Chapter 01 : Stuck in a New Place
Kisah ini dimulai pada saat keseimbangan dunia terganggu. Hal ini dikarenakan karena manusia berlomba – lomba untuk mendapatkan kekuatan. Tempat tinggal mereka pun tidak ada yang bisa selamat dikarenakan ulah mereka sendiri. Bahkan keunikan sendiri yang ada pada manusia kepada sesuatu yang asing sehingga membuat mereka tidak bisa akur dengan hal yang tidak mereka percayai bahkan jangan menilai buku dari sampulnya hanya sebatas kalimat untuk mereka.
Namaku Ash, hari – hariku berjalan biasa saja. Aku seorang pelajar, Aku mempunyai tinggi 167 Cm. Aku mempunyai mata hitam, berambut hitam poni dan ya badanku terbilang kurus. Kehidupanku kadang naik kadang turun.
Suatu kejadian aku bermimpi buruk. Pada waktu itu, disaat aku terlalu lelah mengerjakan tugasku sampai baru tidur pada pagi harinya. Fisikku sudah lemas, pusing, lapar, bahkan minum kopi sudah tidak bisa membuatku terjaga untuk melanjutkan tugasku. Dengan capeknya aku mematikan laptopku dan beranjak tidur. Aku seakan merasa melayang melewati ruang hitam pekat. Aku terbangun dan melihat sekitar, "Gelap sekali, aku dimana ?, " tanyaku yang bingung.
Jawabanku terwujud, dikejauhan aku melihat sebuah api menyala besar, diikuti oleh bangunan, lalu suara melengking pun terdengar. "Tolong ! Selamatkan anakku !, dia ada dialam rumah !, " . "ARGHHH ! Medis ! Cepat, pendarahanku mulai banyak !, " . "KALIAN DAN JONIN LAIN EVAKUASI WARGA, SEGERA !, " . Suaranya pun lenyap seketika dan akhirnya aku berhenti melayang dan melihat dimana sebuah desa hancur oleh rubah raksasa berekor 9. Di mimpiku, aku melihatnya menghancurkan desa dengan gampangnya bak meruntuhkan domino. Sekali sentil dengan kibasan ekornya maupun hempasan kakinya, membuat tanah bergemuruh dan gedung – gedung berjatuhan. Di mimpi itu aku melihat seorang lelaki menggunakan topeng spiral orange berdiri diatas kepala rubah dan menyaksikan desa itu hancur dengan sendirinya. Lelaki itu sungguh santai menikmati pemandangan itu.
"Sepertinya dia yang mengendalikan hewan itu. Mana bisa orang berdiri diatas kepala rubah raksasa tidak jatuh dari ketinggian berpuluh – puluh kaki, " Pikirku yang heran melihatnya asyik menikmati kekacauan bak nonton drama teater.
Seketika aku ingat sesuatu, "Eh sebentar, bukannya itu Obito ? , APA ?! OBITO UCHIHA ?!. DAN LAGI KENAPA AKU MELAYANG DI ANGKASA ? DAN KENAPA AKU TIDAK MEMPUNYAI TUBUH ?!, Seakan – akan aku hanya penonton disini. Hmmm..., " lantas untuk mempertegas apakah aku masih memiliki tubuh atau tidak, aku menampar wajahku. Akan tetapi ayunan tanganku tidak ada, berarti aku hanya penonton saja, ditambah lagi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, bahkan menolehkan kepalaku tidak bisa.
Aku lalu ingat sesuatu tentang mimpi jika tidak dikendalikan akan terjerumus kedalam mimpi buruk sampai pemimpi itu bangun. Aku sudah pernah mengalami itu beberapa kali, cukup cliché jika tidak sampai ke tahap kelumpuhan dalam mimpi seperti ketindihan. Aku lalu memfokuskan pikiranku untuk mencoba berinteraksi dengan mimpiku.
Pada saat yang sama lelaki dengan rambut kuning jabrik dengan jubah putih dengan motif berapi mendekati orang bertopeng itu dan saling berhantaman dengan pisau kunai yang dibawa. Setelah kuamati dengan seksama ternyata orang yang berambut jabrik itu adalah Minato Namikaze, yang mana dia adalah hokage keempat Konohagakure. Mereka bertarung cukup sengit. Pada saat pertarungan itu, Obito menangkap Minato dan memindah mereka berdua ke tempat lain. Percikan api terdengar dri bawah dikarenakan hantaman dua buah metal besi yang dibenturkan. Minato akhirnya mengeluarkan kunai yang berbeda. Kunai ini memiliki tiga mata besi diujung tengah kanan dan kirinya dengan semacam kertas ditempel pada badan kunai itu. Dia akhirnya melemparnya kepada Obito hingga tepat di depannya dan berteleportasi dengan bola chakra yang di hentaknya ke topeng Obito yang membuatnya retak separuh serta darah bercucuran dari kepalanya. Hentakan itu membuatnya melayang sebentar, akan tetapi dengan sedikit waktu Minato melepas kontrol Obito dengan berteleportasi didepannya membuka segel Kyuubi dan melepasnya.
