A/N : Sorry for takes too long to update. My brother got married and my daughter, Ghyan got a vaccinated. Everything was a mess. Haha welcome to my super excited life. So, thank you for still appreciating me and please enjoy this chapter.
Of course I own nothing but the plot and some characters
Chapter Two
Hening melingkupi ruangan steril ketika kedua healer itu tengah membersihkan tangannya sebelum memulai operasi. Suara yang sedari tadi mendominasi hanyalah kucuran air mengenai wastafel yang terbuat dari alumunium ini. Masing-masing healer sudah melepaskan aksesoris yang mereka pakai di tangan ke dashboard di hadapannya. Perlahan kedua healer itu juga menutup mulut dengan masker steril dan memulai membasuh tangan mereka dengan air yang sedari tadi sudah mengucur dari keran itu. Perlahan namun pasti, Hermione Granger membalur sabun antiseptic ke tangan kiri hingga sepanjang lengannya. Dengan cekatan ia menggosok seluruh tangannya, mulai dari ujung jari hingga seluruh lengannya. Begitupula Draco Malfoy yang baru saja ia ketahui sebagai Chief of Cardiovascular Surgery rumah sakit sihir ini.
"Jadi kau akan mendiamkanku selama pembedahan berlangsung?" tanya Draco Malfoy memecah keheningan.
Masih dengan terus membersihkan tangannya, Hermione menjawab pertanyaan itu. "Hi, Malfoy? Apa kabar? Sudah lama sekali kita tak bertemu."
"Apakah basa-basi seperti itu yang kau harapkan dariku?" tambah Hermione yang sudah mengganti lengan tangan dengan lengan kirinya untuk bergantian dibersihkan.
Draco menghela napas di balik masker yang sudah menutupi mulutnya. "Ini sudah lama sekali dan kau secara tiba-tiba muncul di hadapanku kembali," jawa Draco
"Kau takut tersaingi lagi dengan kehadiran diriku?" tanya Hermione tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
"We're not intern anymore, Malfoy," tambah Hermione dengan nada ketus yang tak pernah berubah bagi Draco meski sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tak bertemu.
Tanpa menunggu jawaban dari Draco Malfoy, Hermione menghentakkan kakinya untuk mematikan keran air tadi lalu mengetuk OR dengan kakinya untuk masuk ke dalamnya tanpa memedulikan Healer Malfoy itu lagi.
000
Proses operasi berjalan dengan sangat lancar. Hanya memakan waktu kurang dari dua jam jika melihat siapa sosok yang mengerjakannya. Ketika operasi itu berakhir dan Draco meminta residen yang menjadi assisten mereka menutup dada pasien yang sudah berhasil diselamatkan ini, tanpa berbasa-basi lagi Hermione keluar dari OR setelah mengucapkan pada healer anesthesia dan beberapa scrub nurse. Draco melihatnya melepaskan sarung tangan, penutup kepala serta masker untuk kemudian menghilang dari pandangannya.
Masih berusaha mengumpulkan semua pikirannya yang mencuat kesana dan kemari, Draco ikut keluar dari ruang operasi itu. "Page me for any update," ujarnya terakhir pada healer residen yang tengah menutup bekas luka operasi tadi.
"Well noted, Healer Malfoy."
Seperti mengikuti gerakan dari Hermione tadi, ia melepaskan sarung tangan, masker dan sarung tangannya sebelum menghambur keluar. Dia tak tahu apa yang dicarinya. Ia hanya terus berjalan sambil berharap menemukan Hermione. Lalu apa yang dia lakukan jika ia menemukan Hermione? Ia bahkan tak tahu apakah akan ada kata yang dapat keluar dari mulutnya nanti. Perasaan terkejut dan tak percaya itu masih dapat ia rasakan meski sudah menghabiskan kurang lebih dua jam di ruang operasi bersama sosok itu. Sosok Hermione bak hantu bagi Draco saat ini. Ia menghilang lebih dari sepuluh tahun dari hidupnya bahkan dari kota ini dan kini ia datang kembali seperti tak ada yang terjadi.
Semua pikirannya terbuyarkan oleh Professor Sinistra yang sedang berbincang dengan salah satu healer di nurse station. "Professor," sapa Draco padanya.
Professor Sinistra menyelesaikan pembicaraannya dengan healer itu lalu mengalihkan perhatiannya pada Draco. "Ada apa Malfoy?" tanya Professor Sinistra sambil berjalan di lorong dengan Draco di sisinya.
