A/N : Hi! Miss me? Its been 2 years huh? Please kindly don't expect to much from this story hehe. I really doubt my writing skill after more than 2 years' off. So please enjoy.
THE GIFT
by
AchernarEve
Disclaimer : I own nothing. JK Rowling has everything
Summary : Maybe the reason you can never go home again is that, once you're back, you can never leave...
Chapter One
New York City, New York, USA
"Charge 240," ujar wanita itu.
"Clear," saut seorang perawat yang tengah membantunya.
Healer itu terus memompa tubuh dari seorang pria yang sedang tak sadarkan diri di hadapanya. "Come on," gumamnya lagi.
Healer itu tetap memompa jantung si pasien meski tak ada tanda-tanda kehidupan itu kembali lagi. "Kita sudah kehabisan waktu, Healer," ujar salah satu perawat di ruangan itu.
"Charge 300!" perintahnya.
Alih-alih mendengarkan pendapat perawat, Healer itu memerintahkan untuk kembali memasukan daya ke dalam alat defribilator untuk kembali mengejutkan jantung pasien di hadapannya. Saat perawat-perawat tak melakukan apapun, Healer tadi memicingkan matanya. "Lakukan sekarang!"
"Clear," balas seorang perawat.
Tubuh pasien itu kembali dikejutkan dan kembali Healer tadi memompa tubuhnya. "There's a pulse!" teriak seorang perawat saat melihat monitor jantung itu kembali menunjukkan pergerakan.
Healer yang hampir ikut mati juga karena kelelahan menyelamatkan sang pasien mulai dapat bernapas lega. Dilepaskannya alat defribilator tersebut kemudian berlalu keluar dari ruangan itu. "Pantau perkembangannya dan laporkan setiap informasinya kepadaku," ujar wanita itu seraya melepaskan sarung tangannya.
"Yes, Healer Granger," jawab seorang residen dengan sangat cekatan.
Hermione Granger bersandar di salah satu nurse station di lorong rumah sakit itu. Ada beberapa pasiennya yang secara mengagumkan memutuskan untuk berada di dalam kondisi kritis secara bersamaan. Tubuhnya terasa akan remuk redam saat ini. Hampir 48 jam ia tak pulang dan terus berjaga disini. Mulai dari operasi sampai post-op dan kini ia benar-benar butuh tidur. Tetapi, sebelumnya ia menyesap Americano kesukaannya terlebih dahulu.
"Healer Granger," panggil salah seorang perawat kepadanya sambil menyerahkan sebuah gulungan perkamen kepadanya lalu pamit undur diri dari hadapannya.
Kening Hermione mengernyit saat melihat sebuah emblem yang menyegel perkamen itu. St Mungo's Hospital. Tanpa berpikir telalu lama ia membuka gulungan perkamen itu.
Dear Ms Hermione Granger
Salam hangat dari St Mungo Hospital, London!
Saya, Arthur Sinistra, Chief of Healer Surgeon di St Mungo Hospital London dengan ini menawarkan posisi sebagai Head Division of General Healer Surgeon di rumah sakit kami. Saya sudah mendengar banyak tentang kecakapan dan kinerja Anda selama beberapa tahun ke belakang ini.
Untuk keterangan detail jabatan akan dapat didiskusikan lebih lanjut bersama dengan upah yang diharapkan. Saya tunggu kabar baiknya hingga akhir Agustus ini dan berharap Ms Granger akan bergabung bersama kami secepat mungkin.
Best Regards
Arthur Sinistra
Chief of Healer Surgeon, St Mungo Hospital
Keningnya mengerut lebih dari sebelumnya. Hal ini bukan pertama kalinya ia ditawari pekerjaan dari beberapa rumah sakit sihir di seluruh belahan dunia, tapi tak pernah dari Inggris, kampung halamannya. Dan sekarang tanpa ada basa-basi tawaran ini datang ke tangannya. Menjadi Head Division of General Healer Surgeon disana. Tetiba saja perasaan berat menyerang dadanya. Sudah berapa lama ia tak kembali ke London? Lebih dari sepuluh tahun ia memutuskan pergi dari negeri itu dan sekarang tawaran ini datang kepadanya. Bukan hanya sebagain attending atau peneliti biasa, melainkan seorang kepala divisi di departemen bedah. Apakah ini pertanda bahwa memang sudah saatnyalah dia pulang? Pulang untuk menghadapi kenyataan yang ada. Dilipatnya kembali perkamen itu dan langsung masuk ke dalam on-call room untuk melanjutkan niat awalnya, yaitu tidur.
