A/N : Happy New Year 2020! Please enjoy

Everything belong to JK Rowling unless plot and some unknown characters

Chapter Four

Suara derap kakilah yang sedari tadi menghiasi keheningan malam di kediaman ini. Udara di awal bulan Oktober yang menggigit bahkan tak dihiraukannya. Hermione hanya mondar-mandir dengan segelas wine di tangannya yang sedari tadi tak dihabiskannya. Rasanya ia ingin bunuh diri jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dengan satu-satunya sosok yang ingin ia jauhi di London, Draco Malfoy. Apa yang ada di otaknya sore itu? Apakah hal itu dikarenakan gangguan pada kejiwaannya? Atau mungkin hal itu karena halusinasi yang disebabkan bekerja berlebihan dan fakta bahwa pasiennya meninggal di tangannya. Hal yang Hermione yakini bahwa ia tak akan melakukan hal itu bila ia berada di kondisi terbaiknya.

Pembenaran demi pembenaran berusaha ia cari di kepalanya, namun tak ada satupun yang terasa tepat baginya. Ia mencoba mereka ulang adegan sore di padang rumput St Mungo itu. Ia ingat saat Draco membawakannya segelas kopi, ia juga ingat bahwa ia terisak ketika Draco mengatakan bahwa kematian Amanda Herera bukanlah kesalahannya. Lalu hal yang ia ingat selanjutanya adalah wangi tubuh yang tak berubah sedikitpun sejak berpuluh tahun lalu serta suara husky yang hanya dimiliki Draco Malfoy sudah merasuki tubuhnya. Dan tetiba saja kelembutan bibir yang sudah sekian lama tak ia rasakan kembali menjamahnya. Hermione tersihir. Sihir kuno dari Draco Malfoy kembali mengutuknya. Kemudian hal konyol yang kembali ia ingat adalah tanpa banyak berpikir panjang ia mendorong pria itu dan menamparnya untuk kemudian mengambil langkah seribu sesudahnya.

Hermione langsung menenggak wine di tangannya hingga kandas. "Aku bodoh sekali," desisnya.

Ia kembali mengisi gelasnya secara sihir lalu berjalan menuju balkon dari dapurnya. Tanpa tedeng aling-aling angin malam yang sangat menggigit itu seakan menampar wajahnya. Dan Hermione tak memedulikan hal itu. Ia memejamkan matanya berusaha keras menghalau segala pikiran mengenai Draco Malfoy dan apa yang terjadi di antara mereka sore itu, namun gagal untuk kesekian kalinya. Sudah tiga hari Hermione bermain kucing-kucingan dengan pria itu. Wanita berambut cokelat ikal itu berusaha menghindari jadwal yang sama dengan Draco, tapi ia tahu bahwa hal ini tak akan bertahan lama. Cepat atau lambat ia pasti akan berpapasan atau bahkan menangani pasien bersama pria itu. Helaan napas panjang dilakukannya sebagai usaha merelaksasikan pikiran. Hermione kembali masuk ke dapurnya lalu menuangkan wine ke gelasnya lalu kembali meminumnya tanpa ada sedikitpun sisa. "It is fine. Everything is fine. Malfoy will forget it. I will forget it."

000

Tak ada sedikitpun sinar matahari yang tampak pagi ini. Hanya awan kelabu yang bergumul sedari pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, bukan matahari yang mulai tampak melainkan rintik air dari langit yang perlahan menderas. Hermione menatap pemandangan yang membuyar dari balik kaca jendela kereta yang akan membawanya ke Edinburgh hari ini. Acara tahunan konferensi para healer se- Britania Raya ini bak penyelemat hidupnya di hari ini karena sejujurnya ia belum siap untuk bertemu dengan Malfoy pagi ini. Sekuat apapun alcohol yang ia tenggak, sebanyak apapun sugesti yang ia tanamkan pada dirinya bahwa segalanya baik-baik saja setelah insiden lalu di St Mungo, namun tak ada satupun yang berhasil. Wajah serta harum tubuh dan juga suara Draco Malfoy bak terus menghantuinya. Dan ia belum sanggup untuk menemuinya. Untuk saat-saat seperti ini ia meragukan ke-Gryffindor-an dirinya.

Hermione kembali menyesap Americano yang telah ia pesan di restaurant kereta ini. Ia sedikit mengedikan bahunya. Setidaknya ia masih punya dua hari ke depan tanpa harus berpapasan dengan Malfoy. Terima kasih pada Professor Sinistra karena secara mendadak memintanya untuk menghadiri acara ini. Dan lagi, ia menyesap Americano yang kehangatannya terjaga secara sihir sambil memejamkan matanya. Suara deru mesin dari kereta sihir ini dan juga suara hujan di luar sana menjadi latarnya.

