A/N : I have nothing. JK Rowling has. Unless the plot and some unknown characters

Chapter 7

Hogwarts

"Kau bisa mati kedinginan," suara anak perempuan yang sudah dihapal Alistair di luar kepala itu menginterupsi sore harinya.

Alistair mengedikkan bahu tanpa memedulikan Letitia yang telah mengambil posisi di sampingnya. Mereka menatap sisa-sisa hujan seharian suntuk dari beranda lorong Hogwarts. Sesekali Letitia mengeratkan jubahnya untuk mengusir kedinginan yang dapat ditangkap oleh ujung mata Alistair. "Kau masuk saja, kau yang akan mati kedinginan," ujar Alistair kini.

"Aku baik-baik saja," balas Letitia yang tak ingin mengakui bahwa ia kedinginan saat ini.

Cuaca Desember di Wales sudah pasti dapat menggigit siapa saja hingga ke tulang belulang, apalagi untuk bocah-bocah sebelas tahun seperti mereka. "Ayo masuk," ajak Alistair agar temannya itu tidak mati kedinginan.

Memasuki sore yang gelap, satu per satu obor di lorong sekolah ini sudah menunjukkan apinya. Alistair dan Letitia berjalan dalam diam menuju asrama mereka. Beberapa kali Letitia mempercepat langkahnya untuk menyeimbangi Alistair dan beberapa kali pula ia gagal. Alistair menghentikan langkahnya sambil menunggu Letitia berada di sampingnya. "Kau bisa tesandung jika terus mengikuti kecepatanku."

Bocah perempuan berambut cokelat tua itu mendengus saat mendengar perkataan Alistair. "Apa yang kau kejar? Mengapa kita jalan begitu cepat hanya untuk ke asrama?"

Alistair mengedik. "Ini kecepatan normalku," balas Alistair yang menghentikan langkahnya sembari menunggu Letitia datang menyambanginya dengan wajah kesal.

Setelahnya, Alistair mencoba memperlambat langkah agar Letitia dapat mengejarnya. Gadis kecil itu mendengus. Baru saja Letitia akan membuka mulutnya Albus datang kepada mereka. "Apa yang kalian lakukan? Di luar sangat dingin sekarang," ujarnya.

"Kami baru saja akan masuk, Albus," balas Letitia.

Sambil mengangguk mereka melanjutkan perjalanan menuju asrama sembari menunggu jam makan malam tiba. Mereka berjalan dalam diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Albus kembali membuka suara. "Apa yang dipikirkan sekolah kita hingga mengadakan Parents Day?"

"Kata James dan semua sepupuku, acara ini baru pertama kali diadakan di Hogwarts," tambah Albus lagi.

Pernyataan ini disambut dengan anggukan dari Letitia. "Ibuku juga terkejut katanya saat mendapat surat undangan dari sekolah. Ia mengatakan bahwa hal ini tak pernah dilakukan di zamannya atau di zaman kakek dan nenekku. Lalu kenapa harus dilakukan sekarang? Kita terlihat seperti anak kecil," balas Letitia.

Albus dan Alistair tertawa mendengar nada kesal dari teman mereka itu. Misuh-misuh karena tak setuju dengan suatu hal adalah kebiasaan dari gadis kecil yang disebut-sebut sebagai Princess of Slytherin ini. Bagaimana tidak disebut sebagai seorang puteri jika ia terlahir dengan kekayaan dan darah Zabini serta Greengrass di hidupnya? Ditambah dengan kecantikan yang sudah tampak di usia dininya membuat semua orang menjadi segan dengan dirinya.

"Kita memang masih kecil, Letitia. Kita masih sebelas tahun," balas Alistair.

"Sebelas tahun itu sudah dewasa. Kita sudah bisa menentukan pilihan dalam hidup kita," balas Letitia kesal.

Alis Albus mengerut sambil mendengus. "Pilihan hidup apa, Zabini? Warna jubah sutera apa yang akan kau kenakan saat pulang nanti? Atau apakah mashed potato atau potato gratin yang akan menjadi makan malammu nanti?" balas Albus yang disambut dengan kekehan dari Alistair.

"Intinya aku tidak suka jika ibu dan ayah datang. Aku tak suka menjadi sorotan," jawab Letitia.

Alistair dan Albus sudah sangat tahu bahwa Letitia sangat tidak suka mengumbar nama keluarganya. Bahkan ia hanya menyebutkan Letitia Soleil saat berkenalan pertama kali dengan Alistair dan Albus di Hogwarts Express saat pertama kali mereka datang ke Hogwarts. Walaupun pada akhirnya, mereka mengetahuinya saat pemilihan asrama.

"Aku sebenarnya tak mempermasalahkannya, tapi aku hanya yakin bahwa ayahku tak akan bisa menghadirinya. Ia pasti sibuk. Lalu untuk apa ada Parents Day?" tambah Albus.

Alistair hanya tersenyum. "Kau juga tidak menyukai Parents Day ini bukan?" tanya Albus padanya.

Alistair mengangguk. "Aku tak pernah menyukai Parents Day, karena aku tidak memiliki ayah."

Sontak kedua temannya itu terdiam mendengar ucapan Alistair yang terdengar sangat santai. Menyadari perubahan raut wajah pada Albus dan Letitia membuat Alistair tersenyum. "Tak perlu merasa bersalah. Aku sudah terbiasa," tambah Alistair lagi.

"I am sorry, Alistair," ujar Albus.

"Sudah kukatakan tak apa. Aku sudah hidup sebelas tahun tanpa ayah dan sudah tiga kali Parents Day selama aku di New York. Aku sudah sangat terbiasa," jawab Alistair lagi.

"Jadi kau benar-benar tak tahu siapa ayahmu selama ini?"

"Letitia!" Albus memelototi gadis itu.

Letitia menutup mulutnya dengan wajah panik. "Sorry, Alistair. I am sorry. I am sorry. Stupid mouth."

Alistair tersenyum. "Jangan merasa bersalah karena aku dilahirkan tanpa tahu siapa sosok ayahku. Aku rasa ibuku saja sudah cukup," jawabnya enteng.

Albus merangkul Alistair. "Punya dua orang tua terkadang juga menjengkelkan. Kau beruntung, mate," ujar Albus terkekeh bercanda.

Mereka tertawa bersama mendengar candaan Albus. Angin sore seketika bertiup sangat dingin yang membuat Letitia dan Alistair sontak mengeratkan jubahnya. "Ayo masuk. Dinginnya sudah masuk hingga tulangku," ucap Letitia yang berjalan meninggalkan kedua temannya itu.

000

King's Cross

Suara riuh rendah para siswa yang saling berpamitan dengan teman-temannya untuk liburan Natal di stasiun ini terdengar begitu menggembirakan. Para siswa saling menyapa orang tua sahabatnya sambil mengucapkan Natal dengan penuh suka cita. Terlihat keluarga Weasley yang berjalan ke arah Rose dengan senyum sumeringahnya. Begitupula dengan Letitia yang sudah ditunggu oleh Blaise Zabini dan Astoria Greengrass di sudut peron ini. Tak lama kemudian Harry Potter dan Ginny Weasley perlahan terlihat dari arah ke rumunan. Sontak saja Albus melambaikan tangannya untuk menarik perhatian ke dua orang tuanya itu. "Aunty Hermione belum datang juga?" tanya Albus.

Alistair mengedikkan bahunya. "Mungkin masih di jalan," balas Alistair.

Alistair melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sudah menyurati ibunya beberapa hari yang lalu mengenai jadwal kepulangannya. Ia juga yakin bahwa ibunya memegang semua jadwal yang secara resmi diberikan oleh Hogwarts kepada para wali murid. Mungkin saja ibunya masih di rumah sakit karena ada jadwal operasi mendadak pikirnya. Hal ini bukanlah pertama kalinya dialami oleh Alistair dan ia sudah sangat terbiasa. "Hermione belum datang?" tanya Harry saat menyambanginya.

