Begin Again

written by hijaubiru

l

Harry Potter J.K. Rowling

l

Eight

l

Dengan sekali hentakkan Hermione melempar majalah yang sudah iya remas beberapa halamannya ke atas meja, kedua teman nya yang sedang menikmati makan siang disana tersentak kaget. Hermione mendapat sebuah paket spesial pagi tadi, sebuah majalah dengan note di covernya. Gretchen Wieners sengaja mengirimkan satu eksemplar majalah khusus untuk perempuan itu, Gretchen menuliskan 'Semoga kamu suka' pada note yang tertempel.

"GRETCHEN WIENERS!" pekik perempuan itu kesal.

"Witch Weekly? Kamu mau membaca ini lagi?" tanya Gill sambil meraih majalah tersebut.

"Lihat apa yang kayu bakar itu tulis tentang ku, Hermione Granger, 35 tahun, salah satu dari The Golden Trio kebanggaan Hogwarts menemukan mangsa barunya." Perempuan itu mondar-mandir di satu garis. "Mangsa? MANGSA? Dia pikir aku ini apa, harimau?"

"Oh come on, it's Wieners." Gill membuka majalah dan mencari artikel yang temannya maksud. "Tunggu, tunggu, Draco Malfoy? Dia menulis tentang mu dan Malfoy?" Gill mengerjapkan matanya.

"Dia menulis seakan aku ingin memanfaatkan Malfoy! Bagimana jika teman-temanku membacanya atau lebih parah bagaiman jika Narcissa dan Lucius membacanya! Aku bisa mati malam ini." Hermione garuk-garuk rambut frustasi.

"Tidak akan ada yang percaya artikel ini orang awam sekalipun tau itu, kamu Hermione Granger." Ellen mencoba menenangkan Hermione.

Perempuan itu menghempaskan badan pada sofa berusaha menghilangkan keinginan untuk membakar rumah Gretchen sore ini. Mengapa hidupnya tidak pernah damai.

"Apa yang Malfoy katakan tentang artikel ini?" tanya Gill setelah selesai membaca artikel terkutuk itu.

"Tidak tau, semoga dia tidak membacanya."

"Hei lihat kolom yang Rufus tulis," Ujar Gill saat menemukan nama Rufus di salah satu kolom majalah "Dia menulis tentang alkemis lagi, ugh kutu buku. Kalian memang sama-sama kutu buku ya, pantas cocok." Hermione langsung membenamkan kepalanya di bantal tidak ingin mendengar koleganya lebih lanjut.

Kriiiing

Ponsel Hermione yang ia taruh di meja tiba-tiba berdering, tanpa disuruh Gill meraih ponsel tersebut.

"Oh my god, Mione! It's Malfoy!" seru perempuan itu.

"Apa?" Hermione hampir melompat saat mendengar nama itu.

"Bohong deng, Mrs. Wong agen properti." Hermione memukul GIll dengan bantal sebelum mengambil ponsel darinya.

"Halo, Mrs. Wong. Uh-huh. Akhirnya ada berita bagus untukku! Baiklah terima kasih banyak." Perempuan itu sibuk menjawab panggilan nya sambil mondari-mandir.

Setelah menutup panggilan Hermione duduk bergabung dengan kedua temannya sambil tersenyum lebar.

"Ada apa?" tanya Ellen bingung.

"Rumah ku sudah mendapatkan pembeli!" ucapnya riang.

"Pembeli?" ulang Ellen.

"Kamu tidak benar-benar serius mau menjual rumah itu kan?" tanya Gill.

"Serius, se-ra-tus per-sen." Jawab Hermione.

"Lalu kamu akan tinggal dimana?" Gill menaikan alisnya.

"Mungkin apartemen yang lebih dekat dengan kantor."

"Kita penyihir! Jauh dekat rumah tidak jadi masalah." Ucap Gill.

"Benar juga."

"Kamu sudah bilang pada Rufus tentang ini?"

Hermione menggelengkan kepala.