000
Lebih dari satu pekan ia memikir dan menimbang tawaran ini. Ia membuka lalu mentup perkamen dari St Mungo itu hampir ratusan kali. Hermione menatap keluar dari kaca besar rumah sakit ini dengan segelas kopi di tangannya. Hujan mengguyur dengan sangat deras di luar sana. Suara dari pasien serta pekerja medis menghiasi pendengarannya. Aroma khas dari rumah sakit sihir yang sudah lebih dari lima tahun menjadi tempat ia belajar serta mengajar dan juga menemukan hal-hal baru tak lupa juga tempat ia mencari nafkah ini menyeruak di penciumannya. Apakah ia sanggup meninggalkan kota ini? Meninggalkan kehidupannya disini. Atau mungkin pertanyaan akan diubah menjadi apakah ia sanggup kembali ke kota kelahirannya dan memulai kembali kehidupannya disana?
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia meninggalkan kota London dan tak pernah menginjakkan kaki disana barang sedikitpun. Harry dan Ron membenci hal itu , tapi mereka juga tak dapat mengubah keputusan sahabatnya itu. Mereka hanya berkomunikasi lewat surat atau jika Harry dan Ron memiliki waktu luang di sela kesibukan mereka sebagai Auror, mereka akan mengunjungi Hermione di New York.
Ketika Harry dan Ron mendengar tawaran pekerjaan ini, mereka dengan sangat bersemangat membujuk Hermione untuk menerimanya. Sudah saatnya ia kembali. Begitulah kira-kira kalimat mereka yang diucapkan berulang-ulang kepada Hermione. Hal itu pulalah yang membuat Hermione memikirkan hal ini hampir di setiap harinya. Mungkin memang sudah saatnya ia pulang. Sudah saatnya ia berdamai dengan kenyataan. Lebih dari sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Semuanya pastilah sudah berubah. Setidaknya seperti itulah yang dapat ia yakinkan pada dirinya sendiri.
"Healer Granger!" ucap seorang resident yang terdengar bagai memekik
Seketika Hermione kembali ke realita dan melupakan London serta alasan mengapa ia meninggalkannya. "Ada apa?" tanya Hermione seketika.
"ER membutuhkanmu, ada kecelakaan masal dan semua korban dilarikan ke rumah sakit kita," jawab dari resident itu dengan segera.
Tanpa memikirkan tawaran kerja dari St Mungo itu lagi Hermione lari sekuat tenaga. It's time to save a life
000
Hermione Granger menatap pemandangan kota ini di malam hari. Lampu-lampu berkerlap-kerlip bak bintang di langit yang cerah. Suara klakson yang saling bersahutan masih terdengar jelas meski waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia mengalihkan pandangannya kepada tumpukan-tumpukan karton yang sudah rapih ia kemas di apartemennya ini. Wanita itu sudah memilah dan memilih serta menyortir barang apa saja yang akan dibawa dan ditinggalkannya di kota ini. Beberapa furniture besar sudah ia tutupi dengan kain untuk menghindari debu yang sudah dapat dipastikan akan hinggap disana karena ditinggalkan oleh pemiliknya dalam waktu yang lama. Tak ada ucapan selamat tinggal untuk kota ini karena ia bahkan tak yakin apakah ia akan benar-benar meninggalkan New York dan kembali menetap selamanya di London.