"It is quite surprise to see you here, Granger."

Jantung Hermione mencelos saat mendengar suara itu. No, it can not be real. Hermione perlahan membuka matanya dan sosok sudah menyita waktunya dalam beberapa hari ke belakang sedang bediri dengan menjulang di hadapanya. Shit happen all the times.

"Malfoy," hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita itu.

"Ternyata kau partnerku untuk konferesi healer di Edinburgh," balas Malfoy.

Damn it!

Takdir buruk apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mengapa ia tak pernah berhasil melarikan diri dari Draco Malfoy? Sejak ia kembali menginjakan kaki di London hingga sekarang di perjalanannya menuju Edinburgh. Bloody hell!

Tanpa meminta izin serta persetujuan dari Hermione, Draco mengambil tempat di hadapannya. Mereka hanya terpisah sebuah meja makan dengan Draco yang tampak terlalu santai di hadapannya. Apakah ia tak peduli pada apa yang terjadi di antara mereka beberapa hari yang lalu batin Hermione sambil terus menatapnya tak percaya. Dan saat tatapan mereka beradu, Hermione dengan sigap membuang wajahnya. Draco tampak mengedik sambil melambaikan tangan pada pelayan restaurant ini.

"English Breakfast Tea," ujarnya pada seorang pelayan yang sudah mendekatinya.

"Yes, Sir."

"Siapa yang mengatakan kau bisa duduk di mejaku?" tanya Hermione tenang dengan harapan dapat mengusirnya dengan damai dari hadapannya.

Draco mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut gerbong restaurant ini. "Aku rasa meja ini area publik dan tak ada satupun meja kosong di tempat lain selain meja ini."

Hermione menghela napas panjang saat mendengar ucapannya. Tanpa banyak bicara lagi wanita yang hari ini mengenakan setelan biru tua dengan mantel cokelat ini bangkit dari kursi untuk pergi meninggalkan gerbong restaurant ini. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh tangan Draco Malfoy dengan cekatan menahan pergelangannya. "Lepaskan aku Malfoy," desis Hermione agar tak menarik perhatian orang banyak.

Draco membuka suaranya tanpa menatap lawan bicaranya. "Ada apa sebenarnya? Apakah kau terganggu dengan kehadiranku setelah ciuman kita sore lalu?"

Mata Hermione hampir lepas dari kelopaknya saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Draco. Pria itu mengungkapkannya dengan sangat gamblang dan santai, seperti ciuman mereka tak ada artinya bagi dirinya. Melihat perubahan emosi pada Hermione, perlahan Draco melepaskan pegangannya. "Jawab aku Hermione," ujarnya.

Melihat perawakan Draco yang terlalu tenang saat membicarakan hal ini, Hermione memutuskan untuk mengikuti permainannya. Hermione menghela sesaat napanya lalu kembali duduk ke kursinya tadi. Ia melambaikan tangannya pada seorang pelayan persis seperti Draco tadi. "Americano, please," pinta Hermione.

"You want to refill it, Madam?"

"Yes, please. I should accompany my colleague right now. So I need more caffeine," balas Hermione.

Dan dalam hitungan detik cangkir Hermione sudah kembali terisi Americano panas secara sihir. Draco menyeringai saat melihat saat ini. "Accompany your colleague huh?" tanya Draco.

"Let's cut the crap, Malfoy. Apa yang kau ingingkan saat ini dariku?"

"You sound so American right now."

Hermione lagi-lagi menghela napasnya. Ia tak tahu sudah berapa kali ia menghela napas sejak bertemu Draco hari ini. "I was lived in America for a very long time. And I guess you know it, Malfoy. So what do you want from me?"

Seringaian Draco semakin terpancar jelas dan Hermione sadar akan hal itu. Wanita itu sadar dengan siapa yang tengah ia hadapi saat ini. Pria itu menyesap perlahan teh yang tadi dipesannya dengan tatapan yang tak terlepas dari sosok di hadapannya. "Tak ada yang aku inginkan darimu, Granger. Seperti yang tadi kau katakan pada pelayan tadi, kita hanya kolega yang tengah duduk bersama dalam perjalanan menuju Edinburgh bukan?"

Dengan sekuat tenaga Hermione menunjukan sikap acuh tak acuh pada Draco. Ia tak mau Draco mencium kegugupan yang ia rasakan sejak mendengar suara Draco pagi ini. Perlahan wanita itu kembali menyesap Americano-nya. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing. Lalu tetiba saja Draco membuka suaranya. "Kau akan kembali ke jadwal semula di minggu depan atau kau masih akan terus menghindariku sepanjang hidupmu?"

