjak mengawali rutinitas paginya. Ia melakukan kewajiban nya sebagai ibu, memandikan, mengganti popok dan memberi makan. Seteleh rampung menyelesaikan hidup anaknya sekarang gilirannya untuk bersiap-siap.
Setiap pagi Hermione hanya menegak segelas penuh smooties tanpa macam makanan lain, pilihan paling gampang untuk sarapan. Sambil sedikit membereskan rumah wanita itu mengecek jadwal praktiknya hari itu.
"Amanda, Brian, Leo, Mrs. Nigel dan Juli," gumamnya.
Wanita itu mengempit ponsel di bahunya seraya menyiapkan perlengkapan untuk anaknya.
"Hai Mum, 15 menit lagi aku sampai disana ya." ucapnya pada lawan bicara di ujung telepon. "Artie sudah mandi dan sarapan."
Sebelum masuk ke perapian Floo wanita itu kembali mengecek isi tasnya, meyakinkan semua yang ia butuhkan sudah terbawa. Setelah siap ia menggendong anak lelakinya dan melempar segenggam pasir sebelum akhirnya hilang bersamaan dengan api yang berkobar. Dalam sekejap ia sudah berpindah tempat ke rumah orang tuanya.
"Pagi," sapanya sambil mengecup pipi ibunya.
"Pagi sayang, sarapan?"
"Ah tidak usah, aku sudah menyiapkan smoothie." jawab wanita berambut coklat itu. "Maaf Mum aku lupa mempersiapkan MPASI untuk hari ini, aku lelah sekali tadi malam."
"Akan ku buatkan nanti." Kata Mrs. Granger sambil mengeluarkan barang-barang cucunya dari tas. "Tidak ada persediaan ASI?"
"Sedang tidak keluar," jawab Hermione singkat berusaha terlihat acuh.
Mrs. Granger melirik anak perempuan nya yang sedang membalas email dari ponsel. Wajah wanita itu terlihat lelah dan kantung matanya kian menggelap. Ia tau putrinya sedang kewalahan beradaptasi menjadi orang tua tunggal, walau dengan bantuan nya tetap saja mengurus seorang anak seorang diri bukan hal yang mudah.
"Istirahat mu cukup?"
"Ya, tentu saja."
"Ayah Arthur sudah berkunjung?"
Mendadak Hermione membeku, "Ia tidak bisa berkunjung sebelum memenuhi kewajiban nya, itu keputusan hakim."
Tidak ingin melanjutkan argument alot ini, Mrs. Granger memilih untuk diam. Sudah berkali-kali ia mengingatkan bahwa cucunya butuh figur seorang ayah, namun putrinya bersikeras untuk menjauhi Arthur dari mantan suaminya.
"Ibu akan menjemputmu sore nanti Artie," ucap Hermione lalu mengecup kepala anaknya.
-o0o-
Klinik pagi itu masih terbilang sepi, mengingat ia hanya memiliki satu pasien sampai siang nanti. Amanda, pasian pertamanya hari itu sudah duduk manis di ruang tunggu saat ia tiba.
"Pagi Dokter Granger," sapa Amanda.
"Pagi Amanda, ayo masuk." seru Hermione sambil membuka pintu ke ruang praktiknya.
Selepas wizarding war dan segala persidangan berlalu wanita ini mengambil jalan yang berbeda dengan kedua sahabatnya. Disaat Harry dan Ron berambisi untuk menjadi seorang Auror, wanita ini memilih untuk melanjutkan sekolahnya dan mengambil gelar di bidang Psikologi. Keinginan menjadi Hermione untuk menjadi psikolog muncul saat ia menyaksikan efek perang terhadap psikis murid-murid Hogwarts kala itu. Kini Hermione menjadi salah satu psikolog anak ternama yang menjadi langganan para penyihir di London.
Siang itu Hermione sudah membuat janji dengan kedua sahabatnya, The Golden Trio masih menyediakan waktu untuk saling bertukar cerita di tengah kesibukan masing-masing. Wanita itu datang lebih awal dan memesan segelas teh hangat. Selang beberapa waktu ia bisa melihat sosok kedua sahabatnya dari balik jendela, wanita itu menyambut kedatangan mereka dengan sumingrah.
"Mione!" pekik pria berkacamata itu seraya memeluk Hermione.
"Harry! Ron!"
"Selalu saja datang lebih awal," tukas Ron sambil menarik kursi.
"In time bukan on time."
"Iya bu guru," cibir Ron.
Sudah terlalu lama Hermione melewatkan hari tanpa bertemu dengan dua manusia ini, sejak ia harus mengurus anaknya sendiri ia sering menolak ajakan Harry dan Ron untuk sekedar minum teh bersama. Walau begitu sahabatnya tidak serta-merta mengasingkan wanita itu, mereka masih berusaha mencarikan waktu agar bisa kembali berkumpul seperti dahulu.
"Ngomong-ngomong Harry, kamu masih memiliki kontak Mrs. Wong?" tanya Hermione setelah menyisip tehnya.
"Mrs. Wong agen properti?"
"Yup."
"Kurasa Ginny masih menyimpan nya, ada urusan apa dengan Mrs. Wong?"
"Aku ingin menjual rumahku," mendengar kalimat ini Harry dan Ron saling bertukar pandang dalam diam.
"Kamu mau pindah?" tanya Ron.
"Rumah itu terlalu besar untuk dua orang," jawab Hermione simpel.
"Apa tidak sebaiknya menunggu dulu, mencari rumah seperti milikmu sekarang tidak mudah." Kata Harry.
"Terlalu banyak memori buruk di sana," akhirnya alasan utama terucap juga dari bibir wanita itu.
