Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Seven
l
Draco duduk di depan bar dengan segelas bir dingin di tangan, lelehan air kondensasi berlomba menuruni sisi gelas. Pria itu menunggu kedatangan teman Slytherin nya, dari semua teman satu asramanya hanya Blaise yang masih rutin ia temui. Walaupun yang mereka lakukan hanya minum alkohol dan mengeluh tentang pekerjaan.
Ping.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, mata pria itu melirik layar pada ponselnya yang ia taruh di atas meja. Hermione Granger. Nama yang langsung membuatnya membuka isi pesan tersebut. Perempuan itu mengiriminya list film muggle seperti yang Draco minta, juga tempat untuk meminjam dvd di dunia muggle.
"Oi mate," sapa Blaise yang baru saja berapparate muncul.
"Long day?" tanpa perlu berbicara helaan nafas blaise sudah bisa menjawabnya.
"Earl segelas bir," ucapnya pada bartender, Blaise duduk dan meregangkan otot-otot bahunya.
Setelah bartender menggeser segelas ke depan Blaise, Draco mengangkat gelasnya untuk bersulang "Demi anak."
Dengan cepat pria berambut hitam itu langsung menegak setengah dari minuman nya sedang Draco hanya meminum satu dua tegukan sebelum kembali meraih ponselnya. Senyumnya melebar saat melihat tulisan yang terpampang di layar.
"Apa yang lucu?" tanya Blaise yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ah, tidak." Pria itu buru-buru mematikan cahaya layarnya.
Blaise memicingkan mata curiga dengan sekali ayunan tangan ia merebut ponsel Draco, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pria itu langsung membuka kotak pesan di ponsel tersebut. Matanya terbelalak saat melihat sebuah nama bertengger di paling atas.
"Jadi rumornya benar?" tanya Blaise sambil memutar ponsel menunjukkan layar sebagai bukti.
"Rumor apa?" Draco mengrenyitkan dahi.
"Kamu dengan Granger," jawab Blaise. "Setelah reuni kemarin nama kalian hangat dibicarakan."
"Kabar burung."
Blaise mengarahkan layar ponsel pria itu ke depan matanya, "Lalu ini apa."
"Hanya bertukar pesan, tidak ada yang spesial dari itu."
"Ayolah mengaku saja."
"Kami tidak ada hubungan apa-apa!"
"Hidung mu memanjang tuan pinokio," Blaise mencolek ujung hidung pria berambut silver itu. "Kamu tertarik padanya kan?"
Draco menelan ludahnya gugup. Tidak bisa dipungkiri mata kelabunya ini sangat senang memandang perempuan itu tanpa sebab, kalau ini bukan definisi tertarik lalu apa.
"Mungkin," jawabnya hampir berbisik berharap Blaise tidak mendengarnya.
"Ayo coba katakan lebih keras," canda pria itu diikuti dengan Draco mendorong pipi Blaise menjauh.
Mereka kembali menegak minuman bersamaan, kali ini Draco yang meminum lebih banyak otaknya butuh alkohol.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak ada." Jawab Draco simpel.
"Penakut," cibir temannya.
"Aku sudah terlalu tua untuk urusan begitu, lagi pula aku harus mengurus Rena."
Tangan coklat Blaise langsung menutup mulut Draco rapat-rapat, "Shhh, jangan jadikan anakmu alasan. Ayah juga butuh bersenang-senang."
"Aku bisa bersenang-senang sendiri," pria berambut silver itu melepaskan tangan Blaise dari mulutnya.
"Tapi dengan Granger kamu bisa bersenang-senang di ranjang," ucap Blaise diikuti dengan seringai menggoda, Draco memutar bola matanya malas.
"Tidak lucu."
"Maaf, maaf, hanya bercanda." Lanjut Blaise. "Tapi serius, kamu tidak ingin memiliki hubungan lebih dengan Granger? Kamu terlihat lebih 'hidup' semenjak bertemu dengannya."
"Berteman saja cukup."
"Is that what you really want?"
Draco diam tak menjawab.
-o0o-
Lobby gedung yang tidak cukup besar sudah dipenuhi orang, saling berdesak mengantri ingin memasuki Ruang Theater. Karena keadaan penuh sesak Hermione memutuskan untuk menitipkan stroller dan menggendong Arthur sampai mereka bisa duduk tenang di kursi. Untung saja hari itu anak lelakinya sedang dalam keadaan baik, bahkan ia tidak menangis ditengah desakan orang-orang ini.