"Minggu lalu kamu berniat untuk bicara padanya, kenapa belum kamu lakukan sampai sekarang?"

"Aku sibuk Gill, sungguh aku ingin berbicara dengan nya mengenai Artie. Tapi aku belum menemukan waktu yang tepat."

Gill menghembuskan nafasnya, "Just admit that you're scared."

"I'm not," Hermione menegaskan.

"Kalau begitu bicarakan dulu soal rumah ini dengan Rufus, memang itu sekarang hartamu tapi Rufus juga berhak tau jika kamu mau menjualnya. Dia membelinya untukmu dan Arthur."

"Untuk apa aku memberitau Rufus tentang ini, kamu yang bilang sendiri sekarangan rumah itu milikku."

"Tapi kamu yang dulu meminta rumah sebesar itu! Kamu tidak ingat Rufus hanya ingin rumah kecil di pinggir kota, bukan rumah empat kamarmu sekarang. Dia mengurungkan niat membuka bisnis bahan alkemis nya demi membelikanmu rumah itu, jika kamu menghargai usahanya beritaulah dia."

"Aku hanya ingin pindah rumah Gill! Apa masalahmu?" Hermione sudah tidak dapat menahan emosinya.

"It's not the house that is haunted, it's you Hermione! Stop living in denial." Suara Gill mulai meninggi.

"I'm not your patient Gill," Pekik Hermione yang langsung berdiri dari duduk lalu melangkah keluar dari ruangan.

Setelah sudah di dalam ruang kantornya menjatuhkan badan ke sofa, perempuan itu memijit dahinya. Dia tau apa yang Gill katakan benar tapi dalam realitanya semua tidak segampang itu. Tangannya meraih ponsel di saku celananya dang mulai mengetik sebuah pesan. Setelah menyelesaikan pesan singkat itu terdengar suara ketukan dari pintu.

"Boleh aku masuk?" tanya Gill yang kepalanya sudah melongok kedalam ruangan Hermione.

Perempuan berambut coklat itu mengangguk, Gill langsung melangkah masuk dan duduk di hadapannya.

"Maaf aku terlalu keras padamu, aku tau ini bukan hal mudah untuk kamu hadapi. Tapi aku tidak ingin kamu menyesali keputusanmu." Ucap Gill

Hermione tidak membalasnya.

"Jika kamu ingin menjualnya aku tidak akan menentangmu, tapi aku ingin mengingatkan bahwa tidak hanya hal buruk yang terjadi dirumah itu. Ingat saat Arthur pertama kali bisa berjalan? Atau ulang tahun pertamanya atau saat kalian berkemah di halaman belakang, itu semua memori menyenangkan yang harusnya kamu hubungkan dengan rumahmu. Tolong jangan jadikan rumah itu sumber kebencian."

"Talk to him, mungkin setelah itu kamu akan mengurungkan niat untuk menjual rumah impian mu." lanjut Gill

"Aku benci saat kamu benar," akhirnya perempuan berambut coklat itu tersenyum kecil.

-o0o-

Suara lantai yang beradu dengan hak sepatu menggema kencang ke seluruh ruangan, seorang perempuan berkuku akrilik tengah menggenggam sebuah majalah yang ia gulung di tangan. Perempuan itu berhenti di depan sebuah meja dan menaruh majalah tersebut.

"Halaman 23," ucap perempuan itu dengan tatapan bangga di wajahnya.

"Please go away, Gretch" jawab Rufus dengan cepat.

"Aku menulis tentang mantan istri sok pintar mu itu, bacalah." Gretchen tetap tidak bergeming meski Rufus sudah melemparkan tatapan mematikan.

"Aku tidak butuh gossip remaja."

"Astaga Rufus sayang, ini bukan gossip remaja! Hubungan mereka serius, aku yang lihat sendiri." Tanpa meminta izin sebelumnya Gretchen duduk di sudut meja kerja Rufus.

"Berhentilah membual."

