Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Four
l
Bzzzt bzzzt
Hermione dapat merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku, ia sengaja menyalakan mode silent karena tidak ingin mengganggu sesi konseling dengan pasien. Sebelum panggilan berakhir perempuan itu sempat menganggkat nya.
"Halo," kata Hermione.
"Hai, ini Malfoy." Ucap orang di ujung telepon.
"Oh ya, ada apa?"
"Tentang toko kue yang kamu ceritakan kemarin, sebelah mananya stasiun ya?"
"Satu blok dari arah kedatangan belok kanan, tempatnya ada di pojok sebelum pertigaan," jelas perempuan itu, tangan nya ikut bergerak memberikan arah.
"Tunggu, ayah sedang—"
"Hai Dokter Granger!" tiba-tiba suara melekik Rena sudah menggantikan ayahnya.
"Hai Rena," balas Hermione.
"Ayah bilang kita tersesat," ucapnya yang disauti 'Tidak tersesat' oleh Draco dibelakang.
"Satu blok setelah stasiun dari arah kedatangan belok kanan, tempatnya ada di pojok sebelum pertigaan." Hermione mengulang penjelasan nya lagi pada gadis itu.
"Siap mengerti."
"Kalau kesasar telepon aku lagi ya."
"Oke, dadaaah!" seru Rena sambil menutup telepon.
Sebuah senyum simpul terlukis di bibir perempuan itu, lucu sekali tingkah gadis berambut silver itu. Setelah memasukan lagi ponselnya ke saku Hermione kembali menyendokkan makan siang nya ke dalam mulut.
"Rena ya?" tanya Ellen yang sedang makan siang bersama Hermione di ruang istirahat.
Perempuan itu menjawab asisten nya dengan anggukan, mulutnya sudah terlanjur mengunyah makanan.
"Ku harap dia bisa lebih sering kesini," kata Ellen di sela-sela meneguk kopinya.
Mendengar kalimat itu Hermione mengangkat sebelah alisnya bingung, "Kenapa?"
"Agar akau bisa bertemu Mr. Malfoy."
"Ada apa dengan dia?"
"Ada apa?" ulang Ellen. "Dia tampan sekali dok."
"Dan dia lajang!" tiba-tiba Gill, kolega sesama psikolog di klinik, menyambar obrolan mereka.
"Hush, ingat suami dirumah." ucap perempuan berambut coklat itu.
"Kalau suami ku setampan dia aku akan mengingatnya terus," ujar Gill bergurau diikuti tawa Hermione dan Ellen.
"Kalian dulu satu angkatan kan?" lanjut Gill sambil menaruh gelas teh dan ikut duduk di meja mereka.
"Iya, tapi kami tidak dekat," musuh malah.
"Dulu Malfoy masuk 5 besar pemain Quiditch tertampan di Hogwarts, setelah Cedric dan Harry tentunya." Ucap Gill.
"Harry tampan? Sejak kapan." Hermione dengan gampang meremehkan sahabatnya.
Gill dan Ellen saling bertukar pandang, bagaimana bisa perempuan ini menghabiskan waktu sebanyak itu bersama seorang Harry Potter dan tidak menyadari ketampanan nya.
"Tipe laki-laki mu aneh sekali," cibir Ellen.
"Tipe ku tukang selingkuh sepertinya," Gill langsung tersedak tehnya mendengar Hermione berkata seperti ini.
"You still on that?" kata Gill sambil melap mulutnya dengan serbet, Hermione membalas dengan senyuman masam tidak ikhlas.
"Berkencan lah lagi berkenalan dengan laki-laki baru, jika tidak cocok setidaknya dapat makan malam gratis." Ellen mengerling.
Kata kencan sudah lama sekali hilang di jadwal Hermione. Bahkan saat ia masih menikah jarang sekali perempuan itu pergi sekedar makan malam di restoran mahal dengan suaminya. Apalagi sekarang ia adalah seorang ibu, setiap waktu luangnya sangat berharga sayang sekali digunakan untuk makan malam dengan orang asing.
"Siapa yang mau mengencani perempuan umur 32 tahun dengan bayi," kata Hermione sambil menutup kotak makanannya.
"Mr. Mlafoy!" seru Ellen. "Kalian kan sama-sama orang tua tunggal."
"Harry dan Ron bisa serangan jantung jika aku mengencani orang itu."
"Bukankah kamis kemarin kalian makan siang bersama," sindir Ellen.
"Astaga Ellen, itu makan siang balas budi." Kata Hermione dengan cepat, ia tidak mau orang lain salah sangka. "Sudahlah ayo kembali, kurasa sudah ada pasien baru di ruang tunggu."