"Granger!" sebuah suara yang familiar terdengar dari kejauhan, pria pirang itu melambaikan tangan dari sisi lain lobby.
"Hei, dimana Rena?" tanya Hermione setelah posisnya cukup dekat untuk berbicara tanpa berteriak.
"Sudah di backstage," lalu tanpa di minta Draco langsung mengambil tubuh anaknya untuk digendong, pria itu tau Arthur cukup berat dan tidak ingin tangan perempuan itu kelelahan. "Ayo masuk."
Mereka berdua memasuki theater dan mencari nomor kursi yang tertera pada tiket masing-masing.
"13, 14, 15," Hermione menghitung deret kursi dengan telunjuknya, ia berjalan terlebih dahulu menuju kursi memastikan tempat mereka untuk Draco dan Arthur.
"Oh my god! Hermione Granger?" suara melengking tiba-tiba menusuk tajam telinga Hermione. "Is that really you?"
Ah dia tau milik siapa suara cempreng ini, dengan malas perempuan itu membalikan badan dan tersenyum tidak ikhlas. Gretchen Wieners, teman satu asramanya di Gryffindor. Saat di Hogwarts dulu ia lebih dikenal dengan sebutan 'Mami' karena dia ratu dari para tukang gossip.
"Gretchen hai!" Hermione berusaha basa-basi. "Sedang apa disini?"
"Anak ku akan perform she's very talented, dia ditunjuk menjadi penari utama." Tidak berubah, wanita ini tetap saja sibuk menyombongkan apapun tentangnya. "Kamu sendiri?"
"Umm aku, sebenernya aku—"
"Kursi kita disini?" tanya Draco yang muncul sambil menggendong anaknya.
"Draco Malfoy, si tampan dari Slytherin" mata coklat Gretchen membesar saat melihat pria itu berdiri berdampingan dengan Hermione. "Sedang apa kamu disini?"
Gretchen menyilangkan lengan, sejenak berpikir sebelum kembali membuka bibir merahnya. "Kalian bersama?"
"Ya, kami akan menonton penampilan anakku" Ucap Draco singkat.
"Interesting," senyum jahil menyungging dari bibir Gretchen.
"Baiklah kami akan duduk, nice to see you Grertch." Perempuan berambut coklat itu langsung buru-buru menarik lengan Draco sebelum pria mengatakan lebih banyak.
"Bersiaplah," bisik Hermione saat mereka sudah duduk.
"Bersiap?" Draco mengulangnya bingung.
"Kita akan jadi bahan gossip baru si mami, she's a mini Rita Skeeter." ucap Hermione sambil menunjuk Gretchen dengan ujung dagu.
Sesaat Draco melirik perempuan berkuku akrilik yang tidak jauh dari kursi mereka, "Rumor tentang kita juga sudah tersebar."
"Apa?" tanya Hermione karena tidak mendengar jelas apa yang baru saja pria itu katakan.
"Nothing." Jawabnya cepat sambil menaruh Arthur pada kursi ditengah mereka.
Ping.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Draco, mata pria itu terbelalak saat membukanya. Wajahnya langsung berubah pucat. "Granger aku harus pergi," ucapnya dengan tergesa-gesa. "Terjadi penyeranga pada Minister of Magic Australia di Taman Wembley."
"Bagaimana dengan penampilan Rena?" perempuan itu menahan lengan Draco.
"Aku akan kembali saat bagian nya," Draco yang sudah siap berlari kembali membalikan badannya. "Jika aku tidak kembali tolong temui dia di backstage dan sampaikan maafku."
Bahu pria itu hilang dengan cepat meninggalkan Hermione yang menganga tidak tau harus berbuat apa. Ini penampilan yang penting untuk Rena namun di sisi lain ada hal penting yang harus ia urus. Lampu theater yang mulai meredup membuat hati Hermione semakin tidak tenang.
Terdapat empat bagian dari pertunjukkan dan Rena tampil pada sesi kedua, perempuan itu yakin Draco tidak akan kembali tepat waktu untuk menonton pertunjukkan putrinya.
Sudah 20 menit berlalu. pertunjukkan sesi pertama berjalan dengan lancar dan batang hidung Draco belum juga muncul. Hermione semakin tidak tenang, perempuan itu menggigit bibirnya sambil terus memandang kearah pintu masuk tidak memperdulikan penampilan di atas panggung. Kini Draco sudah benar-benar terlambat, sesi kedua sudah dimulai.