Obito di cegat oleh Minato dengan terus menghujam serangan yang dilontarkan. Obito pun kewalahan dan akhirnya bergerak mundur, " Ini belum yang terakhir kali Minato, kita akan bertemu lagi, " ucap Obito yang tajam dan dia akhirnya masuk ke lubang topengnya sendiri dan menghilang.
Minato pun bergegas untuk teleportasi dekat Kyuubi dan segera menjinakkannya. Dikejauhan terlihat sosok wanita berambut merah yang menemui Minato dengan membawa seorang bayi yang digendongnya. Bayi itu tidak lain adalah Naruto Uzumaki. Sesaat Kyuubi berontak, rantai emas melilitnya sehingga tak bisa bergerak. Terlihat juga ada semacam makhluk berwarna putih dengan pedang di mulutnya yang terpanggil oleh Minato untuk menyegel Kyuubi kedalam anaknya sendiri. Terlihat dari atas penyegelan dilakukan dengan simbol kanji terurai dibawah mereka. Rantai yang menahan Kyuubi menjadi renggang dan membuat tangannya sempat keluar, lalu Kyuubi mengulur cakarnya untuk merusak segelnya akan tetapi cakar tersebut ditahan oleh kedua orang itu. Karena kekuatan raksasa rubah itu, cakarnya menusuk dan masuk melalui perut mereka dan darah keluar dari luka dan mulut mereka. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka sampaikan akan tetapi dari pergerakan mulut mereka dan dengan gesture seperti memeluk dan menyayangi buah hati mereka, seperti pesan – pesan untuk anak tersebut. Selesai perbincanganpun, akhirnya penyegelan dilakukan dan Kyuubi No Yoko masuk ke dalam tubuh bayi itu dengan simbol menampakkan pada perutnya. Seorang kakek mengenakan seragam hitam akhirnya menggendong bayi itu didampingi ninja lain dan membawanya pergi.
Aku yang melihat itu lantas berfikir jika aku tidak segera bergerak dari sini aku tidak tahu akan terjadi apa padaku. Aku pun turun dari atas langit lalu menyentuh rerumputan yang ada dibawahku. Aku tidak mau ambil pusing dan langsung segera memfokuskan lebih pada badanku agar bermatrialisasi sehingga bisa bergerak. Sesaat, udara mulai terasa dingin dan kabut mulai nampak.
"Konohagakure kan tidak memiliki kabut, setelah bertempur, seharusnya hal ini tidak terjadi, Obito pun sudah tidak ada disini. Lantas kabut dari mana ini ?, " gumamku yang mulai memecahkan konsentrasiku. Kabut yang mulai datang bertambah, dan menjadi lebih pekat. Sampai akhirnya menutupi penglihatanku.
Tiba - tiba sosok bermata kuning menyala berada di depanku, "Sial !, bagaimana ini ?!, " teriakku dalam batin yang kaget bukan kepalang oleh sebuah makhluk yang menatapku dengan tajam.
"Gusti !, melihat desa kebakaran masih belum mimpi buruk ?! , dan sekarang makhluk ini mendekatiku ?!. Saking buruknya sampai aku tidak bisa mengendalikan mimpiku sendiri, " bicaraku dalam batin.
Seketika kabut yang menutupi daerah sekitarku menghilang menampakkan wujudnya. Makhluk ini seperti oni atau biasa disebut troll/ogre. Akan tetapi dia termasuk dalam roh jadi tidak mempunyai tubuh aktualitasnya, ditambah dengan tubuh tembus pandang. Makhluk ini mempunyai kulit berwarna ungu kusam seperti mayat yang sudah meninggal. ia juga memakai jubah berwarna putih. Perawakannya seperti kakek – kakek yang sudah tua, daging menyusut dengan tulang yang terlihat dari tubuhnya ditambah lagi dengan rambut putih yang lebat sampai setengah badan. Shinigami ini membawa sebuah pisau dengan gagang yang diikat dengan kain putih yang dililit melingkarinya.
