Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Three
l
Harum kopi yang baru saja digiling tercium dari balik meja bar, suara pemanas susu dan blender bersaut-sautan menghiasi café sore itu. Seorang perempuan bermata coklat madu menatap layar laptop dengan seksama, membaca setiap kata yang terdapat dalam emailnya. Dalam sehari perempuan itu bisa mendapatkan ratusan email dari followers di sosial media, mereka berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari dengannya.
Punggung nya mulai terasa keras, ia sudah duduk di café itu selama dua jam, menikmati latte kesukaannya sambil menunggu malam datang. Hermione sengaja mengosongkan jadwalnya sore itu karena ingin bersantai sejenak membaca email dari penggemarnya dan menyelesaikan buku yang sedang ia tulis.
Tiba-tiba badan perempuan itu mematung kaku, matanya mendapati seseorang baru saja memasuki café. Nafasnya mulai memendek, dengan asal Hermione membereskan barang bawaan nya dan mengendap kabur, berharap manusia itu tidak menemukan nya. Setelah berhasil menyelinap keluar dari café perempuan itu menghembuskan nafas lega, merasa sudah menghindari bencana besar.
Namun perkiraan Hermione salah, pria yang ia hindari sekilas melihat wajah perempuan itu dari dalam café dan langsung mengejarnya keluar bangunan. Hermione mempercepat langkahnya, mengabaikan seruan dari pria tersebut, ia berusaha menyembunyikan badannya diantara ramai orang berlalu-lalang. Rasanya ingin segera berapparate namun ia dikelilingi oleh mugle, ia bisa mendapatkan sanksi besar jika melakukannya.
Di belokan gang sepi sebuah tangan muncul menarik Hermione dan dalam sekejap memindahkan lokasi mereka. Kini ia sudah berada di dalam Cal's, sebuah bar yang berada tidak jauh dari Diagon Alley.
"Zabini," Hermione terkesiap melihat orang yang menyelamatkannya.
"Disini cukup aman?" tanya Blaise sambil meluruskan lengan kemejanya.
Blaise Zabini, teman satu angkatan nya di Hogwarts. Pria ini masuk dalam geng Slytherin Malfoy dan selalu menjadi musuh bebuyutan Trio Gryffindor.
"Terima kasih banyak, aku berhutang padamu." Ucap perempuan itu yang masih mencoba melambatkan detak jantung nya.
"Kamu masih menghindari nya?"
Hermione tidak menjawab pertanyaan Blaise.
"Dia sempat menyewa apartemen ku setelah kalian berpisah, jadi aku tau satu dua hal." lanjut Blaise.
Perempuan itu hanya mengangguk, tidak sedikitpun ia ingin membicarakan tentang ini. Hermione membetulkan posisi tasnya dan memindai keadaan ruangan. Bar itu cukup sepi, hanya terlihat beberapa grup kecil yang sedang menikmati minuman mereka.
"Aku belum pernah kesini sebelumnya," kata Hermione sambil menggelung rambutnya.
"Ini tempat favorit ku, walaupun harga minuman lebih mahal namun tidak terlalu ramai." kata Blaise. "Ngomong-ngomong kamu tidak harus tinggal, kamu bisa berapparate pulang dengan aman dari sini."
Perempuan itu menggeleng, "Kurasa aku butuh alkohol."
Mereka berdua duduk di bar dengan dua gelas alkohol di depannya. Blaise adalah salah satu Slytherin yang masih berhubungan baik dengan nya, ia adalah teman masa kecil mantan suami Hermione.
"Kapan kamu terakhir bertemu dengan nya?" tanya perempuan itu sambil memainkan serbet gugup.
"Ku kira kamu tidak ingin berbicara tentang dia," jawab Blaise.
"Hanya bertanya."
Tanpa melepaskan tatapan pada botol-botol minuman di depan, Blaise menaruh gelas Scotchnya, "You should talk to him."
"Aku belum siap," jawab Hermione singkat.
"Kapan kamu akan siap?"
Perempuan itu menunduk melihat refleksi wajahnya dari cairan alkohol, "Ku harap aku tau."