Dengan gaun lavendernya Rena dan teman-temannya memasuki panggung dan mulai menari dengan anggun, badan nya yang lentur dengan halus bergerak mengikuti irama. Berputar-putar mengembangkan rok tutunya dan melompat dengan indah. Memang usaha tidak bisa menghianati, hari-hari yang gadis itu habiskan di studio terbayar sudah dengan penampilan ini. Mata Arthur pun berbinar-binar saat menyaksikan Rena berputar diatas panggung, jagoan kecilnya sampai berhenti memainkan mobil-mobilannya.
Hermione masih berharap pria itu tiba-tiba muncul, bisa menyaksikan walau hanya dua detik. Kenyataannya sampai seluruh petunjukkan selesai Draco belum kembali, ini artinya dia harus menyampaikan berita buruk ini pada Rena. Hermione menghela nafas lemas, tidak ingin membuat gadis manis itu bersedih karena ini.
Setelah semua penari membungkuk memberi salam perpisahan, lampu theater kembali dinyalakan. Hermione berlari dengan cepat ke kamar mandi, ia membuat seikat bouquet bunga dengan tongkatnya lalu kembali ke ruang Theater. Semua penari tengah sibuk berfoto dengan kerabat masing-masing, mata coklat madu perempuan itu memindai seisi ruangan mencari gadis kecil dengan rambut silver.
"Dokter Granger!" Rena terlebih dulu menemukannya, gadis itu masih menggunakan kostum balletnya dan berlari lalu memeluk Hermione dengan kencang.
"Ayah dimana?" Hermione menelan ludahnya gugup.
"Dia harus pergi, ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan."
Cahaya di mata gadis itu langsung sirna, wajahnya tidak lagi sumingrah. "Oh begitu."
"Rena ayo kemari ibuku mau mengambil foto!" seru salah satu temannya dari atas panggung, gadis itu langsung menaikan lagi sudut bibirnya berusaha tersenyum.
Bisa terlihat jelas gadis itu sangat iri melihat teman-teman nya berfoto dengan keluarga masih-masing, sedang ia hanya berdiri sendirian.
"Kita foto yuk," ajak Hermione sambil mengeluarkan kamera dari tasnya, perempuan itu meminta tolong seseorang untuk mengambilkan foto mereka bertiga.
"Foto ini nanti akan ku pajang di kantor, karena kamu adalah gadis spesial untukku." lanjut Hermione.
"Aku…. spesial?"
"Tentu saja, kamu gadis paling berani dan kuat yang pernah ku temui."
"Apa Dokter Granger menyayangiku?"
"Aku menyayanimu seperti anak sendiri," senyum tulus Rena akhirnya mengembang, gadis itu langsung memeluk Hermione dan Arthur.
"Penampilan yang indah Rena, terima kasih atas kerja keras mu."
-o0o-
Draco tidak kunjung kembali jadi Hermione lah yang mengantarkan Rena pulang dan mereka makan siang bersama di Malfoy Manor. Setelah Draco pulang Hermione langsung berpamitan dan kembali kerumah.
Hari sudah gelap namun otak Hermione masih terus memikirkan keadaan Rena, nasibnya malang sekali hari ini. Perempuan itu menghela nafas panjang, ini diluar kuasa Hermione. Draco tidak bisa disalahkan, ia harus menyelesaikan urusan genting seperti tadi apalagi ini menyangkut masalah nyawa manusia.
Tidak ingin terlarut dalam pikiran tentang keluarga Malfoy, Hermione meraih buku di nakasnya dan melanjutkan bacaan yang sempat terhenti. Tiba –tiba suara ponsel yang baru berdering mengganggu konsenterasinya membaca buku. Hermione mengambil ponsel yang sedang ia isi batrenya.
"Ha—"
"Apakah Rena bersamamu?" kalimat ini langsung memotong masuk sebelum sempat Hermione mengucap salam.
"Rena? Tidak. Ada apa Malfoy?"
"Rena kabur bersama peri rumah," Draco bicara sangat cepat, dari suaranya bisa terdengar kegelisahan.
"Tenang dulu, coba pikirkan tempat yang kira-kira ia datangi."
