Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Ten
l
"Maaf aku hampir membunuhmu," Draco menarik sebuah selimut tebal untuk Hermione yang sedang tersandar lemas di sofa.
"Jika bibi bella mu tau pasti dia akan bangga," canda perempuan berambut ikal itu mencoba mencairkan suasana.
Draco memberikan sepiring pasta pada Hermione, "Makanlah, aku sudah menelpon Bistro Garden untuk memastikan tidak ada kacang di pasta ini."
"Terimakasih," ucap Hermione sambil meraih piring yang Draco berikan.
"Malam ini seperti roller coaster," pria berambut silver itu duduk di ujung sofa yang berlawanan dan memangku kaki Hermione.
"Tapi menyenangkan."
"Definisi menyenangkanmu sangat mengerikan."
Hermione tertawa pelan lalu menyendokkan sesuap pasta ke mulutnya, "Astaga ini enak sekali."
"Iya kan? Itu makanan kesukaan ku di Bistro Garden."
"Here, take a bite." Hermione menyodorkan garpu ke mulut Draco.
Tanpa ragu pria itu langsung menyambut suapan Hermione, "Aku lupa rasanya seenak ini, sudah lama aku tidak memakannya."
"Kukira kamu pelanggan setia."
"Bistro Garden restoran kesukaan Astoria, aku belum sanggup datang sendirian kesana. I'm not sad or anything, it just didn't feel right." Draco mengigit bibirnya "Ya, ya, itu hanya sebuah restoran harusnya aku tidak se sentimental ini. Kamu boleh menghakimi ku."
"Menghakimi karena kamu mencintai istrimu? Yang benar saja. Menurutku ini romantis, bukankan kita mengininkan pasangan yang mampu mencintai kita bahkan saat sudah dipisahkan maut." Jelas Hermione sambil tersenyum.
Draco ikut tersenyum.
"Aku hanya bisa berharap saat aku mati nanti ada yang meratapi kepergianku seperti Greengrass," perempuan itu menghela nafas panjang. "Mungkin aku akan mati sendirian, di ruang tamu, dikelilingin puluhan kucing ku."
Pria berambut silver itu hampir menyemburkan air yang ia tegak, "Negatif sekali." Cibirnya menahan tawa.
"Realistis," perempuan itu memicingkan mata. "Aku tidak masalah sebetulnya hidup sendiri seperti ini, hidupku terasa sepi hanya jika diingatkan."
"Memangnya siapa yang tega mengingatkan?"
"Seluruh temanku!" seru Hermione, ia hampir terperanjat dari kursi saking antusias. "Mereka terus mengenalkan pria-pria asing berharap bisa menjadi pasangan baru ku, aku tidak butuh pria agar hidupku sempurna."
"Sama saja seperti Daphne, dia terus memaksaku untuk pergi kencan dengan teman-temannya. Aku sampai bosan menolak." Bola mata pria itu berputar menyuarakan isi hati.
"Setidaknya kamu sudah perpengalaman dengan kencan-kencan seperti itu, kalau aku? Aku hanya pernah berpacaran dengan satu orang dan langsung menikah."
"Aku tidak punya banyak pengalaman dengan perempuan," sebuah helaan nafas keluar bersamaan dengan tawa sarkas.
"Ayolah, kamu punya belasan pacar saat di Hogwarts dulu."
"Tetot, salah." Seru Draco memimik host game di TV.
"Ada rumor kamu mengganti pacarmu tiap bulan karena bosan."
"Aku sengaja menyebarkan rumor itu agar rahasiaku tetap aman," Draco melemparkan pandangan nya pada langit-langit.
"Dan apa itu?" perempuan berambut ikal itu menaikkan sebelah alisnya penasaran.
"Rahasia." Draco menyeringai puas.
"Ughh ayolah," pinta Hermione. "Bagaimana kalau aku ceritakan rahasiaku terlebih dahulu."
"Terlihat adil," pria itu mengangguk.
Bersiap untuk mengatakan rahasianya Hermione menarik sebuah nafas panjang. "I used to have a big crush on Harry," ucapnya dalam sekali helaan nafas.