Tidak ada balasan, mereka hanya duduk dalam diam sambil menegak minuman masing-masing. Hermione tau Blaise akan membela teman masa kecilnya, apapun yang perempuan itu katakan bisa menjadi senjata untuk menyerang nya balik.
"Take your time," Hermione hampir tersedak mendengar kalimat ini, ia mengira Blaise akan marah padanya karena bersikap egois.
"Bicaralah padanya saat kamu siap," lanjut pria itu.
"Kamu tidak membelanya?"
"Dia yang salah, aku tidak akan membelanya," ujar Blaise yang dibalas dengan senyum lega Hermione.
Setelah itu keadaan mencair diantara mereka, percakapan mulai mengalir dengan nyaman. Perempuan itu memesan lebih banyak alkohol untuk mereka konsumsi, mungkin terlalu banyak untuk dua orang.
"Maaf aku terlambat," mendadak seorang pria berambut silver sudah berdiri disamping Blaise tanpa mereka sadari.
"Hai Malfoy!" seru Hermione dengan girang, saat ini ia sudah menegak banyak alkohol akalnya mulai mengabur.
"Oh Malfoy disini!" ucap Blaise sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Kamu pernah memukul dia sampai mimisan."
Kedua manusia itu langsung tertawa tidak terkontrol, jelas sekali mereka sudah mabuk. Draco memberikan kode pada bartender untuk menjauhkan gelas dari mereka berdua.
"Ini belum jam 8 dan kalian sudah mabuk," kata Draco bergurau sambil menaruh jaketnya di atas meja.
"Ini sudah jam 8? Aku harus segera pulang." seru Hermione dengan panik, ia langsung meraih tasnya dan berapparate dengan cepat, namun sedetik kemudian ia muncul di balik meja bar. Dengan keadaan semabuk ini sulit untuk memfokuskan tujuan untuk berapparate.
"Aku akan mengantarmu pulang," kata Draco sambil menarik paksa Hermione agar mau keluar dari belakang bar. "Alamat rumahmu?"
"Rumah ku? Oh rumah itu? Aku menemukan suami ku bercinta dengan orang lain di rumah itu. Tentu saja aku ingat alamatnya." Perempuan itu mengoceh dengan cepat.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah Potter." kata Draco sambil mengenakan jaketnya.
"Tunggu-tunggu."
Tiba-tiba Hermione terdiam dan menatap mata pria didepan nya dengan serius, wajah mereka hanya berjarak kurang dari 15 centi. Draco bisa melihat warna mata Hermione dengan jelas, untuk sesaat pria itu tenggelam dalam mata coklat madu didepannya. Hermione ia menarik nafas panjang lalu..
HOEK.
-o0o-
"Pagi," ucap Harry yang duduk di kursi depan kasurnya, nada suaranya sangat tegas bagai seorang ayah yang akan memarahi anaknya.
Kepala perempuan itu terasa berputar-putar saat cahaya terbias ke matanya, ia berusaha mendudukan badan di kasur. Ada seribu pertanyaan bagaimana ia bisa sampai di kasurnya tanpa cedera, jujur Hermione tidak banyak mengingat tentang tadi malam.
"Minum?" seperti bisa membaca pikiran perempuan itu Harry memberinya segelas air.
"Ugh, kepalaku pening sekali." Hermione berbisik berusaha memelankan suaranya.
"Apa yang kamu pikirkan Mione!" bentak pria itu, mendengar suara keras membuat kepala Hermione makin pusing.
"Tolong kecilkan suaramu."
"Malfoy mengantarkan mu ke rumahku dalam keadaan mabuk, dia bilang kamu bahkan sudah mabuk saat dia sampai dan tidak tau keseluruhan apa yang terjadi." Kata Harry menghakimi. "Mabuk dan menelantarkan Arthur? This is not you."
"Oh tidak, Arthur!" seru Hermione panik, ia tidak ingat menjemput anaknya dari rumah orang tuanya semalam.