"Granger is the new Head of General?" tanyanya dengan suara tenang.
"Ah yaa, aku lupa memberitahumu akan hal ini. Granger sudah resmi bergabung dengan kita beberapa hari yang lalu," jelas Professor Sinistra.
"Kau sedang menghadiri konferensi di Wales jika aku tak salah ingat saat dia pertama kali bergabung kembali," tambahnya.
Draco Malfoy tak menjawabnya. Mereka hanya berjalan dalam diam. Professor Sinistra mengernyitkan dahi merasakan ada yang salah dengan salah satu staff-nya ini. Wajah Draco yang putih terlihat semakin pucat pasi. Langkah Professor Sinistra terhenti dan seketika ia memegang pergelangan Draco. Ia merasakan denyut nadi di pergelangan tangan Chief of Cardiology Department-nya. Tak hanya sampai di situ saja, ia mengeluarkan tongkat sihirnya lalu tanpa tedeng aling-aling mengecek suhu tubuh dari Draco Malfoy.
Dengan sigap pula Draco menepis tongkat sihir yang sudah berada di hadapan wajahnya. "Apa yang kau lakukan Sinistra?" tanyanya kesal.
"Wajahmu tampak semakin pucat dari biasanya dan kau tiba-tiba saja terdiam, aku takut kau terkena serangan jantung," jelas Professor.
Draco menatap Professor ini dengan expresi yang sangat datar namun tak dapat menutupi kekesalannya. "Aku baik-baik saja."
Professor Sinistra mengedikan bahunnya. "Baiklah jika begitu."
Baru saja pria paruh baya itu hendak meninggalkan tempatnya, Draco kembali membuka suara. "Kenapa kau memilih Granger untuk posisi Chief of General?" tanyanya.
Professor Sinistra membenarkan posisi kacamatanya sejenak dengan sedikit mengerutkan dahinya. "Kenapa kau tiba-tiba saja tertarik dengan siapa yang aku hire untuk menduduki sebuah jabatan di rumah sakit ini?" Sinistra berbalik tanya.
"Tak ada alasan khusus," jawab Draco cepat.
"Granger sangat professional dan mumpuni di bidangnya. Hampir semua risetnya sangat berguna di bidang pembedahan sihir."
Draco tampak sedikit mengangguk. "Dimana selama ini ia berkerja?"
Professor Sinistra tersenyum tipis lalu menggeleng. "Kau pernah berada di program magang yang sama dengannya dan kau akan menjadi rekan sesama attending di rumah sakit ini. Kau bisa menanyakan semua hal ini padanya."
Tanpa menunggu apa-apa lagi dia langsung meninggalkan Draco Malfoy yang hanya terdiam.
000
Dengan bermodal seluruh rasa penasaran dalam hidupnya, Draco berjalan cepat ke perpustakaan rumah sakit ini. Dengan sigap dia membuka komputer sihir untuk tersambung dengan koneksi internet. Dia mencari nama Hermione Granger dan keluarlah semua artikel mengenai riset dan karya ilmiah miliknya, namun tak ada satupun laman yang membahas profil mengenai kehidupan pribadinya. Draco menghela napas, kemana saja dia selama ini. Dia sama sekali tak terpikir untuk mencarinya karena Granger menghilang begitu saja setelah berita pertunangannya dengan Astoria tersebar dan Draco sama sekali kehilangan kontak dengannya. Kenapa ia sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mencari Granger di rumah sakit sihir lainnya? Tapi untuk apa juga ia mencarinya? Lalu kenapa tetiba saja ia kembali saat ini? Otak Draco dipaksa untuk berpikir tentang hal ini. Namun satu hal yang ia tahu, ia senang melihat Granger kembali di hadapannya. Dan ia menghela napas karena menyadari hal itu.
Setelah puas mencari tahu perihal Granger di internet, Draco melanjutkan mencari literatur-literatur yang berisikan karya Granger untuk kemudian membacanya. Tak terasa sudah lebih dari satu jam ia berada di perpustakaan itu. Kekhusuyuannya terbuyarkan oleh getaran penyerantanya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam dan ia memiliki jadwal bypass surgery malam ini. Ia merapihkan buku-buku serta literatur-literatur itu ke tempatnya sebelum berjalan meninggalkan ruangan itu.
