Begin Again

written by hijaubiru

l

Harry Potter © J.K. Rowling

l

Six

l

Hari itu tiba juga, reuni alumni Hogwarts yang di tunggu-tunggu banyak orang. Reuni ini merupakan salah satu bentuk selebrasi ulang tahun Hogwarts yang entah ke-ratus-berapa, tahun ini para ketua alumni memutuskan untuk membuat reuni terbesar. Untung saja kastil Hogwarts cukup besar untuk menampung manusia sebanyak itu, hampir semua alumni datang karena rindu pada masa-masa remajanya.

Sambil mengendong Arthur Hermione berusaha melewati orang-orang yang berlalu lalang di lorong kastil, tidak mengira akan seramai ini perempuan itu tidak membawa stroller untuk Arthur. Mata coklat madunya bisa melihat gerombolan teman-teman seasramanya dari kejauhan, dalam sekejap ia berubah kembali menjadi remaja 16 tahun.

"Mione!" pekik Lavender saat menemukan perempuan berambut ikal itu.

"Hai!" seru Hermione lalu disambut dengan lengan-lengan yang memeluknya rindu.

"Makin cantik saja nona satu ini," ucap Parvati.

"Bisa saja," jawab perempuan ini tersipu.

"Ini pasti Arthur kecil!" kata Eloise membuat wajah lucu didepan Arthur namun dia langsung membenamkan wajahnya ke bahu ibunya.

"Lagi cranky," bisik Hermione.

"Aku masih tidak habis pikir kamu menamakan anakmu Arthur, bukan nya itu nama ayah Weasley." Ucap Parvati sambil terkekeh.

"Rufus yang meminta, karena nama kakeknya Arthur." Semua yang mendengar hanya mengangguk.

"Ngomong-ngomong Rufus dimana?" tanya Lavender polos, Eloise langsung menyikut lengan nya.

"Aku tidak tau, kami sudah 8 bulan bercerai." Kata Hermione sambil menyunggingkan senyum.

Wajah Lavender langsung memerah malu, "Maaf aku tidak tau."

"Tidak apa."

Hermione cukup kaget, bagaimana Lavender bisa tidak tahu tentang hal ini. Saat pertamakali berita tentang perceraian nya keluar Rita Sketeer membuat berita yang cukup menyakitkan tentang nya bahkan membuat kesimpulan bahwa Hermione gagal menjadi istri, jurnalis itu memang sudah tua tapi tetap saja tidak berubah.

Tiba-tiba ada tangan kecil yang sudah terikat kencang di kaki Hermione, "Bibi Mione!" anak gadis Potter telah berhasil menemukan nya.

"Lily, mana orang tua mu."

Belum sempat gadis itu menjawab Ginny muncul dari kejauhan sambil terengah-engah,

"Lily! Jangan kabur seperti itu." seru perempuan berambut merah itu pada anaknya.

"Hai Gin, mana Harry?"

"Tuh," jawab Ginny sambil menunjuk sekumpulan bapak-bapak asrama Gryffindor. "Ramai sekali," keluh Ginny sambil berusaha menggandeng anak gadisnya agar tidak kabur lagi.

Tanpa pemberitahuan sebelumnya sebuah kembang api tiba-tiba masuk ke aula dan memercikan cahaya di langit-langit sebagai tanda acara akan dimulai sebentar lagi. Kaget akan suara dentuman keras Arthur sontak menangis kencang, Hermione dan Ginny langsung menepi mencari sudut kosong agar bisa menenangkan Arthur.

"Bu mau liat kembang api," rengek Lily sambil menarik-narik celana ibunya.

"Sebentar ya sayang, masih ramai sekali nanti kamu bisa hilang."

Ponsel Hermione berdering disaat yang tidak tepat, Arthur sedang merengek kencang. Ginny disibukkan oleh Lily yang sedang mencoba kabur lagi dan Harry dan Ron tak terlihat batang hidung nya, tidak ada pilihan selain mengangkat telfon itu dan mencoba mendengar lawan bicaranya diantara isak tangis Arthur.

"Halo," ucap Hermione berusaha mendengar suara diujung panggilan. "Ya ini Hermione Granger."