-o0o-
Sesaat setelah Draco menginjakkan kaki kedalam bangunan putih di depannya ia dapat tercium aroma khas rumah sakit, bau disinfektan bercampur ramuan-ramuan obat. Ugh, bau ini mengingatkan nya pada hari-hari ia menemani Astoria saat dirawat, baunya terlalu familiar hingga Draco berusaha menahan nafasnya. Pria itu berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, melangkahkan kaki lebih cepat agar ia cepat sampai di kantin dan menghindari memori-memori lama.
Malam itu ia ada kencan. Ya, setelah berkali-kali di desak Daphne akhirnya Draco setuju akan pergi makan malam dengan salah satu teman nya. Dengan catatan hanya satu kali. Daphne sudah memberikan kontak perempuan itu, Hana Miyama, berambut hitam sebahu dengan kacamata tergantung di hidung, kulitnya putih pucat mengingat perempuan itu berketurunan Jepang. Hana bekerja sebagai Pediatrician di rumah sakit St. Mungo.
Karena Hana masih memiliki jadwal jaga hingga sore Draco setuju mau menjemputnya di rumah sakit. Walaupun sebenarnya tidak ingin kembali ke St. Mungo, pria itu memberanikan diri masuk ke bangunan yang ia anggap horror.
Hidung Draco sudah dapat mengendus aroma gurih makanan, tanda sudah semakin dekat dengan kantin. Sesampainya disana mata kelabunya memindai seisi ruangan, mencari kursi kosong yang bisa ia tempati. Betapa kagetnya ia saat tanpa sengaja menemukan sebuah rambut ikal coklat yang tengah duduk di pojok kantin. Matanya dapat melihat jelas seorang Hermione Granger sedang tertegun menatap jendela sambil menggenggam gelas kertas.
"Granger," sapanya pelan karena tidak ingin mengagetkan nya.
Perempuan itu pucat sekali, wajahnya seputih kertas. Hidung dan matanya memerah tanda ia habis menangis. Tangannya mencengkram erat gelas yang berisi teh hangat.
Kaget melihat keadaan nya Draco langsung duduk di hadapan Hermione, "Ada apa?"
Walaupun dalam keadaan kacau perempuan itu tetap mencoba tersenyum, Hermione menggigit bibirnya seakan tidak mampun mengutarakan isi pikiran nya.
"Arthur masuk PICU[1]," ucapnya lirih.
"Apa yang terjadi?"
"Sore tadi dia demam tinggi sekali dan sesak nafas, badan nya sangat lemas saat ku bawa kesini."
"Sudah ada diagnosisnya?"
"Healer bilang bisa jadi Pneumonia, tapi ia akan melihat hasil ronsen dahulu." Hermione menundukkan kepalanya. "Aku takut sekali."
Draco meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya, berharap bisa menenangkan gemetar hebat ditangannya. "Dia akan baik-baik saja, Arthur seorang jagoan."
Ping.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Hermione, suster jaga di PICU mengabarkan bahwa healer memanggilnya.
"Ingin ku temani?" tanya Draco saat Hermione hendak berdiri.
"It would be nice," jawab perempuan itu.
Di ruangan periksa PICU seorang healer laki-laki paruh baya menaruh hasil ronsen Arthur untuk dilihat, dengan pulpen ia menunjukkan kejanggalan pada paru-paru anaknya.
"Seperti dugaan, Pneumonia." Ucapnya. "Tapi tidak usah takut ini tidak parah, demamnya sudah mereda dan akan sembuh dalam dua tiga hari. Arthur sudah bisa keluar PICU dan pindah ke kamar rawat."
Perempuan itu menghembuskan nafas lemas, berharap ada suatu cara untuk memindahkan penyakit Arthur padanya. Draco menepuk bahu perempuan itu berusaha menenangkan.
"Saat ini Arthur sedang sensitif jadi saya sarankan untuk tetap ada yang menemaninya, mungkin kalian bisa bertukar jaga, ibu pada siang dan bapak pada malam." Lanjut Healer itu sambil menulis di filenya.
"Dia bukan suamiku," Hermione meluruskan.
Healer paruh baya itu mengangguk kikuk, ia mengira Hermione dan Draco adalah pasangan suami istri. Karena terlalu canggung Healer itu bergegas keluar ruangan memanggil seorang suster untuk memindahkan Arthur ke kamar rawat.
Arthur masih tertidur saat kasur yang ia tempati di dorong seorang suster keluar dari PICU, suster itu mengarahkan Arthur dan Hermione menuju kamar rawat di bangsal anak yang hanya berada satu tingkat diatas PICU. Draco masih tetap mengekor dibelakang Hermione, tidak tega meninggalkannya dalam kondisi ini.
"Malfoy," sebuah suara perempuan terdengar dari arah meja staff.