"Aku sudah mengecek ke semua tempat, rumah kakek neneknya, rumah Daphne, makam Astoria, Diagon Alley, seluruh teman balletnya, hingga semua taman di dekat rumah."
Mata Hermione terpaku pada sebuah lukisan di kalender gantung nya, "Sepertinya aku tau Rena ada dimana."
"Kamu tau?"
Perempuan itu menekan dahinya dengan telunjuk, berusaha mengingat sebuah tempat yang pernah Rena ceritakan pada sesi konseling. Matanya mengerjap mendapatkan setitik petunjuk, ia tau Rena ada dimana.
"Pantai, Cornwall." ucapnya pada diri sendiri. "Pantai Fistral! Pantai favorit Astoria." Seru Hermione saat akhirnya menemukan jawaban.
Tanpa berkomentar Draco langsung menutup telepon dan berapparate kesana. Karena hatinya tidak tenang Hermione mengambil monitor bayinya dan ikut berapparate ke Pantai Fistral di Cornwall. Saat perempuan itu sampai Draco sudah terlebih dahulu menemukan Rena. Gadis itu meringkuk memeluk lututnya di pinggir pantai ditemani peri rumah.
"Verena Philippe Malfoy!" suara Draco kencang beradu dengan dentuman ombak malam.
Melihat wajah ayahnya yang sudah siap marah dengan gesit Rena berlari dan memeluk Hermione, menyembunyikan wajahnya dibalik badan perempuan itu. Pelukan gadis itu sangat kencang sampai Hermione tidak bisa bergerak.
"Apa yang kamu pikirkan? Ayah sangat khawatir!" seru Draco.
"Aku mau tinggal bersama Dokter Granger saja," teriak Rena ia mulai terisak kencang. "Ayah membenci ku, ayah selalu membenci ku."
"Rena sayang, ayahmu tidak membencimu." Hermione berusaha menenangkan Rena.
Draco mendekati putrinya dengan perlahan, tubuhnya tak jejak, kakinya terhisap dalam pasir tiap ia melangkah. Pria itu berlutut di samping putrinya, dengan lembut ia meraih tangan Rena.
"Dua minggu setelah kamu lahir ibu mengalami pendarahan besar, kita hanya berdua di kamar rawat menunggu hasil operasi ibu, ayah takut sekali. Takut ibumu tidak akan kembali bersama kita. Lalu tiba-tiba tangan kecilmu meraih telunjukku, kencang sekali kamu menggenggamnya. Lalu ayah sadar ayah tidak lagi sendirian, ayah punya kamu. Kamulah yang selalu menguatkan ayah, bahkan saat kamu belum mengerti apa yang terjadi." Draco mengelus rambut silver putrinya. "Ayah tidak akan mampu membencimu."
"Maaf ayah mengacaukan hari ini, maaf aku bukan ayah yang baik selama ini." sebuah air mata mengalir melewati pipi Draco. "Mulai sekarang ayah berjanji akan selalu ada untukmu, ayah akan selalu duduk di kursi terdepan menyoraki mu sampai kamu malu." Suara pria itu bergetar. "Boleh kah ayah mencobanya sekali lagi?"
Draco menyeka pipinya yang sudah basah, "Tolong jangan tinggalkan ayah."
Tangis Rena pecah, gadis itu langsung melompat ke pelukan ayahnya. "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku." Ucapnya berulang kali.
Lengan panjang Draco mengalungi badan rapuh Rena, pria itu berusaha menguatkan dirinya namun tetap saja ia tidak bisa menahan tangis.
"Aku masih boleh tinggal bersama ayah?" bisik Rena dalam dekapan hangat ayahnya.
"Tentu saja sayang," Draco mengecup ubun-ubun putrinya.
Hermione yang dari tadi hanya menjadi penonton sunyi tersenyum lega, entah kenapa keluarga kecil di depan nya memiliki tempat spesial di hati Hermione. Setelah keadaan lebih tenang perempuan itu pamit pulang berhubung Arthur sendirian di rumah.
"I'll call you later," itu kalimat terakhir yang Hermione dengar sebelum berapparate pulang.
/ To Be Continued /
Nama Gretchen Wieners aku ambil dari film Mean Girls, karena emang pengen plek ketiplek karakternya kaya dia jadi wes namanya aku samain aja sekalian. Yuyur agak sedih nulis chap ini karena satu dan lain hal (whoops father issues) tapi seneng juga karna akhirnya anak dan bapak ini baikan.
