Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Nine
l
"Malfoy!" sebuah suara yang tak lagi asing menghentikan lamunannya.
"Oh hei Weasley," balas Draco seadanya, dia belum meminum kopi paginya untuk memfokuskan diri.
Weasley membersihkan tangannya dari bubuk floo yang masih menempel, "Aku dengar dari Hermione, kamu meninju Rufus kemarin."
"Eh anu itu—"
"Terima kasih banyak!" seru Weasley gembira. "Sudah lama aku ingin melakukan itu tapi Hermione selalu melarangku."
Draco mengira Weasley akan meneriakinya karena membuat onar, ternyata tidak begitu. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift dan memencet tombol lantai masing-masing. Weasley keluar dari lift terlebih dahulu dan melambaikan tangannya pada Draco.
Sebenarnya Draco merasa bersalah jika mengingat kejadian kemarin, memang Rufus yang memukulnya terlebih dahulu namun Draco juga yang memancing. Ia merasa bukan tempatnya untuk mengatakan hal-hal seperti itu, ia merendahkan status Rufus sebagai bapak hanya karena tidak bisa menahan emosi.
"Pagi Mr. Malfoy, ada tamu yang menunggumu di dalam." Kata Keith saat Draco sampai di ruangannya.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini," ucap Draco sambil membuka pintu, pertanyaan nya terjawab saat melihat seorang Hermione Granger tengah menggenggam dua gelas kopi di dalam ruangannya.
"Pagi," sapa perempuan itu.
"Granger, sedang apa kamu disini?" Draco melangkah masuk lalu melepaskan jaketnya.
"Membawakan mu kopi?" jawab Hermione ragu.
"Mau mendaftar jadi asisten ku ya," perempuan itu langsung menendang betisnya pelan diikuti tawa Draco. "Duduklah."
Draco mempersilahkan Hermione duduk sedangkan ia sendiri duduk di kursi kerjanya. "Jadi apa alasan sebenarnya kamu datang?" lanjut pria itu.
"Berhenti membaca pikiranku," ucap Hermione kesal, ia mendorong segelas kopi kedepan Draco.
"Jadwal mu sibuk, jadi pasti kamu datang kesini lebih dari sekedar memberikan ku kopi."
"Hanya ingin tau keadaanmu."
"Aku baik-baik saja, seharusnya aku yang bertanya keadaan Rufus."
"Dia baik-baik saja, aku sudah memberikan ramuan agar memperlambat peradangan."
"Kamu terlalu baik padanya," tukas Draco sambil menyeruput kopi yang cukup panas.
Hermione tertawa renyah.
"Lalu bagaimana selanjutnya, kamu sudah berbicara dengan Rufus tentang Arthur?"
"Aku tidak ingin membicarakan ini."
"Baiklah," Draco tersenyum simpul. "Ngomong-ngomong yang ku katakana pada Rufus kemarin—"
"It's okay, you didn't mean it." Hermione masih berusaha melupakan kalimat yang Draco layangkan. "Umm, bagaimana kabar Rena? Sesi konseling nya sudah berkurang sekarang."
"Dia jauh lebih baik sekarang, emosinya lebih stabil dan dia mulai terbuka padaku."
"Benarkah? Itu berita bagus."
"Dia mulai meminta bantuanku, aku merasa seperti ayah lagi."
"Rena berpura-pura menjadi mandiri karena mengira ia akan menyusahkanmu," kata Hermione.
"Kadang aku takjub seorang anak kecil bisa berpikiran seperti itu."
"Children are not childish as adults think they are and, perhaps, adults are not as adult as they think they are either."
Draco tersenyum, "Kalau tidak karena mu mungkin aku dan Rena masih jauh, terima kasih."
"Aku hanya melakukan pekerjaanku."
"You did more, Granger."
-o0o-
Sepasang mata coklat madu yang sedang asik menelusuri buku menangkap sesuatu dari sudutnya. Herimione menutup bukunya dan bersiap menyambut sahabatnya yang baru memasuki café sore itu. Minggu lalu Harry dikirim ke Australia untuk menjadi mata-mata sebuah sindikat yang bertanggung jawab atas kejadian dengan Minister of Magic Australia di London, diduga terdapat mata-mata dalam Ministry of Magic UK.
