I own nothing. JK Rowling has!


Chapter 6

"Its Healer Granger."

"Oh my God!"

"Is she die?"

"Bloody hell!"

"She is dead."

Suara-suara itu yang terdengar dari seluruh penjuru ER. Para healer dan perawat berlalu lalang berusaha memastikan bahwa wanita yang terlihat pucat pasi dengan badan sedingin es yang sudah terbungkus dengan selimut penghangat adalah Hermione Granger. Dengan segala usaha untuk kembali ke alam sadarnya Draco Malfoy berjalan menembus kerumunan yang sedang memastikan bahwa Healer Granger tengah di ambang kematian saat ini. "Tutup pintunya," ujar Draco pada seorang perawat.

Dengan cekatan perawat itu menutup pintunya. "Page all of my residents and my intern now," perintahnya yang langsung dilaksanakan oleh perawat itu.

Tanpa banyak basa-basi lagi, ia menggeser healer jaga ER tadi agar ia dapat langsung memeriksa keadaan Hermione. "Don't stop compression," ujarnya pada healer itu.

Draco memeriksa pupil matanya dan memantau detak jantungnya dari monitor jantung sihir di sisi tempat tidur Hermione. "Siapakan alat cuci darah dan darah O negative yang telah dihangatkan sebanyak yang kalian dapatkan sekarang juga di OR," ujar Draco pada resident-nya.

"Yes, Healer Malfoy."

Kedua resident itu langsung menghambur keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan perintah attending-nya. Sementara itu healer jaga ER yang hari ini sedang bertugas mulai tumbang karena kelelahan memompa jantung Hermione. "Give me ephi," ucap healer jaga itu pada salah satu perawat untuk merangsang kerja jantung Hermione.

"No!" Draco berteriak untuk menghentikannya.

Dengan cekatan Draco memompa jantung Hermione untuk memberikannya resusitasi. "Kita tidak bisa memberikannya ephi sekarang. Tubuhnya belum siap," jawab Draco sambil terus memompa jantung Hermione dengan kedua tangannya.

"Apa yang terjadi dengan Hermione?"

Tetiba saja Professor Sinistra masuk ke ruang itu. Raut wajahnya takut namun tetap tenang karena ia sedang berhadapan dengan banyak sekali orang disana. "Hypothermia," jawab Draco singkat.

Sinistra yang melihat monitor jantung yang tak mengalami perubahan dan suhu tubuh Hermione yang tak kunjung meningkat mulai diserang ketakutan yang lebih lagi. "Malfoy, is she die?" tanya Sinistra pelan.

"No, she is not. She is not die until she is warm and die," balas Draco cepat.

Draco memberi sinyal pada semua resident dan intern-nya yang berada di ruangan itu untuk mendekat dan membantunya untuk memompa jantung Hermione. "Jangan berhenti untuk memompa jantungnya hingga suhunya mencapai 30 derajat celcius lalu bawa langsung menuju OR. Kalian paham?"

"Yes, Healer Malfoy," jawab mereka bersamaan.

Professor Sinistra menghampiri Draco yang terengah-engah setelah terus-terusan memompa jantung Hermione. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menjaga jantungnya tetap berdetak sambil terus menghangatkan tubuhnya lalu membawanya ke OR untuk prosedur bypass karena dia mengalami ventricular fibrillation lalu mengalirkan darah hangat ke tubuhnya," jelas Draco.

"Tapi tak ada perubahan berarti sedari tadi, Malfoy. Aku takut jika kita sudah terlambat," balas Sinistra.

Draco menggeleng. "Aku sudah mengatakan padamu, ia belum dapat dikatakan mati hingga tubuhnya kembali menghangat dan akhinya mati."

"Suhunya naik!" teriak salah seorang intern yang sudah berpeluh keringat karena ikut memompa jantung Hermione sedari tadi serta ditambah dengan suhu ruangan yang dinaikkan semaksimal mungkin untuk kebutuhan Hermione.

Healer Malfoy itu langsung mendekati Hermione dan kembali memeriksa reaksi pupil Hermione. "Its work," gumamnya.

"Siapkan OR saat ini juga, kita kesana sekarang," ujar Draco yang langsung naik ke tubuh Hermione untuk terus memberinya kompresi jantung sepanjang perjalanan ER menuju OR.

000

Draco Malfoy berdiri dalam diam dengan suara bising dari mesin ventilator sihir dan mesin bypass yang menjadi latar suara ruang operasi ini. Beberapa resident dan intern yang membantu memompa jantung Hermione secara manual tampak begitu kelelahan. Sudah lebih dari dua jam, namun tak ada perubahan pada monitor jantung Hermione. Tak ada detak sama sekali yang ditunjukkan disana. Secara bergantian Draco memeriksa mesin bypass yang masih terus bekerja dan juga monitor jantung. Seharusnya jantungnya sudah berdetak normal sekarang, namun sama sekali tak ada kemajuan pada monitor di hadapannya.

"Kau yakin dengan apa yang kau lakukan?" tanya Sinistra yang tak meninggalkan OR sedari tadi.

"Aku yakin."

Hanya itu jawaban dari Draco. Sedikitpun ia tak mengalihkan perhatiannya dari Hermione.

"Come on, Hermione."

"Please come back to me."

Bisik Draco yang hanya dapat didengar olehnya.

Professor Sinistra kembali mengambil posisi di samping Draco lalu menepuk bahunya perlahan. "Ini sudah lebih dari dua jam, kau sudah berhenti memompa jantungnya terlalu lama. Aku takut kita sudah terlambat," ujar Sinistra dari balik maskernya.

"Kita tidak terlambat," balas Draco.

"Jantungnya akan kembali berfungsi sesaat lagi."

Tepat sesaat setelah Draco mengucapkan kalimat terakhirnya, monitor jantung menunjukkan pergerakan yang hanya berhasil ditangkap oleh matanya. "Charge 120," perintah Draco pada perawat yang bertugas.