"Belum," balas Alistair cepat.

Harry mengangguk-angguk. "Aku akan coba menghubunginya," ujarnya dan langsung mengeluarkan ponsel sihirnya.

Setelah menunggu beberapa saat, Harry menggeleng. "Tak diangkat," ucapnya cepat.

Kali ini Alistair yang mengangguk-angguk. "Mungkin ibuku masih di ruang operasi. Aku akan menunggunya."

"Dad, apakah aku boleh menemani Alistair disini sampai Aunty Hermione datang? Aku bisa pulang ke Grimmauld Place dengan taxi sihir," ujar Albus yang tetiba saja mengambil posisi di samping Alistair.

Sontak Alistair menggeleng untuk membantah keinginan sahabatnya. "Kau tak perlu melakukan itu, Albus. Aku bisa menunggu ibuku sendiri disini."

"Atau kau ikut kami pulang saja," ujar James.

"Benar. Ikut kami pulang, aku akan menelpon Hermione untuk menjemputmu di Gimmauld Place," Ginny ikut menambahkan.

Alistair membalasnya dengan senyuman lalu kembali menggeleng. "Tidak perlu Aunty Ginny. Aku akan menunggu ibuku disini saja. Mungkin saja ia sedang dalam perjalanan dan tak sempat menjawab panggilan Uncle Harry tadi."

Harry dan Ginny saling bertukar pandangan. "Kau yakin?" tanya Harry.

"Aku sudah sangat mandiri sejak berusia 5 tahun, Uncle Harry. Kau tak perlu mengkhawatirkanku."

Setelah perbincangan mengenai nasib Alistair tadi, Harry menuruti keinginan Alistair dengan meninggalkannya disini untuk menunggu Hermione. Harry sudah meninggalkan sebuah pesan singkat kepada Hermione dan meminta salah satu penjaga di peron itu untuk mengawasi Alistair yang tengah duduk di salah satu bangku tunggunya sampai ibunya menjemput.

"Kau menunggu ibumu?"

Sebuah suara menginterupsi Alistair dan bukunya. Bocah sebelas tahun itu menengadah dan menadapati sosok yang tak lagi asing baginya berdiri menjulang tinggi di sisi bangkunya itu. "Hello, Healer Malfoy."

Malfoy langsung mengedarkan pandangannya pada seluruh antero stasiun ini. Ia tak lagi melihat siswa Hogwarts selain Alistair dan Hogwarts Express sudah tak lagi terlihat di peron 9 ¾ . Ia sudah sangat lama menunggu Hermione disini artinya. Tanpa tedeng aling-aling lagi, ia menghubungi ponsel sihir Hermione, namun sama seperti Harry tak ada jawaban darinya. Tidak habis akal, Draco langsung menghubungi St Mungo untuk menanyakan keberadaan Healer Granger dan langsung menyambungkan panggilan ini padanya. Setelah menunggu beberapa saat terdengar suara ventilator dan monitor jantung dari seberang sana. "Speak, Malfoy," ujar Hermione tanpa berbasa-basi lagi.

"What the fuck you are doing, Granger. Sudah lebih dari dua jam Alistair menunggumu di Kings Cross."

Tanpa tedeng aling-aling lagi, Draco memuntahkan kekesalannya pada Hermione dalam satu kali tarikan napas. Hening sejenak sebelum Hermione membuka suaranya. "Damn it!"

"Kau lupa jadwal kepulangannya?" tanya Draco tak percaya.

"Aku ingat ia pulang pagi ini, tapi ada emergency surgery dan aku lupa waktu karena tetiba saja terjadi komplikasi," balas Hermione dengan nada menyesal.

"Untung saja Alistair tak mati beku."

"Watch your mouth," sentak Hermione dari ujung sambungan.

Terdengar suara tarikan napas Draco yang diyakini Hermione bahwa ia akan membalas perkataannya. "We are on loudspeaker, Healer Malfoy," tambah Hermione lagi sebelum percakapan pribadi mereka menjadi konsumsi publik.

Draco terdiam mendengar kalimat dari Hermione tadi dan kembali menghela napas. "I will bring him with me."

Hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Draco sebelum ia mematikan sambungannya dengan Hermione tadi. Sebagai sesama healer ia sangat memahami posisi Hermione yang tetiba saja mendapatkan emergency surgery, namun sebagai orang tua baru ia tak habis pikir Hermione bisa tak sengaja lupa dengan jadwal menjemput puteranya.

"Kau sudah menghubunngi ibuku, Healer Malfoy?"

Suara Alistair berhasil membuyarkan pikirannya. Draco berbalik untuk menatapnya. "Ibumu sedang melakukan emergency surgery."

Alistair kembali meangguk-angguk. "Aku sudah menduganya."

"Hal ini sering terjadi?" tanya Draco.

Alistair menggeleng. "Tidak sering. Hanya beberapa kali. Jika kau penasaran, Mum sangat bertanggung jawab dalam mengasuhku," jelas Alistair.

"Apakah aku terlihat mempertanyakan pola asuh ibumu?"

"Kau tak perlu bertanya, Healer Malfoy. Pertanyaan itu terlihat jelas di wajahmu," balas Alistair.

Draco tersenyum. "For 11 years old kid, you are so good with the words, Alistair."

Bocah laki-laki itu membalas senyuman Draco. "I am Hermione Granger's son. Smart is in our DNA."

Sontak Draco terkekeh mendengarnya. "Ayo kita ke rumah sakit. Operasi ibumu akan segera selesai. Kau bisa menunggu disana."

Alis Alistair mengerut. "Kau akan mengantarku?"

"Aku juga akan ke rumah sakit. Ada jadwal operasi sore ini. Kau belum makan siang, bukan?"

Alistair mengegeleng. "Aku akan traktir kau makan siang di cafeteria St Mungo."

"Cafeteria?" tanya Alistair yang dijawab dengan anggukan oleh Draco.

"Aku ingin mengajakmu ke restaurant tapi ada jadwal mengunjungi pasien siang ini sebelum operasi dan aku yakin ibumu tak akan mengizinkanku untuk hal itu."

Alistair terkekeh. "Ibuku sangat overprotektif."

"Yes, aku tahu itu."

000

Alistair menghentikan suapan kentang goreng ke mulutnya. Ia memerhatikan sekitar lalu kembali menatap Draco yang juga tengah menikmati santap siang dia cafeteria St Mungo. Draco menenggak air mineral botolan di hadapannya lalu membersihkan mulutnya dengan tissue sebelum membuka suara. "Ada apa?" tanya Draco yang menyadari perubahan raut wajah Alistair.

Alistair menyesap jus labunya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Draco. "Kenapa semua orang memandang kita?"

"Karena aku makan siang bersamamu."

"Bersamaku? Apakah itu salah?"

"Mereka tahu aku tak terlalu menyukai anak-anak."

Bukan raut yang terkejut atau merasa terhina dan tersakiti yang tampak dari wajah Alistair, bocah laki-laki itu hanya tampak mengangguk-angguk lalu kembali menyesap jus labunya. "Lalu kenapa kau mau makan siang bersamaku?" tanya Alistair penasaran.

"Karena kau Alistair," balas Draco cepat.

"Karena aku Alistair atau karena aku Alistair anak dari Hermione Granger?"

Senyum tersungging di sisi bibir Draco mendengar jawaban dari Alistair. He is so smart.

"Karena kau Alistair dan juga karena kau Alistair, anak dari Hermione Granger. Apakah sudah menjawab rasa penasaranmu?" balas Draco yang berbalik tanya padanya.

Bocah laki-laki itu mengangguk sambil tetap menyesap jus labunya. "Kau sangat menyukai jus labu?"