"Malfoy terlihat sangat akrab loh dengan anakmu," kata Gretchen mencoba memancing amarah Rufus agar mau membaca artikel bodoh yang ia tulis.

Rufus menggigit bibirnya berusaha menahan keinginan untuk mengubah Gretchen menjadi serangga. Memang rumor tentang kedekatan mantan istrinya dengan Draco Malfoy menyeruak luas setelah reuni kemarin, Rufus sendiri tidak bisa hadir karena harus menghadiri pemakaman bibinya di Scotland jadi dia tidak bisa memastikan rumor ini.

"Aku yakin dia mendekati Malfoy karena hartanya," lanjut Gretchen, amarah Rufus tak lagi bisa ia bendung, untung saja pria itu tidak langsung melempar stapler ke wajah Gretchen.

"Hermione bukan perempuan seperti itu," seru Rufus.

"Kenapa kamu malah membelanya? Dia mantan istrimu, get over it."

"You're the one who should get over her Gretch, aku tau kamu selama ini iri padanya."

Gretchen mendengus kesal, "Ugh, yang benar saja" ia memutar bola matanya lalu pergi berlalu sambil menghentakkan hak sepatunya lebih keras.

Setelah permpuan pembawa kayu bakar itu berlalu, Rufus meraih majalah yang Gretchen tinggalkan. Terdapat foto Hermione bersama Draco yang tengah menggendong Arthur saat reuni kemarin, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Keluarga yang seharusnya milik Rufus.

Pria itu menghembuskan nafas kesal dan membanting majalah itu ke tong sampah. Bodoh, bodoh, bodoh, pekiknya dalam kepala. Gretchen berhasil masuk ke kepalanya, Draco Malfoy kini menjadi ancaman bagi Rufus. Jika benar Hermione dekat dengannya berarti ada sedikit kemungkinan bahwa Malfoy akan menjadi sosok ayah bagi anaknya. Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Arthur.

Ping.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, sebuah pesan dari mantan istrinya. Mata pria itu terbelalak saat melihat nama Hermione di layar, bukannya perempuan itu memblokir nomor teleponnya. Dengan cepat Rufus membuka pesan tersebut.

[ Aku butuh bicara dengamu ]

Ada kebahagian kecil yang menjalar lewat dadanya, pesan singkat yang tidak disangka membuat senyum kecil terukir di wajahnya. Mungkin akhirnya ia bisa kembali bertamu dengan anak lelakinya.

[ Mama's Pizza besok jam 6 ]

Rufus sengaja memilih restoran muggle agar Hermione tidak bisa menyerangnya atau berapparate kabur. Hatinya berdebar-debar senang, ini pertama kali dalam beberapa bulan ia mendapatkan titik terang.

[ Ok ]

Pria itu menyenderkan badan pada kursinya, melirik sebuah foto yang masih terpajang di atas mejanya. Foto ulang tahun Arthur yang pertama, anak lelakinya sedang mengenggam kue ditangannya dengan Hermione dan dirinya yang sudah celemotan dengan krim.

"Aku merindukan kalian."

-o0o-

Jam sudah menunjukkan angka 5.30, Rufus mempercepat langkahnya. Memang masih ada tiga puluh menit lagi sebelum jam 6 namun ini Hermione Granger, dia bisa saja sudah berada di restoran satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Sore ini Rufus sengaja pulang lebih awal dari kantor untuk mandi dan berpakaian rapih untuk bertemu dengan Hermione.

Langkahnya terhenti saat mendapati mantan istrinya sedang keluar dari mobil sedan hitam bersama seorang pria berambut silver. Jantung nya serasa jatuh ke kaki, jangan-jangan Hermione merencanakan pertemuan ini untuk mengenalkan Malfoy sebagai pasangan barunya.

Dengan ragu pria itu kembali melangkahkan kakinya, mendekati kedua manusia yang sedang berbicara dengan seru.

"Mione," sapa Rufus.

"Hei," balas perempuan itu, Hermione berusaha melemaskan otot-ototnya yang kaku saat melihat Rufus.