"Clear."

Tubuh Hermione tersentak di atas meja operasi, tapi sayang sekali tak ada sedikitpun perubahan pada monitor jantungnya.

"Charge 150!"

"Clear."

Dan kembali tubuh Hermione tersentak di atas meja operasi dan lagi-lagi pula tak ada perubahan pada monitor jantungnya. Tidak ada detak jantung yang terbaca disana.

"Charge 200."

"Draco, stop!" perintah Sinistra.

"You hurt her. Let her go, Draco," tambah Sinistra lagi yang mencoba menenangkan Draco.

Draco menepis tangan Sinistra yang berada di pundaknya. "I saw the pulse. So step back, Arthur."

"Charge 200!" perintahnya lagi pada perawat itu.

"Clear."

Masih belum ada perubahan, Draco memejamkan matanya sesaat. Please help me, Hermione. Please comeback. Please comeback for Alistair and me. Hanya itu pintanya dalam hati. "Charge 300!" teriaknya lagi.

"Stop Malfoy," kali ini Sinistra benar-benar marah dibuatnya.

Sinistra tahu bahwa Draco Malfoy tak akan membiarkan Hermione Granger mati di meja operasinya, tapi semua ini sudah keterlaluan. Secara pandangan medis normal, Hermione sudah tak dapat ditolong lagi. Jantung sudah berhenti terlalu lama.

"Do it!" perintah Draco lagi.

Perawat itu tampak bingung harus mematuhi Malfoy atau Sinistra. Ia hanya melempar pandang antara Malfoy dan Sinistra secara bergantian. "I am in charge for this OR now, so do as I say. Charge 300!"

Perawat itu melemparkan tatapan meminta maaf pada Sinistra lalu menekan tombol mesin defibrillator. "Clear," ia ikut berteriak.

Bip.

Bip.

Suara monitor jantung Hermione akhirnya berbunyi. Jantungnya kembali berfungsi. Detak jantungnya kembali terdengar. Semua orang di OR tampak terkejut dan berbahagia. Draco terduduk lemas di sisi meja operasi Hermione. "Thank you."

"Thank you for coming back to me," ujarnya.

000

Hermione Granger sudah melewati masa kritisnya. Suhu tubuhnya sudah kembali normal dan begitupula jantungnya sudah dapat berdetak dengan sendirinya. Ia sudah berada di ruang perawatan intensive lebih dari satu hari namun tak kunjung sadarkan diri. Healer dari bagian neuro masih memantau terus kerja otaknya. Mereka takut terjadi kerusakan pada otaknya karena jantunganya berhenti terlalu lama. Healer dari bagian internist juga terus memantau seluruh pergerakan enzim serta hormone Hermione. Suhu tubuhnya yang sempat berada di bawah 30 derajat celcius membuat adanya kerusakan enzim dalam tubuh yang dapat menyebabkan kegagalan organ dalam.

Sementara para healer tak henti memeriksa kondisi Hermione secara bergantian, Draco Malfoy tak sekalipun bergerak dari tempatnya. Ia duduk tepat sisi ranjang wanita itu dengan mata yang awas akan komplikasi apapun yang dapat saja terjadi sewaktu-waktu. Rasa lelah dan kantuk seakan ditepis mentah-mentah olehnya. Ia hanya tak mau melewatkan sedikitpun momen dengan Hermione melihat kondisinya yang belum juga sadarkan diri.

"Malfoy."

Suara dari ambang pintu perawatan itu mengalihkan perhatian Draco sesaat. Harry dan Ginny Potter serta Ron dan Luna Weasley sudah berdiri disana. Draco membetulkan posisi duduknya saat mereka memasuki ruang perawatan itu. Ginny membuka tirai dari ruang perawatan itu dan mempersilahkan sinar matahari untuk masuk ke dalamnya, walau terlihat sedikit malu-malu. Sedangkan Luna menata vas yang berisikan lily putih, bunga kesukaan Hermione. Harry dan Ron sudah berdiri di sisi lain dari tempat tidur di ruang perawatan ini. "Kapan dia akan sadarkan diri?" tanya Harry kepada Draco.

Pria berambut pirang yang tampak lelah itu hanya mengedikan bahunya. "Apa maksudmu? Apakah Hermione tak akan sadarkan diri?" Ron ikut bertanya.

"Seharusnya ia sudah sadar sekarang. Seluruh organ dalamnya bekerja dengan sempurna dan tak ada kerusakan di otaknya untuk sementara ini. Semuanya bergantung pada Granger, kapan ia memutuskan untuk sadar," balas Draco sambil menatap Hermione yang masih memejamkan matanya.

"Aku yakin ia akan sadar tak lama lagi," ujar Luna yang sudah selesai menata lily-lily putih itu ke dalam vas dan meletakkanya tepat di sisi ranjang Hermione.

Tak ada yang merespon ucapan Luna, hanya Ron yang memegang tangan istrinya itu sambil tersenyum. Masing-masing dari mereka sedang larut dalam pikirannya. Hanya hening yang terasa dengan suara ventilator dan monitor jantung yang melatari suaranya. Hanya Harry yang keluar dari ruangan itu sesaat setelah ponsel sihirnya berdering. Tak lama setelahnya ia masuk dan semua mata tertuju padanya. "Tim Auror sudah menemukan penyebab Hermione berada di sungai itu," ujar Harry.

"Ia tidak kecelakaan seperti yang kita duga. Ia sedang berada di area itu saat kecelakaan yang menimpa mobil itu terjadi. Ia berusaha memberikan pertolongan pertama lalu menelepon paramedics, namun sepertinya ia tergelincir jatuh ke tepi sungai dan tak ada satupun yang menyadarinya. Sampai saat paramedic dan Auror menyisir tempat itu dan menemukannya di tepi sungai dengan tubuh separuh terendam air dan hujan yang mengguyur," jelas Harry.