"Mione!" pekik seorang pria berkacamata yang langsung memeluk Hermione saat melihatnya. "Akhirnya aku melihat manusia, bukan domba."
"Kamu di Australia hanya seminggu," Hermione terkekeh sambil membalas pelukan sahabatnya.
"Ya dan selama seminggu aku hanya bertemu domba dan partner beraksen Australia," Kata Harry sambil menarik kursi untuk duduk.
"Fun fact Australia merupakan—"
"Ughhh aku tidak ingin mendengar ini lagi," erang Harry sambil menutup kedua telinganya, membuat Hermione berhenti berkomat-kamit mengenai sejarah Australia.
"Oke, oke aku berhenti." Hermione menekuk bibirnya.
Mereka berdua menikmati kopi hangat yang baru di antarkan seorang pelayan. Harry memberikan sebuah boneka kangguru, oleh-oleh untuk si kecil Arthur, dan sebatang dark coklat untuk Hermione.
"Bagaimana dengan mu, apa yang terjadi selama aku pergi?"
"Seperti biasa," Hermione merapihkan rambut ikalnya.
"Malfoy meninju Rufus hal yang 'biasa' bagimu?"
Mata Hermione menyipit, seingatnya ia berusaha menutup-nutupi kejadiaan itu. "Ginny?" Harry mengangguk. "Tentu saja, tolong jangan membesarkan hal ini. Aku tidak ingin drama baru."
"Jika Malfoy boleh kenapa aku tidak?" tanya Harry.
"Because Rufus hit him first, let it go Harry."
Harry memutar matanya malas, "Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Nothing really, aku menyuruh Malfoy pergi dan mengantar Rufus pulang."
"Masalah mu dengan Rufus, sudah beres?"
"Aku tidak jadi membahas Artie dengannya."
"Karena dia memukul pacarmu?"
"Tidak dan dia bukan pacarku." Cibir Hermione. "Aku harus menunggunya sampai dia siap untuk merawat Artie."
"Memangnya dia kenapa?"
"Emosinya tidak stabil dan apartemen nya lebih berantakkan dari kapal pecah, jelas sekali dia tidak bisa menjaga diri sendiri. Aku baru akan mempertemukannya saat ia siap."
"Kamu punya segala hak untuk berhati-hati dengan Rufus, tapi percayalah tidak ada kata siap untuk menjadi orang tua, it's a learning process."
Hermione tidak menjawab.
"Aku, Rufus bahkan kamu, kita tidak akan pernah siap untuk menjadi orang tua. Namun saat tanggung jawab itu diberikan, kita akan memberikan yang terbaik untuk mereka bagaimanapun caranya." Harry tersenyum simpul.
"Tapi jika kamu belum seratus persen percaya padanya, biarkan Rufus yang datang kerumah mu saat ingin bertemu Arthur. Dari situ kamu bisa memonitor tingkah lakunya dan menilai lebih lanjut apakah dia siap merawat anakmu." Lanjut pria itu.
Rasanya seperti digigit oleh anjing liar. Memang alasan Hermione kuat, Rufus tidak terlihat stabil untuk menjaga Arthur seorang diri, bahkan orang seperti Hermione saja kewalahan. Namun Harry ada benarnya, jika ia terus menolak mempertemukan anaknya dengan ayah kandungnya ia hanya akan berputar-putar pada masalah yang sama.
"Ugh, why didn't I marry you instead of Rufus."
"Maybe in another life Mione," pria itu terkekeh.
-o0o-
[ Mau makan malam bersama besok? ]
Tak kunjung selesai perempuan itu beradu tatap dengan layarnya, sudah tidak tau berapa lama ia habiskan melihat kata-kata yang tertulis di pesan singkat tersebut. Hermione menggigit bibirnya bingung, entah ada apa sebenarnya namun sebuah pesan simpel ini membuatnya berjingrak kaget. Apakah ia selalu begini atau ini sesuatu yang baru, pikir perempuan itu.