000
London, England
Hermione menghirup dalam-dalam udara dingin di kota ini. Suhu hari ini berkisar 13 sampai 15 derajat celcius. Tak jauh berbeda dengan suhu di New York memang, tapi suasana kota ini jelas berbeda. Tak akan pernah bosan ia mengatakan bahwa ia sudah lebih dari sepuluh tahun tak kembali ke kota ini. Banyak bangunan yang bertambah juga menghilang. Kehidupan dari kedua sahabatnya juga sudah sangat berubah. Harry sudah menjadi kepala Auror dan menikah serta sangat bahagia dengan Ginny Weasley. Bahkan kini mereka telah dikarunia tiga orang anak. Sementara tak jauh berbeda dengan Harry, Ron juga sudah menemukan belahan jiwanya. Ia sudah menikah dengan Luna dan juga telah dikarunia dengan dua orang buah hati. Dan tak lupa juga Ron sudah menjadi Auror, pekerjaan yang sudah ia impi-impikan sejak mereka masih berada di bangku Hogwarts dulu. Jangan tanyakan telah jadi apa Hermione saat ini. Ia pasti akan dengan bangga menceritakan karirnya sebagai seorang Healer Surgeon, namun jangan pernah tanyakan bagaimana kehidupan pribadinya. Ia akan menutup mulutnya dengan sangat rapat. Bahkan Harry dan Ron masih sering kesusahan untuk meyakinkan Hermione bahwa berbagi cerita serta keluh kesah kepada sahabatnya bukanlah hal yang memalukan.
Dan setelah lebih dari sepuluh tahun pulalah ia berdiri di Diagon Alley dan berjalan untuk menemukan restoran untuk makan siang bersama dengan para sahabatnya. Euphoria melihat gang sihir yang dipenuhi oleh toko-toko yang menyediakan segala macam kebutuhan itu tak dapat ia bendung. Senyumnya terpancar dengan sangat cerah. Hermione tak henti-henti memulaskan senyum di wajahnya ketika melihat setiap toko yang ia lewati. Semua hal ini bak membawa kembali memorinya saat ia dan sahabat-sahabatnya memburu perlengkapan sekolah mereka.
Tak lama berselang sampailah ia di sebuah pintu restoran yang langsung disambut oleh seorang pelayan. "Selamat siang, Madam."
"Reservasi atas nama Ginny Potter," jawab Hermione cepat.
Pelayan itu tersenyum . "Ah yaa, Mrs Potter. Silahkan ikuti saya," balas pelayan itu.
Hampir semua meja di restoran ini terlihat penuh, namun tak ada kesan ramai dan semrawut. Semuanya tampak rapih dan elegan, sangat Ginny. Dari kejauhan Hermione sudah dapat melihat keempat sahabatnya itu di sebuah sudut ruangan ini. Harry yang pertama kali menyadari keberadaannya. Sontak pria berkaca mata itu bangkit dari duduknya untuk menyambut Hermione.
Wanita berambut cokelat itu langsung memeluknya seketika. "Aku merindukamu," ujar Hermione terhadap Harry.
Saat ia melepaskan pelukannya dari Harry, pria itu menjawab. "Welcome home, Mione. Don't ever leave us anymore."
Kata-kata itu membuat air mata Hermione meleleh. Acara dilanjutkan dengan saling berpelukan antara Hermione dengan sahabat-sahabatnya. Ginny dan Harry menceritakan kehidupannya selama ini dan begitupula dengan Ron serta Luna. Memang mereka beberapa kali bertemu di New York saat Harry dan Ron mengunjungi Hermione dan saling berkabar dengan surat juga dilakukan mereka, tapi rasanya sangat berbeda kali ini. Karena mereka melakukan pertemuan ini di London, kampung halaman mereka.
"Jadi, Rose dan Albus akan berada dalam satu angkatan tahun ini?" tanya Hermione yang baru saja menghabiskan makan siangnya.
Sontak Ginny dan Luna mengangguk. "Begitupula dengan Alistair. Bukan begitu, Hermione?" ujar Ron.
Wanita yang hari ini mengenakan dress hitam selutut dengan lengan panjang sebagai detailnya itu turut mengangguk. "Ya, benar. Ia mendapat surat dari Hogwarts saat kami masih di New York. Dan dia juga mendapatkan surat dari Ilvermorny."
"Dan ia berakhir di Hogwarts karena kau mendapatkan pekerjaan ini, bukan?" tanya Harry.
Hermione menggeleng. "Aku memintanya memilih. Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu minggu, Alistair memutuskan untuk ikut denganku dan memilih Hogwarts," jelas Hermione.