"Ini serius?" mata Draco terbelalak. "Kapan?"
"Tahun ketiga sampai empat," senyum perempuan itu sudah tidak terkontrol. "Saat kami berdua mengulang waktu untuk menyelamatkan Sirius dia benar-benar membuatku takjub, Harry adalah penyihir yang luar biasa dan tanpa sadar aku menyukainya. Ughhh ini sangat memalukan." Hermione membenamkan wajahnya ke sebuah bantal.
"Lalu apa yang kamu lakukan?"
"Tidak ada." Jawab nya singkat.
"Sama sekali tidak ada?"
"Yup."
"Bagaimana dengan perasaanmu?"
"I got my heart broken when I knew he likes Cho, aku sangat kecewa karena tidak terbesit dipikiran nya untuk mengajak ku ke Yule Ball." Hermione tertawa sarkas "Di akhir tahun keempat aku kembali melihat nya –ya sebagai harry – sahabatku yang kacamatanya sering rusak."
"Tidak mungkin."
"Tidak ada yang tidak mungkin Malfoy."
Perempuan itu kembali meneguk wine nya, rahasia yang ditutup rapat-rapat selama belasan tahun akhirnya terbuka juga. Yang paling aneh adalah Draco lah yang pertamakali mengetahui rahasia kecilnya.
"Jadi itu rahasia ku, sekarang ceritakan rahasia mu."
"Baiklah," pria berambut silver itu menaruh gelas di atas meja. "Kamu masih ingat Lucinda?"
"Hufflepuff kan?"
Pria itu mengangguk, "Aku pernah mengencaninya."
"Lucinda?"
"Yup, kami berpacaran selama empat tahun."
"Empat tahun?! Tidak mungkin." Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang tidak mungin Granger," Pria itu mengulang kalimat Hermione tadi. "Jadi rumor tentang aku seorang playboy tidak benar, hubungan itu sengaja kami rahasiakan."
"Bagaimana si manis Lu bisa jatuh ke tangan ferret sepertimu."
Draco terkekeh, sudah lama tidak mendengar panggilan itu. "Aku juga tidak tahu, dia gadis yang aneh. Saat semua murid membenciku karena membawa pelahap maut masuk ke Hogwarts, hanya dialah yang memaklumi posisiku." pria itu menghela nafas panjang. "Aku menangis sebulan penuh saat tau dia terbunuh pada perang Hogwarts."
"Aku turut berduka Malfoy."
"Bisa jadi ini kutukan, setiap perempuan yang aku cintai akan mati."
"Tidak ada kutukan seperti itu, mungkin yang selanjutnya akan tinggal."
Sesaat pria itu terdiam dan menatap mata coklat Hermione, lalu ia tersenyum sambil kembali meraih gelasnya. "Aku hanya bisa berharap."
-o0o-
"Renaa, kakek dan nenek sebentar lagi datang." Draco berseru dari dapur kea rah kamar anaknya.
Pria itu sibuk menata makanan agar terlihat sempurna, ya sempurna. Ayam panggang ditaruh tepat di tengah piring, tidak satu centi pun miring dan mengeluarkan alat makan silver terbaik yang ia punya. Peri rumah juga ia buat kewalahan, setiap sudut harus bersih dari debu.
Bukan lagi rahasia jika Lucius dan Narcissa, terutama Lucius, selalu mengharapkan yang terbaik dari putra satu-satunya. Mengharapkan adalah kata yang halus, mungkin memaksakan adalah kata yang lebih tepat. Sedari kecil Draco harus berjuang mati-matian untuk memuaskan keinginan Lucius, namun setelah perang Hogwarts pria itu memutuskan untuk hidup mandiri dan lepas dari tekanan orang tuanya. Ia pindah dari Manor dan tinggal di apartemen kecil, hubungan dengan orang tuanya semakin merenggang sejak itu.
