A/N : Hey ho! Yes, its been a month. I know it and I am sorry. Please enjoy my dears :)

I own nothing unless Alistair Xavier Granger and some unknown characters and the plot of course.

Chapter Three

"Berikan dia ramuan yang sudah kuresepkan saat ia terbangun," ujar Draco pada seorang healer residen yang mencatat semua ucapannya di chart milik Alistair.

"Well noted, Healer Malfoy," jawab residen itu sigap.

Draco memandang sesaat Alistair yang sudah tertidur di ruang perawatan setelah melalui serangkaian pemeriksaan hari ini bersamanya. Saat ia keluar dari ruangan itu, Hermione sudah menunggunya tepat di depan nurse station dengan bersedekap. Ia sudah berganti pakaian. Tak ada lagi scrub caps dan surgical gown-nya. Matanya mengikuti gerak -gerik Draco yang berjalan ke arahnya. Draco mengambil tempat tepat di sisinya lalu ikut bersandar di nurse station itu. "Apa rencana perawatanmu?" tanya Hemione tanpa berbasa-basi lagi.

Draco mengedik. "Memberikan ramuan untuk membuat katupnya tetap stabil dan mencegah agar tak tertutup secara tiba-tiba lagi. Sambil terus memantau dinding jantungnya agar tidak terjadi kebocoran yang menjadi efek dari katup jantungnya yang abnormal," jelas Draco.

Hermione menghelas napas panjang sesaat setelah mendengar penjelasannya. Wanita itu tertunduk. Ia menatap lurus ke sepatu hitam yang ia kenakan. "Kau tak dapat mengoperasinya?" tanya Hermione yang masih menunduk.

Pria berambut pirang itu menggeleng. "Kau tahu operasi bukanlah hal yang tepat untuk rencana perawatan anakmu," jawabnya.

"Tapi operasi bukanlah hal yang mustahil," balas Hermione.

"Dan kau juga tahu bahwa hal itu tak dibutuhkan saat ini. Kita hanya butuh memantaunya dan memberikan ramuan agar katupnya bekerja dengan stabil."

"Jika keadaannya memburuk kau berjanji akan mengoperasinya?" tanya Hermione

Draco langsung mengangguk. "Tentu. Aku sendiri yang akan mengerjakannya dari awal hingga akhir," balas Draco.

Lagi-lagi Hermione menghela napas. "Dia akan mulai sekolah tengah bulan ini. Aku tak dapat memantau semua kegiatannya. Bagaimana jika ia terlalu lelah dan katupnya memutuskan untuk berulah dan tak ada yang menyadarinya saat ia kehilangan kesadaran," Hermione seperti meracau saat mengatakannya

"Ia akan bersekolah Hogwarts?" tanya Draco yang disambut dengan anggukan oleh Hermione.

Mereka terdiam. Masing-masing terhanyut dalam pikirannya. Sesaat ia melirik ke arah wanita berambut cokelat ikal di sampingnya ini. Hermione bersedekap dengan tatapan yang terlihat kosong namun tak lepas dari sebuah objek, Alistair.

"Kau bisa menyampaikan pada McGonagall tentang hal ini. Hogwarts pasti akan melakukan tindakan preventive kepada anakmu untuk hal ini," Draco kembali membuka mulut.

Kali ini Hermione yang mengangguk. "Aku akan menyampaikan sendiri padanya. Kau mau membantuku sekali lagi?" tanya Hermione pada Draco.

Draco hanya menatap wanita itu menunggu untuk ia melanjutkan kembali permintaannya. "Bisakah kau membuatkan surat pernyataan mengenai keadaan Alistair dan semua salinan pemeriksaannya untuk aku lampirkan pada McGonagall dan juga Pomfrey?"

"Tentu saja," jawab Draco sambil mengangguk.

"Terima kasih," balas Hermione cepat.

Lagi-lagi mereka dilingkupi kesunyian. Lorong ruang perawatan ini sangat sepi melihat pukul berapa saat ini. Hanya ada dua perawat jaga di nurse station ini dengan mata yang hampir terlelap. Dan lagi-lagi Draco berusaha mencuri pandang kepada Hermione. Wanita itu terlihat menyimpan banyak ekspresi di dalamnya. Matanya terlihat sayu. Wajahnya terlihat lelah, namun tak sedikitpun ia menggerakkan tubuhnya dari posisinya saat ini.

"Kau pulanglah," tetiba saja Hermione membuka mulut.

Kening Draco mengerut saat mendengarnya. Seharusnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya, bukan Hermione. "Kaulah yang harusnya pulang."

Hermione mendengus. "Kenapa? Karena aku wanita dan terlihat lemah?"

"Aku tak berkata seperti itu," jawab Draco.

"Tapi aku tahu apa yang ada di kepalamu," tandas.

Draco bangkit dari sandarannya lalu bediri tepat di hadapan Hermione. "Kau tahu apa yang ada di kepalaku? Benarkah?" tanya Draco dengan suara husky yang dimilikinya.

Napas Hermione sedikit tercekat. Ia berusaha tak menunjukan hal itu di hadapan pria ini. Namun, belum sempat ia menjawabnya Draco kembali membuka mulutnya. "Sudah lebih dari 10 tahun Granger kita tak bertemu, apakah kau yakin masih mengetahui apa yang ada di kepalaku?"

"Arogansi. Hal itu yang aku yang aku yakini masih ada di kepalamu," balas Hermione yang tak dapat dijawab oleh Draco.

Draco masih berdiri di hadapan wanita itu. "Pulanglah. Aku baru saja bertukar shift dengan Monroe, aku bisa memantau anakmu," ujar Draco.