Tawa langsung terdengar dari mulut Ron. "Jika aku disana, aku akan langsung mencuci otaknya agar tanpa berpikir panjang Alistair akan langsung memilih Hogwarts," ucapnya setelah menyesap minumannya.
"Hogwarts yang terbaik , Mione. Ia tak akan salah memilih Hogwarts," tambah Ron.
"Setuju," sambar Harry.
Tawa kembali terdengar dari meja mereka. Perbincangan terus mengalir. Semua hal mejadi topik mereka siang ini. Mulai dari kehidupan Ginny setelah pensiun dari karirnya sebagai atlet Quidditch, pekerjaan Luna yang telah sukses menjalankan usaha surat kabar The Quibler peninggalan ayahnnya, hingga situasi Kementerian Sihir Inggris, lembaga yang menaungi Harry dan Ron sebagain Auror. "So, Hermione, kau mengatakan padaku bahwa kau sudah menyewa apartemen di daerah London?" tanya Ginny yang kini membuka topik mengenai kehidupan dari bintang utama dari makan siang hari ini.
Hermione mengangguk. "Aku menyewa apartemen yang berlokasi tak jauh dari St Mungo."
"Kau tak berencana untuk membeli rumah?" tanya Luna yang dijawab dengan kedikan bahu dari Hermione.
Kening Harry mengerut. "Kau tak berencana membeli rumah? Apakah kau tak berencana untuk menetap selamanya di London?"
Jujur saja, Hermione juga tak tahu apakah ia akan menetap selamanya disini atau akan pergi di kemudian hari. Masa depan masih berupa misteri baginya. Satu sisi ia ingin sekali kembali dan menetap selamanya di kota ini. Namun, sisi lainnya ia tak tahu apakah ia sanggup menghadapi sosok yang ia hindari selama ini? Bagaimana jika ia bertemu dengan sosok itu? Ia tak tahu bagaimana cara menghadapinya? Dan baru memikirkannya saja sudah membuatnya mual.
"Hermione?"
Suara dari Harry kembali membawanya keluar dari pikirannya. "Aku tak tahu apakah akan menetap selamanya atau kembali ke New York," jawab Hermione pada akhirnya.
"Aku masih memiliki apartemen disana dan rumah sakit tempatku bekerja masih bersedia menerimaku kembali jika aku memutuskan untuk kembali," kekeh Hermione
"Apakah hal ini karena…."
Harry tak melanjutkan perkataannya. Semua orang di meja itu paham betul akan sosok yang dimaksud olehnya. "Setahuku ia bekerja di salah satu rumah sakit di Irlandia," ujar Luna.
"Kapan kau terakhir melihatnya?" tanya Hermione.
"Tiga tahun lalu."
Hermione tersenyum kaku. Tiga tahun lalu dan mungkin saja ia kini berada di London sama seperti dirinya. "Apakah kalian pernah melihatnya di St Mungo?" tanya Hermione pada keempat sahabatnya yang langsung dijawab dengan gelengan.
"We're not fans of hospital, Mione," ucap Ron.
"Lagipula St Mungo itu terlalu luas. Kau pasti tak akan bertemu dengannya," tambah Ginny untuk menenangkan.
Hermione hanya mengangguk. Dia berharap kalau semua hal yang ada di kepalanya tak akan terjadi. Bahwa ia tak akan lagi pernah bertemu denganya. Bahwa sosok itu masih bekerja di Irlandia. Untuk menghalau semua pikirannya, wanita itu langsung menyesap habis wine di tangannya hingga kandas. Hal ini mengundang tatapan dari sahabat-sahabatnya dan ia hanya mengedik.
000
St Mungo's Hospital
Tepat pukul 9 pagi, Hermione sudah berada di lobi rumah sakit ini. St Mungo Hospital tidaklah asing baginya. Ia menghabiskan masa sekolah dan Intern Program-nya disini bertahun-tahun lalu. Ada begitu banyak hal yang berubah dari segi interior dan penataannya namun harum dan suasannya tetaplah sama. Hermione mengedarkan pandangannya hampir ke seluruh sudut lobi ini dan tatapannya jatuh pada seorang pria paruh baya yang melambaikan tangan padanya. Sontak Hermione tersenyum lalu berjalan ke arahnya. Pria itu menyalami Hermione yang dibalas dengan pelukan hangat dari wanita yang hari itu memakan dress berlengan panjang selutut bewarna navy lengkap dengan coat bewarna cream yang senada dengan heals yang ia kenakan.
