Begin Again

written by hijaubiru

l

Harry Potter © J.K. Rowling

l

Five

l

Hilang sudah semua warna di dunia ini, mungkin ini rasanya menjadi orang buta warna. Tidak-tidak, orang buta warna sekalipun bisa merasakan dunia yang berwarna, tidak seperti dunianya saat ini. Hermione sangat murung dan tidak memiliki semangat, terlalu banyak masalah yang ia pikirkan menghilangkan keceriaan di wajahnya.

"Granger, hei Granger."

Tanpa memperdulikan siapa yang memanggil Hermione tetap mendorong kereta belanjanya, sudah habis tenaga untuk menanggapi siapa yang memanggilnya. Setelah sanggup mengejar perempuan berambut ikal itu Draco menepuk pundak Hermione.

"Hai!" ucapnya sambil terengah.

Hermione menoleh malas, "Oh hai Malfoy."

Suasana hatinya masih belum stabil, setelah bertemu Rufus dua hari lalu Hermione jadi lebih tidak peduli pada sekitarnya. Seperti hari ini, ia pergi ke super market mengenakan pakaian seadanya. Rambut ikalnya tidak disisir rapih seperti biasa dan wajahnya nampak pucat tanpa ulasan lipstick.

"Kamu tampak..." Draco memperpanjang kata terakhir seakan tidak ingin menyelesaikannya.

"Kacau?"

"Your words not mine."

"Tidak apa, pikiran ku memang sedang kacau." Jawabnya lalu menghembuskan nafas suntuk.

"Ada apa?"

"Mantan suamiku datang ke rumah," kata Hermione sambil terus mendorong keranjang nya.

"Oooh," pria itu hanya mengangguk-angguk bingung harus berkomentar apa.

"Kurasa aku bersikap terlalu keras padanya," raut perempuan itu mencerminkan penyesalan. "Aku terlalu stress untuk berpikir lurus."

Tidak terdengar sautan dari Draco.

"Kamu ada acara setelah ini?"

"Mungkin menangis di toilet."

"Kalau begitu ikut denganku," kata pria itu tiba-tiba.

"Kemana?" dahi Hermione mengrenyit.

"Jalan-jalan," jawab Draco singkat.

Setelah membayar seluruh belanjaannya tanpa banyak bertanya mau dibawa kemana Hermione mengekor berjalan di belakang Draco, ternyata ia menghampiri mobil sedan hitam miliknya di parkiran.

"Naik mobil? Kukira akan berapparate."

"Kalau kata poster klise di toko buku —it's the journey not the destination—" ucap Draco sambil membukakan pintu mobilnya. "Sudah ayolah masuk saja."

"So what's the destination?"

"Ra-ha-si-a."

Walaupun masih tidak yakin akan ajakan pria itu Hermione menurut saja dalam diam, toh tidak ada ruginya. Draco menyalakan mesin mobil, pantas saja mobil ini mahal suaramesin nya saja halus sekali. Dengan mata penasaran Hermione sibuk memelototi tiap sudut mobil, baru kali ini ia naik mobil sebagus ini.

"Seatbelt," pria itu mengingatkan.

Dengan handal Draco mulai menerbangkan mobil tersebut, tidak lupa memencet tombol yang membuat mobilnya transparan. Setelah ia rasa cukup jauh dari pandangan muggle pria itu memelankan kecepatan mobil, kini mereka serasa seperti menunggangi awan mengapung di atas sana. Tenang.

Perlahan Draco menurunkan jendela mobilnya, membiarkan angin semilir bertiup masuk ke mobil. Sepi sekali di atas sini, tidak lagi terdengar suara hiruk pikuk kota yang biasa menghiasi hari. Hermione ikut membuka jendelanya, membuat rambut ikalnya tertiup angin. Tangan nya ia keluarkan berusaha memegang awan yang menari-nari di sekitarnya.

"Tidak buruk kan?" kata Draco.

