A/N : Its been two months. I apology for that. Please enjoy:)
Everything belong to JK Rowling unless the plot and some unknown characters.
Chapter Five
Hening.
Hanya keheningan ditambah dengan deru hujan serta riuhnya angin di awal bulan Oktober di kota London yang menjadi latar dari Hermione dan Draco saat ini. Selain gerakan mengangkat cangkir untuk menyesap teh, mereka berdua hanya diam. Sesekali Draco mencuri pandang kepada sosok di hadapannya namun tak dihiraukan oleh wanita itu. Tak sabar dan penasaran adalah kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan Draco saat ini. Sudah lebih dari tiga puluh menit dan Hermione belum juga membuka mulutnya. Sejak sampai di kediaman wanita ini, Hermione hanya melepaskan mantelnya lalu memersilahkan Draco masuk untuk kemudian duduk di salah satu kursi di kitchen island-nya sambil wanita berambut cokelat itu membuat teh. Namun hingga teh tersaji tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
"Speak, Granger."
Draco akhirnya membuka suara. Pria itu tak melepaskan sedikitpun tatapannya dari Granger yang tampak masih enggan untuk membuka suara.
"Kau mau tetap diam? Lalu untuk apa aku sekarang berada disini? Menikmati teh sore bersamamu, Granger?" tambah Draco lagi.
Masih belum ada suara yang muncul dari mulut Hermione untuk membalas ucapan dari Draco tadi. Wanita itu tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Haruskah ia menceritakan semuanya pada Draco sekarang? Tetapi, hal yang ia tahu bahwa saat ini ia belumlah siap untuk membeberkan segalanya. Namun, ia juga sangat tahu bahwa sampai kapanpun ia tak akan pernah merasa siap untuk hari ini.
"Baiklah. Jika kau tak akan membuka mulut sama sekali, aku akan pergi ke Hogwarts sekarang lalu mengambil sample darah dan memeriksa kecocokan DNA kami," ujar Draco lagi lalu bangkit dari kursinya.
"Alistair is your son."
Satu kalimat dari Hermione membekukan langkah Draco. Ia sudah mengantisipasi hal ini sejak dalam perjalanan mereka tadi menuju kediaman Hermione, namun kalimat yang baru saja keluar dari mulut Hermione membuat ia merasa seperti kejatuhan es batu terdingin dalam hidupnya. Ia bergeming. Tak bergerak.
"Kita dapat membicarakan hal ini saat kau dan aku siap," ujar Hermione yang dengan cepat dibalas oleh sebuah gelengan dari Draco.
Pria yang mengenakan setelah serba hitam hari ini perlahan kembali duduk di bangkunya. "Katakan semuanya padaku, Granger."
"Kau tak perlu mengetahuinya secara mendetil. Alistair adalah puteramu. Aku rasa hal itu sudah cukup."
"Sudah cukup katamu? Bloody hell, Granger! Kau menyembunyikan fakta ini bertahun-tahun dan kau mengatakan hal itu sudah cukup? Apa kau gila?"
"Aku bahkan dapat menuntutmu karena memisahkan ayah dengan puteranya," tambah Draco.
Mendengar perkataan dari Draco tadi Hermione sontak bangkit dari kursinya. Mata Draco menatap ganas pada wanita itu. "Kau mau kemana? Kabur lagi ke New York, huh?" cecar Draco.
Hermione melemparkan tatapan kesal pada pria itu. "Shut up, Malfoy! Aku tak akan kabur ke New York lagi hanya untuk menghindarimu."
Bergegas ia membuka laci penyimpanan wine miliknya dan mengeluarkan sebuah botol hijau lalu tanpa perlu menuangkannya ke gelas ia langsung menenggaknya. Hermione kembali ke ruangan itu dan kembali duduk di hadapan Draco Malfoy. "Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan Malfoy."
Draco melirik sesaat botol wine milik Hermione di hadapannya.
"Alistair adalah anakku?"
Hermione mengangguk.
"Kau pergi dari London saat kau mengetahui bahwa kau mengandung anakku?"
Lagi-lagi Hermione mengangguk.
"Bloody hell, Granger," balas Draco yang menghela napas lalu tanpa tedeng aling-aling mengambil botol wine di depannya dan ikut menenggaknya.
Setelah alkohol itu perlahan menjalar di aliran darahnya ia kembali menatap Hermione. "Ceritakan semuanya padaku. Kapan kau mengetahui bahwa kau sedang mengandung anakku? Dan apa yang membuatmu menyembunyikan hal ini dariku?"
Seperti yang tadi dilakukan Draco, Hermione kembali menarik botol wine itu lalu meminumnya hingga separuh. Ia membutuhkan banyak alkohol untuk dapat menceritakan segalanya pada Draco. Hermione menarik napas panjang lalu mulai mengingat bagian demi bagian dari hidupnya saat itu.