"Apa kabar, Professor Sinistra?" tanyanya saat ia melepaskan pelukannya tadi.
Pria itu sedikit membenarkan kacamatanya yang merosot dari hidungnya. "Aku sangat baik. Bagaimana kabarmu murid terbaikku?" pria itu balik bertanya.
"Aku siap bekerja untukmu, Sir," balasnya sambil terkekeh.
Suara tawa renyah mereka terdengar di lobi itu sembari mereka berjalan menuju ruangan para Healer Surgeon di rumah sakit ini. Arthur Sinistra adalah guru bagi Hermione sejak ia menempuh pendidikan healer-nya sampai ia menjalani Intern Program di St Mungo. Saat Hermione memutuskan keluar dari program-nya, Professor Sinistra-lah sosok yang paling mempertanyakan akan keputusan itu. Akhirnya ia mengetahui setelah beberapa tahun kemudian bahwa mantan murid kesayangannya itu sudah sukses menjadi Healer Surgeon di Amerika. Dan kini ia tak sabar untuk bekerja sama dengannya di ruman sakit ini.
"Kau sudah berkeluarga?" tanya Professor Sinistra pada Hermione saat mereka memasuki sebuah lorong di rumah sakit ini.
Hermione tersenyum. "I have a child," jawab Hermione cepat.
Seakan tahu bahwa topik ini bukanlah hal yang ingin dibicarakan secara gamblang oleh Hermione Granger, Professor Sinistra mengalihkan arah perbincangan ini. Mereka membahas banyak hal, kecuali kehidupan pribadi wanita itu. Mulai dari perubahan interior dan tata letak ruangan St Mungo hinggga program magang serta residensi di rumah sakit sihir ini.
"Jadi, aku akan memimpin General Surgery Division lengkap dengan segala wewenang yang akan kau berikan kepadaku?" tanya Hermione yang langsung disambut dengan anggukan oleh Professor Sinistra.
"Kau berwenang atas segala sesuatu di divisi itu. Dari peraturan, program magang dan residensi serta fellowship hingga anggaran keuangan," balas Professor Sinistra
Kali ini Hermione yang mengangguk setelah mendengar penjelasan dari mantan gurunya selama ia menempuh pendidikan Healer dulu ini. "Tapi aku masih tetap mengoperasi bukan?" tembak Hermione langsung.
Pria paruh baya itu terkekeh. "Tentu saja, Healer Granger. Aku memperkerjakanmu karena kau adalah General Healer Surgeon terbaik yang pernah kukenal. Tentu saja kau harus mengoperasi pasien-pasienmu."
"Aku yakin kau akan lebih bahagia berada di ruang operasi daripada di balik meja dengan perkamen-perkamen anggaran serta administrasi, bukan?" tambah Professor Sinistra.
Pernyataan itu disambut tawa oleh Hermione. "Kau masih memahami diriku ternyata."
Tur singkat St Mungo ini berlanjut di sebuah ruang istirahat yang berisikan para Healer Surgeon, baik itu attending, fellow, resident, bahkan para intern. Scrub suit berwarna biru tua, biru muda serta hijau tua itu mewarnai ruangan yang terlihat lumayan ramai di pagi ini. Ketukan dari Professor Sinistra membuat mereka menghentikan aktifitas mereka masing-masing. Semua mata tertuju pada Chief of Surgery Department dan tentunya pada Chief of General Surgery Division terbaru rumah sakit ini.
"Hi," sapa Professor Sinistra pada semua penghuni ruangan itu.
"Semoga aku tak mengganggu waktu istirahat kalian, namun ada seseorang yang ingin aku perkenalkan pada kalian," tambah Professor Sinistra.
Professor Sinistra menggeser posisinya dan membiarkan pandangan mereka benar-bernar terfokus pada wanita muda di sisinya. Hermione Granger berdiri canggung ketika semua mata menatapnya. Suara-suara yang tadi terdengar jelas juga lenyap dalam sesaat. "Perkenalkan Chief of General Surgery Division kita, Healer Surgeon Hermione Granger," ujar Professor Sinistra.