Hermione mengerucutkan bibirnya sebelum manjawab pertanyaan Draco tadi. Ia sudah memprediksi bahwa pria ini akan membawa topik ini cepat atau lambat. Perlahan Hermione menggeleng. "Siapa yang mengatakan bahwa aku menghindarimu?"

Senyum tipis terpulas dari wajah Draco. "Tidak ada. Aku hanya mengatakan apa yang mejadi fakta dan apa yang aku lihat di papan jadwal operasi."

"Apa yang kau lihat?" tanya Hermione berusaha tak terbawa emosi yang di bangun oleh Draco.

Senyum tipis itu masih berada di wajah Draco. "Beberapa jadwal operasimu berada di waktu yang sama denganku lalu dalam sekejap saja semua itu berubah," jelas pria yang mengenakan setelan serba hitam hari ini.

Draco menegakkan posisi duduknya lalu sedikit memajukan kepalanya ke hadapan Hermione. "Katakan padaku Granger. Apa yang membuat kau menghindariku?"

"Kau berhalusinasi, Malfoy. Jadwal operasiku dapat berubah sewaktu-waktu."

"Benarkah?" tanya Draco yang belum merubah posisi duduknya di hadapan Hermione.

Tak ada kata yang keluar dari mulut Hermione. Ia memilih untuk menghabiskan Americano hingga tetes terakhir sebelum menjawabnya. Ia menatapkan Draco dengan mengadopsi seriangaian khas pria itu. "Hal itu benar atau tidak bukan menjadi urusanmu, Draco Malfoy."

"Kau benar, Granger. Bukan urusanku."

Merasa menang Hermione meletakkan beberapa Galleon di atas meja ini untuk kopinya tadi. "Kopiku sudah habis begitupula dengan tehmu dan aku juga sudah menjawab pertanyaanmu."

"Baiklah, Granger. Aku harap ciuman kita sore itu dan reaksimu yang tetiba saja menamparku tak merubah apapun di antara kita."

Rahang Hermione hampir terjatuh mendengar perkataan Draco tadi. Wanita itu mengedarkan pandangan berharap tak ada yang mendengar kalimatnya tadi sebelum menjawabnya. "It was called adrenaline rush, Malfoy. And as a healer, I believe that you must know about it," jawab Hermione yang sudah bangkit dari kursinya.

Draco tersenyum. Bukan senyum tipis seperti yang tadi ia tunjukan. Senyumnya benar-benar terpulas lebar di wajahnya. Ia ikut berdiri lalu berjalan ke arah Hermione. Ia memajukan tubuhnya ke arah wanita itu lalu berbisik. "Mari kita anggap hal itu adalah adrenaline rush."

Damn it!

Hermione menggigit bibirnya saat harum tubuh Draco menampar penciumannya.

"See you in the conference, Granger."

Baru saja Draco hendak keluar dari gerbong restaurant itu, seorang wanita yang berdiri tak jauh dari dirinya dan Hermione berteriak histeris. "Tolong!" teriaknya.

Sontak Draco dan Hermione mengalihkan perhatiannya kepada suara tersebut. Perhatian mereka jatuh pada sosok yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai gerbong restaurant ini. Dengan sigap Hermione dan Draco menghampiri kerumunan itu.

"We are healer, please step back," ujar Hermione saat mereka berusaha menelusup ke dalam kerumunan itu.

Draco sudah berjongkok di samping pria yang sudah kehilangan kesadaran itu. Ia meletakan jarinya di pergelangan dan leher dari pria itu untuk memeriksa denyut nadinya. Ia hanya bertukar pandang dengan Hermione dan dengan cekatan wanita itu merapalkan mantra untuk membuka baju pria yang tak sadarkan diri di hadapannya. Lagi-lagi mereka bertukar pandang ketika melihat dada pria ini yang memar biru keunguan. "Pneumothorax," Draco berbisik pada dirinya sendiri.

"Kalian punya pisau kecil dan selang serta emergency kit?" tanya Draco.

Para pelayan yang juga ikut mengerumuni mereka saling menatap. "Kami? Kau berbicara pada kami?" tanya salah satu pelayan itu dengan wajah bingung dan gugup.

"Yaa, kalian. Aku berbicara pada siapa lagi?"

Hermione menghela napas melihat reaksi pria pirang di hadapannya ini. Bisa-bisanya ia masih bersikap sarkastik di tengah situasi seperti ini. Beberapa saat kemudian seorang pelayan membawakan sebuah kotak emergency kit dengan beberapa pisau. Dengan sigap Draco mengambil pisau itu sementara Hermione memeriksa emergency kit itu. "Kalian tak memiliki selang kecil?" tanya Hermione yang sangat tahu apa tindakan yang akan dilakukan Draco.