Hermione dan Draco sudah berada di tahun terakhir program magang atau lebih sering mereka sebut internship itu. Tak ada yang perlu mempertanyakan apa hubungan Draco dan Hermione sebenarnya. Semua orang tahu bahwa Hermione bersama Draco dan Draco bersama Hermione, tapi tidak dengan mereka sendiri. Mereka tak pernah melabeli apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. They studied and fucked. They argued and they fucked. They were on a shift and they fucked. They were just a great team in any aspect and they knew it.
Hingga pada satu waktu mereka sedang bertugas di Pediatric Department, Hermione ingat sekali Draco menahan amarahnya seharian penuh karena dikelilingi oleh bayi-bayi yang dianggapnya sangat memusingkan. Hermione mendapati Draco tengah berada di on call room dengan wajah datarnya namun wanita itu yakin bahwa rasa kesal yang tengah dirasakan. "You hate peds, huh?"
"I loathe it."
Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut Draco. Pria itu benci anak-anak. Hermione tahu betul akan hal itu. Draco selalu mengatakan bahwa anak hanya akan menghambat kehidupannya. Bahkan pernah suatu waktu ia mengatakan bahwa ia tak berencana memiliki anak sama sekali. Dan hal terabsurd yang terjadi sesaat setelah Draco mengatakan kembali tentang kebenciannya pada anak-anak adalah Hermione merasakan mual yang sangat hebat. Terburu-burulah ia ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Kepalanya pusing bukan kepalang dan ketika ia keluar dari kamar mandi di on call room itu Draco hanya menatapnya dengan tatapan penuh curiga. Hermione ingat betul raut wajah pria pirang itu. Alisnya sedikit terangkat dengan raut penuh pertanyaan. "Kau kenapa?"
"Entahlah."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya karena sesungguhnya Hermione juga tak tahu mengapa tetiba saja ia merasa mual dan berujung dengan muntah di kamar mandi tadi. Namun tatapan penuh tanya itu masih menghiasi wajah Draco. "Apa?" tanya Hermione yang bersikap defensif.
"Kau tidak hamil, bukan?"
"Kau gila. Tentu saja tidak."
Hanya kalimat itu yang menjadi penutup pertemuan mereka di on call room sore itu. Hermione memikirkan perkataan dari Draco sepanjang sisa harinnya. Ia menghitung siklus haidnya lalu terkesiap sesaat. Ia sudah terlambat lebih dari satu bulan dari jadwalnya, namun seperti biasa ia tak mengindahkannya karena jadwal menstruasinya terkadang berantakan akibat stress dan terlalu lelah selama ia menjadi intern.
Aku tak mungkin hamil. Kalimat itu yang ia ulang terus hingga beberapa hari setelah ucapan Draco itu dilontarkan. Hermione menjadi kurang fokus akan segala pekerjaannya. Hal ini membuat ia berakhir meminta izin pada Professor Sinistra yang saat itu merupakan atasannya.
Setelah memuntahkan semua sarapannya, Hermione terduduk di sisi toilet. Ia sedang mengumpulkan tenaga serta keberanian untuk mengambil sebuah batang yang akan menentukan nasibnya. Ia mengeluarkan seluruh keberanian yang dimiliki seorang Gryffindor dari dirinya dan apa yang selama ini ia takutkan saat itu terpampang nyata di hadapannya. Dua garis merah terlihat begitu jelas di batang itu dan hal yang terjadi selanjutnnya adalah Hermione kembali mengeluarkan isi perutnya hingga dasar terakhir.
Seharian penuh ia mencoba berbagai macam test kehamilan. Dari secara sihir hingga milik Muggle dan semua hasilnya sama. Ia merutuki dirinya seharian itu. Ia merasa selalu merapalkan mantra kontrasepsi dan begitupula dengan Draco, namun bagaimana hal ini bisa terjadi? Hermione tak tahu jawabannya.
Hal selanjutnya yang ia ingat adalah ia memperpanjang izin sakitnya pada Sinistra untuk satu minggu ke depan sambil terus berpikir apakah ia akan memberitahukan kabar ini pada Draco atau tidak. Ia tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh Draco. Pria itu pasti akan mempertanyakan apakah benar janin itu miliknya atau hal terekstrim adalah ia akan meminta Hermione menggugurkannya. Melihat sikapnya pada semua anak kecil di rumah sakit, pilihan kedua tampak akan lebih nyata. Bagi Hermione menggugurkan kandungan juga tampak pilihan yang tepat baginya saat itu. Residensi sudah ada di depan mata dan berada di program residensi sambil mengandung bukanlah pilihan yang tepat.
Setelah pergumulan batin selama berhari-hari Hermione memutuskan memeriksakan kandungan di salah satu rumah sakit sihir di London. Ia tak mau melakukannya di St Mungo, karena ia tahu persis rumah sakit itu memiliki telinga dan mulut pada semua dindingnya. Ia tak sanggup menghadapinya. Ia hanya berniat untuk memeriksa umur kandungannya dan membuat jadwal bersama dokter kandungan untuk menggugurkan kandungannya. Namun semua hal itu buyar saat ia mendengar suara detak menggelepar-gelepar dari janinnya. Janin itu sudah berusia delapan minggu. Detaknya begitu kuat dan seketika niatan untuk menyudahi kehamilannya sirna. Ia bertekad untuk mengatakan hal ini pada Draco saat itu juga. Hermione tak peduli akan reaksi Draco yang akan diterimanya. Ia hanya butuh memberitahukan bahwa ia tengah mengandung anaknya. Hermione bahkan tak berekspektasi apa-apa.
Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Hermione sore itu, tapi hal itu tak bertahan lama. Langkahnya terhenti di sebuah nurse station rumah sakit itu saat melihat Astoria Greengrass disana. Astoria Greengrass adalah wanita yang telah dijodohkan dengan Draco Malfoy sejak dahulu. Bahkan mungkin saja sebelum mereka dilahirkan di dunia. Lalu apa yang wanita itu lakukan di poli kandungan ini? Hermione berusaha menghindarinya namun terlambat. Tatapan mereka beradu dan wanita itu tersenyum simpul. "Hello, Granger," sapa wanita berambut hitam legam itu.
"Hi," hanya itu yang terucap dari Hermione.
Walaupiun Hermione tahu bahwa Draco menolak setengah mati perjodohan itu, tapi tak ada yang bisa menentang keputusan Lucius dan Narcissa Malfoy saat itu. Ditambah dengan kedekatan Draco dan Astoria yang bersahabat sejak mereka sama-sama di Hogwarts tak menutup kemungkinan bahwa Draco akan berubah pikiran dan ia rela untuk menikahi Astoria pada akhirnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Astoria.
"Pemeriksaan rutin," bohongnya.
"Kau sendiri?" Hermione berbalik tanya.
Astoria tersenyum. Senyum aristokrat yang dapat menghipnotis banyak pria. "Pemeriksaan pra-menikah," balas Astoria.
"Kau akan menikah?"
"Bulan depan."
"Selamat."
Setelah berbasa-basi singkat tadi Hermione langsung berjalan menuju farmasi untuk resep vitamin yang akan ditebusnya. Tak lama kemudian lagi-lagi langkahnya terhenti pada sosok siapa yang ia temui di lobby rumah sakit itu. Draco Malfoy tengah duduk di salah bangku tunggu itu dan Astoria dengan sangat menawan berjalan ke arahnya. Pria itu bangkit dari bangku itu lalu berjalan bersama dengan Astoria keluar. Hermione terdiam. Astoria akan menikah dengan Draco bulan depan.
Draco terdiam setelah mendengar cerita versi singkat dari Hermione tadi. Ia berusaha mencerna segalanya namun ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tanpa memedulikan Hermione yang langsung menenggak wine di hadapannya, Draco bangkit menuju tempat Hermione mengambil wine tadi. "Ini lemari liquor-mu?" tanya Draco yang dijawab dengan anggukan oleh Hermione.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku membutuhkan yang lebih keras dari sekadar wine," balas Draco.
Masih dalam diam ia mengambil sebotol whisky dan sloki lalu membawanya ke hadapan Hermione. Setelah meminum dua sloki whisky itu pria yang mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang sudah ia gulung sejak mendengar cerita Hermioe itu kembali memfokuskan dirinya pada wanita di hadapannya. "Hanya itu? Kau kabur ke Amerika hanya karena berasumsi bahwa aku akan menikah dengan Astoria?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Draco, Hermione menarik botol whisky dan sloki dari pria itu lalu ikut menenggaknya. "Aku tak asal berasumsi. Berita pernikahan Astoria Greengrass merebak keesokan harinya. Kau sendiri yang mengatakan bahwa ia tak sedang mengencani siapapun beberapa minggu sebelum. Dan kau adalah tunangannya. Dan yang terakhir aku melihat Astoria dan kau keluar dari apartemenmu beberapa kemudian."
Draco menatap Hermione tak percaya. "Untuk ukuran penyihir wanita terpintar pada masanya kau sangat bodoh untuk hal ini, Granger."
"Bagaimana mungkin kau hidup lebih dari sebelas tahun dalam sebuah asumsi?"
Wanita itu menundukkan pandangannya. Kepalanya sakit seketika. Ia tak tahu apakah rasa sakit itu muncul dari alcohol yang ia tenggak secara semena-mena atau dari ucapan Draco yang mengatakan bahwa selama ini ia hanya hidup dalam asumsi belaka. Seakan melupakan sakit dari kepalanya, Hermione kembali menarik botol whisky yang berada di tangan Draco lalu menenggaknya kembali. Ia tak mungkin berasumsi. Hermione melihat sendiri bahwa Astoria bersama dengan Draco malam itu dan sore itu di rumah sakit. Ia juga mendengar langsung dari Professor Sinistra bahwa Draco cuti selama seminggu untuk sebuah pernikahan sebelas tahun lalu. Dan Draco juga benar-benar menghilang selama satu minggu selanjutnya, begitupula dengan Astoria. Terdengar seperti seorang penguntit, tapi Hermione pergi mendatangi butik tempat Astoria berkerja dan para pekerja disana mengatakan bahwa Astoria juga tengah mengambil cuti selama seminggu untuk menikah di Paris. Semua fakta itu sudah cukup membuatnya mengundurkan diri selamanya dari kehidupan Draco Malfoy.