Shinigami yang mendekat pun berkata, "Kau siapa ?, dan kenapa kau seperti anomali yang datang dari tempat lain ?, " tatapan tajamnya membuatku membeku seketika. Lalu dengan nada parau dengan gemetara aku pun menjawabnya, "Aku sedang bermimpi, sebentar lagi aku akan juga tersadar, " dengan tetap menatap wajah dewa kematian itu.
Shinigami yang mendengar alasan tak masuk akal pun geram, dan mengancam manusia yang ada didepannya, "BERMIMPI ?!, Ini bukan mimpi manusia !, Kau harus segera kembali ke asalmu. Dunia ini sudah cukup kacau, jangan sampai ada anomali datang memperburuk keadaan !, " dewa kematian itu mengeluarkan hawa membunuhnya untuk memperkuat ucapannya agar manusia itu kembali.
Shinigami melihat sesuatu dari dalam tubuh manusia didepannya. Didalam tubuhnya terlihat kegelapan yang amat besar yang seperti tidak asing terjadi kepada manusia yang jiwanya ia ambil disaat ajal menjemput mereka. Ia pun lalu memalingkan tatapan dari tubuhnya dan melirik wajah manusia itu. Sosok lelaki itu gemetaran, sambil menunduk dan mengatakan bahwa ini cuma mimpi, berkali – kali.
Shinigami pun memutuskan untuk membawanya kepada Kami-sama atau yang biasa disebut dengan tuhan dari rakyat Shinto, "Aku akan membawamu ketempat Kami-sama. Karena kelihatannya kau tidak bisa kembali. Dan aku tidak bisa seenaknya mengambil keputusan terkait hal seperti ini, " ujarnya.
"Oke, tidak apa – apa. Aku minta maaf, kukira ini hanya mimpi tapi sepertinya bukan. " ucap lelaki itu sambil perlahan menatap dewa kematian itu. Karena sudah mendapatkan jawabannya, Shinigami pun memegang pundak lelaki itu dan pergi ke tempat Kami-sama. Hal itu terjadi sangat cepat, dan seketika mereka berdua sudah berada didalam sebuah ruangan besar dengan pilar – pilar tinggi dengan bangunan mengerucut dengan oranamen – ornamen khas Jepang, dan kelihatannya seperti kuil. Ditengah ruangan terdapat sebuah meja dengan beberapa kursi, dan sebuah kursi singgasana yang lebih besar diujung ruangan.
Aku menengok kebelakang dan terdapat dua gerbang pintu yang besar, dan terlihat seperti tempat masuk ke ruangan ini. Dewa Kematian itu menepuk pundakku dan mengisyaratkan agar mengikutinya ke tengah ruangan. Kita pun menunggu sosok Kami-sama, dengan aku berdiri dibelakang Shinigami. Tidak lama dari belakang kursi singgasana, pintu yang terdapat disana di geser dan masuk Kami-sama sosoknya elegan sekali dengan kimono serta memiliki rupa yang cantik dan menawan dengan bentuk wajah oval, pipi tidak terlalu tirus, hidung yang kecil, dahi yang tidak terlalu lebar, mata yang menatap tidak terlalu tajam dan memiliki ketulusan didalamnya. Kami-sama memiliki rambut yang diikat pada kedua sisi akan tetapi berjuntai lurus dibelakangnya. Beliau akhirnya duduk, "Oh Shin, ada apa kemari ?, siapa lelaki ini ?, " tanya Kami-sama dengan menatapku pada akhir ucapannya.
Shinigami melirikku dan menjawabnya, "Dia adalah manusia yang aku temukan terjebak pada dimensi kita, ". Aku pun mendengarnya tersentak karena awalnya kukira aku hanya bermimpi, responku pada ungkapan yang diucapkan oleh Dewa Kematian itu yaitu sedikit tersenyum.
Kami-sama pun berdiri dan mendekat padaku, "Bagaimana kau bisa sampai ke dimensi kita ?, " tanya beliau. Dengan nada gugup aku pun memberitahunya, "Sebenarnya aku terlelap dalam tidurku, awalnya aku memasuki ruangan gelap akhir ujungnya aku melihat desa yang terbakar dan bangunan runtuh, serta orang – orang yang mengalami kemalangan. Aku sampai disini dengan melayang, entah bagaimana itu bisa terjadi. Aku kira itu hal wajar jika dalam mimpi dan aku tidak mempermasalahkannya. Akan tetapi aku tidak bisa bergerak seolah – olah aku dikekang. Semula aku merasa seperti badanku tidak ada, pada akhirnya aku membuat tubuhku yaitu dengan berkonsentrasi dan mencoba mematrialisasikannya. Didalam mimpi apapun bisa terjadi, jadi aku mencobanya. Hal-hal yang aku lihat sungguh terjadi seperti mimpi buruk maka dari itu aku tidak mau untuk terjebak selamanya disana dan membayangkan tubuhku ada. Dan termaterialisasiikanlah tubuhku, akan tetapi aku didatangi oleh Shinigami-sama, dan itu membuatku merinding dan takut apalagi dia mengluarkan hawa membunuhnya kepadaku, " ujarku kepada Kami-sama.