Ketiga pelayan yang sedari tadi berada di dalam kerumunan itu menggeleng. Tanpa menunggu lagi Draco bangkit dari posisinya lalu berjalan ke arah mini bar yang berada di gerbong ini sementara Hermione mengawasi pria yang tak sadarkan diri di hadapannya. "Hurry up, Malfoy. Pria ini hampir mati karena henti napas," ujar Hermione.

Draco datang dengan sebuah selang dan dua buah botol vodka. "Bantu aku memeriksa kondisi paru-parunya," ujar Draco.

Hermione mengambil sebuah suntikan dari emergency kit itu dan setelah menentukan titiknya ia menusukan suntikan itu ke dada pria tersebut. Terlihat gelembung-gelembung kecil di dalam suntikan itu yang sebelumnya sudah diisi air olehnya. "Pneumothorax,"ucap Hermione meyakinkan Draco.

"Beri dia CPR perlahan," ujar Draco yang langsung dituruti Hermione.

Selagi Hermione melakukan CPR, Draco sudah memakai sarung tangan yang ia temukan di dalam emergency kit tadi. Pria itu menuangkan vodka yang ia temukan itu ke pisau dan selang yang ia temukan dan juga ke sarung tangan yang telah ia pakai. "Dimana kau temukan selang itu?" tanya Hermione yang masih sibuk memberikan CPR.

Draco menunjuk vending machine untuk minuman kaleng di sudut gerbong itu. "Kau mengambil selang untuk sirkulasi mesin itu?" tanya Hermione tak percaya yang dijawab dengan anggukan oleh pria itu .

"Unbelievable and smart," ujar Hermione berbisik.

"Don't be surprised. I'm smart and you know it."

Hermione hanya tertawa sambil terus melakukan CPR pada pria yang bahkan ia tak tahu siapa namanya itu sementara Draco sudah memotong seperempat bagian dari selang itu. Dengan cekatan ia memasukan seperempat selang itu dan sisa selang lain ke dalam botol lalu mentupnya dengan lakban agar kedap udara. "Release it, Granger," ucap Draco.

Hermione menghentikan CPR-nya seketika. Draco sudah kembali berjongkok di sisi pria itu. Ia meraba dada pria itu untuk membuat sebuah sayatan. Tanpa tedeng aling-aling lagi ia menyayat sisi yang berada tepat di dua tulang rusuk pria itu. Darah mengalir seketika dan dengan cekatan pula Hermione memberikan ujung selang yang lain. Draco memasukkan ujung selang yang diberikan Hermione ke dalam lubang sayatan yang telah dibuatnya. "Ada gelembung?" tanya Draco yang dijawab dengan gelengan oleh Hermione.

Dengan perlahan Draco memasukan selang itu lebihh dalam ke paru-paru pria asing ini. "Berhasil," ucap Hermione yang melihat gelembung di dalam botol vodka yang masih terisi seperempat dari isinya.

Pria asing inipun sudah mulai bernapas dengan lancar secara perlahan. Sontak tepuk tangan terdengar dari gerbong itu. "You guys save him," ujar pelayan itu.

Draco dan Hermione hanya saling bertukar pandang sambil tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan di gerbong kereta ini. Tetiba saja suara dari masinis terdengar yang memberitakan bahwa mereka baru saja tiba di stasiun pemberhentian terakhir. "Finally," ujar Hermione yang terdengar seperti berbisik.

Kedua healer itu saling bertatap lalu tertawa. "Yes, finally."

Seorang paramedic sihir sudah datang dengan tandu dan semua perlengkapan sihirnya saat kereta ini telah behenti. Salah satu pelayan ini pasti sudah memberitahukan pihak stasiun tentang apa yang terjadi di gerbong ini. Draco menjelaskan tindakan apa saja yang telah dilakukan dan mantra apa saja sudah dirapalkan pada pria itu pada petugas paramedic sihir itu sebelum keluar dari kereta itu.

"We are still a great team, Hermione," ucap Draco yang terdengar tulus.

"Yes, we are," balas Hemione.

000

Edinburgh

Konferensi healer ini berlangsung sehari penuh dengan sedikit jeda makan siang dan coffee break. Dan ketika konferensi untuk hari ini berakhir, Hermione langsung berendam di kamar hotelnya lalu menikmati makan malam dengan sedikit alcohol di rumah minum yang tak jauh dari hotel tempat dimana konferensi berlangsung dan juga penginapannya berada. Kebetulan sekali Viktor Krum sedang berada di kota ini dan ketika ia tahu bahwa Hermione juga berada disini tanpa berpikir panjang mereka bertemu untuk sekadar makan malam bersama.

"Jadi kau sudah resmi kembali ke London untuk selamanya?" tanya Krum setelah menyesap wine yang dipesannya.