Langkah Draco terhenti sesaat sebelum ia masuk ke ruang operasi. Ia melihat Granger berdiri di nurse station dengan sebuah pena bulu di tangannya. Ia terlihat lelah dari kejauhan. Granger masih mengenkan scrub caps-nya, Draco berasumsi ia baru saja menyelasaikan sebuah operasi. Draco masih menatapnya dari kejauhan saat Granger beralih dari perkamen di nurse station menuju ruang ICU tempat dimana pasien perdana mereka di rumah sakit ini berada. Ruangan itu transparan. Draco kembali memandangnya. Wanita itu memasukan stetoskop sihir ke telinganya lalu memulai obeservasinya. Granger juga tampak memeriksa kantung urin yang tersambung dengan kateter di tubuh pasien itu sambil sesekali berbicara dengan residen yang mendampinginya. Tatapan Granger dan Draco bertemu saat healer itu keluar dari ICU tadi. Mereka hanya saling mematung untuk kemudian Draco masuk ke ruang operasi tanpa menunjukkan sedikitpun emosi.
000
Draco Malfoy terbangun dari tidurnya pagi ini. Ia mengusap mata sebelum bangun untuk membuat kopi paginya. Draco menyelesaikan operasi terakhirnya tadi malam sekitar dini hari dan langsung pulang setelah merasa pasiennya sudah berada dalam keadaan stabil dan menyerahkan tanggung jawab monitoring hingga pasien itu sadar pada residen dan healer-healer intern-nya. Tidak seperti para residen dan intern yang akan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di rumah sakit, attending seperti dirinya akan langsung menghambur pulang jika tak ada lagi pasien yang gawat atau pekerjaan lainnya.
Suasana bulan September di London terlihat sangat sendu. Musim panas sudah perlan tergantikan dengan gugurnya dedauanan dan angin yang sudah tak lagi malu menunjukkan wujudnya. Draco membuka jendela di dapurnya dan semerbak harum tanah yang basah menyeruak di penciumannya. Ia mengintip sejenak keluar sana dan gerimis halus terlihat jelas dari dapurnya. Sambil perlahan menyesap long black coffee yang sudah menjadi teman hidupnya sejak masih menjadi intern itu, ia bersandar di kitchen island-nya.
Pikirannya kembali pada sosok yang baru ia temui lagi setelah lebih dari sepuluh tahun menghilang dari pandangannya. Sosok itu tak berubah sedikitpun baginya. Segalanya masihlah seperti Hermione Granger yang dulu ia kenal. Cara ia berbicara, berjalan, model kepang rambut saat ia hendak mengoperasi pasiennya, bahkan cara ia berpikir di meja operasi semuanya tampak sama. Namun ada hal yang menelisik pikiran Draco dan tanpa sadar membuat ia tersenyum. Hal itu adalah scrub caps yang dipakai oleh Hermione Granger. Scrub caps yang ia kenakan kemarin bewarna biru muda dengan corak awan putih yang berarak. Hal itu mengingatkan Draco pada perbincangan mereka berpuluh tahun saat menjadi seorang intern.
Hermione merenggangkan seluruh otot-otot dalam tubuhnya setelah melakukan lebih dari 8 jam operasi Exploratory Abdominal Surgery pada pasien dengan diagnosa kanker pancreas yang ternyata sangat tidak mujur karena kanker-nya sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ di rongga perutnya. Sebagai intern yang terpilih, Draco dan Hermione sangat bersemangat di awal lalu perlahan ingin menyerah dan memilih ikut mati ketimbang melakukan prosedur operasi 8 jam ini lagi.
Saat itu musim panas. Matahari bersinar sangat cerah di pagi hari. Ia mengekori Hermione yang kini tengah duduk di padang rumput di belakang rumah sakit St Mungo lalu menyerahkan gelas kertas berisi kopi pada wanita di sampingnya. Tak ada senyum di wajahnya. Hanya mata sayu yang menghiasi bingkai wajah dari Hermione Granger. "Terima kasih," ujarnya setelah menerima gelas itu dari Draco.
Tak ada satupun kata juga yang keluar dari mulut mereka berdua. Draco dan Hermione tampak terdiam lalu sesekali menyesap kopi mereka lalu memejamkan mata sesaat sambil mendengarkan dengan syahdu suara dari aliran sungai di balakang rumah sakit ini. Setelah menyesap hampir separuh kopi itu, Hermione meletakkan gelas kertasnya di rerumputan lalu perlahan merebahkan tubuhnya. Draco hanya memandang sesaat padanya lalu mengernyitkan dahi. "Bloody Merlin! Otot-ototku seperti akan copot dari seluruh rangka tubuhku," ujar Hermione sambil memejam matanya.