Saat Draco mengatakan ingin menikahi Astoria Greengrass, awalnya Lucius senang dengan pilihan ini namun ketika ia tau bahwa Astoria kini dianggap sebagai 'blood traitor' ia kecewa dengan pilihan anaknya dan bersikap dingin pada Draco. Jarang sekali orang tua Draco mau berkunjung ke rumahnya, mereka menilai rumah Draco terlalu 'muggle' untuk mereka.
"Renaaa," Draco berteriak sekali lagi karena anak gadisnya tidak kunjung muncul.
"I'm here!" seru Rena sambil melompat muncul dari balik meja.
Mata kelabu pria itu melebar saat melihat Rena memakai jersey Quiditich miliknya yang, tentu saja, kebesaran di badan putrinya, "Ada alasan mengapa kamu memakai jersey ayah?"
"Kenapa tidak? Kakek suka Quiditch."
"Pakai gaun yang ayah siapkan tadi malam saja ya, kalau kamu memakai itu kakek dan nenek akan mengira aku tidak membelikanmu pakaian."
"Bagaimana kalau jas?"
Draco mengrenyitkan dahi, "Kamu tidak punya jas sayang."
"Gaun membuatku terlihat seperti perempuan," ucap Rena tiba-tiba.
"Tapi kamu perempuan…"
"Ah ayah tidak mengerti."
Dengan wajah murung Rena berjalan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ada alasan mengapa Rena tidak ingin terlihat feminim hari itu namun nampaknya Draco tidak menyadarinya.
Sudah lama sekali sejak orang tua Draco tidak berkunjung. Kakek dan nenek Malfoy selalu menjaga jarak dengan Astoria, karena mereka mengganggap Astoria merubah kepribadian anak semata wayang. Namun semenjak Rena hadir, Lucius dan Narcissa mencoba untuk lebih menerima kehidupan baru anaknya.
Saat Draco sedang sibuk mengukur letak piring dengan penggaris, kobaran bara api hijau berpijar dari perapian floo. Rena dan Draco langsung berlari untuk menyambut mereka dengan senyuman lebar.
"Draco!" Narcissa langsung berseru gembira saat melihat anak lelakinya berdiri tegap di depannya. "Ibu merindukan mu."
"Hai bu," pria itu mencium pipi Narcissa dan memeluknya.
"Nenek Cissa!" Dengan hangat Narcissa memeluk cucu perempuan kesayangannya, sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan Rena.
"I miss you so much little pumpkin."
Berbeda dengan anggota keluarganya yang lain Lucius mematung berdiri dengan tongkat jalan nya, ia bahkan tidak memeluk Rena atau menyapa Draco. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan menuju ruang keluarga.
Narcissa tidak ingin berkomentar tentang sikap Lucius dan mengajak anak dan cucunya untuk menata makanan yang ia bawa. Walaupun Draco dan ibunya sudah menyerah untuk mengubah pikiran Lucius namun tidak untuk Rena.
Gadis itu berlari ke dapur dan mengambil sepiring penuh donat gula dan membawanya ke ruang keluarga. "I made you donut!" gadis itu langsung menyodorkannya pada Lucius.
"Tidak terima kasih," kata Lucius acuh.
"Kakek tidak mau makanan buatanku?" Rena memberi tatapan lesu dengan bola matanya yang menjadi lebih bulat dari biasanya.
"Okay, okay, give me one." Lucius langsung menyambar sebuah donat dan menggigitnya.
Rena tersenyum senang, tipu muslihat yang biasa ia lakukan pada ayahnya berhasil melembutkan hati batu Lucius. Narcissa dan Draco mengintip mereka berdua dari dapur dan tidak berniat untuk mengganggu apapun yang sedang Rena lakukan.
"So, whats new?" tanya Narcissa sambil menaruh potongan buah ke mangkuk.
"Sindikat yang menyerang Minister of Magic Australia sudah berhasil di tangkap," ucap Draco santai.
"Ibu bertanya tentang hidupmu bukan kementrian."
"Tidak ada yang baru, hidupku membosankan."
"Kamu terlihat lebih bersemangat dari terkahir kita bertemu, ibu kira ada hal menyenangkan yang terjadi."
Draco mengangkat bahunya tanda tidak tau.