Hermione mengedikan bahunya lalu ikut menyesap wine di gelasnya "Entahlah. Tetapi untuk sekarang aku merasa nyaman dengan London," jawab wanita dengan rambut ikal cokelat itu.

Viktor tersenyum. "Kau nyaman karena kembali ke kampung halamanmu atau ada hal lain yang membuatmu nyaman?"

Wanita itu tertawa renyah. "Alistair berada di Hogwarts sekarang tentu saja jarak London dan Wales yang tak sejauh New York membuatku nyaman. Selain itu sahabat-sahabatku juga berada di London. Semua hal itu membuatku nyaman," balas Hermione.

"Kau yakin hanya hal itu? Bukan karena pria bernama Draco Malfoy?"

Tawa Hermione terhenti. "Aku dengar dari Ron, kau bekerja di rumah sakit yang sama dengannya," tambah Viktor.

"Ron si penggosip," desis Hermione.

Air muka Hermione yang mendadak berubah membuat Viktor menyadari bahwa bahasan ini bukanlah bahasan yang tepat untuk saat ini. "Aku hanya bercanda, Hermione," buru-buru Viktor berusaha mencairkan suasana.

Senyum Hermione kembali terpulas. "Tidak apa-apa, Viktor. Malfoy hanyalah masa laluku," balas wanita yang malam ini hanya mengenakan celana jeans serta kemeja biru muda yang membuatnya jauh lebih muda dari usianya.

Viktor ikut tersenyum. "Well, baiklah. Hanya masa lalu," kekeh pria berkepala pelontos yang pernah menjadi kekasihnya semasa di Hogwarts dulu.

"Aku dengar Alistair berada di Slytherin sekarang?"

"Kau juga mendengarnya dari Ron?"

Pertanyaan Hermione disambut dengan anggukan dan kekehan dari Viktor yang disambut dengan helaan napas dan juga kekehan dari Hermione. "Aku hampir serangan jantung saat mendengarnya," balas Hermione sambil menyesap kembali wine-nya.

Obrolan mengalir begitu saja. Tentang Alistair, tempat kerja baru Hermione, kehidupan Viktor dan banyak hal lainnya. Botol wine mereka sudah hampir kandas saat Viktor mengatakan harus kembali ke hotelnya karena dia harus kembali ke Bulgaria esok pagi sekali dengan Portkey yang sudah diatur manager tim Quidditch-nya. Sementara Hermione berencana untuk tinggal sejenak untuk meminum sedikit vodka pengantar tidurnya.

"See you soon, Hermione. Send the big hug to my dearest Alistair," ujar Viktor sambil memeluk wanita itu.

Hermione terkekeh. "Pasti."

"Slytherin itu tidak buruk. Ingat saja bahwa Snape dan banyak tokoh pintar lainnya berasal dari asrama itu," tambah Viktor lagi.

Lagi-lagi Hermione terkekeh namuh kekehannya dalam sekejap sirna saat melihat sosok yang sudah berada di belakang Viktor Krum. Draco tampak sedikit memiringkan kepalanya lalu tersenyum tipis kepada Hermione. "It is quite surprise to see you here, Krum," ucap Draco akhirnya.

Viktor berbalik dan ikut tersenyum dengan sangat formal pada Draco. "Well, hello Malfoy. It is quite surprise to see you too," balasnya.

"Granger tidak mengatakan bahwa aku juga menghadiri konferensi bersamanya disini?"

"Aku rasa hal itu tidak penting, bukankah begitu Hermione?"

Hermione hanya membalasnya dengan tersenyum. "Baiklah sudah waktunya aku pamit. Kau masih akan disini?"

Dan lagi tanpa sebuah ucapan wanita itu janua mengangguk. "See you," ucap Viktor lagi sambil mengecup pipi Hermione.

"See you, Viktor."

"Malfoy,"

"Krum."

Tanpa berbasa-basi lagi Hermione meninggalkan Draco ke meja bar dan memesan apa yang ingin dipesannya. Dan tanpa berbasa-basi pulalah Draco mengikutinya dan duduk tepat di sampingnya. "Dry martini," pinta Draco pada seorang bartender di hadapannya

Hermione hanya menggeleng dan menatapnya malas. "Ada begitu banyak kursi kosong, Malfoy," ujar Hermione.

"Dan aku ingin kursi ini, Granger."

"Jadi Krum adalah ayah dari Alistair?"

Hermione hampir tersedak saat mendengar ucapan dari Draco itu. "What the fuck, Malfoy," balas wanita itu dengan suaranya yang rendah agar satu ruangan ini tak ada yang tahu bahwa ia tengah mengumpat.

"Aku hanya bertanya, kau tak perlu mengumpat, Granger," ujar Draco santai.