Mendadak Draco, yang entah muncul dari mana, mengambil badan Arthur dari tangannya, memberikan ruang agar Hermione bisa mengangkat telfon nya lebih leluasa. Tanpa banyak protes perempuan itu melepas gendongan anaknya dan berjalan keluar aula, mencari tempat yang lebih sepi agar bisa mendengar lebih jelas.

"Halo jagoanku," sapa Draco dengan nada suara ditinggi-tinggikan, ia menaikan badan Arthur tinggi ke udara sambil membuat wajah konyol.

"Malfoy," panggil Ron yang baru saja sampai. "Kamu menggendong Arthur? Dimana Hermione?"

Dengan dagunya pria berambut silver ini menunjuk Hermione di lorong yang masih sibuk dengan ponselnya. Ron hanya mengangguk lalu bergabung bersama Ginny.

"Mengapa Malfoy yang menggendong Arthur?" bisik Ron pada adiknya.

"Astaga aku baru menyadarinya," pekik Ginny lalu berusaha memelankan suaranya. "Aku terlalu sibuk dengan Lily."

"Granger sedang mengangkat telfon di sana, aku hanya membantu." kata Draco yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.

Kakak beradik Weasley itu tersenyum malu. Walaupun Draco sudah mengenal Hermione lebih dekat namun ia masih merasa asing dengan orang-orang di depan nya, mereka hanya saling mengenal tidak bisa dikategorikan sebagai teman.

"Sendiri saja, tidak bawa anak istri?" tanya Ron basa-basi yang langsung diikuti dengan injakan keras kaki adiknya, Ginny memberikan tatapan istrinya-meninggal-setahun-lalu pada kakaknya.

Draco tertawa renyah, "Iya aku sendirian."

Sebelum pembicaraan ini bertambah kacau Hermione kembali menghampiri mereka dan mengalihkan fokus Draco.

"Terima kasih, kamu penyelamat hidup." ucapnya pada Draco. "Dimana Rena?"

"Ada latihan ballet," jawab pria itu.

"Oh iya pertunjukkan nya sebentar lagi ya," kata perempuan berambut ikal itu. "Mana teman-teman mu?"

"Entah, aku baru datang."

"Ngomong-ngomong lihat apa yang aku bawa," tangan Hermione mengeluarkan sesuatu dari kantong nya.

"Kamera disposable," Draco mendengus kesal. "Are you kidding me Granger!"

Hermione terkekeh, "Ternyata benar yang kamu katakan, lebih praktis untuk dibawa-bawa."

"Tidak, tidak. Kamu sudah menghina barang ini jadi kamu selamanya dilarang memakainya." Tangan Draco langsung merampas kamera dari Hermione.

"Enak saja, peraturan dari mana itu."

Ron dan Ginny yang sedari tadi hanya menjadi penonton bertukar pandangan bingung, bagaimana dua manusia berbeda kutub ini bisa dekat. Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

"Draco! Di sini," tiba-tiba suara melekik Pansy terdengar dari kejauhan, perempuan itu melambaikan tangan pada teman Slytherin nya.

Draco mengangkat dagunya sebagai jawaban lalu mengembalikan Arthur pada dekapan ibunya, "Barang ini masih kusita." Ucapnya sambil memasukan kamera ke saku jas dan berlalu menghampiri gerombolan Slytherin di sebrang ruangan.

Tanpa disadari sebuah senyum terukir di wajah Hermione, matanya masih terus memandang pria berambut silver itu di kejauhan.

"Sejak kapan kalian dekat?" tanya Ron sesaat setelah Draco pergi.

"Kami tidak dekat," sanggah perempuan itu.

"Kamu tidak bisa berbohong Nona Granger," sindir Ginny. "Matamu terus mengikutinya."

"Kami hanya teman."

"Teman dengan tanda kutip?" Tanya Ginny.

"Teman dengan titik," tegas Hermione. "Hei Ron dimana Luna?" perempuan itu berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Sudah bersama teman-teman Ravenclawnya."

Mereka lalu kembali bergabung dengan murid Gryffindor lainnya saling melepas rindu. Tidak berapa lama acara reuni dibuka dengan sambutan Prof. McGonagall sebagai kepala sekolah yang menjabat saat itu, juga sambutan dari ketua acara reuni tahun ini. Setelahnya booth-booth makanan di lapangan depan dibuka begitu pula ruang-ruang di kastil, membolehkan para alumni untuk mengunjungi kembali sekolah lama mereka.