Kembali Alistair mengangguk. "Minuman ini tak ada di New York," jawab Alistair cepat.

"Tak perlu terburu-buru untuk meminumnya. Kau akan sangat lama berada di London."

Alistair mengedik. "Entahlah. Mungkin saja hal itu benar, karena Mum tetiba saja membatalkan sewa apartemen kami dan memilih menetap di sebuah rumah saat ini."

"Kalian pernah tinggal di apartemen? Di London?"

Pertanyaan Draco dijawab dengan anggukan oleh Alistair. "Kami tinggal sekitar satu bulan di apartemen Karena Mum mengatakan bahwa kami belum tentu akan menetap selamanya di London dan menyewa apartemen adalah pilihan yang tepat, tapi aku tak tahu apa yang terjadi tetiba saja kami pindah ke sebuah rumah."

Alistair lagi-lagi menyesap jus labunya hingga kandas. "Aku kembali bertanya, apakah Mum berubah pikiran dan akan menetap selamanya di London dan ia hanya tersenyum," jelas Alistair tanpa diminta oleh Draco.

Mendengar penjelasan panjang lebar oleh puteranya tadi Draco ikut tersenyum. Setidaknya ia tahu bahwa Hermione mempertimbangkan untuk menetap di London selamanya. Alis Alistair sontak menaut ketika melihat senyum terpancar di wajah Draco. "Kau senang kami akan di London untuk waktu yang lama?"

"Sangat senang," balas Draco dengan sisa-sisa senyum di wajahnya.

"You are in love with my mum, aren't you?"

Draco seakan tersedak mendengar pernyataan Alistair. He is so smart. Puluhan kali Draco mengatakan hal itu dalam kepalanya. Hanya dengan berbincang dan saling bertukar gesture, Alistair sudah dapat menafsirkan sesuatu. "Kau terdiam. Artinya aku benar," kekeh Alistair.

Belum sempat Draco menjawabnya suara derap kaki terdengar sangat jelas menghampiri mereka. Alistair melambaikan tangannya pada sosok itu dan tak lama berselang Hermione Granger menghampiri meja mereka. "I am so sorry, Alistair. It was an emergency surgery," ujar Hermione setelah memeluk hangat puteranya.

"Mum, it is fine. That's what a healer surgeon do," balas Alistair.

Hermione kembali memeluk puteranya lalu tatapannya beralih pada Draco yang bersedekap dalam duduknya. "Thank you, Malfoy."

Draco hanya mengangguk pada wanita yang masih menggunakan baju serba biru tua khas para attending yang baru saja menyelesaikan operasi. Rambutnya masih terkepang ala French braid dengan sangat rapih dan wajahnya terlihat sangat cantik walau raut lelah terpancar jelas disana.

"Kau masih ada jadwal lagi?" tanya Draco pada wanita itu.

"Tidak."

"Pulanglah."

Draco bangkit dari duduknya. "Kau akan visit, Healer Malfoy?" tanya Alistair

Pertanyaann itu disambut dengan anggukan. "Lalu kau akan melakukan prosedur operasi sore ini?" tanya Alistair lagi.

"Benar."

Hermione menggeleng heran dan tak percaya. "Wow. Kalian baru makan siang bersama satu kali dan kau sudah menghapal jadwal Healer Malfoy hari ini, kiddo?"

Alistair dan Draco bertukar pandang lalu mengedik. "My job is done. Bye," ujar Draco pada Hermione.

"Bye," balas Hermione.

"Bye, Healer Malfoy. Your secret is safe with me. Goodluck," ujar Alistair.

Draco hanya tersenyum dan berlalu pergi dari hadapan mereka. "What's secret?"

"It is secret, Mum."

"Oh come on."

Alistair terkekeh kepada Mumnya.

000

Christmas Eve

Tak ada salju yang turun di malam Natal kali ini. Meskipun temperature suhu musim dingin rata-rata di London dan New York hampir sama, yaitu berkisar 9 sampai 7 derajat celcius, namun bagi Hermione musim dingin di kota ini terkesan lebih menggigit. Berbicara tentang malam Natal, ada hal yang berbeda dengan malam Natal kali ini. Untuk pertama kalinya setelah berpuluh tahun, ia akan merayakannya di London. Dan untuk pertama kalinya pula ia rayakan bersama Alistair dan Draco. Tetapi, bukan hal itu yang menyesakkan dadanya seharian ini, melainkan agenda dari makan malam Natalnya kali ini. Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Alistair nanti saat ia dan Draco akan menceritakan kebenaran yang ia sembunyikan selama ini. Apakah ia akan menerima? Atau apakah ia akan sedih karena merasa telah dibohongi? Atau apakah Alistair akan marah besar karena merasa dikhianati oleh kebenaran? Hermione menggeleng cepat lalu membuka sedikit jendela di dapurnya untuk mendapatkan udara segar lalu menyesap sedikit wine dari gelasnya dan kembali menyelesaikan masakannya untuk hidangan makan malam nanti.

Sekitar pukul 8 malam Draco mengetuk kediaman Hermione dan Alistair dengan sebotol wine di tangan kanannya dan sebuah paper bag bewarna hijau di tangan kirinya. Wine untuk Hermione dan paper bag bewarna hijau itu sudah dipastikan sebagai kado Natal untuk Alistair. "You are late," ujar Hermione.

"Well, hello, Granger," balas Draco sarkastik.

"You are still late."

"I told you, I had a long surgery today."

"Okay, apologize is accepted."

"Granger, are you high? I am not asking apologize from you."

Hermione mengeluarkan ponsel sihirnya dan menunjunkan pesan dari Draco beberapa jam yang lalu.

I can't make it on 7, I still on surgery. I'll be there on 8

Salah satu alis Draco terangkat. "Its only a text."

"But It's still."

Kali ini kening Draco mengerut melihat raut serta gesture yang tak nyaman dari Hermione. Tangan wanita yang mengenakan dress rose pink selutut dengan lengan panjang itu tampak disembunyikan di belakang badannya. Draco mengenal sekali gesture ini. "Are you nervous?" tanya Draco.

Hermione tak menjawabnya. Tak menunggu lama, Draco mengambil tangan wanita itu yang sedari tadi tersembunyi di belakang tubuhnya lalu mengenggamnya lembut. "Don't be nervous. I will talk to him and let's face him together."

Layaknya terhipnotis, Hermione membiarkan Draco menggenggam tangannya, namun sesaat kemudian seperti tersentak olehnya kenyataan, ia melepaskan genggaman itu. "Ayo masuk. Kita bisa mati kedinginan disini," ujar Hermione lalu meninggalkan Draco di ambang pintu masuk kediamannya.

Alunan musik lembut yang memutar lagu-lagu Natal terdengar dari ruang tengah yang tersambung dengan ruang makan dan dapur rumah ini. Alistair tak terlihat batang hidungnya. Hermione mengatakan bahwa puteranya masihh di atas untuk membaca sambil menunggu makan malam siap. Draco bersandar nyaman di sisi kitchen island dapur rumah ini dengan gelas wine di tangannya. Ia memandang takjub toples-toples cookies yang tertata cantik di sebuah rak di dapur ini. "Kau memanggang cookies itu seorang diri?" tanya Draco setelah menyesap wine-nya.

"Jika aku bisa memanggang cookies itu, aku pasti akan menjemput Alistair tepat waktu di Kings Cross," balas Hermione sambil mengeluarkan kalkun panggang dari oven dan membawanya dengan anggun ke meja makan.

"Jadi kau membelinya?"

"Tentu saja aku membelinya, silly."

Setelah menata meja makannya sesempurna mungkin, Hermione bersedekap di sudut ruangan ini lalu mengangguk penuh arti dan hanya dirinya yang mengerti apa maknanya. "Dinner is ready, kiddo," ujar Hermione setengah berteriak.