"Bloody hell!" umpat Ron.

"Tipikal Granger," ucap Draco pelan.

Ginny dan Luna menarik napas dalam-dalam setelah mendengar penjelasan itu. Sementara itu Draco kembali menatap Hermione. Pantas saja tubuhnya kehilangan panas sebanyak itu. Terendam air sungai dan terguyur hujan deras dengan waktu yang lama untung saja tak membunuhnya. Draco tak dapat membayangkan betapa tersiksanya Granger saat itu.

"Pulanglah," ujar Harry pada Draco yang membuatnya terkejut.

"Aku baik-baik saja," balas Draco cepat.

Harry menggeleng. "Kau tampak sangat lelah. Perawat mengatakan bahwa kau yang menangani Hermione sejak di ER sampai saat operasi. Beristirahatlah, kami akan disini secara bergantian."

Draco tertegun sejenak. Sejak kapan mereka bertingkah seperti seorang sahabat. "Pulanglah Malfoy," tambah Ginny.

"Kami akan menjaga Hermione dan mengabarinya bergitu ia terbangun," Ginny kembali menambahkan.

Draco sadar bahwa ia membutuhkan tidur dan beristirahat saat ini. Perlahan ia bangkit dari kursi itu lalu memeriksa semua alat penyokong hidup Hermione lalu mengalihkan tatapannya pada Hermione yang lagi-lagi masih belum sadarkan diri. "Aku akan pulang beberapa jam," ujar Draco dengan nada dinginnya lalu keluar dari ruangan itu.

000

Sesampainya di kediamannya, Draco sama sekali tak dapat memejamkan matanya. Ia hanya berusaha mengistirahatkan dirinya sejenak lalu mandi dan kembali ke St Mungo secepatnya. Sepanjang jalan ia memikirkan apakah ia harus memberitahu keadaan Hermione pada Alistair atau tidak. Sudah lebih dari satu hari ibunya tak sadarkan diri dan hal itu bukanlah kabar baik di dunia medis. Ia menyesap gelas kertas berukuran besar yang berisikan kopi panas di dalamnya secara perlahan sambil berjalan menuju ruang perawatan Hermione. Jika sampai besok wanita itu belum juga sadarkan diri, Draco akan memberitahukan kabar ini pada Alistair, itulah keputusannya.

Lorong ruang perawatan ini tampak sepi. Tak ada sinar matahari yang menerobos lewat jendela meski waktu baru menunjukan pukul lima sore karena London sudah berada di awal musim dinginnya. Langkahnya terhenti tepat di depan ruang perawatan Hermione yang terlihat kosong. Tak ada Harry dan istrinya atau Ron dan Luna. Ia masih ingat bahwa mereka akan bergantian menjaga tapi keyataannya tidak. Namun hal yang paling menyita perhatian Draco adalah Hermione juga tak ada di ranjangnya. Ranjang serta ruangan itu tampak rapih seperti sudah tak akan dipakai lagi. Jantung Draco mulai berdegup dengan kencang. "Tak mungkin," ucapnya.

Ia langsung masuk ke toilet dalam ruangan itu dan kosong. Ia memeriksa tabung oksigen yang sudah dimatikan dan ventilator yang sudah tak lagi ada di ruangan itu. Ia juga memeriksa alat-alat kesehatan yang tadi dibutuhkan Hermione yang kini sudah menghilang. Tanpa banyak berpikir lagi ia keluar dari ruangan itu lalu menuju nurse station. "Damn it!" umpatnya saat tempat itu kosong tak berpenghuni.

"Ini masih sore, kemana semua perawat itu," ujarnya.

Tak mau ambil pusing, ia melihat papan tulis sihir yang berisi daftar pasien yang berada di ruang perawatan ini dan ia tak menemukan nama Hemione Granger disana. "Fuck," lagi-lagi ia mengumpat.

"Tak mungkin," ujarnya.

Jantungnya masih berdegup kencang melihat situasinya saat ini. Tak banyak kemungkinan dari hilangnya Hermione dari ruang perawatan intesivenya selain kematian. Memikirkan bahwa Hermione meninggal benar-benar membuat perutnya mual bukan kepalang. Suara dari perawat-perawat yang sedang berjalan ke arahnya mengalihkan perhatian Draco. "Are you sure she's dead?" tanya salah satu dari perawat itu.

"They brought her to morgue a hour ago," jawab perawat lainnya.

Langkah perawat-perawat terhenti saat melihat Draco Malfoy sedang berdiri di depan nurse station mereka. Pria itu mematung seperti tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi. Hermione sudah sudah dibawa ke ruang jenazah satu jam yang lalu. Ia berusaha mencari pembenaran bahwa bukan Hermione Granger yang tengah mereka bicarakan, tapi hanya dia pasien wanita di bangsal itu sejak Draco pulang tadi pagi. "Is she dead?" tanya Draco pada perawat-perawat itu.

Mereka hanya bertukar pandang lalu mengangguk. "She's in morgue now?"

Dan lagi-lagi perawat-perawat itu mengangguk walau depan tatapan bingung. "Apakah Sinistra tahu?" tanya Draco lagi.

"Professor Sinistra yang menyatakan kematiannya," jawab salah satu perawat itu lagi.

"Damn it."

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Draco Malfoy sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.

000

Draco Malfoy berjalan gontai menjauh dari bangsal tempat terakhir ia melihat Hermione tadi. Rasa menyesal teramat besar menyelimuti dirinya saat ini. Ia menyesal pulang hanya untuk sekadar beristirahat. Ia menyesal tidak memberitahukan hal ini pada Alistair sehingga ia tak sempat mengucapkan kalimat terkahir pada ibunya. Tatapannya kosong hingga ia tak memedulikan para resident dan intern yang menyapanya sepanjang lorong.

"Malfoy."

Pria berambut pirang yang hari ini mengenakan kemeja putih dengan celana berwarna cokelat cerah dan jubah hitam itu tetap berjalan tanpa memedulikan siapapun yang memanggilnya.