"Tak perlu."

"Atau kau bisa bertukar jaga dengan suamimu," tandas Draco yang membuat Hermione terdiam.

Menyadari perubahan manik wajah dari Hermione, Draco mundur selangkah sebelum membuka kembali suaranya. "Kau tak menikah?" tambah Draco.

"It's none of your business, Malfoy," ujar Hermione yang langsung pergi dari hadapannya dan masuk ke ruang perawatan puteranya.

Draco hanya memandangnya dari kejauhan. Hermione tak menikah. Seringai tipis terpancar dari wajahnya.

"Aku akan berada di on call room. Keep me post it for Alistair Granger," ujar Draco pada salah satu perawat di nurse station ini sambil berjalan meninggalkan lorong ini.

000

"Mum, ayolah aku sudah besar. Lusa aku akan berangkat ke Hogwarts untuk pertmana kalinya. Aku bisa menjaga diriku," ujar Alistair pada ibunya yang sudah sibuk berlalu lalang di dapur mereka menyiapkan sarapan sebelum ke St Mungo.

Hemione masih sibuk mengangkat roti panggang sambil mengontrol cucian piringnya secara sihir. Ia meletakkan sepiring roti panggang dengan selai dan juga susu di hadapan putera semata wayangnya ini. Ia masih tak menanggapi perkataan Alistair dan tetap sibuk dengan seduhan kopinya. "Mum," suara Alistair kembali terdengar.

Ibunya itu duduk berhadapan dengannya di kitchen island dapur ini dengan secangkir kopi hitam dan tentu roti panggang yang ia juga buat untuk dirinya. "Aku hanya ingin berada dekat denganmu sebelum kau pergi ke Hogwarts lusa, Alistair," jawabnya.

"Tapi aku terlihat seperti bayi atau balita saat kau membawaku ke tempat kerja. Demi Merlin Mum, aku ini sebelas tahun," balas Alistair tenang sambil menutupi rasa kesalnya.

Lahir dan dibesarakan oleh ibunya seorang diri membuat ia begitu menyayangi Hermione. Membantah dan marah apalagi merajuk bahkan jarang sekali ia lakukan. Hermione selalu bersyukur dengan hal ini.

"Aku hanya memiliki satu jadwal operasi dengan prosedur yang sangat mudah. Setelahnya aku akan memeriksa beberapa pasien post-op lalu aku bisa pulang untuk makan siang bersamamu, Alistair," balas Hermione.

"Bagaimana?" tanya Hermione lagi pada Alistair.

Setelah menyesap tetesan terakhir dari susu hangatnya ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan menunggumu di kafetaria sampai kau selesai nanti," jawab Alistair.

Senyum Hermione terpulas saat mendengar hal itu. Alistair bangkit dari bangkunya setelah menyelesaikan sarpannya lalu menuju kamarnya untuk mengambil buku dan tasnya. Hermione kembali menyesap kopinya lalu ia sedikit menghela napas. Ia membuka ponsel sihirnya dan kembali melihat hasil dari semua tes kesehatan Alistair. Ia tak habis pikir bagaimana selama ini ia tak memerhatikan kesehatan darah dagingnya sendiri. Bagaimana mungkin ia baru tahu bahwa Alistair memiliki kelainan jantung sekarang?

Untuk saat ini tak ada yang dapat dilakukan oleh Hermione selain menyetujui rencana perawatan dari Draco Malfoy. Ia tahu sekali bahwa kondisi Alistair tak membutuhkan operasi sebagai prosedur perawatannya saat ini. Ia hanya butuh memantau keadaan jantung untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Namun, saat ini hal yang ditakutkan oleh Hermione adalah masa depan. Bagaimana jika kondisi Alistair menjadi parah? Bagaimana jika ia kelak membutuhkan donor jantung untuk dapat menyelamatkan hidupnya?

Dilema lainnya adalah sosok yang menjadi healer bagi Alistair. Hermione berusaha sangat kuat agar berada jauh dari sosok itu, namun sekarang sosok itulah yang menjadi healer untuk Alistair. Ia ingin sekali mencari healer lain, tapi Draco Malfoy adalah yang terbaik di bidangnya. Ia kembali menyesap kopinya hingga kandas untuk menetralisir pikirannya saat mendengar derap langkah Alistair yang tengah menuruni tangga.

"Aku sudah siap," ujar Alistair yang sudah berdiri di ambang pintu dapur rumah ini.

"Sure," balas Hermione cepat.

000

Peralihan musim dari panas menuju gugur membuat London menjadi sangat kelam. Hujan tampak meraung-raung di luar sanah. Kafetaria St Mungo sudah menyalakan penghangat secara sihir sejak pagi tadi. Di sebuah sudut kafetaria, Alistair tengah duduk dengan sangat nyaman di sebuah sofa dengan sebuah buku di tangannya. A Hogwarts War menjadi buku pilihanya hari ini. Mengingat bahwa lusa ia akan memasuki kastil itu, Alistair sangat bersemangat mencari tahu segalanya.

Matanya tak kunjung lepas dari setiap kata yang terjalin di buku itu, sampai perhatiannya teralihkan pada gelas jus labunya kosong. Saat ia akan bangkit untuk mengisi jus labunya itu, Draco Malfoy sudah berada di hadapannya dengan sebuah gelas besar berisikan jus labu. "Kau mau ini?" tanyanya sambil menyodorkan gelas itu.

"Hello Healer Malfoy," sapanya.

"Hello Alistair," sapa Draco pada Alistair.

"Apa yang kau lakukan disini? Kita tak ada janji temu untuk control, bukan?" tanya Draco lagi.