Hermione memutar otaknya, makan malam yang seperti apa? Apakah ini makan malam balas budi seperti di Sushi Tetsu beberapa minggu silam, ataukah makan malam ini memiliki arti lain. Perempuan itu mendesah sebal, kenapa selalu overthinking untuk urusan yang mudah.
Perlahan jempolnya mulai mengetik jawaban, sempat beberapa kali ia menghapusnya karena merasa tidak puas. Hermione menggigit-gigit rambutnya hingga melangkah berputar-putar ruangan karena stress memikirkan jawaban.
[ Ok ]
Ok, hanya ok. Hasil berpikir keras beberapa menit terakhir hanya menghasilkan satu kata yang terdiri dari dua huruf. Mungkin Hermione bukan lagi brightest witch of her age.
Ping!
Suara pesan masuk membuatnya hampir membuatnya melompat dari kasur, mengapa membalas secepat ini pirang! Gumamnya sebal. Baru saja lega sudah dibikin panik lagi. Perempuan itu membuka ponselnya perlahan, menyipitkan mata agar tulisan di layar tidak langsung terbaca.
[ Baiklah, Bistro Garden jam 8 ]
Jantung nya serasa jatuh ke perut. Bistro Garden? Perempuan itu meracau dalam otaknya. Itu restoran yang sangat mahal, hanya member yang bisa memesan kursi disana. Ini juga berarti Hermione harus mengenakan pakaian formal untuk makan malam ini, dengan cepat perempuan itu mengobrak-abrik lemarinya.
Sudah lama sekali sejak Hermione makan malam formal seperti ini, seingatnya terakhir saat ia menghadiri malam amal ikatan psikolog. Ditambah lagi perempuan itu tidak mahir menggunakan make up, karena wajahnya sudah cantik berkat genetik ia jarang sekali menggunakan riasan wajah yang tebal.
Tiba-tiba perempuan itu menghentikan segala aktivitasnya lalu menarik nafas panjang, otaknya kewalahan. Ini hanya makan malam bukan acara karpet merah, gumamnya. Ia melemparkan badan ke kasur dan memejamkan mata. Apa yang terjadi padaku, tanya perempuan itu pada diri sendiri berulang kali. Mengapa pria pirang itu membuatnya begitu gelisah, minggu lalu ia masih biasa saja jika akan bertemu pria itu.
Angin. Awan. Danau. Sekelebat sebuah ingatan terputar kembali, saat Hermione menengok ke arah kanan dan melihat Draco yang sedang menatap langit-langit. Tenang sekali rasanya memandang wajah putih pucat itu, rambut silvernya menari-nari bersama angin. Perempuan itu membuka matanya perlahan membawanya kembali ke dunia nyata.
"Merlin, what happened to me."
-o0o-
Jarum panjang menunjuk ke arah jam 7 masih tersisa 1 jam lagi sebelum janji makan malam dengan Draco. Hermione tidak bisa pulang lebih awal untuk bersiap-siap, dirinya hanya punya waktu sedikit untuk bersiap-siap. Setelah mandi dan terkena air panas tubuhnya terasa lebih lelah dan lemah, mungkin ini karena seharian perasaan campur aduk. Hermione jadi sulit untuk duduk tenang dan membuat badannya terus bergerak.
Dengan rambut masih setengah basah perempuan itu merebahkan badannya dikasur, berniat untuk istirahat dua menit sebelum mulai merias wajah. Pelupuk matanya mulai memberat, perlahan pandangannya mengabur dan berubah hitam. Lima menit kemudian perempuan itu telah tertidur pulas.
Kriiiing.
Suara dering ponsel membangunkan perempuan itu dari tidurnya, tangan nya meraba-raba nakas mencari asal suara.
"Halo," suara Hermione sedikit serak karena lehernya kering.
"Hey are you ok? I tried to reach you for like an hour."
Hanya dalam sedetik Hermione sudah sepenuhnya sadar, matanya langsung mengecek jam yang tergantung di dinding, sekarang sudah jam 9 artinya dia sudah telat satu jam. Sial! Umpat perempuan itu dalam hati.
"MALFOY MAAF AKU KETIDURAN," suara nyaring Hermione membuat Draco menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Iya iya, aku mendengarmu tidak usah berteriak." Jawab Draco.