"Malfoy!"

"Malfoy! Apakah kau tuli?"

Kali ini ia menghentikan langkahnya lalu mencari sumber suara itu. "Sinistra," ujarnya.

Pria paruh baya itu menghampirinya. "Kau sakit?" tanya Sinistra yang dijawab dengan gelengan oleh Draco.

"Kau tampak seperti tercium Dementor. Apakah kau sudah beristirahat setelah merawat Hermione kemarin seharian penuh?" tambah Sinistra lagi.

Tatapan Draco langsung fokus pada mentornya selama ia berada di program magang dan residensi bertahun-tahun lalu. "Apakah ia kesakitan di saat terakhirnya?" Draco berbalik tanya pada Sinistra dan tak menjawab pertanyaan sebelumnya.

Kening Sinistra mengerut mendengarnya. "Apa yang kau katakan?"

"Apakah ia sekarang sudah di ruang jenazah?"

Kerutan di kening Sinistra semakin menjadi-jadi. Ia tak tahu apa dan siapa yang dibicarakan oleh Draco Malfoy. Tidak ada pertanyaan yang dijawab, ia justru berbalik tanya dengan pertanyaan yang membingungkan. "Siapa yang kau bicarakan? Siapa yang kesakitan di saat akhirnya? Siapa yang meninggal?"

"Hermione."

"Hermione?"

"Maksudmu Hermione meninggal?" tambah Arthur Sinistra lagi.

Kali ini Draco yang menunjukkan wajah bingungnya lalu dengan cepat mengangguk. "Perawat-perawat itu mengatakan bahwa ia meninggal dan sekarang tubuhnya sudah berada di ruang jenazah."

"Mereka bahkan mengatakan bahwa kau yang menyatakan kematiannya," tambah Draco.

Professor Sinistra sudah paham dengan apa dan siapa yang tengah dibicarakan Draco saat ini. "She was not Hermione. She was Jane Doe."

"So she is alive?"

"Alive and awake. She is in the end of the aisle. Di ruang perawatan biasa."

"Fuck," umpat Draco.

Seperti tak lagi memedulikan Sinistra lagi, Draco berlari menyusuri lorong bangsal perawatan yang terasa sangat panjang baginya hari ini. Ia terhenti saat melihat Luna dan Ginny keluar dari sebuah ruangan. "Ah there you are," ujar Luna saat melihat Draco berlari mendatangi mereka.

"Kau seperti dikejar grim saja," ujar Ginny.

"Dia sudah sadarkan diri?" tanya Draco.

"Ah iya, dia sudah sadar sejak beberapa jam yang lalu. Kami ingin menghubungimu dan kami sadar tak ada satupun dari kami yang memiliki nomor kontakmu."

Dan tanpa tedeng aling-aling lagi ia masuk ke ruang dimana Hermione berada. Ia terengah-engah. Benar kata Ginny tadi, pria itu tampak bak habis dikejar grim. Ia tertegun menatap Hemione yang sudah setengah bersandar di ranjangnya. Matanya terlihat sayu. Tak ada lagi ventilator. Alat pemantau fungsi otak dan monitor jantungnya terlihat sangat normal. "Draco Malfoy," sapa wanita itu.

Draco masih mematung di tempatnya. "Malfoy sudah datang, kami pamit dahulu. Aku dan Luna akan datang esok hari lagi, okay?" kata-kata itu dijawab dengan anggukan dan senyum lemah dari Hermione.

Ginny dan Luna mengecup puncak kepala Hermione bergantian. "Thank you," balas Hermione pelan.

"Beristiharatlah," balas Ginny.

Setelah saling angguk dengan Malfoy, mereka pergi meninggalkan ruangan itu. Draco perlahan berjalan mendekati ranjang perawatan Hermione dalam diam. Ia melangkahkan kakinya menuju monitor jantung yang masih tersambung dengan tubuh wanita itu. Ia memerhatikan saturasi oksigen serta ritme jantung dari Hermione Granger yang terpampang di monitor itu. Semuanya terlihat normal. Tak selesai disitu saja, ia memeriksa hasil dari pindai aktivitas otak wanita itu dan hasilnya sangat normal. Dan lagi, tak berhenti disitu saja, pria yang masih tak bersuara itu mengeluarkan stetoskop sihirnya dan tanpa meminta izin dari si empunya tubuh ia langsung memeriksa Hermione. Sebuah tangan menghentikan pergerakan stetoskop sihir dari Draco Malfoy. "Aku baik-baik saja," ujar Hermione dengan suaranya yang lemah sambil memegang pergelangan tangan Draco.

Draco masih belum membuka suaranya. Matanya masih menatap Hermione tanpa ekspresi. Begitu datar sampai Hermione bingung apakah ia senang dengan keadaan Hermione saat ini atau justru tidak.

"Aku baik-baik saja," kembali Hermione membuka suaranya.

"Kau dibawa oleh paramedic ke ER dengan suhu tubuh 29 derajat celcius. Kau sedingin cadaver sore itu. Dan kau tak sadarkan diri untuk waktu yang lumayan lama, Hermione," balas Draco.

Hermione tersenyum. "It was just hypothermia. And I am okay now."

"I thought you will die."

"I am not gonna die until I warm and die and you know about it. My body and my organs was shut down and you bring them back. You reboot me. You bring me back, Draco. And thank you for not give up on me," balas Hermione yang menggenggam tangan Draco.

Draco menatap Hermione dalam dan membalas genggamannya. "I will never give up on you."

Hermione tersenyum. "Thank you," balasnya yang masih mengenggam erat jemari Draco sambil tertidur perlahan.

000

"Kau yakin akan pulang hari ini?" suara Harry terdengar dari ujung ponsel sihir Hermione.

Hermione mengangguk sambil membereskan barang-barangnya di ruangan itu. "Sangat yakin."