Hermione membalas dengan sebuah senyum simpul, rautnya sangat tenang berbeda dengan biasanya. Mata kelabu Draco terpaku memperhatikan perempuan itu, tangan lentik yang berayun di luar jendela seakan menghipnotis pria itu. Ada rasa hangat yang menyebar di dadanya, perasaan yang telah lama tidak ia rasakan.

Merasa sedang di perhatikan Hermione menoleh pada pria di sampingnya, "Ada apa?"

"Ah, umm. Tutup jendelanya, aku mau mempercepat laju." Kata Draco mengeles.

Untuk menutupi rasa canggung nya pria itu menyalakan pemutar cd di dasbor mobil. Seperti semesta sedang meledeknya, lagu 'My Eyes Adore You' yang di nyanyikan Frankie Valli mengalun lembut mengisi keheningan. Draco terawa kecil, okay, okay, maybe my eyes did adore her.

"Apa yang lucu?" tanya Hermione mendengar tawa pria itu.

"Nothing."

Setelah 45 menit berkendara di udara akhirnya Draco mulai merendahkan kembali mobilnya, mereka sampai di Llyn Y Fan Fach. Sebuah danau berukuran 500 meter yang diapit pegunungan, danau ini berada di barat Wales tepatnya di Taman Nasional Brecon Beacons.

Hamparan rumput hijau menyelimuti semua yang dapat dilihat dengan sebuah danau kecil di kaki bukit. Pemandangan yang tentram. Draco memarkirkan mobilnya tidak jauh dari danau, tak lupa ia menyalakan mode transparan mengingat danau itu hanya bisa dicapai dengan kaki.

Mereka mengeluarkan makanan yang sudah dibeli sebelumnya dan menaruh selembar kain sebagai alas duduk, piknik dadakan ini tidak seburuk yang Hermione bayangkan. Mereka duduk dibawah sebuah pohon oak tua yang tidak jauh dari muka danau.

"Kalau tau akan ke tempat seperti ini aku akan membawa kamera tadi," kata Hermione lalu measukan sekeping blueberry ke dalam mulut.

Draco merogoh saku jaketnya dan melemparkan sesuatu pada perempuan itu, "Tuh kamera."

"Kamera disposable," ujar Hermione sambil membolak-balik barang plastik di tangan nya. "Kamu kira ini tahun 90an."

"Aku suka. Ringan dan kecil, lebih praktis daripada kamera digital."

"Barang mu mencerminkan umur," Hermione bergurau.

"Baiklah kamu dilarang memakai kamera itu," kata Draco sambil mencoba mengambil kamera tersebut dari tangan Hermione.

Perempuan itu memberikan perlawanan lalu mengarahkan lensa pada Draco, "Smile!" serunya sambil menekan tombol shutter, "Rasakan, fotonya tida bisa di hapus. Makanya bawa kamera digital saja."

Tidak mau kalah pria itu langsung merebut kamera dari tangan Hermione dan segera mengabadikan momen saat rambut ikal perempuan itu tertiup angin.

"Dasar lamban, sekarang seri." kata Draco bangga.

"Astaga rambutku!" pekik Hermione sambil berusaha merapihkan rambut.

"Seperti singa," Draco tertawa puas.

Mereka berdua bertengkar layaknya anak kecil, tertawa dan berjalan menyusuri pinggir danau. Setelah lelah kedua manusia ini merebahkan badannya di bawah pohon, membiarkan daun-daun menghalau cahaya matahari.

"Haruskah aku membolehkan Rufus bertemu dengan Artie?" gumam Hermione

"Kamu ibunya pasti lebih tau, tapi kalau menurutku Arthur harus kenal siapa ayahnya."

"Bagaimana caranya, tiap aku melihat wajah itu darahku terasa mendidih. Aku tidak ingin dekat-dekat dengannya barang sedetik saja."

"Ada yang harus kamu ingat, ini tentang apa yang terbaik untuk Arthur bukan untukmu."