"Ngomong-ngomong kamu tidak mengundang Granger hari ini?"
Hampir menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang Draco mengerjap kaget, "Granger? Granger siapa?" pria itu gelagapan menjawab pertanyaan Narcissa.
"Hermione Granger," jelas Narcissa. "Kamu sedang dekat dengannya kan?"
"Bu ada apa denganmu? Kepala mu habis terbentur sesuatu?" Tanya Draco dengan wajah khawatir.
Narcissa menjitak kepala anaknya, "I'm fine, memang nya seorang ibu tidak boleh tau kehidupan anaknya."
"Tentu saja boleh, tapi aku dan Granger tidak ada apa-apa."
"Aku mengenalmu seumur hidupmu Draco Lucius Malfoy, ibu tau jika kamu berbohong."
Pria itu menghela nafas, "Mungkin ada sesuatu antara aku dan dia, namun aku juga belum yakin."
"Well, better than nothing, right?"
"Wait, what?" Mata Draco memicing, tidak ada kata-kata buruk yang keluar dari mulut ibunya saat mendengar kabar ini. "You're actually ok with this?"
"Tentu saja, ibu selalu menyukai gadis itu. Pintar, cantik dan pemberani."
Kepalanya pusing saat mendengar kalimat yang ibunya katakan, mungkin orang di depannya bukan Narcissa. Hermione seorang muggle born bagaimana Narcissa bisa baik-baik saja dengan hal ini.
"Bu, dia kelahiran muggle." Draco kembali menegaskan.
Perempuan paruh baya itu tersenyum simpul, "Jika kamu bisa berubah kenapa aku tidak?" Narcissa mencium pipi putranya sebelum menaruh salad buah ke dalam lemari es meninggalkan putranya yang menganga lebar.
Pria itu mematung untuk beberapa saat, ia masih terkejut akan reaksi ibunya. Saat Draco hendak bergabung dengan yang lain di ruang keluarga, matanya terbelalak melihat seorang gadis kecil tengah bersusah payah menarik sapu terbang miliknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku ingin mengajak kakek bermain Quiditch."
Draco menghela nafas dan berlutut di depan anaknya, "Oke, katakan pada ayah apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku ingin menjadi laki-laki," kata Rena polos.
"Mengapa?"
"Karena kakek ingin cucu laki-laki," seketika dada Draco terasa sesak, entah Rena mendengar hal ini dari mana namun ini memang realitanya.
Lucius selalu menginginkan cucu laki-laki agar nama keluarga Malfoy tidak berhenti di Draco namun hal itu tidak dapat di wujudkan. Setelah melahirkan Rena kondisi Astoria semakin memburuk, walaupun Astoria menginginkan adik untuk Rena namun Draco menentang keras hal ini. Pria itu takut kehamilan bisa memperburuk kesehatan Astoria, Draco rela nama keluarganya berakhir di dia daripada harus membahayakan istrinya.
"Kakek tetap menyayangimu walaupun kamu bukan laki-laki," Draco mengelus rambut anaknya.
"Tapi—"
"Dari pada mengajaknya bermain Quiditch, bagaimana jika menunjukkan video pertunjukkan balletmu."
"Bukannya ayah tidak ingin kakek dan nenek tau kalau aku ikut kelas ballet?"
"Ayah sudah tidak peduli lagi, I won't let them force their standard to you."
"Benarkah?"
"Tentu saja, ayah tidak mau menutup-nutupi apa yang kamu suka hanya karena kakek dan nenek tidak setuju dengan hal itu."
Sebuah senyum terkembang di wajah Rena, "Jika kakek marah bagaimana?"
"Kita langsung kabur ke alaska, meskipun sudah tua ayah tetap takut padanya." Kata Draco yang diikuti tawa Rena.
Sambil menggandeng tangan anaknya Draco bergabung bersama kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Karena rekaman yang diberikan dari pihak sekolah ballet Rena berbentuk CD keluaran muggle, Draco harus meminjam pemutar CD pada Hermione untuk menyaksikan rekaman tersebut. Lucius belum berkomentar apapun saat melihat Draco mengeluarkan pemutar CD lengkap dengan proyektor.