Ia menyukai berada di St Mungo, tapi sebagai healer bukan sebagai pasien. Dan tadi malam Draco sudah menandatangani perizinan untuk kepulangannya sore ini. Jadi, apalagi yang harus ditunggunya?

"Tunggulah satu jam lagi. Aku akan menjemputmu," balas Harry.

"Ada beberapa pekerjaan yang harus kukerjakan," tambah sahabatnya itu.

Hermione tersenyum walaupun ia tahu bahwa Harry tak akan melihatnya. "Tak perlu, Harry. Aku bisa sendiri. Aku sudah sangat sehat. Bahkan aku bisa mengoperasi pasienku besok hari," candanya.

"Jangan sembarangan," tandas Harry.

"Kau masih belum pulih seratus persen dan kau tak boleh ber-Apparate atau menggunakan jaringan floo lagipula kau tak membawa mobilmu, bagaimana kau akan pulang Mione?" tambah Harry lagi yang lebih terdengar bagaikan Mrs Weasley yang sedang mengocehi anak-anaknya.

Wanita itu terkekeh mendengarnya sambil duduk di tepi ranjang perawatannya dan sudah sangat siap untuk pulang ke rumahnya. "Ada banyak taxi sihir yang bisa mengantarku pulang dengan aman Harry."

"But…,"

Belum selesai Harry menyelesaikan kalimatnya, Hermione memotongnya. "No but, Harry Potter. And end of the discussion. Bye Harry and I love you," kekeh Hermione yang langsung mematikan sambungannya lalu merapihkan kemejanya yang sedikit kusut karena aktvitas membereskan barang-barangnya tadi.

"Are you ready?"

Draco Malfoy sudah berdiri di ambang pintu ruang perawatannya. Tak ada jubah putih healer atau baju scrub biru yang selalu dipakainnya di rumah sakit ini. Sore ini ia mengenakan kemeja biru tua dengan celana cream dan jubah yang senada dengan kemejanya yang menandakan bahwa shift-nya telah berakhir dan ia siap untuk pulang.

"What are you doing here, Malfoy?" tanya Hermione heran.

Malfoy sudah melakukan final check dan juga sudah mengeluarkan surat pernyataan bahwa ia dapat pulang sore ini, lalu untuk apa lagi ia berada disini? "Taking you home," jawabnya cepat.

"Apakah kau gila? Tidak perlu," balas Hermione.

Draco menyandarkan dirinya di pintu ruangan itu yang separuh terbuka sambil bersedekap. "Kau tidak membawa mobil sihir dan kondisimu tak memungkin untuk ber-Apparate atau menggunakan jaringan floo, dan kau tak mungkin mendapatkan taxi sihir karena hujan terlalu deras di luar sana," jelas pria itu panjang lebar persis seperti Harry tadi.

Terlalu lelah untuk berdebat dan ia yakin tak ada guna pula berdebat dengan pria pirang ini, Hermione hanya mengangguk. "Kau butuh kursi roda?" tanya Draco yang langsung mendapatkan pelototan dari Hermione.

"Apakah kau benar-benar sudah gila? Aku baik-baik saja," balas Hermione cepat.

Draco mengedik. "Hanya berusaha sopan kepada pasienku."

"Aku bukan pasienmu lagi."

"Sampai dua kali kontrol ke depan, kau masih pasienku, Granger."

Hermione menghela napas panjang lalu mengambil duffel bag-nya sebelum keluar dari ruang perawatannya. Dengan sigap Draco mengambil alih tas itu. Kening Hermione mengerut kesal dengan tingkah Draco yang membuatnya terlihat sangat lemah. "Bloody hell, Malfoy! Aku bukan jompo dan aku baik-baik saja."

Pria itu hanya mengedik tanpa peduli dengan apa yang dikatakan Hermione dan berjalan dengan tetap membawa tas Hermione sambil mendahuluinya untuk keluar dari ruang perawatan ini menuju parkiran dari rumah sakit ini dimana mobil sihir Draco berada. Beberapa pasang mata baik itu perawat, para resident dan intern bahkan beberapa attending mencuri-curi pandang kepada mereka. Mereka bertukar pandang dari arah Draco dan duffel bag Hermione yang dijinjingnya kepada Hermione yang berjalan di belakangnya sambil sesekali mengangguk dan tersenyum ke arahnya dan Draco. Lagi-lagi Hermione ingin sekali menghela napas terpanjangnya. Apa yang sebenarnya terjadi saat ia terserang hypothermia lalu sampai-sampai mereka memandang berbeda ia dan Draco saat ini? Tak ingin memikirkan hal-hal aneh, Hermione mempercepat langkahnya untuk menghindari tatapan-tatapan tadi.

Mereka berkendara dalam diam sepanjang perjalanan dari St Mungo menuju kediaman Hermione. Hanya ada alunan lembut music dari mobil sihir Draco dan suara hujan deras di luar sana yang sesekali terdengar dari dalam mobil ini dan tentunya suara-suara dari masing-masing pikiran mereka.

"Thank you," ucap Hermione saat mobil itu sudah sampai di depan rumahnya.

Draco melepaskan seat belt yang dikenakannya. "Untuk apa?" balasnya dengan satu alis mengerut.

"Untuk semuanya," balas Hermione yang disambut dengan anggukan oleh pria itu.

Lalu tanpa tedeng aling-aling ia turun dari mobilnya dan dengan sigap membuka pintu belakang mobilnya untuk mengambil payung, duffel bag milik Hermione dan sebuah paper bag cokelat berlambang restaurant kesukaan mereka. Dari wanginya, Hermione sudah tahu bahwa isinya adalah chicken mushroom soup yang menjadi menu khusus saat mereka berkunjung kesana bertahun-tahun lalu. Namun dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya, Hermione sontak membuka seat belt-nya namun kalah cepat dengan Draco yang langsung membukakannya pintu sambil memayunginya hingga teras rumah Hermione.

