Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Two
l
"Malfoy?"
"Hai," sapa pria itu canggung.
"Ha- hai."
Draco Malfoy si Pangeran Slytherin. Entah kapan terakhir Hermione mendengar nama itu, pasti sudah lama sekali. Pria itu mengenakan sebuah kemeja abu-abu yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, rambut silvernya di tata rapih seperti biasa. Draco adalah teman lama saat masih bersekolah di Hogwarts, mungkin tidak bisa didefinisikan sebagi teman juga mengingat ia lebih sering merundung Hermione.
"Aku bertemu dengan nya saat membeli es krim," ujar Ginny. "Kurasa dia membutuhkan bantuan mu."
"Bantuanku?"
"Aku sedang mencari psikolog anak," ucap Draco, suaranya begitu halus. "Untuk anak ku."
Otak perempuan itu langsung bekerja, mencoba mencari informasi yang mungkin tenggelam di ingatan nya. Rena, iya namanya Rena, ia ingat pernah berpapasan dengan Astoria di Diagon Alley dan perempuan itu memperkenalkan putri kesayangan nya.
"Ya tentu saja aku bisa membantu mu," kata Hermione sambil mengeluaran planner nya dari dalam tas dan mengambil sebuah kartu nama yang ia sisipkan. "Ini nomor klinik ku, asistenku akan membuatkan appointment untukmu."
Setelah menerima kartu nama yang Hermione beri, tanpa banyak basa-basi Draco langsung berpamitan dan berlalu.
"Itu Draco Malfoy?" kata Hermione yang masih tidak percaya. "Ia terlihat sangat dewasa."
"Dia sudah dewasa Mione," saut Ginny.
"You know what I mean," lanjut Hermione.
"Dia banyak berubah. Setelah perang usai ia berusaha menebus kesalahan masa lalunya, kamu ingat saat ia tiba-tiba berkunjung ke Burrows dan meminta maaf pada kalian bertiga."
"Aku mengingatnya."
"Lagi pula sekarang ia sudah menjadi seorang ayah, tidak mungkin terus-terusan menjadi brengsek."
"Orang itu bisa," perempuan berambut coklay itu kembali menyindir mantan suaminya.
Tidak dalam seratus tahun Hermione mengira Draco Malfoy akan menjadi seorang ayah, mengingat bagaimana kelakuan makhluk itu saat di Hogwarts dulu. Draco menikahi Astoria saat usianya masih cukup muda, 22 tahun, setelahnya mereka dikaruniai seorang anak perempuan nan rupawan. Draco dan Astoria menikah selama 9 tahun sebelum istrinya harus lebih dulu berpulang ke pangkuan sang pencipta.
"Sudah satu tahun ya sejak kepergian Astoria," gumam Hermione.
"Pasti berat untuk anaknya," timpal Ginny. "Dia masih sangat kecil."
"Berapa umurnya sekarang?"
"8 atau 9 seingatku, ia lebih muda dari James."
"I hope everything's ok."
-o0o-
Ini hari yang melelahkan untuk perempuan berambut coklat itu. Bukan seperti hari biasanya hari ini ia harus mengisi seminar dari pagi hingga sore, ia hanya mendapatkan setengah jam coffee break dan melewatkan istirahat makan siang. Setelah menjemput Arthur dari rumah orang tuanya hal ia inginkan hanyalah berendam di air hangat dan tidur hingga pagi.
Ditengah mengurus Arthur dan pekerjaannya, Hermione tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus rumahnya. Sebagai seorang perfeksionis, rumah yang tidak 100% rapih selalu membayangi pikirannya bagai Dementor. Dengan bantuan sihir sekalipun perempuan itu merasa rumahnya tidak benar-benar rapih, setidaknya menurut standar Hermione Granger.