"Jawab aku Granger," ujar Draco yang merasa tidak diacuhkan oleh wanita di hapannya.
Perlahan namun pasti Hermione mengangkat kepalanya lalu menatap Draco dengan matanya yang terlihat memerah. "Sebelas tahun lalu kau mengambil cuti selama satu minggu pada Sinistra untuk sebuah pernikahan di Paris, apakah benar?"
Draco menatap Hermione sambil berusaha mengingat apakah ia pernah mengambil cuti selama satu minggu untuk ke Paris sekitar sebelas tahun yang lalu. Dan akhirnya ia mengangguk untuk membenarkan pertanyaan Hermione tadi.
"Di minggu yang sama Astoria juga cuti dari butiknya selama satu minggu untuk pernikahannya yang diselenggarakan di Paris."
Kalimat dari Hermione tadi membuat Draco terperangah bukan kepalang. Rahanganya hampir lepas setelah mendengar penjelasan Hermione barusan. Gila.
"Kau pergi dari benua ini dengan anakku di rahimmu dan menyembunyikannya selama ini hanya karena kau berpikir aku akan menikahi Astoria?" tanya Draco tak percaya.
Wanita itu kembali menarik botol whisky itu dan kembali menenggaknya. "Stop it, Granger. You drunk," ujar Draco sambil menjentikkan tongkatnya dan dalam sekejap saja botol itu hilang dari tangan Hermione.
"Kau pergi ke Paris untuk sebuah pernikahan, Malfoy," ujar Hermione dengan suara parau seakan ingin menjelaskan bahwa ia tak berasumsi sama sekali.
"Aku memang ke Paris selama seminggu sebelas tahun yang lalu untuk sebuah pernikahan, tapi itu bukanlah pernikahanku. Benar pernikahan itu adalah pernikahan Astoria, tapi bukan denganku melainkan dengan Blaise Zabini."
Mendengar penjelasan Draco membuat Hermione ingin memuntahkan semua isi perutnya saat ini juga. Hermione menatap Draco dengan rasa yang tak karuan. Kesal, marah serta malu sudah bercampur aduk disana. "Bukan hanya itu alasanku. We have known each other since sophomore in Med School, Malfoy. Aku sedikit banyak tahu tentangmu. Aku tahu ambisimu. Aku tahu suatu saat kau akan menjadi Cardiothoracic Healer Surgeon yang sukses," wanita itu mengambil napas lalu melemparkan senyuman sarkastik pada lawan bicaranya.
"Lihat dirimu sekarang. Kau benar-benar sukses menjadi Cardiothoracic Healer Surgeon. Tak hanya cita-citamu, Malfoy. Aku juga tahu apa yang menjadi keinginanmu. Kau tak menginginkan anak, bukan?"
Draco Malfoy tak menjawabnya.
"Dan aku tahu keinginanmu itu tak pernah berubah."
Dan lagi-lagi Draco tak menjawabnya.
Hermione bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju lemari pendingin di sudut dapurnya. Ia mengambil air mineral dan menyesapnya. "Aku tak peduli jika asumsiku salah mengenai pernikahanmu dengan Astoria. Aku benar-benar tak peduli."
Wanita itu kembali menyesap air mineralnya dengan pipi kemerahan khas orang mabuk. "Tetapi aku sangat memedulikan Alistair, puteraku. Aku tak mau dia tumbuh dengan orang yang bahkan tak menginginkan keberadaannya. Aku tak mau ia tumbuh di antara orang tua yang tak saling mencinta."
"Dan kau memilih untuk membesarkannya seorang diri? Kau memilih membesarkan dia dengan menjadi orang tua tunggal daripada membesarkannya bersamaku karena kau berasumsi aku tak menginginkannya?" tandas Draco.
"Aku tak berasumsi. Hal ini adalah fakta. Kau mengetahui hal ini sama sepertiku, Draco Malfoy."
"Kau berasumsi," balas Draco
"Kau pasti akan akan memintaku untuk menggugurkannya."
"Dan lagi-lagi kau berasumsi."
"Berhenti mengatakan aku berasumsi."
Mereka terdiam sesaat.
"Kau sudah dengar segalanya, bukan? Jadi pergilah dari rumahku saat ini juga."
000
Draco berjalan mondar-mandir di depan perapian kediamannya. Kesimpulan dari seluruh percakapannya dengan Granger tadi adalah pertama, ia memiliki seorang anak. Kedua, ia tak tahu bahwa ia memilikinya. Ketiga, ia tak mengetahuinya karena ibu dari anaknya berasumsi bahwa ia akan menikah dengan wanita lain. Dan keempat, ia tak mengetahuinya karena lagi-lagi ibu dari anaknya berasumsi bahwa ia tak menginginkan seorang anak berdasarkan ucapannya saat mereka masih berada di program intership.