"It is none of your business."

"I am just asking."

"You are no one."

"Alright, I am no one."

Kemudian mereka hanya diam. Hermione menyesap minumannya begitupula dengan Draco. Wanita itu mencuri pandang pada smartphone sihir milik Draco yang tengah ia pandangi dengan saksama. Terlihat Draco tengah melihat hasil MRI dan echocardiogram sihir disana. Jika Hermione tak salah menafsirkan, ia tengah melihat sebuah jantung dengan tingkat kebocoran yang sangat massive. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya sambil berpikir milik siapakah hasil echo itu dan tindakan apa yang akan Draco lakukan untuk mengobatinya. "See something interesting, huh?"

Terburu-buru Hermione menyesap minumannya saat tertangkap basah tengah mencuri padang kepada hasil echo dari pasien Draco. Alilh-alih menutup smartphone sihirnya, Draco meletakkannya di hadapan Hermione. "Endocarditis," ujar Draco pada Hermione.

Hermione memandang pria di hadapannya dengan perasaan acak. "Aku tahu kau penasaran dengan tingkat kebocoran sebesar ini," ujar Draco.

Dan tanpa menunggu persetujuan lainnya dari pria pirang itu, Hermione membaca hasil lab dan menelaah echo sihir dari pasien itu. "Bagaimana mungkin bisa sebesar itu?" tanya

"Endocarditis dapat menyebabkan kebocorana sebesar ini?" tanya Hermione tak percaya yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Draco.

"It is massive," ucap Hermione yang masih memerhatikan hasil echo sihir milik pasien ini.

Ia melihat darah yang bocor antara kedua katup yang sangat besar. Infeksinya pasti sudah sangat menyebar jika kebocorannya sangat tampak di hasil echo sihir ini. "Sudah berapa banyak ramuan antibiotik yang kau berikan padanya?" Hermione kembali bertanya.

"Di atas normal. Jika aku tak memberikan dosis si atas rata-rata ia sudah meninggal sejak pertama di bawa ke St Mungo," jawab Draco.

Wanita itu mengernyitkan dahinya. "Apa yang ia lakukan hingga mendapatkan infeksi seperti ini?"

"Dia salah satu tawanan di Azkaban yang sudah menyelasaikan masa hukumannya. Sanitasi yang buruk di tambah ASD yang ia miliki membuat katupnya sekacau ini," balas Draco

Hermione terdiam saat mendengar penjelasan dari lawan bicaranya ini. ASD adalah singkatan Atrial Septum Defect yang merupakan penyakit jantung bawaan pada katup atrium. Jika penyakit ini diketahui saat sudah dewasa dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat maka akan terjadi kerusakan parah pada jantung dan paru-paru. Dan Hermione mengetahui hal ini sangat baik.

"Tenanglah. Hal ini akan kupastikan tak akan terjadi pada Alistair," ujar Draco yang seolah tahu apa yang ada di pikiran Hermione saat ini.

Hermione menghelas napas panjang saat mendengar kalimat yang dilontarkan Draco. "Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi," balas Hermione sambil memberi sinyal pada bartender untuk mengisi ulang gelasnya.

"Itulah gunaku sebagai healer anakmu," balas Draco.

Mereka terdiam sesaat. Hermione tahu apa bahwa Draco sangat dapat diandalkan dalam hal ini. Namun ketakutan akan kehilangan anaknya sangatlah besar. Bagaimana jika hal ini terjadi? Bagaimana jika mereka terlambat mengetahuinya?

"Kau mau mengoperasi pasien ini bersamaku?"

Mata Hermione yang semula sendu mendadak terbelalak dan tersenyum saat mendengarnya. "Kau yakin?" tanya wanita ini tak percaya.

"Tentu saja. Asal kau masih sanggup berdiri sekitar lima jam di ruang operasi, tentu aku yakin," jawab Draco sambil menyesap kembali minumannya.

"Kau meragukanku?" tanya Hermione yang untuk pertama kalinya tersenyum dengan penuh ketulusan di hadapan Draco.

Draco menggeleng. "We are talking about Hermione Granger. Why should I doubt that?"

Mereka saling bertukar senyum lalu sama-sama terdiam.

"Operasinya esok tengah malam setelah kita pulang dari sini," ucap Draco

"Tindakan apa yang akan kau lakukan?" tanya Hermione.

"Aku akan melakukan patching dengan sebelumnya kita akan mengambil beberapa jaringan yang sehat dari tubuhnya untuk menambalkan kebocoran katup jantungnya. Opsi kedua jika hal itu mustahil karena kerusakan katupnya yang sudah terlalu parah, aku akan mentransplantasi katupnya?"

"Transplantasi? Bloody hell. Kau sudah memiliki donor?"