Walaupun badannya sudah kepayahan perempuan itu tetap ingin membenahi lemari pakaian Arthur, mengeluarkan beberapa bajunya yang sudah tidak lagi cukup. Dengan sekali ayunan tongkat Hermione mengeluarkan seluruh pakaian yang berada di lemari lalu memilih mana saja yang ingin ia simpan. Di antara pakaian Arthur yang beterbangan mata perempuan itu menangkap sebuah kemeja yang terlalu besar untuk anaknya pakai. Tentu saja itu bukan milik Arthur, itu milik mantan suaminya.
Hermione tidak mampu menahan keinginan otaknya untuk membayangkan manusia itu dalam balutan kemeja tersebut. Demi jenggot merlin ini hanya seonggok kain lusuh berhenti bersikap lemah seperti ini, perempuan itu marah pada dirinya sendiri karena membiarkan lelaki brengsek itu menguasai pikirannya lagi. Alih-alih menghadapi ini seperti orang dewasa dan pergi tidur, ia memilih untuk terisak di depan perapian dan menegak segelas penuh wine sambil menyaksikan kemeja mantan suaminya terbakar menjadi abu.
"Dia juga anak ku Mione! Hanya karena kamu membenci ku, bukan berarti kamu bisa menjauhkan Arthur dariku."
"Hak asuh Arthur jatuh padaku! Sekarang pergi dari rumah ini."
"Ya baiklah, menghindari masalah daripada menghadapinya. Real mature Granger!"
Ah ingatan tentang hari itu menyapa lagi, itu percakapan terakhir mereka sebelum perempuan ini memotong semua komunikasi dengan mantan suaminya. Ini hal yang ia sesali sampai hari ini, kepalanya terlalu dipenuhi dengan kebencian sampai tidak berpikir jernih. Arthur tidak kehilangan seorang ayah, Hermione lah yang kehilangan suami.
-o0o-
"Ellen, bisa tolong kabarkan pasienku aku akan terlambat." Ucap Hermione sambil berusaha menenangkan Arthur yang tidak berhenti menangis. "Ibu sedang sakit dan aku belum menemukan pengasuh untuk Arthur, sepertinya aku harus membawanya ke klinik."
"Baik dokter Granger, aku akan mencarikan ruang kosong untuk Arthur." jawab Ellen, asisitennya, dengan cekatan.
"Terimakasih Ellen."
Pagi ini Arthur tidak mau berhenti menangis, apapun yang Hermione lakukan ia tetap mengamuk. Bisa bayangankan betapa susahnya memandikan seorang bayi terus memekik dan menendang-nendang, ditambah lagi Mrs. Granger terserang flu dan tidak bisa menjaga Arthur hari itu. Ia terpaksa membawa Arthur ke klinik.
Hermione hanya bersiap seadanya, ia bahkan tidak sempat merias wajah sebelum berangkat kerja. Ia sudah mendengar tangis Arthur selama 3 jam dan ia punya pasien menunggu. Skenario terburuk ia harus meminta pasien nya untuk menjadwal ulang pertemuan mereka.
Sesampainya di klinik Hermione langsung bergegas mencari Ellen, ia suda terlambat setengah jam.
"Pagi yang buruk?"
"Malfoy, hai." Sapa Hermione saat melihat pria itu di ruang tunggunya, perempuan itu kewalahan dengan segala yang terjadi secara bersamaan.
"Sini biar ku bantu," sebelum sempat menjawab Draco sudah mengambil alih Arthur.
Pria itu mulai menimang tubuh kecil Arthur, membiarkan tangan Hermione terbebas untuk melakukan hal lain. Tanpa di sangka dalam pelukan Draco sayup-sayup Arthur mulai tenang dan memejamkan matanya.
"Bagaimana kamu melakukan itu?" bisik Hermione tidak ingin membangunkan Arthur.
"He's a baby whisperer," tiba-tiba seorang anak perempuan berambut silver muncul dari balik badan Draco.
"Granger, perkenalkan ini Verena Malfoy, putri ku."