"Hermione Granger? Kau Hermione Granger, Healer Surgeon dari New York Magical Hospital?" tanya seorang Healer Sugeon yang mengenakan scrub suit bewarna biru muda dengan nada takjub.
Hermione mengangguk yang disambut dengan bisikan riuh rendah dari isi ruangan itu. Tanpa tedeng aling-aling lagi, beberpa intern yang mengenakan scrub suit hijau tua menyambanginya lalu menyalaminya dengan senyum sumeringah bak anak kecil mendapatkan setumpuk cokelat. "Senang bertemu denganmu, Healer Granger," ujar dari salah satu intern itu.
"You're a legend," intern lain ikut menyalaminya kali ini.
"Senang akhirnya bisa bertemu dan kelak belajar darimu, Healer Granger," ujar intern lainnya.
Kening Hermione mengerut dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya berusaha tersernyum dan tetap menyalami mereka walau terasa amat canggung. Melihat hal ini Professor Sinistra terkekeh lalu menghentikan kegiatan para intern serta residen yang tetiba saja juga ikut menyalami Hermione. "Kalian memiliki banyak waktu untuk belajar dari Healer Granger," ujar Professor Sinistra untuk kemudian mempersilahkan Hermione keluar dari ruangan itu.
Masih dalam perasaan yang takjub akan tingkah laku para intern dan residen tadi, Hermione mengekori Professor Sinistra untuk ke pemberhentian selanjutnya. "Kau terkejut dengan reaksi mereka?" tanya Professor Sinistra yang langsung saja dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
Lagi-lagi Hermione mengangguk. Ia tak menyangka dirinya sangat terkenal di rumah sakit ini. Ia bahkan sudah lebih dari satu decade meninggalkan kota bahkan negara ini. "Mereka mengenalmu melalui semua studi ilmiah dan penelitian yang kau lakukan, my dear," jawab Professor Sinistra.
"Mungkin ragamu berada di New York, tapi hasil kerja kerasmu, seluruh studi ilmiahmu serta penemuamu dalam bidang pembedahan sihir modern sudah terdengar ke seatero dunia, Hermione," tambahnya lagi.
Selain menjadi Healer Surgeon, Hermione Granger juga diketahui sebagai peneliti dan penemu metode-metode baru dalam dunia pembedahan sihir modern. Hampir seluruh Healer Surgeon di dunia sihir USA mengadopsi teknik pembedahannya, namun ia tak tahu jika penelitiannya juga dipakai disini. Hal inilah yang membuat ia sangat terkejut dengan tingkat keterkenalan dirinya di negara ini. Meski studi ilmiah serta karyanya sudah amat sangat terkenal di luaran sana, Hermione Granger sangat jarang tampil di ruang publik. Ia bahkan tak pernah datang ke malam apresiasi saat studi ilmiahnya mendapatkan penghargaan. Jika ada yang ingin menemuinya, ia mempersilahkan mereka untuk mengunjunginya di rumah sakit tempat ia praktik. Namun jangan berharap untuk pulang dengan membawa foto atau hasil wawancara dengan dirinya untuk. Semua itu pasti nihil hasilnya. Seluruh jurnal ilmiah yang ia tulis sudah lebih dari cukup baginya untuk membagikan hasil penelitiannya dengan khalayak ramai. Ia hanya tak ingin dirinya menjadi konsumsi public. Karena ia tahu sekali saja dia berurusan dengan wartawan, kehidupan pribadinya akan terkuak dan ia amat sangat tak menginginkan hal itu. What's private will stay private.
Secara tak sadar ia sudah sampai di sebuah ruang meeting yang telah berisikan para kepala divisi dari berbagai divisi pembedahan di rumah sakit ini. Professor Sinistra mulai memperkenalkan satu per satu dari mereka. Ada sekitar delapan divisi atau bidang pembedahan di rumah sakit sihir ini. Antara lain adalah Bedah Umum dimana sekarang Hermione Granger-lah yang menjadi kepala dari divisi itu. Lalu ada Bedah Saraf, Bedah Toraks dan Kardiovaskular, Bedah Onkologi, Bedah Orthopedy, Bedah Anak, Bedah Urologi, serta Bedah Plastik dan Kecantikan.