"Stop it, Draco," ujar Hermione saat mereka sudah berada di teras rumahnya.

Hujan sudah berhenti namun udara di awal Desember kota London amat sangat menggigit bagi siapapun. Masih menjinjing duffel bag Hermione dan paper bag berisi makanan untuk wanita itu Draco merapalkan mantra penghangat dan seketika Hermione dapat merasakannya. Kembali wanita itu menghela napasnya. "Please stop it, Draco."

"Aku baik-baik saja dan aku dapat mengurus diriku sendiri," tambah Hermione lagi.

Draco menatap Hermione. Menatapnya lurus tanpa sedikitpun ekspresi, tapi Hermione dapat membaca kedataran raut muka pria ini. Raut khawatir tengah terpancar disana. "Jika kau dapat mengurus dirimu sendiri kau tak akan jatuh ke sungai sialan itu dan berakhir dengan hypothermia," jawab Draco.

"It was just hypothermia, Draco. I am really fine now."

"It was not just hypothermia, Granger. I saw no rhythm on your heart fucking monitor and my heart just stopped when I realized that," balas Draco.

Kali ini Draco yang menghela napas. "Mungkin kau berpikir reaksiku berlebihan karena kau adalah ibu dari puteraku, tapi bukan itu alasannya. Semua ini karena dirimu. Karena kau adalah Hermione Granger."

Draco memberikan duffel bag dan paper bag berisi makan malam untuk Hermione kepada wanita itu. "Take care and good night, Granger," ucapnya lalu pergi dari hadapan Hermione.

Wanita itu masih mematung di tempatnya tadi. Kalimat demi kalimat dari Draco kembali terngiang di otaknya. Apa yang ia lakukan bukan karena ia adalah ibu dari puteranya, melainkan karena ia adalah Hermione Granger. Bloody hell!

000

Lebih dari satu minggu Hermione mengambil cuti untuk pemulihan di kediamannya. Tak banyak yang ia lakukan dan kebosanan sudah membuat membuatnya hampir mati perlahan. Dan ia tak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya saat akan kembali ke rumah sakit hari ini. Ia sudah sangat rindu untuk kembali ke ruang operasi dan menyembuhkan pasien-pasiennya.

Beberapa hari menjelang Natal salju mulai turun di kota London. Ia sangat senang dengan hal ini. Natal sudah berada di depan mata artinya Alistair akan pulang selama dua minggu untuk berlibur bersamanya. Hermione tak menceritakan insiden kecelakaannya pada putera semata wayangnya itu. Selain akan mengganggu pikirannya, ia juga tak ingin Alistair menjadi stress dan memperburuk kondisi jantungnya. Ia berencana untuk mengatakannya saat liburan ini atau tidak sama sekali. Merasa cukup untuk kontemplasinya di pagi ini, Hermione langsung turun dari mobilnya dan siap untuk kembali bekerja.

"Good morning, Healer Granger," sapa Daniel, resident tahun ketiga favoritnya.

Hermione tersenyum. "Morning Daniel," balasnya

Pria dengan rambut hitam legam dengan kulit kecokelatan khas para keturunan Latin itu menyerahkan segelas kopi yang harumnya semerbak tercium ke seantero rumah sakit. "Thanks," ujar Hermione.

"Kopi itu dari Healer Malfoy," balasnya.

Hermione berhenti menyesap kopi di tangannya itu. "Ia mengatakan bahwa jadwal check-up mu diubah sore ini karena ada operasi mendadak pagi ini dan siang ini ia harus visit pasien terlebih dahulu."

Hermione menggeleng. Berpuluh tahun tak bertemu namun sifat semena-menanya masih mendarah daging. "Bagaimana bila aku tak bisa sore ini?" balas Hermione kesal.

Kali ini Daniel yang menggeleng. "Kau bisa Healer Granger. Pagi ini kau akan visit ke beberapa pasien lalu melanjutkan dengan appendectomy dan laparotomy untuk pasien dengan perforasi usus. Kecuali kau ada operasi darurat, setelahnya kau tak memiliki jadwal lagi," jawab Daniel.

"Kau memberitahukan jadwalku pada Malfoy?" tanya Hermione yang masih kesal dan tidak percaya.

Dengan sangat polos Daniel Torres mengangguk. "Jadwalmu bukanlah sebuah rahasia, bukan?" ia berbalik tanya.

Hermione menghela napasnya. "Siapkan semua data pasien untuk visit pagi ini dan atur semua persiapan operasiku setelahnya," balas Hermione yang berjalan meninggalkan Daniel.

"Copy, Healer Granger," jawab Daniel yang mengekorinya.

Dan seperti yang diucapkan oleh Daniel Torres pagi ini, jadwalnya benar-benar kosong setelah operasi perforasi usus tadi. Hermione baru saja keluar dari ruang ICU untuk memeriksa pasien post-op nya saat mendengar beberapa resident dan intern juga perawat bahkan seorang attending, Abraham Fudge yang dahulu berada di program internship yang sama dengan dia dan Draco menyebut-nyebut namanya.

"Aku sangat terkejut melihat kedekatan mereka," ujar salah satu resident.

"Benar, aku kira mereka tidak akur. Banyak yang mengatakan bahwa mereka rival sejak masih di Hogwarts dulu."

"Bukan hanya itu, aku masih ingat bagaimana Granger dan Malfoy saling bertatap sinis saat pertama kali bertemu, ketika perkenalan Granger sebagai Head Division of General Surgery," tambah yang lainnya.

Mereka hening sejenak, sementara Hermione menunggu mereka menyelesaikan obrolannya, wanita yang menggerai rambut ikalnya hari ini itu melanjutkan menulis laporan hasil post-op pasiennya. Setelah hening sejenak terdengar suara tawa dari Abraham Fudge. "Mereka berkencan selama masa internship kami," ujarnya enteng.

Suara riuh rendah terdengar dari kumpulan intern, resident dan attending itu.

