Begin Again
written by hijaubiru
l
Harry Potter © J.K. Rowling
l
Eleven
l
Sudah dua minggu sejak Hermione terakhir bertemu Draco, ya hari dimana laki-laki itu hampir membunuhnya dengan hummus kacang. Memang belum ada alasan untuk mereka berdua bertemu tapi ada sedikit harapan di hati perempuan itu tiap kali ada pesan masuk ke ponselnya.
Minggu ini jadwal Hermione sangat sibuk, ia diundang menjadi pembicara utama di University of Glasgow dan mengisi beberapa kelas saat berkunjung kesana. Sekembalinya dari Glasgow, perempuan itu memutuskan untuk berangkat kerja lebih pagi mengingat pasti mejanya sudah penuh dengan surat dan draft buku dari editornya. Meskipun dunia sihir sudah beradaptasi dengan barang modern yang muggle ciptakan namun banyak orang masih memilih untuk tetap mengirimkan surat dengan burung hantu, inilah mengapa setumpuk surat sudah bertengger manis di mejanya.
Perempuan berambut coklat itu mulai memilah surat-surat yang ia dapat, beberapa langsung ia baca dan sisanya ia simpan untuk dibaca nanti. Diantara surat-surat itu ada sebuah paket yang dibungkus kertas coklat, dari bentuk luarnya sudah bisa ditebak paket itu adalah sebuah buku. Karena merasa tidak memesan buku Hermione langsung membuka paket itu.
Paket itu berisi edisi pertama buku The Shining karya Stephen King, yang merupakan salah satu novel horror kesukaannya saat kecil dulu. Saat ia membuka halaman pertama buku itu mata coklat Hermione terbelalak kaget, ia menemukan inisial namanya dan tanggal ia membeli buku itu di sana. Saat ia pergi untuk mencari Horcrux dengan Harry dan Ron, ia meminta tolong pada saudaranya untuk mengosongkan rumah setelah orang tuanya pindah ke Australia dan setelah itu nasib koleksi bukunya entah bagaimana. Ia hanya bisa membawa beberapa novelnya dalam perjalan dan harus merelakan novel-novel lain nya untuk dijual kembali atau disumbangkan ke perpustakaan.
Hermione tidak menyangka akan bertemu kembali dengan koleksi lamanya dalam keadaan yang masih lumayan terawat. Perempuan itu mengecek kembali kertas pembungkus buku tersebut, tidak terdapat nama pengirim didalamnya. Namun ada sebuah kertas yang terselip di tengah buku.
'Aku menemukan ini di toko buku bekas dan tanpa sadar membelinya, kurasa aku harus mengembalikan buku ini pada pemilik aslinya' –RFG
RFG, Rufus Frederirk Gilliard. Ya mantan suaminya lah yang mengirimkan Hermione buku itu. Pantas saja tidak ada nama pengirim di paket itu, pasti sudah Ellen tolak jika Rufus menuliskan namanya. Perempuan itu langsung meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol.
"Halo," sapa seseorang dengan suara berat di sebrang sana.
"Hei, ini aku." Kata Hermione lirih, suaranya sangat halus sampai sulit didengar.
"Oh hai, ada apa?" pria itu terdengar sedikit terkejut.
"Um.. Terima kasih atas bukunya."
"Sama-sama, aku kira kamu akan mengembalikan paket itu karena aku yang mengirimnya. Jujur saja aku tidak berpikir panjang saat membeli buku itu, aku hanya melihat inisial namamu dan langsung membawanya ke kasir. Itu novel horror favoritmu saat kecil kan?" ucap Rufus.
"Aku tidak percaya kamu mengingatnya."
"Karena kita bercerai bukan berarti ingatan tentangmu seketika menghilang," kalimat yang Rufus ucapkan membuat sudut bibir Hermione sedikit terangkat.
"Baiklah aku harus kembali bekerja, sekali lagi terima kasih atas buku ini." kata Hermione sebelum menekan tombol untuk menghentikan panggilan.
Sambil menyimpan buku itu di raknya ada perasaan mengganjal yang terasa di hatinya.
"Film nya nggak jelek loh padahal," ucap Rufus sambil memasukkan kembali sebuah CD ke kotaknya.
"Tapi ending nya beda! Stephen King aja kecewa banget sama filmnya."