Draco menggeleng terkejut lalu terkekeh. "Wow walau aku sering melihatmu dengan Alistair, tapi baru kali ini kau terlihat seperti ibu-ibu pada umumnya."

Wanita itu hanya mendengus tanpa memedulikan Draco. Tak perlu menunggu lama, Alistair turun dari kamarnya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Draco di ruang makan kediamannya. Hermione tampak berdiri di Draco sambil tersenyum kepada putera semata wayangnya. Sedikit canggung, Alistair berjalan ke arah mereka. "Hello, Healer Malfoy. It's a quite surprise to see you in my house on chrismast eve," ujar Alistair yang sudah duduk di kursinya.

"Don't worry, Alistair. Its surprise me too," balas Draco yang mendapat sikutan dari wanita di sampingnya.

Suasana perlahan mencair. Hermione lumayan tekejut melihat Draco sangat berusaha untuk selalu mendapatkan topik pembicaraan dengannya dan Alistair tanpa terkesan canggung sama sekali. Hermione sudah mengatakan pada Alistair mengenai makan malam bersama dengan Draco. Awalnya ia tampak terkejut namun tampaknya ia langsung menerimanya tanpa bertanya apapun.

"Kau mau tambah kalkun panggangnya lagi, kiddo?" tanya Hermione yang dijawab dengan anggukan mantap oleh puteranya.

Kini wanita itu beralih pandang kepada Draco. "Kau mau tambah juga?" tanya Hermione, namun kali ini dijawab dengan sebuah gelengan.

"Ah aku lupa, kau tak pernah makan malam lebih dari sepotong dada ayam," balas Hermione.

"Kau tak suka masakan ibuku, Healer Malfoy?" tanya Alistair.

Dengan cepat Draco menggeleng. "Seperti kata ibumu tadi, aku tak terbiasa makan malam terlalu banyak, Alistair. Tunggu sebentar, apakah tadi kau bilang kalkun panggang ini adalah masakan ibumu?"

Alistair mengangguk dan Hermione sudah menaikkan satu alisnya menunggu sampai mana Draco akan menghina masakannya. Tanpa tedeng aling-aling pria yang mengenakan kemeja soft blue itu memandang Hermione dengan penuh takjub. "Sejak kapan kau jago dalam hal memasak?" tanyanya tak percaya.

"Apakah kau dulu tak bisa memasak, Mum?"

Draco terkekeh. "Jangankan memasak, ibumu bahkan tak bisa menghangatkan roti lapis di ruang intern dulu. Roti lapis itu terbakar hingga menjadi bara."

Bocah laki-laki itu ikut terkekeh mendengar cerita Draco. "Benarkah, Mum?"

"Itu masa lalu," balas Hermione kesal.

Hidangan berganti ke molten chocolate cake with ice cream sebagai penutup. Mata Alistair tampak berbinar melihat dessert yang diletakan ibunya di hadapannya itu. Alistair The Sweetooth. Mereka bertiga tampak bercengkrama dan sangat akrab malam ini. Ada perasaan yang begitu berbeda yang dirasakan Alistair saat ini. Sesaat ia terdiam memandangi Draco dan Hermione yang berkali-kali berargumen lalu kembali tertawa bersama di meja makan ini. Jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap hari ini tak pernah berakhir. Karena baru kali ini ia merasa berada di sebuah keluarga yang utuh.

"Apa yang kau pikirkan, kiddo?" tanya Hermione yang membuyarkan lamunan Alistair.

"Jika ada orang asing masuk, ia pasti berpikir bahwa kita adalah sebuah keluarga bahagia," jawab Alistair santai lalu kembali menghabiskan semua sisa cokelat di piringnya.

Hermione dan Draco terdiam. Pria itu tampak menenggak habis airnya dan Hermione perlahan bangkit dari kursinya untuk membersihkan meja makan ini. "Its time for hot chocolate," ucap Hermione.

000

"Hogwarts: A History?" tanya Alistair mengerutkan kedua alisnya saat membuka kado Natal dari Draco di ruang tengah kediamannya.

"Alistair," tegur ibunya.

"Sorry. Thank you, Healer Malfoy," terburu-buru bocah laki-laki itu meminta maaf pada Draco karena terkesan meremehkan kado pemberiannya.

Pria itu menggeleng. "It's fine. Open it, kiddo," balas Draco yang mencontek gaya berbicara Hermione pada anaknya itu.

Mata Alistair langsung berbinar begitu membukanya. "It's first edition?" tanya Alistair tak percaya.

"Mum, it's first edition!"

Alistair terdengar memekik dan Hermione terlihat ikut bahagia karenanya. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Draco lalu berbisik 'thank you' pada pria yang duduk di salah satu sofa di ruangan ini.

"Oh my god, thank you so much, Healer Malfoy."

"Enjoy it, Alistair."

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan hot chocolate dengan marshmellow kesukaan Alistair juga sudah kandas beberapa saat lalu. Bocah laki-laki bermata kelabu itu menatap ibu dan Healer Malfoy-nya itu secara beragantian. Mereka tampak canggung dan tak nyaman. Alistair menyadari mereka saling bertukar pandang sedari tadi, seperti ada yang ingin disampaikan pada dirinya, namun tak tahu bagaimana caranya. "Pengumuman apa sebenernya yang akan kalian sampaikan padaku sebenarnya?"

Sontak ibu dan Healer Malfoy-nya itu terkejut mendengar apa yang diungkapkannya. "Kiddo," ujar Hermione.

"Bicaralah Mum, aku akan mendengarkan kalian," jawab Alistair yang seketika tampak jauh lebih dewasa dari usianya.

Hermione terlihat membenarkan posisi duduknya yang tetiba saja terasa sangat tidak nyaman. Menyadari hal ini, Draco langsung mengambil alih percakapan ini. "Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku berada di makan malam Natal ini bersama kalian, bukan?"

Alistair mengangguk. "Mungkin kau juga bertanya-tanya mengapa aku sangat peduli padamu melebihi kepedulian dari seorang healer kepada pasiennya."

Dan kembali Alistair mengangguk. "Aku dan ibumu pernah bersama sebelas tahun lalu."

Tak ada anggukan dari Alistair dan hal ini membuat Draco was-was. Ia memutuskan untuk menyesap sisa wine di gelasnya untuk mengeluarkan semua kata yang sudah dilatihnya di kepala sebelum datang kesini. "Jadi, kau sudah jatuh cinta pada ibuku sejak sebelas tahun yang lalu?" tanya Alistair dan Draco hanya tersenyum dalam menanggapinya.

Kali ini Hermione yang menyesap winenya hingga kandas. "Lalu apa yang akan kalian beritahukan padaku? Kau berencana melamar ibuku karena kau sudah jatuh cinta padanya sejak sebelas tahun yang lalu atau kau mau mengatakan bahwa aku adalah anak biologismu karena kalian pernah bersama sebelas tahun yang lalu?" tanya Alistair lugas

Draco terperangah. Rahangnya hampir jatuh saat mendenganya. "Kiddo," ujar Hermione.

Alistair mengerucutkan bibirnya saat melihat reaksi Draco dan Hermione ketika mendengar kalimat terakhirnya. "Aku rasa aku tahu apa yang menjadi jawabannya."

Tanpa ada kata-kata lagi yang terucap dari mulutnya, bocah dengan rambut pirang kecokelatan itu bangkit dari kursinya dan sontak Draco serta Hermione ikut berdiri. Tak ada senyuman atau kekehan yang sedari tadi menghiasi wajah Alistair. Ia kembali memasang wajah datarnya. Alistair mengambil kado Natal dari Draco tadi. "Terima kasih untuk kadonya, Healer Malfoy."

"Alistair," panggil ibunya.

"Aku tak apa-apa, Mum. Hanya mulai mengantuk," balas Alistair.

"Sampai jumpa, Healer Malfoy. Selamat malam, Mum."