"Maaf, maaf, maaf, maaf. Aku akan siap-siap sekarang." Hermione gelagapan mengganti bajunya sambil terus mengempit ponsel di bahunya.
"Reservasi kita sudah hangus Granger," kata Draco.
Ah, Hermione memejamkan matanya, bodoh, bodoh! Kenapa bisa sampai ketiduran. Perempuan itu meracau dalam otaknya. "Malfoy aku sungguh minta maaf." Suaranya makin lirih.
"Kamu sudah makan?" tanya Draco mengabaikan ucapan Hermione.
"Err, belum."
"Kita makan di rumah mu ya, aku pesan makanan untuk take away."
"Disini?!" perempuan itu terperanjat dan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Lima belas menit lagi aku sampai, bye." Tanpa menunggu balasan pria itu langsung menutup panggilan meninggalkan Hermione dengan mulut yang menganga.
Mengapa semua berubah drastis dalam waktu yang singkat. Menurut Hermione rumahnya saat itu belum cukup rapih untuk menerima tamu, mainan Arthur bercecer dimana-mana, mejanya dipenuhi tumpukan buku untuk penelitiannya dan banyak sticky notes tertempel asal di tembok.
Dengan sekali ayunan tongkat, mainan-mainan Arthur melayang ke udara dan berbaris masuk ke kamar, begitu juga dengan buku-buku di meja makan. Sambil terus melirik jam Hermione merapihkan meja agar terlihat lebih formal, memberi alas makan, piring dan serbet. Tidak lupa dengan dua tangkai lilin di tengah meja. Eh tunggu-tunggu, ini terlalu romantis mungkin tidak usah pakai lilin.
Ting tong.
Ini belum lima belas menit!
Hermione mengayunkan kakinya menuju pintu rumahnya, saat ia melewati cermin pada ruang tamunya perempuan itu baru menyadari ia masih memakai jubah mandinya. Ia mengayunkan tongkat sekali lagi dan menerbangkan gaun dari kamar untuk ia gunakan.
Sebelum membuka pintu perempuan itu mengambil sebuah nafas panjang, menenangkan diri agar tidak terlihat buruk.
"Malfoy aku minta maaf sekali," sesaat setelah pintu dibuka permintaan maaf langsun menghujani telinga Draco.
Pria itu tertegun saat melihat seorang perempuan dibalutkan gaun merah membuka pintu. Wajahnya memang belum dipakaikan make up dan rambutnya sedikit berantakkan mengembang, namun ada aura yang berbeda terpancar darinya.
Sebuah senyum langsung terukir di bibir Draco, "It's okay, kita masih makan malam kan." Pria itu mengangkat dua kantong kertas di tangannya.
Hermione mempersilahkan Draco masuk, "Kamu rapih sekali dan aku seperti ini."
Tangan Draco memegang bahu Hermione dari belakang dan mendorongnya masuk ke kamar, "Bersiaplah, aku yang akan merapihkan makanan."
"Tapi—" belum sempat Hermione menolak Draco sudah menutup pintu kamarnya, perempuan itu mencoba membuka gagang pintu namun sepertinya Draco sudah memantrainya terlebih dahulu.
Entah apa yang pria itu pikirkan, karena tidak bisa melakukan apa-apa Hermione mengikuti saja arahan Draco. Perempuan itu mengeluarkan alat riasnya dan mulai membubuhkan warna-warna halus diwajah, semua itu ditutup dengan olesan lipstick merah tua pada bibirnya. Setelah riasan wajahnya selesai Hermione menggelung rambutnya keatas, dengan begini setidaknya rambut ikalnya itu terlihat lebih rapih.
Hermione berkaca sekali lagi sebelum berjalan ke pintu, "Hei apa aku sudah boleh keluar?"
Bukannya menjawab, Draco malah menyelinap masuk kedalam tanpa membuka pintu terlalu lebar.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hermione senewen.
"Tutup matamu," pinta Draco dengan senyum lebar diwajahnya.
"Kamu ingin mencelakaiku ya?"
"Cerewet sekali, tutup saja matamu." Draco menutup kedua mata Hermione dengan telapak tangannya.