Draco mengangguk.

"Human donor?"

Draco menggeleng.

"Aku akan melakukannya dengan katup babi."

Hermione mengangguk-angguk ketika mendengarnya. Bukan Draco namanya jika tidak memiliki ide serta pemikiran yang terkadang berada di luar kendali. Karena sesungguhnya tidaklah mudah mengganti katup manusia dengan katup hewan. Keadaan pasien akan menjadi lebih kritis ketika ternyata tubuh itu menolak katup hewan yang di pasang padanya.

"Berarti kau sudah memeriksa kecocokan katup babi itu dengan pasien ini?" tanya Hermione yang dijawab dengan anggukan oleh Draco.

"Dan cocok?"

"Dan cocok," jawab Draco.

"Lalu kenapa tak langsung saja kau lakukan transplantasi alih-alih membuang waktu dengan melakukan prosedur patching terlebih dahulu," ujar Hermione.

Draco mengedik. "Kita tak bisa menentukan separah apa kondisi dari katup pasien ini hanya dari hasil echo saja, kita harus melakukan open heart surgery untuk mengetahuinya. Jika masih bisa dilakukan dengan prosedur patching, kenapa tidak? Karena kemungkinan post op komplikasi dari transplantasi lebih besar dari patching," jelas Draco panjang lebar.

Lagi-lagi hal ini membuat Hermione mengangguk takjub lalu menyesap minumannya hingga kandas dan tak memiliki keinginan untuk menambahnya lagi. "So well prepared," balas Hermione.

Draco tersenyum. "Sama seperti dirimu, bukan?"

Hermione dan Draco bertukar pandang dan kembali tersenyum. Wanita itu melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam dan konferensi akan diadakan kembali esok pagi sebelum ia kembali ke London dan melakukan operasi bersama kembali lagi dengan Draco Malfoy.

"Aku harus kembali ke hotel," ujar Hermione yang bangkit dari kursinya sambil memakai mantel musim dinginnya.

Draco tak ikut bangkit dari kursi itu. "Aku sudah mengirimkan semua hasil lab dan echo ke email sihirmu. Pelajarilah."

Hermione menangguk. "Good night, Granger."

"Good night, Malfoy."

000

St Mungo Hospital

Tepat tengah malam di keesokan harinya Draco dan Hermione kembali berada di ruang operasi untuk kedua kalinya di rumah sakit ini. Seperti biasa mereka hanya diam saat berada di ruang steril untuk membersihkan seluruh tangan mereka. Hermione akan berdoa di dalam hati agar diberikan kelancaran dalam proses operasinya sedangkan tak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkan Draco. Pria itu hanya menatap nanar kepada pasiennya yang dapat ia lihat dari balik kaca ruangan steril.

Operasi berjalan lebih dari enam jam. Prosedur patching gagal dilakukan karena kerusakan katup lebih parah dari yang Draco dan Hermione duga. Transplantasi katup babi menjadi pilihan terakhir dan terbaik bagi mereka. Sempat terjadi beberapa komplikasi di tengah prosedur namun segalanya dapat mereka selesaikan dengan tenang berhasil.

"You can close it."

Kalimat itu adalah kalimat penutup Draco pada seorang residen yang ikut serta pada operasi kali ini. Kata-kata itu dijawab dengan anggukan oleh residen itu. Draco memberikan sinyal untuk keluar pada Hermione yang ditangkap dengan baik oleh wanita itu. Mereka keluar dari ruangan itu menuju ruang steril sambil melepaskan surgical gown dan scrub caps mereka. "Terima kasih telah membantuku," ujar Draco.

"Aku senang dapat berpartisipasi dalam operasi ini," balas Hermione.

Draco mengangguk lalu tatapannya beralih pada scrub cap yang baru saja dilepaskan Hermione dari kepalanya. "Kau benar-benar menggunakan motif awan yang beararak itu pada scrub cap-mu," kekeh Draco.

Mereka benar-benar terdengar bagai kawan lama. Tak ada umpatan, adu sindir atapun teriakan. Hermione ikut memandang scrub cap miliknya dan ikut tersernyum. "Kau masih mengingatnya," balas wanita yang selalu mengepang rambutnya saat melakukan operasi itu.

"Seingatku tak ada yang tak kuingat tentang dirimu."

Sebuah kalimat itu menghentikan langkah Hermione di tengah lorong rumah sakit ini yang sangat sepi karena pagi baru saja menyapa. Ia tak tahu bagaimana cara untuk menanggapi ucapan Draco tadi. Seperti tak ingin ditimpali, Draco kembali membuka mulutnya. "Pulanglah dan temui aku di Bibendum. Dinner at 7. My treat. I need to give you a proper thanks for helping me. See you, Granger."