Semua fakta ini membuat Draco tak henti-hentinya menghela napas. Pria berambut pirang yang sudah bolak-balik mengacak-acak rambutnya itu akhirnya terdiam di sebuah sofa tepat di depan perapian. Ia meminum air mineral dalam sekali tegukan untuk meredakan dahaganya. Kepalanya seakan ingin pecah dengan semua informasi dan emosi yang diberikan oleh Hermione tadi. Seluruh perasaan terasa berkecamuk di dadanya saat ini. Terkejut, marah, dan emosi-emosi lainnya terasa bersatu padu pada dirinya saat ini. Dan kembali ia meneguk air mineral itu hingga kandas untuk mendinginkan pikiran dan perasaannya. . Ia tak lagi berani menyentuh alkohol karena ada operasi esok pagi dan ia tak akan pernah membiarkan nyawa pasiennya terancam karena kelalaiannya.
Perlahan ia mencoba merelaksasikan pikiran dan emosinya. Ia mencoba kembali mengingat lagi siapa dirinya sebelas tahun yang lalu dan ia tak bisa menyalahkan Hermione atas pilihannya untuk pergi dari kehidupannya saat itu. Karena ia tahu bahwa ia akan menentang kelahiran bayi itu dan opsi menggugurkannya adalah opsi utama yang akan dipilihnya. Sebelas tahun lalu mereka hanyalah seorang intern. Masih ada jalan panjang di hadapannya. Seorang anak hanya akan menjegal karir mereka dan Hermione tahu betul siapa dirinya dan apa yang akan dilakukannya. Walaupun asumsi Hermione mengenai dirinya yang akan menikahi Astoria salah, namun asumsi bahwa ia tak menginginkan seorang anak sebelas tahun bukan lagi sebuah asumsi. Hermione memilih pergi dan meninggalkan karirnya di London untuk membesarkan anaknya seorang diri sebelum opsi menggugurkan kandungan keluar dari mulut Draco. Saat ini juga Draco merasa menjadi manusia terburuk di muka bumi.
"Bloody hell," umpatnya.
000
"Jadi, kau memiliki anak dari Granger?"
Draco mengangguk akan pertanyaan itu.
"Dan kau baru mengetahuinya beberapa hari belakangan ini?"
Lagi-lagi Draco mengangguk untuk mengiyakan.
"Dan anak itu adalah Alistair yang saat ini berada di satu asrama dengan Letitia, puteriku?"
Untuk kesekian kalinya Draco mengangguk.
"Blood hell!" umpat Blaise Zabini.
Ia menyesap hingga kandas kopi di hadapannya meski masih terasa panas. Tatapannya terarah pada Draco yang juga tampak tahu harus berkomentar apalagi terhadap berita ini. "This is insane," kembali Blaise mengeluarkan komentarnya.
Dan kembali pula Draco hanya mengangguk. "Kau sudah berbicara lagi dengan Granger?"
"Apa yang harus aku bicarakan?" tanya Draco polos pada sahabatnya.
Blaise mendengus melihat reaksi dari Draco. "Mate, come on. You have a child in a night."
"Lalu?"
"Kau tak peduli akan hal ini?"
"Tentu aku peduli," tandas Draco.
"Jika kau peduli, kau harus mendiskusikan hal ini dengan Granger. Alistair adalah puteramu. Darah dagingmu. Artinya ia adalah penerusmu dan pewarismu. Pewaris klan Malfoy," jelas Blaise panjang lebar.
Keterkejutan akan kehadiran Alistair membuat Draco melupakan semua hal yang dijabarkan oleh Blaise tadi. Haruskah ia membicarakan hal ini pada Hermione? Apa yang harus ia katakan? Memintanya menyematkan nama Malfoy di belakang nama Alistair? Sudah pasti akan ditolak mentah-mentah oleh wanita itu. Bukan hanya Hermione yang paham betul siapa Draco, tapi Draco juga sangat hapal tabiat dari seoarang Hermione Granger. Wanita itu melarikan di ke benua lain sebelas tahun yang lalu, bukan hal yang mustahil ia akan kembali pergi meninggalkan kehidupannua di London. Kembali meninggalkan Draco dari kehidupannya. Sebesar apapun Draco menampik perasaannya terhadap Hermione, namun ia tahu jauh di lubuk hati terdalamnya, ia tak lagi ingin Hermione pergi meninggalkannya.
"Draco," suara dari Blaise membuyarkan pikirannya yang sempat terbang.
"Yes."
"Kau akan berbicara padanya?" tanya Blaise.
Draco mengangguk. "Aku akan berbicara di waktu yang tepat."
Kali ini Blaise yang mengangguk sambil kembali menyesap kopinya yang sudah kembali terisi secara sihir. Kedua sahabat itu kembali terlarut dalam pikirannya di pagi hari yang dingin ini. Blaise sibuk dengan tablet sihirnya untuk memantau pergerakan saham di dunia sihir sementara memiliki pikiran yang terpecah antara operasinya yang akan datang serta Hermione dan Alistair. Namun ketenangan itu buyar seketikan saat seekor burung hantu menghampiri Draco yang tengah menikmati paginya di beranda kediaman Blaise Zabini.