"Aku dan Rena ingin menunjukkan pertunjukkan ballet Rena beberapa minggu lalu," ucap Draco.
"Ballet?" tanya Narcissa bingung.
"Iya, itu adalah salah satu tarian terkenal di kalangan…" pria itu menelan ludah. "Muggle."
Tidak terlihat perubahan suasana di wajah Narcissa ataupun Lucius, mereka tidak kaget bahkan marah. Ini malah membuat Draco makin tidak resah, tidak ada yang bisa menebak isi hati orang tuanya saat ini. Sebelum mereka bereaksi Draco cepat-cepat memutar video dan duduk memangku Rena.
Selama video di putar Narcissa terlihat tersenyum kagum menyaksikan cucunya berputar-putar diatas panggung sedang Lucius tidak berkomentar apa-apa, meskipun begitu Draco bersyukur ayahnya masih mau menyaksikan video sampai habis.
"That's amazing little pumpkin!" seru Narcissa saat video selesai diputar, perempuan itu langsung memeluk cucunya.
Senyum bahagia Rena mengembang mengetahui neneknya menyukai pertunjukkan balletnya. Setelah melepas pelukan Narcissa senyumnya langsung luntur melihat kakeknya yang sudah menghilang dari ruang keluarga. Tanpa mengatakan apa-apa pada Rena, Lucius berjalan menuju teras belakang dan duduk di kursi kayu.
"Tolong jangan perlakukan anakku seperti itu," kata Draco yang menyusul ayahnya ke teras. "Dia bukan aku, tolong jangan terlalu keras padanya."
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut ayahnya, mengira ini obrolan yang tidak berguna Draco bersiap meninggalkan Lucius sendiri di teras.
"Rena anak yang pintar, kamu membesarkannya dengan baik." kalimat yang baru Lucius katakan membuat Draco menghentikan langkahnya. "Tolong jangan marah padaku, ini semua hal yang baru untukku butuh waktu lama untuk terbiasa dengan hal-hal seperti ini."
Perlahan Draco menekuk lutut untuk duduk di samping ayahnya, telinganya tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.
"Jika dulu ayah tidak keras dalam membesarkanmu, mungkin kamu bisa sebahagia Rena." lanjut Lucius.
"Maksud ayah?"
"Lihat anakmu, dia tumbuh dengan dukungan dan kasih sayang dari dua orang tuanya. Dia tidak dipaksa untuk menjadi yang terbaik, namun tetap menjadi yang terbaik. Dia bahagia. Seandainya aku bisa berlaku lebih lembut dulu, kurasa masa kecilmu tidak akan menderita."
"Ayah tidak seburuk itu," kata Draco dengan tatapan kawatir.
"Kamu tidak perlu membelaku," Lucius tertawa masam. "Hidup seperti muggle dan menggunakan barang muggle merendahkan status darahmu, tapi kamu tidak peduli akan hal itu. Kamu hanya menginginkan bahagia untuk keluargamu." Lanjut Lucius.
"Itu juga berat untukku," Draco menghela nafasnya. "Membiarkan hal yang tadinya aku benci masuk ke hidupku."
"Tapi kamu berhasil melakukannya."
"Cause I finally understood, hating something blindly without knowing the whole layer isn't fair. Muggles, they just like us, they have magic in their own way." Draco menghembuskan nafasnya.
Lucius tertawa lalu berdiri dari duduk, "Aku bangga padamu, kamu kepala keluarga yang lebih baik dariku." Ia menepuk pundak anaknya sebelum berjalan pergi.
Tiba-tiba Lucius menghentikan langkahnya dan tanpa berbalik ia mengatakan sesuatu.
"By the way, I don't hate Granger."
/ To Be Continued /
Hola, hola. Maafkeun lama updatenya, karena lagi banyak yang dikerjain hehe. Anyway, pas aku baca ulang kok kayanya berantakkan dan terburu-buru bgt chap ini, tapi gapapadeh upload aja. Semoga suka ya!