Alistair menutup bukunya lalu duduk bersila di sofanya. "Ibuku takut jika aku tiba-tiba pingsan lalu mati di rumah seorang diri," jawab Alistair.

Kening Draco mengerut mendengar lelucon sarkastik yang dikeluar oleh bocah laki-laki di hadapannya. Pria itu mengambil tempat duduk tepat di hadapan Alistair. Ia menyesap kopi yang ia ambil dari kafetaria tadi perlahan sebelum membuka mulutnya. "Ibumu hanya khawatir pada kesehatanmu, young man."

"Ibuku khawatir terhadap segala hal, Healer Malfoy."

Tanpa sadar kekehan keluar dari mulut Draco. Pernyataan dari Alistair itu benar adanya. Hermione yang dikenalnya memang akan mengkhawatirkan segalanya. Ia masih mengingat jelas bagaimana wanita berambut cokelat itu menghabiskan waktu semalam suntuk di perpustakaan untuk ujian saat mereka masih intern walaupun semua orang tahu dia akan lolos dengan sangat mudah. Atau saat ia berjaga di ruang ICU untuk memantau pasien-pasien post-op nya meski ia sangat diperbolehkan untuk memantaunya dari on call room.

"Apakah kau dan ibuku sudah dekat dari dulu?" tanya Alistair yang membuyarkan pikiran nostalgia Draco tadi.

"Dekat?" Draco berbalik tanya.

"Mengapa kau berasumsi kami memiliki hubungan yang dekat?" tambah Draco lagi.

Alistair mengedik sambil menyesap jus labu yang diberikan Draco tadi. "Entahlah, tapi aku melihat kau seperti sudah mengenal baik ibuku," jawab Alistair.

"Padahal kami baru saja pindah ke London," tambah Alistair.

Kepala Draco mengangguk-angguk mendengarnya. Ia sangat yakin bahwa Alistair adalah darah daging dari Granger melihat seberapa pintar dan kritis juga pengamat yang sangat baik. Ia dapat membaca kedekatan hubungan mereka hanya dari mengamati cara Draco dan Hermione berkomunikasi.

"Kami berada di program intern yang sama," balas Draco.

"Apakah kau bersekolah di Hogwarts juga?"

Pertanyaan itu disambut oleh anggukan dari Draco yang membuat binar di mata Alistair terpancar saat mendengarnya. Alistair sangat ingin tahu segala informasi tentang sekolahnya ini. Ia sudah mendapatkan banyak informasi dari ibunya serta buku-buku yang ia baca namun ia butuh narasumber lain untuk memenuhi hasrat akan keingintahuannya. "Saat perang Hogwarts, kau berada di pihak siapa? Ibu dan paman-pamaku atau sebaliknya?"

Pertanyaan yang tak disangka Draco keluar begitu saja dari mulut bocah laki-laki ini. Ia terdiam sejenak sebelum kembali membuka mulutnya. "Well, I was a bad guy, Alistair."

"Was?"

"War is over, isn't it?"

Alistair mengangguk-angguk dengan seringaian di wajahnya. Hal ini membuat Draco sedikit terkejut. Anak ini sangat mengingatkan dirinya pada tampilannya di masa lalu.

"Jadi, kau dari Slytherin? Dan tak seasrama dengan ibuku dulu?"

"Betul, aku berada di Slytherin dulu," jawab Draco.

"That's cool."

Kali ini alis Draco yang mengerut. "Cool? Kau menyukai Slytherin dibandingkan dengan Gryffindor, asrama dari ibumu dan pahlawan-pahlawan Hogwarts lainnya?"

Alistair terlihat sedikit mengerecutkan bibirnya. "Aku sudah banyak membaca literatur dan mendengar dari ibuku mengenai asrama-asrama di Hogwarts."

"I want to be in Gryffindor but I think I'm not brave enough to be a part of them. But I believe, I'm smart enough to be in Slytherin," Alistair memperjelas pernyataannya yang membuat mata Draco seakan terbelalak saat mendenngarnya.

"Merlin! Granger mungkin akan bunuh diri jika mendengar ucapanmu tadi, young man," ujar Draco yang tak sanggup menutupi kekehannya.

Alistair tampak menghela napas. "Percayalah, Healer Malfoy, akupun takut ibuku bunuh diri jika mengetahui hal ini," balas Alistair yang ikut terkekeh.

"Jujur saja aku sampai bingung dan pusing karena hal ini," tambahnya lagi.

Draco masih menatap anak ini dengan takjub dan tak menyangka bahwa ia adalah putera dari Hermione Granger. Ia kembali menyesap kopinya perlahan yang masih tetap hangat karena sihir. "Kau bisa memercayakan hal ini kepada Sorting Hat, tapi ia juga akan mempertimbangkan keinginanmu, bahkan ia juga akan memerhitungkan garis keturunanmu," ujar Draco.

"Garis keturunan?"

"Betul. Hampir seluruh keluargaku berada di Slytherin dan begitupula dengan diriku. Atau teman ibumu, Si Weasley. Hal yang kutahu tak ada satupun dari keturunan keluarga itu yang tak berasramakan Gryffindor," Draco berusaha menjelaskan padanya.

"Aku bahkan tak tahu ayah kandungku berada di asrama apa," ujar Alistair dengan helaan napas dan terdengar seperti berbisik namun telinga tajam Draco masih dapat mendengarnya.

"Kau tak tahu siapa ayah kandungmu?" tanya Draco yang mencoba untuk menyembunyikan keterkejutanya.

"Alistair."

Suara itu mengalihkan perhatian bukan hanya Alistair, namun juga Draco.