Sementara itu Draco hanya menggeleng melihat tingkah rekannya itu. "Masih ada bertahun-tahun lagi sebelum kita menjadi seorang attending. Dan masih bertahun-tahun pula kita perlahan akan merangkak dari kasta terendah seorang intern menuju resident lalu fellow untuk kemudian menjadi attending," racau Hermione.
"Kau kenapa?" tanya Draco yang mulai takut dengan kerja otak dari partner-nya ini.
"Aku ingin mati saja," balas Hermione.
"Kau gila. Pulanglah," jawab Draco cepat.
Hermione membuka matanya sesaat lalu menghela napas panjang untuk kemudian memejamkannya lagi. Ia menggelengkan kepalanya. "Aku bertugas di orthopedic siang ini," jawab Hermione lemas dan Draco tak dapat berbuat apa-apa akan hal itu.
Digilir dari satu departemen ke departemen lain sudah menjadi makanan sehari-hari para intern dan mereka hanya harus menerimanya dengan lapang dada dan hati yang gembira. Draco kembali menyesap kopinya yang hampir dingin itu hingga kandas saat menyadari Hermione tengah mengangkat tangannya lalu perlahan menutupi sinar matahari yang mulai menerpa wajahnya. Ia menutup sinar itu lalu membukanya berulang kali dan seketika senyum wanita itu mulai mengembang.
Draco masih menatap wanita ini dengan rasa tak percaya. Seketika senyum itu terurai di wajahnya padahal beberapa saat yang lalu ia mengatakan bahwa ia ingin mati. Mungkin Draco akan membawanya ke radiologi untuk meng-scan otaknya. Pria itu takut jikalau ada beberapa saraf yang rusak di otaknya dan hal itu pulalah yang membuat Hermione tak bisa mengendalikan ekspresi di wajahnya atau emosinya.
"Kau benar-benar sudah gila, Granger," ujar Draco yang masih melihat senyuman di wajah Hermione.
Hermione memicingkan matanya. "Jangan membunuh mood-ku," balas Hermione ketus.
"Sesaat yang lalu kau frustrasi sesaat kemudian kemudian kau tersenyum seperti itu. Ayo kita ke radiologi sekarang. Mungkin saja ada kerusakan di saraf otakmu," jelas Draco yang tampak serius dengan hal ini.
Hermione menatap malas rekannya itu. "Kau yang gila, Malfoy," jawabnya.
"Aku tersenyum karena aku menyukai musim panas di kota ini," tambahnya.
Draco mengerutkan dahinya. "Lihatlah langit biru dan awan putih yang berarak disana," ujar Hermione lagi sambil menujuk langit itu.
Draco ikut menengadah untuk melihat langit serta awan yang menjadi pembahasan dari Hermione Granger ini. "Langit biru dan awan putih itu tampak sangat cantik dan terlihat begitu bahagia. Mereka seperti tak peduli bahwa aku dan kau baru saja menghabiskan 8 jam berada di depan meja operasi untuk mengangkat kanker sialan itu," ucap Hermione.
"Bahkan mereka akan secantik dan terlihat sebahagia itu meski ada beberapa pasien kita yang tak tertolong di meja operasi," tambah Hermione lagi.
"Lalu apa hubungannya dengan senyum sumringahmu?" tanya Draco yang merasa otaknya yang pintar itu terasa masih tak sampai dengan arah pembicaraan Hermione.
"Aku ingin membawa keindahan dan kebahagian itu ke ruang operasiku kelak saat aku sudah menjadi seorang attending," jelas Hermione.
Kening Draco kembali mengerut menunggu wanita yang rambut cokelatnya terlihat sangat kontras dengan hijaunya rerumputan tempat ia merebahkan tubuhnya sekarang. "Kelak saat aku sudah menjadi attending aku akan menempa scrub caps-ku dengan warna biru langit itu dan awan yang berarak sebagai coraknya untuk membawa semua keindahan dan kebahagian itu ke dalam ruang operasi."