"Step… siapa?"
"Stephen King! Penulis novelnya!" seru Hermione sedikit berteriak karena suaminya terus melupakan nama penulis horror favorit nya.
"Oh iya iya," Rufus mengangguk. "Kamu ada novelnya? Aku jadi ingin baca deh."
"Ada di lemari, tapi bukan yang asli."
"Hermione Granger beli buku bajakan? Kamu siapa? Ngaku!" Rufus mengguncang-guncangkan tubuh Hermione yang diikuti tawa istrinya.
"Bukan begitu! Yang aku punya sekarang sudah cetakan terbaru, buku The Shining pertamaku hilang saat bibi Celine mengosongkan rumah." ucap perempuan itu sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Rufus. "Itu buku pertama yang aku beli dari uang tabunganku, makanya sayang sekali buku itu hilang."
Rufus mengangguk tanda mendengarkan, "Mungkin kita masih bisa menemukan buku itu di toko buku bekas atau di perpustakaan umum!"
"Itu sudah bertahun-tahun hilang sayang," Hermione terkekeh. "Jika kamu bisa menemukannya aku akan membelikan mu artefak mahal yang kamu inginkan itu."
"Ok, deal ya!" Rufus mengulurkan tangan nya untuk mengunci perjanjian itu.
"Deal!"
-o0o-
Hermione tengah sibuk menulis angka-angka di sebuah kertas, bahkan balon warna-warni di sekelilingnya tidak mampu memecahkan fokus perempuan itu. Teman-temannya hanya bisa menghela nafas maklum melihatnya melakukan itu, bahkan pesta ulang tahun Albus sekalipun tidak bisa memisahkan Hermione dengan ke-kutu-buku-an nya.
"Mione ini pesta ulang tahun, berhenti mengerjakan tugas matematika mu." Kata Ginny sambil menarik pulpen dari jarinya.
"One minute MOM," cibir Hermione sambil mengambil kembali pulpen nya.
Tentu saja bukan tugas matematika yang sedang ia kerjakan, Hermione sedang menghitung budget untuk pindah dari rumah lamanya ke apartemen di London Timur. Perempuan itu memilih untuk pindah ke tempat yang lebih kecil dari rumahnya sekarang dan Mrs. Wong menunjukkan apartemen di London Timur yang ia suka.
"Lagi pula apa yang kamu hitung," Ginny membalik kertas agar bisa membaca tulisan di dalamnya. "Wow, angka yang besar."
"I'm selling the house," ucap perempuan itu terbata.
"I know," Ginny memutar bola matanya.
"Aku mau membeli sebuah apartemen di London Timur."
"Apartemen? Dengan uang sebanyak ini kamu bisa membeli rumah baru."
"Sisanya akan ku berikan pada Rufus," ucap perempuan itu ringan.
Tanpa aba-aba Ginny langsung menyentil dahi Hermione, "Apa kamu gila, untuk apa kamu memberikan uang untuk manusia itu."
"Karena dia membutuhkannya," Hermione menghembuskan nafas.
"Kamu memberikan uang untuknya agar dia bisa membayar tunjangan anak?"
"Umm.. soal itu, aku mengajukan berkas untuk mengurangi angka tunjangan anak, jadi dia tidak harus membayar sebanyak itu."
"Lalu untuk apa memberinya uang sebanyak itu?"
"Rufus lebih membutuhkan uang ini dari pada aku, jadi dia bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan memulai bisnis alkemisnya."
"You're too good for him, you know that. Jangan sampai Harry dan Ron tau kamu melakukan ini, bisa-bisa mereka memberimu kutukan imperius." Ginny mencium kepala Hermione lalu meninggalkan perempuan itu dengan kertas dan angkanya.
Sesungguhnya Hermione sendiripun tidak menyangka akan melakukan ini, entah karena alasan apa kini perempuan itu sudah lebih bisa menerima kehidupan barunya dan siap membagi tanggung jawab Arthur kepada mantan suaminya. Mungkin dengan begini ia bisa lebih tenang ketimbang harus terus kucing-kucingan denga Rufus.
"Mione dear," sapa Mrs. Weasley, tangannya menggenggam secangkir teh.
"Hai Mrs. Weasley," balas Hermione sambil mengembangkan senyumnya.
