Summary: Berawal dari Kume yang menemui Dan soal ketidakhadiran Dazai, percakapan antara keduanya tiba-tiba jadi terlalu lancar.

Bungou to Alchemist belong to DMM Games.

Hari ini Dan tidak ada jadwal delving, maupun tugas piket jadi asisten pustakawan. Dia juga sedang tidak ada rencana belanja ataupun main-main ke luar. Melanjutkan novelnya mungkin ide yang bagus, tetapi niat itu buyar begitu pintu kamarnya diketuk.

"Enggak dikunci." Dan mempersilakan siapa pun pengetuk itu untuk membuka sendiri. Dia terlalu malas untuk turun dari tempat tidur, jadi yang dilakukannya hanya memiringkan badan ke arah pintu.

Paling-paling itu Ango, yang mengajaknya memasak nabe. Mungkin pula Dazai, Odasaku, atau Shinpei, yang minta dibuatkan makanan. Orang-orang yang dia bisa temui dalam kondisi santai.

Ketukan di pintu lenyap, dan tidak pula ada tanda-tanda sedang didorong dari luar. Dan mengerjap, heran. Apa itu cuma kerjaan Kenji atau Niimi, yang sedang diberi ide oleh Ranpo untuk mengusili bungou lain?

Baru saja Dan menyimpulkan begitu, pintu tiba-tiba didorong dari luar. Pelan-pelan, seperti orangnya sendiri ragu. Namun, dengan cara membuka pintu yang seperti itu saja, Dan sudah spontan duduk kala melihat siapa pengetuknya. Apalagi kalau pintu itu benar-benar didobrak seperti biasa, mungkin dia sudah lompat.

"Anda ..."

"Maaf mengganggumu. Tahu tidak Dazai-kun di mana?"

Untuk hari di mana Dan mestinya bersantai sepuasnya, kedatangan Kume Masao tentu saja di luar dugaan.

"Ah--" Dan berusaha menjawab, meskipun masih setengah bengong. "Dazai tidak di sini. Apa dia tidak di pustaka?"

"Tidak, dan itulah masalahnya." Kume mengarahkan tatapannya ke dinding ketika lanjut bicara. "Sekarang adalah jadwalnya delving."

"Benar juga, semalam dia bilang," Dan bangkit dari tempat tidur. "Berarti sekarang Kume-sensei yang bertugas?" terkanya.

Kume mengangguk tipis, menyingkir sedikit dari pintu agar Dan bisa lewat.

"Heran, deh. Biasanya dia enggak lalai masalah beginian," gumam Dan.

"Eh, begitu, ya?" Kume menutup mulutnya buru-buru, begitu sadar bahwa baru saja bertanya dengan spontan.

Dan malah tertawa santai. "Baru-baru ini Dazai bilang ingin beli sesuatu. Jadi kurasa dia enggak akan melewatkan kesempatan dapat uang."

Kume mengangguk paham. Dia berjalan sedikit di belakang, mengikuti langkah Dan yang mengarah ke kamar Dazai.

"Tadi sudah cari ke sini?" tanya Dan, berhenti di depan sebuah pintu yang tidak tertutup rapat.

"Sudah. Tapi tidak ada jawaban. Kupikir kamarnya kosong, tapi belum kupastikan juga, sih." Tidak enak memeriksa kamar orang lain tanpa izin, lagian.

Dan mendorong pintu itu, mengamati ruangan yang agak berantakan, tetapi benar-benar kosong dari penghuninya. "Dia memang tidak di sini." Dan tercenung, mengira-ngira ke mana kira-kira Dazai pergi.

Selanjutnya, dua orang itu secara acak memeriksa aula makan, dapur, dan ruang kesehatan.

"Dazai-kun? Hmm, tadi kami sarapan bareng." kata Oda memberi keterangan, ketika tidak sengaja bertemu di lantai bawah. "Kayaknya dia enggak ada masalah, tuh," tuturnya riang, yang diangguki Ango. Mereka berdua sepertinya mau ke luar bareng.

"Dazai?" Shiga mengangkat alis, selagi tangannya sibuk mengaduk adonan kue. Takiji dan Ton duduk santai di kursi, seperti anak-anak yang sedang menunggu sarapan siap. "Hmm, tadi kami sedikit berdebat. Tentang apanya, aku tidak ingat. Palingan dia mengatakan omong kosong seperti biasa?"