"Freak."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Draco Malfoy ketika selesai mendengar penjelasan Hermione. Namun, dibalik itu ia tersenyum sangat tipis hingga hanya ia yang dapat merasakan senyuman itu. Hermione dan segala kevisioneran pikirannya. Draco baru memikirkan bagaimana sebisa mungkin belajar dari semua kasus-kasus pasien yang ia tangani dan secepat mungkin lulus dari program intern ini untuk kemudian menjadi residen. Namun, Hermione sudah memikirkan warna serta corak berikut filosofi dari scrub caps yang akan ia pakai saat menjadi attending kelak.
Herrmione tiba-tiba bangkit dari padang rumput itu. "Kau mau kemana?" tanya Draco bingung.
"You're a joy killer. I wanna get some sleeps before take another round with ortho," jawab Hemione.
"Kau mau ke on call room?" tanya Draco yang disambut dengan anggukan dari Hermione.
Wanita berambut cokelat itu kembali merenggangkan tubuhnya. "You wanna take a round with me first before I take around with ortho?" Hermione berbalik tanya.
Draco tertawa singkat. "Kau akan mati kelelahan, Granger."
Seperti menjiplak signature gesture dari Draco, Hermione menyeringai. "Kita lihat siapa yang akan mati kelelahan di on call room, Malfoy."
Tanpa banyak bicara lagi Hermione pergi meninggalkan Draco sambil mengikat tinggi rambutnya lalu mengusap belakang lehernya. Draco Malfoy sangat paham dengan gesture dan sinyal ini. Seperti Hermione tadi, tanpa tedeng aling-aling lagi ia bangkit dari padang rumput itu dan mengikuti Hermione ke on call room
000
Reminiscing Draco pagi tadi diakhiri dengan suara alarm yang mengharuskannya untuk segera bergegas ke rumah sakit. Ia memeriksa jadwalnya seharian ini di lorong menuju ruang konsultasi dengan pasien di rumah sakit ini. Hanya ada satu operasi hari ini setelah sesi konsultasi. Setidaknya ia sedikit senggang hari ini jika tak ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi seperti pasien gawat darurat atau komplikasi pada pasien-pasien post-op nya. Pria itu langsung menuju ruang operasi untuk menyelesaikan tugas pertamanya untuk hari ini.
Operasi berjalan dengan cepat dan sangat lancar. Kini Draco berjalan di lorong ruang ICU setelah memeriksa pasien post op-nya sambil membuka perkamen berisi chart pasien dengan seorang perawat di sampingnya. Langkahnya terhenti di sebuah papan berisi jadwal operasi hari ini para healer surgeon di rumah sakit ini. Nama Hermione Granger terpampang disana lengkap dengan asisten serta residen dan intern yang membantunya. Pikirannya baru saja hendak terbang ke masa-masa internship mereka lalu langsung ia tepis dengan menggelengkan kepala. Sudah cukup ia memikirkan hal itu sepagian ini
"Apa masih ada pasien yang belum kukunjungi dan periksa saat ini?" tanya Draco pada perawat itu.
Perawat itu menggeleng dengan cepat. "Cukup untuk sekarang. Tapi kau harus melalukan pemeriksaan terakhir untuk pasien Gregory Hobs sebelum ia dipulangkan sore ini," jawab perawat itu.
Draco mengangguk lalu ia teralihkan dengan suara seranta dari saku jubah putihnya.
ER.
Ia mengembalikan chart yang sudah ia periksa dan tanda tangani itu pada perawat tadi lalu berjalan menuju ER yang terletak di lantai dasar rumah sakit ini. ER tampak sepi siang ini. Tak banyak pasien atau healer yang berlalu lalang disana. Seorang healer yang berjaga di unit gawat darurat itu menyambanginya. Kembali ia menerima chart dari pasien membutuhkan konsultasi darinya.
"Anak laki-laki, 11 tahun, ditemukan terjatuh di halaman rumahnya dengan kondisi sedikit tak sadarkan diri dan keluhan sakit di dadanya serta sesak napas," jelas healer jaga ini.
Draco hanya mengangguk lalu berjalan menuju bangsal perawatan dan membuka tirai yang menutupinya. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Nafasnya mulai teratur dan hal itu pertanda yang bagus bagi Draco. "Hi, aku Healer Malfoy," ujar Draco pada anak lelaki itu lalu memasang stetoskop sihir ke telinganya.
Tanpa meminta izin anak itu ia meletakan stetoskop itu ke dada anak laki-laki ini dan mulai memeriksanya. Sesekali kening Draco mengerut. "Tarik napas yang dalam," perintah Draco pada anak itu yang langsung dipatuhinya.