Alistair menaiki anak tangga demi anak tangga itu dan beberapa saat kemudian terdengar pintu kamarnya tertutup. Sementara Hermione dan Draco hanya mematung di tempatnya. "Bagaimana mungkin ia bisa menebaknya?" tanya Hermione lirih.

"Dia anak laki-laki terpintar yang pernah aku temui, Hermione," balas Draco yang bergeming di tempatnya.

Hermione mengeluarkan tongkat sihirnya dan mulai membersihkan piring kudapan dan gelas-gelas dari ruang tengah ini dalam diam sementara Draco mengambil jubahnya lalu perlahan kembali memakainya. "Kau akan kembali ke rumah sakit?" tanya Hermione.

"Aku masih harus memantau pasien post op malam ini."

"Kau minum banyak tadi."

"Aku selalu membawa ramuan anti pengar."

Hermione mengangguk. "Awasi Alistair malam ini. Aku takut ia merasa tertekan dan berakibat fatal untuk jantungnya. Hubungi aku kapanpun jika sesuatu terjadi."

Kembali Hermione mengangguk sambil berjalan mengantar Draco ke pintu masuk kediamannya. Tidak ada pegangan tangan mesra atau ciuman hangat di kening malam ini. Mereka hanya berdiri berdampingan menatap hujan yang perlahan turun. "I gotta go. Happy Christmas, Hermione."

"Happy Christmas, Draco."

000

Rumah Sakit St Mungo

Satu minggu sudah berselang dari makan malam Natal bersama Hermione dan Alistair. Hingga saat ini, Draco belum mendengar sedikitpun kabar Hermione mengenai puteranya. Satu minggu penuh ini jadwal mereka selalu bertabrakan. Entah sama-sama berada di ruang operasi ataupun berada di shift yang berbeda. Beberapa kali ia mencoba mengirim pesan pada Hermione dan jawabannya tetaplah sama 'semuanya baik-baik saja'

Jika melihat dari reaksi Alistair yang sangat datar satu minggu lalu ia dapat pastikan bahwa semuanya tidak baik-baik saja. Draco sudah mempersiapkan diri untuk ditolak atau diinterogasi mengapa ia baru muncul sekarang. Namun semua prediksi itu salah. Alistair hanya terdiam lalu pamit kepada mereka dan bergegas ke kamarnya. Ia tak tahu bahwa bocah laki-laki berusia sebelas tahun dapat bersikap setenang dan sedatar itu. Dan itu membuatnya frustrasi.

"Aku tak tahu seorang cardiothoracic healer surgeon masih merokok di sela waktu luangnya?" tanya seorang wanita yang tetiba berada di sampingnya.

Draco mematikan rokok putih yang hampir habis itu ke sebuah asbak tinggi yang berada tepat di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hermione memberikan gelas kertas berisi kopi kepadanya. "Kau stress? Kau hanya merokok di saat kau merasa stress," tanya wanita itu lagi sambil menyesap kopi untuk dirinya.

"Hanya lelah," jawab Draco cepat.

Kemudian mereka terdiam. Masing-masing hanya menatap sungai dan hamparan rumput hijau yang baru saja tersiram hujan di halaman belakang rumah sakit ini dari sebuah beranda. "Apakah ia menanyakanku?" tanya Draco pada akhirnya.

Wanita yang memakai terusan bewarna maroon dengan jubah dokter putih itu tampak mengangguk. "Beberapa hari lalu ia menanyakan segalanya tentangmu saat kami sarapan," jawab Hermione sambil kembali menyesap kopinya.

"Kau mengatakan yang sebenarnya?"

"Tentu."

"Kau mengatakan bahwa kau salah sangka padaku dan berpikir bahwa aku akan menikahi Astoria di Paris lalu kau pergi begitu saja dari London?"

Hermione tertawa mendengarnya. "Ada banyak sekali cerita yang harus kusensor saat menceritakan segalanya pada Alistair."

"Apakah kau menceritakan bahwa saat itu aku tak menginginkan seorang anak dalam hidupku?"

"Apakah kau pikir hal itu tak patut disensor, Malfoy?"

Draco hanya tersenyum lalu kembali menyesap kopinya sementara Hermione memejamkan matanya sesaat sambil menikmati semilir angin musim dingin yang menyapu wajahnya. "Apakah sekarang kau sudah menginginkan seorang anak dalam hidupmu?" tanya Hermione yang hanya menatap lurus ke arah hamparan rumput dan sungai yang arusnya terlihat sangat deras hari ini.

Pria yang masih mengenakan baju scrub biru tuanya itu mengangguk. "Sudah. Karena anak itu adalah Alistair."

Hermione mengalihkan perhatiannya untuk menatap Draco. Suara dari penyeranta milik Draco menyela pembicaraan tadi sebelum Hermione dapat membuka suaranya.

"ER is calling," ujar Draco lalu meninggalkan Hermione yang masih bergeming.

000

Lorong ruang istirahat para healer surgeon terlihat lengang. Tidak terlihat intern dan resident yang berlalu lalang mengikuti attending-nya. Draco mengambil jam tangan dari saku celananya dan waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pantas saja sangat sepi. Resident dan intern yang tengah berjaga pasti berada di ruang istirahatnya masing-masing ataupun di ICU tempat pasien-pasien mereka berada. Pria bermata kelabu itu berjalan ke arah ruang istirahat para attending sambil membuka scrub cap yang belum ia lepaskan sedari tadi lalu memijat pelan tengkuknya yang terasa kaku akibat operasi pengangkatan paru pada pasien emfisema selama berjam-jam.

Baru saja ia masuk ke ruang istirahat itu, namun kakinya terhenti melihat sosok yang tengah duduk di salah satu sofa ruangan itu dengan selimut yang terlihat nyaman dan buku di pangkuannya. Hogwarts: A History, judul itu terlihat jelas dari sampulnya. "Kau menunggu ibumu?" tanya Draco yang langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di seberang Alistair.

Alistair yang tampak sedikit terkejut langsung mengangguk lalu menutup buku itu. Ia membenarkan duduknya agar terlihat lebih formal dari semulanya. Draco menggeleng melihat perubahan sikap itu. "Relax. I do not bite."

Bocah yang memakasi sweater hijau ala asrama kebanggaannya itu hanya tersenyum mendengar lelucon yang diutarakan Draco. Sementara itu Draco Malfoy memejamkan sebentar matanya sambil terus memijat tengkuknya yang perlahan membaik. "Apakah kau baru saja menyelesaikan sebuah operasi?"

Draco mengangguk. "Berapa lama? Apakah lehermu sakit?"

"Delapan jam dan tentu saja leherku mati rasa sepertinya," balas Draco yang membuka matanya.

Cardiothoracic healer surgeon itu bangkit dari sofanya menuju pantry kecil di ruangan ini. "Kau mau cokelat panas?" tanya Draco yang langsung dijawab dengan satu anggukan dari Alistair.

Secara sihir cokelat panas itu tersaji untuknya dan Alistair. "Kau tampak tertarik pada dunia healer," ucap Draco.

"Aku bercita-cita menjadi healer sejak pertama kali melihat Mum mengenakan scrub gown di New York dulu," balas Alistair.

Draco tersenyum mendengarnya. "Prosedur apa yang kau lakukan tadi, Healer Malfoy?"

"Pengangkatan paru pada pasien emfisema karena sebelumnya ia mengalami gagal jantung," jelas Draco sesingkat mungkin agar dapat dipahami oleh Alistair.

"Kau tahu apa itu emfisema?" tanya Draco kali ini setelah melihat Alistair mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

Alistair meletakkan gelas kertas berisi cokelat panasnya lalu menegakkan duduknya seakan ia sedang diwawancarai untuk mendapatkan beasiswa spesialis. "Emfisema adalah salah satu penyakit paru obstuktif kronis yang biasanya menyerang pasien berumur 40 tahun ke atas ataupun perokok atau pasien yang sering terpapar debu atau polusi atau zat kimia."