Draco dan Hermione reflek menengok secara bersamaan ke arah datangnya suara. Disana berdiri seorang perempuan dengan stetoskop mengalung di lehernya, Hana.
"Kupikir kamu menunggu di kantin," ucapnya sambil berjalan mendekati Draco.
Pria itu memberi isyarat akan menyusul pada Hermione dan berjalan ke arah Hana, "Aku menemani temanku, anaknya sedang sakit."
Hana berjinjit melihat siapa temannya dari balik bahu Draco, "Teman mu Hermione Granger?" ucapnya tak percaya.
"Umm, iya."
"Untung aku masih berjaga, ayo kesana aku mau memperkenalkan diri." Kata Hana yang langsung secepat kilat berjalan kearah kamar Arthur.
"Sore, aku Healer Hana," ucap Hana sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Aku Healer jaga hari ini, tapi akan digantikan Healer lain sebentar lagi."
"Aku Hermione dan itu Arthur anakku."
Hana memeriksa chart Arthur yang terselip di kasurnya, memastikan semuanya baik-baik saja lalu menaruh kembali map itu. Setelahnya Hana pamit dan keluar dari kamar rawat, Draco mengikutinya dibelakang.
"Astaga aku bertemu Hermione Granger!" seru perempuan itu bahagia. Hana merupakan salah satu penggemar The Golden Trio sejak di Hogwarts dulu, umur mereka terpisah 5 tahun jadi ia tidak sempat banyak berbicara dengan trio itu.
Draco berusaha menahan tawanya saat melihat kelakuan perempuan itu, kacamata Hana hampir lepas saking senangnya melompat-lompat.
"Aku pamit padanya sebentar lalu kita bisa pergi." kata pria berambut silver itu. Raut wajah Hana langsung berubah drastis, karena terlalu senang perempuan itu lupa ia punya janji kencan dengan Draco.
"Oh iya." Ucap Hana lalu berpikir. "Sepertinya kita batalkan saja makan malamnya."
"Kenapa?"
"Lebih baik kamu menemaninya, dia sudah bercerai pasti merasa kesepian dan ketakutan." Jelas Hana.
"Kamu tau segalanya tentang dia ya?" sindir Draco.
Hana berdehem kesal, "Tidak apa kan dibatalkan?"
"Tentu saja," jawab pria itu.
Hana masuk ke ruangan sekali lagi untuk berpamitan pada Hermione dan Draco lalu kembali menuju ruang staff.
"Kamu ada janji dengannya?" tanya Hermione sesaat setelah Hana pergi.
"Tidak," pria itu mengelak.
"Aku mendengar pembicaraanmu tadi," kata Hermione sambil terkekeh. "Aku harus berterimakasih padanya karena mau meminjamkan mu."
Draco tertawa, "Susah ya diperebutkan begini."
"Jangan besar kepala."
-o0o-
Seorang pria berambut merah berlajan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, ditangan nya ia memegang dua gelas kopi hangat. Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar rawat.
"Brought you coffee," kata Ron sambil menaruh gelas kertas diatas meja.
"Terima kasih," ucap Hermione yang sedang sibuk membereskan barang-barang di kamar.
Hari ini Arthur sudah diperbolehkan pulang setelah 4 hari rawat inap di rumah sakit. Keadaan nya sudah stabil dan hanya butuh istirahat kedepannya. Arthur sudah lincah lagi seperti biasanya, berlari-larian berkeliling kamar.
"Jadi kapan kamu akan mulai bekerja?" tanya Ron.
"Dua hari lagi mungkin, aku masih tidak ingin meninggalkan Artie."
"Ngomong-ngomong Dean menitipkan ini," kata Ron sambil mengeluarkan amplop coklat dari saku celananya.
Hermione hanya melirik sedikit tulisan di amplop tersebut, "Reuni?"
"Yup."
"Kapan?"
"Tiga minggu lagi."
Perempuan itu menelan ludah gugup, "Untuk angkatan kita?"
"Semua angkatan dan semua asrama," jelas pria itu.
"Sepertinya aku tidak akan datang," ucap Hermione sambil mendorong amplop itu menjauh.
"Ayolah, sudah lama sekali kita tidak berkumpul bersama Gryffindor lain." pinta Ron.
"I'll think about it," kata Hermione sambil memasukan asal amplop tersebut kedalam tas.
Setelah semua barang masuk kedalam tas, Ron membawakan tas mereka dan menaruh Arthur di stroller. Hermione harus mengurus administrasi terlebih dahulu baru bergabung bersama Ron yang menunggu di lobby. Mereka bertiga berapparte pulang bersama.