Diamnya Dan itu seperti dia sedang siap-siap berkelahi. Sementara Shiga yang juga menatap balik sama waspadanya, membuat suasana tidak menjadi lebih baik.

"Ada ... tempat lain lagi?" Kume terpaksa angkat bicara. Enggan sebenarnya, tapi tidak ada orang lain lagi yang bisa diharapkan jadi penengah, kalau dua orang itu benar-benar jadi berkelahi.

Dan mengangguk kaku, membalikkan badan yang Kume menyusul setelah sempat mengisyaratkan permisi pada Shiga.

"Dia tidak ke sini." Mori mengecek daftar pasien. "Apakah terjadi sesuatu?"

Dan mengusap wajahnya, mulai tampak khawatir. "Dazai hilang."


Pada akhirnya, seisi pustaka jadi ikut mencari-cari si bocah merah itu. Kenji dan Niimi mengecek ke deretan rak-rak, Haruo iseng-iseng ke kamar Akutagawa (yang kali saja Dazai nyasar ke sana dan lupa waktu karena keasyikan ngobrol). Shuusei mengecek apakah buku-bukunya masih utuh, takutnya Dazai menghilang ke dalam buku, dalam skenario terburuk.

"Aku barusan dari kamarnya si Bocah Bunga Persik!" Chuuya melapor dengan berteriak, sengaja biar suaranya kedengaran dari atas tangga.

"Enggak ada, kan?" Dan mengerutkan dahi, mengingat tempat yang disebut Chuuya adalah yang pertama dia dan Kume datangi.

"Memang, tapi pelampungnya juga lenyap!" tandas Chuuya.

"Pelampung?" ulang Dan.

"Oh, yang itu," celetuk Shiga. Dia ingat soal Dazai yang mendatanginya dengan ajakan berlibur kelewat manis, berujung pengakuan tidak sengaja kalau niat sebenarnya adalah menenggelamkan si Dewa Novel.

Chuuya sendiri tahu soal pelampung kuning itu, gara-gara dia memang ngintip percakapan keduanya. Sekaligus menyesali kepolosan Dazai--kalau tidak mau disebut bego--yang terlalu mudah dipancing untuk mengatakan tujuan asli.

"Jadi, dia mungkin ke kolam?" Kume menduga. Tempat berair yang cukup seru untuk direnangi di penjuru pustaka ini, ya cuma kolam belakang. Selesai dia berkata, para bungou sudah pada menghambur saja ke luar.

Namun, begitu pintu pustaka itu dibuka, secara mengejutkan Dazai juga sedang berdiri di balik pintu. Ekspresinya kaget, melihat beberapa orang yang tumben-tumbenan keluar bareng, tahu-tahu bergerombol dengan ekspresi serius.

"Eh-" gumam anak itu tanpa rasa bersalah. "Kalian pada mau pergi belanja bareng?"

"Dazai!" Dan menyebut nama itu dengan setengah frustrasi, bercampur lebih banyak emosi kelegaan. "Dari mana saja?" Pertanyaan Dazai barusan dia abaikan.

Shiga menggeleng-geleng, balik ke dapur karena dia tidak terlalu peduli juga bocah itu habis main ke mana.

"Da-dari kolam ..." Dazai menyahut, sepertinya merasa tertekan dengan keseriusan Dan, jadilah dia tidak banyak kilah seperti biasa. Kalau diperhatikan, Dazai memang tidak mengenakan kostumnya yang biasa. Dia cuma memakai kaos santai yang basah kuyup, memperkuat perkataannya.

"Apa nih, kau habis berenang?" sapa Ango yang datang dari arah luar, menenteng tas belanjaan yang dari dalamnya menyembul sayur-sayuran. Tampaknya dia mau melakukan percobaan lagi.

"Iyaa, semacam itu, tapi gagal. Jadi--" Dazai memutus ceritanya ketika menyadari keberadaan Kume yang berdiri di belakang. Dia tidak mengatakan apapun, tetapi tatapan itu Dazai bisa rasa seberapa tajam.

"Maaf, Kume-sensei! Tadi aku berencana balik sebelum jam sepuluh! Aku bakal segera ke ruangan penyucian!" Dengan begitu, Dazai buru-buru berlari ke kamar, mengganti pakaian basahnya. Kume mengusap topinya, heran, tapi juga lega. Dia tidak ada niat menakuti apalagi mengintimidasi. Makanya, dia agak bingung kenapa reaksi Dazai seolah sedang dimarah.