"Lalu?"

Saking takjubnya Draco ingin mengetahui sampai mana pengetauan bocah laki-laki di hadapannya ini. "Penyakit ini menyebabkan kerusakan kronis pada alveolus pada paru-paru. Jika semakin parah, luas paru-paru akan semakin menurun dan menyebabkan kadar oksigen di paru-paru menurun," jelas Alistair yang membuat Draco terperangah.

"Selamat Alistair Granger, kau mendapatkan beasiswa fellowship program untuk divisi Cardiothoracic Surgery di London Magical Univesity for Medical School," ujar Draco yang diutarakan seserius mungkin.

Hal ini membuat Alistair tertawa. "Bloody hell, kiddo. Darimana kau mengetahui itu semua?"

"Aku sering membaca medical journal yang sering Mum bawa pulang. Aku juga sering mencari tahu arti dari kosakata-kosakata yang ada di jurnal itu di perpustakaan umum saat kami masih di New York," jelas Alistair.

"Kau benar-benar keturunan murni Granger. Kau sangat brilian, Alistair."

"Mungkin karena darahmu juga mengalir di diriku. Kata Mum kau dan dia selalu berada di puncak ranking sejak di Hogwarts hingga di program internship kalian."

Perasaan hangat menjalar di dada Draco saat Alistair secara tidak gamblang mengakui bahwa ia adalah ayahnya. "Namun aku tak pernah dapat menggeser posisi ibumu. Dia terlalu cerdas," balas Draco.

"Kau jangan mengatakan hal ini padanya, okay? Dia akan besar kepala jika mengdengar aku memujinya," tambah Draco.

Lagi-lagi Alistair tertawa. Bloody hell! Draco menyukai tawa dari bocah ini begitu saja. Ia tak pernah suka ada anak kecil di sekitarnya kecuali Letitia. Hal itu juga dikarenakan paksaan Blaise yang mentasbihkan dirinya sebagai ayah baptis puterinya. Namun, segalanya berbeda dengan Alistair. Draco menyukai kehadiran anak ini bahkan sebelum ia tahu bahwa bocah ini adalah darah dagingnya.

"Aku ingin bertanya, Healer Malfoy."

"Medical or private?"

"Private."

"Silahkan."

Alistair kembali menyesap cokelat panasnya yang disihir tetap hangat hingga tetes terakhir. "Kenapa kau tak mencari ibuku dan diriku jika kalian dahulu pernah bersama?"

Selain cerdas secara intelegensi, Draco juga menyadari bahwa Alistair juga emosi. Pertanyaan ini tak mungkin akan terlontar dari anak berumur sebelas tahun biasa di luar sana. Hanya Alistair yang dapat melakukannya. "Benar jika ibumu mengatakan kami dulu pernah bersama," balas Draco sebagai permulaan.

"Lalu Hermione mengandung dirimu dan pergi meninggalkan London tanpa memberitahuku ataupun teman-teman dekatnya yang lain. Aku tak mengetahui kau ada di dunia sampai beberapa bulan lalu. Hal itu yang menjawab mengapa baru sekarang aku muncul di hadapanmu sebagai ayah biologis dari dirmu," jelas Draco.

"Jika kau dan Mum pernah bersama mengapa kau tak mencarinya saat ia pergi dari London?" tanya Alistair lagi.

Draco menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pertanyaan Alistair. "Hermione adalah wanita dengan prinsip dan pendirian yang kuat yang pernah aku kenal. Aku berpikir dia pasti menemukan sesuatu atau dia mungkin saja mendapatkan tawaran yang lebih baik di luar sana. Oleh karena itu aku tak mencarinya karena aku ingin menghargai apapun keputusannya. And we were still young and fool."

"Jika kami kembali hilang dan pergi dari London, apakah kali ini kau akan mencari kami?" Alistair kembali bertanya.

"Hingga ke lubang semut terkecil, aku akan mencari kalian."

Alistair terdiam sesaat.

"Aku mendengar dari Mum bahwa kalian masih sangat muda saat itu dan kalian berdua tidak siap untuk memiliki aku. Oleh karena itu, Mum pergi meninggalkanmu," tambah Alistair.

Draco menggeleng karena kalimat itu tak sepenuhnya benar. "Aku yang tak siap akan kehadiranmu saat itu dan ibumu tahu akan hal itu tanpa harus menyampaikan keberadaanmu di rahimnya kepadaku. I am only the bad guy in this story, Alistair."

Alistair tampak berpikir sebelum kembali membuka suaranya. "Apakah kau sekarang siap dengan kehadiranku?"

Draco tersenyum. "Aku tak akan makan malam bersamamu dan ibumu jika aku belum siap."

Kali ini Alistair yang menyunggingkan senyumnya. Seperti Draco tadi, rasa hangat itu juga mengaliri dadanya. Setelah sekian lama, akhirnya pertanyaan akan siapa ayahnya dan apa yang sebenarnya terjadi di hidupnya terungkap. "Kau tak marah padaku?" tanya Draco.

"Aku rasa aku tak punya hak untuk marah karena kalian memilki alasan tersendiri dan aku menghargai alasan kalian."

"Lalu apa yang kau rasakan sekarang?"

"Relief," jawab Alistair yang masih tesenyum

Perlahan Alistair mengeluarkan amplop yang berisi perkamen undangan dari buku yang dibacanya lalu menyerahkannya pada Draco.

Hogwarts Parents Day Invitation.

"Kau tak perlu datang, Healer Malfoy. Aku hanya ingin memberikan amplop ini pada pemiliknya. Sekolah memberikan dua, untuk ibu dan ayah. Aku rasa amplop ini kini memiliki tuan," jelas Alistair lalu bangkit dan membereskan barangnya.

"Ibu pasti sudah selesai sekarang. Aku pulang dahulu, Healer Malfoy. Terima kasih untuk cokelat panasnya. Sampai jumpa."

000

Alistair Xavier Granger. Nama anak laki-laki itu selalu terngiang dia kepala Draco saat ini. Tawanya, senyumnya, kekehanya, dan segala keingintahuannya terus menerus menghiasi pikiran Draco. Bahkan undangan untuk Hogwarts Parents Day yang diberikan padanya menjadi bagian dari pikirannya saat ini. Alistair mengatakan bahwa ia tak perlu menghadirinya karena ia hanya ingin memberikan undangan itu pada pemiliknya. Saat Hermione mengetahui bahwa Alistair memberikan undangan itu pada Draco, wanita itu langsung mendatanginya. Hermione dengan tegas mengatakan bahwa ia tak perlu datang. Hermione tak ingin membebani Draco dengan hal ini. Ia baru saja mengetahui bahwa ia memiliki seorang putera dan tak seharusnya secara tetiba ia diminta memiliki tanggung jawab seperti ini. Belum lagi apa yang akan dikatakan orang jika tiba-tiba saja Draco datang ke Hogwarts sebagai wali dari Alistair. Hermione sangat tak ingin menjadi pusat perhatian.

Dilema ini sudah dirasakan oleh Draco berhari-hari lamanya. Setelah mengatakan bahwai ia kini siap memiliki Alistair di hidupnya yang sudah ia ucapkan baik di depan Hermione maupun di hadapan Alistair, rasanya ia akan menjadi manusia paling brengsek jika tidak mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai seoarang ayah.

"Bloody hell!"