"Maskara ku Malfoy!" seru Hermione berusaha melepaskan tangan Draco.
Pria itu mengarahkan Hermione keluar dari kamar dan membuka telapak tangannya dengan cepat, "Taraaa!" seru pria itu dengan wajah bangga.
Ruang makan nya telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Draco sudah menata rapih meja makan, lengkap dengan piring dan peralatan makan beserta sebuah vas berisi bunga segar. Tiga batang lilin ditaruh di tengah meja sebagai penerangan, lampu ruangan itu sengaja di matikan agar ruangan terasa lebih hangat. Langit-langit ruangan Draco sihir menjadi langit malam yang bertaburan bintang, berkelap-kelip dan menari-nari.
"Malfoy," Hermione tersenyum senang. "Indah sekali."
"Aku mencoba membuat ruangan ini seperti bistro garden, mungkin tidak sepenuhnya sama tapi mendekati." Kata Draco sambil menarik kursi untuk Hermione.
"It's beautiful Malfoy, thank you and sorry."
"Untuk makanan pembuka, panini dan hummus." Draco menaruh sepiring makanan di tengah meja.
Tanpa ragu Hermione langsung meraih sepotong panini dan mengoles selapis hummus di atasnya. Setelah menelan satu gigitan penuh makanan tersebut, ada sesuatu yang terasa aneh di dinding mulutnya.
"Malfoy, umm.. apa terdapat kacang dalam hummus ini?" tanya Hermione, lidahnya terasa menebal.
"Tentu saja, ini thai peanut butter hummus, salah satu menu favorit di sana."
"Oh no, I'm allergic to peanut."
"APA? Kenapa kamu tidak bilang?" Draco memekik panik.
"Mengapa kamu tidak bertanya?!" Hermione memekik balik, dadanya seperti diikat tali ia semakin susah bernafas. "Cepat ambil Epi-pen di tasku."
"Epipe? Apa itu?" Pria itu kebingungan harus berbuat apa, ia mondar mandir tidak bisa menenangkan diri.
"Ambiwkan saja kas ku," ucapan Hermione mulai tidak jelas tapi untung saja Draco masih mengerti apa yang ia katakana.
Draco dengan cepat meraih semua tas yang bisa ia temukan di kamar itu dan membawakannya ke Hermione. Ia menyisihkan semua piring di atas meja dan menggantinya dengan tumpukkan tas milik Hermione. Perempuan itu langsung meraih epi-pen dari tasnya dan membuka tutup dari suntikkan itu, epi-pen itu harus cepat-cepat disuntikkan di pahanya atau Hermione bisa mati kehabisan oksigen.
"Malfoy sunkikkan ini ke paha ku," Hermione memberikan epi-pen itu ke Draco, tangannya gemetar tidak sanggup menggenggam dengan baik.
"Apa?! Aku tidak bisa, aku bukan healer. Aku akan telpon Daphne." Pria itu ragu untuk melakukannya, ia tidak familiar dengan barang muggle. Menelpon Daphne adalah cara paling aman.
"JUST DO IT," teriak Hermione diikuti dengan Draco yang menusuk epi-pen ke paha perempuan itu karena kaget akan teriakan perempuan di depannya.
"AAAAAAAAAAAAAAAA," Hermione berteriak kencang.
"AAAAAAAAAAAAAAAA," Draco berteriak lebih kencang.
Rumah itu di isi dengan teriakan, untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereda. Untung saja Hermione masih terselamatkan dan jalur pernafasannya sudah kembali terbuka, kini ia bisa bernafas lebih normal. Draco terduduk lemas di lantai, beberapa menit lalu ia hampir membunuh seorang Hermione Granger, tubuhnya kehabisan tenaga untuk sekedar berdiri. Ini bukan kencan yang mereka berdua bayangkan. Entah hal buruk apalagi yang akan terjadi malam itu.
/ To Be Continued /
Sedikit catatan, Epipen adalah nama merek perangkat injeksi otomatis yang menyuntikkan obat epinefrin. Ini adalah obat yang digunakan ketika seseorang mengalami reaksi alergi yang parah. Semoga suka sama chap ini yaa, kalau ada masukan jangan sungkan ya.