Kami-sama pun menawarkan sesuatu padaku, "Bagaimana kalo kau aku antar pulang ?, " tanya sang pemimpin. Aku pun mendengar itu merasa senang dan ingin segera kembali ke rumah. Aku pun membalas tawaran yang diajukan, "Ya Kami-sama, aku ingin kembali, " . Kami-sama pun mengangguk dan membukakan sebuah portal ke tempatku berada. Akan tetapi portal yang terbuka terlihat muncul keretakkan dan bentuknya tidak mau stabil. Suara benda akan pecah pun semakin banyak terdengar.
Pada akhirnya portal itu pecah sepenuhnya dan hilang. Aku yang melihat hal itu pun merasa tidak enak dan seperti ada bagian dalam diriku yang pecah juga. Aku pun menoleh kepada Kami-sama, "Bagaimana Kami-sama ?, apa yang telah terjadi ?, " ungkapku yang dengan masih melihat tempat portal yang sempat terbuka itu.
Kami-sama menghadap diriku dan mengusap atas kepalaku sambil menatapku, "Portalnya berhasil terhubung, akan tetapi kau. Lebih tepatnya jiwamu tidak bisa kembali, " jawabnya dengan sedih.
Aku pun lantas langsung menatap Kami-sama dengan perasaan tidak percaya, mataku membelalak mengenai ungkapannya, "T-tapi aku harus kembali. Aku harus kembali menemui keluargaku, terutama orang tuaku. Ini masih terlalu cepat bagiku, untuk tidak bisa bertemu dengannya, "
"Nak, kau tidak bisa kembali. Jika portal penghubung ke raga aslimu tidak bisa terhubung juga itu berarti di tempatmu, kau sudah tidak ada. Dalam kata lain, kau sudah meninggal, " penjelasan dari Dewa Kematian itu yang juga merasa kasihan kepada lelaki itu.
"J-jadi aku selama ini disini, muncul, membuat tubuhku, dan aku hanyalah sebuah roh ?, " kataku dengan wajah sedih yang memikirkan keluargaku. Aku pun membuktikan teorinya dan memukul wajahku dengan cepat. Tanganku mengayun akan tetapi aku tidak merasakan apa – apa setelah kepalan tanganku tenggelam ke kepalaku.
Mereke pun hanya menatapku, akhirnya aku mengatakan sesuatu, "Jika rohku tidak bisa kembali maka konsekuensi apa yang akan kuterima ?. Apakah aku harus pergi dari dunia kehidupan ?, " tuturku dengan nada rendah.
"Iya benar, kau tidak seharusnya berada pada dunia kehidupan dan harus ke akhir perjalanan untuk di nilai, " jawab Shinigami yang berdiri didepanku.
"Baiklah, jika aku tidak bisa kembali, aku asumsikan aku tidak akan bisa diadili pada dunia asalku karena aku terjebak. Dan aku akan diadili dimensi ini, " kataku dengan menatap Dewa Kematian itu.
"Ya benar, sekali. Kau akan kuadili dalam diriku, " ujar Shinigami dengan mengangkat pedangnya.
"Oke, semoga ini tidak sakit, " gumamku pelan.
Semua hal ini terjadi dengan Kami-sama melihatku dan tidak menuturkan kata sedikitpun. Beliau hanya mengobsevasiku. Setelah pedang yang Dewa Kematian menusuk tubuhku. Aku merasa terguncang dan tubuhku menemui rasa sakit yang sungguh ekstrem.
"ARRRGHH, Kukira tidak akan sesakit ini !, " ungkapku dengan sambil mencoba menahan sakit. Seketika aku berada pada ruangan hitam yang menyelimutiku. Dan kepalaku terasa sakit sekali seperti terbelah dua. Aku pun berjalan kedepan, dengan perkiraan jika aku tidak langsung ke alam tempatku berada berarti aku harus berjalan kesana. Antara surga dan neraka, kemungkinan aku harus di bersihkan dulu di neraka.