Dengan sigap ia mengambil perkamen yang terikat di kaki burung hantu bernama August yang tak lagi asing baginya. "Rumah sakit?" tanya Blaise yang masih belum meninggalkan pandangannya sedikitpun dari tablet sihirnya.
"Alistair."
"Fuck off. Kalian sudah saling kontak?" tanya Blaise.
Dan tanpa berbicara lagi-lagi Draco hanya mengangguk. "Bahkan sebelum kau mengetahui bahwa ia adalah puteramu?"
"Yaa, sebelum aku mengetahui hal itu."
Blaise menggeleng-gelangkan kepalanya tak percaya. "It is a sign, Draco. The universe is already give you a sign," ucap Blaise mendramatisir.
"Shut up, Zabini."
Tanpa memedulikan sahabatnya lagi, Draco membaca isi perkamen itu.
Hello Healer Malfoy,
Apa kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja.
Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Mungkin aku akan terdengar seperti seorang anak yang manja, tapi dadaku terasa sangat sakit dua hari kebelakang ini. Aku sudah meminum semua ramuan yang diberikan oleh Madam Pomfrey secara rutin, tapi hanya sedikit mengurangi sakitnya. Apa yang harus aku lakukan?
Tolong jangan katakan ini pada ibuku.
Alistair
"Damn it!" umpat Draco pelan dari helaan napasnya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Blaise yang terlihat ikut panik melihat reaksi Draco.
Tanpa memedulikan Blaise lagi, Draco bangkit dari kursinya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon pihak rumah sakit untuk merubah semua jadwalnya hari ini, baik itu mengunjungi pasien ataupun operasi karena ia tak tahu berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk memeriksa Alistair.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Blaise yang ikut bangkit dari kursinya.
"Hogwarts."
000
Setelah berpuluh tahun lamanya, akhirnya Draco Malfoy kembali menginjakan kakinya di Hogwarts. Bukan untuk berreuni dengan sahabat-sahabat Slytherin-nya, melainkan untuk memeriksa secara langsung pasiennya yang beberapa hari lalu berubah stastus menjadi puteranya. Pria yang hampir selalu memakan setelan serba hitam yang terbuat dari sutera itu berjalan mondar-mandir di Hospital Wing sambil menunggu kedatangan Alistair yang bersikeras ingin menyelesaikan kelas Transfigurasi-nya terlebih dahulu sebelum menemui Draco. Tak lama berselang Alistair menampakan batang hidungnya di hadapan Draco.
Healer Malfoy yang menjadi panggilan Draco oleh Alistair itu terpaku melihat anak laki-laki itu. Alistair berdiri di ambang pintu dari salah satu bangsal Hospital Wing. Rambut pirang serta jubah Slytherin yang ia kenakan benar-benar membuatnya seperti cetak biru dari Draco Malfoy dan hal itulah yang membuat Draco mematung memandangnya. Rasanya tes DNA tak lagi perlu untuk membuktikan bahwa Alistair adalah darah dagingnya.
"Healer Malfoy."
"Alistair."
"Kau datang jauh-jauh dari London, Healer Malfoy. Aku kira kau hanya akan menambahkan resepku kepada Madam Pomfrey."
Draco tersenyum. "Aku tak bisa asal memberimu tambahan resep, young man. Aku harus memeriksamu terlebih dahulu."
"Lagi pula London dan Wales tidak jauh selama aku masih bisa ber-Apparate," tambah Draco.
Alistair tersenyum tipis. "Terkadang aku lupa bahwa kita adalah penyihir."
Tanpa membuang waktu lagi, Draco langsung memeriksa perkembangan jantung Alistair dengan di dampini oleh Madam Pomfrey. Ia membawa mesin echocardiogram dan electrocardiogram sihir yang dimasukan ke dalam tas kerjanya yang sudah diperluas dengan sebuah mantra. Kening Draco mengerut saat membaca hasil dari ECG Alistair.
"Apakah semakin parah?" tanya Alistair yang penasaran akan hasilnya yang dijawab dengan gelengan dari Draco.
"Hasil dari ECG dan suara dari jantungmu menandakan arrhythmia."
"Apakah aku akan mati?" tanya Alistair polos.
"Tidak, young man. Hal ini hanyalah efek dari kelainan pada jantungmu. Aku akan menambahkan resep pada ramuanmu untuk menstabilkan detak jantungmu," jelas Draco.
Alistair mengangguk-angguk. "Jadi detak jantungku yang tak stabil ini yang membuat dadaku menjadi sakit?"
"Betul sekali."
Senyum Draco tak mampu terbendung menyadari betapa pintarnya Alistair ini. DNA Hermione dan dirinya benar-benar menyatu dengan sangat apik di tubuh Alistair. Draco menuliskan resep ramuan pada Madan Pomfrey sementara Alistair masih menunggunya di bangsal pemeriksaan.
"Minum ramuan dariku secara rutin dan jangan melakukan hal-hal yang terlalu melelahkan."
"Baik, Healer Malfoy."
