Disclaimer
Sekotengs (c) Lifina
Warning
Contains death, bullying (and possibly racism)
Di rumah Dean, terlihat ada banyak orang yang berkumpul, mulai dari keluarga dekat maupun jauh, teman ayahnya, dan juga teman ibunya. Wajah ayahnya terlihat murung dan matanya memerah. Cassie, adik pertamanya, terlihat sesenggukan. Bertrand, adik keduanya, yang masih belum mengerti apa-apa, terus bertanya ke ayahnya, "mami kenapa, pi? Mami kenapa tidur terus?". Sementara, Dean menggendong Alisha, adiknya yang baru berumur 3 hari. Dia sudah puas menangis sampai sudah tidak bisa menangis lagi. Ada beberapa orang dewasa yang dia kenal maupun tidak berkata "Sabar ya, Dean", "Kita doakan Mami kamu berada di alam bahagia", dan kalimat lainnya yang tidak bisa Dean ingat.
3 hari yang lalu, hari dimana seharusnya keluarganya bahagia karena menyambut kelahiran Alisha, berubah menjadi petaka karena ibu Dean mengalami pendarahan hebat dan tidak bisa diselamatkan. Sebelum masuk ke kamar persalinan, ibunya memeluk Dean lebih erat ketimbang saat mau melahirkan Cassie dan Bertrand, bahkan sampai meneteskan air matanya. Entah kenapa, saat itu, Dean berperasaan itu adalah salam perpisahan ibunya.
Sehari setelah ibunya dikremasi, Dean bangun pagi seperti biasanya. Namun, dia melihat ada yang berbeda. Terlihat ada sebuah mobil minivan di depan rumahnya. Terlihat seorang wanita tua yang turun dari mobil tersebut.
"Oma!" seru Dean kegirangan sambil mendekati neneknya dan membantu mengangkat kopernya.
"Aduh, cucunya oma gausah repot-repot," kata nenek Dean.
"Gak apa-apa, kok, Oma. Oma 'kan pasti masih capek."
"Lho? Mama kok udah sampe?" tiba-tiba, terdengar suara ayah Dean.
Ayah Dean pun ikut membantu mengangkat barang Nenek Dean.
"Iya, ternyata mama dapet travel yang berangkat kemarin malem," jawab Nenek Dean.
Setelah semua barang Nenek Dean dimasukkan ke rumah, mereka bertiga pun beristirahat di ruang tengah.
"Oma capek 'kan? Sini, Dean pijit Oma," tawar Dean.
"Aduh, cucunya Oma pinter ya mijitnya," puji Nenek Dean.
"Iya, soalnya …" Dean menghentikan kalimatnya sebentar, "dulu, Dean sering mijit Mami," lanjutnya dengan nada yang murung.
Hening.
"Oya, Oma berapa hari nginap di sini?" tanya Dean memecah keheningan.
"Oh, soal itu …" Nenek Dean ingin menjawab
"Oma akan tinggal bareng kita mulai saat ini. Nanti Oma yang akan jaga kalian selama Papi kerja. Jadi, Dean, sebagai Koko, harus bantu Oma jaga adik-adik, ya?" Ayah Dean memotong perkataan Nenek Dean.
"Iya, Pi."
Sekarang adalah musim liburan. Jadi, Dean seharusnya tidak perlu bangun pagi-pagi. Namun, sebagai anak tertua, Dean ingin memberikan contoh ke adik-adiknya. Sehingga, Dean memutuskan untuk bagun pagi dan mulai membersihkan rumah. Sesekali, Dean melihat neneknya memasak di dapur.
"Oma lagi masak apa?" tanya Dean.
"Oma lagi masak kuah *hamchoy kesukaan kamu nih," jawab neneknya.
Dean pun meneguk liurnya.
"Koko boleh bantu Oma?" tanya Dean lagi.
"Boleh, dong," ucap nenek Dean, "Nanti Oma juga sekalian ajarin Koko masak ya."
"Asik, makasih ya, Oma."
Sejak saat itu, Dean pun belajar memasak dengan neneknya. Sesekali, dia pergi ke warnet untuk mencari resep masakan yang ingin dia praktekan sendiri di rumah.
Tak terasa sudah 6 bulan nenek Dean tinggal bersama keluarga Dean. Dean dan adik-adiknya sedikit demi sedikit mulai melupakan kesedihan karena kehilangan ibu mereka.
Suatu hari, saat Dean dan Cassie baru saja pulang sekolah, mereka mendengar suara tangisan Alisha yang sangat keras. Jantung Dean langsung berdegup kencang karena tidak pernah mendengar tangisan Alisha sekencang ini.