000

Bibendum adalah restaurant kesukaan Draco semasa mereka berada di program intern dan Hermione tahu tempat itu akan selamanya menjadi tempat kesukaannya. Draco sangat menyukai makanan, wine list yang mereka miliki bahkan interior dari restaurant itu. Dan setelah Hermione menghabiskan harinya dengan tidur sebuah panggilan masuk dari perapian kamarnya. Wajah Harry tampak disana.

"Kau baru selesai shift malam?" tanya Harry yang dijawab dengan anggukan oleh sahabatnya ini.

Harry terlihat ikut mengangguk dari pancaran api dari perapian itu. "Ayo kita makan malam," ajak Harry.

"Hari ini?"

"Yes."

"Aku sudah ada janji makan malam dengan kolegaku di St Mungo. Bagaimana dengan minum kopi?" tanya Hermione yang tak ingin mengecewakan sahabatnya.

Harry mengangguk. "Kau makan malam dimana?"

"Bibendum," jawab Hermione cepat.

Lagi-lagi Harry tampak mengangguk-angguk. "Kebetulan sekali aku sedang berada di daerah itu. Kita bertemu di Bibendum saja pukul lima sehingga kau tak perlu berpindah restaurant lagi."

"Great," balas Hermione.

Sesaat setelah perapian itu kembali ke keadaan semulanya Hermione baru sadar bagaimana jika Harry melihat Draco Malfoy-lah kolega dari St Mungo yang akan makan malam dengannya. Hermione hanya menghela napas panjang lalu kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang.

000

Bibendum

Hujan deras di musim dingin kota London bukanlah hal yang baru. Tiada hari tanpa guyuran air dari langit di kota ini. Beruntunglah para penyihir yang dapat ber-Apparate dari satu tempat ke tempat lain, seperti yang dilakukan Hermione saat ini. Tepat pukul lima ia sudah sampai di restaurant ini begitupula dengan Harry yang sudah duduk nyaman di salah satu meja yang memiliki pemandangan landscape kota ini walaupun tak tampak apapun dari kacanya karena tertutup derasnya hujan.

Harry memesan teh dan carrot cake sementara Hermione memesan lemon cake dan Americano. Ia seperti tak peduli bahwa dalam dua jam ke depan ia akan kembali menyantap hidangan makan malamnya. Setelah semua pesanan mereka sampai obrolan antara kedua sahabat itu mengalir begitu saja. Dari kesibukan di pekerjaan masing-masing sampai anak-anak mereka. Harry mencoba menenangkan Hermione yang masih belum dapat seutuhnya menerima bahwa Alistair berada di Slytherin yang berujung dengan canda tawa dari keduanya. Harry juga menanyakan kabar Alistair setelah divonis mengidap kelainan katup jantung beberapa bulan kebelakang dan masih banyak hal lainnya.

"Aku dengar kau bertemu dengan Krum di Edinburgh," ujar Harry.

Dengan sangat reflex wanita itu mengangguk lalu terdiam sambil berpikir darimana ia tahu akan hal ini. "Krum mengatakan hal ini padamu?" tanya Hermione.

Seperti Hermione tadi, Harry ikut mengangguk. "Aku bertemu dengannya kemarin di Kementerian."

"Ia mengatakan bahwa Malfoy berada di Edinburgh juga bersamamu."

Wanita ini tak menyangka bahwa laki-laki seperti Krum, Harry dan juga Ron sangat suka bergosip. "Kami menghadiri konferensi healer mewakili St Mungo," balas Hermione cepat dan langsung menyantap habis lemon cake di hadapannya.

"Kau sudah berhubungan baik lagi dengannya?"

"Kami kolega di rumah sakit," ujar Hermione cepat berharap topik ini segera berakhir.

Harry menyesap tehnya yang masih mengepul karena sihir menjaga kehangatannya agar tetap stabil. "Hanya satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, Mione. Mau sampai kapan kau menutupi fakta ini darinya?"

"Suatu saat aku akan mengatakan padanya secara langsung," jawab Hermione.

"Aku berharap secepatnya. Kau tak mungkin selamanya menutupi hal ini. Malfoy harus tahu bahwa ia memiliki seorang anak," balas Harry.

Tepat disaat Harry menyelesaikan ucapannya manik wajah Hermione berubah pucat pasi bak tak dialiri sedikitpun darah. Wanita itu bagai melihat hantu yang tengah berdiri di belakang Harry. Melihat perubahan wajah sahabatnya yang drastis, Harry membalikan tubuhnya. "Bloodi hell," umpatnya.

"Aku memiliki seorang anak?" tanya Draco yang berdiri tepat di belakang Harry.

000

to be continued

Please leave your thoughts and see you in the next chapter.

XOXO