Rumah yang awalnya ia kira menjadi tempat berpulang dan melepas lelah kini sudah berubah menjadi sarang hantu, hantu dari masa lalu, kenangan buruk yang belum bisa ia lupakan. Itu bukan lagi rumah bagi Hermione, hanya seonggok bangunan tua.
"Aku akan menyuruh Ginny mengirimkan kontak Mrs. Wong padamu," walaupun tidak setuju dengan keinginan untuk menjual rumahnya, Harry bisa mengerti mengapa sahabatnya ingin cepat-cepat keluar dari rumah itu.
"Terima kasih Harry."
-o0o-
Setelah lima hari berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan, akhirnya pekan itu sampai juga dihari sabtu. Hermione bisa lebih leluasa menghabiskan waktu untuk bersantai dan mengurus anak lelakinya, anak semata wayang Hermione yang saat ini berusia 1 tahun 8 bulan. Arthur, atau biasa wanita itu panggil Artie, adalah satu-satunya alasan Hermione masih kuat menerjang kerasnya hidup menjadi orang tua tunggal.
Ting Tong
Hermione mendelik kaget mendengar bel rumahnya berbunyi, ia merasa tidak memesan makanan atau memiliki janji dengan siapapun. Wanita itu mengintip dari jendela di ruang tamu, ia tersenyum lega saat tau siapa yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ginny," seru Hermione saat membuka pintu.
"Siang Nona Granger," sapa wanita itu sambil merangkul Hermione.
"Kenapa tidak bilang mau berkunjung," ucap wanita berambut coklat itu merapihkan penampilan nya.
"Aku hanya kebetulan lewat," kata Ginny berusaha menghindari tatapan Hermione.
"Yakin?"
"Okay, okay. Harry bercerita tentang mu dan aku sedikit khawatir."
"Sudah kuduga, ayo masuk."
Ginny dan Hermione langsung menemukan posisi nyaman mereka di sofa ruang keluarga dengan segelas wine di tangan masing-masing. James, Albus dan Lily sedang berada di Burrow hari itu, Harry selalu memberikan waktu kosong untuk Ginny agar ia tidak stress karena harus mengurus tiga jagoan nya. Seorang Ibu juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.
"Ini kontak Mrs. Wong," kata Ginny sambil memberikan selembar kertas berisi nomor telepon. "Kamu yakin dengan hal ini?"
"Tentu saja, setiap memasuki rumah ini aku selalu teringat melihat suamiku bercinta dengan wanita lain di atas sofa," jelas Hermione dengan nada menghina.
"Membakar sofa saja tidak cukup, huh."
"Aku ingin memulai hidup yang baru," kata Hermione setelah menegak wine di gelasnya.
"Kamu sudah memberi tau ayah Arthur tentang ini?"
Hermione menggelengkan kepalanya.
"Masih perang dingin rupanya." gumam Ginny.
Terhitung sudah tujuh bulan sejak sidang perceraian Hermione selesai, sudah tujuh bulan juga wanita itu menolak untuk bertemu mantan suaminya. Ia memutus semua kontak dengannya, hakim juga mengabulkan permintaan Hermione, mantan suaminya tidak bisa bertemu dengan Arthur sebelum memenuhi semua kewajiban sebagai ayah.
"Tidak kah Arthur membutuhkan ayah?" tanya Ginny dengan hati-hati.
"Sebelum si brengsek itu berubah, aku tidak akan membiarkan ia mengasuh Artie." kata Hermione tegas.
"Cukup adil."
Ginny mengambil kedua gelas kosong di atas meja dan membawanya ke dapur, "Hei aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan sore di taman."
"Sekarang?"
"Iya," jawab wanita berambut merah itu. "Membersihkan pikiran ruwet mu itu."
"Oke baiklah."
Wanita berambut ikal itu mengganti pakaian nya dan mempersiapkan kebutuhan Arthur, sedang Ginny membantu menyiapkan stroller. Setelah siap kedua wanita ini saling berpegang tangan dan berapparate ke taman kota.
Hari itu langit London tidak menunjukkan warna abu-abu seperti biasanya, warna biru cerah mendominasi ruangan di atas sana. Ginny dan Hermione duduk di sebuah bangku sambil menikmati pemandangan hijau segar taman di lengkapi dengan semilir angin sore.
Ditengah hening nya taman, samar-samar terdengar melodi truck es krim yang tidak asing di telinga semua orang. Mereka langsung bertukar pandang seperti anak umur 6 tahun, Ginny langsung berdiri dan menghampiri truck es krim yang sedang berhenti tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Selagi menunggu kudapan manisnya, Hermione melempar pandangan ke langit-langit. Dengan perlahan ia memejamkan matanya, berusaha mencari ketenangan. Pikiran nya sedang kalut. Umur 32 tahun tapi sudah bercerai, kalimat itu yang ia ulang ulang di kepalanya. Seberapa banyak ia membaca buku tentang cara menjadi orang tua tunggal tetap saja hal itu luar biasa susah untuk di jalankan. Wanita mengambil nafas sekali lagi sebelum membuka matanya.
Hermione bisa melihat Arthur yang sedang berada dalam strollernya, anak lelakinya tertawa-tawa sendiri sambil menggigit mainan. Menggemaskan sekali.
"Ku harap aku cukup untukmu Artie."
Tingkah lucu Arthur mengalihkan fokus Hermione, ia tidak menyadari bahwa Ginny kembali bersama seseorang di belakang nya.
"Mione, ada seseorang yang ingin menemuimu." suara Ginny sangat pelan sampai hampir tak didengar oleh Hermione.
Mata wanita itu terbelalak saat ia mengadahkan kepalanya.
"Malfoy?"
/ To Be Continued /
If you like this story please let me know