"Mum," jawab Alistair.

Tatapan Hemione jatuh pada sosok yang sedari tadi menemani puteranya. "Malfoy."

"Granger," jawab Draco.

"Ayo Alistair," ajak Hermione pada anaknya.

Alistair bangkit dari duduknya sambil membereskan barang-barangnya. "See you, Healer Malfoy."

"See you, young man."

Perlahan Alistair dan Hermione menghilang dari tatapanya dan perkataan-perkataan dari Alistair terulang kembali di ingatannya. Anak itu tak tahu siapa ayah kandungnya dan Hermione tak menikah. Sangat menarik, bukan?

000

King's Cross

Suara riuh rendah dari para penumpang serta para pengantar memenuhi stasiun ini. Dari penyihir hingga muggle berbaur menjadi satu dengan urusan dan tujuannya masing-masing. Begitupula dengan keluarga dari Potter, Weasley dan juga Granger. Mereka sengaja datang lebih awal untuk menikmati makan siang bersama sebelum mengantar anak-anak menuju peron 9 3/4.

"Aku tak percaya bahwa kita berada pada tahap kehidupan ini," ujar Harry setelah selesai menghabiskan santap siangnya.

"Tak menyangka bahwa kita akan duduk bersama sambil mengantar anak-anak atau tak menyangka bahwa kau sudah memiliki tiga anak?" kekeh Ron yang membuat semuanya ikut tertawa.

Hermione baru saja membersihkan sudut bibirnya ketika Ginny menggenggam tangannya dengan hangat di atas meja. "Aku sangat bahagia kau kembali. Alistair terlihat bahagia disini," ungkap Ginny.

Sontak Hermione mencari keberadaan puteranya. Dari mejanya ia melihat Alistair yang tampak tersenyum lalu tertawa dengan dikelilingi oleh teman-teman sebayanya. Ada James Potter Jr dan adiknya Albus Severus serta puteri dari Ron serta Luna, Rose yang akan menjadi teman-temannya di Hogwarts nanti. "Aku juga bahagia dengan keputusanku untuk kembali ke London," balas Hermione.

"Lalu bagaimana dengan Malfoy?"

Mata Hermione langsung melirik pada Ron yang ketika saja membuka suara. "Tak ada hubungannya dengan Malfoy, Ron," tandas Hermione.

"Kami hanya mendengar bahwa Malfoy menjadi healer bagi Alistair," tambah Harry.

"Apakah kau baik-baik saja dengan hal itu? Apakah hal itu diperbolehkan?" sambung Harry kembali.

Dengan terburu-buru Hermione menenggak air mineral di hadapannya. Tak ada wine baginya di siang ini karena ia harus kembali ke St Mungo untuk menjalankan shift-nya. "Aku baik-baik saja dengan hal itu. Selain hubungan masa lalu kami, Draco Malfoy satu-satunya healer yang dapat kupercayai untuk kesehatan Alistair saat ini. Dan tak ada yang melaranganya untuk menjadi healer untuk puteraku," jelas Hermione.

"Jadi kau belum mengatakan apapun padanya?" Luna yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya membuka suara dan wanita berambut cokelat itu tak dapat menjawabnya.

"Mum."

Suara dari Alistair membuyarkan pikiran Hermione. Ia langsung menatap satu per satu wajah dari sahabatnya untuk segera menyudahi pembicaraan ini. Dengan senyum yang kembali terpulas Hermione menatap puteranya. "Yes, Alistair."

"Kenapa wajah kalian tegang sekali?"

Ron terkekeh. "Kami sedang membahas betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. Oleh karena itu, kau dan teman-temanmu tak boleh bermalas-malasan."

"Percayalah, aku tak akan mengecewakan ibuku, Uncle Ron," balas Alistair cepat.

"Great, buddy."

Alistair kembali memfokuskan diri pada ibunya setelah sesaat mendapatkan interupsi. "Apakah aku dapat pergi terlebih dahulu ke perron 9 3/4?" pintanya pada Hermione.

Kening Hermione mengerut. "Untuk apa? Sebentar lagi aku akan menemanimu kesana

Lagipula hal ini adalah pengalaman pertamamu, Alistair."

Alistair hanya terdiam sambil sedikit mengerucutkan bibirnya sampai James Potter Jr berdiri di belakangnya. "Ayolah Aunty 'Mione. Alistair akan kami jaga," ujar putera pertama dari Harry dan Ginny Potter itu sambil menunjuk ke arah Albus Severus dan Rose yang spontan melambaikan tangan dengan cengiran di wajah mereka.

Hermione menghela napas terhadap bujukan dari anak-anak ini. "Baiklah. Kau bisa pergi dahulu."

Kali ini cengiran itu berhasil tampak pada diri Alistair. "Thank you, Mum," ujar Alistair.

"Thank you, Aunty 'Mione."

"Aku titip Alistair, James," tambah Hermione pada James.

James memberikan tanda 'ok' dengan tangannya sementara Alistair melengos meninggalkan ibunya. "Aku sudah besar, Mum."

"See you in platform, guys," ujar James pada orang tua serta bibi juga pamannya.

Hermione tak lepas memandangi gerombolan bocah itu hingga berhasil melewati perron 9 3/4 itu. "Mereka sudah besar, Hermione," ucap Harry.

"Yaa, aku tahu itu," balas Hermione dengan senyuman di wajahnya.