Hermione terdiam tidak membalas, ucapan Draco benar. "Baiklah akan kucoba."

"Hei rambut semakmu menghalangi pandangan ku," canda Draco mencoba menetralkan suasana, Hermione langsung menyikutnya keras.

"Ngomong-ngomong bau parfum mu enak," lanjut pria itu.

"Iyalah, mahal." Pamer Hermione.

"Aku tanpa parfum saja sudah wangi," Draco tidak mau kalah.

Mereka sama-sama tertawa.

"Aku belum merasakan setenang ini dalam waktu yang lama," ucap Hermione.

"Aku juga," timpal Draco.

"Terima kasih sudah mengajakku ke sini."

"It's my pleasure."

-o0o-

Terdengar suara senandung keluar dari mulut seorang perempuan berembut ikal yang sedang menyeduh tehnya. Suasana hati Hermione sedang bagus, tidak seperti seminggu lalu setelah ia bertemu mantan suaminya. Hari menjadi lebih berwarna, kicauan burung tidak lagi membuatnya kesal dan semua yang ia lakukan terasa lebih ringan dari biasanya.

"Someone's in a good mood," Gill mencolek pipi Hermione.

Entah kapan terakhir Gill melihat koleganya seriang ini di pagi hari, biasanya ia hanya duduk bersama segelas teh nya dengan muka suntuk.

"Jangan-jangan kamu sudah membunuhnya," Gill terkesiap dramatis. "Rest in peace Rufus."

Hermione tertawa mendengar tingkah Gill, perempuan itu memang sering bercanda. "Aku tidak membunuhnya, hanya sedang senang saja." Jelas Hermione lalu menyisip teh nya.

"Menang undian?"

"Tidak."

"Bertemu Bruce Lee?"

"Tidak, dan boleh ku ingatkan bahwa dia sudah meninggal."

"Lalu apa yang membuatmu senang?"

"Astaga Gill, bukan apa-apa" seru Hermione sambil menahan tawa.

"Oh aku tau, you had sex!"

"Tentu saja tidak," jawab perempuan itu cepat.

"You should though," lanjut Gill.

"Sana kerja, pasien mu menunggu," Hermione mendorong badan koleganya keluar dari pantry.

"Oh liat sugar daddy datang," kata Gill saat seorang pria berambut silver berjalan masuk ke ruang tunggu. Hermione semakin keras mendorong Gill masuk ke ruangan nya.

Sebelum menghampiri Draco dan Rena perempuan itu mencoba merapihkan diri, tidak ingin terlihat kusut di depan pasien nya.

Ini sudah tiga minggu semenjak Hermione terakhir bertemu Rena, karena seminggu kemarin ia cuti jadi jadwal gadis itu dimundurkan ke minggu ini. Tidak seperti biasanya, gadis berambut silver itu tidak menghampirinya dengan sumingrah. Wajahnya sangat suntuk, bibirnya ditekuk kebawah seperti sedang kesal. Aura dari dua orang itu juga sangat berat, mungkin mereka bertengkar sebelum datang ke klinik.

Tanpa banyak komentar Hermione mengantarkan masuk Rena ke dalam ruangan, perempuan itu lalu menaruh segelas air di atas meja untuk gadis itu.

"Ada apa sayang?" tanya Hermione lembut.

"Ayah tidak membolehkan ku memakai parfum ibu," gerutu Rena.

Hermione mendengarkah keluhan gadis itu dengan seksama.

"Semua barang ibu tidak boleh ada yang ku pakai, tempatnya saja tidak boleh berubah." Lanjut gadis itu.

"Aku punya parfum kalau kamu mau."

"Tidak usah, aku hanya rindu aroma ibu."

"Kamu merindukan ibumu," gumam Hermione.

"Ayah lebih," ucap Rena.

"Tentu saja, ayahmu sangat menyayangi ibumu."

"Iya dan dia tidak menyayangi ku."