"Tidak mungkin," ujar salah satu dari mereka tak percaya.

Hermione melihat Fudge menyesap kopi sorenya sambil mengangguk-angguk. "Aku tak tahu tepatnya apakah mereka benar berkencan atau hanya teman tidur. Tetapi, aku masih sangat ingat mereka selalu menggunakan on call room untuk melakukan aktivitasnya," kekeh Fudge.

Damn it, Fudge! Umpat Hermione dalam hati dan berusaha untuk tenang dan tetap mendengarkan sampai mana pembicaraan mereka berlangsung.

"So, she was with Malfoy?" tanya seorang intern yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Fudge tadi.

"Or maybe she is," kekeh seorang resident yang disambut dengan kekehan yang lainnya.

Mereka menyesap kopi sore sama seperti yang dilakukan Fudge tadi sambil bersenda gurau dengan topik yang berbeda. Dalam hati Hermione ingin sekali mengutuk mereka satu per satu. Pertama karena bergunjing di belakangnya dan kedua bisa-bisanya mereka mengambil jeda begitu lama dengan menyesap kopi sore mereka. Hermione tak mengingat bahwa ia bisa melakukan banyak aktivitas pribadi seperti ini semasa intership dan resident-nya. Ia akan sibuk untuk menemani para attending untuk visit pasien atau belajar mati-matian untuk ujiannya dan yang paling penting adalah ikut dalam setiap operasi yang ada.

Baru saja ia ingin menyudahi untuk mencuri dengar pembicaraan mereka, tetiba saja mereka menyebut namanya kembali. "Aku rasa mereka kembali bersama."

"Kekasih atau teman tidur?" tanya salah satu dari mereka.

Hermione melihat salah satu dari resident itu mengedik. "Entahlah. Setahuku Malfoy dan Granger single sekarang. Mungkin saja teman tidur."

Hermione tak ingin lagi mendengar obrolan itu dan memutuskan untuk pergi dari sana namun kembali tertahan dengan ucapan salah satu intern yang terlihat sangat polos dibanding dengan yang lainnya. "Aku rasa mereka menjalin hubungan lebih dari teman tidur saat ini. Healer Malfoy terlihat begitu mencintainya."

Semua mata tertuju pada intern berkacamata itu untuk melanjutkan ucapannya. "Aku berada di ER sampai OR saat Healer Granger mengalami hypothermia. Healer Malfoy seperti orang gila namun berusaha untuk tetap tenang saat berusaha menyelamatkannya. Ia meminta semua intern datang untuk membantunya mengompresi jantung Healer Granger bergantian sampai ia bisa melakukan prosedur bypass."

"Ah benar. Aku juga berada di OR saat ia terlihat begitu kalut karena jantung Granger tak kunjung menunjukkan rhythm," ucap seorang resident dari departemen cardio surgery yang dikenal oleh Hermione.

Resident itu mengerucutkan bibirnya sejenak. "Aku ikut dalam banyak operasi bersama Malfoy. Ia sangat tenang bahkan di saat paling kritis sekalipun. Aku tak pernah melihat ia sekalut saat mengoperasi Granger."

"Aku juga melihat ia berada di ICU sampai di ruang perawatan menunggu Healer Granger untuk siuman tanpa bergerak sedikitpun," tambah yang lain.

"Tak hanya itu, aku bahkan melihat Malfoy menjemput Granger di ruangannya di hari kepulangannya setelah kecelakaan itu."

"Aku juga melihatnya," tambah yang lainnya.

"Malfoy juga membawakan duffel bag milik Granger. Empat tahun aku menjadi resident di St Mungo dan selama itu pula aku tak pernah melihat ia begitu perhatian terhadap seseorang seperti yang ia lakukan terhadap Granger," ucap resident tadi.

Intern berkacamata itu menyunggingkan senyum bahagiannya. "Aku ingin sekali menjadi Healer Granger yang begitu dicintai oleh Healer Malfoy."

Mereka langsung tertawa mendengar komentar intern tersebut.

"Tapi bayangkan jika mereka benar bersama dan akhirnya mereka memilki seorang anak. Anak mereka pasti akan sangat rupawan."

Hermione hampir tersedak saat mendengarnya. Pertama, karena komentar bahwa Malfoy mencintainya dan kedua ketika mereka mengatakan bahwa jika ia dan Draco memiliki seorang anak maka ia akan sangat rupawan. Apa yang sebenarnya ada di kepala mereka? Apakah mereka mencoba menjadi sutradara di dalam kehidupan Hermione dan Draco. Atau jangan-jangan intern berkacamata itu adalah seorang cenayang yang bisa melihat isi hati mereka berdua.

"Lalu apa urusannya dengan kalian jika anakku dan Granger benar-benar sangat rupawan?"

Tetiba saja Draco Malfoy datang menghampiri kerumunan itu yang sontak mengejutkan mereka. Abraham Fudge yang merupakan satu-satunya attending disana tampak ingin segera lari dari situasi tersebut, namun ditahannya karena ia tak mau hilang muka di depan para bawahannya. "Jangan diambil hati, mate. Mereka hanya ingin melepas lelah sejenak," ujar Fudge yang terlihat seakan ingin mencari muka itu.

Draco menyeringai kepada Fudge. "Untuk ukuran seorang lelaki ternyata kau terlalu bawel, Fudge. And don't call me like that, I am not your mate," balas Draco.

Beberapa resident menahan tawanya sementara para intern perlahan membubarkan dirinya. Mau tak mau Hermione juga menahan tawanya melihat wajah Fudge yang memerah karena komentar Draco tadi. Draco mengalihkan pandangannya ke arah nurse station dan tatapan mereka beradu. Pria itu hanya menjentikkan salah satu alisnya. Daniel Torres yang mengikuti Draco di belakangnya tadi ikut menoleh ke arah Hermione. "There you are Healer Granger," ucap Daniel yang sedikit mengeraskan suaranya.