Dengan satu jentikan jari semua peralatan Draco sudah kembali ke masuk dengan rapih seperti sedia kala ke dalam tasnya. Draco harus langsung ke rumah sakit, sementara Alistair harus menghadiri kelas selanjutnya. Langkah mereka terhenti di sebuah jendela. Alistair memandang takjub pada salah satu atlet Quidditch Slytherin yang sedang mengudara saat ini. "Apakah kau atlet Quidditch selama di Hogwarts?"
"Aku seorang Seeker."
"Wow kau hebat.
"Apakah aku bisa bermain Quidditch dengan kondisi jantungku saat ini?" tambahnya lagi
Draco menatap bocah laki-laki itu. "Tidak ada yang tidak mungkin, Alistair."
Alistair tertawa pelan. "Jawaban yang sangat dipliomatis, Healer Malfoy."
Draco berlutut di hadapan Alistair sambil memegang pipinya yang terlihat pucat pasi seperti para keturunan Malfoy kebanyakan. "Aku berusaha mewujudkannya jika itu keinginanmu."
Alis Alistair bertaut namun ia tampak tersenyum. "Kau tampak aneh hari ini, Healer Malfoy."
Draco tertawa lalu tetiba saja memeluk Alistair. "Jaga dirimu. Surati aku kapanpun kau mau."
Perlahan Alistair membalas pelukan itu. "Terima kasih, Healer Malfoy."
000
Hermione menghela napasnya sedalam mungkin. Perasaan dalam dirinya bercampur menjadi satu setelah menerima surat dari Hogwarts pagi ini. Khawatir, takut serta marah dan kesal adalah emosi-emosi yang tengah menguasainya saat ini. Khawatir dan takut dengan kondisi kesehatan Alistair. Marah dan emosi terhadap kelakuan Draco Malfoy. Hanya satu minggu. Hanya satu minggu setelah pengakuan itu dan Draco Malfoy sudah berani menemui Alistair seorang diri. Walaupun ia tahu bahwa pertemuannya dengan Alistair adalah pertemuan professional antara dokter dan pasien, tapi Alistair masih di bawah umur dan sudah sewajarnya bila Hermione mendampingi pertemuan itu. Alih-alih mendampingi, ia bahkan tak tahu adanya pertemuan itu. Namun, ada hal yang paling membuat ia merasa sedih dan tersiksa. Bukan dirinya yang dihubungi oleh Alistair pertama kali mengenai keadaannya, melainkan Draco Malfoy.
Hermione mencoba menenangkan dirinya lalu melanjutkan akitivitas berpakaian di pagi hari sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Tepat saat ia turun dari kamar bel rumahnya berbunyi.
"Sangat tepat waktu, Malfoy," sapa Hermione saat membuka pintu rumahnya dan menemukan siapa sosok yang sudah berada disana.
"Well, good morning to you too, Granger," balas Malfoy sarkastik.
Tanpa memersilahkan tamunya masuk, Hermione menutup rapat pintu rumahnya. "Apa maumu?"
"Kau tak memersilahkan aku masuk?"
"Aku rasa tak perlu."
Jeda sejenak sebelum Hermione kembali membuka mulutnya. "Jadi apa maumu?"
"Jika kau semarah ini padaku, aku rasa kau sudah mendapatkan surat dari Hogwarts mengenai kondisi Alistair, bukan?"
Hermione tak menjawbanya. Wanita itu hanya menatap Draco yang semua orang dapat memahami arti bahwa ia sudah mengetahuinya. "Arrythmhia yang ia alami adalah efek dari kelainan katupnya," ujar Draco yang didengar dengan saksama oleh Hermione.
Semarah dan sekesal apapun ia tak mau sedikitpun menyela Draco saat ini. Ia berusaha sekuat mungkin meredam amarahnya sejak pria itu menginjakkan kaki di kediamannya. Kesehatan Alistair adalah yang utama dan Draco adalah healer yang tepat untuk putranya
"Hasil echo bagus. Tak ada kebocoran baru, oleh karena itu kau tak perlu khawatir."
Kalimat terakhir dari Draco membuat Hermione tak sanggup lagi meredam emosinya. "Tak perlu khawatir katamu? Alistair anakku, Malfoy. Penyakit yang diidapnya bukanlah influenza atau radang tebiasa. Jantungnya bermasalah dan efek lain baru saja muncul di dirinya. Lalu kau memintaku tak khawatir. Apakah kau gila?"
Wanita yang hari ini mengenakan jubah biru tua dengan sepatu boots hitam itu mengoceh panjang lebar pada Draco. "Alistair memintaku untuk tak mengatakan hal ini padamu agar kau tak khawatir," balas Draco.
Hermione terdiam saat mendengar penjelasan Draco. Alistair tak ingin membuatnya khawatir. Hermione tak tahu lagi bagaimana caranya bersyukur kepada Tuhan karena dianugerahi putera seperti Alistair. Namun, wanita yang pagi itu menggerai rambut cokelat ikalnya itu tak ingin terlihat kalah di depan Draco dan ia kembali membuka suara. "Tetapi dia anak dibawah umur, kau tahu bahwa ia wajib di dampingi."