"Kamu tidak bilang Malfoy ikut makan malam bersama kita," sindir Rufus.

"Aku hanya mengantarnya, kami bertemu di toko ramuan tadi." Jelas Draco berusaha mengeluarkan nada bersahabat saat berbicara.

"Aku kira kamu khawatir kekasihmu bertemu dengan mantan suaminya," lanjut Rufus.

"Apa maksudmu?" pria berambut silver itu mengangkat alisnya bingung.

"Kalian berpacaran kan, sedang hangat-hangatnya dibicarakan."

"Itu tidak benar Rufus, kami hanya teman." Sanggah Hermione sebelum Draco sempat menjawab.

"It's ok, lagi pula jika hubungan kalian lancar Malfoy akan jadi ayah baru Arthur." kata Rufus dengan nada mengejek. "Setidaknya Arthur akan punya ayah kan, bukan begit Mione?" pria itu tidak berhenti mengeluarkan kalimat tajam dari mulutnya.

"Setidaknya aku akan jadi ayah yang baik," bukannya diam Draco malah menambahkan bahan bakar pada api yang sudah mengobar.

"Jaga bicaramu Malfoy," wajah Rufus mulai memerah.

"Kamu tidak bisa memperlakukan ibu dari anakmu dengan baik, jaminan apa kamu bisa jadi ayah yang baik untuk Arthur. Lebih baik aku saja." Kalimat Draco tidak kalah tajam.

Tau tidak bisa melayangkan kutukan pada pria di depannya Rufus langsung melemparkan tinjunya yang mendarat di rahang Draco.

"RUFUS!" Hermione langsung berteriak histeris.

Tanpa menunggu lama Draco langsung membalas meninju perut lalu wajah Rufus dan membuatnya tersungkur jatuh ke tanah. Sebelum sempat ia melayangkan tinju lainnya Hermione sudah memasang badan melindungi mantan suaminya.

"Malfoy hentikan!" pekiknya.

Melihat mata Hermione, Draco langsung mengurungkan niatnya dan melangkah mundur. Perempuan itu tau kalau Draco jauh lebih kuat dibanding Rufus, mantan suaminya bisa mati jika pertengkaran ini dilanjutkan.

"Malfoy tolong pulanglah," suara Hermione sedikit bergetar.

"Tapi—"

"I can handle him, please just go home." Ucapan tegas perempuan itu membuat Draco menghela nafas dan berjalan kea rah mobilnya.

"Telpon aku jika ada apa apa," kata Draco sebelum masuk ke dalam mobil dan mengendarainya pergi.

Rufus masih terduduk di tanah, kepalanya berdengung dan perutnya serasa mau muntah. Untung saja jalanan depan restoran cukup sepi jadi tidak banyak pasang mata yang menonton kejadian barusan.

"Kamu bisa berdiri?" tanya Hermione sambil membantu menarik lengannya. "Aku bisa mengobatimu, tapi kita harus mencari tempat yang tidak terdapat muggle terlebih dahulu."

Dengan sedikit mengerang Rufus berhasil membangunkan badannya yang kesakitan, Draco hanya meninjunya dua kali namun badannya terasa hancur sepenuhnya. Hermione terus menahan bahunya agar ia tidak terjatuh, mereka berjalan menuju sebuah taman kosong dan berapparate ke apartemen Rufus.

Apartemen pria itu cukup kosong, tidak ada sofa ataupun tv. Hanya ada kursi bacanya dan tumpukan buku yang dibiarkan berserakan di lantai. Meja makannya penuh dengan kertas-kertas catatannya dan baju kotor berserakan dimana-mana.

"Berantakkan sekali," gumam Hermione sambil membantu Rufus duduk di kursi bacanya.

"Bisa bantu sembuhkan aku dulu baru berkomentar," kata Rufus sambil menyenderkan badannya pada kursi.