000

Uap dari cerobong asap dari Hogwarts Express sudah mulai mengaung. Pertanda bahwa tak lama lagi kereta ini akan segera diberangkatkan. Alistair menatap sekitarnya dengan sangat takjub. Akhirnya ia merasakan sensasi ini. Senyumnya terpulas sambil terus mengedarkan pandangannya. James sudah berbaur dengan teman-temannya setelah mengenalkan dirinya pada yang lain. Rose yang akan berada di satu angkatan dengan dirinyapun sudah tampak bekenalan dengan yang lainnya. Satu sama lain tampak sudah mengetahui sedari lama, namun tidak dengan Alistair. Lahir dan besar di New York membuat segalanya tampak asing baginya sampai pandangannya tertuju pada seososok yang tengah berbincang tak jauh darinya.

Tak ada jas putih yang biasa dikenakan, kali ini pria berambut pirang itu mengenakan setelan bewarna hitam dan tampak berbeda sekali dari yang biasa Alistair lihat ketika di St Mungo. Draco Malfoy tampak berbincang dengan seseorang dengan sangat akrab di perron ini. Alistair ingin menyapa healer-nya itu namun diurungkannya karena takut dianggap tak sopan. Tetapi, pada akhirnya mereka beradu pandang karena Draco sadar bahwa ia tengah diperhatikan oleh bocah laki-laki yang baru dikenalnya belakangan ini. Healer Malfoy sapaan Alistair padanya itu menyunggingkan senyum lalu tampak berpamitan dengan lawan bicaranya untuk menghampiri Alistair. "Hello, Alistair," sapa Draco.

"Hi, Healer Malfoy," balas Alistair cepat.

Draco mengedarkan pandanganya dan tak menemukan Hermione. "Dimana ibumu?"

"Masih berada di restaurant dengan teman-temannya."

"Potter dan Weasley?"

Alistair mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari healer-nya itu. Draco mengalihkan pandangannya pada trolley yang berada di samping Alistair. "Kau sudah membawa semua list perlengkapan yang diberikan Hogwarts?"

Dengan cepat Alistair mengangguk. "Kau membawa banyak baju hangat, bukan? Cuaca dingin di Wales lebih tak bersahabat daripada London," tambah Draco lagi pada Alistair.

Lagi-lagi Alistair mengangguk. "Mum juga mengatakan hal yang sama. Tenang saja, aku membawa semua sweater dan jumper-ku."

Suasana terlihat canggung sesaat namun setelah mencair ketika Draco kembali membuka suara. "Tolong ingat pesanku, young man. Jangan memforsir tubuh nanti, jika kau merasa sudah lelah, berhentilah. Jika kau merasakan dada kirimu mulai tak nyaman beristirahatlah dan beritahu hal itu pada Madam Pomfrey. Ambil ramuan yang telah aku resepkan di Hospital Wing tiap paginya. Dan kau bisa menyuratiku kapanpun untuk memberikan kabar terbaru tentang kesehatanmu," jelas Draco panjang lebar.

"Aku hanya boleh menyuratimu mengenai update kesehatanku saja?"

Draco memicingkan matanya. "Apakah aku boleh menyuratimu untuk mengabari di asrama apa kelak tempatku berada?" tambah Alistair.

Kali ini Draco tak dapat menyembunyikan tawa renyahnya. "Kau dapat menyuratiku kapanpun dan apapun yang mau kau katakan padaku, young man."

Alistair hanya tersenyum ketika mendengar jawaban dari healer-nya ini. Tak ada yang pernah ia surati selama ini, namun sekarang ada ibunya dan Healer Malfoy yang bersedia dengan senang hati untuk disurati olehnya.

"Alistair."

Sebuah panggilan itu mengalihkan percakapan antara Draco dan Alistair. Tawa renyah Draco juga terhenti saat Hermione bergabung dengan mereka. "Mum," sapa Alistair.

"Granger."

"Malfoy."

Suara menggema dari klakson Hogwarts Express kembali terdengar dan uap dari pembakaran diesel juga kembali terlihat pertanda beberapa saat lagi kereta itu akan meninggalkan perron ini. Hermione merapihkan mantel yang dikenakan Alistair. "Ingatlah untuk memakai baju hangatmu. Kau juga tidak boleh..."

"Aku tidak boleh kelelahan. Ramuanku setiap paginya dapat kuambil pada Madam Pomfrey di Hospital Wing. Dan aku akan menyuratimu tentang semua perkembanganku, bukan?" ujar Alistair yang berhasil memotong perkataan ibunya

Hermione mengangguk-angguk. "Baiklah, Alistair."

"Healer Malfoy juga berpesan yang sama persis sepertimu. Semuanya sudah berada di luar kepalaku, Mum," ungkap Alistair.

Sontak mata Hermione menatap Draco yang hanya terdiam dan sedikit mengedikan bahunya. Lalu tanpa berlama-lama lagi, Alistair menaiki Hogwarts Express bersama yang lainnya. Hermione melambaikan tangannya pada Alistair yang sudah lebih dahulu melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa, Mum. Sampai jumpa, Healer Malfoy."

"Sampai jumpa, Alistair," balas Hermione sementara Draco hanya memulas sedikit senyuman sambil tetap melambaikan tangannya.

Suasana canggung mengisi kesunyian antara Hermione dan Draco ditengah hiruk pikuk King's Crosss setelah Hogwarts Express meninggalkan perron itu. Keduanya tampak diam sampai akhirnya Hermione yang berhasil memecahkannya. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Ini tempat umum, Granger."

"Tapi tenanglah aku tidak disini untuk mengantarkan anakku, jika itu yang kau pikirkan," tambah Draco.

Hermione menghelas napas kesal dengan jawabanya sementara Draco berusaha menyembunyikan seringaiannnya. "Aku tak peduli."