000

Hogwarts

Awan putih yang berarak di tengah hamparan langit biru mendakan hari yang cerah tengah menyapa kastil ini. Cuaca di Wales sore ini seakan tahu bahwa ada acara penting untuk para siswa tahun pertama di sekolah sihir itu. Aula Besar sudah di tata sedemikian rupa untuk menyambut para wali murid. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Hogwarts mengadakan Parents Day untuk mengeratkan hubungan antara siswa, sekolah dan orang tua. Bukan seperti Parents Day pada umumnya, acara kali ini tidak akan menampilkan pertunjukan-pertunjukan dari para siswa. Acara yang dibuat Hogwarts akan menunjukkan kegiatan siswa sehari-hari, memperkenalkan guru-guru yang mengajar di sekolah ini dan sesi tanya jawab mengenai proses belajar mengajar bersama kepala sekolah dan professor.

Hermione sudah datang sepuluh menit sebelum acara di Aula Besar ini berlangsung. Para orang tua seperti Ginny dan Luna serta Ron juga sudah berdatangan. Dan tidak seperti prediksi dari Albus, Harry menyempatkan datang disela kesibukannya di Kementerian. Seperti kembali ke masa-masa sekolahnya dahulu, Hermione tersenyum sumeringah saat berjalan di lorong kastil sampai ke Aula Besar. Ada banyak wajah yang tak asing baginya sore ini. Ia melihat Dean Thomas dan Cho Chang, ada juga Seamus Finnigan dan istrinya serta bayi kecil yang digendongnya, bahkan ia melihat Blaise Zabini dan istrinya yang terlihat sangat anggun, Astoria Greengrass serta masih banyak lagi.

"Hermione."

"Neville!" pekik wanita itu terkejut dan langsung memeluk temannya itu.

Hermione melepaskan pelukannya pada Neville lalu ia kembali membuka suara. "Bloody hell, kau sudah menjadi professor herbology sekarang."

Neville Longbottom tertawa. "Hanya ini yang menjadi keahlianku, Hermione."

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Its Parents Day, Neville. Tentunya aku menjadi wali murid untuk anakku," jawab Hermione

Kening Neville mengerut. "Anakmu? Bloody hell! Jadi, Granger. Alistair Granger adalah anakmu."

Hermione mengangguk. "What a great gene! Pantas saja aku sangat familiar dengan kepintarannya," kekeh Neville.

"Kau akan disini sampai selesai, bukan?"

"Tentu," balas Hermione.

"Aku harus berkumpul dengan para professor. See you after dinner."

Setelah perbincangan singkatnya dengan Neville, Hermione langsung mencari tempat duduknya. Aula Besar ditata dengan theater style untuk para tempat duduk orang tua dengan layar putih sihir besar di hadapannya. Sementara para professor akan duduk di sisi kiri dan kanan dari layar itu. Hermione harus duduk terpisah dengan Luna dan Ron karena Rose berada di asrama Gryffindor, sementara Ginny dan Harry mendapatkan tempat duduk tepat di belakang dirinya. Setiap siswa diwakili oleh dua buah bangku yang merepresentasikan ayah dan ibu mereka dan Hermione sudah sangat terbiasa datang seorang diri untuk acara-acara seperti ini.

Parents Day dimulai tepat waktu seperti biasanya. Pintu Aula Besar ditutup dan McGonagall sudah menaiki podium kepala sekolah untuk menyambut para wali murid. Acara pertama adalah pengenalan para staff pengajar dilanjut dengan pemutarann video secara sihir tentang kegiatan para siswa sehari-hari. Suasana hening dan sesekali diselingi sedikit tawa oleh para orang tua saat melihat tingkah laku konyol para siswa di kelas mereka, mulai dari mengobrol sampai tertidur di mejanya. Tetiba saja terdengar derap langkah yang perlahan mendekati Hermione saat suasana kembali hening di Aula Besar itu. Dan wangi yang sudah sangat tak asing bagi wanita itu menyeruak ke penciumannya. Hermione melirik ke kiri dan kanannya karena orang-orang tampak sibuk melihat sosok yang baru saja datang ke acara itu. Sontak Hermione ikut melirik ke arah sosok itu dan jantungnya seakan copot saat tahu siapa yang datang. Hampir semua mata tertuju padanya untuk mengetahui dimanakah tempat duduknya berada karena hampir semua masyarakat sihir Inggris tahu bahwa ia belum menikah apalagi memiliki anak.

"Maaf aku terlambat, ada konsultasi mendadak di ER," ujar Draco yang terlihat sangat nyaman menduduki kursi kosong di sisi Hermione.

"Bloody hell, Malfoy!"

"When I said I am ready. I am ready, Granger."

000

Ada dua center of point pada sore menjelang malam ini, yaitu isi acara dari Parents Day itu sendiri dan siapa wali murid dari Alistair Xavier Granger. Rumor tersebar dalam hitungan detik di Aula Besar Hogwarts saat ini. Pertama, Draco Malfoy datang sebagai kekasih dari Hermione Granger dan calon ayah tiri Alistair. Dan yang kedua adalah Alistair merupakan anak di luar pernikahan Draco Malfoy dan Hermione Granger. Dan salah satu dari kedua rumor itu adalah fakta.

Setiap pergerakan yang dilakukan oleh Hermione dan Draco amat sangat menarik perhatian dari khalayak ramai. Hal ini sangat membuat frustrasi bagi wanita itu. Ia akan lebih memilih back to back surgery dibandingkan menjadi pusat perhatian. "Just kill me, Draco."

"Not a chance, Hermione," balas Draco yang menyuapkan kentang tumbuk dan daging panggang khas Hogwarts ke dalam mulutnya sebagai sajian makan malam.

"I miss this food," tambahnya lagi.

Hermione yang sedari tadi ingin memakinya tetiba saja tersenyum karena pria itu makan dengan sangat lahap seperti anak kecil.

Setelah makan malam, acara berlanjut dengan bertemunya para wali murid dengan para siswa. Walaupun baru saja menghabiskan libur Natal bersama, Hermione tetap sangat merindukan Alistair. Para siswa dizinkan bergabung dengan orang tuanya di Aula Besar ini sambil menikmati beberapa kudapan. Alistair mematung saat melihat siapa pria yang berdiri di sisi ibunya. Mereka berdua terlihat sangat indah dimatanya. Hermione mengenakan terusan panjang di bawah lutut berwarna ivory berbahan satin dan membiarkan rambut ikalnya tergerai indah. Sementara Draco memakaai jas rangkap tiga bewarna hitam dengan dasi yang senada. Orang tuanya terlihat begitu serasi dimata siapapun yang melihat. "Mum," ujar Alistair saat Hermione dan Draco mengahampirinya.

Hermione membungkuk untuk mengecup puncak kepalanya. "Hey kiddo," sapa Draco yang tak mendapat respon apapun.

Alistair seperti membatu di tempatnya dan Draco panik akan hal ini. Pria itu langsung berlutut di sisi puteranya lalu meraba nadi di pergelangan tangan. "Take a deep breath, Alistair."

Alistair menarik napas dalam secara otomatis mengikuti perintah Draco. "I am fine, Healer Malfoy."

"Dadamu sesak?"

Kini Hermione yang ikut panik melihat keadaan Alistair. "Tidak, Mum. Aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut."

"Healer Malfoy, apa yang kau lakukan?" tanya Alistair pada Draco yang perlahan dapat mengendalikan keterkejutannya.

Draco tersenyum lalu mengusap rambut piring kecokelatan Alistair. "It is Parents Day."

"Apakah kau tak malu? Kau tak malu dengan kehadiranku?" tanya Alistair.

Draco yang masih berlutut di sisi Alistair itu tersenyum. "Seandainya aku sudah mengetahui kehadiranmu sejak awal, kau yang akan malu karena selalu melihatku di acara Parents Day-mu."

Senyum sumeringah terpancar dari wajah Alistair dan tanpa sadar Hermione meneteskan air mata. Draco bangkit dari sisi Alistair lalu memberikan sapu tangannya. "Jangan menangis, orang-orang akan berpikir kita tengah berada di variety show yang mempertemukan anggota keluarga yang sudah lama menghilang seperti para Muggle."