Tanpa menjawab Hermione meraih kotak ramuan Rufus dan meracik sebuah ramuan berwarna biru, setelahnya ia menyuruh pria itu meminum habis cairan tersebut. Badan nya berangsur membaik walaupun bekas lebam di wajahnya belum hilang sepenuhnya.

Sambil menunggu ramuan untuk bereaksi, Hermione mengeluarkan tongkatnya dan sedikit merapihkan apartemen mantan suaminya. Ia memasukan kembali buku-buku yang berserakan ke lemari dan membersihkan piring kotor di wastafel.

"Kamu tidak harus melakukannya," gumam Rufus.

"Aku risih melihatnya," jawab Hermione.

"Kamu OCD ya?"

"OCD itu penyakit serius, jangan di bercandakan." Hermione mengingatkan Rufus.

"Aku lupa kamu psikolog," Rufus terkekeh masam.

Hermione tersenyum simpul, "Baiklah aku harus pulang."

"Tunggu, kita belum sempat berbicara." Rufus menarik lengan baju perempuan di depannya.

"Setelah melihat apa yang kamu lakukan kurasa tidak ada yang butuh dibicarakan," Hermione menundukkan kepalanya. "What happen to you? You used to be so gentle and now I don't even know you."

"I slip up, ok? Plese don't go, just talk to me. Let me see Arthur, I promise I'll be good." Cengkraman Rufus semakin keras.

"Lihat ke sekililing mu Rufus, kamu bahkan tidak bisa merawat diri sendiri. Bagaimana aku bisa mempercayakan Arthur padamu" lanjut Hermione.

Rufus tidak menemukan kata untuk menjawab Hermione, tatapan nya kosong seakan baru ditinju lagi oleh Draco.

"Ku pikir aku yang belum siap membiarkan Arthur bertemu denganmu, tapi ternyata kamu yang lebih belum siap." kata Hermione sebelum hilang berapparate di depan matanya.

Walaupun sudah meminum ramuan yang Hermion berikan namun badannya masih terasa sakit, dadanya sesak, sangat sesak sampai sulit untuk bernafas. Rufus menjatuhkan badannya ke lantai dan memeluk kedua lututnya. Bulir-bulir air mata mengalir melewati pipi.

"Karir mu di atas sana, aku hanya dikenal sebagai suami Hermione Granger. Stella membuatku merasa lebih baik, ia tidak merendahkanku."

"Aku tidak pernah merendahkanmu! Kamu terlalu fokus dengan teori maskulinitas kolot itu, hingga tidak bisa menerima bahwa aku lebih sukses dari mu."

"Aku tau itu!" pekiknya. "Aku tau yang ku lakukan salah. Tapi kamu yang membuatku melakukannya Mione! Kamu terlalu mandiri, kamu tidak membutuhkanku aku hanya hiasan bagimu."

"Jadi sekarang ini salahku?"

"Bukan itu maksudku."

Hermione kehabisan kata untuk diteriakan, ia terduduk lemas di ujung kasur. Matanya menatap ke langit-langit luar, pikiran nya kosong.

"Jika aku tidak memergoki mu apakah kamu akan berniat untuk menyudahi hubungan itu?" tanya perempuan itu lirih, bibirnya bergetar hebat menahan tangis yang sudah di pelupuk mata.

"Aku tidak tau harus menjawab apa."

Dengan air mata yang sudah mengalir di pipi Hermione melemparkan pandangannya pada Rufus, "Itu sudah cukup menjawab."

Hal terbodoh yang pernah Rufus lakukan di dunia ini adalah membiarkan seorang Hermione Granger pergi dari hidupnya, sampai kapan pun ia akan menyesal tidak mempertahankan rumah tangganya dan malah mencari pelampiasan lain. Kini Hermione tidak akan kembali ke hidupnya dan dia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada Arthur.

/ To Be Continued /

Gimana chap ini? aku memutuskan buat ngasih sedikit kehidupan untuk Rufus biar ada guna sedikit itu manusia. Anyway, semoga suka ya!