Brak!
Dean pun membuka pintu rumahnya hanya untuk melihat neneknya yang terkapar di lantai, Alisha yang berada di jarik yang terikat di neneknya, dan Bertrand yang terlihat berusaha membangunkan neneknya.
Bertrand pun menengok ke arah pintu dan melihat Dean dan Cassie yang syok.
"Ko, Ce, Oma ga mau bagun," ucapnya dengan polos.
"Bert, Cass, kalian tunggu di sini, ya. Koko mau ke tempat **Suk Akiong," Dean berusaha menenangkan dirinya.
Dean pun menaruh tasnya di tempat dia berdiri dan segera berlari ke rumah sebelah.
Ting-tong. Ting-tong. Tok-tok-tok.
"Suk! Asuk Akiong!" panggil Dean sambil terus mengetuk rumah tetangganya.
Cklek.
Tak lama, pintunya pun terbuka. Terlihat seorang pria seumuran ayah Dean membuka pintunya.
"Dean? Ada apa?" tanyanya kebingungan.
"Suk, tolong pinjemin saya telepon. Saya harus telepon Papi. Oma pingsan," jawab Dean dengan suara yang bergetar.
"Oh ya, ayo masuk."
Setelah menunjukkan meja telepon, Asuk Akiong pun mempersilakan Dean menelpon. Dengan tangan bergetar, Dean menekan nomor telepon ponsel ayahnya.
"Halo? Selamat …"
"Papi, ini Koko," potong Dean, "Koko lagi pake teleponnya Asuk Akiong."
"Ya, ada apa, Ko?"
Dean pun mulai meneteskan air matanya "Papi, Oma pingsan."
Tiba-tiba, jantung ayah Dean berdegup kencang, "Ko, coba kasih teleponnya ke Suk Akiong, Papi mau ngomong."
"Iya, Pi," kata Dean, "Suk, Papi katanya mau ngomong ke Asuk," katanya sambil menyerahkan gagang telepon ke Asuk Akiong.
Asuk Akiong pun mengambil gagang teleponnya dan menempelkannya ke telinganya.
Dean tidak tahu apa yang sedang dibicarakan, dia hanya mendengan "Iya, Koh", "tenang aja, saya pasti bantu".
Setelah menutup teleponnya, Asuk Akiong menghadap ke arah Dean dan berkata, "Dean, kita bawa Oma kamu ke rumah sakit pake mobilnya Asuk sekarang juga."
Dean pun mengangguk pelan dan mereka berdua segera menuju rumah Dean.
Sesampai mereka di rumah sakit, ayah Dean juga tiba di rumah sakit di waktu yang sama. Ayah Dean terlihat syok. Sementara, Dean yang menggendong Alisha dan Cassie yang menggandeng Bertrand hanya bisa menangis.
Namun, sangat disayangkan, Nenek Dean tidak dapat diselamatkan karena sudah melewati golden period serangan jantung terlalu lama.
Ayah Dean, Dean, juga adik-adiknya sungguh terpukul karena belum setahun mereka kehilangan istri dan ibu, mereka kehilangan ibu dan nenek mereka juga.
Keinginan Dean menjadi dokter pun juga semakin besar saat itu.
2 tahun kemudian …
Saat ini, Dean sudah duduk kelas 9 SMP di semester 2. Sekolahnya sering mengadakan try out untuk latihan UN. Dean sering sekali belajar sampai lupa waktu, termasuk sekarang. Di saat ayah dan adik-adiknya sudah tertidur, Dean belajar di ruang tengah.
"Loh? Koko belum tidur?" tiba-tiba, terdengar suara ayahnya.
"Iya, Pi. Koko lagi belajar buat try out fisika besok. Di try out sebelumnya, Nilai fisika koko kurang bagus," kata Dean.
"Oh … kenapa ga belajar di kamar kamu?"
"Koko takut ganggu Bert. Besok dia 'kan juga sekolah."
"Kenapa ga pake lampu belajar yang udah papi beliin buat kamu?" tanya Ayah Dean lagi.
"Koko ga bisa baca pake lampu belajar, Pi. Kurang kelihatan jelas," jawab Dean.
Ayah Dean pun mengamati Dean saat Dean membaca. Terlihat sangat jelas Dean kesulitan membaca karena dia benar-benar mendekatkan kertas soal ke wajahnya dengan jarak yang tidak wajar.
"Ko, besok, pas Papi pulang kerja, Koko ikut Papi pergi, ya," pinta Ayah Dean.