Sontak Hermione mengusap air matanya dan menepuk pundak pria itu yang dengan cepat di tangkap oleh Draco. "Aku minta maaf karena sudah absen selama sebelas tahun."

"Jangan membuatku semakin menangis."

Hermione mengalihkan perhatiannya pada Alistair yang masih tersenyum. "Happy?"

Alistair hanya mengangguk.

000

Menjelang malam para siswa sudah kembali ke asramanya masing-masing dan hanya menyisakan para orang tua dan professor-professor di Aula Besar ini. Pihak Hogwarts sangat jelas mengetahui bahwa 90% dari wali murid ini adalah alumni Hogwarts, hal ini pulalah yang membuat Hogwarts menyihir Aula Besar menjadi lantai dansa. Selain Parents Day, Hogwarts juga seakan memfasilitasi reuni untuk para alumnusnya. Semua butterbeer, jus labu, dan teh serta cokelat panas sudah menghilang dan digantikan dengan fire whiskey, classic whiskey, champagne sampai wine. Hermione memerhatikan McGonagall yang tengah berbincang dengan Harry, sementara Ginny, Luna dan Ron sudah berdansa mengikui irama dari band sihir di atas panggung sana. Draco tengah berbincang dengan Blaise dan istrinya.

Hermione tak meminum sedikitpun alkohol karena tengah malam nanti ia harus kembali ke St Mungo untuk melakukan operasi transplantasi ginjal pada pasiennya. Sedari tadi ia hanya sedikit menggerakan tubuhnya mengikuti irama music yang semakin terdengar asik. Namun tetiba saja ia mendengar namanya disebut-sebut dari kerumunan yang berjarak tak jauh dari dirinya.

"Aku dapat bertaruh, anak itu adalah anak Malfoy."

"Mata kelabu, kulitnya pucat dan rambut pirangnya tak mungkin dapat menipu."

Lalu terdengar dehaman dan kekehan dari kerumunan itu sebelum salah satu dari mereka kembali membuka suara. "Tapi nama belakangnya adalah Granger."

"Mungkin mereka tak menikah?"

"Atau bisa saja, anak itu bukan anak Malfoy. Bisa saja Granger tidur dengar pria yang memilki ciri seperti Malfoy lalu mengaku bahwa anak itu anaknya."

Kembali terdengar tawa dari kerumunan itu. "Kau jahat sekali."

"Tapi bukankan mereka musuh bebuyutan saat di Hogwarts dulu?"

"Kata suamiku, mereka bersama saat kuliah menjadi healer dulu."

"Mereka kuliah healer bersama? Aku tak tahu itu. Aku kira Granger pergi dari Inggris setelah lulus dari Hogwarts dulu."

"Gosipnya dia pergi ke Amerika setelah lulus dari sekolah healernya dan kembali bersama anaknya sekarang."

"Wow hidupnya penuh kontroversi."

Lagi-lagi mereka tertawa. Sesaat kemudian suara ibu-ibu penggosip itu menjadi senyap. Padahal Hermione tak sabar mendengar gossip dan teori apa saja yang mereka karang tentang dirinya. Dan wanita itu terkejut dengan siapa yang sudah berada di dekat mereka. Draco tengah memegang gelas whiskey sambil menatap mereka satu per satu dengan seringaian di wajahnya.

"Ladies, berhetilah bergosip. Hal itu tidak baik untuk kesehatan otak dan jantung kalian. Aku tak mau menjadi healer yang mengoperasi kalian karena salah satu dari kalian terkena serangan jantung," ujar Draco yang langsung membungkam mulut ibu-ibu yang di antaranya terlihat Padma dan Parvati Pattil serta Katie Bell.

Sebelum meninggalkan kerumunan ibu-ibu itu, Draco kembali membuka mulutnya. "Alistair yang kalian sebut-sebut 'anak itu' adalah anak kandungku dengan Hermione. Dan jika aku mendengar kalian menggosipkannya dengan anak kalian, aku tak segan-segan melakukan hal menakutkan pada kalian. Ingat saja aku dahulu adalah Pelahap Maut."

"Goodnight, Ladies."

Dengan terlalu anggun, Draco Malfoy berjalan ke arah Hermione masih dengan seringaiannya. Wanita itu hanya menggeleng tak habis pikir dengan tingkah dari Draco. "Drink?" tanya Draco yang ditolak oleh Hermione.

"Aku ada operasi tengah malam ini," balas Hermione.

"Lalu untuk apa ada ramuan anti pengar," ujar Draco.

"Aku tak mau membahayakan nyawa pasienku."

"Granger, the saint," balas Draco lalu menenggak habis whiskey-nya.

Lagu dari lantai dansa berubah menjadi lagu yang amat dihapal oleh Draco dan Hermione. Mereka saling menatap lalu tersenyum penuh arti. Intro dari Living La Vida Loca terdengar nyaring dari sana. Senyum masih tersungging di wajah Hermione sementara seringaian sudah berada kembali di wajah Draco.

"You must remember the summer night in Los Angeles after we graduated from Med School, huh?"

"So do you," balas Hermione.

Draco menjulurkan tangannnya. "Dance with me?"

"Ada begitu banyak mata di ruangan ini, Malfoy. Aku tak mau menjadi bahan gunjingan seumur hidup."

"Kita sudah menjadi bahan gunjingan seumur hidup, Granger. Mengapa kita tak berikan apa yang mereka inginkan?"

Hermione tampak berpikir sementara Draco nampak sabar dan masih menjulurkan tangannya. Ia melirik ke lantai dansa sesaat, Harry dan Ginny serta Ron dan Luna sudah berada di sana, bahkan ia melihat Astoria dan Blaise tengah menikmatinya.

"Lets Living La Vida Loca, Draco," ucap Hermione.

Lagu dari penyanyi Muggle itu membuat hampir satu Aula Besar bergoyang. Draco dan Hermione pernah berdansa di dengan lagu ini di Los Angeles bertahun-tahun lalu setelah mereka dinyatakan lulus dari ujian saat menjadi mahasiswa dulu. Draco memakai Portkey yang diatur secara acak dan tetiba saja mereka sudah sampai di sebuah bar Muggle di Los Angeles. Mereka menenggak bergelas-gelas alkohol lalu berdansa dengan lagu ini seperti orang gila. Dan suasana itu mereka bawa ke lantai dansa saat ini. Mereka berdansa seakan melupakan orang-orang disekitar mereka. Lagu itu berakhir dengan tepukan tangan dari para wali murid dan professor. Napas Hermione dan Draco juga ikut terengah-engah karena mengikuti irama lagu dari penyanyi keturunan Latin ini. Draco dengan nyaman meletakkan keningnya tepat di kening Hermione. Helaan demi helaan napas pria itu terasa jelas di kulit Hermione. Perlahan Draco memiringkan kepalanya untuk kembali menutup jarak di antara mereka. Dan perlahan juga harum napas itu semakin merasuk ke diri Hermione. Wanita itu mulai memejamkan matanya dan menunggu langkah selanjutnya dari Draco.

Dan ternayta nihil.

Kening mereka masih menyatu namun tangan Draco sudah berada di ponsel sihirnya. "Yes, Torres."

Dan tetiba saja Draco menarik dirinya untuk menjawab panggilan dari healer resident kesayangan Hermione dan Draco itu. "Give her an ephi. I'll be right there in half hour," tambah Draco.

"I should go back now. See you in hospital, Granger."

Hermione hanya terpaku di tempatnya melihat Draco menghilang perlahan di sana. Damn it!

000

to be continued

A/N: I apology for so long to update this chapter. How's this chapter? I hope you guys like it. And I believe there's so many typos in this stroy, I am sorry. Dont forget to leave your thoughts. I really eager to hear it. See you in the next chapter as soon as I can. Stay healthy and stay safe, guys.

Thank you and love you!