"Itu Dazai-kun baru ketemu?" Oda memastikan. Dan mengangguk, mengawasi bungou lain yang pada bubar, melanjutkan aktivitas masing-masing.


"Jadi, tadi itu aku lagi kesal sama Shiga." Dazai baru sempat menceritakan kronologinya pada jam makan malam.

"Terus kamu mau nenggelamin diri lagi, gitu?" cetus Ango.

"Bukan, ih! Aku mau latihan 'nenggelamin Shiga' seperti idenya Chuuya!" sangkal Dazai lantang.

"Tapi tadi kamu balik enggak bawa pelampung?" selidik Dan.

"Nah, itu! Pelampungnya bocor gegara kegesek batang pohon!" Dazai menuturkan dengan berapi-api.

"Kenapa bawa-bawa batang pohon, coba?" Oda seperti biasa ber-tsukkomi.

"Itu buat dianggap jadi Shiga, dong." Dazai benar-benar serius soal ini. "Yah, intinya, aku tenggelam."

"Tenggelam?!" kompak ketiganya.

Dazai mengangguk kalem. "Bagian dasar kolam rupanya indah banget, lho. Nyesel gak nyemplung dari dulu." Dazai lanjut mengoceh soal rumput panjang yang tumbuh di bawah kolam.

"Bentar, siapa yang menyelamatkanmu?" Dan bertanya.

"Itu ... aku enggak yakin." Dazai bergumam, "waktu aku hampir kehabisan napas, tahu-tahu tubuhku terangkat, kayak didorong ke atas."

"Bukan ditarik dari atas?" Oda memastikan.

"Bukan," tegas Dazai. "Ketika aku sampai di atas, enggak ada siapa-siapa. Karena masih pusing, jadi aku tiduran bentar di tepi kolam. Tahu-tahu pas balik, dah lewat jam delving. Untung Kume-sensei dan yang lainnya enggak terlalu ngomel~"

Touson yang makan dengan Shuusei di meja sebelah, diam-diam mendengarkan juga. Tak heran dia mendadak bangkit, lalu menghampiri Dazai sambil menenteng notes. "Cerita yang barusan itu, coba ceritakan lebih detail, dong?" pintanya.

"Eh?"

"Kemungkinan besar yang mengangkat Dazai-kun ke atas itu ... kappawani."

"Woah!" Dazai baru nyambung, teringat artikel beberapa bulan lalu yang memuat wawancara Shimazaki dkk dengan Mr. A, berikut ilustrasi penunggu kolam belakang itu.


"Kenapa waktu itu, Kume-sensei menemuiku soal Dazai?" iseng Dan bertanya, ketika tidak sengaja bertemu dengan Kume di pustaka. Dia sedang bertugas, sedangkan Kume memang lagi baca-baca.

"Yang paling niat mencari Dazai-kun, kurasa adalah kau." Kume menjawab tanpa berpikir lama-lama.

"Be-begitu kah ..."

Kume mengangguk, kali ini mengalihkan tatapannya dari buku. "Dalam beberapa hal, kau itu mirip dengan Kan."

Setiap Akutagawa menunjukkan gelagat aneh, Kan adalah orang pertama yang bakal turun tangan memastikannya baik-baik saja. Sementara soal sikap protektifnya Dan pada Dazai, Kume sudah lihat beberapa buktinya.

"Lalu, dalam beberapa hal kau punya kesamaan denganku." Kume menyelipkan kertas batas untuk menandai halaman tertentu buku, sambil menimbang-nimbang apakah itu adalah salah satu penyebab dia cukup tertarik dengan salah satu karya Dan di masa lalu.

"Kesamaan ...?"

Kume menutup buku, bangkit dari kursi karena berniat mengembalikannya ke rak. "Bagaimana rasanya ... menulis tentang seseorang yang sudah pergi?"

"Ah-"

"Maaf, lupakan." Kume merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba bicara asal.