Dan kembali sontak Fudge dan resident-resident itu menatap Granger kemudian terkejut. Mereka malu bukan kepalang karena ketahuan bergunjing oleh dua subjek gunjingannya sekaligus. Hermione berjalan kesana dengan tersenyum. "Lain kali jika ada yang ingin kalian ketahui mengenai kehidupan pribadiku, jangan sungkan bertanya langsung padaku. Terutama kau Fudge, kita berada di satu program internship, bukan?" ujar Hermione yang membuat Fudge semakin kehilangan mukanya karena ternyata Hermione mendengar semua yang ia ucapkan.

Hermione mengalihkan perhatiannya kepada Draco. "Kau sudah selesai dengan semua operasimu? Kau bisa memeriksaku sekarang?" tanya Hermione yang dijawab dengan anggukan oleh Draco.

"Ayo Torres," ujar Malfoy pergi meninggalkan Fudge dan resident-resident-nya dengan Hermione yang berada di belakangnya bersama Daniel Torres.

"Aye, Healer Malfoy."

000

Matahari sudah hilang di peraduan. Salju kembali turun perlahan dari langit yang sudah terlihat gelap gulita meski sore baru saja berlalu. Daniel Torres yang akan berada di bawah service Draco sampai seminggu kedepan sudah meninggalkannya dengan Hermione untuk melakukan pre-op untuk operasi Fallot Syndrome pada anak lelaki yang baru berusia 6 bulan. Sementara itu Hermione sudah duduk di ranjang pemeriksaan di examination room merangkap ruang kerja Draco di rumah sakit ini untuk melepas perban operasi di dadanya. Sebelum melepasnya, Draco sudah memeriksa semua kinerja organ vital wanita itu yang terdampak hypothermia yang dialaminya. Senyum Hermione mengembang saat Draco menyatakan bahwa ia sudah benar-benar sehat.

"Kau mendengar semua ucapan mereka tadi?" tanya Hermione saat Draco mengoleskan betadine ke sisi luka operasinya setelah melepaskan perbannya tadi.

Draco menggeleng. "Aku hanya mendengar saat mereka menyebut-nyebut bagaimana wajah anak kita kelak jika kita bersama."

Hermione terkekeh pelan dan juga senang karena ia tak mendengar komentar mereka mengenai betapa Draco tampak begitu mencintainya. "Ingin sekali aku melemparkan foto Alistair ke muka mereka agar mereka lebih tercengang karena wajah anak kita benar-benar rupawan," tambahnya lagi.

Dan kini kekehan Hermione semakin terdengar renyah. Ia tak tahu apa nama perasaan yang ia alami sekarang. Tetapi, wanita ini merasa dadanya menghangat saat Draco terdengar bangga dengan kehadiran Alistair di hidupnya.

"Kau pulang malam?" tanya Hermione lagi sambil mengancing kemejanya setelah prosedur pelepasan perban tadi.

"Aku pulang pagi," balas Draco sambil melepaskan handscoon-nya.

Hermione mengangguk. "Tumben sekali kau bertanya. Kau mau mentraktirku makan malam?" tanya Draco.

Kali ini Hermione menggeleng. "Aku hanya berbasa-basi," ujar Hermione yang dibalas dengan dengusan dari Draco.

"Prosedur apa yang akan kau lakukan untuk pasienmu malam ini?" tanya Hermione lagi.

Alis Draco tertaut saat mendengarnya. "Apakah ini basa-basi juga?" Draco berbalik tanya.

"Tidak. Aku hanya penasaran."

"Tetralogy of Fallot," jawab Draco cepat.

"Fallot Syndrome?" tanya Hermione untuk meyakinkan apa yang didengangarny dan dijawab dengan anggukan oleh Draco.

"Kau akan melakukan total repair?"

Dan lagi-lagi Draco mengangguk. "Oleh karena itu aku mengambil jadwal tengah malam."

"Goodluck."

"Thank you."

Hening sejenak sebelum Draco kembali membuka mulutnya. "Jadi, kapan kau akan memperkenalkan aku pada Alistair secara resmi?"

"Apakah ini basa-basi?" tanya Hermione yang masih duduk di tepi ranjang pemeriksaan itu sambil berusaha mengikat rambutnya.

Draco kali ini menggeleng. "Aku serius."

"Kau sudah mengenalnya dan begitupula sebaliknya, Malfoy."

"Jangan berpura-pura bodoh, Granger," balas Draco.

Hermione menghentikan aktivitas mengikat rambutnya lalu menatap Draco kemudian menunduk. Wanita itu adalah seorang perencana yang ulung dalam hidupnya. Tetapi, ia tak pernah merencanakan hal ini akan terjadi dalam waktu dekat, jadi ia benar-benar tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Sesungguhnya ia masih ragu untuk mengenalkan Draco pada Alistair dengan titel lain, bukan lagi sebagai healer-nya melainkan ayah biologisnya. Tetapi, hal seperti ini tak dapat lagi dihindari. Draco sudah kepalang tahu dan Alistair juga sudah cukup umur untuk menghadapi hal seperti. Dan ia sudah memutuskan untuk kembali seutuhnya ke London. Lalu apalagi yang harus ditunggunya?

Sambil menghela napas panjang wanita itu menatap Draco Malfoy yang duduk di seberangnya. "How about Christmas's dinner?"

"Sound's great," balas Draco.

000

to be continued

A/N : How are you guys? I hope you are doing good. Still in quarantines, huh? Semangat!

So, how's this chap? For some of you who asked me, am I a doctor? or where the hell I got the information for this fiction? First of all, I am not a doctor, I am just a full time momma and a part time designer interior. So where I got the information about the medical content, from my brother who a medical doctor, watch the video and online medical journal. Before I post it, I consult first with my brother. But feel free to correct if there's some mistakes.

And the last, please leave your thought on that review:)

Thank you and love you!