"Kamu bisa memanggilku Rena," ucapnya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Hermione menekuk lutut agar tingginya sejajar dengan anak di depannya, "Hai Rena, aku Hermione Granger, kamu bisa memanggilku Dokter Granger."
"Apa kamu akan memeriksa kesehatan ku seperti Bibi Daphne," ucap gadis itu. "Aku cukup sehat, aku menghabiskan sayurku."
"Tidak ada stetoskop hari ini, kita hanya akan berbincang mungkin melakukan aktivitas lain jika kamu mau."
Rena menganggukan kepalanya tanda setuju, senyumnya mengembang lebar.
"Kamu bisa masuk ruangan itu lebih dahulu," lanjut Hermione. "Aku akan menyusulmu."
Setelah memastika Rena berada di dalam ruang praktik dengan nyaman, Hermione menghampiri kembali Draco yang masih setia menggendong Arthur.
"Maaf sampai harus melakukan ini, aku akan menidurkan Arthur di ruangan lain." kata Hermione.
"Aku bisa menjaganya, jujur saja aku rindu mencium aroma bayi." Jawab Draco sambil mencium tengkuk kepala Arthur.
"Itu sangat membantu," ucap perempuan itu lega. "Biar kutunjukkan ruangan kosong untukmu dan Arthur."
Dengan terburu-buru perempuan itu membuka sebuah ruangan praktik kosong, di dalamnya terdapat sebuah sofa coklat besar dan meja kerja. Dengan sekali hempasan tongkat semua debu yang menempel pada furniture terbang ke udara.
"Semua yang kamu butuhkan ada di tas ini," Hermione menaruh tas biru di atas meja. "Tisu basah, popok, snack, maina—"
"Aku mengerti Granger, aku punya anak."
"Oke aku lupa," kata Hermione. "Selanjutnya tentang Rena, apa ada yang butuh aku ketahui?"
"Mother related."
Hermione menganggukan kepalanya. Setelah meyakinkan Arthur berada di tempat yang nyaman, perempuan itu segera menuju ruang praktiknya menyusul Rena.
"Terima kasih sudah menunggu," kata perempuan itu sambil duduk di sofa yang tersedia. "Biasanya aku tidak membawa anak saat bekerja."
"Tidak apa, aku jamin ia akan tertidur lelap di lengan ayah. Bayi keahlian nya."
"Bisa ku sewa dia menjadi pengasuh anakku? Arthur langsung berhenti menangis saat ia gendong."
Rena tertawa.
"Apa kamu suka menggambar? Aku punya buku gambar dan krayon disini jika kamu mau." Perempuan itu beranjak dari sofa dan menarik keluar sebuah kotak penuh dengan peralatan gambar.
Dengan mata berbinar gadis itu langsung meraih krayon dan mulai mengisi kertas putihnya dengan berbagai macam warna.
"Jadi, apa hobi mu Rena?" kata Hermione sambil membantu Rena mewarnai langit di gambarnya.
"Ballet!" serunya.
"Kamu tau ballet?"
"Tentu saja, dulu ibu sering mengajakku menonton pertunjukkan ballet di teater muggle." Jelas Rena. "Ayah juga membolehkan ku untuk ikut kelas ballet di dunia muggle."
"Ayahmu membolehkan nya?" Hermione mengrenyitkan dahi, seorang Draco Malfoy membiarkan anaknya dekat-dekat dengan muggle? Apa dia geger otak.
"Jika aku mulai merengek ayah akan mengabulkan keinginan ku." Yup, jelas sekali ini gen siapa.
"Kamu cukup dekat dengan ayahmu ya?"
Rena menaruh krayon yang sedang ia genggam, bisa terlihat ia mencoba menyembunyikan rasa gugup.
"Ayah jarang di rumah."
"Mengapa begitu?"
"Sibuk bekerja kurasa."
"Kamu ingin ayah lebih banyak menghabiskan waktu denganmu?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepala, "Tidak."