"Tapi kau bertanya," sambar Draco cepat.

Belum sempat Hermione membalasnya Blaise Zabini menepuk pelan pundak Draco yang membuat pria itu menyadari keberadaannya. "Mate," sapanya.

"And hello Granger, its been a long time, huh?"

"Well hello you too, Zabini," jawab Hermione.

"Aku mencarimu, Letitia belum sempat berpamitan denganmu tapi kau sudah menghilang," ujar Blaise pada Draco.

"Aku akan menyuratinya nanti," balas Draco.

"Letitia?" tanpa sadar Hermione bertanya.

Blaise mengangguk. "Yaa, Letitia, anak perempuanku. Serta anak baptis Draco. Hari ini adalah hari pertamanya di Hogwarts."

Seringaian tipis dari Draco masih menghiasi wajahnya. "Terjawab sudah apa yang aku lakukan disini bukan, Granger?"

Dan lagi-lagi belum sempat Hermione membuka suara, Draco kembali berbicara. "Aku rasa urusanku susah selesai disini. Ayo Blaise. Sampai bertemu di St Mungo, Granger."

000

St Mungo Hospital

Sejak subuh Hermione sudah berada di rumah sakit setelah mendapat panggilan darurat karena salah satu pasiennya tetiba saja berada di kondisi kritis pasca operasi. Dua jam ia berkutat di ruang operasi untuk menyalamatkannya dan kini ia baru saja bangun dari istirahat singkatnya di on call room. Shift-nya dimulai lima belas menit lagi. Wanita itu beranjak dengan malas dari salah satu tempat tidur berbetuk bunk bed menuju cermin sambil merapihkan rambutnya yang perlahan terlihat seperti semak belukar. Dengan satu ayunan mantra ia sudah siap mengahadapi harinya.

"Morning, Healer Granger," sapa salah satu residennya sambil memberika segelas kopi kesukaannya.

"Well, morning."

Residen itu memberikan sebuah chart perkamen yang berisi jadwal konsultasi pasien sampai pemeriksaan pra dan pasca operasi. Langkah mereka terhenti di sebuah nurse station di lantai konsultasi. "Morning, Healer Granger," sapa salah seorang perawat yang dengan sigap memberikan pena bulu padanya karena sudah mengetahui apa yang tengah dicari wanita itu.

"Morning and thanks," balas Hermione yang menyunggingkan senyum tulusnya pada perawat itu sambil mulai membaca dan menandai chart di tangannya.

"Morning, Healer Malfoy," perawat itu kembali membuka suaranya untuk menyapa Draco Malfoy yang juga berhenti di nurse station itu dengan seorang residen di belakanya persis seperti Hermione.

Hermione menatapnya sejenak tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Good morning, Nurse Kevin. And good morning to you too, Healer Granger."

Tak ada senyum tulus yang terpulas pada wajah Hermione seperti saat ia membalas sapaan Nurse Kevin sebelumnya. "Morning."

Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya tanpa ada ekspresi yang berarti. Ia kembali sibuk dengan chart di tangannya dan sesekali berdiskusi dengan residen yang bertugas dengannya hari ini. Begitupula dengan Draco yang tampak tak memedulikan dirinya dan sibuk membahas jadwal konsultasinya dengan seorang residen lain yang betugas dengannya hari ini. "Congratulations, Alistair is a Slythrine now."

Sebuah kalimat selamat itu sontak membuat Hermione menghentikan kegiatan menulisnya tadi. Draco Malfoy mengetahui kabar terkini puternya, bahkan ia baru mengetahuinnya malam tadi. Bagaimana mungkin kabar anaknya secepat ini menyebar. What the...

"Bagaimana kau tahu?" tanya Hermione yang berusaha tenang.

"Dia menyuratiku," balas Draco cepat tanpa mengalihkan fokusnya terhadap chart yang tengah diperiksanya.

Damn it, Alistair. Hermione bergumam dalam hati. Puteranya bahkan baru mengenal pria pirang ini dalam hitungan hari dan ia sudah menyuratinya. Hal ini yang selalu menjadi momok bagi Hermione. Dan sekarang dalam sekejab momok itu sudah menjadi kenyataan.

"Have a good day, Granger," ujar Draco yang lalu meninggalkannya dengan seorang residen yang mengekorinya.

Hermione masih terdiam di tempatnya.

"Healer Granger, pasien kita sudah menunggu. Shall we?" ucapan residen itu mengingatkannya kembali pada kewajibannya.

"Yes. Let's go."

000

"It's really long time to not see you, Amanda," sapa Hermione pada pasiennya.

Amanda Herera, gadis 19 tahun yang mengidap komplikasi akibat kanker lymphoma stadium tiga yang sudah menjadi pasien Hermione sejak tiga tahun kebelakang. Hermione berhasil mengangkat hampir seluruh jaringan kanker dan melakukan kemoterapi sihir sebagai langkah akhir membunuh sel-sel kankernya. Ia sudah tak melihat Amanda lagi sejak beberapa bulan lalu saat Hermione mengatakan bahwa ia hampir sembuh. Dan kini saat pasien itu kembali ke hadapannya bahkan saat ia sudah mengetahui bahwa Hermione sudah pindah ke St Mungo.

"Yes, sudah lama sekali Healer Granger. Dan kau tanpa kabar tetiba sudah pergi meninggalkan New York," ujar gadis ini berpura-pura merengut.

"Dan kau tetap mencariku," kekeh Hermione.

"Karena kau yang terbaik, Healer Granger," balasnya dengan cepat sambil ikut terkekeh namun terhenti karena terbatuk.