Para alumni berjalan mengelilingi kastil dengan antusias dan sibuk berfoto di setiap sudut kastil. Tidak banyak yang berubah, Hogwarts masih sama seperti saat mereka tinggalkan dulu. Hampir tiap ruangan dipenuhi oleh manusia, terlebih lagi ruang rekreasi ke empat asrama.

Setelah puas mengelilingi kastil bersama teman-teman Gryffindornya Hermione menyempatkan untuk berkunjung ke pojok perpustakaan, pustakawan saat itu sudah bukan lagi Madam Pince melainkan seorang perempuan paruh baya bernama Brie. Madam Brie memperbolehkan Hermione memasuki ruang perpustakaan mengingat perempuan itu salah satu alumni yang banyak menyumbang buku.

Karena keadaan ruangan cukup kosong Hermione melepas Arthur untuk berjalan, tangan nya sudah mulai mati rasa karena terlalu lama menggendong Arthur. Perempuan itu menelusuri kembali lorong-lorong ruangan favoritnya di kastil, bau perkamen tua menyeruak di udara masih sama seperti yang ia ingat.

"Boo!" tiba-tiba sebuak kepala muncul dari balik rak buku mengagetkan perempuan itu setengah mati.

"Sir Nicholas!" pekik Hermione kesal.

"Tidak kah kamu merindukan ku?" ucap hantu itu merentangkan tangan meminta sebuah pelukan.

"Kamu tau aku tidak bisa memelukmu."

Tangan Arthur melambai-lambai di udara mencoba menyentuh badan transparan Sir Nicholas, Hermione hanya tertawa melihatnya dan membiarkan anaknya mengganggu hantu itu. Arthur tidak pernah bertemu dengan hantu sebelumnya, pantas saja dia bingung melihat mahluk itu bisa terbang di udara.

Mendadak telunjuk Sir Nicholas ia tempelkan pada bibir, sebuah gestur yang menyuruh mereka tidak berisik. Hantu itu menunjuk ke arah pintu masuk, terlihat seorang pria baru saja memasuki ruangan. Tau yang ada dipikirannya Hermione mengangguk dan bersembunyi di balik rak.

"BOO!" Hermione, Sir Nicholas dan Arthur berteriak mengagetkan Draco, pria itu memekik hingga langkahnya mundur.

"What the hell!" kata Draco diikuti tawa tiga tersangka di depan nya. "Ibumu jahat Artie," Draco mengadu pada Arthur sambil mencium-cium pipi bulatnya.

"Jadi Malfoy suami mu?" tanya Sir Nicholas.

"Bukan." Kedua manusia itu langsung menggelengan kepala bersamaan.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Hermione berusaha mengalihkan arah pembicaraan.

"Mengembalikan ini," tangannya merogoh kamera dari saku jasnya. "Aku sudah mau pulang."

"Cepat sekali?"

"Iya aku harus menjemput Rena."

"Oh, baiklah. Hati-hati di jalan paman pirang." Hermione meraih tangan Arthur dan melambaikan nya pada Draco.

Pria itu terkekeh lalu membalas lambaian Arthur sambil berjalan menuju luar perpustakaan.

"Kamu yakin dia bukan suami mu?" tanya Sir Nicholas memecah keheningan.

"Demi janggut merlin, bukan!"

"Sayang sekali padahal kalian terlihat serasi, cara dia menatapmu mengingatkanku pada istriku."

"Kamu punya istri?" Hermione mengrenyitkan dahi.

"Sejujurnya aku juga tidak tau, ingatan ku buruk."

-o0o-

Suara roda beradu dengan jalanan berbatu terdengar dari kejauhan. Seorang perempuan tengah mendorong stroller bayinya melewati lorong-lorong Diagon Alley, ia berniat membelikan baju baru untuk anak lelakinya. Arthur sedang dalam masa pertumbuhan yang cepat, baju yang ia belikan hanya bisa dipakai satu dua bulan sebelum tidak muat lagi ditubuh anaknya.