"Tenang saja Ginny menjemputnya tadi malam, ia bilang pada ibumu kalau kamu ada meeting dengan publisher jadi tidak bisa menjemput."
"Syukurlah," ucapnya lega.
"Kamu seharusnya tidak minum, kamu masih menyusui." kata Harry sambil berdiri dari duduknya.
"Sudah dua bulan ini ASI ku tidak keluar karena stress, jadi kurasa aku sudah bisa minum alkohol."
Sahabatnya duduk di pinggir kasur dan menepuk-nepuk kakinya, "Lain kali hubungi aku atau Ron jika kamu ingin mabuk seperti ini."
"Kamu marah karena aku minum bersama orang lain?" Hermione menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja! Kamu minum dengan Zabini? Zabini? Apa susahnya menelfon ku?"
Hermione berusaha menahan tawa karena perutnya mual dan bisa-bisa ia muntah. Melihat teman nya kepayahan melawan hangover, Harry mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairah hijau di dalamnya. Ia menyuruh Hermione menegak habis cairan berbau asam itu. Perempuan itu mengrenyitkan mata saat ramuan itu menyentuh lidahnya, asam sekali. Namun setelahnya rasa pusing dan mual Hermione mulai berkurang.
"Jadi kamu menungguku bangun untuk menceramahi ku?"
"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini." Jawab Harry sambil berjalan keluar kamar. "Mandilah, Ginny sudah mebuatkan sarapan."
Kepalanya sudah terasa lebih ringan dari pada saat bangun tadi, ramuan yang Harry berikan manjur mengobati hangover nya. Ia berjalan ke kamar mandi dan melihat refleksinya di cermin, ia benar-benar berantakan. Rambut nya sudah riap-riap tak teratur dan ia masih menggunakan kemeja yang ia pakai kemarin.
Ah kemarin, ingatan tentang kemarin malam terasa kabur dalam otaknya. Hal yang terakhir ia ingat hanya meneriakan sumpah serapah pada mantan suaminya dengan suara sorak Blaise di belakang. Ia bahkan tidak mengingat kedatang Draco dan mengapa ia mengantarkan dirinya ke rumah Harry.
Setelah mandi badan perempuan itu terasa lebih segar, ia sudah sepenuhnya sadar tanpa sedikitpun rasa pusing. Hermione keluar dari kamarnya dan mencium aroma daging asap dari arah dapur, ia bisa melihat ketiga anak Harry dan Ginny ditambah Arthur riuh mengoceh sendiri-sendiri.
"Sudah lupa aku rasanya ada yang membuatkan ku sarapan," kata perempuan itu sambil duduk di meja makan.
"Aku mau disuapi bibi Mione!" seru Lily sambil memanjat ke pangkuan Hermione.
"Dengan senang hati," ucapnya lalu menyedok makanan di piring Lily.
"Ngomong-ngomong Harry, apakah Malfoy bercerita sesuatu saat mengantarkan ku?" tanya Hermione.
"Dia tidak bilang banyak, hanya kamu minum dengan Zabini dan muntah di jaketnya."
"Astaga, aku memuntahinya?" pekik perempuan itu sambil menepuk dahinya. "Pasti dia akan mencari psikolog baru untuk Rena setelah kejadian ini."
-o0o-
Sambil melihat bayangannya di cermin Draco merapihkan rambut silvernya, lalu mengancing lengan kemeja hitam yang ia kenakan. Penampilan nya sudah rapih, sedari kecil ibunya selalu menyuruh untuk tampil rapih dan formal. Jarang sekali ia menggunakan pakaian kasual seperti jumper dan jeans, bisa-bisa Narcissa berteriak ngeri melihat anak lelakinya memakai pakaian seperti itu.
Draco keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, berencana untuk membuatkan anaknya setumpuk pancake hangat. Namun ternyata ia kalah cepat, putrinya sudah terlebih dahulu duduk di ruang makan sambil mengigit roti panggang dengan buku di tangannya.
"Padahal ayah ingin membuatkan sarapan mu," kata Draco lalu mencium ubun-ubun gadis itu.