"Aku tidak tau ini masih rahasia atau tidak, namun aku ingin menjadi yang pertama yang memberikanmu selamat," ucap perempuan paruh baya itu sambil mengelus rambutnya.
"Selamat? Selamat atas apa?" alis Hermone terangkat bingung.
"Pertunanganmu dengan Draco Malfoy."
Kalimat yang barusan ia dengar menggema berulang kali di telingannya, perempuan berambut ikal itu langsung berdiri mendorong jatuh kursi yang ia duduki. Suara dentuman kursi membuat seisi ruangan hening dan terfokus pada Hermione. Tanpa memberi penjelasan perempuan itu langsung berlari kehalaman depan, ia merasakan panik yang berlebihan dan membutuhkan ruang kosong agar dapat bernafas tenang.
"Mione, are you okay?" tanya Ginny yang mengejarnya.
Dengan tangan yang sibuk menarik-narik lengan bajunya, Hermione berjalan mondar-mandir mengelilingi halaman.
"Hei, hei, ada apa?"Ginny mencoba menghentikan gerakan sahabatnya.
"Kurasa Malfoy akan melamarku…" ucapnya lirih, bibirnya bergetar tidak mampu berkata dengan jelas.
"Apa?" Ginny terbelalak. "Kamu tau dari mana?"
"Tadi ibumu menyelamatiku atas pertunanganku dengan Malfoy."
"Kamu menarik kesimpulan itu dari ucapan ibu?"
"Mungkin Malfoy sudah menceritakan rencana ini pada Narcissa dan Molly tau dari Narcissa, aku tidak bisa melakukan ini. Belum satu tahun dari perceraian ku dan meskipun aku sangat menyayangi Rena aku belum siap untuk punya anak angkat, astaga aku tidak bisa bernafas." Ucap Hermione dengan cepat.
Tiba-tiba Ginny menggenggam tangannya dan merapalkan sebuah mantra, lalu sedetik kemudian tubuh Hermione terasa lebih ringan, detak jantung yang tadinya berpacu dengan cepat mulai melambat memberikan ruan untuk bernafas dengan normal.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hermione.
"Ini mantra untuk mengurangi adrenalin, biasa aku gunakan saat gugup sebelum pertandingan," jawab perempuan berambut merah itu. "Baik, sekarang duduklah."
Hermione mengikuti perintah Ginny dan duduk di anak tangga depan teras, keadannya sudah jauh lebih tenang berkat mantra yang Ginny rapalkan untuknya.
"Rumor tentang mu dan Malfoy banyak sekali saat ini, aku yakin apa yang ibu katakan juga hanya sebatas rumor yang ia dengar." Kata Ginny sambil duduk disampingnya.
"Tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana jika Malfoy mau melamarku?"
Perempuan berambut merah itu menepuk kedua pipi Hermione dan menggencetnya agar mulut perempuan itu tidak bisa berbicara.
"Kalian bahkan belum punya hubungan yang jelas! Mana mungkin dia nekat melakukan hal itu."
"Benar juga," Hermione menghela nafasnya, sekarang ia merasa bodoh sudah berlebihan.
"I know your body still not reacting well to another relationship, if it happen again just take a deep breath. You'll be okay"
"What if this is it, what if I'll never trust anyone? I'm too scared to start a new relationship and push people away."
"But you didn't push Malfoy away, you're comfortable enough to keep him near. I know sometimes things can be overwhelming, all you have to do is take little step until you brave enough to make a bolder move." Kata Ginny yang lalu bangkit dari duduknya. "Sekarang ayo kembali ke dalam sebelum orang-orang curiga."
-o0o-
Mata kelabu itu tidak dapat terlepas dari layar di depannya, berusaha menenangkan diri dari tulisan-tulisan aneh yang sedang ia baca.
"Drakie!" sebuah suara cempreng memecahkan fokus matanya, pria itu menemukan sahabat satu asramanya sudah berdiri pintu masuk café. "Maaf menunggu lama."
Pansy terkejut saat mendapati Draco melemparkan tatapan membunuh padanya, rasanya ingin melangkah mundur dan kabur saat itu juga.
"Ini semua salah mu!" pekik pria itu kesal.
"Sa.. salah ku? Apa yang ku lakukan?" tanya perempuan itu gelagapan.