-o0o-
Di depan sebuah rumah kecil di ujung jalan terlihat seorang pria tengah menggandeng anak perempuan nya. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan bahagia karena ia dapat mengunjungi bibinya hari ini, rasa bahagia bisa didengar dari suara ketukan pintunya.
"Bibi Daphne!"
"Hai keponakan favorit ku," seru seorang perempuan berambut hitam saat membuka pintu rumahnya.
"Kamu tidak bisa punya ponakan favorit Daph," ucap Draco sambil melangkah masuk.
"Keponakan ku hanya Rena," kata Daphne lalu memeluk erat iparnya.
Daphne dan Draco merupakan teman satu angkatan saat di Hogwarts dulu, mereka juga masuk dalam asrama yang sama yaitu Slytherin. Anak sulung keluarga Greengrass itu tidak masuk dalam geng Slytherin Draco, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar cita-citanya menjadi seornag Healer.
Daphne itu cukup kaget saat adiknya pertama kali memperkenalkan Draco padanya, ia tidak mengira adiknya akan mengencani pangeran Slytherin itu.
"Jadi, di mana Eddie sekarang?" tanya Draco penuh harap.
Daphne melemparkan tatapan galak, "Dia agen rahasia, berhenti mempertanyakan misinya."
"Pantas dicoba," pria itu terkekeh.
Hari itu Draco dan Rena memiliki janji untuk makan malam bersama Daphne dan kedua anaknya. Setelah Astoria tiada Draco tidak ingin hubungan antara keluarga Malfoy dan Grenngrass renggang, pria itu selalu mengusahakan untuk bertemu iparnya.
Daphne menyajikan secangkir kopi untuk Draco sedangkan Rena sudah sibuk bermain di kamar sepupunya.
"Bagaimana di rumah sakit?" tanya Draco membuka pembicaraan.
"Melelahkan. Baru kemarin rotasi intern, mereka tidak bisa berhenti bertanya." keluh Daphne diikuti tawa Draco.
"Jadi bagaimana sesi pertama Rena dengan Psikolog?" Daphne melanjutkan kalimatnya.
"It went well, Granger bilang Rena cukup nyaman saat berbicara dengan nya. Tapi dia mengataka—"
"Granger? Hermione Granger? The Hermione Granger?" perempuan itu terperangah mendengar nama itu keluar dari mulut Draco.
"Iya, kenapa?" jawab iparnya polos.
"Kenapa," Daphne mengulang kalimat Draco dengan nada mengolok. "Kamu membencinya!"
"Koreksi, Draco Malfoy umur 15 tahunlah yang membencinya. Dia meninju hidung ku sampai berdarah di tahun ketiga." Draco memberi pembelaan. "Tapi itu semua sudah lewat sekarang, aku sudah dewasa dan itu bukan lagi masalah."
Perempuan berambut hitam itu menatap Draco dengan aneh, ia mengingat jelas bagaimana pria yang sedang duduk di depan nya ini selalu merundung Hermione dan dua sahabatnya saat di Hogwarts dulu. Ya walaupun Draco sudah berubah, tetap saja hubungan mereka belum bisa dibilang baik. Bagaimana ia bisa dengan mudahnya mempercayakan mantan musuhnya untuk Rena.
"Oke oke, aku tau kamu sudah berubah. Tapi tetap sulit di percaya kamu mau berkonsultasi pada Granger dengan semua teori darah murni yang di tanam oleh ayahmu." Kata Daphne.
"Kamu tau itu ulah siapa," jawab Draco mengembangkan senyumnya.
Siapa lagi kalau bukan istri tercintanya Astoria Greengrass. Meskipun lahir dari keluarga yang mendukung supermasi darah murni kakak beradik Greengrass ini tidak mengikuti jejak orang tuanya, tertutama Astoria. Perempuan itu merasa semua keluarga memiliki kasta yang sama dan tidak mengucilkan kelahiran muggle. Inilah yang membuat Draco berpikir ulang tentang pandangan nya terhadap hirarki darah murni.