"Aku menganggap keadaannya mendesak dan setahuku kau sedang berada di ruang operasi. Dan aku sudah meminta Hogwarts mengabarkan hal ini padamu," balas Draco dengan sangat tenang.
"Tapi dia anakku!"
Draco menghela napas mengahadapi emosi Hermione yang meledak-ledak di hadapannya. "Secara fakta sejak satu minggu yang lalu, Alistair juga anakku."
Kini Hermione yang ikut menghela napas. "I am his mother and his legal guardian. You are just biological father. You are still no one."
Kalimat itu adalah kalimat terakhir dari Hermione sebelum ia membuka payungnya untuk menerobos hujan pagi hari di kota London ini. Refleks Draco memegang pergelangan tangan Hermione untuk menahannya. "Naiklah ke mobilku. Aku juga akan ke rumah sakit."
"Tidak perlu."
"Tapi ini hujan deras."
"Itulah guna payung diciptakan."
Hermione menghilang dari pandangan Draco sesaat kemudian.
000
Hujan lebat tak kunjung reda mengguyur seisi kota London hari ini. Baru saja Draco Malfoy akan mengakhiri shift-nya, sebuah seranta terdengar dari kantung jubah healer-nya. Kode ER terpampang di atas-nya. Draco memasukkan alat seranta itu kembali ke kantungnya dan berjalan menuju ER.
"Ada apa?" tanyanya pada seorang perawat sesaat ia sampai di ER sore ini.
Kedaan ruangan gawat darurat itu tampak sepi. Sejauh matanya memandang bahkan tak ada satupun pasien di bangsalnya. Hanya ada beberapa perawat dan healer jaga di ER ini.
"Ada kecelakaan mobil sihir yang berlokasi di dekat sungai tak jauh dari rumah sakit kita. Info yang kami dapat dari paramedic ada beberapa yang mengalami cedera thorax," jelas perawat itu yang disambut dengan anggukan oleh Draco.
Tak berselang lam suara sirine dari ambulance sihir terdengar. Satu per satu korban di bawa menggunakan brankar menuju bangsalnya masing-masing di ER ini. Ada sekitar lima pasien yang masuk dengan keadaan bervariatif. Hanya ada satu dengan cedera thorax dan sudah ditangani oleh Draco dan kini sedang menuju radiologi untuk MRI.
"Setalah hasil MRI selesai segera kabari aku dan hubungi bagian Neuro, aku melihat ada sedikit trauma di kepalanya," ujar Draco pada salah satu residen yang sedang di bawah bimbingannya minggu ini.
"Yes Healer Malfoy."
Baru saja ia membuka jubahnya healeir jaga ER ini meneriakan namanya. "Healer Malfoy, kau bisa membantuku?" tanya dari kejauhan.
Healer itu tengah menunggu di ambang pintu ER. Ada satu ambulance lagi yang terdengar sayup-sayup mendekati ER dari rumah sakit ini. Dan tak perlu menunggu lama, ambulance yang sedari tadi ditunggu menunjukkan wujudnya. Seorang paramedic dengan sigap turun terlebih dahulu sementara yang lain sedang bersiap menurunkan brankar.
"Wanita 34 tahun, hypothermia. Suhu sekitar 29 derajat celcius dan detak jantungnya hilang timbul," jelas paramedic itu kepada healer jaga ER ini dan tentunya Draco.
Mendengar kondisi pasien yang sangat tidak baik, Draco memberi isyarat pada resident-nya untuk mendekat. "Hyphotermia. Siapkan oksigen yang telah dilembabkan dan infus yang dihangatkan."
"Sekarang?" tanya resident itu.
Draco menatapnya kesal. "Lusa."
"Sekarang!" tambah Draco seperti mendesis yang membuat resident itu lari secepat mungkin dari hadapannya.
"Bloody hell!"
Sontak Draco berlari ke arah brankar itu setelah mendengar healer jaga tadi berteriak. Draco membeku ketika melihat sosok pucat yang berada di atas brankar itu. "Healer Granger!" panggil healer jaga itu.
"Healer Granger, kau dapat mendengarku?" tambahnya lagi.
Di saat healer jaga itu mulai mendorong brankar menuju ruangan yang lebih hangat, Draco hanya mematung di tempatnya. "It can not be real," bisiknya.
000
to be continued
A/N : Its been two months. I apology for that. How are you guys? How's Indonesia? I really hope you are in good perfect health. Stay safe and stay healthy guys. COVID-19's breakdown its really give me a huge effect in Dubai now. My sons are study from home started on February until now. My girl can not take a nap regularly like she used to do cause her brother always do some brotherhood things everyday. But thank God, my mother in laws a.k.a Opung Boru-nya anak-anak is in the house right now hehe. She helps me a lot. Dan dari semua penjelasan saya, hal itulah yang buat saya susah sekali membuka laptop. Dan membuat saya terlambat posting cerita ini hingga dua bulan lebih. Exhausted is my middle name now.
Btw, enough for this babbling. So how's this chapter? Please leave your comment. Thank you so much guys. Stay safe:)