Hermione langsung sadar dengan kondisi Amanda saat ini. Ia langsung dengan sigap menghampiri gadis itu dan memintanya untuk berbaring melihat wajahnya yang mulai pucat pasi. "Sejak kapan kau batuk seperti ini," tanya Hermione yang mulai memeriksa Amanda dengan stetoskop sihirnya.

"Satu sampai dua bulan ke belakang."

"Dan kau baru datang padaku sekarang?" tanya Hermione sedikit kesal pada pasien kesayangannya ini.

Amanda hanya terkekeh lalu terbatuk sambil menahan sakit di dadanya. "Aku diterima di Medical Magic School, New York Magical University, Healer Granger," balasnya.

Hermione tak kuasa menahan perasaan bahagianya. Ia tahu hal ini adalah cita-cita Amanda sejak dulu, namun sempat tertahan karena ia harus menjalankan perawatan kankernya. Namun, perasaan bahagianya terhenti seketika saat mendapati lebam biru dengan jaringan parut di dada kiri bagian atas Amanda. Langsung saja Hermione memakai sarung tangan sterilnya untuk memeriksa lebih lanjut. "Page Cardio," perintahnya pada residen di sampingnya.

"Yes, Healer Granger."

"Sudah parah yaa?" tanya Amanda dengan raut takut yang sudah tak lagi dapat di bendungnya.

"Sejak kapan kondisi dadamu seperti ini?" Hermione berbalik tanya sambil terus memeriksanya.

"Sudah lama."

Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Amanda. Hermione tak membalasnya hanya tetap mengobservasi sambil menunggu healer dari bagian cardio datang untuk membantunya berkonsultasi. Dari tampilan luar dengan jaringan parut dan lebam pada kulitnya, Hermione yakin kanker-nya sudah menyebar hingga pembuluh darah dan sudah menginfeksinya.

"Cardio's here."

Mendengar suara yang baru saja memasuki ruang konsulnya dan harum tubuh yang tak berubah sejak bertahun-tahun lalu menyeruak di penciumannya membuat Hermione menghelas napas. Dari beberapa cardio's healer, Draco Malfoy-lah yang datang padanya saat ini. "Apakah tak ada cardio lainnya?" tanya Hermione pada residennya.

"Hanya Healer Malfoy yang on call saat ini," balas residen itu.

"Hanya aku Granger. Take it or leave it," tegas Draco yang masih berdiri di ambang pintu ruangan itu.

Masih dengan kembali menghela napasnya, Hermione mengangguk. "Come and please take a look."

Hermione bergeser memersilahkan Draco melakukan pemeriksaan pada Amanda. "Hi, saya Healer Malfoy dari bagian Cardio," dan seperti biasanya tanpa harus menunggu jawaban dari pasiennya Draco mulai bekerja. Ia mengerutkan alisnya saat melakukan pemeriksaan. Sama seperti Hermione, dugaan bahwa sel kanker sudah menyebar di pembuluh darah Amanda juga menjadi prognosis-nya.

"Sejak kapan napasmu terasa sesak seperti ini?" tanya Draco sambil melepaskan stetoskop sihirnya.

"Dua bulan yang lalu," jawab Amanda cepat.

"Dan kau sering merasakan hal ini?" tanya Draco lagi,

Amanda mengangguk. "Apakah kau mual dan pusing saat ini?"

Lagi-lagi Amanda mengangguk. "Aku sudah merasa sesak napas, mual dan pusing sejak pagi ini. Apakah kondisiku kritis, Healer Malfoy?"

Draco tak menjawabnya dan kembali mengeluarkan pertanyaan lain. "Kau demama, Miss Herera. Apakah ini sering terjadi di siang hari? Atau sebelumnya kau sering mengalami demam di malam hari?"

Lagi-lagi Amanda mengangguk. "Awalnya hanya malam, namun belakangan ini terjadi hampir setiap hari."

Draco Malfoy hanya tersenyum sesaat lalu memberi interuksi pada residennya untuk memberikan ramuan penurun detak jantung dan memasukan beberapa ramuan lain melewati infus sihir kepada Amanda. Hermione terkejut namun sebelum ia sempat membuka suara Draco menariknya keluar dari ruangan. "Apa prognosismu?" tanya Hermione lagi tanpa tedeng aling-aling.

"Kankernya sangat agresif menurutku. Sel-sel itu sudah menyebar ke pembuluh darah jantung bahkan aku yakin hingga paru-parunya. Jika kita tidak mengoperasinya saat ini, aku tak yakin dia akan bertahan. Amanda bisa terkena henti jantung setiap saat," jelas Draco

Dan untuk kesekian kalinya Hermione menghela napas. Dugannya dan pendapat Draco ternyata tepat. "Mari kita kabarkan ini padanya."

Mata Amanda tampak sayu namun kegelisahan tetap tampak disana. "Aku berada di kondisi kritis, bukan?" tanya Amanda yang dijawab dengan anggukan dari Hermione.

"Kami harus mengoperasimu saat ini juga. Jika terlambat kau sangat berpotensi mengalami henti jantung," balas Hermione.

Air mata mulai berlinang dari sudut mata Amanda. "Do it, Healer Granger. Please save my life once again. I beg you," jawab Amanda.

"Apakah kami bisa menghubungi orang tua atau saudaramu?" tanya Draco yang dijawab dengan gelengan.

"I am alone in this world."

Hermione mengangguk. "Prepare OR," ucap Hermione pada residennya.

Draco berjalan ke sisi Hermione. "Let's go," ucapnya lalu perlahan mendorong brankar Amanda bersama Hermione dan seorang residen yang lain.