"Aku bisa membuat sarapan sendiri," balas Rena, matanya melekat erat di buku yang sedang ia baca.
Dengan ayunan tongkat Draco mengisi cangkirnya dengan kopi dan menerbangkan susu dari lemari es. Sambil menyisip minuman hangat pria itu memperhatikan gerak-gerik Rena. Anak ini selalu satu langkah di depan nya, setiap Draco ingin melakukan sesuatu untuknya dia pasti sudah melakukan nya lebih dulu. Rena terbilang sangat mandiri untuk umurnya, dia tidak lagi harus dipaksa bangun saat pagi. Tapi Draco juga tidak bisa mengeluhkan ini, siapa yang tidak ingin punya anak mandiri? Ia hanya ingin merasa dibutuhkan barang sesekali.
"Jam 9 kita berangkat ke klinik ya," kata Draco.
Putrinya hanya mengangguk, ia terlalu sibuk membaca untuk membalas perkataan ayahnya.
"Kamu suka buku itu?" tanya Draco masih mencoba membuka pembicaraan.
"Yup," jawab Rena pendek.
Tau anaknya tidak ingin diajak berbicara pria itu mengambil koran untuk menemani kopi paginya.
Saat waktunya untuk berangkat tanpa disuruh Rena sudah siap menunggu ayahnya dengan rapih di ruang tamu. Draco menggandeng tangan mungil putrinya dan dalam hitungan detik mereka sudah berpindah tempat.
Dengan riang Rena membuka pintu klinik dan menyapa Ellen, asisten Hermione, yang sedang duduk di meja resepsionis. Ada sedikit rasa iri di hati Draco saat melihat gadis itu mengoceh pada Ellen, dia tidak pernah secerewet ini di depan nya. Setelah Ellen mengisikan form pendaftaran, ia mengambil file Rena dan mengantar mereka ke ruang tunggu.
Pas sekali, saat mereka sampai Hermione keluar dari ruangan nya. Seakan melihat hantu wajah Hermione pucat pasi saat berpapasan dengan Draco di ruang tunggu, perempuan itu hanya tertegun berdiri di depan pintu ruang praktiknya.
"Hai Dokter Granger," sapa Rena yang mengembalikan fokus perempuan berambut coklat itu.
"Hai Rena, bagaimana kabar mu?" tanya Hermione, sesekali ia melirik pada ayah gadis itu.
"Baik," jawabnya sumingrah.
"Kamu masuk ke ruangan dahulu ya, aku mau berbicara dengan ayahmu sebentar."
Mata coklat Hermione memberi isyarat untuk mengikutinya dan menuntun Draco masuk ke sebuah ruang kosong, ia tidak ingin pasien lain mendengar percakapan ini.
"Aku mau minta maaf atas kejadian minggu lalu," ucap Hermione.
"Tidak apa, sudah lama aku tidak dimuntahi orang selain Rena." canda Pria berambut silver itu.
Hermione menutup wajah dengan kedua tangan nya, ia malu sekali atas perilaku nya. "Padahal kamu sudah membantuku dengan Arthur."
"Sungguh tidak apa Granger."
"Bagaimana jika aku mentraktir mu makan, restoran apapun yang kamu mau!" perempuan itu menyerukan idenya.
"Kamu yakin? Selera kuliner ku tinggi loh," Draco memicingkan matanya.
"Tenang saja," balas perempuan itu percaya diri. "Aku tinggal menaikkan biaya konseling anakmu."
Mereka berdua tertawa.
"Baiklah, bagaimana kalau Sushi Tetsu kamis siang?"
"Ayolah, aku sanggup lebih mahal dari itu."
"Sushi saja cukup," ucap Draco setelah tertawa kecil.
"Baiklah, Sushi Tetsu kamis siang."
-o0o-
"Irrashaimase!" Seru para pelayan serempak, ini adalah efek kejut yang selalu didapatkan saat memasuki restoran jepang.