"Kume-sensei hebat, ya." Dan tersenyum kecil. "menyelesaikan tulisan orang lain itu, sesuatu yang benar-benar hebat." Dia menyatakan itu dengan nada ringan yang sungguh-sungguh,

"Apa-" Kume tidak menyangka Dan bakal memilih untuk melanjutkan wacana, padahal dianya baru saja menarik diri. "Itu sama sekali bukan hal yang kuharapkan untuk dipuji."

"Hmm, tapi aku sungguh-sungguh menganggapnya begitu." Dan menatap ke deretan rak di seberang. "Dazai meninggal sebelum karyanya selesai, tapi tidak ada yang melanjutkannya."

Tidak ada yang bisa. Bahkan aku.

"Ngg, tentang itu, apa kau tidak marah ... ketika mengetahui dia bunuh diri?" Bahasan ini sungguh sensitif, maka volumenya pun menyesuaikan.

"Bagaimana ya ... dia sudah melakukan percobaan berulang kali soalnya. Walaupun aku kaget juga waktu itu berhasil ..." Apalagi, Dan juga pernah diajak Dazai dalam salah satu usahanya. "Daripada itu, Akutagawa-sensei lebih mengejutkan, bukan?"

Saat seisi Jepang gempar soal kematian Akutagawa, teman-teman dekatnya tentu yang paling terpukul. Makanya, ketika Kan, Kume dan Hori menegaskan bahwa mereka akan melindungi Akutagawa dengan benar kali ini, semuanya jadi tidak bisa berkata apa-apa.

"Ja-jangan membuatku mengenang hari itu, dong."

"Itu Kume-sensei yang mulai duluan, deh."

"Haah," Kume menghela napas, "benar juga."

"Dan-kun!" Shinpei berlari-lari dari luar, mencari-cari keberadaan Dan yang bertanya-tanya soal alasan dia dicari-cari.

"Apaan?" tanyanya sambil mengangkat sebelah tangan. Shinpei dengan mudah menemukannya, buru-buru menghampiri.

"Itu, Chuuya-kun--"

Dan mengerjap, langsung menangkap lanjutan kalimat yang belum terucap sempurna itu. "Chuuya ngerjain Dazai lagi? Di mana lokasinya?!"

Kume menonton saja bagaimana Dan langsung tancap gas, meninggalkan tugasnya tanpa pikir-pikir.

'Bertindaklah sesuai kata hatimu. Biarkan emosi yang menggerakkan penamu. Seperti itulah Buraiha, kan.'

"Melanjutkan obrolan dengannya kapan-kapan, sepertinya menarik juga." Sambil bergumam begitu, Kume beralih ke rak lain.

End.


Nah, mestinya ini tema kappa, tapi daripada tema ... malah jadi seperti kata kunci saja. Niatnya cuma 'Dazai tenggelam, ditolong Kappawani'. Tapi iseng pengen nambahin Kume, dan jadilah seperti ini.

Maaf kalau aneh dan OOC dan aneh dan ada typo dan aneh dan ...

Sedikit banyaknya, ini terinspirasi obrolan dengan Rea-san, dukungan Vira, termotivasi karena Syn ikutan, dan ... sedikit referensi dari seseorang yang tidak mungkin baca ini, karena ... ah, yang jelas dia tidak akan mau baca •_•


Omake

"Dari mana Kume-sensei menyimpulkan kalau aku orang yang paling bersedia nyari Dazai?"

"Dari sejak akhir pertempuran melawan taint Akutagawa-kun, kayaknya."

"E-eh?"

"Pas Dazai-kun dipegang lehernya, kau yang pertama teriak."

"Itu bukan teriak! Aku cuma manggil." Dazai menyangkal.

"Apapun itu."

"Kalau gitu, Kume-sensei juga bilang hal-hal bagus tentang Akutagawa-sensei, kan, padahal setelahnya kulihat interaksi kalian rada canggung."

"Hal-hal bagus ...?" Gantian Kume yang mengerutkan dahi.

"Hmm, kalau tidak salah, 'aku juga menyesal karena tidak bisa menyelamatkannya waktu itu.' terus ... 'sebagai seorang teman, dan salah satu dari orang yang mencintai buku-bukunya'. "

"Di-diam! Itu karena situasinya lagi mendukung."

"Mendukung apa?"

"Po-pokoknya...!"

Sementara di balik rak, Akutagawa sedang menahan napas. Seberapa absurdnya situasi kalau mendadak ketahuan dia ada tepat di sebelah, dirinya sulit membayangkan.