"Please save me, Healer Granger. I want to be a healer just like you and Healer Malfoy."

Kalimat itulah yang terucap terakhir dari Amanda sebelum ia kejang dan tak sadarkan diri. "Red Code! Crash cart now!" teriak Draco.

Seorang residen datang dengan crash cart di lorong menuju ruang operasi sambil tergopoh-gopoh. "Give me epi," ucap Draco yang langsung disambut oleh serbuah suntikan dari perawat yang sudah mendampingi mereka.

Sementara Draco menyuntik epinephrine ketubuh Amanda, Hermione sudah mulai memompa jantungnya dengan tangan kosong. Disaat ia merasa ini akan sia-sia, Hermione memasangkan alat pacu jantung lengkap dengan monitor jantung pada Amanda yang masih berada di lorong menuju ruang operasinya. "Clear!" ujar residennya.

Hermione kembali memompanya dengan tangan namun tak ada perubahan dari detak jantunnya yang hilang di monitor. "Charge 220!" teriak Hermione.

"Clear!"

Dan kembali Hermione memompa jantung Amanda dengan tangannya dan kembali tak ada perubahan pada monitor jantungnya. "Come on, Amanda! Wake up, wake up!" ujar Hermione yang tak henti memompa jantung Amanda yang sudah terhenti.

"Stop, Healer Granger," ujar Draco yang tak diindahkannya.

"Stop, Granger," ujar Draco lagi.

"Shut up, Malfoy!"

Tanpa berbicara lagi, Draco menarik Hermione yang berusaha meronta dari tubuh Amanda. "Stop, Hermione! She is dead."

Hermione perlahan tenang dan suara henti jantung panjang keluar dari monitor itu. "Time of death is 12.45," ucap Draco

"Damn it," ujar Hermione terduduk lemas.

000

Seharian setelah kematian Amanda di lorong St Mungo, Hermione tak menampakkan batang hidungnya. Ia tak mungkin pulang karena masih ada namanya di jadwal operasi nanti malam. Draco sedikit banyak mengetahui keberadaan Hermione saat ini jika kebiasaanya masih sama seperti dahulu.

Tak ada hujan yang turun hari ini, hanya mendung dengan angin yang sudah sangat lumrah terjadi di bulan September seperti sekararang. Dan tepat seperti dugaannya, Hermione tengah duduk di padang rumput di belakang St Mungo. Matanya terpejam sambil mendengarkan aliran sungai. Sesekali ia menghirup napas dalam-dalam dan air mata itu kembali berlinang. Amanda Herera mati di tangannya. Ia masih tak memercayai hal itu.

"Kau akan mati beku jika berlama-lama disini," suara Draco membuyarkan pikirannya sambil merapalkan mantera penghangat di sekitar mereka.

Ia membuka matanya dan melirik ke arah Draco yang berdiri tepat di sisinya. "Go away, Malfoy. I don't have enough energy to argue with you," balas Hermione.

"I don't wanna argue with you," jawab Draco yang duduk di sisinya lalu menyerahkan segelas kopi sama seperti rutinitas mereka dulu kala.

Dengan enggan Hermione menerimannya. "Thanks."

Hermione menyesap perlahan kopi itu sambil berusaha menyeka air matanya. "Stop crying, Granger. You didn't kill her."

"But I killed her dream."

"Cancer killed her dream. Not you," tepis Draco.

Hermione meletakkan gelas kopinya. Draco berpikir bahwa Hermione akan berargumentasi dengannya, tapi wanita ini hanya tertunduk diam. Alih-alih menyumpah serapahi Malfoy seperti yang sering ia lakukan, Hermione terdengar sedikit terisak pelan. "Aku sudah menjadi healer baginya sejak pertama kali ia terdiagnosa kanker. Ia yatim piatu. Dan aku tahu sekali apa yang menjadi keinginannya. Aku tahu sekali apa yang menjadi mimpinya. Namun sebagai healer aku gagal mengobatinya. Aku gagal membuat mimpinya terwujud. Aku membunuhnya."

Dengan tubuh yang masih terisak, Draco menarik Hermione ke pelukannya. Dan dengan sangat mengejutkan dia tak menolaknya. Dia membiarkan Draco memeluk sambil menenangkannya. Dia membiarkan Draco memeluknya. "Kau tidak membunuhnya. Sebagai healer kau sudah melakukan hal yang tebaik. Kankernya sudah sangat parah dan sudah sangat terlambat bagi kita untuk menolongnya."

Hermione membalas pelukan itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Draco. Sesaat kemudian mereka saling melepaskan pelukan tadi. Keduanya saling menatap dalam satu sama lain. Sudah lama sekali mereka tak berada di kondisi seperti ini. "Are you okay?" tanya Draco yang seperti berbisik pada Hermione dengan jarak yang sangat dekat dengan wajahnya.

Wajah Hermione memerah dan ia menghela napas. "No, I am not."

Dan tanpa tedeng aling-aling lagi Draco melumat lembut bibir Hermione. Perlahan Hermione membalasnya dan mengalungkan tanganya pada leher Draco. Suara petir yang seketika terdengar membuyarkan segalanya. Hermione terlonjak dan tetiba saja melepaskan dirinya. Dengan refleks ia menampar Draco. "What the hell, Granger."

Mata Hermione tampak bingung dengan respon refleksnya. Ia bangkit dari rerumputan itu dengan Draco yang masih duduk disana. "I am sorry."

Hermione berlari masuk ke rumah sakit tepat di saat hujan turun dari angkasa. "Shit!" umpar Draco.

000

to be continued

A/N : Please kindly leave your review dear. Love you XOXO