Hanya tersisa beberapa bangku kosong di dalam restoran kecil ini, dengan sopan seorang pelayan mengantarkan Hermione pada salah satu meja di dekat jendela. Setelah memberikan nya menu pelayan itu kembali mengerjakan hal lain. Berbeda dengan restoran jepang milik muggle, piring-piring berisi sushi terbang mengelilingi meja layaknya conveyor belt
Baru saja perempuan itu mengeluarkan ponsel untuk mengabari Draco, pria itu sudah muncul terlebih dahulu di ambang pintu restoran. Hermione melambaikan tangan nya agar bisa dilihat pria itu.
"Sudah lama?" tanya Draco basa-basi.
"Baru saja sampai."
Setelah Draco duduk mereka menelusuri buku menu bersama, Hermione memesan ocha hangat dan California roll sedang Draco memesan lemon tea dan crunchy lobster roll. Mereka juga memesan salmon sashimi untuk berbagi.
"Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian minggu lalu," ucap Hermione sambil mencuci tangannya dengan hand sanitizer.
"Berhenti meminta maaf," seru Draco pelan.
"Oke, oke, maaf. Eh bukan maaf, maaf." Kata perempuan itu kikuk diikuti Draco yang terkekeh.
"Kamu tidak berubah ya."
"Dan kamu sangat berubah," balas Hermione tidak mau kalah.
"Kurasa semua orang berubah setelah melewati quarter-life crisis."
"Jangan lupa kita punya 1/8-life crisis, perang Hogwarts."
"Ugh, benar. Aku masih ingin menangis jika mengingat hari-hari kelam itu."
Mereka berdua menghembuskan nafas lesu secara bersamaan.
"Tapi itu semua sudah berakhir sekarang," kata Hermione lalu menegak minuman nya.
"Yap, sekarang kita hanya orang tua yang membosankan."
"Jujur saja ada hari dimana aku merasa perang Hogwarts lebih mudah daripada membesarkan anak ku."
"Tell me about it, semakin hari aku semakin merasa tidak memenuhi syarat untuk menjadi ayah."
Sejenak obrolan mereka terpotong karena pelayang menaruh pesanan di meja. Hermione menuangkan kecap asin pada cawan nya dan Draco.
"Ngomong-ngomong aku penasaran," ucap pria itu sambil mengeluarkan sumpit dari bungkusnya.
"Tentang?"
"Bagaimana kamu bisa sampai menikahi orang itu," ucapnya serasa tanpa dosa. "Kupikir kamu mengencani Weasley."
Hermione hampir tersedak tahu-tahu mendapatkan pertanyaan seperti itu, belum ada yang berani menanyakan hal itu padanya. Perempuan itu mencoba mengatur nafasnya sebelum menjawab.
"Saat itu aku terlalu menikmati karir hingga lupa bahwa umurku sudah 28 dan belum memiliki pacar, lalu seperti takdir aku dipertemukan lagi dengan nya. Kami memiliki banyak kesamaan dan dia membuatku merasa aman, jadi kami memutuskan untuk menikah." Jelas Hermione. "Kesalahan besar."
"Jangan lihat itu sebagai kesalahan," ucap Draco setelah menelan sashimi dalam mulutnya.
"Apa kamu gila? Jelas aku mengambil keputusan yang salah."
"Tapi kamu menemukan cinta sejatimu."
"Cinta sejati? Yang benar saja. Mungkin dendam kesumat lebih cocok."
Draco terkekeh, "Bukan si bodoh, tapi Arthur."
Mata coklat madu itu tertegun untuk beberapa saat.
"Terlepas siapa ayahnya, kamu pasti mencintai Arthur lebih dari apapun. Dan itu adalah hasil dari kamu memilih orang itu, tanpa spermanya tidak akan ada Arthur."
"Oke itu poin bagus, tapi tolong jangan mengatakan sperma saat sedang makan." Kata Hermione berusaha menahan rasa geli.
"Sperma."
"Aku akan meninju mu lagi."
/ To Be Continued /
Pace ceritanya terlalu lambat nggak sih? Still building up enough back story to go on. Mau nulis romance uwu uwu tapi takut kecepetan. Anywaaaaaaaaaaaaaay semoga ada yang suka yah.