"Dimana Chief of Cardio kita?" tanya Professor pada mereka.
"Dia sedang menghadiri konferensi untuk Cardio Surgery di Surrey sampai dua hari ke depan jika aku tak salah dengar," jawab Abraham Fudge yang merupakan Chief of Neuro.
Professor Sinistra mengangguk lalu memulai meeting pertamanya dengan para kepala divisinya pagi ini.
000
Sudah hampir satu minggu Hermione Granger menduduki jabatan barunya. St Mungo sangat berubah total dari ingatan terakhirnya tentang rumah sakit ini saat menjadi intern. Ia beberapa kali tersesat menuju ruang operasi dari ruang prakteknya, atau ER (Emergency Room) bahkan dari ruangannya sendiri. Namun ada beberapa hal juga yang tak berubah dari rumah sakit sihir ini. Perawat kamar operasi kesayangannya – Marry Gold – yang kini sudah memasuki usia senja masih mengabdi disini, bahkan ia masih mengenali Hermione hingga memeluknya sambil meluapkan kegembiraannya karena ia kembali ke rumah sakit ini. Selain itu cafeteria rumah sakit sihir inipun tak berubah sedikitpun. Hermione tersenyum bahagia saat melihat beef stew dan kentang tumbuk masih menjadi primadona andalan untuk para Healer Surgeon yang melepas lapar setelah mengoperasi pasien selama berjam-jam lamanya. Bahkan rasanya masih sama dan tak kurang sedikitpun.
London tengah diguyur hujan yang sangat lebat sore ini. Seluruh jendela tertutup oleh tumpahan air dari langit hingga tak ada sedikitpun pemandangan yang terlihat dari cafeteria ini. Hermione baru menyelesaikan separuh beef stew dan kentang tumbuknya saat penyerantanya berbunyi . ER. Dengan sedikit terburu-buru ia menenggak air mineralnya lalu berlari ke ruangan itu.
Seorang perawat ER sudah memberikan chart pasien pada Hermione saat ia memasuki unit gawat darurat itu. "Pria, 23 tahun, ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya dan terjadi pembengkakan pada dadanya," jelas seorang perawat di ER itu ketika Hermione membaca chart yang diberikan kepadanya.
Hermione mengembalikan kembali chart yang ia terima tadi untuk kemudian memeriksa langsung pasien tersebut mengenakan stetoskop sihirnya. Ia juga memeriksa memar serta pembengkakan yang berada di dada pasien. "Terjadi pendarahan di paru-paru dan jantungnya," ucap Hermione setelah melakukan pemeriksaan kepada pasien tersebut.
"Page Cardio and book an OR now," tambah Hermione lagi kepada salah satu residen yang membantunya sedari tadi.
"Baik, Healer Granger," sahut residen itu tanpa basa-basi.
Hermione memeriksa lebih lanjut dengan menggunakan echocardiography sihir untuk lebih memastikan diagnosanya sebelum Healer Surgeon dari divisi cardio datang. "Damn it, pendarahannya sangat besar," rutuk Hermione saat melihat hasil tes tersebut.
Kembali ia meletakannya stetoskop sihirnya pada tubuh pasien sambil berseru. "Dimana Healer Surgeon dari Cardio? Aku butuh sekarang juga!"
"Cardio's here," jawab seseorang di belakangnya dengan sangat tenang.
"Terjadi pendarahan sangat besar pada paru-paru dan jantung pasien. Aku sudah mem-booked OR. Kau bisa membaca chart dan hasil echocardiography-nya. Dia butuh dioperasi saat ini juga," jelas Hermione yang baru saja melepaskan stetoskop sihirnya tanpa melepaskan pandangannya dari pasien di hadapannya.
"Kau bisa mundur sebentar agar aku dapat memeriksanya sebelum kita membawanya ke OR," balas suara di belakannya.
"Sure," wanita itu mengangguk untuk kemudian berbalik dan menatap lawan bicaranya sedari tadi.
"Granger," ucap lawan bicaranya terkejut.
"Malfoy."
000
should I continue this?
let me hear what's on your thought:)