-o0o-

Sudah enam tahun Draco bekerja di Ministry of Magic bagian Departemen Luar Negeri dan Olahraga, pekerjaan yang cocok untuk pria ini. Mungkin bukan pekerjaan impian tapi dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai macam negara membuatnya cukup nyaman di sini.

Draco menghembuskan nafasnya keras dan menyandarkan kepalanya yang pusing pada kursi. Di depan nya ada setumpukan dokumen mengawasi tiap gerakan, semua dokumen itu harus diselesaikan hari ini atau dia harus masuk hari sabtu untuk menyelesaikan nya.

Kepalanya pusing sekali, pagi tadi ia berseteru dengan Rena sebelum berangkat ke klinik. Anak gadisnya bersikeras untuk mengenakan parfum peninggalan Astoria dan ia sangat menentangnya. Parfum itu tidak lagi di produksi dan botol kecil yang berada di meja rias istrinya adalah botol terakhir yang ia miliki. Draco akui ia sedikit keras kepala tentang hal ini dan merasa bersalah sudah meninggikan suaranya pada Rena pagi tadi.

Setelah sesi konseling putrinya selesai Draco tidak sempat berbicara dengan Hermione, ia harus cepat-cepat kembali ke kantor. Sekarang pria itu benar-benar buta mengenai persoalan anaknya. Tanpa diminta matanya langsung mencari sebuah foto yang di pajang di atas meja kerja. Foto seorang ibu yang tengah menimang putrinya yang baru lahir.

"Rena, jangan manjat-manjat lemari!" seru Draco saat menemukan putrinya sedang berusaha mengambil buku yang berada di puncak lemari.

"Ini tidak bahaya yah."

"Tukang jawab, turunan ayahmu." Kata Astoria yang baru saja memasuki ruangan.

"Hei kenapa jadi aku yang disalahkan," kata Draco yang diikuti tawa Rena dan istrinya.

"Sifat kalian tuh mirip sekali, pantas sering bertengkar." Ucap Astoria sambil mengangkat anaknya agar turun dari lemari.

"Makanya harus ada ibu untuk menengahi, jangan sering-sering di rumah sakit." Kata putrinya.

Kedua orang tuanya saling bertukar pandang, memang setahun ini Astoria sering keluar masuk rumah sakit dan harus meninggalkan Rena dengan ayahnya.

"Kalian harus akur ya, ibu tidak selalu bisa ada untuk menengahi."

Draco menekan dahinya, berusaha mengeluarkan memori yang sempat singgah. Dibandingkan dengan ibunya, Rena tidak sedekat itu dengan Draco. Karena urusan pekerjaan pria itu tidak sering hadir dirumah, dulu sebelum istrinya meninggal Draco bisa dinas keluar negeri hingga dua/tiga kali seminggu. Ia mengerti mengapa anaknya tidak bisa dekat dengan nya.

Tok tok tok

Keith, asisten Draco, memasuki ruang kerjanya setelah mengetuk pintu.

"Mr. Malfoy kepala departemen barusan menelpon, menanyakan jadwal mu pada tanggal 23 sampai 26. Minister of Magic Australia akan melakukan kunjungan."

"Apa aku ada jadwal untuk tanggal itu?"

"Tidak, tapi tanggal 25 ada pertunjukan ballet Rena." Kata Keith sambil mengecek kalender di tangannya.

"Katakan aku tidak bisa ikut, bilang saja Baron yang akan menemaninya."

"Baik," kata Keith lalu kembali meninggalkan ruang kerja Draco.

Draco menghela nafas sekali lagi, mungkin ia tidak akan naik jabatan jika terus-terusan menolak pekerjaan seperti ini. Tapi di sisi lain ia tidak mau melewatkan pertunjukan ballet anaknya, Rena sangat antusias tentang pertunjukan itu, gadis itu telah berlatih lama untuk nya.

Pria itu menegakkan kembali punggungnya, ayo selesaikan semua ini sebelum sore datang.