Tak hanya berhenti disana, Draco juga meletakan stetoskop sihir itu ke punggung anak lelaki ini sambil terus memeriksa dan kembali memerintahkan pasiennya untuk menarik napas yang dalam. Saat Draco pikir pemeriksaannya sudah cukup ia melepaskan stetoskop itu dan berdiri tepat di sisi bangsal ini.
"Siapa namamu, young man?" tanya Draco
"Alistair," jawab anak itu cepat.
"Dimana orang tuamu?" Draco kembali bertanya.
"Ibuku sedang bekerja saat ini. Katakan saja padaku apa yang sebenarnya terjadi," jawab anak itu lugas.
Draco mengangguk lalu menarik bangku agar dapat duduk tepat di sisi bangsal itu. "Apakah kau sudah sering mengalami hal ini? Dada terasa sesak lalu sakit dan kau kehilangan kesadaran?" tanya Draco.
Alistair tampak sedikit berpikir. Keningnya sedikit mengerut di balik anak rambut pirang kecoklatan yang menutupinya. "Sesekali aku merasa tak nyaman pada dada kiriku, tapi untuk kehilangan kesadaran aku baru mengalaminya hari ini," balasnya.
Draco belum sempat memberikan jawaban saat Alistair kembali membuka mulutnya. "Apakah ada kelainan di jantungku? Jantung bocor, gagal jantung atau semacamnya?"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
Bocah laki-laki itu mengedik. "Pertama kau healer surgeon dari bagian cardio," ujar Alistair sambil menatap name tag yang tersemat di jubah putih Draco.
"Lalu aku pernah membaca jurnal yang juga dibaca ibuku mengenai congenital heart disease. Apa yang aku rasakan seperti salah satu tanda-tanda dari penyakit itu, bukan?" tambanya lagi.
Kali ini Draco yang dibuat terpana oleh penjabaran dari bocah di hadapannya ini. Seingatnya tadi, usia anak ini baru saja menginjak sebelas tahun dan ia sudah mengetahui apa itu congenital heart disease. Di usia sebelas tahun bahkan Draco tak tahu pasti apa fungsi kerja jantung. "Darimana kau mengetahui istilah medis seperti itu?" tanya Draco penasaran.
Seorang perawat dan healer jaga tadi datang menginterupsi mereka. "Apakah sudah ada prognosis?" tanya healer jaga itu sambil menyerahkan chart bocah bernama Alistair itu kepada Draco.
"Siapkan ECG dan echo serta hubungi orang tuanya. Aku ingin pemeriksaan lebih lanjut," jawab.
Perawat itu mengangguk lalu meninggalkan bangsal tadi untuk menyiapkan pemeriksaan lanjutan yang diminta oleh Draco tadi. "Kau tak perlu khawatir, ibunya akan segera kesini," balas healer jaga ini.
"Ibuku sudah selesai mengoperasi?" tanya Alistair saat mendengar bahwa ibunya akan segera datang.
Lagi-lagi kening Draco mengerut saat mendengar fakta itu. "Ibumu seorng healer surgeon di rumah sakit ini?" tanya Draco yang masih menuliskan prognosis di chart milik Alistair.
"Hal ini menjawab bagaimana aku bisa mengetahui congenital heart disease, bukan?" kekeh Alistair yang masih mengenakan selang oksigen di hidungnya.
Suara tirai bangsal terbuka tiba-tiba terdengar. "Oh God, Alistair," ucap Hermione Granger terengah.
Ia masih mengenakan surgical gown dan scrub caps-nya. Raut khawatir terpampang jelas di wajahnya. "Aku baik-baik saja, Mum," jawab bocah laki-laki itu kepada Hermione.
Draco terkejut mendengar panggilan bocah laki-laki ini pada Hermione. Pria itu kembali terkejut saat menyadari nama lengkap dari anak ini yang tertulis di dalam chart perkamen 'Alistair Xavier Granger'
Kali ini Draco tak dapat menutupi keterkejutannya. "Alistair adalah anakmu?" tanya Draco yang sudah bangkit dari duduknya.
Masih dengan napas yang terengah karena berlari sekuat tenaga dari ruang operasi ke ER, Hermione ikut terkejut mendapati siapa yang tengah menangani putranya. "Malfoy."
000
to be continued
A/N: Please kindly leave your thought, I eager to know that. Love you guys