"Gara-gara kamu minta tolong membelikan cincin itu orang mengiraku akan melamar Granger!" Draco membalikkan laptopnya dan menunjukkan halaman diskusi di website alumni Hogwarts.
Ada seseorang yang membagikan foto Draco sedang memilih cincin di toko perhiasan dan tentu saja semua langsung mengasumsikan dalam waktu dekat pria itu akan berlutut di hadapan seorang Hermione Granger.
"HAHAHA," tawa Pansy pecah saat membaca balasan-balasan sok tau dari teman-teman sekolahnya.
"Jangan tertawa, ini semua salahmu! Tadi pagi ibu sampai menelpon dengan histeris mengira aku mau kawin lari." Draco menjambak rambut Pansy dengan barbar berharap sahabatnya mengalami kebotakan dini.
"Ampun tuan, kalau aku beli sendiri pasti akan di marahi suami ku tuan!" pekik Pansy memohon ampunan. "Lagi pula gossip tentang mu sudah cukup banyak kan, apa salahnya bertambah satu?"
Draco melepaskan cengkraman nya dari rambut Pansy, "Bukan itu masalahnya."
"Lalu?"
"Aku tidak enak pada Granger, lebih banyak kabar yang menyudutkan nya dari pada aku. Aku takut ini mempengaruhi nya."
"Siapa tau dia malah berharap senang."
Pria itu melempar serbet ke arah Pansy, "Jangan bercanda."
"Maaf, maaf. Salah timing." Ujar perempuan itu sambil terkekeh. "Aku yakin dia baik-baik saja, dari pada gossip ini jauh lebih parah yang aku lakukan pada nya pada saat sekolah dulu."
"Iya, kamu jahat sekali padanya dulu."
"Tolong berkaca tuan," sindir perempuan itu sebal.
Pansy mengangkat tangan nya untuk meminta menu pada pelayan café, "Ngomong-ngomong soal Granger, aku papasan dengan mantan suaminya di dekat apartemen ku. Kurasa dia baru saja pindah."
"Sejujurnya aku tidak peduli," ucap Draco acuh.
"Kudengar dia belum sekalipun bertemu dengan anaknya sejak sidang perceraian," Pansy menopang dagunya dengan punggung tangan. "Hak asuh anak tidak gampang ya."
Mata kelabu Draco memicing mendengar nada bicara sahabatnya, "Kamu tidak berpikiran untuk berpisah kan?"
Perempuan itu mencubit pelan pinggang Draco, "Tentu saja tidak, aku hanya berpikir seberapa berat ini untuk kedua pihak. Aku tidak bisa membayangkan berada diposisi Gilliard, tidak bisa bertemu dengan anak sendiri. Tapi di sisi lain aku mengerti apa yang di rasakan Granger."
"Sudah kubilang berkali kali aku tidak ingin menjadi teman gossip mu."
"Menurut ku mereka tidak bisa akur begini karena masih saling mencintai,"mengabaikan ucapan Draco, Pansy terus berbicara tentang Granger dan mantan suaminya.
"Logika dari mana itu," Draco melemparkan tatapan malas.
"Ntahlah, menurutku sih begitu." Ucap Pansy sambil mengaduk teh nya yang baru saja diantarkan pelayan.
"Mana mungkin Granger masih mencintai manusia itu, dia sudah sakit hati setengah mati."
"Yaa aku tidak tau ya, perceraian mereka juga belum setahun mungkin saja masih ada perasaan yang tertinggal," kata Pansy. "Aku yakin kalau Gilliard berusaha dengan serius Granger akan mau menerimanya kembali."
"Tidak akan ku biarkan Granger kembali padanya," bisik Draco pelan saat menaruh kembali cangkir kopinya.
"Kamu bicara apa barusan?" Pansy tidak begitu mendengar apa yang Draco katakan.
"Tidak," Draco tersenyum masam. "Bukan apa-apa."
/ To Be Continued /
Hai ku muncul kembali setelah hiatus, maaf banget baru bisa update karna lagi riweuh ada kerjaan lain dan mentok belom ada ide baru ini cerita mau dibawa kemana hehe. Semoga abis ini bisa upload dengan cepat lagi seperti sedia kala, tapi kalo telat-telat dikit maafin ya HEHE. Makasih banget sama yang masih nungguin cerita ini, semoga belom ilang minat buat tau kelanjutan ceritanya!