Mata coklat madunya menangkap seseorang yang tengah berdiri di depan toko Honeydukes sambil memasukan uang kedalam dompetnya.

"Greengrass!" panggil Hermione.

"Granger! Astaga apa kabar?" balas Daphne sambil merangkul bahu Hermione.

Walaupun berada di asrama yang saling membenci Daphne dan Hermione memiliki hubungan yang terbilang dekat. Ini karena mereka sama-sama sering menghabiskan waktu di perpustakaan, juga sesekali mengerjakan tugas bersama. Intinya mereka berdua sama-sama kutu buku.

"Baik, aku tidak sempat bertemu dengan mu saat reuni kemarin." Kata perempuan berambut ikal itu.

"Iya, ramai sekali," timpal Daphne.

"Kamu sendi—" belum sempat menyelesaikan kalimatnya Hermione langsung dipotong.

"Dokter Granger!" pekik Rena yang baru saja keluar Honeydukes bersama kedua sepupunya.

"Hai Rena," Hermione merendahkan tubuhnya untuk memeluk gadis itu.

"Sedang kumpul bocah," ucap Daphne sambil mengelus rambut anak perempuan nya yang seumuran Rena.

Tangan Rena menarik-narik rok bibinya, memberi kode agar Daphne membungkuk supaya gadis itu bisa berbisik di kupingnya. Entah apa yang dibisikan gadis itu, tapi raut wajah bibinya nampak kaget.

"Kamu yakin ayah membolehkan nya?" tanya Daphne pada Rena, gadis itu mengangguk cepat.

"Umm, Granger. Rena ingin mengundangmu ke pentas ballet nya hari jumat besok." Lanjut perempuan itu.

"Benarkah? Tentu saja aku akan datang." Katanya sambil mencubit pipi bulat Rena.

"Ajak Arthur juga!" serunya penuh harap.

Daphne dan Hermione bertukar pandang, mereka sama-sama tahu jika Arthur menangis habis sudah pertunjukkan ballet hari itu. "Akan ku usahakan," jawab Hermione.

Jawaban itu sudah cukup untuk mengembangkan bibir kecil Rena. Hermione mengusulkan untuk berbincang di café yang tidak jauh dari Honeydukes, Daphne langsung mengiyakan karena ia sudah kelelahan mengurusi tiga anak kecil yang banyak maunya.

"Malfoy dimana?" tanya Hermione setelah memesan secangkir teh pada pelayan.

"Makan siang bersama Hana, kolega ku di St. Mungo."

"Hana? Healer Hana Pediatrician?" perempuan itu meyakinkan.

"Iya, kamu kenal?"

"Dia dokter jaga saat Artie dirawat."

"Sempit juga dunia."

"Dia ada hubungan apa dengan Malfoy?" Hermione berusaha membuat nada bicaranya tidak terdengar se-ingin-tahu-itu.

"Tidak ada, Hana tertarik pada adik iparku dan minta dikenalkan. Draco aku paksa agar mau." Jelas Daphne sambil membenarkan rambutnya yang tertiup angin.

"Oh begitu," perempuan itu mengangguk-angguk, ada rasa lega di dadanya.

"Kamu tidak tertarik juga padanya kan?" ucapan Daphne seakan menusuk Hermione tepat di jantung.

"Mana mungkin," perempuan itu sedikit gelagapan.

"Good, don't. He's a mess." Lanjut perempuan berambut hitam itu lalu meminum tehnya.

"Dia tidak terlihat sekacau itu."

"Kamu harus melihat rumahnya, seperti kuil yang menuhankan Tori." Kata Daphne sambil menatap Rena yang tengah bermain boneka di meja sebelah. "Bahkan Rena bertindak lebih dewasa dibandingkan Draco."

Hermione tertegun mendengarkan Daphne.

"Aku tau dia sangat mencintai Tori, tapi terus berpegang pada masa lalu tidak akan baik untuknya."

Arthur yang baru bangun dari tidurnya merengek memotong pembicaraan dua perempuan ini. Hermione langsung menggendong dan menenangkan jagoannya.

"Shhhh," ucapnya lembut.

Sambil terus menimang Arthur di lengan nya otaknya berputar, ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya tapi ia tidak menjelaskan apa itu.