"Ke mana, Pi?" tanya Dean.
"Lihat aja besok."
Keesokan harinya …
Ayah Dean dan Dean pergi ke sebuah optik yang berada di ruko dekat rumah mereka. Saat dilakukan tes mata, ternyata mata Dean memang bermasalah.
"Sekalian mau pilih-pilih frame buat anaknya, Koh?" tanya pegawai optik.
Ayah Dean pun menggelengkan kepalanya, "Ga usah, pakai frame ini aja," katanya sambil menyerahkan frame kaca mata bulat.
"Yakin, Koh? Ini model kaca matanya udah jadul loh."
"Yakin, kok. Istri saya mau anak saya pake frame itu," ucapnya sambil menepuk kepala Dean.
"Siap, Koh. Nanti kacamatanya diambil kira-kira 1 jam lagi ya."
Setelah memakai kacamata, Dean merasakan adanya perubahan. Dia sudah tidak usah memicingkan mata saat guru menerangkan pelajaran dan mendekatkan bacaan ke wajahnya dengan jarak yang tidak wajar.
Masa SMA bukanlah masa yang menyenangkan bagi Dean. Dean sering kali dipalak teman-temannya. mereka menganggap Dean sebagai anak orang kaya hanya karena Dean keturunan Tionghoa, padahal keluarga Dean adalah keluarga yang sederhana. Selain itu, Dean juga sering diminta contekan karena Dean termasuk siswa terpintar di kelasnya. Saat dirinya sedang dihajar oleh teman-temannya, sebisa mungkin dia melindungi kaca matanya karena itu merupakan satu-satunya peninggalan dari ibunya.
Dean sebisa mungkin menutupi kalau dirinya dirundung di sekolah karena tidak ingin membebani ayahnya.
Lulus SMA, Dean memutuskan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Paraduta. Sebenarnya, dai berharap kuliah di tempat lain karena salah satu perundungnya, Vino, juga masuk FK Universitas Paraduta. Namun, Dean hanya lolos beasiswa di Paraduta. Dean yang tidak mau membebani ayahnya, akhirnya memutuskan untuk kuliah di Paraduta demi mengejar mimpinya menjadi dokter.
Sekarang, umur Dean sudah menginjak 30 tahunan. Sekarang, dia sudah menjadi dokter spesialis anak. Kepribadiannya yang lembut dan sabar membuat pasien-pasiennya tidak merasa takut atau pun tegang saat diperiksa.
Seperti biasa, di Hari Minggu saat dirinya tidak praktek, Dean mengunjungi abu kremasi ibu dan neneknya yang berada di vihara.
"Hai, Mami dan Oma, gimana kabar kalian?" Dean melakukan monolog seolah-olah ada ibu dan neneknya di hadapannya.
"Maaf, Koko hari ini datangnya agak telat. Tadi harus visite pasien."
Dean pun kembali bermonolog dan menceritakan kegiatannya.
Setelah sudah tidak ada yang bisa diceritakan lagi, Dean selalu mengakhiri monolognya dengan, "Koko pulang dulu ya, Mi, Oma. Koko selalu berdoa Mami dan Oma berada di alam bahagia."
Author's Note: *hamchoy=sawi yang diasinkan
**Suk/Asuk=sebenarnya panggilan untuk adik laki-laki dari ayah (paman), tetapi juga bisa dipakai sebagai kata ganti "om" untuk memanggil laki-laki Chinese
Terimakasih sudah mau membaca fanfic saya. Saat ini, ini adalah fanfic Sekotengs saya yang terpanjang :D. Sebenarnya cukup banyak yang saya ubah di fanfic ini, misalnya: Dean dan adik-adiknya manggil ayah dan ibu mereka dengan sebutan "ayah" dan "ibu", bukan "papi" dan "mami"; adik-adik Dean juga memanggil Dean dengan sebutan "kakak", bukan "koko". Kak Lifina sepertinya udah confirm kalau Dean itu keturunan Tionghoa (bisa dilihat di highligt instagram sekotengs yang namanya "QnA with Dean"). Jadi, ya, saya ubah aja sih biar emang keliatan(?) kalo Dean keturunan Tionghoa. Lalu, untuk masalah agama Dean, sejujurnya saya juga gatau :'D. Dean terlihat lagi berdoa di Sekotengs episode 82, tapi posisi berdoa kayak gitu bisa Katolik, maupun Buddha. Berhubung saya emang lebih mengerti soal Buddha, jadi ya di cerita ini Dean dan keluarganya beragama Buddha, ya. Maaf Kak Lifina kalo misalkan saya salah :')