Sesampainya di rumah, Hermione langsung membongkar tas dan menaruh baju kotor pada keranjang. Ron bertugas menemani Arthur bermain di kamarnya selagi perempuan itu membersihkan rumah. Betapa beruntungnya Hermione mempunyai sahabat yang selalu siap dimintai tolong, tak habis pikir bagaimana jika harus melakukan ini semua sendiri.
Ting Tong
Terdengar bel rumahnya dibunyikan.
"Ron bisa tolong bukakan pintu?" teriak Hermione yang sedang mengganti seprei kamarnya.
"Oke," jawab pria berambut merah itu yang langsung bergegas ke pintu depan.
Selanjutnya tidak terdengar suara apapun dari Ron, perempuan itu mengira hanya kurir atau sales yang menawarkan barang.
"Mione, bisa kesini sebentar."
Penasaran akan siapa yang bertamu Hermione menyibak tirai kamarnya. Mata coklat madu itu melotot melihat pria yang tengah berdiri di halaman depan nya. Perempuan itu langsung berlari menuju pintu depan dengan menggenggam erat tongkatnya.
"Apa yang kamu lakukan disini!" pekik perempuan itu tanpa basa-basi.
"Apa yang aku lakukan? Anak ku sakit dan aku mau menjenguknya." Tukas pria itu santai.
Yang tengah beradu mulut dengan Hermione adalah mantan suaminya, Rufus Frederick Gilliard. Seorang Ravenclaw yang dua tahun lebih tua dari Hermione, ia bekerja sebagai penulis kolom pada surat kabar Witch Weekly. Rambutnya hitam pekat sama seperti Arthur dan lebih tinggi sedikit dari Hermione.
"Kamu tidak bisa berada disini!" seru perempuan itu sambil terus menjaga jarak dari mantan suaminya.
"Anak ku sakit! Aku khawatir padanya, tida bisakah kamu membuat pengecualian."
"Ya, setelah kamu membayar tunjangan anak."
Wajah Rufus memerah marah, "Uang sebanyak itu bisa ku dapatkan dari mana! Aku hanya penulis kolom!" pekik pria itu.
"Umm teman-teman," kata Ron mencoba menengahi.
"APA?" teriak Hermione dan Rufus secara bersamaan.
"Sebaiknya kita melanjutkan pertengkaran ini di dalam, seluruh blok bisa mendengar suara kalian." Ucap pria berambut merah itu dengan hati-hati, takut akan di layangkan kutukan oleh kedua penyihir yang sedang berseteru.
"Tidak, tidak, dia tidak boleh menginjakkan kaki di rumahku." Kata perempuan itu sambil menunjuk-nunjuk Rufus dengan tongkatnya.
"Oh pas sekali aku tidak ingin masuk ke rumah yang terlalu rapih itu, aku hanya ingin bertemu putraku." Sindir Rufus sambil berjalan mendekati pintu rumah.
"Jangan berani-berani maju selangkah lagi," ucap Hermione dengan tongkat yang mengarah pada pria itu.
"Atau apa, kamu akan mengutuk ku? Kutukan crusiatus mungkin?" nada bicara pria itu sangat mengejek. "Ayo lemparkan kutukan terbaikmu."
"Stupefy!" seru perempuan itu sambil mengayunkan tongkatnya.
Dengan cepat ia menarik Ron untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat, tidak lupa menutup seluruh tirai jendela agar rumahnya tidak terlihat dari luar. Rufus yang terhempas jauh kejalanan membangunkan badannya dari tidur, rasanya sakit juga, untung saja tidak ada cedera parah. Pria itu bangkit dan mengetuk pintu rumah Hermione.
"Please just tell me if he's ok," pinta nya dengan suara pelan.
Tidak bisa dipungkiri suara Rufus terdengar sangat resah, ia benar-benar ingin tahu keadaan putra satu-satunya. Hermione masih menutup mulutnya rapat-rapat, menolak untuk menjawab mantan suaminya.
"Please."
Ron memberikan tatapan menghakimi, pria itu tau Rufus hanya meminta kabar Arthur dan sudah berhenti meminta untuk bertemu anaknya. Akhirnya perempuan berambut coklat itu mengalah, sejujurnya dia juga tidak tega mendengar pria itu memohon-mohon dari balik pintu.
"Dia baik-baik saja," kata Hermione.
"Terima kasih, tolong jaga dia baik-baik." Ucap Rufus sebelum menghilang meninggalkan halaman rumah.
/ To Be Continued /
Jeng jeng ternyata mantan suaminya Hermione OC hehe. Aku nggak tega harus ngorbanin karakter asli buat nyelingkuhin Hermione makanya memutuskan untuk OC aja. Dan masi bingung siapa yang bakal jadi istri Ron, kemungkinan Luna atau ya OC lagi, menurut kalian gimana? Anyway semoga suka sama chapter ini.
[1] Pediatric Intensive Care Unit