Ponsel Daphne berdering dan membuat perempuan itu keluar café untuk mengangkatnya agar tidak mengganggu suasana ruangan itu. Setelah menutup telepon tak lama seorang pria berambut pirang sudah berapparte ke samping Daphne.

"Kamu ada dimana-mana Granger," komen Draco saat melihat wajah Hermione di dalam café, pria itu lanjut mencium tangan bulat Arthur. "Sengaja mengikutiku ya."

"Mana sudi." Draco tertawa kecil mendengarnya.

"Ayah, aku mengundang Dokter Granger ke pertunjukkan ballet ku!" seru Rena saat ayahnya ikut duduk bersama mereka.

"Oh oke," pria itu bingung harus bereaksi apa.

"Jika kamu tidak nyaman aku tidak akan datang," tukas Hermione.

"Tidak, tidak. Aku malah senang kalau ada kamu." Untuk beberapa detik Draco mencoba memproses kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. "Maksudku aku senang karena Rena senang ada kamu, aku sih biasa saja kamu ada atau tidak. Aku netral. Tidak merasakan apapun. Lurus. Netral." Pria itu mengoceh kikuk.

Hermione tertawa, "Baiklah aku akan datang."

-o0o-

Tangan kecil Rena mengetuk ruang kerja ayahnya dengan perlahan, gadis itu mengintip lewat sela pintu mengecek apakah ayahnya berada di dalam sebelum memasuki ruang tersebut.

"Kita dapat surat!" katanya sambil menaruh setumpuk amplop di atas meja.

"Terima kasih sayang."

"Ada amplop yang tebal sekali, apa ini isinya?" tanya Rena sambil mengobrak-abrik surat yang baru ia bawakan.

"Coba ayah lihat," tangan kurus Draco meraih amplop tersebut. "Oh ini foto yang baru dicuci."

"Lihat, lihat!" seru Rena minta di bukakan amplop.

Gadis itu langsung memanjat ke pangkuan ayahnya lalu mereka sama-sama membuka amplop foto. Terdapat banyak sekali foto di dalamnya, foto saat Rena latihan ballet, saat Rena memanggang kue kering dengan bibinya, saat Rena berkunjung ke Malfoy Manor bulan lalu, hampir semua foto di dalamnya merupakan foto Rena. Draco selalu membawa kamera kemanapun ia pergi, mengabadikan tumbuh kembang putri semata wayangnya.

"Aku mau foto ini!" ucap Rena saat melihat foto ayahnya menyempil di antara puluhan foto lain.

"Foto ku?" tanya pria itu bingung. "Untuk apa?"

"Dipajang di kamar ku! Ayah berwarna disini," Gadis itu memandang foto dengan seksama, merasa asing dengan latar di foto tersebut. "Ini dimana yah?"

Belum sempat menjawab Rena sudah menemukan foto Hermione dengan latar yang sama, "Ada Dokter Granger juga." Ucap gadis itu.

"Umm, iya ayah ada urusan pekerjaan dengannya minggu lalu." Pria itu mencoba mengelak, Rena pasti sebal kalau tau ayahnya jalan-jalan dan tidak mengajaknya.

"She's really pretty" kata Rena saat melihat salah satu foto Hermione.

"Yup." Draco mengangguk setuju.

"Aku senang dengannya, dia baik sekali padaku dan rambutnya sangat wangi."

"Baguslah kalau begitu."

"Apa ayah tahu kalau dulu dia punya peliharaan kucing, lucu sekali! Aku pernah ditunjukkan fotonya."

"Iya ayah ingat kucingnya, dulu dia bawa saat bersekolah di Hogwarts."

"Boleh aku meminta fotonya juga?" tanya Rena sambil mengangkat sebuah foto Hermione, foto candid yang Draco ambil. Rambut coklat perempuan itu tertiup angin semilir, wajahnya cerah berseri dengan tawa yang menghiasi bibir.

"Jangan, yang ini punya ayah."

/ To Be Continued /

Tadinya berniat nggak upload minggu ini tapi ternyata selesai juga, nggak nyangka bisa konsisten update tiap minggu. Terima kasih banyak buat kalian yang masih nungguin fic ini up, semoga suka yaa.