-o0o-

Malam itu Hermione tengah berkutat di dapurnya, melihat Arthur melahap habis kue kering yang ibunya buatkan perempuan itu ingin membuatkan lebih banyak untuk Arthur. Anak lelakinya duduk di kursi makan tidak jauh dari tempat ia berdiri, memainkan mobil-mobilan yang paman Harry belikan.

Ditengah suara mixer yang mendominasi samar-samar terdengar suara bunyi telepon. Hermione mematikan mixernya untuk memastikan apakah ponselnya benar berbunyi, lalu ia berjalan ke tasnya di kamar untuk mengambil telepon nya.

"Halo."

"Halo, Hermione Granger?" terdengar suara berat seorang pria di sebrang telepon.

"Ya dengan saya sendiri,"

"Ini Dean, Dean Thomas."

"Oh hai Dean, ada apa?"

"Kamu sudah mendapatkan undangan reuni? Aku titipkan pada Ron minggu lalu."

"Iya sudah," jawab Hermione sambil mencari dimana ia menaruh undangan tersebut.

"Aku mau mengkonfirmasi kehadiran mu untuk data angkatan,"

"Umm," perempuan itu diam dan berpikir sejenak. "Iya aku akan datang." Lanjutnya.

"Baiklah, sampai berjumpa di sana."

Klik.

Tanpa basa-basi Dean langsung memutus panggilan, sepertinya pria itu sibuk sekali mengurus reuni ini.

Setelah menaruh telepon Hermione menghela nafasnya, acaranya tinggal seminggu lagi dan ia belum siap untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Kehidupan nya sekarang tidak bisa dibilang sukses, bercerai di usia muda, Hermione pasti akan menjadi bahan omongan di reuni nanti. Terlebih lagi ini reuni untuk seluruh angkatan dan asrama, bisa-bisa mantan suaminya juga hadir.

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap semua keresahan hilang dalam sesaat. Kenapa harus takut akan omongan orang, aku menyelamatkan dunia sihir saat perang Hogwarts! Hermione memberi kalimat penyemangat untuk dirinya sendiri. Dia lebih dari yang orang lain katakan tentang nya.

Tiba-tiba tangan kecil Arthur menarik celemek panjang yang terikat di pinggulnya, jagoan nya menarik Hermione keluar kamar dan menunjuk-nunjuk kulkas.

"Ekim," ucapnya terbata.

Hermione terkekeh mendengarnya, Arthur memang jelas anak Rufus sama-sama suka makanan manis. Dulu saat masih menikah dengan Rufus kulkasnya selalu penuh dengan makanan manis, mulai dari es krim, kue hingga coklat. Perempuan itu mengrenyitkan dahinya, mengapa semua yang ia lakukan mengingatkan nya pada mantan suami brengsek itu.

Bukan hal yang mudah untuk melupakan orang yang singgah lama di hidupnya, untuk satu masa Rufus adalah segala baginya. Tidak bisa berbohong, hati kecilnya masih ingin kembali ke kehidupan lamanya. Ia rindu kehangatan keluarga kecilnya sebelum badai menyerang, ia rindu merasa di sayangi.

"Dada," ucap Arthur saat melihat Hermione mengeluarkan es krim dari freezer.

Perempuan itu menelan ludah, apakah ini cara anaknya memberitahu ingin bertemu dengan ayahnya.

"Kamu merindukan nya?" tanya perempuan itu sambil menyendokkan es krim ke mangkuk kecil.

"Dada," jagoan kecilnya terus mengulang kata itu.

"Sebentar lagi ya," ucap Hermione. "Biarkan ibu bersedih sebentar lagi."

/ To Be Continued /

Jujur lagi mentok banget mau nulis apa tapi untung rampung juga chapter ini, semoga suka ya. Btw minggu depan mungkin nggak update dulu hehe, agak hilang semangat but I promise I'll finish this story (eventually).