Kakak iparnya menyunggingkan senyum di sudut bibir, "Jadi apa yang Granger katakan tentang Rena."
"Granger menyarankan aku menyisihkan waktu lebih banyak untuk Rena."
Daphne mengangguk tanpa berkomentar.
"Ia tidak mengatakan apapun tentang Astoria, kurasa Rena berusaha menyembunyikan tentang ibunya."
Tidak, bukan Rena yang menyembunyikan fakta menyakitkan itu. Draco lah yang membutuhkan bantuan untuk mau membahas tentang kepergian istrinya, ini sudah hampir setahun sejak ia menduda dan ia bersikap seolah istrinya masih dirumah menunggu ia pulang.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku baik-baik saja," jawab Draco mengelak.
Setelah makan malam Rena tertidur pulas di atas sofa, sepertinya ia kelelahan bermain rumah boneka dengan sepupunya. Jam di dinding menunjuk kan sudah saatnya untuk pulang namun Draco tidak tega membangunkannya, ia menggendong badan mungil putrinya dan berpamitan kepada Daphne.
"Ngomong-ngomong rekanku di rumah sakit minta dikenalkan denganmu," ucap Daphne sambil menemani mereka berjalan ke Floo.
"Apakah dia tau aku duda dengan anak?" sindir Draco
"Kurasa sudah waktunya kamu berkencan lagi, you need someone."
"Daph, aku punya Rena, itu sudah cukup." Ucapnya lalu hilang diantara bara api.
Setelah kembali ke rumahnya Draco mengganti pakaian putrinya dengan piyama merah muda dan menidurkannya di ranjang. Ia berlutut di samping ranjang Rena, melihat wajah damai gadis itu dengan rambut silvernya yang tergerai indah.
"Aku ingin anak kita punya rambut mu." ucap seorang perempuan sambil mengelus rambut suaminya
"Rambut silver ini?"
"Iya, bayangkan seorang gadis kecil dengan rambut silver itu terurai." Perempuan itu memimik model shampoo seperti di koran. "Indah sekali pasti."
"Iya baiklah rambut silver. Sekarang kamu harus beristirahat, jangan terlalu banyak mengunjungi toko baju anak. Dengan keadaan kesehatan mu dan kehamilan ini kamu lebih rentan dari batang pohon."
"Oh halo Mr. Paranoid."
"Aku tidak paranoid," tukas pria itu kesal.
"Draco, healer bilang adalah sebuah keajaiban orang dengan kutukan darah sepertiku bisa hamil." Perempuan itu meraih telapak suaminya dan menaruhnya di atas perut. "Kamu bisa merasakan detak jantung itu? Itu adalah keajaiban yang kamu ciptakan."
Pria itu tertegun merasakan sebuah getaran di telapaknya, rasanya seperti ada sebuah jiwa di sebrang sana menjabat tangannya.
"Jadi, sekarang biarkan aku merayakan nya dengan membeli banyak pakaian untuk si ajaib ini."
Draco menatap bulan yang belum menyempurnakan lingkarnya dari jendela kamar, ia terduduk lemas di samping ranjang. Tangan nya bergetar hebat, rasanya sepi sekali disini. Disaat badannya sudah tidak mampu menahan luapan air mata, suara dengkur Rena memecah isi pikiran nya yang kalut. Semua kesedihan seakan menghilang bersama angin.
Pria itu mengambil sebuah nafas panjang sebelum bangun dari duduknya, seperti yang ia katakan pada Daphne, ia punya Rena dan itu cukup. Draco mengecup dahi gadis itu sebelum berjalan keluar dan menutup pintu kamar.
"Terima kasih sudah memberiku si ajaib ini."
/ To Be Continued /
cepet juga ya nulisnya hehe, walopun keburu-buru semoga ada suka sama chapter ini
Btw, any feedback would be nice
